Tuesday, June 08, 2010

KETIKA KITA MARAH DAN MEMAKI SI BIBI !



Pernahkah sekali, istri atau saudara perempuan anda, yang entah apa penyebabnya, suatu hari meledak amarahnya ? Semata karena pembantu rumah tangga atau yang kita sebut si bibi, berbuat sebuah kesalahan yang mungkin sangat sepele, namun korslet dengan sumbu emosi. Maka amarah meletup bagaikan bom atom. Dan si bibi kena caci maki. Sekilas tanpa sengaja, anda mungkin akan merasakan betapa gaya marah dan caci maki istri atau saudara perempuan anda, sedikit banyak punya kesamaan dengan gaya memaki Ibu anda. Terutama saat kita kecil dulu, dan ketika Ibu kita pada suatu saat, meledak amarahnya dan mencaci maki si bibi.

Yang membuat bulu kuduk saya berdiri, adalah kilatan ingatan itu. Seolah menyimpulkan bahwa didalam reflek tindakan kita, tersimpan sebuah referensi tentang cara marah dan mencaci maki si bibi. Dimana referensi itu diwariskan turun temurun. Dan kita belajar dari orang tua kita. Mengerikan bukan ? Barangkali betul, apa yang dinasehati para psikolog. Bahwa anak-anak kita belajar berbicara, dan berbuat dengan meniru orang tua-nya. Bahwa kita belajar mencintai sesuatu dan membenci sesuatu juga lewat orang tua. Sedikit banyak kita juga meniru gaya orang tua ketika marah dan mencaci-maki. Itu sebabnya kalau bisa jangan pernah marah dan memaki didepan anak-anak kita !

Sebenar-benarnya kesempatan kita marah dan mencaci maki secara sistimatis dalam hidup ini sangatlah terbatas. Yang pertama, target kita marah dan mencaci maki, adalah orang terdekat kita, misalnya anak, saudara kandung atau pasangan hidup kita. Itupun kalau hubungan kita babak belur tidak keruan. Dikeluarga yang hubungannya sangat baik, intim, dan harmonis, kesempatan yang pertama tidak banyak terjadi. Yang kedua, adalah bawahan di kantor. Itupun hanya akan terjadi kalau anda punya posisi bagus, dan punya bawahan. Kalau posisi anda biasa-biasa saja, jangan harap anda punya kesempatan ini. Sebaliknya malah mungkin anda lebih banyak menjadi target dimaki. Teman saya punya kedudukan tinggi disebuah perusahaan. Hobbynya marah dan mencaci-maki bawahan. Sungguh ini sebuah cerita betulan. Kasar pula. Segala umpatan bergaya kebon binatang selalu keluar. Anehnya kalau kita sebagai teman-teman biasa bertemu dengannya, ia jauh dari kesan itu. Sangat kalem. Semua staffnya di kantor, mengatakan pasti masa kecilnya tidak berbahagia. Selidik punya selidik, istrinya sangat galak. Ia sangat takut dengan istrinya. Maka sebagai pelampiasan, yang terkena damprat adalah para staffnya.

Kesempatan ketiga dan terakhir, sialnya jatuh kepada si bibi dirumah. Dialah yang secara diskriminatif berada diurutan terakhir, menjadi target termudah yang praktis untuk dimarahi dan dicaci maki. Jadi jangan heran apabila si bibi menjadi target pelampiasan dari banyak orang. Bangsa kita yang sudah beratus-ratus tahun menikmati budaya babu dan jongos sejak jaman feodal, ternyata jauh lebih maju dan beradab. Istilah babu dan jongos misalnya, telah mengalami evolusi penyebutan yang lebih keren. Di masyarakat menengah mereka sudah disebut bibi dan atau suster. Di masyarakat yang lebih trendi mereka disebut “pembokat”. Kalau dimasyarakat atas mereka disebut dengan sebutan bahasa Inggris “my maid” dan “nanny”. Kehidupan sehari-hari kita sedemikian lengketnya dengan topik ini, sehingga kisah-kisah si bibi juga ikut menjadi legenda yang tak terpisahkan secara antropologis dengan kehidupan moderen di republik ini. Misalnya, kita pernah mengangkat salah satu lakon si bibi, menjadi film terkenal seperti “Inem Pelayan Sexy”. Hampir dalam setiap tayangan komedi, entah itu srimulat, ketoprak, lenong, sandiwara TV hingga film, unsur si bibi selalu di “casting” dengan kesungguhan dan keseriusan tersendiri. Peran si bibi atau pembokat harus lucu. Ini formula yang tidak bisa ditawar. Secara tidak sadar sebenarnya si bibi punya peran “glamour” tersendiri.

Beda misalnya dengan negara-negara Malaysia dan Singapura, yang baru saja merasakan budaya ini dalam 30 tahun terakhir. Kecanggihan mereka secara emosional berhubungan dengan si bibi masih sangat terbatas. Itu sebabnya masih banyak kasus si bibi yang mengalami penyiksaan fisik, mulai dipukuli, tidak dikasih makan, hingga disiram air panas di luar negeri. Penyiksaan dan perlakuan yang biadad, tidak jarang memojok-kan posisi si bibi. Sehingga banyak kasus unik dimana si bibi membunuh majikan-nya sendiri di luar negeri.

Marah dan mencaci maki kelihatannya memang sangat buruk. Namun sedikit banyak barangkali sebagai katup pelampiasan, marah dan mencaci maki punya fungsi terapi juga dalam hidup ini. Nah, sialnya kesempatan ketiga atau terakhir untuk kita marah dan mencaci maki secara sistimatis, hanyalah kepada staff pembantu di rumah. Apakah itu supir, satpam, tukang kebun atau si bibi ! Ini adalah benteng terakhir dengan target paling empuk. Yang lucu, andaikata anda punya kesempatan merekam isi kemarahan dan caci maki tersebut dan memutar ulang untuk menganalisanya. Banyak sekali dari isi kemarahan itu yang sangat emosional, tidak rapi logikanya, dan kadang tidak berhubungan jelas antara satu segmen dengan segmen lainnya. Kemarahan itu bisa berlangsung sampai 30 menit, dengan ratusan caci maki. Pokoknya asal marah !

Ketika fenomena ini saya diskusikan dengan beberapa teman ketika ngopi bareng. Mereka tertawa juga. Karena baru menyadari peran marah dan memaki dalam kehidupan moderen mereka. Seorang teman secara sinis punya penjabaran yang beda. Menurutnya, saat ini posisi tawar si bibi sudah berbeda jauh. Dahulu, ketika ia kecil, setiap kali Ibunya marah dan memaki si bibi, maka biasanya si bibi menangis. Lalu reda dan selesai. Si bibi pasrah saja dimarahi oleh majikan-nya. Kesempatan melawan tidaklah banyak.

Jaman sekarang situasinya sangat berbeda. Si bibi kadang punya posisi tawar yang beda. Bukan-nya kita bisa marah dan memaki dengan seenaknya, sebaliknya hidup kita sangat tergantung dengan kehadiran si bibi. Itu sebabnya kalau Lebaran dan musim mudik, berapa banyak diantara kita yang sakit kepala dan rela tinggal di hotel. Karena tanpa si bibi, hidup kita kacau balau. Nah, teman saya itu mencontohkan, bahwa ia punya 2 bibi. Satu untuk mengurus keperluan anak-anak. Satu lagi untuk memasak dan mengurus rumah. Keduanya sudah dilatih dan di training lebih dari 2 tahun. Mereka tahu persis kebiasaan teman saya ini. Pokoknya setiap teman saya pulang dari kantor, rumah rapi bersih, teratur dan kinclong. Inilah kenyamanan dan kebahagian yang tak tertandingi nilainya dengan uang sebesar apapun. Pernah sekali salah satu bibi pulang kampung sebulan mengurus tantenya yang sakit. Maka kehidupan teman saya ini gonjang ganjing penuh dengan stress. Mencari bibi baru, dan melatihnya lagi, seringkali bukanlah solusi terbaik. Karena proses pencocokan kepribadian dan kebiasaan bisa menjadi proses yang menyakitkan. Akibatnya teman saya mengaku takut memarahi si bibi. Malah ia memikirkan bagaimana membuat si bibi semakin betah dan gembira. Kalau saja si bibi hengkang, akibatnya sangat tidak terbayangkan !

Diakhir diskusi kami. Seorang teman dengan polosnya bertanya, “Lha, kalau si bibi tidak bisa kita marahi dan kita maki ? Siapa dong yang bisa kita marahi dan maki ?” Saya tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan itu. Barangkali saatnya kita belajar marah dan memaki diri sendiri. Pasti aman ! Dijamin !

No comments: