Tuesday, June 05, 2007
STRATEGI "BOCOR ALUS"
Isitilah sang wartawan menggelitik saya. Karena dalam pemasaran, bocor alus juga dikenal, terutama dalam pemasaran getok tular atau dari mulut kemulut. Gosip, rumor, dan sejenisnya menyebar jauh lebih cepat karena bocor alus. Contoh, seorang aktris terkenal terlihat mesra di Orchard Road, Singapura dengan seorang konglomerat. Walaupun tidak disebut namanya sekalipun, ketika saya mendengar gosip ini dipergunjingkan disebuah café, ternyata serunya bukan main. Sejumlah nama muncul dan dibahas satu demi satu. Yang kemudian akhirnya meruncing menjadi satu aktris. Beberapa teman sibuk SMS dan menelpon sumber gosip yang lain, hingga sejam kemudian gosip itu mulai terkuak dengan cerita yang semakin panas, karena mereka menemukan aktris dengan konglomeratnya sekali. Ajang ngopi yang tadinya cuma sejam, jadi melar 3 jam lebih. Pegawai café nampak bahagia sekali, melihat konsumennya asyik bergosip dan rajin memesan makanan. Andaikata gosip itu sudah terbeber jelas dan tidak bocor alus, maka ajang bergosip menjadi tidak lagi seru. Dianggap basi.
Bocor alus, adalah konsep, membocorkan hal terpanas, tanpa harus membeberkan detailnya. Namun bocoran yang biarpun sangat halus dan sedikit mampu memicu rasa penasaran yang sangat luar biasa. Sehingga orang akan termotivasi untuk menyebarkan dan membicarakannya menjadi sebuah isu yang sangat dahsyat. Sebuah restoran baru di Bulungan, Jakarta Selatan, menjadi pembicaraan seru teman-teman saya. Alasan-nya sederhana karena sambalnya pedas bukan main. Saking pedasnya, sampai-sampai diberi julukan sambal iblis. Lagi-lagi hanya gara-gara sambal, sebuah restoran dibicarakan dan digosipkan, sehingga orang penasaran mencoba restoran tersebut. Uniknya yang dibicarakan dan digosipkan mestinya adalah makanan-nya. Tapi mungkin hal itu tidak akan bikin orang penasaran. Lain-halnya kalau dibuat “bocor alus” soal sambelnya. Hasilnya memang beda.
“Cinlok” atau cinta lokasi, adalah sebuah idiom yang dikenal dalam pemasaran sebuah film. Biasanya ketika sebuah film dibuat, tanpa sengaja, terjadi cinta lokasi dimana pemain utama pria terlibat asmara dengan pemain wanita, maka inilah “bocor alus” yang terdahsyat yang diharapkan pemiliki film. Simak saja peristiwa “cinlok” antara Brad Pitt dan Angelina Jolie dalam film Mr. & Mrs. Smith ditahun 2005. Saat itu Brad Pitt adalah aktor terpanas dipasar. Demekian juga Angelina Jolie. Film Mr.&Mrs. Smith yang banyak dikritik datar-datar saja, ternyata mampu menduduki peringkat ke 10 box office tahun 2005, dengan penjualan global sebanyak 186 juta dollar lebih. Jauh melebihi film seperti “Cinderella Man” dan “Walk The Line” yang memenangkan oscar tahun itu. Konon “bocor alus” peristiwa cinta lokasi antara Brad Pitt dan Angelina Jolie, membuat semua orang sangat penasaran. Padahal saat itu Brad Pitt masih menikah dengan Jennifer Aniston, dan keduanya dianggap pasangan ideal Hollywood. Ketika film itu diputar, spekulasi sangat tajam, dan semua orang ingin tahu apakah keduanya akhirnya bakal berpisah ? Semua orang yang menonton juga ingin melihat sendiri sampai sejauh mana mesranya Brad Pitt dan Angelina Jolie didalam film itu. Dan hasilnya, memang “bocor alus” benar-benar mujarab.
“Bocor Alus” adalah cara murah mempromosikan produk anda. Rahasianya, cukup membocorkan sedikit dan yang penting-penting saja. Jangan sembrono membocorkan-nya terlampau banyak. Gosip dan rumor itu asyik, karena faktanya tidak jelas. Kalau sudah jelas terbeber semua, namanya bukan lagi gosip dan rumor. Kalau anda sudah berhasil menancapkan sesuatu kedalam produk anda, peliharalah dengan baik-baik. Pelihara agar tetap lengket keproduk anda. Karena sekali saja dia lepas, akan sangat susah mencari penggantinya. Di Surabaya, ada sebuah warung rawon yang terkenal. Menurut “bocor alus”-nya dikenal dengan rawon setan. Karena warung ini bukanya selalu menjelang tengah malam. Sempat digosipkan bahwa yang makan memang ‘setan-setan malam’. Pokoknya heboh sekali. Setelah sempat sangat terkenal, maka warung rawon ini buka cabang dibeberapa tempat. Termasuk di Jakarta. Belum lama ini warung rawon itu saya perkenalkan kepada teman saya. Minggu berikutnya ketika kami bertemu, saya bertanya apakah ia sudah mencoba rawon setan. Ia menggeleng sambil mengangkat bahu. Komentarnya pendek :”Wah, sudah ngak aneh lagi”. Selidik punya selidik, warung rawon ini buka sejak siang hari, sehingga para penggemarnya menganggap tidak pantas lagi ia menyandang gelar rawon setan. Sudah tidak “bocor alus”. Konsumen dan pelanggan merupakan alat efektif untuk menyebarkan komunikasi tentang produk anda. Mereka akan menyebarkannya secara sukarela dan gratis. Kuncinya anda harus bikin mereka penasaran. Salah satu caranya adalah dengan strategi “bocor alus”.
Friday, June 01, 2007
Wednesday, May 30, 2007
DIMANA NYALI KITA ?
Sayangnya nyali atau keberanian tidak dijual sepraktis dalam kemasan permen. Keberanian atau nyali lebih mirip dengan stamina. Bayangkan anda sedang dalam sebuah lomba marathon. Anda sudah berlari sekian lama, otot anda sudah nyeri dan pegal-pegal. Nafas anda pendek-pendek. Tubuh sudah mandi keringat. Dan didepan anda 100 meter lagi terlihat pita garis finish. Pada detik itulah, anda yang memutuskan. Menyerah dan menjatuhkan diri anda kebumi. Atau sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, mengerahkan semua otot dan tenaga anda untuk berlari lagi dan merangkul pita finish. Itulah nyali atau keberanian. Mirip extra stamina. Tidak semua orang memilikinya. Konon hanya para juara yang terlatih memiliki dan memahaminya.
Kabar baiknya nyali atau keberanian bisa dilatih. Tetapi syarat utama harus dipenuhi terlebih dahulu. Yaitu anda harus punya mental juara. Juara bisnis, umumnya punya naluri untuk masuk ke bisnis yang mereka yakin akan menang. Jadi misalnya ada peluang bisnis dengan resiko kecil, tetapi kita tidak memahami bisnis itu, jangan gegabah untuk mencoba masuk kebisnis itu. Pengalaman saya, lebih dari 70% bisnis yang gagal, kebanyakan disebabkan oleh gagal manajemen. Artinya peluangnya bagus, tetapi gagal karena manajemennya salah urus. Kadang latah dan ikut-ikutan menjadi penyebab gagal manajemen dalam kasus ini. Misalnya saja, sekarang sedang tren membuat toko donat, maka kita rame-rame ikut bikin toko donat. Karena kurang pemahaman, biasanya kita terjebak berbuat kesalahan yang terlihat sepele pada awalnya, lalu menumpuk menjadi kesalahan berlapis yang cenderung menjadi awal bencana.
Juara bisnis kadang, masuk kedalam sebuah bisnis yang beresiko tinggi. Tapi ia punya pengalaman dan pemahaman yang mendalaman. Dalam kasus ini, ia cuma mengambil posisi ”underdog” saja. Ibarat lomba mobil Formula One, ia tidak mendapat start didepan. Biasanya ia punya perhitungan untuk menyalib didalam pertarungan didepan. Itu sebabnya ia terlihat memiliki nyali atau keberanian. Nyali atau keberanian seringkali datang bukan karena nafsu yang sifatnya tiba-tiba melainkan karena perhitungan khusus, yang didapat para juara bisnis dari bertahun-tahun pengalaman.
Kalau anda ingin belajar punya nyali atau keberanian dalam bisnis, saya punya sejumlah tips yang saya kumpulkan dari para juara bisnis. Pertama-tama nyali atau keberanian, datang dari pengalaman dan kefasihan. Kalau anda sudah berpengalaman dan fasih naik sepeda, maka anda berani naik sepeda dengan gaya lepas tangan. Bayangkan dirumah anda ada tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai 2. Tangganya sedikit curam. Tetapi karena anda sudah sangat sering menggunakan-nya maka anda bisa saja naik dan turun tangga dengan setengah beralari dan cepat sekali. Jadi nyali dan keberanian, sumbernya adalah pengalaman. Yang anda harus lakukan adalah memberdayakan pengalaman anda. Ini langkah awalnya.
Kedua, juara bisnis selalu mulai dengan sesuatu yang kecil dan melakukannya perlahan-lahan. Istilah keren-nya ”starts small and slow”. Juara bisnis hampir semuanya memiliki rute sukses dengan pola ini, kecil dan perlahan-lahan. Pernah saya berdialog dengan seorang pengusaha tentang teori ini. Beliau menuturkan, bahwa dalam bisnis, hitungan yang paling penting adalah ”exit strategy”. Kalau bioskop atau gedung perkantoran, harus ada ”emergency exit”, maka dalam bisnis situasinya juga mirip. Dalam bisnis, ada pameo yang mengatakan ”jangan mudah menyerah !”. Seth Godin, pengarang buku ”The Dip” mengatakan hal itu adalah nasehat yang buruk. Justru menurut Seth Godin, juara bisnis, umumnya sangat paham dan ahli untuk menyerah. Bukan sembarang menyerah, tetapi menyerah pada waktu yang pas. Nah, kalau anda start bisnis dengan modal dan skala kecil, andaikata macet, maka dengan mudah anda bisa ”exit” tanpa harus menderita kerugian besar. Lagi pula sesuatu yang kecil lebih mudah dikendalikan daripada sesuatu yang besar dan kompleks.
Nasehat yang terakhir, rada unik. Menurut seorang juara bisnis, setiap bisnis pasti punya resiko. Ada yang besar dan ada yang kecil. Yang besar resikonya membuat kita tidak nyaman dan mengagalkan nyali atau keberanian kita. Tetapi kalau kita mundur, sebenarnya itu resiko juga. Bisa saja peluang itu akhirnya diambil oleh kompetitor kita, yang belakang hari bukan mustahil akan merepotkan kita. Kadang ini perhitungan yang sering diambil oleh para juara bisnis. Seorang pengusaha bercerita bahwa ia sering dikritik serakah dan tanpa perhitungan, karena banyak mengambil bisnis-bisnis resiko tinggi. Ia bercerita bahwa motif sesungguhnya adalah justru ia ingin memagari kompetitornya. Orang lain yang tidak tahu ceritanya, selalu menganggap ia bernyali besar. Padahal ia justru penuh perhitungan
Friday, May 25, 2007
ANCAMAN RESESI ?
Dalam beberapa hari belakangan ini, media cetak di
Pandita Ekonomi Alan Greenspan sendiri, sejak Februari 2007, telah memperingatkan bahwa ekonomi Amerika yang terus menggelembung sejak tahun 2001, kemungkinan besar akan masuk keakhir siklus pertumbuhan dan akan melambat. Konon eknomi Amerika sendiri tumbuh spektakuler sebesar 3.5% di kwartal terakhir 2006. Namun tanda-tanda melemahnya ekonomi Amerika mulai terlihat. Diantaranya keuntungan perusahaan yang mulai stabil dan tidak tumbuh. Alan Greenspan juga merisaukan defisit bujet ekonomi Amerika, sebesar 247 milyar dollar lebih. Angka defisit terbesar selama 4 tahun terakhir ini. Alan Greenspan secara konservatif meramalkan perlambatan ekonomi Amerika setelah 2007, dan mungkin akan terasa semakin nyata tahun 2008 berikutnya.
Bila Amerika mengalami resesi, maka daya beli konsumen Amerika menurun. Padahal secara global Amerika adalah salah satu konsumen global terbesar. Bayangkan kalau Amerika mengurangi impornya dari Asia. Cina kemungkinan besar akan mendorong produknya kepasar lain, seperti Asean. Eksportir Indonesia kemungkinan juga akan kehilangan sebagian pasarnya. Sedangkan Cina akan menyerbu pasar lokal kita dengan produk-produk yang sangat murah. Industri dalam negeri bisa terganggu. Dan anda bisa bayangkan sendiri akibatnya setelah itu.
Ketika artikel ini ditulis, rupiah secara perkasa bertengger di 8.800. Artinya dolar Amerika memang melemah dibanding rupiah. Seorang pialang bergurau kepada saya bahwa bukan rupiahnya yang perkasa, tetapi memang dolar Amerika yang sedang melemah. Beberapa eksportir ikut mengeluh, karena melemahnya dolar, membuat penerimaan rupiah mereka semakin sedikit. Keuntungan otomatis menjadi menipis. Untuk naik harga hampir tidak mungkin. Buat mereka ini situasi yang dilematis.
Lalu, secara mengejutkan BPS mengumumkan bahwa di Indonesia pada bulan April, telah terjadi deflasi sebesar 0,16 %. Setidaknya 30 kota di Indonesia tercatat, penurunan harga barang, dan jasa disektor bahan makanan, dan kelompok pendidikan, olahraga dan rekreasi. Saya berdoa, tanda-tanda deflasi ini bukan trend tetapi koreksi harga saja. Misalnya terhadap melemahnya mata uang dolar. Bila tebakan saya salah, dan deflasi menunjukan trend baru, maka secara awam bisa disimpulkan, permintaan pasar sangat lemah, sampai-sampai produsesn menurunkan harga. Ini sinyal sangat berbahaya, karena deflasi ini bisa menjadi tanda-tanda bahwa ekonomi Indonesia juga ikut melambat.
Secara makro, ekonomi Indonesia memang terlihat sangat perkasa. Tetapi secara mikro, ekonomi Indonesia dikritik tidak memercikan insentif-insentif pertumbuhan yang sehat. Konon gara-gara gencarnya gerakan pemberantasan korupsi akhir-akhir ini, juga tanda-tanda bahwa semakin banyak pejabat dan bekas pejabat yang diseret masuk penjara, maka proyek-proyek di daerah ikut cenderung menurun. Tak heran kalau seorang pejabat membisiki saya bahwa Bank Pembangunan Daerah juga sulit mengucurkan dananya untuk proyek. Malah demi aman-nya banyak Bank Pembangunan Daerah yang menyimpan dananya di SBI mengikuti jejak bank swasta. Jumlah simpanan Bank Pembangunan Daerah di SBI mencapai 34.5 trilyun rupiah. Bandingkan dengan bank umum yang menyimpan di SBI sebesar 364 trilyun lebih.
Bayangkan kalau separuh dari jumlah itu sekitar 200 trilyun dikembalikan ke sistim ekonomi kita dalam bentuk proyek-proyek yang bisa memotivasi pertumbuhan ekonomi. Pasti dahsyat bukan main. Yang membuat saya miris adalah pemberdayaan ekonomi yang juga masih lemah. Seorang distributor produk-produk konsumen di Jawa Barat mengaku pada saya belum lama ini, bahwa jumlah penjualannya terus menerus menurun dari November 2006 hingga April 2007. Tiap hari ada saja yang mengeluh soal ekonomi. Ada sarjana yang lulus dari perguruan tinggi terkemuka di Yogya, sudah hampir setahun masih luntang lantung di Jakarta. Kepada saya ia mengaku sudah bosan menulis surat lamaran setiap hari. Panggilan interview tak kunjung datang. Selama hampir setahun, ia kerja serabutan. Uniknya lowongan kerja yang tersedia baginya adalah justru menjadi guru. Tetapi sayang hatinya tidak terpanggil untuk menjadi guru.
Pada akhir pekan lalu, iseng-iseng saya dan Mpu Peniti jalan-jalan disebuah mall baru. Semuanya serba ramai, terutama di semua restoran yang ada. Penuh sesak dengan pengunjung. Tidak terasa sama sekali bahwa ekonomi bermasalah. Ketika kami berdua makan disebuah restoran, saya sempat berkelakar dengan sang pelayan bahwa bisnis luar biasa bagusnya. Sang pelayan malah tersenyum kecut, karena menurut dirinya restoran cuma ramai diakhir pekan saja. Hari-hari biasa, bisnis sama sekali tidak ramai. Barangkali ungkapan sang pelayan benar adanya. Ketika pulang, di depan lobby sambil menunggu mobil, kami memang melihat jarang sekali ada konsumen yang menjinjing tas belanja. Mungkinkah kebanyakan konsumen hanya cuci mata saja, dan rekreasi makan-makan.
Diperjalanan pulang menuju rumah, hampir disetiap perempatan jalan utama, kami menjumpai pengemis dan pengamen. Jumlah mereka cukup banyak. Bukan hanya orang tua yang mengemis dan mengamen tetapi juga anak-anak kecil. Mpu Peniti menarik nafas dalam-dalam. Beliau menuturkan bahwa kita telah kebal dengan situasi. Panca indera kita mati rasa. Sementara sayup-sayup diujung jalan lain kami berdua melihat pejabat dikawal polisi melintas cepat. Pasti pejabat tinggi pulang rumah. Menurut Mpu Peniti ada baiknya pejabat sekali-kali tidak dikawal. Biarkan mereka lewat di lampu merah seperti orang biasa. Mereka perlu melihat pengemis dan pengamen itu. Agar mereka merasakan bahwa realita ekonomi bukan hanya yang dilaporkan diatas kertas dan koran. Realita ekonomi kita masih memiliki kegureman yang perlu diperjuangkan. Diantara ketidak seimbangan itu, bulu kuduk saya berdiri semua. Tak terbayang oleh saya, kalau ramalan-ramalan itu terbukti, bahwa kita diambang krisis moneter berikutnya, dan resesi mengancam kita. Duh, apa kata dunia ?
Sunday, May 20, 2007
Sunday, May 13, 2007
KETIKA KITA BERDOA
Dalam sebuah acara pernikahan, sebelum acara, MC mengajak para hadirin berdoa bersama. Seperti biasa MC memperkenalkan tokoh yang akan bertindak sebagai pemimpin doa. Kebetulan yang akan memimpin doa adalah seorang petinggi agama. MC pun mengumumkan bahwa doa kali ini sangat istimewa karena dibawakan oleh sang petinggi agama. Seolah-olah nilai dan mujizatnya melebihi doa yang dibawakan orang-orang biasa. Para hadirin disekeliling saya, juga berbisik-bisik, karena sependapat dengan sang MC bahwa doa kali ini, memang super istimewa. Peristiwa ini sangat mengusik sanubari saya.
Seingat saya; bukankah ada pepatah lama yang justru mengatakan bahwa doa dari orang tua adalah doa yang paling mujizat dan bertuah. Sama juga dengan kutukan orang tua kepada anaknya yang durhaka, konon dikenal paling celaka. Mungkin inilah tradisi yang kita hayati selama ini, bahwa masyarakat kita masih lengket dengan ritual-ritual bergengsi. Nikah harus dinikahkan oleh petinggi agama yang beken. Doa harus dibawakan oleh petinggi agama yang ternama. Acara pembukaan harus dibuka oleh pejabat tinggi. Dan seterusnya. Sampai-sampai kegiataan kampus, juga tidak terbebas oleh ritual semacam ini. Sering saya menyambangi kampus untuk sebuah kegiataan sederhana. Tapi ketika acara mau dimulai minimal yang pidato ada 3 pihak, mulai dari ketua panitia, wakil mahasiswa, dan wakil universitas. Kadang kita jadi risih dan jengah dengan acara protokoler yang nyelimet seperti ini.
Walaupun demikian ritual kadang-kadang dibutuhkan juga dalam manajemen. Seorang manajer restoran punya kisah yang lucu. Di restorannya ada menu khusus, yaitu daging yang dibuat “steak” dan dihidangkan dalam pingan panas yang diisi batu-batu koral. Tujuannya agar daging “steak” tidak cepat dingin. Pada awalnya, teman saya mengeluh karena batu-batu koral ini hilang melulu, karena ketika pinggan dicuci, tukang cuci secara sembrono membuang batu koral. Mereka malas mencucinya. Teman saya kesal sekali. Akhirnya ia mencari akal. Suatu hari ia mendatangkan seorang tokoh agama. Lalu didatangkanlah batu-batu koral baru. Ketika datang batu koral ini, sudah dicuci sangat bersih dan dibungkus kain putih. Setelah itu dilakukan upacara dimana ada selamatan khusus, lengkap dengan nasi tumpeng, dan tokoh agama itu berdoa sambil memberikan berkat kepada batu-batu koral tadi. Cerita yang ditiupkan adalah, selamatan dilakukan agar restoran tetap laris manis sepanjang masa.
Uniknya setelah itu tak ada satupun batu coral yang hilang. Batu-batu koral benar-benar dianggap barang suci. Semua takut durhaka kepada sang batu tersebut. Sehingga batu-batu koral tersebut dihargai dengan penuh hormat dan respek. Mirip barang bertuah yang keramat.
Ada cerita lain. Sebuah proyek pembangunan gedung akan segera dimulai. Selamatan dan sesaji sudah disiapkan. Apa dikata sang petinggi agama yang diberi tugas untuk membaca doa, berhalangan hadir. Konon kabarnya sedang sakit perut dan terkena diare berat. Sang petinggi agama mengirim wakilnya. Masih sangat muda. Wajahnya imut-imut dan lebih mirip bintang film. Sangat tidak meyakinkan. Padahal ini proyek ratusan milyar. Bisa berbahaya, kalau para pekera kehilangan kepercayaan terhadap yang mendoa-kan dan doa yang nanti diberikan. Gawat, setiap kecelakaan dimasa mendatang bisa dihubungkan dengan doa yang tidak manjur tadi. Mencari pembaca doa yang kharismatik secepat itu juga tidak mungkin. Harus ada strategi pintas. Bos pemilik gedung, akhirnya nekat. Ia menyuruh supirnya untuk menjemput ayah dari sang supir, yang kebetulan usianya sudah sangat sepuh, rambutnya sudah putih semua. Tapi wajahnya memang meyakinkan. Sangat berkharisma seperti tokoh agama yang sangat sakti. Maka sang ayah dijemput segera. Ketika datang sang ayah sudah memakai baju serba putih-putih, dan berkopiah putih, juga berselempang kain putih. Pokoknya tampil sangat berwibawa. Sang ayah ketika datang, langsung disambut istimewa, dan dipapah jalan kepodium. Ketika menyampaikan doa, beliau sudah diberi tahu jangan bersuara, tapi berdoa bisik-bisik saja. Luar biasa sekali. Suasana pada saat doa sangat tenang dan khsusuk sekali. Semua orang bingung, bertanya-tanya siapakah tokoh misterius ini. Gosip disebar bahwa ia adalah seorang petinggi agama yang sakti dari sebuah pulau terpencil. Hasilnya memang sakti luar biasa. Proyek berjalan aman dan tepat waktu.
Ketika cerita ini saya ceritakan kepada seorang teman yang memiliki sebuah perusahaan, ia tertawa lebar. Karena ia juga korban sindrom “pembaca doa”. Saat perusahaan berkembang sangat cepat, ia selalu yang menjadi andalan untuk memecahkan segala macam problem. Lama kelamaan semua orang bergantung kepada dirinya. Apapun yang terjadi semua menunggu ia memperlihatkan kesaktiannya. Ia menjadi kultus yang mirip dengan “petinggi agama yang beken”. Semua orang menunggu doa-nya. Hanya doa darinya yang dianggap sakti dan mujarab. Bertahun-tahun ia mencoba mengelak. Dengan memotivasi para staffnya untuk kreatif dan berkembang independen. Ia juga sudah mengangkat “pembaca doa” yang baru. Bukan satu tapi beberapa orang sekaligus. Tapi usahanya belum juga berhasil. Ia masih dianggap pandita sakti, yang mampu menghasilkan doa-doa sakti.
Dalam manajemen, ritual memang penting dan berpengaruh. Kemanjuran sebuah usaha malah tak jarang dinilai dari ritualnya. Terkadang pula ritual ini mengaburkan nilai-nilai strategi manajemen yang sesungguhnya.
Thursday, May 10, 2007
Monday, April 30, 2007
KELEMBUTAN
“I cannot teach you violence, as I do not myself believe in it. I can only teach you not to bow your heads before any one even at the cost of your life.” - Mahatma Gandhi
SEORANG teman saya terkenal punya sifat emosional. Ia memiliki julukan sumbu pendek, semasa kuliah dulu. Berkali-kali kami ikut berkelahi hanya gara-gara membela dirinya. Belum lama ini, ketika berjumpa kembali dengannya, saya melihat perkembangan luar biasa. Ia jauh dari kesan emosional. Suaranya perlahan, tertata, dengan kesabaran dalam. Saya dan teman-teman mendesak dirinya untuk bercerita.
Alkisah, usai kuliah ia jatuh cinta pada seorang gadis Jawa dari keluarga terpandang. Sistem pendidikan di keluarga ini keras sekali, sehingga si gadis Jawa itu halus dan sabar luar biasa. Teman saya menganggap gadis Jawa ini serba lelet. Entah kenapa, Tuhan punya rencana sendiri. Mereka menikah juga, di Eropa, ketika keduanya kuliah pascasarjana.
Selama 10 tahun menikah, mereka terombang-ambing prahara. Maklum, teman saya itu ketika kuliah terkenal sebagai playboy. Namun, perkawinan itu selamat hingga kini. Teman saya ahirnya berubah. Kini, ia dikenal sebagai pemimpin penyabar, juga arif dan bijaksana.
Ia menyebut ilmu istrinya sebagai manajemen kelembutan. Teman-teman yang mendengar cerita ini terharu, dan manggut-manggut. Ceritanya memang luar biasa: bagaimana kelembutan bisa mengubah perilaku.
Saya ingat ajaran klasik Cina dari I Ching. Intinya, bila alirannya tertahan, air akan berhenti sejenak, menambah volumenya, akhirnya meluber melewati rintangan. Barangkali inilah yang diperlukan Presiden Amerika, George Bush, agar mau sadar dan menyurutkan niatnya berperang melawan Irak.
Manajemen kelembutan memang unik. Saya ingat ajaran mentor saya, Mahatma Gandhi, tentang ahimsa, yaitu cinta dan damai. Gandhi percaya, ahimsa dapat merangkul siapa saja, kekuatannya dahsyat tanpa batas. Kita mungkin sukar percaya bahwa sesuatu yang lemah dan lentur mampu mengalahkan yang keras. Sebab, sejak kecil secara fisik kita diajari: hanya benda keras seperti palu dan martil yang bisa memecahkan batu dan tembok.
Kekuatan ahimsa secara filosofis adalah pada pandangan bahwa tak semua musuh harus ditumpas. Ahimsa menawarkan alternatif, daripada menghancurkan musuh, lebih baik merangkulnya dengan cinta dan damai.
Teman saya bercerita, ketika pertama kali istrinya tahu ia berselingkuh, sang istri memperlihatkan lebih banyak cinta dan damai. Mulanya ia senang-senang saja, menganggapnya bodoh dan lemah. Lama-lama ia malu sendiri. Akhirnya ia sadar, yang sesungguhnya bodoh dan lemah adalah dirinya sendiri.
Ia lalu menerapkan manajemen kelembutan di kantor. Anak buahnya, dan para stafnya, awalnya kaget. Kalau biasanya ia memarahi staf yang berbuat salah, kini ia berbalik mengajarkan di mana letak kesalahan itu, dan menjelaskan hal yang benar. Ia tak menjadi palu atau martil yang menghancurkan.
Anak buah dan para stafnya pun senang karena mereka belajar banyak dari kesalahan yang mereka perbuat. Yang paling ajaib adalah terciptanya budaya malu. Perlahan tapi pasti, manajemen kelembutan itu menunjukkan hasil yang jitu.
Suasana kantor juga menjadi baik. Politik kantor menurun. Gosip makin hilang. Produktivitas pun ikut tumbuh dengan sehat. Kami bisa melihat hasilnya pada teman saya yang berubah 180 derajat. Hanya saja, perlu diingat, manajemen kelembutan bukan berarti kita menjadi plin-plan dan tidak tegas. Buktinya adalah Gandhi sendiri yang tetap tegas dan konsisten menjalankan ahimsa, walau harus membayar mahal dengan nyawanya.
Ketika Gandhi akhirnya tertembak mati pada 25 Januari 1948, Albert Einstein berkomentar: di masa-masa mendatang, generasi penerus kita akan sulit percaya bahwa pernah ada manusia seperti Gandhi.
Wednesday, April 25, 2007
Wednesday, April 18, 2007
STRATEGI NEMPEL
Sunday, April 15, 2007
Friday, April 13, 2007
HARUS YAKIN
Thursday, April 05, 2007
EKONOMI KREATIF
Tempo Magazine
No. 45/VI
July 11 - 17, 2006
Stifling Creativity
Several countries are triggering the development of their respective creative
industries. The government however is still dilly-dallying.
IN a European-style "castle," hundreds of young people are thinking and
working hard in front of computer screens. With their skilled hands, several
animated films have been created and these have already penetrated the US and
European markets. Two of these hard-working young people have even been rewarded
with international prizes.
Carlos Adventure was named the best animated children's film serial at the
International Animation Festival in Tenerife, Spain, in 2002. Another film, Jim
Elliot Story, received a Golden Remy Award in the 2006 international film
festival film in Houston, Texas, USA.
Perhaps you will find it hard to believe that these two films were not
created by film kings in America or Europe, but rather by the hands of two creative
young people aged between 20 and 30. They only work in a five-floor ruko
(shop-house) in the Pasar Baru area of Jakarta, which is better known as a shopping
center for textiles and shoes.
This is where Castle Production, which was set up in 1998, has its
headquarters. According to Ardian Elkana-both owner and head of this animation studio,
the largest in all of Indonesia-in the period of a year, Castle produces 13
episodes of 2D animated films and 13 episodes of 3D animated films. For the past
six years, all of these films have been exported and financed by foreign
institutions.
Financing has come from several European countries, such as Spain, France,
England, Germany and Switzerland. The producers and scriptwriters come from
America. "There's no one domestically who is capable of covering the costs
involved," said Ardian, who has a Master of Business Administration degree from the
University of Chicago, USA. This is easy to understand, bearing in mind that
the tariff level per episode is US$40,000 (around Rp370 million).
This tariff is in fact quite small when compared to the level of tariffs of
US animation giant, Disney, which reach some US$300,000. But, due to the fact
that the tariff is low, Indonesia is attracting the attention of financiers who
have started to move their orders from Korea and Taiwan-which are already
considered to be too expensive-to India, China or the Philippines.
Unfortunately, Indonesia is not able of making the greatest use of this
unexpected opportunity. One of the obstacles is the limited amount of qualified
human resources in the animation sector. Compare this with the situation in
India. There, at least 400 animators work in the country's largest animation
company. Not surprisingly therefore, hundreds of animated films can be created and
supplied every year to MGM, Disney or even Universal.
There are also vast opportunities for Indonesia's creative industry in the
multimedia and graphic design sectors. PT Elasitas, which was set up by Calvin
Kizana, 32, certainly showed this by creating the website for Nokia, the
cellular telephone company from Finland.
The design of the Nokia bookmark created by this programmer, who has worked
in both Singapore and the US, has already been translated into 17 languages and
is now used in a total of 35 countries. Because of this success, the company
has continued to develop. Whereas at the start, it only had one computer and
one employee, there are now already 60 workers.
Another source of wealth is its product package-design capability. In this
sector, Indonesia's performance has actually been very encouraging. Proof of
this can be seen in the fact the packaging design for Wall's Ice Cream created by
PT AdMire has been exported to Thailand. As regards price, the owner of
AdMire, Andi S. Boediman, acknowledged that the cost of product and packaging
design in Indonesia is far cheaper than the cost of services offered by foreign
design companies. In Indonesia, one piece of design work is only worth between
Rp10 million and Rp25 million, while for the design of one Blue Band margarine
can in England, the tariff reached Rp800 million.
Andre, who is Chairman of the Digital Graphics Forum, has also pointed out
that Indonesia needs to clean house as soon as possible in order that it will be
able eventually be capable of competing within the global creative industry.
This is because, according to the creator of the first animated logo for the
Seputar Indonesia program on the RCTI television station 10 years ago,
"Compared with Thailand and Malaysia alone, we are already five to 10 years behind."
l l l
THE creative industry, which is based on creativity, expertise and individual
skill, has the potential to bring in prosperity and more new jobs. From the
results of mapping carried out in England, starting from 1998, it is known that
this industry can be regarded as the fastest growing.
In 2002, this sector, which is based on intellectual property rights,
contributed 7.9 percent of England's gross domestic product (GDP). During the
1997-2000 period, this sector grew at an average rate of 9 percent per year-far above
England's average economic growth rate of only 2.8 percent. Every year, this
sector provides new jobs for more than 1.9 million people.
According to Andi, this is the fourth stage in the economic development of a
nation, after going through economic periods based on agriculture, industry
and information. In England, there are 13 sectors in this industry category.
They include advertising, architecture, design, film, music, the performing arts,
television and radio, plus computer services and software.
In terms of development, the growth of the creative industry has been truly
astonishing. Just consider the market value of IBM, Intel and Microsoft.
Together, they are worth 2.3 times more than the automotive industry. Consider also
film giant Disney, whose corporate value has grown from US$2 billion to US$22
billion in a space of only 10 years.
It's even more amazing when one looks at the economic potential that can be
produced by the global games industry. The market value by 2004 alone had
already reached US$20 billion (approximately Rp186 trillion). Even more fantastic
is that this was achieved in a period of only 20 years-growth that was more
than three times faster than that achieved by the Hollywood film industry.
This rapid growth of the games industry was a true blessing for Europe. From
payments for downloads alone, it is estimated that this region will earn
approximately US$2 billion (around Rp18.6 trillion) in 2007, with an annual growth
rate of 25 percent.
Several countries in Asia are also active in the development of their
respective information and digital industries. These include India, Japan, Korea,
Hong Kong and Taiwan, and all have very bright futures. In India, for example,
last year the animation industry had already earned a total of US$1.5 billion
(approximately Rp14 trillion), and will experience annual growth in the region
of 30 percent. In addition, there are the proceeds from between 700 and 800
films that are produced every year.
Aware of this huge future potential, Singapore continues to organize. The
city-state has presented a program planned to develop a creative industrial
center, which is referred to as a creative cluster. The three creative industry
clusters to be developed include media (the Media 21 cluster), design (the Design
Singapore cluster) plus arts and culture (the Renaissance City cluster).
Through this program, the economic base of Singapore will move from an
information economy to a creative economy, by blending together technological
creativity, economic creativity and creativity encompassing arts and culture. The
target is for the contribution from the creative industry to Singapore's GDP to
rise from its current level of 3 percent to between 6 and 7 percent by the
year 2012. "The wish of Singapore is to become what it calls the Renaissance
City, which will eventually be the center of modern Asia," said Linda Hoemar
Abidin, Chairperson of the Administration Board of the Kelola Foundation.
So what does the future hold for Indonesia? Apparently the country's creative
industry has not yet received sufficient serious attention from the
government. "Until now, bureaucrats have only paid any attention to anything that has
an economic source base," said business observer Kafi Kurnia. In fact, the vast
creative potential that is possessed by Indonesia could produce added value
for the economy.
Just consider the potential of the batik, furniture, painting and sculpture
companies stretching across the islands of Java and Bali. Up to now, many
people's companies are in suspended animation but they keep going. As a result, the
added value created by many is now being enjoyed by foreign companies. As an
example, Kafi pointed out that in a boutique in Las Vegas, USA, a single
kebaya (traditional blouse) from Indonesia is for sale with a price tag of some
Rp200 million!
In economic terms, the contribution from the film industry can also be said
not to be that small. Many people have jobs in the production process of
domestic films, of which last year a total of 50 were produced. And remember, the
government has earned its share form these as well. How? Because approximately
20 percent of the proceeds of cinema ticket sales have to be paid in taxes.
This means that from one film alone, for example Ada Apa dengan Cinta, which
earned somewhere around Rp24 billion, approximately Rp5 billion found its way
into the state's coffers. "Half of this was absorbed by the regions," said
Mira Lesmana, producer. "Regional governments are not however aware of this."
Based on this state of affairs, the British Council has started to collect
data on Indonesia's creative industry. From this, according to Yudhi
Soerjoatmodjo, Art Manager of the British Council, "We will end up knowing just how
important its contribution is to the Indonesian economy." -- Metta Dharmasaputra
Wednesday, April 04, 2007
ANTI BISNIS
Ini pertanyaan yang menggugah. Karena sesungguhnya memang ada juga “anti bisnis” dalam tanda kutip. Atau pengembangan usaha secara lateral. Kalau kita mau meminjam istilah Edward de Bono. Pionir pemikiran lateral. Beberapa jenis usaha sudah memperlihatkan fenomena dan gejala anti bisnis. Misalnya saja di bisnis “kesehatan” atau “healthcare”, konon bisnis utama yang dulunya adalah merawat dan menyembuhkan orang sakit, kini diancam oleh “anti bisnis”-nya yaitu “wellness”. Bisnis untuk mencegah orang sakit. Bisa anda bayangkan sendiri, berapa potensi dan peluangnya, orang-orang yang takut jatuh sakit. Pasti akan jauh lebih banyak dibanding dengan orang sakit. Seorang dokter berkelakar kepada saya, bahwa saat ini dokter tugasnya adalah merawat orang sakit. Tapi dengan kemajuan teknologi, dan perubahan persepsi, tugas dokter tidak lama lagi, akan terbalik. Yaitu merawat orang sehat agar jangan sampai sakit. Fenomena inilah yang disimpulkan sebagai “anti bisnis” yang baru.
Mpu Peniti pernah punya mengolok-olok saya. Suatu hari saya mengajak beliau bersantai ngopi di Starbucks. Saat kami sedang asyik menikmati kopi. Mpu Peniti juga asyik melihat suasana sekeliling. Disebuah pojok beberapa ibu-ibu sedang asyik bergosip ria, sambil merokok bersama-sama. Dibeberapa pojok yang berbeda, ada pula sekelompok anak muda yang sedang bercanda riang. Tak ketinggalan ada beberapa pasang muda-mudi yang nampak asyik berpacaran. “Ini, edan total”, begitu sanggah Mpu Peniti. Menurut beliau, dulu ngopi semata-mata adalah kegiatan untuk menghilangkan ngantuk. Bangun pagi, kalau ngantuk, dan masih lesu, maka kita minum kopi. Pas dengan fungsi kopi sebagai stimulan. Eh, sekarang terbalik. Kita justru ke café, untuk relax sembari minum kopi. Kalau dipikir-pikir betul juga analisa beliau. Konsep terbalik seperti ini justru malah sukses.
Jangan-jangan, kemunculan film-film horor yang sedang laris manis saat ini, juga fenomena “anti film” yang baru. Bayangkan saja, dulu kalau kita nonton film kita justru pengen mendapatkan hiburan. Film komedi membuat kita tertawa. Film action membuat kita tegang. Dan film drama membuat kita menangis. Tertawa, tegang dan menangis merupakan pakem lama film yang mendefinisikan hiburan yang melegakan. Kriteria kita menonton film juga cukup kompleks, mulai dari jalinan cerita, aktor dan aktris terkenal yang menjadi pemeran utama, hingga musik dan sutradaranya. Tapi kalau film horor, mungkin semuanya bertolak belakang dengan semua pakem itu. Seorang psikolog anak, mengatakan pada saya, bahwa serem dan kaget adalah jenis hiburan baru. Ironisnya seorang sutradara film menuturkan bahwa membuat film horor saat ini, jauh lebih mudah. Jumlah hari untuk shooting biasanya lebih pendek. Aktor dan aktris tidak perlu terlalu yang terkenal sekali. Karena tuntutan berakting seringkali juga lebih sederhana. Yang penting bisa berteriak dan memperlihatkan ekspresi muka ketakutan.
Dalam bisnis media, juga sudah muncul banyak “anti televisi”. Misalnya saja MTV. Yang menyuguhkan musik seratus persen. Atau CNN yang menyajikan berita terus menerus. Konon baik MTV dan CNN lebih mirip dengan akuarium. Hampir tiap kamar tidur anak-anak remaja di kelas menengah atas, selalu akan ada TV kecil. TV kecil ini mirip akuarium. Biasanya sepulang sekolah, ketika mereka masuk kamar dan mengerjakan PR, mereka menyalakan TV dan saluran yang mereka pilih adalah MTV. Kalau mereka menyetel saluran lain, mungkin perhatian mereka harus terpaku kepada TV tersebut. Lain dengan MTV, cukup kita dengarkan musik dan lagunya. Sang remaja masih bisa mengerjakan kegiataan lain. Kalau kebetulan musiknya enak, sang remaja baru menoleh dan menyimak MTV. Bila tidak ia lanjut mengerjakan kegiataan lain. Saya mengalami hal yang sama dengan CNN. Setiap kali bertugas keluar kota, masuk hotel, otomatis ketika saya menyetel televisi, CNN menjadi opsi pertama saya. Betul-betul mirip akuarium. Yang menemani saya agar tidak sepi. Sayapun hanya sesekali melihat dan menyimak CNN, itupun kalau saya mendengar berita yang menarik buat saya. Selebihnya biasanya CNN hanya menemani saya, saat saya bekerja di komputer jinjing saya. Televisi yang tadinya memaku perhatian kita dengan membuat kita menonton, kini kehadirannya diperkaya dengan “anti televisi” yang hanya membuat kita sesekali menonton. Selebihnya mereka hanya menjadi teman akrab yang mirip dengan akuarium. “Anti bisnis” baru menjadi fenomena yang tabirnya terbuka sedikit demi sedikit. Untuk bisa memanfaatkannya, memang anda harus berpikir lateral. Bukan horizontal atau vertikal biasa.
Thursday, March 29, 2007
Sunday, March 25, 2007
KAFI KURNIA - The Laughing Marketing Guru
Jakarta Post - Features - August 20, 2003
T. Sima Gunawan, Contributor, tabita@cbn.net.id
Kafi Kurnia was talking about corruption during a radio program last week when he suddenly burst into laughter. One of the listeners, became upset and immediately called the radio station to warn him to be more serious in addressing such problems.
Kafi apologized, explaining that he had no intention to laugh at anyone.
Indeed, Kafi laughs a lot. He attributes his ability to laugh, even during the hard times, to John Irving. "He talked about tragedy in his books, but still he could make us laugh at his dark humor."
But Kafi's own story is far from tragic. At 43, he is known as a successful consultant in the fields of communication and marketing. A managing director of Interbrand, and a consultant for a Singapore-based company, he is often invited to speak at universities around the country. Every Wednesday he talks on the radio and he writes regularly. A collection of his writing was published in 2001, and his second book will hit the shelves next month.
He used to work for the Hero Group and moved to another company -- which holds the license for Levi's, Nike and other international brands -- before he established his own consulting firm.
Among his clients are government offices, including the Ministry of Health and the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries. He was asked for his advice on humanitarian programs in Aceh. And the Ministry of Maritime Affairs asked him to devise promotional strategies for the launching of the year of the sea.
The government, he said, lacks the skills needed to promote their own program.
"It's not that we are a low profile nation. Actually that is just a myth. Many of us are actually very high profile," he said.
One of the reasons why government officials lack in promotional skills, according to Kafi, is because of the centralized bureaucracy. Civil servants are accustomed to asking for petunjuk, or direction, from their supervisor and will not act on their own initiative.
He said that some programs promoted by the central government were very successful -- such as the family planning program -- as Indonesia was able to sharply curb its population growth. The claim of some activists, who said that coercion was used in the implementation of the program, was just a reflection of the era.
"Well, if the officials got results at any cost, was that so unusual? At that time it happened."
Kafi has a great interest in politics and the economy. He could happily spend hours discussing potential next-presidents. And he enthusiastically argues that Indonesia needs the leadership of an entrepreneur, in order to establish the welfare of the people.
"We have so many excellent commodities we could sell internationally, unfortunately, we cannot sell them," he lamented.
His first lesson in politics was from William Booth, the founder of the Salvation Army -- which opened many schools across the country. Booth believed that it was impossible to teach the people about salvation if they were hungry.
"This dependency is also the case with politics and the economy. They are one. Politics can not work without money," Kafi said on Friday, while having his lunch - spaghetti bolognaise, mango juice and an espresso - at a five-star hotel cafe in the heart of Jakarta.
Wasn't he afraid of a bomb attack?
"I was thinking of boycotting such places, not because of the bomb threat, but because of the excessive yet inappropriate security measures. There were times when I was checked not by a bomb detector, but by a metal detector," he grumbled.
Kafi, who was born in Jakarta, was educated in a Protestant elementary school run by the Salvation Army here, and later went to a Catholic high school. He then studied for an MBA degree in marketing at the liberal campus of the New South Wales Institute of Technology in Australia, where he also shaped his spiritual life. The young Kafi was at that time questioning his faith.
"Religion is one of the biggest mysteries," he said. His professor approached the restless young man -- who was looking for all the answers in his spiritual quest -- and said, "Why don't you return to your roots?" And Kafi began to contemplate what it was to be an Indonesian Chinese and started to learn about Eastern philosophy, including the teaching of Tao, Confucius, Gandhi and Buddha.
"Finally, I decided to become a Buddhist," said Kafi.
His parents are Confucians. His late father was a journalist with Harian Indonesia, a Chinese newspaper, and his mother an entrepreneur. He has two younger brothers and is not married. Like other men who remain single, Kafi is experiencing social pressure, especially from his mother. He says he is single because he has not found the right woman.
"A woman should complement me. I believe that a man and a woman are created to complete each other," said Kafi, who loves reading - he always reads in the toilet and in his car.
But without a woman, Kafi does not find his life empty or flawed.
"Its just like a bicycle. A bicycle has two wheels. But there are also monocycles (one-wheeled cycles)," he said.
Thursday, March 15, 2007
Wednesday, March 14, 2007
HUMOR DAN PARODI
Parodi sebenarnya memang bagian dari humor. Parodi sendiri, menurut kamus, memang humor yang berkarakter mengolok-olok. Persis karikatur. Jadi, kalau acara TV itu dilarang karena alasan mengolok-olok, maka semua karikatur di negeri ini juga harus dilarang. Kalau juga olok-olok dianggap tidak sopan dan tidak sesuai dengan budaya kita, barangkali olok-olok bakal dilarang di segala bidang.
Maka, Lembaga Sensor dan Komisi Penyiaran akan pontang-panting bekerja mengawasi semua humor. Karena mereka harus menginterpretasi mana yang olok-olok dan yang bukan. Tak lama kemudian, humor akan pelan-pelan punah. Dan kita akan jadi bangsa yang judes. Bayangkan saja kalau humor adalah tindakan kriminal. Runyam, bukan?
Padahal, sejumlah buku dan berbagai penelitian mengungkapkan, konon humor adalah bagian dari EQ atau kecerdasan emosi. Lucu dan menggelitik jelas bukanlah sesuatu yang mudah. Melucu itu susah bukan main. Steve Sultanoff, mirthologist danclinical psychologist mengatakan bahwa humor sangat manjur sebagai terapi. ,"Humor, it is a perspective or way of being in the world--a way of enjoying the ups and downs of life."
Humor bisa mengubah perasaan kita, sikap, dan juga biochemistry tubuh. Humor sering digunakan sebagai terapi penyembuhan. Tertawa jelas sangat sehat. Malah tertawa sering disebut "jogging of the internal organs". Tertawa melepas hormon endorphins dalam tubuh manusia. Konon, hormon inilah yang membuat kita rileks dan membuat tubuh kebal dari penyakit. Tertawa terbukti meningkatkan aktivitas otot dan pernapasan, menstimulasi sistem kardiovaskuler, dan mampu meningkatkan toleransi kita terhadap rasa sakit. Juga merendahkan denyut jantung dalam situasi tertawa terbahak-bahak.
Pada 1990, setelah ayah saya wafat, saya mengalami stres berat. Sebelumnya, dokter juga memperingatkan saya untuk mencari pekerjaan yang stress level-nya lebih rendah. Bila tidak, dokter menyatakan bahwa saya akan mengalami stroke dalam usia muda. Saat itulah saya bertemu dengan Mpu Peniti. Beliau pula yang mengajari saya untuk melihat apa pun dengan perspektif lebih luas. Dan beliau juga yang melatih saya agar lebih cerdas emosi dengan lebih peka melihat sesuatu dengan aspek humor. Bukan untuk mengolok-olok, melainkan agar lebih toleran, lebih pasrah, dan lebih menerima segala macam situasi. Kalau kita bisa melihat sisi humor dari setiap kejadian, toleransi kita biasanya lebih terbuka dan dalam.
Humor juga senjata utama dalam ilmu pemasaran. "Humor sells", begitu kredo para pemasar. Itu sebabnya, dalam ilmu periklanan, biasanya desainer iklan dan komunikasi memilih dua medium yang paling favorit: seks dan humor. Tidak semua produk bisa ditampilkan secara sensual dengan medium seks. Tetapi semua produk, tanpa terkecuali, laku dikemas dengan humor. Tidak percaya? Tonton saja iklan-iklan yang ditayangkan televisi kita, hampir lebih dua pertiganya barangkali dikemas dengan gaya humor.
Ada satu kasus pemasaran yang saya kagumi. Yaitu kasus permen mint Altoids. Produk Altoids sendiri sudah cukup lama, konon diciptakan pada 1780, sebagai permen mint untuk penyegar mulut, di Inggris. Asal mulanya, konon di tahun 1800 permen ini selalu mengusik rasa penasaran orang, karena permen mint ini dijual dalam sebuah kaleng kecil. Sehingga setiap kali orang mengambil permen mint dan mengunyahnya, orang-orang di sebelahnya selalu penasaran, "Orang itu mengunyah apa sih?"
Maklum, kaleng masih dianggap sesuatu yang luks pada periode itu. Lama-lama permen mint ini dikenal sebagai "The Original Celebrated Curiously Strong Peppermints". Hingga kini, kaleng kecil itu tetap populer di kalangan konsumennya. Sebab, setelah permennya habis, sang kaleng bisa digunakan untuk menyimpan aneka barang. Mulai baterai IPod hingga untuk menyimpan ganja dan tembakau.
Ketika produk ini akan dijual di Amerika, maka rasa penasaran itu dirasakan perlu untuk ditularkan. Hanya saja, zaman sekarang orang tidak akan merasa aneh dengan kemasan kaleng seperti itu. Solusinya, diciptakan iklan-iklan bergaya parodi, yang diselipi rasa penasaran. Iklan-iklan parodi Altoids laku keras. Malah sampai dikoleksi orang. Uniknya, lama-lama muncul juga "urban legends" di internet yang menceritakan bahwa permen mint Altoids digunakan konsumennya dalam oral seks dan konon bisa meningkatkan kepuasan para pelakunya.
Parodi dan humor memang terbukti ampuh dalam pemasaran. Menurut Mpu Peniti, seorang pemimpin hanya akan diparodikan dan ramai diparodikan karena memang ada tingkah lakunya yang nyeleneh sehingga mengundang humor. Tapi, kalau perilakunya apik, parodinya juga tidak akan ramai. Toh, kalaupun dipaksakan parodinya, penonton tidak akan terpengaruh, dan acara TV itu akan sepi ditonton orang. Jadi, menurut Mpu Peniti, mestinya para pemimpin cuek saja kalau diparodikan. Syukur-syukur malah bisa bertambah populer.
Monday, March 05, 2007
MUKTI
“Karma is a Sanskrit word which literally means ‘action’. This is a key concept in Buddhism, as it is in Hinduism. At its most simple, the Buddha taught that our actions (including thought, word and deed) have consequences.”
SEPULANG dari Chicago, saya mendapat sebuah SMS dari Mpu Peniti. Isinya, beliau minta dibelikan sarung untuk Lebaran. Hati saya langsung merasa galau. Bertahun-tahun saya berguru dan mencari ilmu kepada beliau, belum pernah sekalipun beliau minta sesuatu kepada saya. Hadiah yang ingin saya berikan juga selalu ditolaknya dengan halus. Dengan perasaan bercampur aduk, saya pun pergi mencari sarung untuk Mpu Peniti. Mumpung beliau sedang berkenan, sekalian saya belikan sajadah dan peci baru.
Ketiga hadiah itu saya bungkus rapi, dan berangkatlah saya ke rumahnya. Ketika menyambut kedatangan saya, wajah Mpu Peniti terlihat sangat gembira dan berseri-seri. Ketiga hadiah itu dibawanya masuk ke kamar tidur. Dan tak lama kemudian beliau keluar.
Tangannya menenteng bungkusan -- rupanya hadiah dari saya, oleh Mpu Peniti dibungkus kembali dengan kertas koran-- dan diserahkan kepada saya. Dengan suara berat dan serak, ia meminta agar saya memberikan ketiga hadiah itu kepada orang yang lebih membutuhkan. Tentu saja saya kaget. Apakah Mpu Peniti tidak berkenan dengan hadiah saya?
Mpu Peniti tertawa, katanya ia tahu betul bahwa saya telah menghabiskan waktu dan uang tidak sedikit untuk mencarikan hadiah sebagus itu. Tapi kini saatnya saya belajar memberi. Begitu nasihatnya. Ia cukup mendapatkan kotak hadiah dan kertas pembungkus kado. Isinya beliau serahkan kembali kepada saya untuk diberikan kepada orang lain.
Pulang ke rumah, saya bingung. Kepada siapa saya harus memberikan hadiah ini? Kalau mau, mudah saja memberikannya kepada sembarang orang. Tapi mencari orang yang patut diberi dengan derajat setinggi Mpu Peniti --seorang guru, mentor, dan pribadi yang saya kagumi-- rasanya sulit sekali. Akhirnya saya menyerah, dan kembali lagi ke rumah Mpu Peniti. Beliau tersenyum melihat muka kusut saya. "Negeri ini sedang sakit berat. Kita butuh pemimpin yang mau dan berani melakukan mukti," bisik beliau dengan suara bergetar, sambil memeluk saya erat-erat.
Mukti konon berasal dari kepercayaan Hindu. Mukti terdiri dari tiga elemen: ilmu, bhakti, dan karma. Mukti atau moksa merupakan sebuah ajaran yang secara konsisten dipraktekkan oleh Mahatma Gandhi, sebagai medium agar kita eling dan terbebas dari segala tekanan. Tetapi bisa tetap berprestasi dengan baik dan netral. Artinya sempitnya, seorang pemimpin harus berilmu - mau belajar terus hingga selalu memiliki pengetahuan yang cukup. Lalu mem-bhakti-kan ilmunya. Mengamalkan pengetahuan itu, dengan melakukan perubahan-perubahan penting, yang mampu mewujudkan karma orang banyak. Gandhi sendiri menyebut mukti atau moksa sebagai self-realization. Bagaimana seorang pemimpin menyadari status, posisi dan peran yang wajib ia perankan. Sehingga kepemimpinan-nya bermanfaat bagi orang banyak.
Dengan selalu belajar, seorang pemimpin akan ”ngelmu” – yaitu semakin eling tentang segala kekurangan dan kelemahannya. Ia akan semakin tahu diri, tidak arogan, dan mau merendah. Lewat bhakti dan pengamalan ilmunya, ia menjadi mercusuar yang memandu di tengah kegelapan. Sang pemimpin akan menjadi pemicu perubahan. ”The Agent of Changes” Perubahan yang kan menstimulasi kemajuan, terobosan dan inovasi. Perubahan yang akan mengubah nasib orang banyak.
Usai Ramadan yang sangat suci, Mpu Peniti memperingatkan saya agar eling sekali lagi. Meminta dan memberi bisa menjadi proses mukti yang bijak. Betapa sering kita memberikan barang-barang mewah kepada klien, relasi, sanak saudara, dan keluarga. Tanpa benar-benar berusaha menyelidiki apa yang dibutuhkan orang yang akan kita beri. Atau lebih sering asal beri. Kita tidak membaktikan pengetahuan kita selama bertahun-tahun mengenal mereka. Apa yang mereka butuhkan mungkin sangatlah spesifik. Seorang direktur bank mengatakan, barangkali hanya 10% bingkisan Lebaran yang diterimanya benar-benar bermanfaat. Sisanya serba tidak keruan. Memberikan hadiah yang tepat mungkin akan membuat orang yang menerima menjadi sangat berbahagia.
Mpu Peniti menasihati, kita tidak bisa memberi dengan bijak karena tak pernah mau belajar meminta dengan benar. Kita seringkali asal minta apa saja. Kadang menjadi sangat serakah. Kalau kita sudah belajar banyak dengan memberi, maka permintaan dan tuntutan kita juga menjadi lebih sederhana. Pengalaman saya dengan Mpu Peniti menyadarkan saya.
Barangkali hal terbaik yang bisa saya berikan kepada beliau adalah doa yang tulus, agar beliau senantiasa diberi kesehatan yang baik dan umur panjang. Ketika hari Lebaran saya menyempatkan diri sujud kepada beliau, dan minta maaf. Kata-kata dan bisikan beliau menyambut dan menerima ucapan maaf saya secara tulus, merupakan pemberian yang paling berharga. Hingga hari ini, itulah hadiah terbesar yang pernah diberikan beliau kepada saya.
Thursday, March 01, 2007
Thursday, February 22, 2007
THE YEAR OF MISS PIGGY
Tahun Baru Imlek 2007 akan tiba dengan energi yang masih sama, yaitu api. Maka, secara negatif diperkirakan bencana masih akan mengintai. Berdasarkan analisis I-Ching atau buku tentang perubahan, 2007 memiliki dua elemen yang (pria) yang menyelimuti satu yin (wanita) dan tiga yin (wanita) tambahan di dasar. Komposisi ini membuat elemen wanita atau feminin lebih dominan dan akan menguasai keseluruhan tahun 2007. Hal ini juga membuka jalan dan peluang akan munculnya lebih banyak pemimpin wanita, baik di arena bisnis maupun politik.
Ketika saya dan Mpu Peniti bergosip-ria tentang masalah ini, beliau menyebutkan bahwa 2007 yang memiliki zodiak babi api memang cocok dan pantas kalau disebut sebagai tahun Miss Piggy. Yaitu tokoh populer di acara "The Muppet Show", yang memang terkenal meledak-ledak dan sangat emosional.
Yang merisaukan adalah analisis I-Ching yang menyimpulkan, karena dominasi elemen api atas bumi, maka pada 2007 kita akan kena gonjang-ganjing kebakaran hutan yang melebar. Musim hujan 2007 diperkirakan sangat dahsyat, tapi periodenya pendek sekali, dan akan meninggalkan musim kemarau panjang dengan potensi kebakaran hutan lebih hebat.
Pengaruh elemen api tidak akan berhenti di sini, melainkan juga akan menciptakan potensi konflik baru, dengan bencana perang yang sporadis. Diperkirakan sejumlah bencana pada 2007 juga akan terjadi di atas tanah, sesuai dengan sifat api dan tiga elemen yin yang mendominasi dasar. Akibat ketidakseimbangan ini, tahun 2007 memperingatkan kita agar hati-hati terhadap bencana di atas tanah, seperti kecelakaan pesawat terbang, gunung berapi, gedung bertingkat yang roboh, dan kemungkinan fasilitas satelit yang gagal berfungsi.
Secara positif, Imlek 2007 membawa angin segar setidaknya bagi fundamental ekonomi dunia yang akan lebih stabil dan membaik. Tetapi bencana wabah penyakit yang mirip SARS dan flu burung, konon, diprediksi akan kembali dan membuat keder semua orang. Menurut Mpu Peniti, kita harus mempertajam naluri feminin diri kita, yang lebih bersifat konservasi dan melindungi. Uniknya, pada 2007 diperkirakan skandal perkawinan akan muncul lebih banyak. Dan bakal ada beberapa perkawinan heboh, di mana wanita yang usianya jauh lebih tua akan menikah dengan pria yang jauh lebih muda.
Bisnis yang dipengaruhi elemen api, tanah, atau logam konon akan membaik. Kabar baik untuk bisnis real estate, yang diperkirakan tumbuh signifikan. Industri makanan juga diperkirakan "rebound", tapi akan sangat dipengaruhi oleh berbagai terobosan inovasi dan pengembangan produk. Demikian juga industri permata, yang sangat dipengaruhi kreativitas. Turisme juga akan membawa angin segar. Industri otomotif, barang-barang elektronik, dan komunikasi akan bertambah gencar oleh kompetisi, tetapi diperkirakan tetap tumbuh baik. Perbankan dan pendidikan juga bakal merasakan pertumbuhan positif.
Lalu, strategi apa yang harus kita gunakan di tahun unik seperti Miss Piggy ini? Kebetulan saya adalah fans berat Miss Piggy. Celetukan Miss Piggy yang sangat terkenal antara lain: "Never purchase beauty products in a hardware store." Secara harafiah, Miss Piggy bilang, jangan mau membeli produk kecantikan di toko bahan bangunan. Pasti ngawur dan tidak terjamin. Artinya, hidup ini jangan mau asal gampang dan mudah saja. Jangan potong kompas. Jangan sembarang dan serampangan. Hidup memerlukan perjuangan. Pada 2007, hati-hati dengan orang-orang yang menjanjikan kemudahan dan keuntungan berlebihan. Berdayakan akal sehat Anda semaksimal mungkin.
Celetukan kedua Miss Piggy yang paling terkenal seantero jagat adalah: "Never eat anything you can't lift." Sederhana sekali. Miss Piggy mengingatkan kita agar selalu eling dan tidak serakah. Mpu Peniti juga memberikan wejangan yang mirip. Kata beliau, setelah pada 2006 kita dilanda sedemikian banyak bencana, sudah saatnya kita prihatin dan tirakat. Mengkaji ulang semua langkah yang telah kita jalani. Berusaha menyembuhkan semua luka. Barulah menyelaraskan strategi ulang. Mengukur dengan setepat-tepatnya batas-batas kemampuan kita. Lalu memanfaatkannya sebagai modal baru.
Kedua larangan Miss Piggy itu terdengar usang sekali. Tapi ada seorang pengusaha yang belum lama ini menuturkan cerita hidupnya yang sangat istimewa. Tahun 2002 ia mengalami musibah banjir sama seperti tahun 2007. Usahanya hampir hancur. Ia mengalami depresi berat dan dirawat di rumah sakit jiwa.
Tahun 2005 ia sembuh. Nol, tidak memiliki apa-apa. Dengan tirakat dan prihatin, ia melakukan persis apa yang dikatakan Miss Piggy. Maju selangkah demi selangkah. Dengan penuh tirakat dan keprihatinan tinggi, sang pengusaha akhirnya bisa "come-back". Selamat Tahun Baru Imlek.
Saturday, February 17, 2007
Monday, February 12, 2007
Thursday, February 08, 2007
KEBAHAGIAAN
Pernah sekali Mpu Peniti membisiki saya, kata beliau, semua sumber ketidak bahagiaan adalah pengetahuan. Artinya semakin besar dan dalam pengetahuan kita, semakin kita tidak berbahagia. Saya tentu saja tidak setuju dengan nasehat seperti itu. Karena seolah-olah mengajak kita untuk cuek, masa bodoh, dan tidak mau belajar. Bagi saya ini nasehat yang ngawur. Sampai 2 minggu yang lalu, saya disadarkan petuah itu oleh sebuah peristiwa. Teman saya di Hong Kong, baru saja kehilangan ayahnya. Ketika diberitahu kabar itu, saya langsung mengirimkan email, dan memberikan ucapan bela sungkawa. Teman saya membalas email tersebut, isinya cukup mengejutkan. Ia bercerita bahwa ayahnya sudah sangat tua. Sudah 90 tahun lebih. Sering sakit. Jadi kepergian-nya sebenarnya cukup melegakan. Karena dalam 20 tahun terkahir ini, ayahnya banyak menghabiskan biaya pengobatan, dan sangat menyusahkan anak-anaknya. Jawaban ini tentu saja membuat saya merenung. Hati saya kacau sekali dibuatnya.
Seorang teman yang lain, juga mengalami hal yang sama. Ia baru baru saja kehilangan ayahnya. Prosesnya beda. Ketika pagi hari ia ingin membangunkan ayahnya, ia kaget setengah mati. Ayahnya meninggal dalam tidur. Dan wajahnya tersenyum. Konon menurut dokter, ayahnya meninggal karena serangan jantung. Ayahnya memang tidak pernah mau disuruh periksa kedokter. Lain dengan teman saya yang di Hong Kong, ayahnya sangat teliti, ketika memasuki usia 70 tahun, sebuah pemeriksaan yang teliti, menunjukan sejumlah komplikasi dan kelainan. Ia lalu menjalani hidup serba hati-hati. Ia memang berhasil hidup hingga 90 tahun lebih, tapi dengan membuat anak-anaknya cukup repot. Kedua cerita diatas mungkin sangat ekstrim. Dan bukan contoh yang bijaksana. Tapi kenyataan hidup yang sebenarnya memang begitu.
Mentor bisnis saya, almarhum bapak MS Kurnia, anehnya juga pernah menasehati saya hal yang mirip. Ia mengatakan kepada saya, bahwa dalam mengelola perusahaan kadang ada saatnya kita harus belajar untuk tidak tahu, tidak peduli, cuek, dan masa bodoh. Karena semakin anda ingin tahu, kadang semakin banyak masalah yang justru kita temukan. Anda akan menjadi semakin kuatir. Hidup kita akan semakin stress jadinya. Dan akhirnya kita hanya akan dihadang dengan sejumlah kekurangan, kelemahan dan kesalahan yang menumpuk. Kita menjadi tidak bahagia.
Sama pula dengan kekayaan. Semakin banyak harta kita, semakin besar rasa kuatir kita. Takut dirampok. Takut ditipu. Kita jadi repot pasang alarm. Bikin tembok yang semakin tinggi. Menambah jumlah kunci dan gembok. Kalau perlu punya sejumlah pengawal dan satpam. Atau memborong berbagai asuransi. Lain halnya kalau anda tidak banyak memiliki harta. Maka semua kebutuhan tadi menjadi lenyap. Terdengar ironis, tapi nyatanya begitu.
Oleh Mpu Peniti, saya dinasehati untuk belajar cuek, dan masa bodoh. Konon demi kebahagian diri saya. Kemarin, disebuah taksi, saya berjumpa seorang supir taxi yang berusia lanjut. Rambut dikepalanya hampir putih semua. Ia mengeluh ekonomi yang semakin susah. Jumlah taxi yang semakin banyak dan setoran yang sedikit. Anaknya yang kuliah di Universitas Indonesia, sudah tidak bisa kuliah, karena menunggak uang kuliah sekian lama. Ia mengaku sudah menghadap rektor, tapi juga tidak mendapat keringanan. Ketika ia menasehati anaknya untuk kerja saja, anaknya malah menangis pilu. Ia jadi susah hati. Ia juga mengisahkan bahwa kemarin dulu, pernah sekali uang setoran taxinya kurang Rp.19.000.-. Esok harinya ia disandera tidak boleh bekerja. Ia harus melunasi kekekurangan setorannya itu. Apa daya ia tidak punya uang sama sekali. Ketika ia mencari pinjaman kanan dan kiri, hanya ada satu teman yang bisa meminjamkan Rp. 5.000.-. Syukurlah dengan mencicil Rp.5.000.- ia diperkenankan menarik taxi kembali.
Saya ikut trenyuh mendengar ceritanya itu. Namun yang membuat saya lega adalah semangat hidupnya yang sangat luar biasa. Ia bertutur, katanya kalau ia membandingkan nasibnya dengan teman-teman-nya yang lain, mungkin ia sudah bunuh diri. Tidak sanggup katanya. Kalau ia putus asa melihat anaknya tidak bisa kuliah, mungkin ia sudah menipu dan merampok. Survival-nya selama ini, adalah berkat sikapnya untuk belajar cuek dan masa bodoh. Apapun situasinya, ia tetap fokus dan konsentrasi menarik taxi. Ia belajar tidak peduli dengan nasibnya. Lalu dimana letak kebahagiannya. Menurutnya, hanya ada 2. Ia bahagia, setiap hari apabila bisa pulang dengan selamat dan bisa meluangkan waktu dengan keluarganya. Syukur-syukur apabila ia pulang membawa uang hasil menarik taxi yang lumayan. Ia Ia juga bahagia setiap kali bangun tidur, diberikan kesehatan oleh Allah, yang mampu membuatnya sujud dan menjalan sholat dengan khusuk. Lalu berangkat kerja untuk menarik taxi.
Mendengar cerita sang bapak supir taxi, saya menjadi sangat bersyukur, karena limpahan rahmat dan kesejahteraan yang telah diberikan oleh Allah selama ini. Saya berjanji untuk tidak lagi membanding-bandingkan nasib saya dengan orang lain. Karena sesungguhnya kebahagiaan yang telah dilimpahkan kepada saya, jumlahnya sangat banyak dan tak terkira.













