Sunday, June 27, 2010

CACAT SASTRA



Teman saya, keluarganya kaya raya dan pengusaha yang sangat berpengaruh. Jadi normal saja, kalau ia ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Termasuk pendidikan. Anaknya yang masih TK, sudah disekolahkan disebuah sekolah International School di Jakarta. Alkisah ketika naik kelas, sekolah itu menyelenggarakan acara wisuda yang cukup “wah” ! Dan disertai dengan sebuah acara dimana semua murid memamerkan kemahiran-nya dalam sebuah pagelaran seni. Ada nyanyi, tari, dan bentuk kesenian lain-nya. Tujuan-nya untuk membuat orang tua bangga dan bahagia.

Selang hampir seminggu, teman saya ini mengajak saya makan disebuah restoran Padang. Wajahnya menyembunyikan sebuah keresahan. Ia bercerita tentang anaknya, wisuda disekolah dan pagelaran itu. Dengan lirih ia bercerita bahwa semua pagelaran itu disampaikan dalam bahasa Inggris. Dan celakanya tidak ada satu-pun materinya bercerita atau berkisah tentang Indonesia. Dalam wajah yang sangat risau, ia mengisahkan masa kecilnya, saat kakeknya bercerita tentang Sangkuriang, Ken Arok, Gajah Mada, Bandung Bondowoso, dan dongeng-dongeng legendaris lain-nya. Ia bercerita bahwa permainan disaat senggang adalah halma, ludo, galah asin, petak umpet, dampu, tak kadal dan sejumlah nama yang mungkin tidak akan dikenal anak-anak sekarang. Karena permainan anak-anak sekarang adalah WII, X-Box dan PS. Komik dan dongeng yang mereka baca adalah Disney, Superman dan X-Men. Ini adalah kegelisahan yang merisaukan kami berdua. Bayangkan apa jadinya bila dalam 10 tahun mendatang anak Indonesia yang lancar berbahasa Indonesia tetapi bingung karena tidak mengerti Indonesia. Tidak mengerti budayanya. Tidak mengerti sejarahnya.

Malam harinya, saya diundang klien untuk makan malam disebuah restoran yang sedang populer disebuah mall megah di Jakarta. Saking populernya tempat itu, maka konsumen yang antri sangat banyak. Kebanyakan adalah anak-anak muda yang berusia antara 17 tahun hingga 22 tahun. Penampilan mereka hingar bingar. Mewah dan seronok. Yang wanita berpenampilan bak bintang film. Rok mini, sepatu hak tinggi, celana jeans ketat dan atau baju tembus pandang. Demikian juga yang pria. Mirip penampilan pemain band dan para rockers. Sembari menunggu meja kosong, mereka asyik bercengkerama, sambil foto-foto dengan dengan telpon genggam mereka. Bahasa dan senda gurau yang mereka lakukan semua dalam bahasa Inggris. Sepintas mereka kelihatan canggih dan warga dunia yang mengglobal. Apakah berbahasa Inggris lebih keren daripada bahasa Indonesia ? Apakah kalau kita berbahasa Indonesia, kita dianggap orang dusun ? Kenapa harus malu dan sok pamer berbahasa Inggris ? Disudut hati, saya sangat risau dan gelisah, karena ingat perbincangan tadi siang. Bahwa jati diri kita sebagai orang Indonesia terkikis erosi globalisasi. Malam itu kegelisahan saya melebar menjadi kesedihan.

Saya terkenang dengan diskusi saya beberapa tahun yang lalu, dengan mentor saya Mpu Peniti. Kami saat itu sedang berdiskusi tentang wayang dan cerita-ceritanya. Sebagai orang Jawa, Mpu Peniti banyak mengajarkan saya soal filsafat lewat cerita-cerita perwayangan. Ini adalah momen-momen favorit saya. Beliau saat itu menyampaikan kerisauan yang sama, bahwa tak lama lagi berbagai seni budaya tradisional akan hilang satu demi satu, karena digilas roda jaman. Diskusi dan percakapan kami kemudian melebar. Entah kenapa, kami juga bicara soal bahasa dan sastra Indonesia. Menurut Mpu Peniti bahasa Indonesia sedang pingsan. Saya berseloroh dan menambahakan satu istilah - Cacat Sastra.

Ketika saya masih di SMP, guru bahasa Indonesia saya- pak Djoko adalah pendekar idaman saya. Ia adalah produk lama yang kuno. Mengajar dengan naik sepeda ke sekolah. Celananya selalu dekil dan gombrang mirip celana di film-film perjuangan jaman kemerdekaan. Rambutnya hampir putih semua. Tapi kenangan yang selalu saya ingat hingga kini adalah ketika pak Djoko dengan gagahnya membaca puisi “AKU” – karya Chairil Anwar. Kenangan itu hingga hari ini membekas dengan sangat sempurna. Gara-gara peristiwa itu, saya pernah bertekad ingin menjadi penyair terkenal. Sebagian mimpi itu saya jalani. Maklum di SMP dan di SMA jaman itu, Gelanggang Remaja peninggalan Bang Ali Sadikin masih berfungi. Kerap mereka mengadakan lomba dan sayembara. Mulai dari menulis hingga membaca. Saat itu sastra kita masih punya panggung yang resmi.

Musnahnya sebagian panggung ini membuat sastra Indonesia semakin semaput. Lihat saja cerpen. Hingga kini, cerpen masih cukup banyak peminatnya. Tetapi koran dan harian yang terbit memberinya ruang yang lebih terbatas saat ini Tidak seperti dulu disaat kita masih memiliki sejumlah media sastra, dan majalah cerpen. Saat itu cerpen memiliki kesempatan tampil lebih banyak. Bila cerpen kehilangan ruang publik untuk tampil, lama-lama cerpen cuma menjadi kesenian pribadi yang bersembunyi di laci tanpa bisa dinikmati orang banyak. Bila situasinya menjurus depresi, lama-lama cerpen juga akan dilupakan orang.

Menerbitkan karya sastra juga tidak mudah. Andaikan anda ingin menerbitkan novel karya anda. Maka anda harus mencari penerbit yang besar dan punya akses distribusi yang baik. Royalti anda mungkin berkisar antara 8% hingga 10%. Kalau buku anda dijual seharga 50 ribu, maka royalti anda hanya Rp. 5.000/buku. Celakanya toko buku di Indonesia, yang baik dan besar jumlahnya masih kurang dari 500 toko. Kalau satu toko menyimpan buku anda antara 5- 10 buku, maka jumlah cetakan yang paling ekonomis cuma 3.000 buku sekali cetak. Karena toko buku tidak ada yang mau membeli putus dan hanya mau konsinyasi, maka royalti anda tidak akan diterima ketika buku selesai dicetak. Tetapi ketika buku sudah laku dan uang hasil buku sudah diterima penerbit anda. Jumlah buku yang tercetak 3.000 itu belum tentu laku semua. Semata-mata karena minat baca kita sangat rendah.

Andaikata buku anda menjadi – Best Seller - dan terjual antara 1.500 buku hingga 2.000 buku, maka dalam setahun anda menerima royalti sangat minim antara 8 hingga 10 juta. Kalau anda adalah penulis yang sangat produktif dan bisa memproduksi buku antara 2-3 buah pertahun, maka royalti maksimum anda mungkin berkisar antara 20 hingga 30 juta atau gaji sebesar 2 juta/bulan. Vonis akhirnya sastra tidak akan menjanjikan profesi dengan kemakmuran tinggi. Situasi ini menyebabkan kita tidak memiliki orang yang berprofesi sastra penuh. Kebanyakan amatiran. Pegawai, Ibu Rumah Tangga dan kaum professional yang punya hobi sastra, yang membuahkan karya sastra.

Barangkali ini juga yang menyebabkan kita tidak lagi punya pujangga, penyair dan sastrawan kontemporer yang beken dalam 20 tahun terakhir ini. Tokoh sastra yang ada saat ini kebanyakan adalah sisa dan produk tahun 70’an dan 80’an. Kalaupun ada tokoh sastra baru dari generasi muda, mereka belum berhasil menciptakan gerakan dan warna tersendiri yang spektakuler. Menurut beberapa situs di internet yang memuat periodisasi sastra Indonesia, era 90’an ke atas diisi dengan tokoh terbatas dan karya yang terbatas pula.

Menjadi aktivis dan pejuang sastra adalah profesi yang sangat sunyi. Begitu cerita teman saya. Penyakit ini akan menjadi kronis, yang menurut saya pada akhirnya menciptakan Cacat Sastra digenerasi depan bangsa ini. Bahwa kita fasih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sangat terbatas untuk berkomunikasi, dan kita gagap menggunakan bahasa Indonesia untuk menyuarakan nurani dan keindahan, apakah itu dalam bentuk prosa, puisi dan cerita pendek. Cacat Sastra memiliki dampak yang panjang pula, bukan saja kita kehilangan kemahiran berkesusatraan, tetapi juga beberapa industri yang ikut terkena akibat. Sebagai contoh industri film. Untuk membuat film yang baik, kita butuh bahan baku, berupa cerita yang baik. Cerita yang baik datang dari penulis-penulis yang baik pula. Guraan seorang bintang film beken kepada saya. Mungkin film Indonesia juga semaput karena kekurangan cerita.

Ketika bangsa dengan warisan budaya sebesar Indonesia, dan angkatan mudanya mengalami Cacat Satra, maka tak terbayangkan akibatnya. Saya ingat saya masih menulis puisi buat pacar ketika SMA dan kuliah dulu. Rasanya nikmat sekali. Jaman sekarang, teman saya bercerita, putrinya hanya menerima rayuan lewat SMS atau BBM, dan kata-katanya boleh saja mesra. Tapi tak pernah seindah sebuah puisi cinta. Duh !

1 comment:

Sariyanta said...

LUAR BIASA!!!!! Saya benar benar kagum akan ketajaman anda tentang Sastra Indonesia, dan anda sepenuhnya benar tak ada yang bisa terbantahkan.
Awalnya saya mondar mandir cari sesuatu yang lucu dengan keyword "Jail", dan ternyata saya diarahkan kesini. Terimakasih sudah mengingatkan saya