Wednesday, March 31, 2010

JAGOAN DAN PAHLAWAN PERANG



Satu bukti bagaimana film mampu menjadi alat peraga visual yang sangat ampuh untuk mengubah persepsi kita, barangkali adalah kasus bagaimana Amerika melahirkan pahlawan dan jagoan perang. Amerika yang terlibat begitu banyak perang moderen sejak Perang Dunia ke II, seperti perang Korea, Vietnam, Afganistan dan Irak. Sebagian pahlawan dan jagoan perang itu dilahirkan dengan latar belakang perang yang lebih kental dengan sejarah sesungguhnya. Sebagian besar lagi malah lewat khayalan dan imajinasi belaka.

Tengok saja film layar lebar yang berseri “Rambo” - diperani oleh Sylvester Stallone atau serial yang mirip “Missing in Action” yang diperani oleh Chuck Norris. Keduanya lebih mirip disebut jagoan perang daripada pahlwan perang. Tentu saja hanya dalam konsep film yang mereka lakoni. Hebatnya perang menjadi bahan baku dan sumber inspirasi Hollywood dalam mencetak ‘box office’. Seorang kritikus budaya yang belum lama ini ngobrol dengan saya di Portland secara sinis menyindir, bahwa berapa-pun kerusakan dan kekalahan Amerika dalam perang moderen, Hollywood akan membuatnya menjadi sangat ‘glamour’ dan menjadi kemenangan yang fantastis. Barangkali sebuah pengamatan yang unik, tetapi terasa bijak. Dimanapun titik kompromi-nya nanti.

Ketika saya masih kuliah, film serial favorite saya adalah M*A*S*H. Serial komedi tentang sejumlah dokter yang bertugas di perang Korea. Lucu dengan sejumlah kegila-an yang selalu menggelitik. Perang Korea sendiri hanya berlangsung 3 tahun dari tahun 1950-1953. Namun film serial M*A*S*H berlangsung jauh lebih lama yaitu selama 11 tahun. Premierenya berlangsung pada September 17, 1972, episode terakhir ditayangkan pada February 28, 1983. Ketika episode terakhir ditayangkan tercatat hampir 106 juta pemirsa menonton episode yang terakhir ini. Konon saking tegangnya episode terakhir ini, kebanyakan pemirsa ogah ke WC karena takut ketinggalan cerita. Ketika film berakhir mereka ramai-ramai ke WC sehingga akibatnya PAM di Amerika terkejut, karena pipa ledeng bertegangan tinggi mereka kehilangan “pressure” tiba-tiba, karena saking banyaknya orang ke WC dalam saat yang sama. Jumlah penonton 106 juta itu konon menjadi rekor tersendiri. Dan bertahan selama hampir 40 tahun. Baru terpecahkan oleh final The Superbowl terakhir February 2010. Dimana jumlah penontonnya melebihi 106 juta orang. Film serial M*A*S*H, memang menggelikan dan luar biasa, bagaimana Amerika menjadikan perang sebuah parodi selama 11 tahun dan menghapus sebagian kenangan buruk yang ada.

Tidak semua film perang yang hadir, memang memiliki pesan yang sama-sama membuat perang menjadi ‘glamour’ dan mencetak pahlawan serta jagoan perang. Dua film perang favorit saya yaitu ‘Apocalypse Now’ karya Coppolla dan ‘Black Hawk Down’ karya Ridley Scott, memiliki arah yang rada terbalik. Film ini sangat ‘intense’ namun barangkali lebih tepat kalau dikatakan menggambarkan perang dari segi tragedi dan kekejam-an yang mencengkram setiap perang. Sutradara beken Steven Spielberg juga penikmat film perang. Dalam karya-nya tahun 1998 “Saving Private Ryan” yang sekaligus memberikan Oscar sebagai sutradara terbaik kepada Steven Spielberg, tokoh kepahlawanan itu tampil lebih manusia dan dengan cerita beda. Tidak lagi siapa yang menjadi pahlawan atau jagoan perang, tetapi setiap prajurit dalam setiap perang, memiliki aksi patriotisme dan kepahlawan sendiri-sendiri. Film yang memenangkan 4 piala Oscar, akhirnya menjadi titik baru dalam bercerita sebuah film perang. Yaitu manusia dalam sebuah perang. Yang kadang terperangkap tidak sengaja. Spielberg sendiri lewat perusahaan film Dreamworks, pada tahun 2001 menayangkan serial film perang lainnya yaitu "Band of Brothers". Dan kini bersama Tom Hanks memproduksi sebuah serial film perang lagi yaitu “The Pacific” yang sedang tayang lewat saluran HBO.

Plot ini tak lama kemudian menjadi ‘trendy’ dan dirasakan memiliki kekuatan naratif yang lebih kuat dan kental. Film perang tidak lagi harus dengan bujet besar dan ‘special effect’ yang melibatkan banyak orang, dan peralatan perang yang sangat merepotkan. Sutradara Antoine Fuqua membuat film perang “Tear of the Sun” dengan aktor Bruce Willis dan Monica Belluci tahun 2003, dengan plot cerita seorang Letnan Navy Seal yang terperangkap perang saudara di Nigeria, dan harus membebaskan sejumlah orang-orang sipil. Diakhir cerita, sehabis menonton film ini kita mungkin menjadi maklum, bahwa “Tear of the Sun” bukanlah film perang, tetapi manusia dalam sebuah perang. Dan kitapun menikmati drama dan polesan tragedi yang terjadi. Saya sendiri menikmati film ini. Sebagian dan kebanyakan kritikus film justru mengkritik pedas film ini.

Ketika Amerika terlibat perang di Afganistan dan Irak, semua orang memastikan, bahwa hanya waktu yang akan menentukan, kapan sejumlah film perang dari Afganistan dan Irak akan muncul dan meramaikan pasar. Dugaan itu langsung menjadi kenyataan ketika sutradara perempuan Kathryn Bigelow memproduksi film “THE HURT LOCKER”. Film ini menceritakan tentang satu regu penjinak bom di Irak. Mengambil latar belakang cerita dikisaran tahun 2004, setelah Amerika menyerang Irak, dan Irak diguncang sejumlah serangan bom bunuh diri. Dua minggu yang lalu di Seattle, saya berkesempatan menonton “THE HURT LOCKER”. Film ini memang bagus, dengan racikan sinematografi yang polos namun sesuai dengan kebutuhan narasi cerita. Walaupun begitu plot cerita terasa sangat sederhana. Dan film ini tidak menampilkan aktor-aktor beken dengan penampilan dan penokohan peran yang raksasa. Beda misalnya dengan film “The Deer Hunter” yang memenangkan 5 piala Oscar, bercerita tentang perang Vietnam dan ditampilkan dengan aktor beken dan tampilan yang lebih puitis.

Terus terang saya tadinya mengharapkan sesuatu yang lebih “nyosss” dari film ini. Namun diakhir film dan perenungan saya, akhirnya saya ikut kompromi. Bahwa ini film bagus dan pantas memenangkan 6 piala Oscar. Walaupun beberapa diantaranya barangkali diberikan karena alasan kebenaran yang politis dan sopan. Saya sendiri berniat untuk menonton-nya kembali 2-3 kali lagi. Sukur-sukur kalau DVD atau Blue Ray yang beredar nanti akan mucul Uncut Version yang lebih panjang dan “intense”.

“THE HURT LOCKER” adalah istilah yang muncul pada perang Vietnam, tentang mereka yang cidera dan dipulangkan. Sutradara Kathryn Bigelow, menuturkan cerita tentang seorang veteran penjinak bom yang sudah berpengalaman, Sersan William James. Dalam film diungkapkan seolah-olah James ketagihan menjinakan bom. James misalnya memiliki sebuah kotak yang berisi berbagai jenis pemicu bom yang berhasil ia jinakan. James berkomentar, bahwa kotak itu berisi benda-benda yang semuanya hampir membunuhnya. Tingkah laku James sehari-hari juga ditampilkan cukup ugal-ugalan. Misalnya dalam satu adegan diperlihatkan ia melepas baju anti bomnya. Kata James didalam film, bom yang sedemekian banyak ‘toh’ akan membunuhnya dengan atau tanpa baju anti bom. Ia melanjutkan bahwa kalaupun ia harus mati, ia ingin mati dengan nyaman. Mungkinkah ini jagoan dan sekaligus pahlawan perang baru ciptaan Kathryn Bigelow ?

Kalau anda menonton film “THE HURT LOCKER”, maka pada awal layar dibuka ada sebuah kutipan dari buku laris karya Chirs Hedges - ’War Is a Force That Gives Us Meaning’ : "The rush of battle is a potent and often lethal addiction, for war is a drug." Mungkinkah perang adalah narkotik yang membuat kita ketagihan ? “THE HURT LOCKER” ditutup dengan elegan dalam sebuah adegan dimana James bermain dengan anaknya. Didalam adegan ini James mengaku bahwa dalam hidup ini tinggal satu yang ia cintai dan yang ia mahiri. Yaitu barangkali menjinakan bom. Dan akhirnya James kembali ke Irak untuk tugas satu tahun berikutnya.

No comments: