Friday, February 29, 2008

CERITA DARI HOLLYWOOD

Semua orang pasti pernah jatuh. Mulai jatuh cinta, jatuh dari sepeda, dan juga jatuh bangkrut. Jadi jatuh itu normal sekali. Tapi jatuh juga pasti sakit. Kadang malah meninggalkan luka, cedera, dan cacat. Itu konsekuensi jatuh. Itu sebabnya dalam ilmu bela diri, dan berbagai olah raga yang beresiko tinggi, kadang anda diajarkan juga seni jatuh yang benar dan aman. Kesimpulannya jatuh perlu ilmu dan seni tersendiri. Seorang pengusaha meledek saya, katanya “The Art of Falling”. Ia sendiri bercerita dengan sungguh-sungguh tentang jatuh bangun yang dialaminya. Ia sudah kawin cerai 3 kali. Bukan sesuatu yang dibanggakan-nya, melainkan pelajaran hidup yang paling pahit. Begitu kilahnya setiap kali bercerita. Dalam bisnis ia sudah jatuh bangun lebih dari 10 kali. Kawin cerainya juga akibat tidak langsung dari kejatuhan bisnisnya.

Ia bercerita bahwa ketika jatuh pertama kali, ia merasakan sakit yang bukan main. Berusaha mencari simpati. Bersedih-sedih pula. Ia merasa dunia tidak adil. Pokoknya macam-macam dah. Hampir setahun ia tidak mengerjakan apa-apa. Pada saat yang sama ia diceraikan isterinya. Mulanya ia berpikir nasibnya mirip peribahasa kuno, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Suatu hari ia melihat anaknya yang bungsu jatuh dari sepeda motor, ketika baru belajar naik sepeda motor. Lengan dan kakinya, penuh luka semua. Tapi hari kedua, anaknya sudah belajar naik sepeda motor lagi. Mulanya ia menganggap anaknya bandel bukan kepalang. Namun ketika seminggu kemudian anaknya sudah bisa naik motor, iapun menyadari satu hal penting. Setiap kali kita jatuh, yang terpenting adalah bukan jatuhnya tetapi justru kebangkitan dari kejatuhan itu sendiri.

Barry J Woltz, seorang entrepener yang sudah jatuh bangun berkali-kali, menulis sebuah buku yang sangat elok, yaitu “Bounce”. Ibarat bola bekel yang selalu mental, dan tidak pernah jatuh. Ini rahasia sesungguhnya. Jangan jatuh tetapi menggunakan kejatuhan untuk mental balik. Barry menulis, kegagalan, dan kejatuhan, memang sakit dan nyeri. Tetapi bahaya yang sesungguhnya justru merobek dan mencederai ego kita. Sehingga kita merasa tidak percaya diri. Mudah curiga ! Dan kehilangan keberanian. Ini tantangan terberat. Andaikata kita membalik situasi ini, dan memanfaatkan kegagalan dan kejatuhan justru untuk merancang ulang ego kita. Yaitu membuat kita menjadi lebih rendah diri. Waspada dan eling. Kejatuhan dan kegagalan justru sangat positif. Thomas Alva Edison, menemukan lampu pijar justru setelah mengalami ribuah experimen yang gagal. Beliau berkata, bahwa satu yang sempurna dan berhasil, ditemukan justru setelah ribuan yang gagal. Jadi kegagalan dan kejatuhan adalah benih sukses terbaik.

Mpu Peniti, menyebut kegagalan dan kejatuhan adalah „expensive training“. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk gagal dan jatuh. Kalau dipikir-pikir, Mpu Peniti bener juga sih! Jadi kegagalan dan kejatuhan mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Barry menulis didalam bukunya, bahwa minimal ada beberapa skills yang bisa dipelajari. Pertama, kegagalan dan kejatuhan bisa mendidik kita untuk lebih sabar dan teliti. Kedua, kegagalan dan kejatuhan melatih kita lebih handal dalam hal meraba dan menghitung resiko. Dan ketiga, yang paling penting kegagalan dan kejatuhan harus mampu justru membuat kita tahan uji, dengan keberanian yang berbeda.

Setelah saya renungkan, uraian Barry didalam bukunya persis sekali, sejalan dengan nasib seorang teman saya. Ketika kuliah dulu, ia dikenal pemalu dan selalu rendah diri. Kini ia menikah dengan bekas seorang model yang cantik luar biasa. Konon menurut cerita teman-teman, ia juga setelah kuliah dikenal sebagai seorang playboy ulung. Bila diurut secara seksama, seperti ada yang membalik nasibnya 180 derajat. Belum lama ini, saya bertemu lagi dengan dirinya di Los Angeles, setelah sekian lama kita tidak pernah ketemu. Iseng saya menanyakan rahasianya. Ia cuma mesem-mesem saja, lalu pelan-pelan mengisahkan kisah hidupnya. Dalam cerita beliau, memang terungkit bahwa ia mengalami puluhan kali atau bahkan jumlah yang tidak terhitung lagi, tolakan dari cewe ketika ia mengajak mereka kencan. Mulanya ia menganggap dirinya terkutuk dari sentuhan cinta. Ia mulai menyendiri, dan banyak menghabiskan waktu diperpustakaan. Iseng-iseng ia mulai membaca berbagai buku tentang tekhnik kencan. Pelan-pelan ia sadar, lalu memanfaatkan sejumlah kegagalan dan kejatuhan yang pernah dialaminya. Iapun menjadi percaya diri dan berani-berani saja mengajak wanita kencan. Dan kali ini ia melakukan-nya dengan cara yang berbeda. Dahulu ketika kuliah, ia berusaha mengajak kencan cewe yang tidak terlalu cantik, dengan alasan ia tahu betul kondisi dan situasi dirinya. Tapi kini ia berbalik 180 derajat, ia justru nekat hanya mengajak cewe kencan kalau mereka cantik luar biasa. Malah berhasil. Teorinya cewe-cewe yang biasa-biasa saja, mencari cowo yang jauh lebih ganteng. Karena mereka juga ingin naik ketingkat yang lebih atas. Jadi kalau dia yang mengajak kencan, rata-rata menolaknya mentah-mentah. Padahal cewe-cewe yang cantik luar biasa, punya pengalaman juga kencan dengan cowo-cowo ganteng. Dan banyak yang gagal dan kecewa. Makanya ketika ia yang mengajak kencan, banyak diantara cewe-cewe cantik itu yang penasaran dan ingin mencoba. Percaya atau tidak, ini rahasia yang sesungguhnya. Kata teman saya, kegagalan dan kejatuhan, kalau dipelajari dengan bijak, bukan saja membuat kita makin pintar, tapi juga membuat kita bijak dan arif. Meluaskan perspektif kita !

Wednesday, February 20, 2008

THE POWER OF SIMPLICITY


OCCAM'S RAZOR

Seorang klien bercerita, bahwa kantornya belum lama ini dibobol oleh karyawan-nya sendiri. Sejumlah uang raib. Jumlahnya cukup banyak. Ketika diselidiki, kemana uang itu lari, semua bingung. Sang karyawan yang membobol kas, kelihatan sederhana. Berbagai teori bermunculan. Mulai dari uangnya dipakai untuk narkoba, hingga kawin lagi. Semuanya diselidiki. Tidak ketemu juga penyebab kemana uang itu dipergunakan.

Saat cerita ini dipaparkan kepada saya, terbayang satu nasehat Mpu Peniti. Beliau selalu mengatakan kepada saya untuk mencari jejak motif yang paling ‘simple’ dalam setiap kasus dan masalah. Dan dalam kasus seperti ini, penjelasan ‘simple’ orang gelap mata untuk korupsi cuma satu yaitu nafsu dan keserakahan. Benar saja, tak lama kemudian terbukti uangnya dipake untuk ngobyek proyek lain. Apa mau proyeknya gagal dan sang karyawan ditipu. Kerugian yang besar menyebabkan karyawan tersebut gali lubang tutup lubang, untuk mengelabui perusahaan.

Pendeta William Ockham yang hidup pada periode 1285-1349, dikenal dengan perkata-annya “Entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem” atau entitas tidak semestinya dilipat gandakan bilamana tidak perlu. Atau sederhananya seringkali solusi atau penjelasan dari sebuah masalah, yang tepat seringkali adalah justru yang paling sederhana. Dari pernyataan ini maka muncul-lah sebuah aliran pemikiran yang dikenal dengan nama Occam’s Razor. Istilah pisau tajam atau ‘razor’ adalah terminologi yang populer karena aliran pemikiran ini sering memangkas asumsi yang berlebihan dan dianggap tidak perlu. Barangkali pemikiran ini bukanlah pemikiran baru. Karena beberapa filsuf dan pemikir seperti John Duns Scotus (1265–1308), Thomas Aquinas (c. 1225–1274), Alhacen (965-1039), dan Aristotle (384–322 BC), juga memiliki akar pemikiran yang serupa.

Occam’s Razor muncul pertama kali justru dalam karya, Sir William Rowan Hamilton (1805–1865), ditahun 1852. 6 abad setelah William Ockham wafat. Occam’s Razor kini sangat populer digunakan dalam perlbagai cabang keilmuan. Mulai dari kedokteran, biologi, fisika sampai kepada filsafat dan teologi. Occam’s Razor menjadi pilar pemikiran populer karena ‘simplicity’ sendiri menawarkan opsi yang lebih praktis. Kalau misalnya ada dua teori untuk menjelaskan satu fenomena. Dan yang satu lebih ‘simple’ daripada satunya, maka yang ‘simple’ cenderung yang diadopsi. Semata karena ia menawarkan penjelasan yang lebih mudah dan praktis. Walaupun Occam’s Razor diperdebatkan karena mitos ‘simplicity’ bukanlah kesempurnaan. Albert Einstein sendiri di tahun 1933 memperingatkan bahwa “"Theories should be as simple as possible, but no simpler." Namun uniknya Occam’s Razor bertahan hingga kini, menjadi sebuah disiplin untuk berpikir sederhana. Tak heran apabila muncul kemudian sebuah ungkapan populer KISS principle yaitu “Keep it Simple, Stupid”.

Terus terang Occam’s Razor adalah metode favorit saya dalam mengambil keputusan. Pertama, kita memangkas semua asumsi yang kompleks, nyelimet, dan menyesatkan. Kedua, kita menggelar beberapa solusi yang paling simple. Ketiga, kita mengkajinya dengan ‘common sense’ dan menggunakan pengalaman sebagai bandul penimbang. Maka setelah 3 langkah ini, biasanya muncul solusi manjur, mujarab, dan cespleng. Buat Mpu Peniti sendiri, Occam’s Razor adalah pedang bermata dua. Beliau selalu wanti-wanti agar saya tetap cermat, waspada, jangan menggampangkan segalanya. Mpu Peniti selalu gusar kalau Occam’s Razor digunakan semena-mena. Misalnya di Indonesia betapa sering kita mendengar penjelasan bahwa satu tempat bisnis, entah itu toko, kantor, rumah sakit, sekolah atau apa-pun yang bisnisnya menurun dan sepi, akhirnya selalu diberikan penjelasan ‘yang menggampangkan’ yaitu ada penunggunya atau ada hantunya !

Ini kritik Mpu Peniti. Yaitu ‘simplicity’ dijadikan ‘penggampangan segalanya’. Memang serba salah juga. Seorang pejabat bercerita bahwa, kadang ia berusaha memberikan penjelasan yang sesungguhnya dan sejujurnya. Tetapi justru yang benar itu susah dimengerti. Percaya atau tidak seringkali ‘setan’, ‘gaib’, dan semua yang berbau klenik lebih mudah dipercaya dan masuk akal. Seorang desainer beken bercerita, bahwa seringkali ia mendesain sesuatu dengan bentuk tertentu dan menggunakan warna tertentu semata karena alasan ‘ergonomics’ dan keseimbangan estetika. Namun menjelaskan keduanya kepada klien hal yang sejujurnya, resikonya besar sekali. Klien mungkin tidak mengerti, dan akibatnya desain bisa ditolak mentah-mentah. Jadi ia mengambil jalan alternatif, selalu menjelaskan konsep desain-nya lewat penjelasan ala feng-shui. Ternyata penjelasan seperti ini lebih mudah diserap, dan masuk akal dikepala klien-nya. Apa boleh buat, itulah kenyataan yang sesungguhnya. Leonardo da Vinci sendiri mengatakan “Simplicity is the ultimate sophistication.”

Wednesday, February 13, 2008

JANGAN PERNAH PUTUS ASA !


TAHUN MICKEY MOUSE

7 Pebruari 2008, penanggalan lunar Cina akan memasuki zodiak baru, yaitu tahun tikus. Konon menurut dongeng, ketika Budha memanggil 12 hewan untuk dijadikan simbol zodiak, hewan pertama yang datang adalah tikus. 2008 menandai tahun pertama dari siklus 12 tahun hingga tahun 2020. Sebagai tahun pertama dari satu siklus, tahun tikus selalu dipercaya punya kekuatan yang menandai berbagai perubahan besar. Krisis ekonomi yang lalu juga dimulai di tahun tikus 1996.

Tahun 2008 juga dimulai dengan tanda-tanda yang serupa. Dunia terguncang, ketika pada Jumat 25 Januari 2008, pasar saham dunia merosot tajam, menunjukan tanda-tanda ‘meltdown’. Index saham BSE di India turun 10%, DAX Jerman jatuh 14%, HSI Hong Kong merosot 9% dan SSE Shanghai terjun bebas 10%. Semua orang dan media mulai berteriak satu kata yang menakutkan global resesi. Beberapa bank besar di Amerika, juga menghapus hutang tak tertagih dalam jumlah yang fenomenal. Merrill Lynch 22.4 milyar dollar, Citigroup 19.9 milyar dollar, dan UBS 14,4 milyar dollar.

Seorang teman saya yang sangat spiritual, membacanya dengan pertanda yang berbeda. Dan juga menyebutkan gonjang ganjing yang berbeda. Menurut beliau, dunia sedang mengalami pusaran enerji baru. Pertanda itu adalah wafatnya mantan presiden Soeharto awal tahun ini, dan kemungkinan perubahan politik yang sangat drastis di Amerika. Kalau saja partai demokrat menang, maka di Amerika bakal terjadi peristiwa unik yaitu untuk pertama kalinya Amerika bakal memiliki presiden perempuan, itu kalau Hillary Clinton terpilih. Tetapi kalau Obama yang jadi presiden, maka Amerika akan dipimpin oleh presiden berkulit hitam yang pertama. Tahun 2008 juga akan menjadi tahun terakhir pemerintahan SBY-JK. Mungkinkah mereka bertahan dan kembali berduet di tahun 2009 ? Ataukah kita akan memiliki presiden baru ? 100 tahun yang lalu, 1908 kita mengikrarkan Kebangkitan Nasional. Apa potensinya, 2008 adalah Kebangkitan Nasional yang kedua ? Semua ini memang pertanyaan-pertanyaan yang sangat menantang.

Saya sendiri, lebih menguatirkan perubahan-perubahan yang nyata dari Global Warming. Dimana cuaca berubah sangat drastis dan mengacaukan segalanya. Mulai dari bencana alam yang bergolak tidak mau berhenti. Perubahan iklim yang juga mengacaukan panen pangan di seluruh dunia. Komoditi pangan seperti kentang dan gandum mengalami krisis mulai cukup serius dalam 2-3 tahun terakhir ini. Gandum misalnya, saat ini berada dititik suplai terendah selama 25 tahun. Harganya melambung dari hari-ke-hari tak terkendali. Mie instant yang dikenal sebagai makanan ajaib dibawah seribu perak, tak lama lagi bakal hilang. Seorang ekonom bergurau kepada saya, kata beliau ”Realitanya ketika ongkos parkir dan ongkos WC umum, sudah dua ribu perak, mie instan di republik ini masih saja bertahan seribu perak.” Ini adalah salah satu keajaiban ekonomi Indonesia. Tapi situasi ini tidak akan bertahan lama. Mungkin akhir tahun 2008, mie instan juga akan menjadi dua ribu perak, menyusul ongkos parkir.

Mpu Peniti sendiri menasehati saya, untuk lebih eling di tahun Mickey Mouse ini. Tahun 2008 kita mesti belajar dari tikus. Mahluk kecil yang memiliki kerajinan dan keuletan yang sangat luar biasa. Inilah semangat yang perlu kita usung tahun 2008 – rajin dan ulet. Tapi juga kita harus bersikap extra hati-hati. Maklum tikus punya perangai cepat berkelit dan suka mencuri. Hati-hatilah terhadap setiap pemborosan, dan kompetitor yang mengerat dan menggerogoti anda diam-diam.

Menghadapi 2008, kita barangkali harus memanfaatkan strategi Mickey Mouse. Roy. E Disney, keponakan Walt Disney menyebutkan, bahwa Mickey Mouse adalah lambang optimisme yang selalu menyuarakan harapan yang lebih cerah. Ia selalu bergembira. Tidak pernah sekalipun sinis dan bersikap mengejek. Ia selalu bersiul dan bergembira, dalam situasi sesulit apapun.

David Cooperfield menyebut Mickey Mouse sebuah keajaiban. Kepribadian Mickey Mouse yang selalu ke-kanak2-an, menyiratkan kejujuran yang asli. Jauh dari pikiran jahat dan kotor. Larry King, menyebut Mickey Mouse sebagai teman yang selalu mendatangkan kegembiraan dan optimisme. Layaknya sebuah siklus, barangkali tahun 2008 adalah ibaratnya sebuah fajar yang memulai sebuah hari yang baru. Saatnya kita bangun dan bekerja keras. Namun hari baru ini akan sia-sia, dan dipenuhi stress dan kekesalan, kalau kita tidak menyikapinya dengan optimisme dan kegembiraan. Mpu Peniti menasehati saya, “Jangan pernah takut dengan masalah. Karena setiap masalah ada jalan keluarnya. Kalau tidak ada jawaban dan jalan keluarnya, namanya bukan masalah”. Marilah kita bergembira dan tertawa menghadapi setiap masalah. Selamat tahun baru Imlek. Semoga 2008 membawa rejeki, sukses, dan kesehatan yang berlimpah.

Monday, February 11, 2008

SEMOGA SEMAKIN MURAH REJEKI !


DONGENG PINDANG BANDENG

Setiap Imlek, saya selalu ingat nenek saya. Terutama ketika menikmati pindang bandeng. Masakan yang menjadi tradisi kaum peranakan pada saat tahun baru. Ikan dalam tradisi Cina memang sangat penting. Konon kata ikan dalam bahasa Mandarin yang dilafalkan dengan ucapan “yu”, mirip dengan kata lain yang berarti berlimpah. Tak heran kalau dalam setiap jamuan makan besar ala tradisi Cina, hidangan ikan selalu ditampilkan di akhir jamuan, sebagai perlambang semoga rejeki dimasa-masa mendatang datang dengan berlimpah. Biasanya ikan disajikan utuh dengan kepala hingga ekor. Kepalanya seringkali diarahkan kepada tamu kehormatan yang hadir dalam jamuan itu. Bilamana anda hadir dalam sebuah jamuan makan besar, jangan anda tersinggung, apabila kepala ikan diberikan kepada anda. Karena sesungguhnya itulah penghormatan yang tertinggi, dimana anda dianggap sebagai tamu kehormatan.

Jadi tak heran apabila bandeng juga hadir sebagai masakan wajib pada tradisi Imlek kaum peranakan di Indonesia. Ketika masih kecil, saya sama sekali tidak menyukai pindang bandeng. Pertama bandeng banyak tulang, sehingga makan pindang bandeng selalu berabe dan menyusahkan. Apalagi saya pernah beberapa kali menelan tulang bandeng, yang kemudian nyangkut ditenggorokan saya. Sangat tidak nyaman sekali. Saat yang sama saya mulai kritis, dan mempertanyakan kenapa bandeng yang dipilih ? Apalagi bandeng adalah ikan rawa, kalau tidak teliti memasaknya, pasti akan bau tanah.

Memang banyak dongeng yang beredar tentang pindang bandeng. Salah satunya menyebutkan bahwa bandeng itu banyak durinya. Sehingga menjadi perlambang doa dan harapan agar tahun yang baru memberikan curahan rejeki yang berlimpah. Bagi saya, dongeng tentang pindang bandeng yang terbaik datang dari cerita nenek. Bahwa sesungguhnya pindang bandeng adalah masakan yang menyiratkan karakter seorang perempuan. Bandeng yang enak dipindang adalah bandeng yang gemuk dan berlemak. Beratnya harus minimal diatas 2 kilo. Menurut nenek saya, kalau seorang perempuan dijaman dahulu, malas ke pasar pagi-pagi, maka ia tidak akan mendapatkan bandeng segar terbaik yang paling gemuk. Ini adalah ujian pertama. Bahwa seorang perempuan harus rajin bangun pagi, dan telaten memilih dengan kepekaan yang seimbang.

Pindang bandeng bukan masakan mudah. Persiapannya cukup nyelimet. Bandeng harus benar-benar bersih sehingga tidak bau tanah rawa setelah dimasak nanti. Memasaknya juga harus super sabar, dengan api kecil, supaya dagingnya tidak hancur. Dimasak cukup lama sehingga durinya mudah lepas dari dagingnya. Nah, menurut nenek saya inilah ujian kedua. Seorang perempuan harus memiliki ketelitian dan kecermatan yang menyeluruh. Lalu kesabaran yang tak terhingga. Tanpa kombinasi ini, pindang bandeng tidak akan hadir dalam kelezatan yang prima. Jaman sekarang, banyak yang tidak sabar, sehingga bandeng di presto dahulu supaya tulangnya hancur.

Pindang bandeng yang sejati dan sesungguhnya, juga memiliki spektrum cita rasa yang lengkap. Yaitu keseimbangan yang pas antara asem, asin, dan manis. Pada saat mau makan biasanya baru diberikan irisan cabe rawit. Sehingga lengkap pula dengan pedasnya. Anda mungkin sudah bisa menebak, inilah ujian ketiga. Seorang perempuan harus mahir menciptakan keseimbangan. Karena dari keseimbangan ini, lahirlah keadilan dan kesempurnaan. Irisan cabe rawit yang dimasuk-kan terakhir sebelum makan, adalah pertanda bahwa seorang perempuan selalu memiliki trik terakhir atau ilmu simpanan. Perempuan menurut nenek saya, harus selalu panjang akal, tidak pernah putus asa. Selalu punya solusi.

Terpengaruh oleh romantisme cerita nenek saya, maka percaya atau tidak saya sejak saat itu selalu menantikan makan pindang bandeng. Kadang saking sayangnya saya sama pindang bandeng, bisa saya simpan berhari-hari. Saya makan sedikit demi sedikit untuk menikmatinya. Dan pindang bandeng yang lezat, justru semakin lama disimpan, dan semakin lama dipanasi, maka daging ikan bandeng akan semakin menyerap semua bumbu-bumbunya. Seorang perempuan sejati konon menurut nenek saya harus mirip dengan pindang bandeng. Semakin lama semakin sempurna. Duri bandeng kini tidaklah lagi menjadi masalah. Yang penting pada saat makan kita harus sabar memilah mana daging dan mana duri. Demikian pula nasehat terakhir nenek saya. Bahwa kehidupan ini mirip pindang bandeng. Dengan ditemani perempuan yang tepat seorang lelaki akan bisa dan mampu mengarungi hidup ini dengan sempurna, tidak peduli sebesar apapun badainya. Kalaupun ada hal-hal buruk yang terjadi, misalnya pindang terlalu manis atau terlalu asin, masih ada trik terakhir. Yaitu irisan cabe rawit yang pedas, yang akan membuat kita tetap makan dengan lahap.

Saya tidak tahu apakah cerita nenek tentang pindang bandeng, benar atau tidak. Tetapi percaya atau tidak memberikan saya sebuah perspektif unik untuk menghargai seorang perempuan. Sempurna seperti pindang bandeng.

Sunday, February 03, 2008

THE TRUTH ABOUT YOURSELF


MEMANFAATKAN MUSUH

Di Kuala Lumpur, minggu lalu – minggu lalu saya sempat ngopi bareng dengan beberapa desainer senior interior plus teman-teman mereka yang bergerak di bidang real estate. Mulanya pembicaraan kami seputar proyek-proyek di Jakarta. Entah, dari mana asalnya, ujung-ujungnya kami membicarakan kehidupan bertetangga di kota-kota besar seperti Jakarta, Hong Kong, Singapura, dan Kuala Lumpur. Realitanya banyak diantara kami yang sudah tidak mengenal tetangga. Banyak pula yang mengatakan bahwa tetangga kini seringkali juga menjadi “the best enemy”. Karena suka complaint ini dan itu, dan seterusnya.

Ketika pembicaraan memanas, seorang teman yang bergerak dibidang real-estate, malah menasehatkan bahwa tetangga itu biarpun “the best enemy” kadang bisa juga menjadi “the best friend”. Berdasarkan pengalaman beliau, kalau mau menjual rumah, calon pembeli terbaik justru adalah tetangga disebelah kanan dan kiri. Karena mereka-lah yang biasanya berani menawar paling mahal. Karena siapa tahu mereka ingin meluaskan rumahnya menjadi 2-3 kali. Hal itu langsung saya iyakan. Saya pernah mengalami hal serupa.

Didalam bisnis, juga terjadi hal yang sama. Musuh dan kompetitor kita adalah juga teman dan sahabat terbaik. Filsuf Yunani – Antisthenes yang hidup antara tahun 375 – 444 sebelum Masehi, dan dikenal sebagai bapak dari ”Cynic school of philosophy”, sekali pernah mengatakan bahwa hanya 2 orang didunia ini yang berani mengatakan dengan jujur tentang diri kita yang sesungguhnya. Pertama adalah teman yang benar-benar mencintai kita. Dan kedua adalah musuh yang marah besar. Kayanya dijaman susah begini, mencari teman yang benar-benar mencintai kita rada susah. Mungkin lebih mudah mencari seorang musuh yang sejati !

Satu pelajaran bisnis yang paling berkesan selama ini, saya dapatkan dari seorang salesman ulung di Bangkok, kira-kira 15 tahun yang lalu. Usianya saat itu sudah 50 tahun lebih. Ia sudah malang melintang menjadi sales selama 30 tahun lebih. Sampai akhirnya ia dijadikan penasehat disebuah group konglomerat. Berkat pengalamannya yang segudang itu. Bos besarnya menjuluki dia sebagai sebuah oasis yang tidak pernah kering. Ia mengajarkan saya, bahwa survival kita didalam bisnis sangat bergantung kepada musuh-musuh kita. Menurut beliau kita harus punya manajemen khusus untuk memelihara musuh.
Mulanya saya kaget bukan main. Buat apa baik hati memelihara musuh ? Konon ada pribahasa Cina kuno yang mengatakan lebih baik punya musuh didepan mata daripada musuh diseberang lautan. Musuh didepan mata, bisa kita awasi gerak-geriknya. Apa-pun move yang dilakukan musuh kita, dengan mudah bisa kita antisipasi. Berkat lokasinya didepan kita. Tetapi musuh yang tidak kelihatan, akan sangat berbahaya. Bisa menikam kita dari belakang, kapan saja. Makanya ada istilah musuh dalam selimut. Musuh yang tidak terlihat ! Jadi ”stay close with your enemy”.

Pelajaran ini dilanjutkan dengan jurus kedua – “be friend with your enemy”. Ini lebih gendeng abis ! Lalu saya diceritakan, bahwa sang salesman senior itu, punya hitungan tentang musuh-musuhnya. Mirip strategi perang Sun Tzu. Yang mengisyaratkan bahwa kalau kita tau persis siapa-siapa saja musuh kita maka, 50% dari pertempuran, sudah berhasil kita menangkan. Beliau misalnya selalu menyisakan waktu untuk bergaul dengan musuh dan kompetitornya. Entah itu makan bersama. Ngobrol di Café atau berkaraoke bersama. Menurut beliau, musuh adalah tempat belajar terbaik. Berteman dengan musuh memberi kesempatan untuk mempelajari mereka, dan kadang kalau beruntung, selalu saja ada informasi yang ‘keceplosan’ dan menjadi bonus intelijen penting.

Pernah sekali, mereka dihadang kompetitor baru yang sangat agresif dari luar negeri. Melawan musuh itu sama saja dengan bunuh diri. Untung saja sang salesman berteman baik dengan para kompetitor yang baru. Serta merta ia menciptakan aliansi dan bersekutu dengan para kompetitor lain untuk menghadang kompetitor baru tersebut. Upaya mereka berhasil sukses. Sang kompetitor agresif tadi berhasil mereka halau. Usai krisis, aliansi dan sekutu mereka bubar, dan mereka langsung baku hantam dipasar kembali. Akses ke musuh atau ke kompetitor dalam kasus ini terbukti pas dan manjur. Ironis memang, tapi itulah yang dikatakan bekas presiden Amerika Abraham Lincoln, ”cara terbaik untuk menghilangkan musuh, adalah justru dengan mengubahnya menjadi seorang teman”.

Setelah pelajaran itu saya jadi belajar respek terhadap musuh. Kata Bruce Lee, sebelum berkelahi, kita harus membungkuk dengan benar untuk menghormati musuh. Setelah itu baru berkelahi. Sesungguhnya memang demekian, kalau kita menghormati musuh dengan penuh respek, maka kita mau belajar dari mereka. Musuh atau kompetitor membuat kita lebih pandai dan lebih kuat. Mereka adalah ’sparing partner’ kita. Mereka adalah motivator kita untuk maju kedepan. Membuat terobosan baru. Berinovasi. Manajemen musuh adalah kunci keberhasilan bisnis yang seringkali dilupakan orang. Belajarlah memanfaatkan musuh anda !

Friday, February 01, 2008

Wednesday, January 30, 2008

CERITA LAMA TENTANG PAK HARTO

Ketika pak Harto wafat, dan pertama kalinya Mpu Peniti menontonnya lewat televisi, dengan suara yang menyembunyikan kesedihan luar biasa, beliau berkata lirih :”Tidak akan ada lagi pemimpin Indonesia yang bisa menyamai pak Harto”. Awalnya saya tidak mengerti pas benar ucapan Mpu Peniti. Lalu beliau menjelaskan bahwa diperlukan 32 tahun untuk seorang pemimpin sekaliber pak Harto untuk menciptakan prestasi seperti ini. Dan juga sebaliknya 32 tahun lamanya untuk membuat kesalahan sebanyak ini. Jadi jangan heran kalau pak Harto punya sejumlah kawan dan lawan.

Setelah saya renungkan pelan-pelan, akhirnya saya sadar juga makna ucapan Mpu Peniti. Pertama kesalahan pemimpin dunia dimana-mana, adalah memimpin terlalu lama. Layaknya seorang atlit, mestinya mereka mundur ketika prestasinya dititik tertinggi. Karena setelah itu prestasi berikutnya adalah menurun, dan bukan naik lagi. Tetapi atlit mana yang pernah sadar untuk melakukan hal itu ? Dengan aturan dan undang-undang yang baru, tidak akan ada lagi pemimpin Indonesia yang punya kesempatan menjadi presiden di Indonesia sampai 30 tahun. Artinya kalau ingin menyamai prestasi pak Harto minimal kita butuh pemimpin yang 4-5 kali lebih hebat dari pak Harto. Itu hitungan matematisnya. Sebuah tantangan yang pasti super sulit sekali. Dan juga kita butuh kabinet yang kinerjanya 4-5 kali lebih produktif dari kabinet dimasa-masa kepemimpinan pak Harto. Artinya siapapun yang ingin menjadi pemimpin Indonesia dimasa depan harus memiliki ”Super Team” dengan ”Super Power”. Untuk menciptakan kemungkinan itu dimasa depan, diperlukan revolusi manajemen didalam struktur kabinet mendatang.

Dalam tahun-tahun mendatang para sejarahwan dan analis akan terus berdebat tentang prestasi dan juga kesalahan-kesalahan pak Harto. Dan perdebatan itu tidak akan berakhir sebentar saja. Barangkali adalah klise, kalau yang paling penting adalah justru belajar dari pengalaman 32 tahun itu. Tetapi sayangnya agar pintar, kita cuma punya satu solusi, yaitu belajar. Tidak ada jalan lain. Sayangnya pintar tidak bisa dicangkok. Pintar juga tidak bisa dibeli lewat vitamin. Sudah saya cari kemana-mana, dan tak saya temukan pil atau vitamin pintar.

Salah satu gosip yang sering beredar dan yang selalu saya dengar dari banyak orang, konon pak Harto punya kebiasaan belajar yang unik. Yaitu lewat kebiasaan punya ’private session’ dengan Mafia Berkeley. Dimana pak Harto setiap hari mendengar kuliah pribadi dari para ekonom-ekonom yang beken disebut Mafia Berkeley. Tak heran katanya, setelah itu pak Harto punya kemahiran dan kefasihan dengan angka-angka yang cukup mengagumkan. Simak saja dimasa-masa pak Harto sering mengadakan audiensi dengan para petani dan nelayan di Tapos dan acara-cara dengan Kelompencapir jaman itu. Walaupun sering diejek dengan sinis bahwa itu cuma acara propaganda. Efeknya luar biasa. Minimal hingga hari ini belum ada presiden Indonesia yang memperlihatkan kemahiran dan kefasihan yang sama soal angka.

Dari segi marketing, pak Harto barangkali juga pemimpin paling mahir melakukan propaganda dan promosi. Minimal sejumlah program sosial seperti Keluarga Berencana, Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) menjadi media efektif selama pemerintahan beliau. Tetapi beberapa hal yang mengagumkan diceritakan oleh seorang bekas diplomat kepada saya. Bahwa pak Harto berpikir cukup taktis. Buktinya biar apapun kritiknya, pak Harto minimal berpikir dalam kerangka manajemen dengan selalu menciptakan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). ”He seems always have a plan”, begitu tutur sang ex diplomat.

Dongeng unik yang saya dengar, adalah kebijakan pak Harto untuk mewajibkan petani menggunakan pupuk urea. Walaupun kebijakan ini diselewengkan dan dianggap tidak arif. Konon dibelakang kebijakan ini tersembunyi satu maksud. Dengan menghitung jumlah urea yang dikeluarkan satu musim tanam. Lalu dibagi dengan rasio pemakaian. Maka bisa dihitung jumlah dan luas sawah musim itu. Dikurangi kerugian hama dan bencana alam, minimal bisa diraba berapa banyak produksi gabah pada saat panen. Kalau kurang, jauh-jauh hari pemerintah menyiapkan import. Sehingga tidak pernah kekurangan dan menjadi keributan seperti sekarang ini. Apakah dongeng ini benar atau tidak, yang unik adalah pola pikirnya untuk menciptakan sebuah sistim informasi yang sederhana. Hal-hal ini yang barangkali bakal ramai menjadi ajang perdebatan pro dan kontra dimasa mendatang. Asal maksudnya untuk belajar, maka apapun perdebatannya akan menjadi usaha yang positif dan arif. Selamat jalan pak Harto !

Thursday, January 24, 2008

SARAH BRIGHTMAN


ANATOMY OF A TREND

Ingat film “Star Wars” ? Pendekar Jedi, Obi-Wan membisiki murid belia-nya Luke Skywalker – “Luke, …. feel the force…” Instruksinya sederhana sekali. Rasakan medan enerji disekeliling kita. Rasakan getaran dan vibrasinya. Maka enerji itu akan menyatu dengan diri kita. Ini adalah perumpamaan populer yang sering saya manfaatkan juga untuk menjelaskan proses membaca trend dalam pemasaran. Bagi pemasar sendiri trend ibarat mercu suar atau senter yang memberikan kita petunjuk tentang arah didepan. Begitu pentingnya trend, hingga kadang perusahaan merasa perlu membayar konsultan untuk memprediksi trend musiman dan tahunan. Beberapa media juga rajin menginterview saya diakhir tahun, dengan satu pertanyaan klasik : “Bisnis apa yang bakal nge-trend tahun depan ?”

Trend juga menunjukan posisi kepemimpinan di pasar. Seorang pengusaha plastik, yang membuat aneka produk rumah tangga dari plastik bercerita bahwa ia umumnya emoh untuk mengikuti trend. Karena hal itu akan memposisikan dirinya cuma sebagai pengekor atau ‘follower’. Ia cenderung membalik situasi dengan menjadi pencipta trend atau ‘trendsetter’. Untuk itu selama setahun ia rajin berkeliling dunia. Ke China, Jepang, Taiwan, dan Korea untuk melihat trend-trend yang sedang marak. Lalu membandingkan-nya dengan trend-trend yang berbeda di pasar Australia, Amerika dan Eropa. Dengan mengurut sejumlah trend yang sedang digandrungi pasar, ia mencoba menciptakan trend baru. Sang pengusaha bercerita, ibaratnya nonton sebuah sinetron berseri. Ia mencoba menebak cerita episode mendatang. Baginya mekanisme dan proses ini mirip dengan latihan melatih intuisinya. Kadang ada tebakan yang manjur dan sukses. Tapi seringkali tebakan itu juga berakhir ngaco dan ngawur. Setelah menajamkan intuisinya untuk menebak trend berikutnya selama bertahun-tahun, dan membandingkan trend-trend sebelumnya, kini intuisi itu telah berubah menjadi ilmu yang mirip matematika. Ia mulai bisa menghitung trend !

Dalam praktek, walaupun kita berusaha terus menerus memantau trend dan mengikuti trend, banyak pemasar yang merasakan kalah cepat atau kalah sigap. Seolah mengejar trend adalah lomba maraton yang melelahkan. Trend pada intinya adalah konsumen yang berubah terus menerus. Berubah gaya hidupnya. Dan sekaligus berubah juga seleranya. Mirip evolusi yang bergerak. Tidak pernah berhenti. Itu sebabnya belajar dari pengusaha di plastik dan cerita Star Wars, ‘trend’ adalah perubahan yang perlu diantisipasi. Market Leader tidak akan pernah berada dibelakang ‘trend’. Tetapi selalu selangkah lebih awal didepan ‘trend’.

Henrik Vejlgaard, seorang pengamat ‘trend’ yang menjadi pionir dalam ‘trend sociology’ yaitu sebuah studi tentang proses terciptanya ‘trend’, menulis didalam bukunya “ANATOMY OF A TREND”, beberapa nasehat untuk mengantisipasi ‘trend’. Terciptanya sebuah ‘trend’ menurut Henrik, tidak akan pernah tiba-tiba. Tetapi lebih mirip dengan menggodok jamu, yaitu mendidih pelan-pelan. Pelakunya selalu manusia dan dipicu oleh media atau gossip di kalangan tertentu. Kadang ‘trend’ juga adalah reaksi balik dari sebuah kejenuhan di ‘mainstream’. Jadi menurut Henrik, ‘trend’ bisa dicermati, disimak, dan diobservasi sejak awal. Triknya adalah merasakan getaran dan vibrasinya.

Henrik membagi sejumlah sub-kultur yang berpengaruh menjadi kelompok-kelompok yang harus di observasi, misalnya kelompok anak muda, socialite, selebriti, desainer, artis, dan juga kaum gay. Kelompok inilah yang lewat interaksi dan persaingan group, berusaha beda dan menciptakan indentitas dan kepribadian yang baru dan beda. Mereka memiliki nafsu dan gairah untuk menjadi ‘trendsetter’. Kelompok ini pula yang selalu diliput media. Dan menjadi pusat perhatian.

Henrik juga menyebutkan bahwa kota-kota di dunia menjadi sumber ‘trend’, seperti Paris, Milan, London, Tokyo, Shanghai dan New York untuk fashion dunia. Kota inilah yang dijadikan tolok ukur. Untuk elektronik lain lagi, kota-kota seperti Hong Kong, Seoul, Tokyo dan Taipeh justru menjadi pusat enerji ‘trend’. Itu sebabnya kita sering mendengar ucapan-ucapan : “Eh, di Bali lagi ngetrend apa sih ? Resto yang lagi ‘in’ apa aje ?”

‘Trend’ juga memiliki siklus. Dengan mengamati kisaran waktu sebuah ‘trend’ anda bisa memprediksi terjadi sebuah trend berikutnya. Henrik menciptakan sebuah model yang menyebutkan bahwa kisaran cepatnya sebuah ‘trend’ beredar dari ‘trendsetter’ ke ‘mainstream’ berbeda-beda. Kosmetik 1-2 tahun, fashion 2-3 tahun, asesoris 2-3 tahun, alat olahraga 6-8 tahun. Akhir kata Henrik menutup, bahwa ‘trend’ bukanlah ilmu nujum tentang masa depan. Karena memang prosesnya berbeda. Tetapi dengan mengerti dan memahami proses terjadinya sebuah ‘trend’ sedikit banyak kita bisa mengintip ke masa depan. Hal ini merupakan sebuah kemewahan yang langka !

Sunday, January 20, 2008

EVERY DAY IS A GIFT


MARKETING ALA FENG SHUI

Tahun 2007, bukan tahun buruk bagi Starbucks. Total revenuenya mencapai $ 9.4 milyar dolar. Tak kurang dari 2500 kedai kopi baru dibuka diseluruh dunia. Kedai kopi Starbucks kini jumlahnya tak kurang dari 10.000 di Amerika saja dan lebih dari 5.000 tersebar di 42 negara. Uniknya harga saham Starbucks di tahun 2007 turun hampir 50%. Para investor dijangkiti rasa takut, bahwa pertama program ekspansi Starbucks akan melambat, karena jumlah outlet saat ini yang sudah sedemekian banyak. Kedua ada gejala baru bahwa jumlah pengunjung Starbucks di bulan November 2007, menunjukan gejala-gejala menurun. Pertanda sinyal ekonomi memburuk di Amerika juga sudah menyentuh Starbucks.

Howard Schultz, Chairman Starbucks selama 13 tahun, yang sudah mundur dari kegiatan manajemen sehari-hari, terpaksa harus turun gunung kembali dan menjadi CEO baru. Schultz beragumen bahwa hal-hal yang mendasar dari Starbucks harus kembali di renovasi dan dikembalikan ke fokus semula. Hal ini sebenarnya sudah bergolak dan mendidih menjadi isu panas di berbagai situs internet yang nge-gosip soal Starbucks. Diantaranya adalah kedai kopi Starbucks yang memiliki akses Drive Through dianggap merusak romantisme ngopi yang sesungguhnya. Yaitu duduk di kursi empuk sambil menikmati kopi ngepul dan mengirupnya perlahan-lahan. Juga aneka jajanan lain yang dianggap terlalu mahal.

Dua masalah tadi cuma contoh dari sejumlah permasalahan yang ada dan menghangat selama beberapa tahun terakhir ini. Dari sekian masalah yang ada ada satu masalah yang dianggap Schultz sangat penting. Yaitu soal mesin espresso Verismo 801s yang kini banyak digunakan di kedai kopi Starbucks, mulanya dianggap sebagai mesin yang mempromosikan efesiensi. Karena sekali tekan tombol keluar espresso secara otomatis. Tetapi mesin ini juga menggunakan konsep Flavorlock yang bagus dari sudut efesiensi tetapi akibatnya keharuman bau kopi sedang ’di-brewing’ juga menghilang. Mesin 801S juga dianggap terlalu besar, sehingga menghalangi pandangan konsumen. Interaksi pembuat kopi (barista) pada saat membuat kopi dengan konsumen tidak tercipta. Schultz mengatakan bahwa romantisme teater Starbucks yang terdiri dari kombinasi keharuman kopi, dan aksi kegesitan para pembuat kopi (barista) hilang begitu saja.
Ketika cerita diatas saya ceritakan kepada Mpu Peniti, beliau terkekeh, dan memberi komentar : ”Wah, Feng-Shui nya jadi terganggu yah !” Saya tersenyum mendengarnya. Masih banyak yang menganggap bahwa Feng Shui adalah mirip ilmu nujum yang tidak rasional. Sebaliknya, Feng Shui adalah ilmu yang benar-benar mempraktekan perhitungan-perhitungan rasional, dengan memperhatikan lingkungan, lokasi, arah mata angin, dan keseimbangan sirkulasi, warna, dan peletakan benda, untuk mencapai sebuah keseimbangan yang harmonis. Kata Feng Shui sendiri, artinya adalah ’angin’ dan ’air’. Kedua elemen ini menjelaskan pergerakan enerji atau ’chi’ yang positif.

Filosofi keseimbangan dan harmonisasi, dari Feng Shui, seringkali saya temukan aplikasinya juga di pemasaran. Lingkungan kita dan diri kita, masing-masing memancarkan energi. Adalah sangat penting kedua enerji ini menyatu dan menciptakan keharmonisan. Tetapi bilamana enerji ini bertolak belakang dan menciptakan benturan negatif. Maka kita akan merasakan ketidak nyamanan dan mood kita mudah berubah menjadi sangat negatif. Lingkungan kerja yang aliran ’chi’ terganggu, mudah menciptakan konflik dan produktifitas kerja yang rendah pula.

Bagaimana Feng Shui bisa membantu pemasaran anda ? Pertama-tama adalah dengan mempelajari filosofi Feng Shui dan menerapkannya kedalam strategi pemasaran kita. Contohnya adalah tentang ’wu-xing’ yaitu lima elemen alam – Air, Api, Bumi, Kayu dan Metal dan interaksinya satu dengan yang lain. (Wu-Xing telah kita bahas minggu lalu) Kedua adalah untuk menajamkan panca indera - membaca getaran-getaran enerji yang negatif dan mengembalikan-nya ketitik keseimbangan.

Memahami titik keseimbangan ini merupakan skills pemasar yang sangat kritis sekali. Mpu Peniti mencontohkan keseimbangan antara kekuatan dan kelenturan. Air memiliki kekuataan yang keras ketika bentuknya sebagai es, dan juga kelenturan yang sama dahsyatnya dalam bentuk cair. Tinggal kita yang harus kreatif memanfaatkannya dalam bentuk yang berbeda-beda dan waktu yang berbeda-beda pula. Pemasaran juga memiliki aplikasi yang serupa. Seorang entrepner bercerita bahwa dalam bahasa Mandarin ada istilah ” chiao te – chiao ta te” artinya ’less is more’ yaitu sebuah konsep kebun Feng Shui yang mengandalkan proporsi. Ia bercerita bahw sebuah kebun akan terasa indah dan natural, kalau pohon, semak, bunga dan bebatuan tidak dalam posisi simetris. Justru terbalik dalam posisi asimetris.

Tuesday, January 08, 2008

Monday, January 07, 2008

BALANCE AND HARMONY


WU XING - APLIKASI MARKETING ALA FENGSHUI

Ahli strategi, Chin Ning Chu, yang menulis buku-buku beken seperti “Thick Face Black Heart” dan “The Asian Mind Game” pernah mengutip sebaris kalimat dari pribahasa kuno Cina yang berbunyi bahwa : “Pasar adalah sebuah Medan Pertempuran”. Pribahasa ini menyiratkan bahwa seorang praktisi pemasaran hendaknya menguasai betul strategi dan taktik perang. Terbukti apabila istilah-istilah pemasaran banyak yang menggunakan istilah “perang harga”, “perang promosi” dstnya.

Terpengaruh oleh kenyataan ini, sejak kuliah, saya senang membaca buku-buku strategi perang, mulai dari Sun Tzu, Miyamoto Musahshi, Napoleon, Genghis Khan, hingga Bruce Lee. Secara filosofis ada 2 kesimpulan yang akhirnya menjadi pencerahan buat saya. Pertama, medan pertempuran selalu berubah. Dipengaruhi oleh begitu banyak dinamika dan pengaruh. Menang adalah prestasi sesaat. Itu sebabnya kita tidak boleh lengah. Sekali kita berkedip, kompetitor kita sudah melenggang kedepan. Kompetisi adalah pertempuran yang abadi. Itu sebabnya belajar menjadi tantangan yang sama abadinya.

Kedua, perubahan seringkali dianggap terbuka dan cuma menuju satu arah. Di barat perubahan yang tajam dan mengarah kepada satu poros arah tertentu seringkali dibaca sebagai trend, mode, dan gaya baru. Di timur, perubahan disiasati sebagai sebuah perubahan yang tertutup atau siklus. Gagal menyelesaikan siklus dengan sempurna, maka semuanya akan berantakan. Mpu Peniti mencontohkan, musim hujan yang terlalu pendek akan menyebabkan musim kemarau yang panjang. Dan akibatnya mungkin akan terjadi gagal panen. Begitu pula sebaliknya.

Konsep ini bagi saya pada awalnya sangat sulit dimengerti. Barulah ketika saya mempelajari “Wu Xing” atau The Five Cardinal Point, konsep perubahan tertutup atau siklus menjadi pencerahan yang terang benderang. “Wu Xing” atau lima elemen ini, dalam budaya Cina menjadi basis berpikir dalam banyak hal, mulai dari Feng-Shui, strategi militer, astrologi, pengobatan, ilmu bela diri hingga musik.

Sederhana-nya “Wu Xing” menjelaskan 5 elemen yaitu metal, kayu, air, api, dan bumi. Kelimanya saling berinteraksi dalam satu kesatuan siklus. Dimana lima elemen ini saling mendukung dan juga saling mengalahkan. Tanpa satu-pun yang menunjukan keunggulan mutlak. Contoh, api menyala membutuhkan kayu api. Hasil pembakaran api menyisakan abu yang kembali menjadi bumi. Lalu metal ditambang dari dalam bumi. Dan metal dibentuk menjadi wadah untuk menampung air. Akhirnya air inilah yang akan menyuburkan pohon menjadi kayu.

Sebaliknya, kayu membelah bumi, menjadi belantara yang menguasai bumi. Selanjutnya bumi memangsa air dan menelannya habis. Air memadamkan api. Hanya api yang sanggup melelehkan metal. Akhirnya metal pula yang mampu mematahkan kayu. Siklus ini berkesinambungan terus menerus menjadi sebuah perubahan yang sifatnya tertutup. Rahasia dari perubahan bergaya tertutup adalah keseimbangan satu dengan lainnya. Menurut Mpu Peniti, dalam hidup ini, tidak selalu melulu kita harus berubah secara radikal untuk menemukan terobosan baru atau inovasi. Melainkan belajar merubah keseimbangan untuk menemukan sebuah situasi yang harmonis.

Perlahan-lahan akhirnya saya mulai menerapkan “Wu-Xing” dalam manajemen dan juga pemasaran. Mencari keseimbangan sebagai titik fokus perubahan. Seringkali dalam sebuah kompetisi pasar, kita dikejar dan dikuntit oleh satu kompetitor yang penasaran dengan kita. Maka anda punya 2 opsi. Melawan langsung. Atau sebaliknya, tidak melawan tapi menciptakan keseimbangan baru. Kata Mpu Peniti, ibaratnya dalam satu ring tinju ada anda dan kompetitor anda. Anda bisa bertempur habis-habisan melawan kompetitor anda. Opsi lain, anda bisa masukan ke dalam ring kompetior lain agar kompetitor anda berbalik arah – bertempur dengan kompetitor baru yang masuk ring, dan anda tinggal menjadi penonton. Enak bukan ? Anda terhindar dari resiko babak belur !

Pasar babak belur karena kompetisi edan. Harga hancur ! Hampir tidak ada keuntungan sama sekali ! Apa yang harus kita lakukan ? Melawan adu murah ? Atau menciptakan keseimbangan baru ? Adu mahal ? Atau di bikin gratis sekalian ? Lihat saja fenomena di media dengan majalah gratis yang kini sangat marak. Juga di industri arloji dengan munculnya produk-produk super mahal. Demikian juga dalam industri air mineral. Dimana setiap produsen berusaha menciptakan air plus yang mahal. Kasus yang menarik misalnya kompetisi pariwisata antara Bali dan Yogyakarta. Konon seorang praktisi pariwisata berkomentar bahwa di Bali telah tersedia hotel murah hingga hotel super mewah. Tetapi di Yogyakarta belum banyak tersedia hotel mewah dan supermewah. Jadi akan sangat sulit membuat turis-turis jet-set dan selebriti ke Yogyakarta. Menurut beliau Yogyakarta memerlukan keseimbangan baru.

Saturday, January 05, 2008

Thursday, January 03, 2008

TAO TE CHING


NO ACTION

Saat saya bersiap-siap menulis artikel kelima dan terakhir, dari serial artikel refleksi akhir tahun 2007, Mpu Peniti bertanya, apa yang akan menjadi topik terakhir saya. Lalu saya jawab dengan sejumlah thema dan topik yang sudah saya siapkan. Mendengar itu, beliau cuma senyum tipis. Senyum yang selalu misterius dan mengandung makna berlapis-lapis. Iseng dan penasaran saya bertanya tentang apa usulan topik paling tepat menurut beliau ? Beliau malah melengos, duduk santai lalu mengisi teka-teki silang. Seolah meledek saya.

Tiba-tiba tersentak, saya jadi ingat ajaran beliau hampir sepuluh tahun yang lalu. Yaitu ajaran dari Tao Te Ching yang berjudul “No Action”. Pernah sekali saya bertanya mengapa Mpu Peniti seneng banget mengisi teka-teki silang. Beliau bercerita bahwa didalam hidup ini, tidak melulu kita harus maju terus. Berjuang dan ‘fight’. Ada masanya kita mungkin harus berhenti, diam dan ‘stop’. Beliau seringkali mengisi saat-saat diam dan ‘stop’ itu dengan meditasi unik. Yaitu mengisi teka-teki silang. Persis seperti kata guru matematika saya, dalam hidup ini ada juga jawaban yang tidak perlu kita cari dalam rumus dan formula. Tapi justru dengan mengisi kotak-kotak yang kosong, dan menyambung satu dengan lainnya. Maka jawaban akan muncul dalam rangkaian demi rangkaian.

Berlainan dengan konsep barat yang seringkali hanya berporos pada satu kutub, yang positif. Kutub negatif seringkali dilupakan. Di timur, harmonisasi kehidupan seringkali justru lebih banyak bergantung pada keseimbangan keduanya. Misalnya saja, kosong dianggap tak bernilai bagi banyak orang. Tetapi justru hanya gelas kosong yang bermanfaat, karena bisa di-isi. Demikian juga dalam sebuah konflik, kalau kedua belah pihak selalu agresif dan berseteru, maka konflik tidak akan selesai. Justru, bilamana situasi sedang memanas, satu pihak mengambil sikap diam dan ’no action’. Konflik akan mereda sangat cepat.

Ilmu bela diri Cina yang terkenal ”Wu-Shu”, yang dianggap sebagai cikal bakal Kung Fu, juga memiliki arti ’no action’ yang unik. ”Wu” adalah pictogram yang berarti menghentikan pertempuran dan peperangan. Sedangkan ”Shu” merupakan pictogram yang memiliki arti, disiplin, ketangkasan dan metode. Jadi ”Wu-Shu” adalah disiplin yang justru dipelajari untuk mengehentikan perang atau pertempuran. Didalam Sun-Tzu, seni berperang juga tertera ungkapan bahwa kemenangan yang paling luar biasa adalah kemenangan yang didapat bukan lewat sebuah pertempuran.

Didalam manajemen dan pemasaran, ’no action’ adalah rumusan yang juga seringkali dilupakan orang. Misalnya pasar seringkali diam dan stabil, tiba-tiba berguncang karena diprovokasi satu produsen yang menaik-kan harga. Lalu semuanya ikut dan menaik-kan harga beramai-ramai. Maka pasar lalu goyang. Tetapi apabila satu provokasi, di-ikuti dengan ’no action’ bersama-sama, maka provokasi itu akan lebur dengan sendirinya. Didalam budaya kita sendiri, sebenarnya ada istilah ’campur tangan’. Yaitu kebiasaan kita atau pemimpin kita yang selalu ingin ikut terlibat. Yang biasanya menimbulkan kekalutan dan kericuhan karena terlalu banyak pihak yang terlibat. Dan kalau sudah kacau balau maka semuanya akan ramai-ramai ’cuci tangan’.

Sehabis Mpu Peniti mengisi teka-teki silang, saya ngobrol tentang ’no action’ lebih lanjut. Alam memberikan banyak contoh, seperti bambu, ilalang, dan air, yang kelihatan lemah dan selalu kalah dengan sesuatu yang lebih kokoh dan keras. Kenyataannya justru sebaliknya, bambu dan ilalang justru seringkali survive dari angin topan, justru karena flexibilitasnya, dan kemampuan-nya tidak melawan. Air tidak akan pernah patah dan bentuk aslinya. Air justru patah dan pecah berkeping-keping kalau dibeku-kan menjadi es. Benda-benda alam ini, justru memiliki kekuatan yang luar biasa dari karakter mereka yang lemah gemulai.

Diakhir refleksi tahun 2007 ini, dan menjelang saat-saat Natal yang kudus, barangkali ada baiknya kita mengingat sikap ’no action’ yang diperlihatkan Kristus untuk pasrah dan rela mati di salibkan. Derita Kristus sendiri menjadi misteri dan sekaligus inspirasi berjuta-juta pemeluk agama Nasrani tentang cinta kasih kepada sesama. Dengan cara kita masing-masing, tahun 2008 baiknya kita awali dengan berbagai perwujudan ’no action’. Kekosongan akan mengajarkan kita merendah dan mau belajar dari siapa saja. Diam membuat kita mengalah dan bersikap lebih toleran kepada rekan dan musuh-musuh kita. ’No Action’ menciptakan sebuah harmonisasi, kemampuan beradaptasi yang lebih baik terhadap lingkungan. Tanpa ’campur tangan’ kita tidak harus ’cuci tangan’, begitu pesan Mpu Peniti.

Thursday, December 27, 2007

Monday, December 24, 2007

Wednesday, December 19, 2007

Tuesday, December 18, 2007

SURAT DARI SINGAPURA

Salah satu trik favorit saya, selama 20 tahun terakhir ini, adalah selalu dan tidak pernah lupa belajar dari orang-orang biasa dijalan. Mpu Peniti menyebut mereka ‘orang kecil’. Dan mereka bisa siapa saja. Tukang rokok, petugas penyapu jalan, penjaga warung, atau supir taxi. Pokoknya siapa saja. Bagi saya, seringkali pikiran mereka begitu sederhana. Selalu bersumbu pendek. 100% intuisi. Tidak ada ruangan untuk teori secuilpun. Semuanya dipelajari lewat praktek kehidupan sehari-hari. Hanya belajar lewat mereka-lah, menurut Mpu Peniti, kita akan sadar bahwa hati manusia tidak ada batas kedalam-nya.

Salah satu percakapan yang selalu saya nikmati, adalah percakapan dengan supir taxi. Selalu menarik, tidak pernah membosankan. Ibarat lukisan, merekalah lukisan surealis yang paling imajiner. Belum lama ini, ketika di Singapura, saya naik taxi dari hotel menuju Bandara Changi. Sebut saja, sang supir taxi paman Phoa. Badanya kurus, berkaca mata, dan umurnya mungkin sudah mendekati 60 tahun. Paman Phoa, bercerita bahwa ia sudah menarik taxi lebih dari 20 tahun. Kata beliau, semua kejadian aneh sudah pernah ia alami. Mulai dari orang melahirkan didalam taxi, sampai suami isteri bercerai didalam taxinya. Konon, suatu hari menurut ceritanya, ia mendapatkan penumpang dari Bangladesh. Sang penumpang bertanya dimana letak kantor lotere Singapore Pools. Rupanya penumpangnya itu baru saja kena lotere. Lumayan besar, tidak tanggung-tanggung, lebih dari 1.5 juta dolar Singapura. Atau hampir 10 milyar rupiah. Paman Phoa, dengan bangga mengatakan bahwa untung saja, sang penumpang bertemu dengan orang jujur seperti dia. Paman Phoa lalu, tanpa pamrih sedikitpun membantu penumpangnya mengurus uang kemenangan loterenya. Ketika selesai, ia mendapatkan tip seribu dollar Singapura. Lumayan.

Paman Phoa, juga selalu pasang lotere tiap minggu. Ia menghabiskan sedolar biasanya. Baginya lotere ini adalah satu-satunya alat yang paling ampuh untuk tetap memilihara mimpinya untuk kaya raya. Sebagai orang kecil dan supir taxi di lanjut usia, ia tidak punya kesempatan lain untuk kaya raya, daripada kena lotere. Begitu kilahnya. Yang penting adalah hidup jujur. Paman Phoa tahun 2006, kena lotere sebesar 30.000 dollar Singapura. 3.000 dollar atau 10% ia sumbangkan untuk amal. Karena menurutnya filosofi hidupnya, amal itu seperti bola ping-pong yang selalu tek-tok. Kalau ia rajin beramal, maka hidupnya juga penuh dengan rejeki. Dan rejeki itu datang dari segala penjuru. Contohnya adalah tips seribu dollar yang ia terima dari sang pemenang lotere. Mungkin anda tidak akan setuju dengan metodenya memelihara mimpi lewat lotere. Tetapi bagi saya yang terpenting adalah kesungguhan paman Phoa, untuk memelihara mimpinya. Hidup ini memang berpangkal dari mimpi itu. Bagaimana anda mau memiliharanya, terserah anda semua.

Ketika cerita paman Phoa, saya ceritakan ke teman saya. Teman saya cuma tertawa ngakak. Maka pada hari Minggu berikutnya, saya diajak kesebuah food-court untuk mencari makanan lezat sembari melihat trik-trik unik dari pedagang-pedagang makanan di food court. Karena hari minggu, maka food-court penuh dengan pengunjung. Saya melihat ada satu stand makanan yang sangat ramai, karena dipenuhi dengan orang yang ngantri. Naluri saya mengatakan bahwa pasti makanannya enak. Buktinya semua orang ngantri. Mulanya saya mengajak teman saya membeli makanan disitu. Tapi teman saya mengelak. Sambil menunjukkan tanda yang berjudul ’self-service’. Biasanya di food-court kalau kita membeli makanan, tinggal pesan saja, lalu nanti diantar kemeja kita. Nah, kalau self-service, anda harus ngantri, pesan makanan, menunggu pesanan matang, bayar, dan membawa sendiri kemeja anda. Konon beberapa stand makanan belajar trik sederhana ini, dengan sengaja menerapkan konsep self-service, semata-mata untuk menciptakan antrian. Antrian yang panjang akan membuat kesan bahwa stand makanan itu memang populer. Jadi jangan terjebak, antrian panjang belum tentu makanannya enak ! ’......ha....ha... ada-ada saja, trik mereka’, begitu komentar saya.

Di beberapa meja, saya mulau melihat pemandangan yang cukup umum. Dimana beberapa keluarga makan bersama satu meja dengan pembantu mereka dari Indonesia. Terutama keluarga yang punya anak-anak kecil. Perubahan matriks pengunjung ini, menyebabkan beberapa stand makanan, juga secara naluri memasang tanda ”NO PORK” dibeberapa stand mereka. Semata-mata untuk menciptakan loyalitas dikalangan pembantu asal Indonesia yang kebanyakan beragama Islam. Kebanyakan mereka-mereka yang kita sebut ’orang kecil’ ini memiliki semangat dan kemampuan belajar yang sangat tinggi. Kadang bukan karena kebutuhan untuk menjadi lebih pandai atau cerdas. Tetapi karena kebutuhan survival yang mendesak. 3 jurus pendek yang populer – Belajar – Berubah – Dan berimprovisasi. Belajar dari orang kecil, seringkali melatih panca indera bisnis kita menjadi lebih praktis, sederhana, dan penuh imajinasi. Itu sebabnya saya punya koneksi emosional yang istimewa dengan orang-orang kecil ini.

Tuesday, December 11, 2007

Monday, December 10, 2007

THE PASSION

Ini adalah serial ketiga dari 5 artikel yang saya persiapkan sebagai ritual menghadapi tutup dan awal tahun sekaligus. Setelah saya mengangkat topik manajemen dan pemasaran dalam 2 artikel terdahulu, maka untuk topik ketiga, saya sempat mengalami kebuntuan ide. Untuk menyegarkan pemikiran akhirnya saya berangkat kerumah Mpu Peniti. Siapa tau diberi inspirasi baru.

Sore itu Mpu Peniti sedang dikebun rumah belakang, asyik menyirami rumpun pohon-pohon melati. Beliau tampak rileks sekali. Ditemani tempe dan tahu goreng kesukaan beliau, kami ngobrol sambil nyeruput kopi tubruk. Duh, nikmatnya selangit banget. Perlahan-lahan saya bertanya kepada beliau, andaikata beliau boleh memilih hanya satu kata. Maka kata apa sih yang paling penting untuk Indonesia saat ini ? Mpu Peniti memejamkan matanya. Nafasnya terdengar sangat berat. Beberapa menit kemudian, tanpa berkata apapun beliau berdiri dan masuk kedalam rumah. Meninggalkan saya sendiri kebingungan di teras rumah belakang. Tak lama kemudian beliau muncul lagi membawa selembar kertas. Isinya sebuah surat dari seorang koleganya.

Salah seorang teman Mpu Peniti, baru saja kehilangan isterinya, karena direngut penyakit kanker rahim yang sangat ganas. Isi surat itu ternyata bukan berisi kesedihan, tetapi sebaliknya surat yang penuh kegembiraan. Konon menurut surat itu, 6 bulan terakhir sebelum isterinya wafat, itulah saat-saat yang paling menggembirakan dalam kehidupan 30 tahun lebih perkawinan mereka. Sang suami merasakan bahwa isterinya justru paling bersemangat didalam 6 bulan terkahir itu. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan mereka berdua. Diakhir surat, teman Mpu Peniti, mengutip sebuah ungkapan dari The Beatles ”And in the end the love you take is equal to the love you make ” – sebuah potongan lirik dari lagu The Beatles yang berjudul The End, dari labum Abbey Road yang direkam antara 23 Juli -18 Agustus 1969.

Membaca surat itu, hati saya ikut luluh. Barulah saya menyadari dari kunci dari kehidupan ini memang cuma satu kata, yaitu ”Semangat”. Tidak lebih dan tidak kurang. Dalam sejarah bangsa ini, barangkali cuma 3 kali kita mengalami luapan semangat yang luar biasa. Pertama ketika Gajah Mada menggelegarkan sumpah Palapa dan menggerakan bangsa ini, menyatukannya menjadi satu negeri Nusantara. Kedua ketika Bung Karno lewat pidato-pidatonya membakar semangat kita dan menggelorakan revolusi kemerdekaan. Dan ketiga barangkali adalah Rudy Hartono. Juara 8 kali All England.

Saya ingat betul bagaimana Rudy Hartono kalah dari Svend Pri di final All England 1975. Dan ia bangkit kembali di tahun 1976 dengan semangat yang luar biasa. Itu tercermin dalam pertandingan semi final dengan Fleming Delfs. Di set pertama Rudy Hartono mengalahkan Fleming Delfs dengan 15-10. Tetapi sepatu baru Rudy Hartono rupanya membuat masalah di set kedua. Sehingga berbalik Rudy kalah 7-15 di set itu. Tetap bersemangat luar biasa di set ketiga, Rudy sudah sempat ketinggalan 2-9. Namun dalam sebuah demonstrasi mental baja dan semanggat membara, Rudy memperlihatkan sebuah keteguhan perjuangan yang sangat luar biasa. Point demi point di raih Rudy. Hingga akhirnya tiba di detik mendebarkan 9-13. Rudy di jurang kekalahan. Tapi Rudy tetap mengusung semangat didepan. Rudy berhasil akhirnya menyamakan skore 13-13. Dalam perpanjangan 5 angka, dengan semangat yang tidak bisa diungkapan, Rudy akhirnya memenangkan pertandingan itu 18-13. Di final, Rudy mengalahkan Lim Swie King dan akhirnya menjadi juara 8 kali All England. Saat itu seluruh negeri lompat, bersorak, dan joged bersama.

Menengok lintasan sejarah itu, barangkali memang benar, apa yang dikatakan Mpu Peniti. Bangsa dan negeri ini butuh satu ajian mujizat : SEMANGAT ! Masalahnya siapa yang bisa menggelorakan-nya ? Barangkali kita butuh Gajah Mada, Bung Karno atau Rudy Hartono yang baru. Semangat ibarat sayap ajaib yang bisa membawa kita kemana saja. Berkat semangat satu kompi serdadu bisa mengalahkan satu batalion musuh yang jumlahnya sangat besar. Semangat adalah faktor penentu yang dicari setiap pemimpin. Saya jadi ingat pertempuran raja Sparta yang terkenal Leonidas ( tahun 480 sebelum Masehi ). Berbekal semangat yang sangat luar biasa, Leonidas ditemani hanya 300 orang serdadu berhasil menahan raja Xerxes 1 dari Persia yang membawa hampir 250.000 serdadu. Pertempuran yang tidak seimbang itu pada akhirnya memang tidak dimenangkan Leonidas. Tetapi korban dipihak Persia konon mencapai 20.000 orang lebih. Semangat adalah bulldozer yang bisa mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Thursday, December 06, 2007

Tuesday, December 04, 2007

BRAND IS THE NEW WEALTH CREATOR !

Interbrand dan AAAA (Association of Accredited Advertising Agents Malaysia) baru saja menyusun peringkat 30 merek paling berharga di Malaysia. Peringkat teratas di duduki oleh Maybank dengan nilai merek mencapai 2,76 milyar dolar Amerika. Sejumlah merek yang muncul juga tidak asing bagi kita di Indonesia. Karena memang merek-merek Malaysia beberapa diantaranya telah berhasil menjadi pemain regional di ASEAN. Contoh, televisi satelit ASTRO mereknya bernilai 946 juta dolar Amerika. Yang unik adalah merek hypermarket GIANT yang tokonya banyak di Indonesia, ternyata nilai mereknya 592 juta dolar Amerika, dan mengalahkan Malaysia Airlines yang nilai mereknya setara dengan 493 juta dolar Amerika.

Pendatang baru Air Asia ternyata sudah mengantongi nilai merek yang lumayan, sebesar 95 juta dolar Amerika. Bandingkan dengan merek mobil Proton yang bernilai hanya 68 juta dolar Amerika. Merek fashion Padini dan Bonia ternyata cukup berjaya, karena dinilai 61 juta dolar Amerika dan 22 juta dolar Amerika. Melihat dan menyimak peringkat ini, anda pasti juga bertanya-tanya, kalau begitu berapa nilai merek-merek besar di Indonesia, seperti BCA, Aqua, Teh Botol, Telkomsel, Indomie, Gudang Garam, dsbnya.

Apa sih, yang bisa membuat merek produk dan jasa anda melambung nilainya seperti itu ? Jawabnya sederhana, Brand Management yang tertata baik. Secara keseluruhan Brand Management memang proses holistik, yang tidak mungkin dilakukan sepotong-sepotong. Sebuah proses yang harus dilakukan menyatu dalam satu kelengkapan tindakan. Praktis Brand Management bisa dilakukan lewat 3 langkah sederhana, yaitu pertama membentuk Brand Awareness, yang kemudian memotivasi konsumen untuk menjajal produk atau jasa tersebut, sehingga konsumen merasakan sebuah Brand Experience yang sangat berbeda. Lalu konsumen menjadi senang, puas, bahagia dengan produk atau jasa tersebut, yang membuat konsumen tadi berubah menjadi konsumen loyal. Titik terakhir ini disebut Brand Loyalty. (brand awarenessàbrand experienceàbrand loyalty)

Tapi jaman telah berubah sangat cepat. 3 proses sederhana itu kini dianggap tumpul dan tidak mujarab. Misal saja Brand Awareness yang seringkali menuai kritik. Pimpinan perusahaan banyak yang mengeluh dengan sindrom ‘beken tapi ngak laku’. Contoh, klien saya baru saja meluncurkan sebuah produk yang menghabiskan dana puluhan milyar. Mereka juga menggunakan brand consultant ternama. Nama mereknya bagus. Kemasan produk juga mendukung. Iklan agresif jor-jor-an. Ketika melakukan evaluasi dengan Focus Group Discussion, produknya mendapat skor awareness yang tinggi. Tetapi tetap ngak laku.

Ketika tidak laku, barulah saya dipanggil. Selidik punya selidik produk ini ngak laku, karena gagal menciptakan impresi atau kesan yang pas. Istilah populernya ‘pergi tanpa kesan’. Impresi penting sekali. Karena impresi yang pas bisa membuat orang penasaran. Bagi banyak orang Brownies Kukus Amanda, mungkin sama dengan bolu kukus rasa brownies. Tetapi siapa-lah orangnya yang bakal penasaran dengan bolu kukus rasa brownies ? Pemilihan merek Brownies Kukus adalah kecerdasan yang brilyan untuk menciptakan impresi yang membuat orang penasaran. Jadi kalau Brand Awareness tidak lagi mujarab, maka anda butuh Brand Impressions.

Brand Experience juga sudah dianggap lapuk dan ketinggalan jaman. Karena Brand Experience secara fisik mudah ditiru. Kita butuh ajian yang lebih greget. Yaitu Brand Enlightenment. Produk Coca Cola seutuhnya dibangun oleh Brand Experience. Sederhana-nya tiada lagi pengalaman yang lebih nikmat dari pada minum sebotol Coca Cola dingin pada saat haus-hausnya. Bayangkan apa enaknya minum Coca Cola hangat ? Coca Cola menyadari kekuatan ini. Maka dalam 3 dekade terakhir Coca Cola mencoba menggandakan experince ini, dengan menciptakan aneka produk dari yang diet, rasa vanilla, hingga yang diberi vitamin dan tambahan kafein. Hasilnya biasa-biasa saja. Barulah ketika mereka meluncurkan Coca Cola Zero, mereka menemukan produk unggulan, yang konon produk paling sukses mereka selama 22 tahun terkahir. Inilah dimensi baru yang disebut Brand Englightenment. Konsumen selalu merasa bahwa produk Coca Cola sudah sempurna. Tidak perlu ditambah apa-apa lagi. Yang tidak sempurna adalah kalorinya. Dengan Coca Cola Zero, kesempurnaan itu terjawab. Sebuah pencerahan baru.

Titik terakhir, yang dituju banyak praktisi juga bukan lagi Brand Loyalty tetapi Brand Activist. Yaitu anda tidak ingin konsumen sekedar loyal. Anda ingin konsumen menjadi aktivis merek anda yang merekomendasikan dan ikut mempopulerkan merek anda kelingkungan disekitarnya. 3 proses – Brand Impressions àBrand Enlightenment à Brand Activist – adalah formula Brand Management ‘yang gres dan greng’ untuk melambung Brand Value produk dan jasa anda !

Tuesday, November 27, 2007

Monday, November 26, 2007

Intuisi + Interpertasi + Inspirasi + Ideaspotting

Menjelang akhir tahun, kolom “Biang Penasaran” akan memuat topik-topik refleksi akhir tahun, yang bisa dipakai sebagai bahan pemikiran untuk merumuskan strategi tahun 2008 mendatang. Beberapa pengusaha di Eropa, Amerika, Canada, Jepang, dan ASEAN, saya kirimi sejumlah pertanyaan untuk merumuskan kecakapan-kecakapan apa yang paling strategis – yang harus dimiliki seorang pemimpin saat ini. Jawaban datang bertubi-tubi cukup sarat dengan sejumlah pengalaman dan pandangan. Sebuah benang merah kami bentangkan diantara sejumlah jawaban itu, maka munculah sebuah rumusan unik yaitu 4 I / empat I – yaitu intuisi – interpertasi – inspirasi – dan ideaspotting.
Intuisi dulunya dianggap sebagai panca indera ke 6. Sebuah bakat yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Mirip kompas ajaib. Ahli teologi Florence Scovel, menyebut intuisi sebagai sebuah kemampuan yang mampu menunjukan satu arah tanpa penjelasan rasional yang lengkap. Kata intuisi dalam bahasa Latin sendiri berarti “didalam diri-mu”. Didalam kehidupan bisnis, intuisi adalah mekanisme untuk mengambil keputusan tanpa fakta dan informasi. Bahasa pasarnya cuma berdasarkan “feeling’ saja. Tetapi para pengusaha dan pemimpin merasakan bahwa intuisi kini merupakan bagian dari panca-indera bisnis yang terpenting. Uniknya intuisi bisa dipertajam lewat sejumlah pengalaman dan kejadian dalam hidup. Artinya kepekaan intuisi seorang pengusaha atau pemimpin menjadi acuan yang membuktikan bahwa ia memiliki sejumlah pengalaman yang menjadi referensinya untuk berpikir.
Minimal sebuah studi di Universitas Princeton, menunjukan bahwa intuisi datang dari sejumlah kombinasi kecakapan dan pengalaman. Pertama, intuisi umumnya berkembang dari kemampuan seseorang untuk melakukan observasi mendalam, lalu memetakan-nya menjadi sebuah peta besar. Kedua orang-orang yang intuitif umumnya memiliki pandangan yang sangat terbuka, tidak picik, dan berat sebelah. Ia membuka segala kemungkinan untuk bisa terjadi. Dan ketiga orang-orang intuitif umumnya memiliki kemampuan untuk berkonsentrasi dan memfokuskan diri yang sangat tinggi. Keempat, menggabungkan ketiga hal diatas dalam sebuah keputusan beresiko dengan metode kalkulasi yang unik.
Kecakapan kedua, yang kini menjadi buah bibir adalah kecakapan berkomunikasi yang disebut dengan istilah interpertasi. Secara umum interpertasi adalah sebuah proses komunikasi dimana sang receptor mampu menjelaskan sejumlah arti-arti yang mungkin tersembunyi dari gerakan bahasa tubuh yang tersembunyi dan perbedaan sosial budaya. Tekanan dan pengaruh globalisasi, membuat interpertasi muncul kedepan sebagai sebuah kecakapan komunikasi terpenting bagi seorang pemimpin. Data dan Informasi datang dalam jumlah dan kecepatan yang berlipat-lipat ganda setiap detik. Seorang pemimpin ditantang untuk mencerna dan menginterpetasi-kan-nya menjadi sinyal-sinyal yang mampu memberikan nilai tambah kepada organisasi dan perusahaan untuk mengambil keputusan yang strategis.
“Tantangan terbesar saya saat ini, dengan lebih dari 1.500 staff tersebar diseluruh dunia, tidak lagi kontrol untuk membuat mereka produktif dan efektif. Tetapi tiap hari menciptakan satu inspirasi yang mampu menggerakan mereka semua menjadi sebuah kekuataan besar yang imajinatif dan inovatif, untuk menjadi yang terbaik. Hanya dengan cara ini perusahaan kami akan berhasil tampil menang di arena globalisasi”, begitu cetus seorang CEO yang memimpin perusahaan dari Canada, dan kantor cabangnya tersebar di-empat benua. Beliau menuturkan bahwa 10 tahun yang lalu, ia merasa tantangan yang terbesar selalu pengawasan, kontrol dan “problem solving”. Leadership dan kepemimpinan saat itu berpusar pada dirinya. Tak lama kemudian ia merasakan kelelahan yang sangat, dan perusahaan tidak mengalami kemajuan yang pesat. Ia mengubah pola kepimpinan dengan memindahkan pusaran enerji tidak lagi pada dirinya, melainkan pada setiap karyawan-nya. Ia menerapkan pola pemberdayaan. Untuk itu inspirasi menjadi kata kunci yang baru. Ia harus mampu menjadi inspirasi yang sedemekian besar, mirip matahari yang menjadi sumber enerji bagi setiap staffnya diseluruh dunia. Ia menggunakan blog dan email harian untuk memotivasi karyawannya dengan inspirasi harian.
Kecakapan yang ke-empat adalah “ideaspotting”. Kemampuan memburu satu ide besar untuk mendongkrak perusahaan kepuncak inovasi yang berikutnya. “Ideaspotting” menurut Sam Harrison, penulis buku “Ideaspotting” adalah kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan proses kombinasi antara explorasi dan asosiasi. Explorasi adalah proses mencari dan asosiasi adalah proses menemukan. Biaya terbesar bagi sebuah perusahaan dimasa mendatang, adalah bukan menciptakan sebuah produk atau jasa. Melainkan mencari ide-ide baru yang segar. Lalu menerapkannya menjadi produk atau jasa yang memiliki daya saing yang inovatif. Empat elemen – intuisi – interpertasi – inspirasi – ideaspotting – inilah yang merupakan kombinasi ampuh bagi pemimpin mendatang.

Friday, November 23, 2007

Tuesday, November 20, 2007

SURAT DARI KUALA LUMPUR

Minggu ini di Kuala Lumpur, saya menghadiri rapat tahunan US Potato Board. Seperti biasa rapat di hadiri sejumlah praktisi pemasaran dari berbagai negara di Asia. Teman saya Armando Saracho dari Philpina bercerita dengan sangat antusias tentang filosofi tek-tok dalam pemasaran. Tek-tok adalah istilah umum tentang sesuatu yang memantul. Sama dengan aksi dan reaksi. Armando Saracho memberikan sebuah perspektif segar yang agresif.

Menurut Armando, minimal ada 3 permainan utama yang sangat bergantung kepada filosofi tek-tok ini. Tengoknya saja misalnya ping-pong, bilyar, dan permainan karambol. Semuanya berdasarkan filosofi tek-tok. Mulanya saya tertawa ngakak mendengar penjelasan Armando. Tetapi setelah dipikir-pikir, ternyata tek-tok memang penting. Pemasaran juga mirip dengan tek-tok, begitu kilah Armando. Fenomena tek-tok merupakan mekanisme yang menjelaskan metode marketing penasaran.

Pertama, marketing atau pemasaran memang butuh umpan penasaran yang pas. Ibaratnya bola ping-pong yang dipelintir secara khusus dan diumpankan kepihak lawan. Atau tembakan bola bilyar dengan efek atau tarikan khusus. Semuanya agar tek-tok sesuai dengan keinginan kita. Bila tidak - lawan tidak akan membalas dan memberikan reaksi yang pas. Semua upaya kita akan gagal.

Kedua, apabila konsumen atau lawan, membalas dan memberikan reaksi terhadap umpan bola kita, maka permainan menjadi asyik. Karena konsumen berpartisipasi aktif dan agresif. Ini titik kritis dalam pemasaran. Penasaran yang kita umpankan diawal, tidak mati muda. Tapi berkelanjutan menjadi sebuah titik api yang berpotensi meluas dan menyebar. Penasaran bisa berkobar besar menjadi kebakaran. Akibatnya akan tercipta trend. Selanjutnya, konsumen atau lawan akan mengikuti ritme dan irama permainan kita. Bila kita cerdas, konsumen atau lawan menjadi partner yang bisa kita manfaatkan. Misalnya konsumen yang ikut berpartisipasi bercerita atau mempromosikan produk kita. Mirip tugas seorang duta besar.
Dan ketiga tek-tok merupakan cara efektif untuk mempelajari kebiasaan konsumen atau lawan. Belajar dengan cara mendokumentasikan setiap aksi yang kita berikan dan reaksi yang dipantulkan konsumen atau lawan. Dengan cara ini, Armando mengaku kita bisa memetakan pola permainan konsumen atau lawan. Pengamatan Armando memang sederhana tapi pas.

Ketika berangkat ke Kuala Lumpur, di airport Jakarta saya melihat bukti teori tek-tok Armando. Aneh luar biasa banyak penumpang yang berangkat ke Singapura membawa oleh-oleh donat Krispy Kreme. Yaitu toko donat yang berasal dari Winston – Salem, North Carolina di Amerika yang sudah beken sejak tahun 1937. Krispy Kreme menjadi perusahaan publik sejak tahun 2000 dan agresif melakukan ekspansi. Dan cerita mereka mulai tek-tok kemana-mana. Termasuk ke Asia. Di Asia Pacific, sendiri kebetulan Krispy Kreme baru buka cabang di Australia, Hong Kong, Jepang dan di Indonesia. Tak heran apabila orang di Siangapura, yang ngiler akan cerita Krispy Kreme minta oleh-oleh donat ini dari Jakarta.

Tetapi anehnya, saya melihat banyak penumpang yang berangkat ke Kuala Lumpur, justru menenteng donat merek J.CO yang asli ciptaan Indonesia. Kok bisa begitu ? Selidik punya selidik, ternyata orang-orang di Kuala Lumpur sedang tek-tok dengan donat J.CO. Di Mall baru Pavillion di Kuala Lumpur, donat J.CO sudah buka cabang dan konsumen ngantri cukup banyak. Konsumen Kuala Lumpur belum tek-tok dengan Krispy Kreme. Dan juga sebaliknya konsumen Singapura belum tek-tok dengan donat J.CO. Ini memang fenomena unik.

Kalau kita baca diberbagai blog di internet. Donat J.CO dikritik meniru donat Krispy Kreme. Dan memang buka di Jakarta jauh-jauh hari sebelum Krispy Kreme masuk. Pertarungan keduanya di Jakarta sendiri cukup unik. Konsumen terbelah dua. Ada yang suka Krispy Kreme dan ada yang suka J.CO. Gosipnya J.CO akan segera buka di Singapura. Tetapi melihat konsumen yang terbelah dua saat ini, dimana konsumen Singapura minta oleh-oleh Krispy Kreme dan konsumen Kuala Lumpur minta oleh-oleh J.CO donat, merupakan bukti teori tek-tok Armando belum dimanfaatkan dalam persaingan mereka berdua. Adalah sangat menarik, apabila nanti Krispy Kreme dan J.CO telah buka cabang baik di Singapura dan Kuala Lumpur. Kita akan lihat siapa yang bakal jadi pemenang sesungguhnya ? Apakah mereka bisa tetap tek-tok dengan konsumen mereka masing-masing ? Kelanjutan cerita ini bakalan seru dan tegang ! Jadi tunggu saja.

Friday, November 16, 2007

PROMO BIANG PENASARAN


KEDUA SISI

Lukman adalah teman lama saya. Kami telah saling kenal lebih dari 10 tahun. Orangnya selalu optimis. Apapun kondisi dan situasinya. Tidak pernah menyerah kepada keadaan. Biar bagaimana-pun sulitnya. Lukman adalah salah satu kekaguman saya terhadap manusia dan kehidupan. Tentang bagaimana Tuhan telah membekali kita dengan sebuah ketahanan yang sangat mengagumkan. Belum lama ini kami bertemu. Dan Lukman bercerita panjang lebar, tentang kehidupan-nya. Terutama strateginya untuk bisa optimis. Selalu.

Menjelang akhir dekade 70’an, Lukman mewarisi bisnis orang tuanya. Sebuah toko lumayan rame-nya, yang berjualan barang-barang elektronik. Apa daya tak lama kemudian tokonya terbakar. Ludes semua barang dagangan-nya. Lukman dilanda tragedi. Ia lupa mengasuransikan tokonya. Sehingga usai kebakaran, bisnis Lukman bangkrut total. Tetapi ia tidak berduka sedikitpun. Tragedi itu dijadikan-nya pelajaran. Ia belajar melihat satu sisi dibalik tragedi itu. Konon menurut Lukman, hidup ini selalu memiliki 2 sisi. Kalau kita dihantam di-satu sisi, maka pertolongan dan perlindungan datang dari sisi sebelahnya.

Hal ini benar-benar dijalani Lukman. Seusai tragedi kebakaran itu, Lukman nekat memutuskan menjadi salesman asuransi. Saat itu ia berkelakar, bahwa ia pasti akan sukses. Karena pertama ia adalah contoh kasus yang sejati. Kedua pengalaman yang menyakitkan, bahwa ia lupa membeli asuransi, pasti akan menjadi daya tarik terbaik. Dan hal ini dibuktikan Lukman. Ia benar-benar sukses menjadi Salesman Asuransi. Hanya dalam 5 tahun, ia sudah bisa membeli rumah baru, mobil baru, dan macam-macam lain-nya yang baru. Juga tak lama kemudian, ia menemukan jodohnya. Seorang isteri yang cantik jelita. Pernikahan Lukman, luar biasa sekali. Mewah dan megah. Pokoknya heboh luar biasa. Tak lama kemudian mereka berdua juga dikarunia putera dan puteri. Hidup Lukman sempurna sudah.

Ketika belum lama ini Lukman bertemu dengan saya, ia baru melanjutkan ceritanya. Rupanya ia mengaku menikah dengan wanita yang salah. Isterinya kabur meninggalkan Lukman, demi lelaki lain. Isterinya juga rela meninggalkan putera dan puteri mereka. Mulanya Lukman, terpukul sekali. Hampir-hampir ia mau bunuh diri. Tapi ia ingat strateginya untuk mau melihat kedua sisi. Lukman akhirnya memutar balik hidupnya. Perceraian dengan isterinya, membuat Lukman banyak merenung. Maka uang yang selama ini didapatnya dari pekerjaan salesman asuransi, mulai ia investasikan dengan bijaksana. Secara finansial Lukman semakin berjaya. Akhirnya iapun menikah lagi, selang 2 tahun setelah perceraian-nya.

Ia menuturkan hidupnya yang kembali berbelok dan memutar menuju arah yang lebih baik. Menurut Lukman cara berpikirnya kini lebih panjang dan rinci. Uniknya, ia juga mendapatkan isteri yang jauh lebih muda. Dan Lukman sadar untuk melambatkan kehidupan dirinya. Meluangkan waktu lebih banyak untuk anak-anaknya. Kini Lukman lebih sering pelesir keluar negeri bersama isteri baru dan anak-anaknya. Ia mengaku kualitas hidupnya secara mental, spiritual kini jauh lebih baik.

Lukman memang piawai membalik arah kehidupan-nya. Kuncinya adalah kemampuan-nya untuk memanfaatkan sisi satunya. Ia selalu melihat kedua sisi dengan bijaksana. Dalam bisnis situasinya mirip. Tragedi, malapetaka, dan kegagalan selalu terjadi setiap detik dan setiap saat. Banyak diantara kita yang begitu kena hantaman kegagalan dan malapetaka, seringkali menyerah dan berhenti. Menurut Lukman hidup ini seperti sebuah keping mata uang logam. Selalu ada dua sisi. Kalau sisi yang satu gagal, artinya sisi lain-nya yang berlawanan justru menyimpan rahasia sukses. Jadi kita tinggal mengintip sisi disebelahnya.

Seorang pengusaha pernah bercerita kepada saya, bahwa ia percaya Tuhan menciptakan setiap manusia dengan maksud dan tujuan yang baik. Jadi semestinya tidak ada manusia yang cacat, kurang bermutu, dan tidak sempurna. Ia percaya betul setiap manusia diciptakan Tuhan dengan sempurna. Hanya saja seringkali kita menempatkan seorang pegawai ditempat yang salah. Contoh, ia pernah memiliki seorang pegawai wanita yang cantik sekali. Tetapi menurut para manajer HRD, pegawai wanita ini pengetahuan-nya rendah, kurang cerdas, dan banyak kekurangan-nya. Sang pengusaha cuma tertawa, menurut beliau, kalau kita tertarik dengan kecantikan-nya, maka manfaatkanlah kecantikannya saja. Tidak lebih tidak kurang. Jangan berharap terlampau tinggi. Pegawai seperti ini menurut sang pengusaha cocok untuk dijadikan respsionis. Itu saja. Justru segala kekurang-nya merupakan aset yang unik. Misalnya sikapnya yang rada “pelan dan terlambat” merupakan senjata ampuh, dalam menghadapi tukang tagih, atau orang yang minta sumbangan.

Sang pengusaha bercerita bahwa ayahnya dahulu, ketika masih muda mendapatkan kecelakaan dan kehilangan penglihatan-nya. Ayahnya menjadi buta. Serta merta ayahnya kehilangan pekerjaan-nya. Banyak orang menyarankan ayahnya agar mencari pekerjaan yang sesuai, seperti menjadi terapis pijat. Ayahnya tersinggung dan marah besar. Beliau bertekad membuktikan bahwa kebutaan-nya bukanlah sebuah halangan besar. Kebetulan ayahnya adalah seorang pecinta tanaman bonsai. Tak lama kemudian, ayahnya memanfaatkan kebutaannya untuk mendisplinkan dirinya agar lebih penyabar, dan lebih tekun merawat tanaman bonsai koleksinya. Hasilnya memang luar biasa. Biarpun buta, ayahnya semakin peka, dan bertahan berjam-jam merawat tanaman bonsai. Beberapa tahun kemudian, koleksi tanaman bonsai ayahnya kemudian menjadi sangat terkenal. Dan menjadi sumber penghasilan yang luar biasa. Pelajaran ini yang membuat sang pengusaha, tidak lagi berani menyepelekan siapa saja. Ia belajar menghargai setiap staffnya secara utuh.

Monday, November 12, 2007

DESPERATE HOUSEWIVES


CERITA TJE FUK

Salah satu kutipan favorit saya, adalah ucapan Eva Longoria belum lama ini dalam satu episode Desperate Housewives. Intinya, “jangan mencuri Ferrari, kalau anda tidak becus nyetir mobil !” Ucapan yang sama pernah diungkapkan oleh nenek saya ketika saya masih kecil. Nenek saya punya ungkapan yang mirip, “jangan jualan mie, kalau tidak tahu caranya membuat mie”. Ucapan ini membekas hingga kini. Dan selalu menjadi rambu terpenting saya sebagai seorang praktisi pemasaran. Saya pernah menjadi saksi bagaimana seorang pengusaha melecehkan seorang konsultan pemasaran. Karena dimata sang pengusaha, sang konsultan gagal memasarkan dirinya sendiri. Jadi bagaimana mungkin ia bisa memberikan konsultasi untuk memasarkan produk orang lain. Situasi yang serba sulit.

Minggu lalu dalam sebuah seminar pemasaran, saya kebetulan diberi tugas menjadi Moderator. Salah satu pembicara dalam sesi saya adalah Pranoto Widjojo, pemilik kosmetik Tje Fuk yang fenomenal. Iklan-nya jelek. Tapi produknya laku keras. Mereknya tidak neko-neko, tapi laris manis. Harga produknya tidak juga murah. “Night Cream”nya yang terkenal harganya satu buah 150 ribu. Seorang praktisi periklanan pernah mengkritik iklan Tje Fuk ketika iklan itu ramai ditayangkan MTV Indonesia Music Award dan MTV Indonesia Movie Award 2006. Ia menganggap iklan itu salah sasaran dan salah strategi. Iklannya ambruradul tapi yang dibidik adalah segmen konsumen yang sangat cerdas dan tanggap. Yaitu konsumen MTV.

Nyatanya kosmetik Tje Fuk yang dipasarkan sejak April 2004, hanya dalam tempo 3 tahun, menjadi buah bibir yang menyebar kemana-mana. Bak virus menular yang mewabah. Lalu apa formula keberhasilan-nya ? Ketika saya mewawancarai Pranoto dan diberi kartu nama miliknya. Akhirnya saya sadar bahwa sukses Tje Fuk, sangat sederhana. Pas pada ucapan nenek saya yang sama dengan kutipan Eva Longoria diatas. Menurut Pranoto, merek Tje Fuk diambil dari namanya Tje Fu Ku, yang disingkat. Naluri saya, ini bukan sembarang singkat. Boleh jadi Fuk diambil dari kepercayaan bangsa Chinese tentang 3 dewa – “Fuk Lu Shou”. Yaitu 3 dewa yang melambangkan, kebahagian, umur panjang, dan rejeki yang berlimpah. Kata Fuk dalam bahasa Chinese artinya rejeki, kurnia, dan kebahagian. Tje adalah nama keluarga Pranoto. Jadi Tje Fuk kemungkinan besar, artinya adalah rejeki.kurnia dan kebahagian Pranoto.

Kartu nama Pranoto yang sangat sederhana, menyebutkan bahwa Tje Fuk adalah Face Care Cosmetic. Bukan sesuatu yang lazim. Bukankah biasanya kebanyakan kosmetik menyebut dirinya SKIN CARE COSMETIC ? Secara nyeleneh Pranoto sebenarnya sudah keluar jalur, dan melakukan inovasi tersendiri. Karena menurut beliau, ide membuat kosmetik ini datang dari Ibunya yang senang bersolek. Menurut Pranoto, konsumen lebih mementingkan muka daripada kecantikan kulitnya. Itu sebabnya ia menganut komunikasi ‘tembak langsung’. Tidak belok-belok dan mutar-mutar. Di kartu nama Pranoto, jabatannya juga unik. Bukan CEO dan bukan pula direktur. Melainkan ‘Market Research & Development Manager’. Sebuah refleksi kesederhaan yang khas seorang entrepener sejati. Di balik itu tersembunyi sebuah filosofi yang sangat mendasar. Menurut Pranoto, yang paling penting adalah produknya. Itu intinya. Dan itu pula yang menjadi tekad dan ambisinya. Yaitu membuat kosmetik yang mujarab. Jadi jangan heran dengan jabatannya. Karena hal terpenting bagi Pranoto adalah kemampuan dirinya untuk membuat kosmetik bermutu yang benar-benar bermanfaat bagi konsumen. Pranoto benar-benar memberdayakan ucapan nenek dan Eva Longoria. Kompetensi Produk dan Pembuatnya sekaligus !

Ketika saya menyindir soal iklan-nya yang “tidak apik”, ia cuma ketawa. Ia mengaku bahwa semuanya itu adalah proses pembelajaran semata. Secara berseloroh, ia berkata bahwa untung saja kosmetiknya laku. Kalau tidak pasti ia akan bangkrut, karena sudah mengeluarkan biaya iklan sebanyak itu. Saya juga ikut tertawa menikmati selera humornya, dan gaya hidupnya yang serba gampang. Menurut Pranoto, keberhasilan produknya tidak semata dari iklan-nya saja. Tetapi menurutnya datang dari kejujuran. Contoh, ia menggunakan model iklan yang semuanya menggunakan kosmetiknya. Sehingga konsumen bisa langsung melihat hasilnya. Kejujuran yang sama membuat konsumen yang puas dengan hasilnya, justru ikut menyebarkannya dari mulut kemulut.

Pernah sekali, seorang ahli komunikasi memberikan saya sebuah wejangan yang unik. Katanya hanya ada dua iklan yang akan menarik perhatian. Iklan yang sangat bagus dan iklan yang sangat jelek. Membuat iklan yang sangat bagus susah sekali. Disamping biayanya mahal sekali, pesaingnya juga sudah terlampau banyak. Gagal membuat iklan bagus, akhirnya iklan anda akan menjadi iklan rata-rata. Orang dan konsumen akan kesusahan mengingat iklan anda. Sebaliknya karena tidak ada orang mau membuat iklan jelek, kalau ada iklan jelek muncul, ajaibnya justru iklan jelek itu yang akan di-ingat konsumen dan dibicarakan konsumen. Inilah efek penasaran yang menggelitik itu ! Ulah Pranoto, yang tidak sengaja membuat iklan “kurang apik”, justru menjadi berkah, bahwa iklannya dibicarakan dan diperdebatkan orang. Tetapi kejujuran dan kompetensinya membuat kosmetik yang sangat apik yang akhirnya mengubah persepsi orang terhadap “Tje Fuk”. Ketika konsumen sudah mencoba, dan melihat hasilnya, lalu menceritakannya kepada orang lain. Maka hal inilah yang akhirnya menjadi virus dan menular, secara persuasif mengubah pendirian konsumen.

Diakhir seminar, saya bertanya kepada Pranoto tentang apa gebrakan berikutnya. Lagi-lagi ia cuma tertawa. Karena menurut cerita Pranoto, ini baru langkah awal. Gebrakan selanjutnya sudah ada segudang. Jadi kita tunggu saja cerita berikutnya.

Thursday, November 08, 2007

Monday, November 05, 2007

SURAT DARI NEW YORK

Saat terkantuk-kantuk menunggu pesawat pulang dari New York ke Jakarta, di Airport Newark, tiba-tiba seorang pria setengah baya menyapa saya dengan ramah. Rupanya beliau adalah seorang pengusaha Indonesia, yang sudah lama tinggal di Hong Kong. Beliau juga sedang menunggu pesawat yang sama. Dan bersama beliau kebetulan ada seorang ahli fengshui dari Hongkong. Rupanya mereka berdua baru saja memberikan konsultasi fengshui kepada seorang pengusaha Indonesia yang memiliki sebuah apartemen mewah di New York.

Bertiga kami ngobrol dan bergosip ria, kekanan dan kekiri. Termasuk juga masalah perkembangan ekonomi di Indonesia. Ketika asyik berdiskusi, tiba-tiba ahli fengshui ikut nimbrung. Beliau memberikan sebuah perspektif unik. Konon menurut beliau sumber kekuatan Asia, datang dari 2 perlambang. Yaitu naga dan macan. Naga adalah Cina dan macan adalah India. Ini adalah 2 gerbang utama. Selama ini bertahun-tahun kedua pintu ini selalu tertutup. Pintu pertama, Cina atau sang Naga mulai terbuka secara perlahan-lahan. Dan hasilnya memang dahsyat luar biasa. Satu dekade terakhir ini, kita bersama-sama merasakan betapa Cina mulai mempengaruhi dominasi ekonomi dunia. India juga mulai membuka diri secara perlahan-lahan. Dalam waktu tidak lama lagi India dengan penduduknya 1 milyar lebih, juga akan menciptakan pengaruh dominasi yang tidak kalah dahsyatnya. Jadi bayangkan saja oleh anda apabila kedua gerbang Asia itu sudah terbuka lebar, dan kedua kekuataan itu bersaing dan atau menyatu.

Disamping 2 gerbang utama itu, Asia dipengaruhi oleh 2 mahluk mitologi yang lain. Disebelah kanan, Jepang, Korea dan Taiwan menurut ahli fengshui tadi disimbolkan dengan mahluk mitologi lain yaitu KIRIN. Konon menurut kepercayaan di ASIA, KIRIN melambangkan “kedamaian dan kemakmuran”. Dan kalau kita perhatikan secara seksama, ketiga negara ini, biarpun kecil luas negaranya, tetapi berhasil menjadi perlambang kekuatan manufaktur Asia, dari kapal, mobil, produk elektronik, komputer hingga robot. Ketiganya memang seringkali dianggap pasar yang lebih matang, dengan kekuataan ekonomi yang cukup raksasa. Di Jepang sendiri, KIRIN begitu populernya hingga menjadi merek bir yang terkenal.

Lalu bagaimana nasib ASEAN, yang terdiri dari 10 negara, dengan total penduduk diatas 500 juta, dan GDP diatas $ 700 milyar dan lintas perdagangan diatas $ 850 milyar. Percaya atau tidak menurut sang ahli fengshui, ASEAN memiliki perlambang mahluk mitologi “Phoenix” atau burung Hong. Konon menurut dongeng ini adalah burung yang abadi. Artinya mampu melakukan regenerasi sendiri. Di Asia, “Phoenix” dipercaya merupakan pertemuan antara yin dan yang – antara positif dan negatif. Juga “Phoenix” adalah perlambang rahmat kurnia dan kebaikan. Uniknya setiap kali terjadi peperangan, kemelut dan kekisruhan “Phoenix” akan menghilang, dan baru akan muncul ketika situasi kembali damai. Menurut sang ahli fengshui, ASEAN adalah faktor terpenting yang memberi energi dinamisme dan stabilisator terhadap seluruh kawasan ASIA.

Dengan pengertian 4 mahluk mitologi, naga, macan, kirin dan ‘phoenix’, saya merasa bertambah kaya dengan sebuah perspektif spiritual yang baru. Sang ahli fengshui juga melanjutkan, bahwa dalam bertempur di medan laga pemasaran, kita harus juga mahir menggunakan lima elemen atau ‘wu xing’, yaitu bumi, metal, kayu, air dan api. Bumi adalah pasar tempat dimana kita bertempur. Ada 2 asumsi pemasaran yang umum. Satu adalah pasar yang sangat jenuh dengan terlampau banyak pemain. Pasar dengan karakter ini biasanya sukar ditembus. Sebaliknya pasar yang perawan tanpa pemain sama sekali.

Pasar jenuh bisa di-ibaratkan dengan hutan lebat yang penuh pohon-pohon raksasa ( kayu + bumi ). Pasar yang perawan bisa diibaratkan lahan tandus, tetapi didalamnya kemungkinan dipenuhi dengan kekayaan tambang ( metal + bumi). Keduanya bisa kita masuki dan kita taklukan asalkan kita tau menggunakan energi yang pas. Pasar jenuh harus kita taklukan dengan elemen api. Ibaratnya membumi hanguskan para kompetitor. Ketika iPhone masuk pasar, mereka tidak merasa bahwa pasarnya jenuh, malah sebaliknya. Pasar sudah ranum dan siap dipanen. Tak heran apabila dalam waktu singkat iPhone terjual 1.4 juta unit. Kuncinya inovasi teknologi. Sebaliknya pasar perawan harus kita banjiri dengan air, sehingga menimbulkan erosi yang mencuci habis semua debu dan hanya meninggalkan metal yang berharga. Strateginya mirip Starbucks membanjiri dunia. Hanya dalam 20 tahun, Howard Schultz melakukan ekspansi budaya ngopi keseluruh dunia. Februari 2007, outlet Starbucks diseluruh dunia telah mencapai 13.000 lebih. Ketika kami dipanggil ‘boarding’ pesawat, kami melewati sepasang kakek nenek yang sedang asyik ‘nyeruput’ kopi panas. Dan sayapun merasakan kekuatan spiritual fengshui menyelimuti diri saya. Total dan komplit.