Tuesday, June 08, 2010

KETIKA KITA MARAH DAN MEMAKI SI BIBI !



Pernahkah sekali, istri atau saudara perempuan anda, yang entah apa penyebabnya, suatu hari meledak amarahnya ? Semata karena pembantu rumah tangga atau yang kita sebut si bibi, berbuat sebuah kesalahan yang mungkin sangat sepele, namun korslet dengan sumbu emosi. Maka amarah meletup bagaikan bom atom. Dan si bibi kena caci maki. Sekilas tanpa sengaja, anda mungkin akan merasakan betapa gaya marah dan caci maki istri atau saudara perempuan anda, sedikit banyak punya kesamaan dengan gaya memaki Ibu anda. Terutama saat kita kecil dulu, dan ketika Ibu kita pada suatu saat, meledak amarahnya dan mencaci maki si bibi.

Yang membuat bulu kuduk saya berdiri, adalah kilatan ingatan itu. Seolah menyimpulkan bahwa didalam reflek tindakan kita, tersimpan sebuah referensi tentang cara marah dan mencaci maki si bibi. Dimana referensi itu diwariskan turun temurun. Dan kita belajar dari orang tua kita. Mengerikan bukan ? Barangkali betul, apa yang dinasehati para psikolog. Bahwa anak-anak kita belajar berbicara, dan berbuat dengan meniru orang tua-nya. Bahwa kita belajar mencintai sesuatu dan membenci sesuatu juga lewat orang tua. Sedikit banyak kita juga meniru gaya orang tua ketika marah dan mencaci-maki. Itu sebabnya kalau bisa jangan pernah marah dan memaki didepan anak-anak kita !

Sebenar-benarnya kesempatan kita marah dan mencaci maki secara sistimatis dalam hidup ini sangatlah terbatas. Yang pertama, target kita marah dan mencaci maki, adalah orang terdekat kita, misalnya anak, saudara kandung atau pasangan hidup kita. Itupun kalau hubungan kita babak belur tidak keruan. Dikeluarga yang hubungannya sangat baik, intim, dan harmonis, kesempatan yang pertama tidak banyak terjadi. Yang kedua, adalah bawahan di kantor. Itupun hanya akan terjadi kalau anda punya posisi bagus, dan punya bawahan. Kalau posisi anda biasa-biasa saja, jangan harap anda punya kesempatan ini. Sebaliknya malah mungkin anda lebih banyak menjadi target dimaki. Teman saya punya kedudukan tinggi disebuah perusahaan. Hobbynya marah dan mencaci-maki bawahan. Sungguh ini sebuah cerita betulan. Kasar pula. Segala umpatan bergaya kebon binatang selalu keluar. Anehnya kalau kita sebagai teman-teman biasa bertemu dengannya, ia jauh dari kesan itu. Sangat kalem. Semua staffnya di kantor, mengatakan pasti masa kecilnya tidak berbahagia. Selidik punya selidik, istrinya sangat galak. Ia sangat takut dengan istrinya. Maka sebagai pelampiasan, yang terkena damprat adalah para staffnya.

Kesempatan ketiga dan terakhir, sialnya jatuh kepada si bibi dirumah. Dialah yang secara diskriminatif berada diurutan terakhir, menjadi target termudah yang praktis untuk dimarahi dan dicaci maki. Jadi jangan heran apabila si bibi menjadi target pelampiasan dari banyak orang. Bangsa kita yang sudah beratus-ratus tahun menikmati budaya babu dan jongos sejak jaman feodal, ternyata jauh lebih maju dan beradab. Istilah babu dan jongos misalnya, telah mengalami evolusi penyebutan yang lebih keren. Di masyarakat menengah mereka sudah disebut bibi dan atau suster. Di masyarakat yang lebih trendi mereka disebut “pembokat”. Kalau dimasyarakat atas mereka disebut dengan sebutan bahasa Inggris “my maid” dan “nanny”. Kehidupan sehari-hari kita sedemikian lengketnya dengan topik ini, sehingga kisah-kisah si bibi juga ikut menjadi legenda yang tak terpisahkan secara antropologis dengan kehidupan moderen di republik ini. Misalnya, kita pernah mengangkat salah satu lakon si bibi, menjadi film terkenal seperti “Inem Pelayan Sexy”. Hampir dalam setiap tayangan komedi, entah itu srimulat, ketoprak, lenong, sandiwara TV hingga film, unsur si bibi selalu di “casting” dengan kesungguhan dan keseriusan tersendiri. Peran si bibi atau pembokat harus lucu. Ini formula yang tidak bisa ditawar. Secara tidak sadar sebenarnya si bibi punya peran “glamour” tersendiri.

Beda misalnya dengan negara-negara Malaysia dan Singapura, yang baru saja merasakan budaya ini dalam 30 tahun terakhir. Kecanggihan mereka secara emosional berhubungan dengan si bibi masih sangat terbatas. Itu sebabnya masih banyak kasus si bibi yang mengalami penyiksaan fisik, mulai dipukuli, tidak dikasih makan, hingga disiram air panas di luar negeri. Penyiksaan dan perlakuan yang biadad, tidak jarang memojok-kan posisi si bibi. Sehingga banyak kasus unik dimana si bibi membunuh majikan-nya sendiri di luar negeri.

Marah dan mencaci maki kelihatannya memang sangat buruk. Namun sedikit banyak barangkali sebagai katup pelampiasan, marah dan mencaci maki punya fungsi terapi juga dalam hidup ini. Nah, sialnya kesempatan ketiga atau terakhir untuk kita marah dan mencaci maki secara sistimatis, hanyalah kepada staff pembantu di rumah. Apakah itu supir, satpam, tukang kebun atau si bibi ! Ini adalah benteng terakhir dengan target paling empuk. Yang lucu, andaikata anda punya kesempatan merekam isi kemarahan dan caci maki tersebut dan memutar ulang untuk menganalisanya. Banyak sekali dari isi kemarahan itu yang sangat emosional, tidak rapi logikanya, dan kadang tidak berhubungan jelas antara satu segmen dengan segmen lainnya. Kemarahan itu bisa berlangsung sampai 30 menit, dengan ratusan caci maki. Pokoknya asal marah !

Ketika fenomena ini saya diskusikan dengan beberapa teman ketika ngopi bareng. Mereka tertawa juga. Karena baru menyadari peran marah dan memaki dalam kehidupan moderen mereka. Seorang teman secara sinis punya penjabaran yang beda. Menurutnya, saat ini posisi tawar si bibi sudah berbeda jauh. Dahulu, ketika ia kecil, setiap kali Ibunya marah dan memaki si bibi, maka biasanya si bibi menangis. Lalu reda dan selesai. Si bibi pasrah saja dimarahi oleh majikan-nya. Kesempatan melawan tidaklah banyak.

Jaman sekarang situasinya sangat berbeda. Si bibi kadang punya posisi tawar yang beda. Bukan-nya kita bisa marah dan memaki dengan seenaknya, sebaliknya hidup kita sangat tergantung dengan kehadiran si bibi. Itu sebabnya kalau Lebaran dan musim mudik, berapa banyak diantara kita yang sakit kepala dan rela tinggal di hotel. Karena tanpa si bibi, hidup kita kacau balau. Nah, teman saya itu mencontohkan, bahwa ia punya 2 bibi. Satu untuk mengurus keperluan anak-anak. Satu lagi untuk memasak dan mengurus rumah. Keduanya sudah dilatih dan di training lebih dari 2 tahun. Mereka tahu persis kebiasaan teman saya ini. Pokoknya setiap teman saya pulang dari kantor, rumah rapi bersih, teratur dan kinclong. Inilah kenyamanan dan kebahagian yang tak tertandingi nilainya dengan uang sebesar apapun. Pernah sekali salah satu bibi pulang kampung sebulan mengurus tantenya yang sakit. Maka kehidupan teman saya ini gonjang ganjing penuh dengan stress. Mencari bibi baru, dan melatihnya lagi, seringkali bukanlah solusi terbaik. Karena proses pencocokan kepribadian dan kebiasaan bisa menjadi proses yang menyakitkan. Akibatnya teman saya mengaku takut memarahi si bibi. Malah ia memikirkan bagaimana membuat si bibi semakin betah dan gembira. Kalau saja si bibi hengkang, akibatnya sangat tidak terbayangkan !

Diakhir diskusi kami. Seorang teman dengan polosnya bertanya, “Lha, kalau si bibi tidak bisa kita marahi dan kita maki ? Siapa dong yang bisa kita marahi dan maki ?” Saya tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan itu. Barangkali saatnya kita belajar marah dan memaki diri sendiri. Pasti aman ! Dijamin !

Saturday, June 05, 2010

SEX TAPE - LUNA + ARIEL



Ketika sebuah “sex-tape” (konon ini sebutan resminya), dari sepasang pria dan wanita beradegan mesum yang wajahnya mirip dengan artis Luna Maya dan Ariel Peterpan (konon ini sebutan sopan-nya), bocor di Internet, publik langsung heboh. Seperti biasa hal pertama yang dipertanyakan banyak orang, apakah itu asli. Ini perdebatan sangat seru. Maklum keduanya celebrity panas. Punya kisah kontroversi masing-masing. Uniknya 90% teman-teman yang menonton “sex-tape” itu mengatakan asli. Hanya 10% teman saya yang meragukan dan berkomentar – “ah, hanya sensasi saja !”.

24 jam setelah “sex-tape” itu bocor di Internet, maka ulah teman-teman saya berubah. Kebanyakan yang wanita menunjukan simpati dan rasa kasihan kepada Luna Maya. Mereka mulai menyimpulkan bahwa dalam kasus ini Luna Maya adalah korban. Mereka juga mulai bicara tentang reputasi, dan masa depan karir Luna Maya setelah ini. Teman saya yang pria. Terbagi-bagi dan terkotak-kotak opininya. Namun sebagian besar akhirnya berkomentar kepada tokoh wanita didalam “sex-tape” itu yang mirip dengan Luna Maya. Komentar beragam. Mulai dari bahasa tubuh. Hingga ukuran statistik. Dan badan sang wanita yang mereka sebut “gembyor” dan “kendor”. Vonnis akhirnya “Luna Maya is no longer sexy !” Duh, kasihan sekali !

Benarkah setelah “sex-tape” ini bocor di Internet, maka karir Luna dan Ariel akan punah berantakan ? Jawabannya akan sangat sulit sekali. Teman saya, seorang pemerhati budaya dan musik, mengatakan masyarakat Indonesia lebih pemurah dan mudah melupakan. Menurutnya, toh ini bukan kejadian yang pertama kalinya. Karena menurutnya masih banyak selebriti lain yang mengalami hal serupa di Indonesia, dan beberapa diantara mereka tetap bertahan dan melanjutkan hidup serta karir secara normal. Jadi tergantung tiap individu masing-masing dan gebrakan karir selanjutnya. Namun pertanyaan yang tetap bergema dan sulit terjawab, adalah kenapa “sex-tape” itu dibuat awalnya ? Sebagai ulah iseng ? Untuk souvenir ? Ikut ngetrend seperti artis Hollywood ? Apa motivasi sesungguhnya ? Dan pertanyaan pamungkas, kenapa bisa bocor ? Siapa yang bertanggung jawab membocorkan-nya ? Apakah semua ini merupakah sebuah upaya publisitas ?

Tahun 1985, ketika film St. Elmo Fire meledak di pasar. Semua perhatian tertuju pada aktor ganteng muda Rob Lowe. Spekulasi sangat tinggi. Rob Lowe punya kemungkinan terbaik menjadi aktor nomer satu Hollywood saat itu. Namun pada tahun 1988, sebuah “sex-tape” yang memperlihatkan Rob Lowe berhubungan intim dengan 2 gadis, dan salah satunya masih dibawah umur, mendadak saja menjadi palu godam yang menghancurkan karir Rob Lowe. Ia pun jatuh dan tidak pernah lagi bisa mencapai puncak karir yang ia inginkan. Tahun 1988, menjadi tonggak sejarah “sex-tape” dan awal sebuah fenomena. Bayangkan saat itu saja internet dan “broad-band” belum lagi populer. Belum ada “You Tube” dan “Facebook”.

Setahun kemudian, 1989, sebuah film indie – “ Sex, Lies, and Videotape”, karya Steven Soderbergh meraih penghargaan Palme d'Or di Cannes Film Festival, sebagai film terbaik. Dan aktor James Spader juga dinobatkan sebagai aktor terbaik pada saat yang bersamaan. Steven mengaku, bahwa film itu sendiri dikonsepnya dalam 8 hari dalam sebuat coretan diatas “note-pad” biasa. Film ini menjadi penting, terutama karena mengungkapkan sebuah prilaku baru, dimana kita memasuki sebuah era baru. Didalam film ini, James Spader, seorang psikolog menggunakan video kamera untuk memotivasi para klien-nya untuk membuat video pengakuan tentang kelemahan dan fantasi sex mereka masing-masing. Lalu rekaman ini menjadi sebuah cermin refleksi yang diharapkan memberikan efek terapi.

Sejak itu, budaya mengaku dan mempertontonkan pengakuan kita menjadi sebuah terapi massa yang sangat populer. Seperti sebuah “self-expression” yang mujarab. Dekade 90’an secara massif dipenuhi dengan revolusi kearah “self-expression” mutakhir ini, yang dilengkapi dengan alat-alat, piranti, dan infrastruktur pendukung. Tengok saja budaya “karaoke”. Yang membuka kotak Pandora, bahwa siapa saja bisa menjadi bintang dan berhasil menjadi bintang. Berawal hanya sebagai sarana hiburan para eksekutif. Hingga akhirnya dimanfaatkan menjadi sebuah industri ke “reality TV” seperti “American Idol” yang mencetak jutaan dollar. Blog di Internet menjadi ajang pentas dimana setiap orang bisa punya media 24 jam yang tersedia untuk mempublikasikan apa saja, tanpa harus disensor.

Internet dan adanya kamera disetiap telpon genggam, akhirnya membuat tiap manusia didunia ini, menjadi titik “broadcast” hidup yang berpotensi merekam apa saja. CNN memanfaatkan potensi ini dengan menciptakan program iReport, dimana setiap orang dimana saja, kapan saja bisa merekam satu berita, dan meng-“upload”-nya ke internet secara langsung. “You Tube” tercipta dengan peluang dan potensi yang sama pula. Di internet, pada hampir semua “social media”, seperti “Friendster”, “Tagged”, “Facebook”, dsbnya, anak-anak muda dengan iseng dan nakal memotret dirinya sendiri dengan kamera yang berada ditelpon genggam, lewat cermin. Mimik mereka jail, badung, nakal dan meledek. Kadang dengan ekspresi yang sangat sensual dan kostum yang minim. Lalu tanpa malu-malu meng-“upload”-nya ke internet, dengan nama samaran. Dialam khayal mereka, internet menjadi panggung pentas yang memungkinkan segalanya. Termasuk menjadi tokoh-tokoh khayalan seperti di video-games dan film serial.

“Self-Expression” yang menular dan menjalar ini, akhirnya masuk juga ke kamar tidur. Masuk ke area tabu dan terlarang, yaitu hubungan sex. Sejak itu “sex-tape” mulai menjadi komoditi pornografi. Yang menarik tentunya ketika selebriti ikut membuatnya dan sekaligus membocorkan-nya ke publik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Hollywood, seperti “sex-tape” terkenal Paris Hilton, Carmen Electra, Britney Spears, hingga Pamela Anderson. Tetapi juga ke Asia. Termasuk kasus-kasus Bollywood. Kasus heboh Edison Chen di Hong Kong misalnya, yang melibatkan sejumlah artis tenar seperti Cecilia Pak-Chi Cheung, Gillian Yan-Tung Chung, Bo Bo Man-Wun Chan dan Rachel Sze-Wing Ngan membuat semua orang tercengang. Indonesia ternyata juga ikut terjerat budaya yang sama.

Saya jadi ingat ucapan dan ramalan Andy Warhol, ketika didalam katalog pameran-nya di Moderna Museet – Stockholm, 1968 - beliau menulis, dimasa depan semua orang akan terkenal mendunia selama 15 menit. Ramalan itu ternyata benar ! Barangkali inilah saat 15 menit milik Luna Maya dan Ariel. Sedangkan untuk sebab dan motivasinya, tidak akan pernah ada yang tahu. Teman saya yang pemerhati budaya dan musik hanya berkomentar dengan bijak. Dunia artis kita tidaklah didominasi oleh keabadian dan keindahan yang diperlihatkan artis seperti Muchsin dan Titik Sandhora, atau Widyawati dan Sophan Sophian. Dimana mereka mampu melegenda dan menjadi aikon puluhan tahun. Umur ketenaran seorang artis semakin pendek karena kompetisi dan suasana saingan yang sangat kejam. Seorang artis yang gagal menciptakan satu sensasi dalam 3 bulan. Maka dalam 6 bulan berikutnya, dia akan dilupakan orang. Itu sebabnya ada istilah “Rindu Tayang” dikalangan para artis. Dan secara nilai serta makna, kadang sebuah “bad publicity” akan sama efek dan kedahsyatan-nya dengan publisitas positif lainnya. Dititik inilah sebaiknya kita berhenti mencari. Membiarkan Luna Maya dan Ariel memberikan jawaban versi mereka sendiri. Berikan pula kesempatan kepada waktu untuk bersaksi ! Saatnya kita menjadi penonton yang baik. Menyimak dan mencerna.

Tuesday, May 25, 2010

INI GOSIP ..... ALASAN MENGAPA ANDI MALLANGRANGENG KALAH !



Beberapa hari sebelum Kongres Partai Demokrat, saya kebetulan berada di kota Bandung. Dalam hati saya sangat mangkel, karena hampir seluruh jalan protokol yang strategis di penuhi dengan poster kampanye Andi Mallarangeng. Buat saya ini penistaan keindahan dan kebersihan kota Bandung yang saya cintai. Mestinya tokoh politik setiap kali kampanye punya kepekaan dan kecintaan terhadap lingkungan. Jangan main pasang poster dan baliho, dan berpikir cuma sebentar selama kampanye. Tindakan seperti itu mencerminkan gaya urakan berpolitik.

Tak lama kemudian Kongres Partai Demokrat berlangsung, dan Andi Mallarangeng yang kampanye-nya riuh rendah dan gegap gempita, kalah telak diputaran pertama. Lalu muncul sejumlah artikel diberbagai media yang menganalisa sebab musabab kekalahan Andi Mallarangeng. Mulai dari cacian terhadap iklan dan strategi komunikasi yang melenceng. Hingga bermacam-macam teori tentang etnik dan aneka situasi yang tidak menguntungkan. Seorang teman, mengirim pesan lewat BB dan meledek saya. Intinya saya disuruh menulis lewat sudut pandang yang berbeda. Memberikan analisa tak terduga, begitu kilah teman saya.

Sepulang dari Bandung tempo hari, seorang teman yang kebetulan anggota Partai Demokrat mengajak saya makan malam bersama dengan beberapa rekan wartawan. Mulanya makan malam ini Cuma reuni biasa. Tapi ditengah acara entah bagaimana topik Andi Mallarangeng mencuat. Awalnya kita semua heran, Andi Mallarangeng yang cuma jadi Jubir Presiden, koq bisa punya harta sedemikian banyaknya dan menghambur-hamburkan duit puluhan milyar untuk berkampanye sedemikian gencar. Duit darimana yah ? Dan kami-pun seru menebak-nebak siapa sponsornya. Awalnya kami yakin Andi Mallarangeng bakalan menang. Ia punya modal yang cukup. Sebagai jubir presiden, ia pasti punya akses ke SBY dan pastilah aksesnya cukup baik. Andi bekas aktivis dan cukup vokal dijaman reformasi. Masih muda dan ganteng pula. Sekarang aktif menjadi menteri. Pasti peluangnya cukup bagus. Namun teman kami di Partai Demokrat, memperlihatkan wajah dan jawaban yang berbeda. Ia sama sekali tidak yakin Andi Mallarangeng bakal menang. Menurutnya semua tergantung SBY. Ia menjabarkan bagaimana proses perekrutan menteri dikabinet ala SBY. Kalau menteri dipanggil ke Cikeas, maka pada malam sebelum pemilihan ketua partai, siapa yang dipanggil SBY kekamar hotelnya di Bandung, itulah yang bakal menjadi ketua. Titah SBY adalah titah raja di Partai Demokrat. Demikian ulasan teman saya. Kami cuma tertawa-tawa saja mendengar ulasan itu.

Beberapa hari kemudian, Kongres Partai Demokrat di gelar di Bandung. Dan benar saja Andi Mallarangeng kalah telak. Alasan resmi Andi, kekalahan-nya disebabkan karena Andi terlalu sibuk menjadi menteri dan kurang gesit menggarap DPC dan DPD. Sehingga ia kurang akrab, dan kalah. Gosip yang beredar malah terbalik. Sebelum kongres, Andi sudah yakin karena mengatakan sudah mengantongi sekian persen suara. Konon Andi juga rajin menjamu dan memanjakan DPC dan DPD. Pernah sekali sebelum kongres, saya bertemu dengan rombongan Andi yang mau berangkat ke Yogya. Rombongan Andi terlihat sangat banyak dan lengkap. Apabila Andi menghabiskan dana puluhan milyar untuk menggrapa “above the line” komunikasi kampanye-nya, maka mustahil biro iklan Andi tidak menggarap “below the line”. Apalagi biro iklan yang dipakai Andi sangat berpengalaman dalam menggarap komunikasi politik. Jadi pastilah alasan Andi itu cuma versi “PR”, sebagaimana layaknya Andi dulu pernah menjadi jubir presiden.
Karena penasaran, saya mencari sumber yang mau menceritakan alasan yang lebih pas dan lebih tepat. Maka salah satu sumber saya akhirnya mau membocorkan juga kekalahan Andi. Saya ngopi dengan “Deep Throat” (begitu istilahnya di dunia intelijen) disebuah café yang kecil dan sepi. Sumber saya, pada awalnya bertanya : “Mengapa SBY ? Bisa menang sebagai Presiden di pemilu 2004 ?” Ditanya begitu sayapun memberikan sejumlah alasan. Ia cuma menggeleng dan tersenyum. Sambil mengirup kopi dan dengan suara perlahan, ia mengatakan, “Semata-mata SBY paling ganteng”. Saya terperangah. Kaget. Mendengar jawaban yang jauh dari rasional.

“Deep Throat” saya ini, kemudian bercerita tentang teori kemenangan pemilu. Terutama soal ganteng dan cantik didalam pemilu. Ia bercerita mulai dari bintang film Joseph Estrada di Filipina, Arnold Arnold Schwarzenegger yang menjadi gurbernur California, hingga presiden Ronald Reagan di Amerika. Lech Kaczynski, Presiden Polandia yang belum lama ini meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang, juga bekas bintang film anak-anak yang ternama. Malah ia juga berteori bahwa Gordon Brown yang kalah telak dengan David Cameron dalam pemilu di Inggris belum lama ini, juga semata-mata karena kalah ganteng jauh. Menurutnya, matematika kemenangan sebuah pemilu sangat ditentukan oleh pemilih perempuan. Pemilih perempuan jauh lebih emosional. Calon pemimpin yang mendapat perlakuan tidak adil ( Ingat SBY ? dan Corazon Aquino ?) biasanya mendapatkan simpati terbesar dan punya peluang menang yang sangat tinggi. Dan calon pemimpin yang ganteng, berwajah santun berwibawa, biasanya juga dipilih secara favorit oleh pemilih wanita. Jadi menurutnya jangan heran kalau semakin banyak artis dan aktor yang masuk politik, untuk memanfaatkan kegantengan wajahnya. Ini fenomena lumrah !

Setelah berdebat setengah jam soal wajah dan penampilan para politikus, akhirnya saya lengser juga. Karena kenyataan-nya memang demikian dilapangan. Tapi bukankah dalam kasus Andi Mallarangeng, situasinya terbalik ? Justru dia muda dan ganteng. Malah ketika jaman reformasi, dan Andi sering mucul di televisi, Andi punya fans yang cukup banyak. Kebanyakan justru malah perempuan. Lha, kalau teori “Deep Throat” saya ini benar, kenapa dong justru Andi malah kalah telak. “Deep Throat” saya, yang kebetulan adalah perempuan yang sangat charming dan cantik ini, tersenyum sangat genitnya. Lalu memaparkan dengan sederhana. Menurutnya dalam kasus Bandung, justru wajah ganteng dan populeritas Andi adalah pisau bermata dua. Membuat Andi menjadi Ketua Partai Demokrat, ibaratnya menghadiahkan sebuah Ferrari terbaru kepada seorang “playboy”. Bayangkan saja, apa jadinya kalau Andi Mallarangeng dalam 2-3 tahun mendatang lebih populer dari SBY ? Sebuah mala petaka yang tak terbayangkan akibat dan dampaknya. Bisa kacau balau total. Andi Mallarangeng yang memiliki kemampuan berkomunikasi sangat baik, berkat pengalaman-nya menjadi Jubir Presiden, bisa tampil meroket makin populer. Mulanya saya terbahak dan menganggap beberan “Deep Throat” saya ini sangat tidak masuk akal. Namun beberapa fakta yang ia ungkapkan secara “confidential”, akhirnya membuat saya ragu juga. Jadi apabila benar, Andi Mallarangeng sengaja dilengserkan karena potensinya yang lebih ganteng dan lebih populer dari SBY nanti di tahun 2014, maka Andi Mallarangeng adalah korban pertama dalam sejarah politik Indonesia yang jatuh justru karena disebabkan oleh wajah gantengnya ! Untuk itu saya cuma garuk-garuk kepala. Artikel ini sengaja saya beri judul “Gosip”, karena walaupun “Deep Throat” saya datang dari sumber yang saya percaya. Kebenarannya saya serahkan kepada anda semua. Saran saya jangan percaya, karena cuma gosip saja !

Monday, May 24, 2010

"TUHAN ..... Dimanakah Engkau ?"



Saat ayah saya terkena serangan strooke yang terakhir, saya berbuat seperti kebanyakan orang. Bersujud di hadapan Tuhan, dan meminta kesembuhan buat beliau. Saya sadar penyakit ayah cukup berat. Dan saya ingat, saat-saat itulah saya berdoa dan mencoba berbicara dengan Tuhan sekeras-kerasnya. Berjam-jam saya berdoa. Namun, satu sore ketika saya menjenguk beliau, ayah menangis melihat saya, tiba-tiba saja semangat saya lepas. Di momen itulah saya tahu, bahwa beliau mengucapkan perpisahan dengan saya. Batin saya berbisik, inilah saat-saat terakhir beliau. Beberapa hari kemudian menjelang fajar, ayah saya wafat. Walaupun saya berusaha tabah saat itu. Tetap saja saya mengikuti sikap orang kebanyakan. Saya menyalahkan Tuhan. Karena Ia telah tuli tidak mau mendengar doa saya. Ia telah mengabaikan saya. Sayapun kecewa berat.

Sebulan setelah ayah wafat, saya merasakan sebuah kekosongan dalam jiwa saya. Begitu besar dan dalam. Saya mencoba mengisinya selama seminggu, mengunjungi tempat-tempat suci dan ibadah, sepanjang pulau Jawa hingga Bali. Tidak berhasil. Ditengah kegelisahan dan kegalauan itu, saya akhirnya bertanya, apakah Tuhan itu ada ? Kalaupun ada ….. dimanakah Tuhan berada ? Dalam titik terendah kehidupan saya itu, akhirnya saya bertemu dengan Mpu Peniti. Beliau beragama Islam dan saya beragama Buddha KTP. Saya ingat betul dalam pertemuan kami yang kedua, diteras kebun belakang rumah beliau, kami minum teh poci yang kental dan harum. Mpu Peniti sembari merokok kretek menatap langit jauh-jauh. Senja mulai beranjak. Dan langit berubah warnanya. Jingga bercampur kuning tipis di horizon. Sebuah sandikala yang indah. Saya ikut melihat kelangit dan tidak menemukan apa-apa. Saat itulah Mpu Peniti berkata lirih, “Tahukah kau dimana batas langit sesungguhnya ?” Saya tidak menjawab. Cuma tersenyum. Karena sebulan sebelumnya dipuncak Borobudur saya pernah bertanya hal yang serupa. Sayapun tidak menemukan jawaban-nya.

Pernahkah terbayang oleh kita bahwa bilamana semuanya tidak ada, maka apapun tidak ada maknanya. Namun karena kita ada dan alam semesta ini sedemikian besar, dan kita tidak tahu dimana batas akhirnya. Maka setiap jengkal kehidupan kita sangat bermakna. Jodie Foster yang memerankan Ellie Arroway dalam film Carl Sagan yang berjudul “Contact” - didalam film itu berucap :” I'll tell you one thing about the universe, though. The universe is a pretty big place. It's bigger than anything anyone has ever dreamed of before. So if it's just us... seems like an awful waste of space. Right?” Barangkali jawaban atas pertanyaan Mpu Peniti ada dikalimat itu. Kadang kalimat itu pula yang akhirnya memberikan saya rasa aman yang sangat nyaman. Bahwa sesungguhnya Tuhan menyentuh kita tiap saat. Hanya karena saja sangat sering dan sangat berlimpah, kita tidak menyadarinya.

Sejak peristiwa itu saya banyak belajar dari Mpu Peniti. Tentang apa saja. Tetapi terutama belajar memperhatikan yang paling kecil, dan bukan lagi yang paling besar. Hidup saya berubah. Saya belajar menikmati hidup. Tertawa lepas dan tertawa lebih banyak. Terutama sering-sering menertawai diri saya. Selalu melihat hidup dari 2 arah yang berlawanan. Itu sebabnya ketika saya menulis buku “Anti Marketing”, banyak orang menghujat saya dan menuduh saya mencari sensasi saja. Beberapa dosen marketing mengatakan buku saya murtad dan bejat. Kata Mpu Peniti, “Sesuatu dikatakan tidak benar seringkali karena tidak dimengerti orang. Dan sesuatu yang benar seringkali karena sesuatu yang kita sudah terbiasa. Maka benar dan tidak benar, seringkali sama, yang beda cuma sudut pandangnya”.

Kadang saya sendiri sering susah hati, ketika Tuhan dengan begitu mudahnya dijadikan guling oleh kebanyakan orang. Betapa sering orang meminta kepada Tuhan hal-hal yang sangat sepele. Seperti, jangan hujan, jangan macet, dan atau minta kenaikan gaji. Tuhan juga seringkali dijadikan kesimpulan terakhir. Terutama yang berhubungan dengan nasib kita. Orang terlalu gampang menyimpulkan, “Sudah kehendak Tuhan.” Titik dan mau apalagi ?

Hari ini saya berulang tahun ke 50. Setengah abad. Semalam saya bersujud dihadapan Tuhan. Minta ampun. Juga berterima kasih. Atas hidup yang serba nyaman, nikmat dan berkelimpahan. Entah kenapa, saya merasakan Tuhan sangat dekat dengan saya. Seolah ia tampil didepan saya. Memberikan saya enerji dan semangat. Saya sadar bahwa saya tidak akan mungkin bertahan setengah abad lagi. Artinya sisa hidup saya yang entah berapa lama lagi, harus memberi nilai dan manfaat bagi orang banyak 1.000 kali dari apa yang telah saya lakukan selama 50 tahun. Ibarat orang berdagang, saya telah diberikan modal terbaik oleh Tuhan di 50 tahun kehidupan pertama saya. Maka saya wajib menggunakan modal itu sebaik-baiknya dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Buat keluarga, teman, kerabat, orang banyak, bangsa dan negara. Itu yang saya ceritakan kepada Mpu Peniti, ketika dia bertanya saya punya rencana apa di 50 tahun kehidupan saya yang berikutnya ? Mpu Peniti tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan saya. Ketika saya ditanya mau kado apa, saya cuma minta doa. Beliau manggut-manggut tanda setuju.

Diusia 50 tahun, saya telah berhenti bertanya “Tuhan …. Dimanakah Engkau ?”. Bukan karena saya tahu jawabannya. Semata karena saya sadar, ia telah hadir dan menyentuh saya dalam setiap jengkal kehidupan saya. Sudah 20 tahun terakhir ini, saya mengubah isi doa saya. Tidak lagi saya meminta sesuatu kepada Tuhan. Karena saya sadar bukan itu prosesnya. Setiap kali saya berdoa kepada Tuhan, saya cuma minta ia hadir dalam kehidupan saya. Kehadiran Tuhan inilah yang saya rasakan, secara ajaib memberikan saya kekuatan, keberanian dan kebijakan untuk bertindak dan bersikap.

Pernah sesekali, beberapa orang bertanya kepada saya. Apa agama saya ? Saya cuma tersenyum. Karena saya merasakan pertanyaan ini sangat pribadi. Hubungan saya dengan Tuhan, tidak semestinya dipersoalkan. Biasanya orang-orang itu jadi antusias gara-gara senyuman saya dan kebisuan saya tidak menjawab. Umumnya mereka lalu mencoba merekrut saya untuk masuk ke agama yang mereka peluk. Secara iseng, selalu saja mereka saya goda dengan pertanyaan, “Tuhan …. Dimanakah Engkau ?”. Hampir semuanya selalu gelagapan. Tidak ada satupun yang menjawab dengan pengalaman sendiri. Sungguh aneh. Umumnya mereka menjawab dengan jawaban resmi versi pemimpin agama mereka masing-masing, yang selalu kita dengar dalam kuliah agama. Lewat mata mereka, saya selalu melihat kerinduan yang amat sangat untuk menikmati sentuhan Tuhan.

Buddha pernah berkata, satu tetes demi satu tetes, pada akhirnya akan mengisi penuh satu bejana. Barangkali kebahagian hidup ini semestinya datang dalam bentuk ketekunan dan kesabaran. Satu tetes demi satu tetes. Sebagian orang yang sangat beruntung, ketika lahir bejananya sudah penuh dan berlimpah. Syukurlah, saya perlu 50 tahun untuk mengisi bejana itu hingga penuh. Syukurlah Tuhan telah mengajarkan saya ketekunan dan kesabaran. Tuhan memberikan saya pelatihan hidup yang membuat saya bahagia. Untuk itu saya berterima kasih !

Sunday, May 23, 2010

SETENGAH ABAD KAFI KURNIA

PRESIDEN BASI 2014



Ketika Sri Mulyani bertemu secara resmi dengan para anggota Dewan, seorang diantara mereka nyeletuk, agar Sri Mulyani mau dan bersedia dicalonkan sebagai calon Presiden 2014. Saat membaca adegan itu disebuah surat kabar, saya sempat tertawa. Itu ide yang menarik ! Tak lama kemudian di internet beredar sejumlah ajakan dan gerakan, untuk mewujudkan celetukan itu agar menjadi kenyataan.

Dalam sebuah diskusi terbatas, belum lama ini, beberapa teman menggagas agar tahun 2014 kita punya pilihan calon presiden yang lebih baik. Alasan-nya sangat sederhana. Bila kita lihat peta pimpinan partai besar yang berkuasa saat ini, sebenarnya kita sudah bisa meraba siapa-siapa saja yang bakal menjadi Presiden di 2014 dan 2019. Dan teman saya menyebutnya “presiden basi”. Saya terusik mendengarnya, walaupun sedikit kontroversial, namun memiliki sejumlah kebenaran juga. Ekonomi dunia berubah porosnya. Lihat saja Eropa yang tak reda dirundung krisis. Dan Amerika yang memicu krisis dua tahun yang lalu. Asia dengan kekuatan super ekonomi bersama Cina, Jepang dan Korea menjadi benteng ekonomi yang sangat sukar disaingi dalam 10 tahun mendatang. Seorang teman mengirim humor lewat Black Berry, “Barangkali Tuhan itu orang Cina. Jadi jangan heran apabila semua produk didunia dibuat oleh Cina” Dalam lomba ekonomi 10 tahun mendatang, Asia akan bertambah sakti, karena India akan semakin terbuka dan menjadi kekuatan terbaru ekonomi Asia. Dan kalau saja kita menemukan pemimpin yang dahsyat, maka Indonesia punya peluang menjadi kekuatan ekonomi kelima di Asia setelah Cina, Jepang, Korea dan India.

Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia telah berhasil menjadi kekuatan demokrasi baru di Asia. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan selama 12 tahun. Kita sudah mengalami 4 kali pergantian presiden yang berbeda. Secara politik mungkin Indonesia boleh terpujikan. Tetapi dalam ekonomi, kita masih berjalan ditempat. Itu yang dirasakan hampir semua orang kebanyakan. Teorinya dengan modal yang luar biasa. Seperti jumlah penduduk ke 4 terbesar didunia. Tanah dan laut yang sangat subur. Dan potensi sumber daya alam yang berlimpah. Mestinya Indonesia tidak akan sulit menjadi kekuatan ekonomi Asia berdampingan dengan Cina, Jepang, Korea dan India. Solusinya kita butuh “pemimpin yang tidak basi”, yang mengerti tentang potensi ekonomi ini, yang punya ambisi besar mewujudkan visi ekonomi ini, dan kemampuan manajemen untuk mewujudkan-nya dalam periode 5 -10 tahun.

Barangkali ini dasar pemikiran yang sangat “urgent”, kenapa teman saya kesal, ngebet pemimpin baru yang segar, dan “tidak basi” ditahun 2014 nanti. Mungkin sebuah pertanyaan yang basi pula, bilamana kita bertanya : “Masa sih dari 200 juta orang lebih, kita tidak bisa menemukan satu-pun orang yang cakap memimpin ?” Sama dengan pertanyaan, masa sih dari 200 juta orang lebih, kita tidak bisa menemukan beberapa atlit berbakat untuk sepakbola, bulu tangkis dsbnya ? Pertanyaan basi yang selalu berdengung ketika kita kesal tim sepak bola dan tim bulu tangkis kita kalah melulu ! Jawabnya pasti bisa dan pasti ada. Masalahnya kita serius tidak mencari dan mendidik calon atlit itu ? Andaikata saya boleh membuat sebuah perbandingan. Dalam piala dunia Juni 2010 mendatang di Afrika Selatan, negara-negara kecil seperti Cameroon, Ivory Coast, Ghana dan Honduras yang memiliki populasi penduduk hanya 7 juta hingga 21 juta, berhasil masuk piala dunia. Kita, Indonesia belum punya kesempatan seperti itu. Nah, bilamana dan jikalau boleh membuat perbandingan secara potensi ekonomi. Berdasarkan data nominal GDP 2008 versi World Bank, Indonesia menduduki nomer 19. Bandingkan dengan Cameroon (88), Ivory Coast (87), Ghana (100) dan Honduras (107). Mestinya Indonesia punya prestasi segudang, apabila kita lihat urutan dan potensi ekonominya. Tapi benar pula; apabila angka diatas disanggah dengan perdebatan bahwa tidak ada hubungannya langsung antara ekonomi dengan dengan prestasi olah-raga.

Pernah sekali, Mpu Peniti pernah mengatakan kepada saya, ketika seseorang sangat minim dalam harta dan benda, tetapi ia sadar bahwa harta terbesarnya adalah dirinya sendiri, maka tidak ada lagi batas yang memisahkan prestasi yang bisa dicapainya. Miskin bukanlah penghalang. Ia bisa mencapai prestasi apapun yang ia inginkan. Tetapi Mpu Peniti juga mengatakan bahwa sebaliknya seseorang yang kelimpahan dalam harta dan benda tetapi gagal berbuat apa-apa. Maka dosanya dobel. Ia bodoh tidak bisa memanfaatkan peluang. Dan durhaka karena gagal berbuat kebajikan bagi orang banyak.

Tantangan-nya barangkali adalah bagaimana kita bisa mencetak kader-kader pemimpin yang pas ? Karena selama 12 tahun ini, partai politik di Indonesia telah gagal semua. Bukan pemimpin bagus yang berhasil dicetak, melainkan partai politik cuma dijadikan kendaraan menuju kekuasaaan. Sehingga pemimpin yang dihidangkan kepada kita, hingga hari ini semuanya basi. Tak jauh dari area pengkultus-an seseorang. Celakanya dalam menentukan kepemimpinan baru saat ini, mulai muncul tradisi buruk. Yaitu pewarisan kekuasaan dan kepemimpinan. Di berbagai daerah sudah muncul pilkada yang menampilkan istri dari Bupati atau Gubernur yang selesai berkuasa. Demikian pula di partai politik, anak-anak pimpinan partai di wacanakan sebagai pewaris dan penerus kepemimpinan. Seolah sebuah kepemimpinan adalah kepemilikan mutlak tokoh tertentu. Mirip kepemilikan tanah saja. Kepemimpinan kan bukan hak satu keluarga saja. Hingga diwariskan dari kakek ke anak cucu. Sungguh tradisi yang sangat feodal. Kalau sistim mencetak kader pimpinan di Indonesia masih berkutet di wilayah sempit ini, kapan kita bakalan punya pemimpin yang bagus ?

Mencetak kader pimpinan bangsa, sebenarnya bisa dilakukan secara lebih sistimatis dan matematis. Katakanlah kita dalam sepuluh tahun mendatang kita ingin punya kolam bakat calon pemimpin yang cukup banyak dan luas. Pemimpin yang ideal, matang dan memiliki pengalaman yang cukup dengan rentang usia 40-50 tahun. Maka saat ini, pertama-tama yang harus kita pilih adalah kolam latihnya. Agar produktif dan menyerap kemajemukan profesi dan gender, kolam latihnya jangan dibatasi. Bisa saja kolam latih itu berada di satuan militer, pemerintahan daerah, perusahaan BUMN, dan swasta. Namun pembibitan itu sudah harus dimulai dengan melihat bakat-bakat para eksekutif yang berusia 30’an saat ini. Mereka harus diberikan tanggung jawab, wawasan dan tugas-tugas memimpin yang luas. Ibaratnya intan, mereka harus terasah benar dalam 5-10 tahun mendatang, kita punya banyak pemimpin yang benar-benar kemilau dan kinclong.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana partai politik bijaksana mengakses kolam bakat ini, atau sebaliknya bagaimana calon-calon pemimpin ini diberikan akses politik, sehingga mereka punya kesempatan mendarma baktikan kemampuan dan pengalaman memimpin-nya. Dalam 12 tahun terakhir ini, partai-partai politik di Indonesia mengalami konsolidasi, perpecahan dan selalu saja muncul partai sempalan baru. Semata-mata karena di negara demokrasi Indonesia ini sendiri, partai politiknya belum 100% arif berdemokrasi. Kekuasaan cenderung di patri dan dipasung hanya untuk kelompok esklusif. Kelompok yang kecewa akhirnya membuat partai baru dan seterusnya. Sehingga partai politik besar cenderung tidak mengalami penguatan melainkan sebaliknya pengeroposan bakat dan kekuatan. Potensi dan bakat yang baik tidak terkumpul dalam satu kekuatan, melainkan terpecah-pecah tidak keruan.

Tahun 2014 memang masih 4 tahun lagi. Namun menurut Mpu Peniti, bilamana kita mau membaca tanda-tanda alam, tahun 2014 yang memiliki perhitungan 2+0+1+4 = 7 akan menjadi tahun yang sangat penting. Menurut kepercayaan tradisonal Jawa, angka 7 merupakan angka yang sempurna. Lingkungan kita memiliki sejumlah angka 7. Dimulai dari seminggu ada 7 hari. Manusia yang memiliki 7 lubang. Sehingga 7 juga diaplikasikan dalam ilmu arsitektur secara tradisi. Konon Candi Borobudur saja mempunyai 7 tangga dan 7 gerbang. Dan yang membuat saya bulu saya berdiri, adalah perkataan Mpu Peniti bahwa tahun 2014 kita bakal punya presiden ke 7, setelah Soekarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY. Saya sendiri mulanya skeptis, namun melihat kesungguhan air muka Mpu Peniti ketika bercerita saya ikut manggut-manggut juga. Saya tentu saja berharap Presiden ke 7 Indonesia di tahun 2014, adalah presiden dengan kepemimpinan baru yang segar. Bukan presiden basi ! Barangkali cuma waktu yang akan membuktikan, bilamana Sri Mulyani akan kembali ke Indonesia dan menjadi Presiden ke 7 Indonesia ! Kita sebagai rakyat kecil akan terus berharap !

Saturday, May 08, 2010

SRI MULYANI - SEBUAH "PREDICTABLE SURPRISES"



Barangkali penjelasan misteri pengunduran diri Sri Mulyani, hanya ada pada perkataan astronot beken Neil Armstrong yang berkata : “Mystery creates wonder and wonder is the basis of man's desire to understand." Seingat saya, usai diperiksa KPK kesekian kalinya, Sri Mulyani memberikan statement tentang kegusaran beliau, untuk mencari kepastian hukum. Sayangnya, sang Presiden, bapak SBY tidak memberikan tanggapan. Hanya berdiam diri. Selang sehari muncul di surat kabar dan media, tiba-tiba saja Sri Mulyani mengundurkan diri. Dengan alasan karena ada jabatan lebih prestise menunggu di World Bank. Spekulasi dan reaksi kemudian heboh di surat kabar dan media. Terutama tentang siapa yang bakal menggantikan-nya. Lalu dalam 24 jam menyusul, beredar kabar ada satu partai politik yang mengambil sikap melunak - ingin menutup kasus Bank Century tanpa memperpanjangnya. Surat kabar dan media makin heboh, jangan-jangan jabatan pengganti Sri Mulyani sudah dinegosiasikan untuk partai politik itu. Pokoknya ramai dan konon sampai mempengaruhi pasar, dari kurs hingga bursa saham.

Saya yang awam dan hanya bisa menguping kanan kiri, mulai mencerna sejumlah gosip, rumor dan berita-berita miring. Yang akhirnya memang seperti dikatakan Neil Armstrong misteri itu mewariskan sejumlah keheranan. Heran nomer satu, tentu saja jabatan sepenting itu di Bank Dunia, tidak mungkin diputuskan dalam waktu singkat, pasti memakan proses panjang dan waktu yang cukup lama. Ada pihak yang mengatakan kepada saya, mustahil tokoh sekaliber Sri Mulyani tega meninggalkan Indonesia dengan sejumlah tanggung jawab yang berat; hanya untuk sebuah jabatan diluar negeri, seberapa-pun prestise dan bernilainya. Bayangkan saja apa jadinya kalau Presiden SBY mengundurkan diri hanya gara-gara ditawari jabatan jadi Sekjen PBB misalnya. Jadi kesimpulan-nya pasti ada apa-apanya.

Heran nomer dua, koq waktu dan ketepatan momen-nya terkesan tiba-tiba dan bersinggungan dengan kasus Bank Century dan kasus Pajak yang sedang sangat panas dan heboh. Maka pengertian nomer satu, jangan-jangan pengunduran diri Sri Mulyani memang ada apa-apanya. Spekulasi sejumlah orang yang saya dengar – kemungkinan Presiden SBY dan Sri Mulayani memang kurang akur. Indikasinya adalah statement Sri Mulyani tentang kepastian hukum. Jangan-jangan Sri Mulyani tidak sudi dijadikan kambing hitam masalah Bank Century dan harus pasang badan. Apalagi kalau sampai masuk pengadilan dan dipenjara pula. Malunya bukan main. Semua prestasi dan reputasi yang sudah dicapai akan pupus begitu saja. Di republik ini, sekarang ada sebuah fenomena unik, bahwa semua bekas pejabat itu korup. Dan target empuk untuk dipenjarakan. Buktinya sudah berapa bekas gubernur dan bekas menteri yang masuk penjara. Kalau ini berlangsung terus menerus, siapa tahu kita bakalan kehabisan calon gubernur dan calon menteri.Karena semuanya di penjara.

Heran nomer tiga, jangan-jangan pengunduran diri Sri Mulyani sebenarnya sudah mengorbankan Sri Mulyani. Secara halus artinya Sri Mulyani memang berhasil dicungkil dari posisi-nya. Gosip dan rumornya, tekanan untuk mundur sudah datang sejak lama secara bertubi-tubi. Pertama, karena memang bangku empuk ini di-incar banyak orang. Maklum secara teori siapapun yang menguasai duit, maka dialah yang paling berkuasa. Itu sebabnya 3 jabatan strategis (Gubernur Bank Indonesia – Menteri Keuangan – dan Menteri Ekonomi) di republik ini selalumenjadi tulang yang paling gurih untuk diperbutkan semua pihak yang ingin berkuasa. Buktinya sehari setelah, Sri Mulyani mundur - sudah ada partai politik yang memberikan tanda melunak atas kasus Bank Century. Seolah memberi tanda bahwa partai ini siap kompromi apabila kursi menteri keuangan diserahkan kepada partai tersebut. Pengertian kita, mengapa sih Sri Mulyani harus mundur ? Apakah betul cuma gara-gara kasus Bank Century ? Seorang kuli tinta senior, kemarin memberikan sebuah pengertian yang berbeda. Tentu saja spekulatif, tapi bisa juga masuk akal. Sang kuli tinta bercerita bahwa kasus Bank Century cuma asapnya saja. Api sesungguhnya adalah kasus pajak. Kasus seperti Gayus dan pegawai pajak di Surabaya, itu cuma kulitnya saja. Apa jadinya bila kasus ini merembet dan meledak ? Bisa menjadi kebakaran yang sangat besar. Akibatnya sulit terbayangkan. Reformasi birokrasi ditubuh Departemen Keuangan, bisa membahayakan banyak orang. Dan dampaknya sangat jauh dibanding kasus Bank Century. Posisi Sri Mulyani bisa sangat dan serba sulit. Bila ia maju terus dan melakukan reformasi besar-besaran, jangan-jangan tembok keras sudah siap menghadang didepan. Tidak maju dan tidak berbuat apa-apa, juga mustahil buat tokoh seperti Sri Mulyani. Mendengar ulasan itu, saya cuma manggut-manggut saja mendengarnya. Pikir saya, kalut banget ini republik. Tulen benang kusut !

Heran yang terakhir barangkali, adalah siapa yang bakal menggantikan Sri Mulyani ? Spekulasi ini tentu saja sangat panas. Padahal sebenarnya Presiden SBY banyak dipuji orang secara diam-diam. Karena ibarat main sepak bola, Indonesia dikawal 2 wanita profesional, satu diperdagangan dan satu di keuangan. Mirip back kanan dan back kiri. Dan ada pak Boediono di poros dalam. Harapan banyak orang terhadap ekonomi Indonesia 2010 cukup tinggi. Dan memberikan kenyamanan pasar tersendiri. Dengan mundurnya Sri Mulyani, sebagian kenyamanan itu jelas pupus. Itu sebabnya spekulasi tentang pengganti Sri Mulyani, menjadi pasar taruhan yang tidak kalah menarik dibanding taruhan bola.

Yang paling kasihan tentu saja adalah pengganti Sri Mulyani. Siapapun orangnya ? Dan apapun bobotnya ? Karena ia selalu akan dibanding-bandingkan dengan Sri Mulyani. Melihat SBY memilih calon pengganti yang tepat juga akan sangat seru dan menegangkan. Karena ini akan menjadi tes ketegasan sikap SBY. Kalau solusi politik yang dipilih, dan jabatan Menteri Keuangan kelihatannya bakal diberikan sebagai upeti kesebuah partai politik. Akibatnya citra yang akan muncul jelas melemahkan SBY. Seolah-olah kompromi politik telah terjadi dan pemerintahan SBY disandera partai politik tertentu. Sebaliknya bilamana SBY memilih solusi manajemen dan mencari calon pengganti yang 100% profesional, siapa pula tokohnya ? Seorang teman mengatakan mencari tokoh yang setara dengan Sri Mulyani saja sudah sulit, apalagi mencari yang lebih hebat.

Saya sendiri jauh lebih optimis. Kalau kita teliti dan bijak mencari, tokoh profesional itu pasti ada. Max H. Bazerman dan Michael D. Watkins, penulis buku – “Predictable Surprises”, mengatakan bahwa salah satu penyebab malapetaka adalah kebiasa-an kita melakukan pembiar-an. Banyak pemimpin yang memiliki data dan informasi, karena segan atau hal-hal lain, cenderung membiarkan sesuatu, yang akhirnya menjadi malapetaka. Sikap membiarkan ini bisa menjadi budaya masa bodoh yang sangat berbahaya. Pengunduran diri Sri Mulyani adalah salah satu “Predictable Surprises” di tahun 2010. Yang mungkin saja akan merembet dan bertambah banyak. Sedemikian banyak masalah direpublik ini, yang jelas-jelas sudah tidak lagi bisa dibiarkan begitu saja. Biarpun tampaknya seperti benang kusut sekalipun. Adalah tugas kita untuk mengurainya satu demi satu dan mencari solusi yang pas. Bila kita tetap masa bodoh, maka kita akan menjadi bodoh beneran !

Buat Sri Mulyani kita ucapkan – “Congratulations” dan selamat berkarya. Dan buat presiden SBY kita doakan beliau akan diberikan jalan untuk menemukan calon pengganti yang pas !

Thursday, May 06, 2010

JAIL BANGET SIH .... PEREMPUAN CANTIK BERBAHAYA BAGI KESEHATAN ANDA !



Perempuan Cantik Merusak Kesehatan Anda

VALENCIA, KOMPAS.com –

Bertemu perempuan cantik dapat berakibat buruk bagi kesehatan Anda, demikian hasil penelitian sejumlah ilmuwan.

Sebuah penelitian dari University of Valencia, sebuah universitas tertua dan terbesar di Spanyol, menyebutkan, berada lima menit hanya berdua dengan seorang perempuan cantik dapat meningkatkan level cortisol, hormon stres tubuh, pria. Efek ini meningkat pada pria yang percaya bahwa perempuan tersebut "di luar jangkauan mereka'.

Cortisol diproduksi tubuh yang mengalami stres fisik atau psikologis dan telah dikaitkan dengan penyakit jantung.

Koran Telegraph, Senin (3/5) melaporkan, para peneliti telah menguji 84 mahasiswa pria dengan meminta mereka duduk di sebuah ruangan dan memecahkan teka-teki Sudoku. Dua orang asing, satu laki-laki dan satu perempuan, juga ada di dalam ruangan tersebut.

Ketika perempuan asing itu meninggalkan ruangan dan dua orang pria itu tetap duduk di sana, tingkat stres kedua relawan pria itu tidak muncul. Namun, ketika seorang relawan pria tinggal sendirian dengan si perempuan asing yang cantik, tingkat cortisol-nya meningkat.

Para peneliti menyimpulkan, "Dalam penelitian ini, kami menilai bahwa bagi sebagian besar pria, kehadiran seorang perempuan cantik dapat menyebabkan persepsi bahwa ada kesempatan untuk pacaran. Sementara sejumlah pria mungkin menghindari perempuan yang atraktif karena berpikir, mereka 'tidak mungkin dapat memacari perempuan tersebut', mayoritas akan merespon dengankecemasan dan sebuah respons hormonal yang terjadi berbarengan."

"Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat cortisol pria meningkat setelah terjadi kontak sosial singkat selama lima menit dengan seorang wanita muda yang menarik."

Cortisol dapat memiliki efek positif dalam dosis kecil, yaitu meningkatkan kewaspadaan dan kesejahteraan. Namun, peningkatan kadar cortisol kronis dapat memperburuk kondisi kesehatan, seperti memicu penyakit jantung, diabetes, hipertensi dan impotensi.

Monday, May 03, 2010

SURAT CINTA - from the movie SILK



“My dear master, ….
Do not be afraid. Do not move. Do not speak.
No one will see us. Stay as you are. I want to look at you.
We have the night to ouselves and I want to look at you.
Your body over me… your skin, your lips. Close your eyes. No one can see us.
And I am here at your side.
Do you feel me? When I touch you for the first time… it will be with my lips.
You will feel the warmth but you will not know where.
Perhaps, it will be on your eyes. I will press my mouth to your eyes and you will feel the warmth.
Open your eyes now, my beloved.
Look at me. Your eyes on my breast, your arms lifting me, letting me slide on to you.
My faint cry, your body quivering. There is no end to it… don’t you see?
You will forever be throwing your head back.
I will forever be shaking off my tears. This moment had to be.
This moment is… and this moment will continue from now until forever.
We shall not see one another again.
What we were meant to do, we have done.
Believe me, my love, we have done it forever.
Preserve your life out of my reach and if it serves your happiness, do not hesitate for a moment, to forget this woman who now says, without a trace of regret. Farewell."

Sunday, May 02, 2010

Benedictus - Yang tidak pernah berhenti mencari !



Beberapa hari sebelum Paskah, saya di BB, Mpu Peniti. Kata beliau, ada oleh-oleh menunggu saya. Menjelang sore hari itu, saya tiba di rumah beliau. Kami ngobrol, dan kali ini obrolan digelar ditempat yang sangat istimewa. Di ruang perpustakaan beliau. Hampir 20 tahun saya mengenal beliau, dan entah sudah berapa ratus diskusi dan perdebatan yang kami lalui, semuanya hampir tidak pernah kami lakukan di ruang perpustakaan beliau. Saya selalu merasa ruangan itu magis, dan sakral. Saya cuma pernah masuk diruangan itu hanya sesekali. Dan itupun untuk waktu yang serba singkat.

Ruang perpustakaan Mpu Peniti cukup luas. Dahulunya bekas kamar utama. Dindingnya penuh dengan foto-foto beliau dengan berbagai tokoh. Ada yang sangat terkenal, adapula cuma orang biasa. Namun difoto diberbagai tempat. Menunjukan kalau Mpu Peniti sudah melang-lang buana. Disudut sebelah kiri ada gong yang sangat tua. Renta namun masih terlihat angun. Rak-rak buku tertata rapi dengan buku-buku tua koleksi Mpu Peniti. Disudut sebelah kanan ada lemari tempat menyimpan beberapa barang antik dan keris-keris tua. Tidak ada komputer. Tidak ada televisi. Juga tidak ada radio dan alat-alat memutar musik. Namun kamar ini dilengkapi dengan seperangkat sofa yang sudah tua. Kusam warna-nya, namun tetap memperlihatkan kenyamanan yang akrab. Konon beliau biasa membaca berjam-jam di sofa itu. Dekat sofa ada sebuah meja kecil. Diatasnya ada seperangkat alat permainan catur. Bukan yang mahal, dibuat dari kayu biasa. Dan bisa dibeli dimana-mana. Hanya saja, diatas papan catur, ada sejumlah buah catur yang mensiratkan ada satu permainan yang belum selesai. Saya selalu penasaran. Ingin tahu cerita dan misteri tentang permainan yang tidak pernah selesai itu.

Rupanya rasa penasaran saya akan terselesaikan hari ini. Sambil menikmati teh melati dari Yogyakarta, dan kacang rebus, mulai-lah Mpu Peniti mendongeng. Konon, saat Mpu Peniti masih muda dan bujangan, di Yogyakarta, beliau berkenalan dengan seorang pemuda, bernama Benedictus. Tidak ada yang tau darimana persisnya dia berasal. Benedictus juga seolah enggan bercerita. Kulitnya memang hitam legam dan rambutnya keriting. Mpu Peniti juga tidak pernah usil bertanya dari mana asalnya. Ben, begitu ia sering dipanggil, seringkali hanya mengatakan kampung halaman-nya jauh. Ben, seorang pemeluk agama Katolik yang saleh. Rajin beribadah, dan prilakunya sangat halus. Ia selalu bangga dengan namanya yang artinya “diberkati”.

Ben, berkenalan dengan Mpu Peniti, pada saat Ben bekerja menjadi penjaga pintu disebuah sekolah swasta. Saat itu Ben, masih buta huruf. Ia sering ditipu, ketika orang tahu kelemahan Ben. Mpu Peniti kemudian mengajarkan Ben, membaca dan menulis. Disanalah awal persahabatan mereka. Walaupun buta huruf, Ben pandai bermain gitar dan catur. Mpu Peniti belajar bermain catur justru dari Ben. Berdua mereka saling belajar dan mengajar. Tak lama kemudian, setelah pandai membaca dan menulis, Ben belajar menjual kayu. Terutama kayu gaharu dan kayu ulin untuk bahan membuat aneka cindera mata. Kehidupan Ben cepat menanjak. Punya sepeda motor dan rumah. Mpu Peniti sangat bangga dengan perkembangan Ben. Sampai suatu hari, Ben datang ke rumah Mpu Peniti. Raut mukanya sangat gelisah. Bicaranya terbata-bata, kurang jelas. Selidik punya selidik, Ben gugup setengah mati. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis Solo. Ben, minta Mpu Peniti untuk menjadi wali dan melamar gadis itu. Tentu saja terjadi kehebohan yang luar biasa. Keluarga sang gadis menolak mentah-mentah. Maklum saat itu perkawinan antar etnik yang berbeda sangat jauh, masih terbilang langka dan jarang. Ben, tidak patah semangat. Ia pindah ke Solo dan membesarkan usahanya disana. Singkat cerita dengan kesabaran yang luar biasa, akhirnya Ben bisa juga menikahi gadis Solo puja-annya. Syaratnya Ben harus pindah dari Solo. Itupun dipenuhi Ben dengan patuhnya. Mereka pindah ke Bali, dan mulai dari nol. Usaha dan keluarga, dijalani Ben dengan ketekunan luar biasa. Sampai pada sukses yang berikutnya dan mereka pindah ke Jakarta.

Persahabatan Ben dan Mpu Peniti semakin akrab. Ben sering sekali mampir ke Yogyakarta. Mereka selalu bertukar kisah dan pengalaman. Tahun 1992, istri Ben kena penyakit kanker. Ben tentu saja resah dan gelisah luar biasa. Saat itu semua usaha dan bisnisnya ia serahkan kepada putera-puteranya. Ia melepaskan semuanya. Tujuan hidupnya cuma ada satu. Ia fokus pada satu tujuan hidup, yaitu mengobati penyakit istrinya. Tahun 1996 istri Ben wafat. Ben sangat terpukul sekali. Tak lama kemudian ia menghilang. Tidak ada kabar cerita. Menurut gosip Ben menyepi disejumlah biara di Timur Tengah. Ben berkelana diberbagai kota seperti Yerusalem dan Bethlehem. Konon ia mencari sejumlah arti. Tahun 1998 sebelum kerusuhan Mei, Mpu Peniti menerima surat dari Ben. Ia berada di Roma dan Vatikan. Menjelang akhir tahun 1998, Ben kembali mengunjungi Mpu Peniti. Sembari bermain catur, ia bercerita panjang lebar tentang pengalaman-nya. Kadang saking serunya Ben bercerita, permainan catur mereka tidak pernah diselesaikan. Dan selalu dilanjutkan pada kunjungan berikutnya.

Beberapa hari menjelang Paskah tahun 2000, Ben wafat dengan tenang didalam tidurnya. Tidak ada keluhan penyakit sama sekali. Dokter hanya menjelaskan Ben terkena serangan jantung dalam tidurnya. Semua putera putri Ben menganggap kepergian Ben lebih gaib dan sakral dari penjelasan dokter. Saat itu, masih ada satu permainan catur yang tidak diselesaikan Ben. Itu sebabnya Mpu Peniti masih saja membiarkan papan catur itu berisi permainan yang tidak diselesaikan Ben, tetap utuh di perpustakaan beliau. Buat Mpu Peniti, permainan catur yang tidak selesai itu, ibarat sebuah memorial untuk seorang sahabat yang istimewa. Setahun setelah Ben wafat, seorang puteranya datang ke Yogyakarta, menemui Mpu Peniti. Ia membawa sebuah kotak dengan ukiran Jepara, dan menyerahkannya kepada Mpu Peniti. Pesan Ben, kalau ia wafat, maka kotak itu harus diwariskan ke Mpu Peniti. Didalam kotak, ada sejumlah catatan, beberapa foto, dan 2 buah rosario. Rupanya sebagian pengalaman Ben, selama menghilang hampir 2 tahun terekam di sejumlah catatan itu. Yang unik, semua catatan itu tidak direkam dalam satu buku. Melainkan tercecer dalam sejumlah bundel kertas-kertas lepas, yang tidak seragam.

Usai bercerita tentang perjalanan hidup Ben, dan misteri papan catur dengan permainan yang belum selesai, Mpu Peniti menitipkan kotak berukiran Jepara itu kepada saya. Beliau berpesan bahwa cerita tentang hidup Ben harus saya teruskan. Saya terharu sekali. Terus terang saya tidak berani membuka dan membacanya. Barulah setelah Paskah berakhir, saya mulai membacanya sedikit demi sedikit. Dan lebih mendalami apa perasaan Ben. Isinya sangat pribadi sekali. Kadang tak terasa saya meneteskan airmata terutama ketika Ben bercerita tentang perasaan cintanya yang sangat mendalam terhadap istrinya yang sangat dikasihinya itu. Ben, merasakan sebuah kehampaan yang luar biasa ketika istrinya wafat. Ben bertutur bahwa lapar dan haus seringkali hapus pupus oleh kesedihan-nya. Ia merasakan seluruh tubuhnya lumpuh dan mati rasa. Ben mengaku ia benar-benar tidak paham apa perasaan dirinya yang asli. Karena sama sekali bukan kesedihan. Tetapi satu perasaan yang benar-benar asing. Barangkali itu yang membuat ia pergi menyendiri selama hampir 2 tahun

Cerita tentang Ben bukanlah cerita “superhero” yang fantastis. Tetapi cerita tentang orang kebanyakan yang biasa-biasa saja. Namun, cerita ini punya kelengkapan arti yang mungkin jarang kita temui. Tentang berjuang dalam hidup, tidak mau menyerah, dan berusaha membuat setiap langkah yang diambil memiliki makna dan kepatutan. Kadang kita suka bertanya pada diri kita sendiri, terutama disaat-saat yang sangat sulit, dan dikala kita merasa dikucilkan oleh Tuhan dan diberlakukan dengan tidak adil – “Untuk apa sebenarnya kita hidup ini ?” Sebagian dari kita menyerah dan tidak mau pusing. Jalani saja hidup ini. Dan nikmati selama kita mampu. Ben, berbeda dengan kita. Ia termasuk yang langka. Yang terus mencari tahu. Karena pada akhirnya makna atau arti menjadi nilai yang paling berarti. Bahwa kehidupan ini menjadi sakral karena kita akhirnya mengerti. Biarpun dalam kemampuan yang sangat terbatas.

Dalam satu lembar catatan Ben, dikutipnya sebuah ayat di Kitab Suci, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan." – Matius 7: 7-8.

Saya tidak mengenal Ben. Saya juga tidak tahu apa perasaannya. Tetapi usai membaca catatan Ben, saya yakin bahwa pada akhirnya Ben bahagia. Tebakan saya, Ben berhasil menemukan apa-pun yang dicarinya. Mungkin tidak seluruhnya. Tetapi cukup memberi makna dan arti. Disebuah kartu pos bergambar sebuah gereja kecil, Ben menuliskan –“ Εὕρηκα” – atau “Eureka !”

Saturday, April 10, 2010

JAIL BANGET SIH ....... SEMUA PRIA DILAHIRKAN DENGAN KAMAMPUAN AUTO FOCUS



Hua....ha....ha.....ha.....ha......

Ternyata semua pria dilahirkan dengan kemampuan AUTO FOCUS

Apapun posisi dan sudutnya..... kalau ada kesempatan tetap melirik !!!!

Wednesday, April 07, 2010

NGIKIK ALA BETAWI ..... MPOK IPEH KETAUA-AN BO'ONG



Tempo ari, waktu Tohir ke Las Vegas, die liat pameran robot. Dan ade atu robot, nyang rade unik. Robot ini anti bo’ong. Pokoknye orang bo’ong, tuh robot pasti atu deh. Ngak bakal lolos. Jadi biarpun mahal, ama Tohir dibeli juge tuh robot.

Pas nyampe Jakarte, Tohir girang banget. Die udeh ngak sabar pengen nyoba kesaktian tuh robot. Pas magrib anak lelakinye pulang. Tohir belaga garang. Terus anak lelakinye die hardik : “Buset luh, Jon, gini hari baru pulang. Abis dari mane lu ?” Joni nyang tau kartu babeh-nye ngak mempan digertak, dan nyaut asal aje “ Abis belajer beh, dirumah Susi.”

Tiba-tiba “geeeleeepooook” pipi kanan Joni di tampar robot. Tohir senyum-senyum, “Bo’ong luh Jon. Ayo ngaku sebelum digampar lagi ame nih robot.” Joni mengkeret, terus gemeter dia jawab, “Joni ke Mall, beh…..” Lagi-lagi “geeeelllleeeepppoook” pipi kiri Joni ditampar Robot. Giliran Tohir nyang ketawe terbahak-bahak. “Akhhh…. Bo’ong lagi luh Jon. Ayo jangan bo’ong ! Jawab nyang jujur.” Joni gemeter dan sembari menunduk, die jawab suaranye pelan, “Nonton pilem porno beh. Dirumah bang Farid …..” Baru deh tuh robot diem. Artinye Joni ngak bohong lagi.

Mpok Ipeh, nyang denger suare “geeelllleeeeppppokkk” berkali-kali dari dapur, akhirnye keluar juge. Saking penasaran-nye. Mpok Ipeh kaget banget, liat muke Joni kiri kanan merah abis digampar orang. Tegangan tinggi Mpok Ipeh langsung deh nyamber, sembari die jewer kuping Tohir, “Wah, emang bener gile luh Tohir ! Anak semata wayang elu gampar kiri kanan”, Tohir meringis saking kesakitan. “Jelek-jelek begini, si Joni kan anak elu sendiri, masa sih elu gampar ?” Mpok Ipeh suaranya tinggi keawan.

Tiba-tiba aje tuh robot kage pake peringatan, nabok Mpok Ipeh “geeelllleeeepppppooook”. Mpok Ipeh ampe kejengkang jatuh. Tohir kaget setengah mati. Nah, lu …. Mpok Ipeh ketauan bo’ong. ( Lha, Joni kalu gitu anak siape ? …… he…he…he… )

Sunday, April 04, 2010

JAIL BANGET SIH ....... BECANDA AME BUAYA BENERAN




Di Darwin, AUSTRALIA baru diresmikan sebuah taman rekreasi.
Namenye CROCSAURUS COVE.

Disane disediaken kolam dengan buaya-buaya ganas.
Dan pengunjung bisa nyemplung kekolam itu untuk becanda dengan buaya beneran.
Gedhe-gedhe lagi .....

Tentu saja antara anda dan buaye di batasi kaca acryclic yang sangat tebal.
itupun anda cuma bisa bercanda selama 15 menit.

Lebih lama waktunya .... pasti berbahaya dan bisa runyam.

Sebuah rekreasi yang tentunya hanya diperuntuk-kan bagi mereka nyang punya nyali.

(he....he....he....he......)

FILM YANG KUDU KITE NONTON !!!

Friday, April 02, 2010

Thursday, April 01, 2010

KALAU TOHIR SALAH TULIS .....



Ceritenye …. Alkisah suatu ari, di kantor Farid ada cewe ngak sengaje ball-point-nye nyemplung di printer dan bikin printer macet. Neh, karena tuh cewe rada genit, die minte tolong si Tohir untuk ambil tuh ball-point. Tohir kena rayu dan akhirnye die nyoba nolongin. Dan berusaha ngambil tuh ball-point. Pas lagi asyik kutak kutik. Eh, Farid ngajak makan soto kambing. “Udeh, tinggal aje dulu – ‘Ntar abis makan baru elu betulin lagi tuh printer”, gitu kate Farid. Tohir akhirnye ngalah, karena perutnye udeh lumayan keroncongan juge. Supaye tuh printer ngak dipake orang, Tohir meninggalkan catetan. Cuma saking sok-nya di nulis pake bahasa Inggris. (tau sendiri deh akibatnye……)

Pas pulang makan makan Farid ame Tohir kaget, karena orang sekantor pada senyum-senyum dan ketawa-ketawa sendiri. Koq…. Heboh banget. Selidik punye selidik, rupanya Tohir nulis pake bahasa Inggris buru-buru. Akibatnya …… (liat aje deh sendiri)

Tohir - Tohir .... ancur abis … (buset dah)

Wednesday, March 31, 2010

JAGOAN DAN PAHLAWAN PERANG



Satu bukti bagaimana film mampu menjadi alat peraga visual yang sangat ampuh untuk mengubah persepsi kita, barangkali adalah kasus bagaimana Amerika melahirkan pahlawan dan jagoan perang. Amerika yang terlibat begitu banyak perang moderen sejak Perang Dunia ke II, seperti perang Korea, Vietnam, Afganistan dan Irak. Sebagian pahlawan dan jagoan perang itu dilahirkan dengan latar belakang perang yang lebih kental dengan sejarah sesungguhnya. Sebagian besar lagi malah lewat khayalan dan imajinasi belaka.

Tengok saja film layar lebar yang berseri “Rambo” - diperani oleh Sylvester Stallone atau serial yang mirip “Missing in Action” yang diperani oleh Chuck Norris. Keduanya lebih mirip disebut jagoan perang daripada pahlwan perang. Tentu saja hanya dalam konsep film yang mereka lakoni. Hebatnya perang menjadi bahan baku dan sumber inspirasi Hollywood dalam mencetak ‘box office’. Seorang kritikus budaya yang belum lama ini ngobrol dengan saya di Portland secara sinis menyindir, bahwa berapa-pun kerusakan dan kekalahan Amerika dalam perang moderen, Hollywood akan membuatnya menjadi sangat ‘glamour’ dan menjadi kemenangan yang fantastis. Barangkali sebuah pengamatan yang unik, tetapi terasa bijak. Dimanapun titik kompromi-nya nanti.

Ketika saya masih kuliah, film serial favorite saya adalah M*A*S*H. Serial komedi tentang sejumlah dokter yang bertugas di perang Korea. Lucu dengan sejumlah kegila-an yang selalu menggelitik. Perang Korea sendiri hanya berlangsung 3 tahun dari tahun 1950-1953. Namun film serial M*A*S*H berlangsung jauh lebih lama yaitu selama 11 tahun. Premierenya berlangsung pada September 17, 1972, episode terakhir ditayangkan pada February 28, 1983. Ketika episode terakhir ditayangkan tercatat hampir 106 juta pemirsa menonton episode yang terakhir ini. Konon saking tegangnya episode terakhir ini, kebanyakan pemirsa ogah ke WC karena takut ketinggalan cerita. Ketika film berakhir mereka ramai-ramai ke WC sehingga akibatnya PAM di Amerika terkejut, karena pipa ledeng bertegangan tinggi mereka kehilangan “pressure” tiba-tiba, karena saking banyaknya orang ke WC dalam saat yang sama. Jumlah penonton 106 juta itu konon menjadi rekor tersendiri. Dan bertahan selama hampir 40 tahun. Baru terpecahkan oleh final The Superbowl terakhir February 2010. Dimana jumlah penontonnya melebihi 106 juta orang. Film serial M*A*S*H, memang menggelikan dan luar biasa, bagaimana Amerika menjadikan perang sebuah parodi selama 11 tahun dan menghapus sebagian kenangan buruk yang ada.

Tidak semua film perang yang hadir, memang memiliki pesan yang sama-sama membuat perang menjadi ‘glamour’ dan mencetak pahlawan serta jagoan perang. Dua film perang favorit saya yaitu ‘Apocalypse Now’ karya Coppolla dan ‘Black Hawk Down’ karya Ridley Scott, memiliki arah yang rada terbalik. Film ini sangat ‘intense’ namun barangkali lebih tepat kalau dikatakan menggambarkan perang dari segi tragedi dan kekejam-an yang mencengkram setiap perang. Sutradara beken Steven Spielberg juga penikmat film perang. Dalam karya-nya tahun 1998 “Saving Private Ryan” yang sekaligus memberikan Oscar sebagai sutradara terbaik kepada Steven Spielberg, tokoh kepahlawanan itu tampil lebih manusia dan dengan cerita beda. Tidak lagi siapa yang menjadi pahlawan atau jagoan perang, tetapi setiap prajurit dalam setiap perang, memiliki aksi patriotisme dan kepahlawan sendiri-sendiri. Film yang memenangkan 4 piala Oscar, akhirnya menjadi titik baru dalam bercerita sebuah film perang. Yaitu manusia dalam sebuah perang. Yang kadang terperangkap tidak sengaja. Spielberg sendiri lewat perusahaan film Dreamworks, pada tahun 2001 menayangkan serial film perang lainnya yaitu "Band of Brothers". Dan kini bersama Tom Hanks memproduksi sebuah serial film perang lagi yaitu “The Pacific” yang sedang tayang lewat saluran HBO.

Plot ini tak lama kemudian menjadi ‘trendy’ dan dirasakan memiliki kekuatan naratif yang lebih kuat dan kental. Film perang tidak lagi harus dengan bujet besar dan ‘special effect’ yang melibatkan banyak orang, dan peralatan perang yang sangat merepotkan. Sutradara Antoine Fuqua membuat film perang “Tear of the Sun” dengan aktor Bruce Willis dan Monica Belluci tahun 2003, dengan plot cerita seorang Letnan Navy Seal yang terperangkap perang saudara di Nigeria, dan harus membebaskan sejumlah orang-orang sipil. Diakhir cerita, sehabis menonton film ini kita mungkin menjadi maklum, bahwa “Tear of the Sun” bukanlah film perang, tetapi manusia dalam sebuah perang. Dan kitapun menikmati drama dan polesan tragedi yang terjadi. Saya sendiri menikmati film ini. Sebagian dan kebanyakan kritikus film justru mengkritik pedas film ini.

Ketika Amerika terlibat perang di Afganistan dan Irak, semua orang memastikan, bahwa hanya waktu yang akan menentukan, kapan sejumlah film perang dari Afganistan dan Irak akan muncul dan meramaikan pasar. Dugaan itu langsung menjadi kenyataan ketika sutradara perempuan Kathryn Bigelow memproduksi film “THE HURT LOCKER”. Film ini menceritakan tentang satu regu penjinak bom di Irak. Mengambil latar belakang cerita dikisaran tahun 2004, setelah Amerika menyerang Irak, dan Irak diguncang sejumlah serangan bom bunuh diri. Dua minggu yang lalu di Seattle, saya berkesempatan menonton “THE HURT LOCKER”. Film ini memang bagus, dengan racikan sinematografi yang polos namun sesuai dengan kebutuhan narasi cerita. Walaupun begitu plot cerita terasa sangat sederhana. Dan film ini tidak menampilkan aktor-aktor beken dengan penampilan dan penokohan peran yang raksasa. Beda misalnya dengan film “The Deer Hunter” yang memenangkan 5 piala Oscar, bercerita tentang perang Vietnam dan ditampilkan dengan aktor beken dan tampilan yang lebih puitis.

Terus terang saya tadinya mengharapkan sesuatu yang lebih “nyosss” dari film ini. Namun diakhir film dan perenungan saya, akhirnya saya ikut kompromi. Bahwa ini film bagus dan pantas memenangkan 6 piala Oscar. Walaupun beberapa diantaranya barangkali diberikan karena alasan kebenaran yang politis dan sopan. Saya sendiri berniat untuk menonton-nya kembali 2-3 kali lagi. Sukur-sukur kalau DVD atau Blue Ray yang beredar nanti akan mucul Uncut Version yang lebih panjang dan “intense”.

“THE HURT LOCKER” adalah istilah yang muncul pada perang Vietnam, tentang mereka yang cidera dan dipulangkan. Sutradara Kathryn Bigelow, menuturkan cerita tentang seorang veteran penjinak bom yang sudah berpengalaman, Sersan William James. Dalam film diungkapkan seolah-olah James ketagihan menjinakan bom. James misalnya memiliki sebuah kotak yang berisi berbagai jenis pemicu bom yang berhasil ia jinakan. James berkomentar, bahwa kotak itu berisi benda-benda yang semuanya hampir membunuhnya. Tingkah laku James sehari-hari juga ditampilkan cukup ugal-ugalan. Misalnya dalam satu adegan diperlihatkan ia melepas baju anti bomnya. Kata James didalam film, bom yang sedemekian banyak ‘toh’ akan membunuhnya dengan atau tanpa baju anti bom. Ia melanjutkan bahwa kalaupun ia harus mati, ia ingin mati dengan nyaman. Mungkinkah ini jagoan dan sekaligus pahlawan perang baru ciptaan Kathryn Bigelow ?

Kalau anda menonton film “THE HURT LOCKER”, maka pada awal layar dibuka ada sebuah kutipan dari buku laris karya Chirs Hedges - ’War Is a Force That Gives Us Meaning’ : "The rush of battle is a potent and often lethal addiction, for war is a drug." Mungkinkah perang adalah narkotik yang membuat kita ketagihan ? “THE HURT LOCKER” ditutup dengan elegan dalam sebuah adegan dimana James bermain dengan anaknya. Didalam adegan ini James mengaku bahwa dalam hidup ini tinggal satu yang ia cintai dan yang ia mahiri. Yaitu barangkali menjinakan bom. Dan akhirnya James kembali ke Irak untuk tugas satu tahun berikutnya.

Monday, March 29, 2010

MENJADI ORANG GILA YANG BERBAHAGIA



Saya sudah mengenal Simon hampir 20 tahun. Orangnya sederhana. Pekerja keras. Tidak mudah menyerah. Walaupun pendidikan-nya tidak tinggi, ia mudah bergaul dengan siapa saja. Barangkali ini yang menjadi sejumlah kombinasi mematikan sehingga istrinya jatuh cinta pada Simon pertama kalinya dan menikah. Istri Simon berpendidikan jauh lebih tinggi. Dan dari keluarga dengan ekonomi yang jauh lebih baik. Terdengar klise, tapi inilah realita sebagian besar keluarga menengah di kota-kota besar. Termasuk Singapura dimana Simon dan keluarganya tinggal.

Ketika mulai menikah, Simon bekerja hanya sebagai pegawai biasa disebuah perusahaan iklan. Istrinya beda. Karirnya meroket dan berhasil menjadi manager disebuah perusahaan menengah dengan gaji lumayan. Awalnya mereka berdua cukup berbahagia. Mereka dikarunia sepasang anak pria dan wanita. Perkawinan mereka terlihat sempurna. Keluarga kelas menengah yang sedang menanjak derajat kesejahtera-annya. Tak lama kemudian, Simon keluar dari pekerjaan-nya karena ia mendapat pekerjaan yang lebih baik. Simon menjadi seorang entrepener. Istrinya sangat gembira. Penghasilan Simon masih tetap kalah dibanding dengan istrinya. Mobil-nya pun kalah bagus dengan istrinya. Di Singapura konon ini adalah hal yang cukup biasa.

Namun karena keduanya berasal dari etnik Tionghoa, bisik-bisik yang miring tetap saja masih terdengar. Bahwa istrinya lebih perkasa dari Simon. Awalnya mereka tidak peduli. Tak lama kemudian, Simon kehilangan usaha-nya. Maklum di Singapura kompetisi sangat ketat. Paman Simon memberi semangat dan mengusulkan agar Simon mengambil alih usaha paman-nya. Sang paman sendiri mau berusaha bisnis yang lain di China. Simon tersanjung. Simon melihat celah baru. Ia akan bisa menandingi istrinya. Awalnya memang demikian. Tahun pertama Simon berhasil ganti mobil baru. Ia mabuk sukses. Istrinya awalnya ikut berbahagia bersama keluarga.

Tahun ketiga, ternyata paman Simon punya rencana busuk. Ia tega menipu Simon. Perusahaan bangkrut dan Simon dikejar hutang yang cukup banyak. Situasi inilah yang kemudian menjadi bara yang mengawali api besar yang menghancurkan rumah tangga Simon. Ibarat parlemen, istrinya mulai menyalahkan Simon. Seribu satu kesalahan ditumpahkan kepada Simon. Sehingga akhirnya mereka pisah ranjang. Mereka hidup serumah tetapi tidak saling bicara. Simon harus mengurus dirinya sendiri. Mulai dari memasak hingga mencuci bajunya. Ia juga mulai kerja serabutan. Apa saja asal menghasilkan uang. Kehidupannya sedemikian miris, sehingga Simon harus meminjam uang kepada saya setiap kali anaknya ulang tahun atau ketika menjelang Natal dan Imlek. Simon tidak punya tabungan dan uang lebih untuk membeli hadiah atau sekedar kado buat anak-anaknya.

Celakanya pula, beda pendidikan dan status diantara mereka yang cukup lebar itu, yang awalnya biasa-biasa saja, lalu menjadi masalah besar ketika mereka cekcok. Mpu Peniti, pernah sekali bercerita kepada saya, bahwa secara omong besar, katakanlah seorang Presiden yang sangat cerdas dan terpelajar bisa saja bergaul dengan rakyat dari segala golongan. Lapisan bawah, menengah dan atas – tidak akan ada masalah. Kalau situasinya damai dan hanya untuk ala kadarnya saja. Tapi lain perkara kalau mereka harus berdebat, dan berselisih. Perdebatan dan perselisihan itu bagaikan air dan minyak. Cara berpikir yang sangat berbeda membuat perselisihan dan perdebatan mereka menjadi runyam dan ruwet bukan kepalang. Itu yang diceritakan Simon kepada saya. Bahwa ketika mereka akur-akur saja, komunikasi mereka baik-baik saja. Tetapi ketika mereka berselisih, berdebat dan bertengkar, Simon merasa tidak mengenal siapa sebenarnya sang istrinya itu.

Lima tahun lebih Simon pisah ranjang. Ia sangat menderita. Namun ia adalah orang baik. Tiap bulan ia berusaha memenuhi nafkah ekonomi kepada keluarganya tanpa kurang satu sen pun. Ia bercerita seringkali ia berhemat hanya makan roti dan mie instan demi keluarganya. Betapa sering dalam situasi yang serba sulit itu ia merasa hampir gila saking putus asanya. Tetapi untunglah Tuhan selalu memberikan kekuatan yang tersembunyi. Dan selalu disaat-saat yang istimewa. Setiap kali Simon pulang kerumah dimalam hari dan melihat kedua anaknya belajar, Simon selalu saja tersentak dan seolah ia merasa mampu mengintip masa depan-nya. Hal ini yang membuat ia bertahan, tidak menyerah dan tetap berjuang hingga kini.

Minggu lalu, ketika saya singgah di Singapore dalam perjalanan menuju Seattle, Simon mengirim SMS dan mengajak makan. Kami ngobrol panjang lebar. Simon kini memiliki 3 pekerjaan. Pagi ia bekerja di perusahaan kurir. Siang hari ia berkerja mengurus administrasi di sebuah perusahaan kecil. Dan malam hari ia bekerja sebagai tele-marketing disebuah perusahaan asuransi. Yang membuat saya terkejut adalah perkataan Simon, sebelum kami berpisah. Ia bercerita bahwa akhirnya istrinya memutuskan untuk bercerai, dan Simon juga sudah setuju. Awalnya saya sedih mendengarnya. Karena dalam hati kecil saya, selalu terbesit harapan dan optimisme bahwa mereka suatu hari akan rujuk kembali dan rumah tangga mereka akan utuh lagi. Harapan itu pupus sudah.

Sebelum kami berpisah, Simon sembari tersenyum mengatakan : “Biarkanlah saya menjadi orang gila yang berbahagia !” Saya ikut tersenyum getir mendengar komentarnya. Kalimat itu nempel pada saya berhari-hari. Mulanya saya tidak mengerti seluruh ungkapan itu. Dalam perjalanan dari Portland ke San Francisco, dipesawat saya teringat wajah seorang gelandangan yang sering lewat rumah saya. Kata orang-orang, ia menjadi gelandangan karena pikiran-nya kurang waras. Istilah populer di masyarakat “orgil” atau orang gila. Namun gelandangan ini agak berbeda. Ia tidak pernah terlihat marah-marah atau maki-maki sendirian. Wajahnya cukup lumayan. Setiap beberapa bulan ia berganti pakaian baru. Seperti masih ada keluarga yang menjaga dan mengatur hidupnya. Saya sering melihatnya disudut-sudut perempatan, duduk sembari merokok. Yang menakjubkan adalah roman mukanya yang selalu terlihat gembira dan berbahagia. Sesekali terkadang saya juga melihatnya tersenyum. Entah apa perasaan-nya, siapapun tidak akan pernah tahu. Barangkali ketidak sempurna-annya berpikir yang waras, merupakan taktik survivalnya menghadapi hidup yang sangat keras ini.

Bahwa dalam hidup ini, seperti Simon dan gelandangan itu, kebahagian kita tidak melulu harus berada ditempat yang pas dan semestinya. Karena kadang kebahagian kita itu disembunyikan Tuhan dengan eloknya, agar bisa kita mengerti dan kita nikmati dalam pigura dan arti yang sangat pribadi. Pada saat itulah kita merasakan, sesungguhnya bagaimana Tuhan telah merawat dan menjaga kita masing-masing. Dalam cara yang selalu msiterius dan tidak mungkin kita mengerti.

Saturday, March 06, 2010

BUDAYA MALU TRIAD, MAFIA DAN YAKUZA



Sehabis menonton drama politik selama lebih dua bulan, teman saya yang juga seorang akademisi budaya, akhirnya cuma bisa geleng-geleng kepala. Entah dia binggung. Atau dia takjub luar biasa. Lalu ia-pun mendongeng. Sebuah cerita lama, yang dulu pernah juga saya dengar lewat ayah saya. Konon suatu hari Dr. Sun Yat Sen, seorang tokoh reformis yang membawa Tiongkok ke pemikiran moderen di dasa warsa 20’an, pernah sekali ikut dalam sebuah perjalanan naik kapal. Ketika berjalan-jalan didek kapal, seorang penumpang dengan se-enaknya meludah kelantai dek kapal. Meludah seenaknya, awalnya adalah kebiasaan yang umum bagi orang Tionghoa. Namun terlihat sangat menjijikan. Dan sering menjadi bahan ejekan, terutama di Barat. Dr. Sun Yat Sen, yang menyaksikan peristiwa itu, akhirnya mengeluarkan sapu tangan-nya, membungkuk dengan rendah hati dan menyeka bekas ludah dilantai dek kapal. Tanpa jijik sekalipun sapu tangan itu dimasuk-kan-nya kembali ke saku celananya. Semua saksi yang melihat peristiwa itu tertegun. Tak lama kemudian cerita ini melegenda. Cerita yang membuktikan kebesaran jiwa Dr. Sun Yat Sen. Yang bersedia menanggung malu dan berjiwa kesatria sekaligus.

Setelah peristiwa ini, banyak pihak yang terinspirasi. Hampir semua restoran dan tempat publik sekitar tahun 1930’an akhirnya menyediakan tempolong untuk orang meludah. Di Tea House Luk Yu di Central - Hong Kong, yang berdiri tahun 1933, dan yang hingga kini tetap menjadi restoran Dim Sum terbaik di Hong Kong, anda masih bisa menyaksikan saksi sejarah, dimana hampir disetiap samping meja dan kursi, disediakan tempolong untuk orang meludah.

Yang unik, konon menurut cerita dari mulut kemulut, Dr. Sun Yat Sen, memiliki pertalian dengan organisasi bawah tanah ‘Triad’ pada awalnya. Organisasi Triad kini dikenal sebagai kelompok Mafia dari Tiongkok dan menyebar kemana-mana. Pada tahun 1760 di Tiongkok berdiri sebuah komunitas yang disebut Tian Di Hui atau komunitas bumi dan langit. Awalnya komunitas ini menjadi gerakan bawah tanah untuk menggulingkan pemerintahan Man-Chu dan bercita-cita untuk mengembalikan kejayaan pemerintahan HAN. Setelah menyebar kemana-mana, kemudian komunitas ini berevolusi menjadi komunitas “Sanhehui”, yang artinya 3 masyarakat harmonis antara manusia, bumi dan langit. Organisasi ini menggunakan segi tiga sebagai identitas diantara sesama anggota. Pemerintahan kolonial Inggris yang kemudian menyebut organisasi ini sebagai ‘Triad’. Uniknya organisasi seperti ini sangat memegang teguh kode etik jiwa kesatria dan kehormatan. Kalau kita menyelami 36 pasal janji seorang anggota “Sanhehui”, semuanya dipenuhi dengan sumpah untuk menjadi orang yang terhormat dan berjiwa kesatria penuh.

Mungkinkah sikap yang diperlihatkan Dr. Sun Yat Sen itu juga merupakan refleksi kode etik yang dipelajarinya dari “Sanhehui” ? Sesuatu yang dianutnya dengan penuh penghayatan ? Teman saya, yang akademisi budaya ini, secara nakal bercerita bahwa anehnya, hampir semua kelompok mafia di muka bumi ini juga memiliki kode yang mirip, tentang pentingnya menjunjung kehormatan dan jiwa kesatria. Sebagai contoh, teman saya juga mencontohkan bahwa tahun lalu sutradara film Francesco Sbano, berhasil membuat sebuah film dokumenter yang sangat kontroversial tentang Mafia Calabrian yang berjudul “Uomini d’ Onore” atau manusia-manusia terhormat. Bertahun-tahun Francesco Sbano, melakukan riset dan secara sabar dan perlahan-lahan berhasil masuk ke organisasi mafia yang disebut ‘Onorata Societa’ atau organisasi terhormat. Komunitas Mafia atau yang disebut dengan ‘Onorata Societa’ ini, konon berawal dari pergerakan melawan situasi putus asa dan kemiskinan di wilayah Naples dan Palermo. Malah ada cerita unik, bahwa sebenarnya Sekutu juga menggunakan Mafia untuk menyiapkan penyerbuan terakhir mereka di Eropa pada perang dunia ke II. Kelompok Mafia juga menjunjung kode etik yang sama, tentang kehormatan dan jiwa kesatria. Salah satu kode etik mereka yang sangat terkenal adalah ‘Omerta’, atau konspirasi berdiam diri. Bilamana salah satu diantara mereka tertangkap, mereka pantang untuk nyanyi dan membeberkan rahasia anggota yang lain. ‘Omerta’ adalah gerakan tutup mulut yang hingga kini tetap dijunjung tinggi. Tidak ada dalam kamus mereka untuk berkhianat diantara sesama teman.

Yakuza, kelompok mafia di Jepang juga memiliki kode etik yang sangat mirip. Dalam tradisi Yakuza dikenal sebutan ‘machi-yakko’ atau penjahat kesatria. Didalam ‘machi-yakko’ , tergabung sejumlah nilai-nilai kode etik seorang samurai yang memiliki loyalitas, kehormatan, keberanian, tanggung jawab dan kegigihan. Satu ritual yang dipegang hingga kini sebagai perwujudan tanggung jawab dan budaya malu, adalah ‘seppuku’ atau ritual bunuh diri. ‘Seppuku’ sendiri merupakan bagian dari kode etik para samurai yang disebut Bushido. Budaya malu juga sering menjadi alasan, pemimpin usaha dan politis mundur dengan elegan di Jepang. Terutama setelah mereka merasa bersalah, tidak mampu dan sebagai bentuk tanggung jawab. Barangkali juga rahasia sukses Jepang dalam bernegara dan menjadi kekuatan ekonomi dunia terpatri dalam nilai-nilai budaya tersebut.

Belum lama ini Toyota menarik kembali, lebih dari 4 juta mobil produk mereka, karena kesalahan tekhnis produksi. Biaya yang mereka harus telan jumlah tak terkira-kan hingga milliaran dolar. Toyota dikritik habis-habisan. Mereka beresiko menghancurkan salah satu merek terbaik dan termahal didunia. Banyak praktisi PR yang mengkritik cara-cara mereka. Namun Toyota tidak peduli dan tetap jalan terus. Saya sendiri kagum. Tetapi itulah bentuk perwujudan budaya malu dan disiplin bertanggung jawab. Jiwa kesatria dan menjunjung sebuah kehormatan.

Sifat-sifat kemuliaan yang diperlihatkan Triad, Mafia dan Yakuza, barangkali kunci terpenting survival keberhasilan baik ‘leadership’ dan kesinambungan hidup organisasi mereka. Terlepas perkembangan jaman yang akhirnya membuat Triad, Mafia dan Yakuza bersebrangan dengan hukum pada umumnya, barangkali ada nilai-nilai luhur yang bisa dicontek para politisi tentang kehormatan, budaya malu dan jiwa kesatria. Mungkinkah ada pejabat kita yang segera mengundurkan diri, karena malu dan berjiwa kesatria dalam kasus skandal Bank Century ? Begitu teman saya mengakhiri dongeng-nya dengan sebuah harapan dan pertanyaan. Tinggal saya yang geleng-geleng kepala. Bingung bercampur takjub.

Thursday, March 04, 2010

Tuesday, March 02, 2010

ILMU KECOA DARWIN



Charles Darwin, biang teori evolusi, sekali pernah berkata, bahwa spesies mahluk hidup yang paling sukses bertahan terhadap perubahan jaman, seringkali bukanlah yang terkuat fisiknya. Juga bukan pula yang paling cerdas. Melainkan percaya atau tidak adalah species yang paling pandai bereaksi terhadap perubahan dan beradaptasi terhadap perubahan itu sendiri. Terus terang Darwin bukan asal ‘ngomong’ begitu saja tanpa bukti. Salah satu spesies mahluk hidup yang telah bertahan lebih dari 300 – 350 juta tahun percaya atau tidak adalah kecoa.

Anda boleh merasa jijik, atau tertawa mendengarnya. Tetapi kecoa yang mungkin anda anggap enteng dan mahluk tidak berguna, alias hama yang mengganggu, ternyata punya kemampuan survival yang mengagumkan. Sebagai contoh kecoa sanggup bertahan pada suhu yang ekstrem. Bahkan mendekati titik beku sekalipun, kecoa masih bisa bertahan hidup. Kecoa sanggup puasa tanpa makanan selama sebulan. Dan sanggup menahan nafas selama 40 menit.

Seringkali anda kesal, apabila sudah menginjak kecoa, dan kepalanya putus, sang kecoa masih tetap hidup ? Teorinya kecoa sanggup hidup tanpa kepala selama seminggu, karena otaknya tidak berada dikepala tetapi diseluruh badan-nya. Kecoa betina cukup dibuahi sekali dalam seumur hidupnya, maka setelah itu ia akan hamil terus menerus selama hidupnya. Kemampuan-nya yang sedemkian luar biasa inilah yang membuat kecoa mampu ‘survive’ dan bertahan sedemikian lama hampir-hampir mengalahkan sejarah.

Meminjam teori Darwin ini, perubahan disekeliling kita memiliki strategi dan taktik yang sangat mirip. Siapapun yang tetap berjaya, karena mahir menyiasati perubahan. Gagal berubah, bayaran-nya musnah seketika. Seorang pengusaha kuliner dari Medan, minggu lalu mengajak saya makan sate kambing. Sepanjang bersantap kami cerita ‘ngalor ngidul’. Sang pengusaha bercerita tentang trend Rumah Makan Padang di Indonesia, sebuah pengamatan yang ia tekuni semenjak sekolah dasar. Dengan kagum beliau bercerita, bahwa Rumah Makan Padang hingga kini tetap ‘survive’ dan berkembang dengan sangat agresif dimana-mana. Harus diakui, konsep Rumah Makan Padang, sama persis dengan konsep ‘fast-food’ ala barat. Barangkali itu salah satu kehebatan-nya. Langsung dihidangkan. Konsumen tinggal memilih. Praktis dan sangat populer.

Rumah Makan Padang kalau boleh dibilang, telah mengalami evolusi yang lumayan panjang. Misalnya saja isi dan menu-nya yang semakin bervariasi. Banyak Rumah Makan Padang yang telah mengadopsi menu-menu tertentu, sebagai reaksi menjawab perubahan jaman. Yang menarik, Rumah Makan Padang tidak saja ber-evolusi secara horizontal, tetapi juga berevolusi secara vertikal. Artinya ada Rumah Makan Padang kelas kampung, yang sangat murah dan harganya terjangkau, tetapi ada juga beberapa Rumah Makan Padang di Mall dan Hotel, yang konsepnya mewah dan moderen. Katakanlah ini Rumah Makan Padang kelas elite. Dikampung-kampung banyak pula Rumah Makan Padang hanya dengan modal gerobak. Ada pula yang ‘hybrid’, ¾ masakan Padang + ¼ masakan Jawa. Atau yang ½ masakan Padang + ½ lagi masakan campur-campur. Pokoknya Rumah Makan Padang ada dimana-mana dengan berbagai versi.

Namun ada satu fenomena evolusi Rumah Makan Padang, yang menurut teman saya cukup menggelitik. Begini ceritanya; sepuluh tahun atau katakanlah sebelum kita tergila-gila minum air mineral, setiap kali kita masuk dan duduk di Rumah Makan Padang, kita biasanya langsung diberikan air putih atau air teh panas. Gratis dan tanpa kita minta. Tapi jaman telah beda. Air mineral harganya bisa 15 ribu rupiah. Maka Rumah Makan Padang ikut berevolusi. Kini kalau anda masuk Rumah Makan Padang, pertama kali yang ditawarkan mereka adalah anda ingin minum jus buah apa ? Ini taktik dagang mereka. Karena jus buah cukup mahal, populer karena memiliki kesan yang sehat, sehingga menguntungkan Rumah Makan Padang. Air putih dan teh hangat tawar tidak lagi disajikan gratis. Uniknya air mineral dalam botol, kini langsung disajikan dan diletakan diatas meja bersama kerupuk. Ini juga taktik dagang mereka yang terbaru. Setelah anda minum jus buah, makan masakan Padang yang pedas, anda akan mengambil dan minum air mineral didalam botol secara otomatis. Dengan begitu anda minimal minum 2 macam minuman selama anda bersantap. Buat Rumah Makan Padang jaman yang berubah, dengan evolusi yang berubah, akhirnya membuat sikap mereka berubah, dan penghasilan mereka bertambah. Kalau anda tidak menyadari fenomena ini, perhatikan kalau besok-besok anda bersantap di Rumah Makan Padang.

Dr. Neale Martin, seorang konsultan pemasaran di Amerika menulis sebuah buku yang sangat menarik, judulnya “Habit: The 95% of Behaviour Marketers Ignore”. Menulis, bahwa kita sebagai pemasar, seringkali melupakan konsumen kita yang telah berubah dan berevolusi panjang. Atau kalaupun kita sadar, seringkali kita melihatnya dengan kaca mata yang cenderung sangat rumit. Padahal seringkali seperti kata Darwin, perubahan itu dialami lebih sederhana, hanya sebagai kemampuan ber-reaksi tanpa kekuatan dan tanpa kecerdasan. Persis kecoa. Perubahan itu menjadi sebuah rentetan peristiwa yang membuat kebiasaan kita berubah. Seringkali tanpa kita sadari. Dan terjadi begitu saja. Hampir boleh dikatakan alamiah dan otomatis.

Belum lama ini kantor berita CNN membuat sebuah laporan tentang trend pertumbuhan Blackberry yang fenomenal di Indonesia. Dengan pemakai telpon selular diatas 120 juta orang bayangkan masa depan Blackberry di Indonesia ? Akan sangat luar biasa. Tetapi sebagai konsumen, perubahan yang mengubah kebiasaan kita ini, hampir tidak pernah kita pertanyakan. Sebagai konsumen kita menerimanya sebagai evolusi yang normal-normal saja. Seorang anak ABG di sebuah mall, pernah saya tanya, mengapa ia tertarik menggunakan Blackberry. Sambil mengangkat bahu, ia menjawab acuh tak acuh “Abis …. Semuanya pake Blackberry. Masa aku ngak pake ???” Saya-pun tertawa mendengarnya.

Teman saya yang berkerja disebuah perusahaan telekomunikasi, bergurau bahwa mestinya Blackberry berterima kasih dengan sejumlah perusahaan yang menciptakan tiruan Blackberry dari China. Karena ibaratnya api, merekalah yang menuangkan bensin dan membuat Blackberry mania menjadi semakin hebat di Indonesia. Tanpa mereka sadar sebenarnya ini proses aliansi yang sangat menguntungkan. Secara alamiah Blackberry China yang palsu menciptakan proses edukasi dan training yang gratis. Sehingga konsumen terbiasa menggunakan alat mirip Blackberry. Nah, suatu hari kalau mereka sudah terbiasa, dan punya sedikit rejeki, bukan tidak mungkin mereka akan membeli Blackberry yang asli.

Kita tidak akan pernah bisa lolos dari perubahan. Itu sebabnya perubahan mesti kita siasati dengan bijak. Apakah kita tetap survive dan bisa memanfaatkan perubahan ? Atau kita dikalahkan perubahan dan musnah sekaligus ! Dititik ini barangkali kita semua perlu belajar pada kecoa.