Tuesday, June 25, 2013

GUE NGAK KENAL KATA GAGAL




Hampir sepuluh tahun saya mengenal Om Lukas. Beliau sangat konservatif. Anak muda jaman sekarang menyebutnya kuno banget. Saya menyebutnya "old school". Sebagai sebuah penghargaan. Tapi Om Lukas adalah orang yang paling pragmatis yang pernah saya temui. Saya sering minta pertimbangan beliau. Terutama bila ada masalah-masalah yang pelik dan nyelimet. Om Lukas selalu punya cara pandang yang berbeda namun seringkali benar. Ia adalah guru yang baik dalam menganalisa sesuatu. Hampir 100 hari yang lalu beliau wafat. Dan saya sering merasa kehilangan dia. Om Lukas teman yang baik untuk diajak berdebat.

Beberapa hari yang lalu, putri Om Lukas, mbak Lastri minta ketemu. Lalu kami ngobrol panjang lebar, mengenang Om Lukas. Seru sekali. Kami berdua kangen berat dengan Om Lukas. Ketika hendak pamit dan berpisah, mbak Lastri memberikan saya sebuah kado. Dibungkus sangat rapi. Ketika saya tanya apa, mbak Lastri sambil tersenyum mengatakan itu adalah titipan Om Lukas. Lalu kamipun berpisah.

Dirumah saya membuka bingkisan itu. Saya terkejut setengah mati. Didalamnya ada buku peninggalan Om Lukas. Sejak 30 tahun yang lalu Om Lukas selalu menuliskan kata-kata mutiara. Tapi khusus topiknya hanya satu yaitu tentang "kegagalan". Semua anak Om Lukas selalu mengejek dan menyebut buku itu sebagai buku KEGAGALAN. Yang membuat saya terkejut didalamnya ada lebih dari 400 kata mutiara tentang kegagalan. 30 tahun sama dengan 360 bulan. Konon Om Lukas hanya menulis kata-kata mutiara itu pada saat dia gagal. Artinya selama 30 tahun terakhir ini, Om Lukas merasa gagal tiap bulan. Atau ada saja kejadian penting tiap bulan-nya dimana Om Lukas merasa gagal. Padahal keluarga dan teman-teman merasa Om Lukas itu orangnya selalu hati-hati. Sangat konservatif dalam mengambil resiko. Dan tidak terlihat sebagai orang gagal. Malah orang sukses yang sangat bijaksana.

Buku om Lukas penuh dengan kata-kata mutiara orang-orang terkenal. Memang kegagalan bagi orang terkenal punya arti tersendiri. Semua orang terkenal atau sukses rasanya pernah merasakan kegagalan. Dan mereka punya kebijakan tersendiri yang tentunya sangat bijaksana untuk menghadapi kegagalan itu. Jadi jangan heran kalau orang terkenal dan sukses menjadi tahan banting dan kebal dengan kegagalan. Rupanya om Lukas selama 30 tahun menjadi murid yang paling disiplin untuk belajar soal kegagalan. Tanpa orang banyak tahu, om Lukas belajar seni bela diri terhadap kegagalan secara diam-diam. Saya kagum dengan om Lukas.

Kata sukses sendiri dalam bahasa Indonesia kita impor dari bahasa Inggris. Kata-kata seperti 'berhasil' atau 'jaya' juga tidak lengkap mengungkapkan seluruh makna yang terkandung dalam kata sukses. Malah menurut Mpu Peniti secara filosofis barangkali kata sukses tidak ada terjemahan langsung dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa pengertian filosofisnya barangkali adalah "kelakon" atau terjadi atau kejadian. Ini untuk melukiskan makna sukses dalam keseharian kita. Dan untuk gagal ada kata "wurung" dan "durung", yang artinya tidak terjadi atau tidak kejadian.

Maka barangkali ungkapan 'alon-alon maton kelakon' adalah sangat tepat. Orang Jawa sebenarnya sangat optimis dan percaya diri. Bilamana kita mau melihat filosofi itu secara bijak. Orang Jawa melihat hidup ini sebagai sebuah proses. Namun apa-pun yang terjadi, kita harus punya tujuan. Karena itu semua adalah proses yang melibatkan kita, dengan Tuhan dan alam semesta. Maka kita harus menghormati keduanya. Sehingga apabila tujuan itu harus di tuju dalam sebuah proses yang pelan dan makan waktu, maka itu harus kita jalani. Yang penting kita terus tekun, selalu berjuang dan tidak pernah putus asa. Dan sukses akan terjadi dengan persetujuan Tuhan bersama alam semesta. Barangkali inilah makna yang bijak dari 'alon-alon maton kelakon'. Bukan pelan-nya yang dipentingkan. Melainkan proses pencapai-an-nya. Sayangnya filosofi yang sangat luar biasa ini seringkali di-pleset-kan menjadi sikap malas-malas-an. Padahal pelan itu proses. Pelan tidak sama dengan lambat. Kalau lambat itu sangat negatif artinya. Lambat artinya kita selalu ketinggalan.

Negara Indonesia bisa merdeka, barangkali juga karena filosofi yang sama. Yang memuat semangat tekun, percaya diri, selalu berjuang, dan tidak pernah putus asa. Jaman revolusi, semangat ini menjadi sebuah terobosan, yang kemudian diubah dengan sebuah evolusi - "Maju Terus Pantang Mundur". Semangatnya sama. Artinya sama. Hanya saja interpertasi yang beda sesuai dengan jaman. Jadi memang benar bila sebagai bangsa kita tidak mengenal kata gagal. Karena gagal tidak ada dalam kosa kata kita. Sesungguhnya kita tidak tahu apa arti gagal.

Pernah sekali om Lukas secara humor bertutur. Kata beliau, barangkali slogal dan yel-yel "Maju Terus Pantang Mundur" dianggap sudah selesai ketika kita merdeka. Pemimpin kita lupa untuk melanjutkan kehidupan bangsa ini dengan slogan dan yel-yel yang baru. Semangat juang kita pudar. Dan ketika tidak ada lagi yang mau diperjuangkan, maka kita tidak bersemangat berjuang. Kita kehilangan selera. Kita menyerah. Tinggal ada dua situasi. Sukses dan gagal. Pilih yang mana ?

Gagal dan sukses bukanlah sebuah keabadian. Artinya anda tidak akan terus menerus gagal. Juga anda tidak terus menerus sukses. Balik lagi pada filosofi 'alon-alon maton kelakon', maka kita semua mesti terjun kedalam proses itu - menyatukan ko-ordinat kita bersama alam semesta dan Tuhan. Berusama menyamakan diri, mencapai sebuah keseimbangan yang memberi kita arah dan tujuan. Kesanalah kita pergi. Kesanalah kita berjuang. Maka apabila anda merasa hidup anda gagal saat ini, tidak usah sedih dan putus asa. Anggap saja anda main bola, dan ini angka sementara. Pertandingan belum selesai. Semuanya sangat ditentukan oleh anda.


Di halaman terakhir, dari buku om Lukas. Beliau mengutip, kata-kata mutiara dari seorang penulis Amerika separuh baya, Mark Amend. Kalimat itu sangat sederhana "All successful people have had plans that failed, but none have ever failed to plan"  Pas banget dengan filosofi 'alon-alon maton kelakon'. Sederhana-nya bilamana kita tidak memiliki rencana. Maka kita dengan mudah akan sesat alias nyasar. Jadi kalau dalam hidup ini - anda tidak punya rencana terhadap keluarga, karir dan hidup anda pribadi, jangan salahkan kalau anda merasa gagal. Andaikata anda punya rencana, dan anda masih merasa gagal, jangan menyerah. Revisi rencana anda, dan sukses barangkali cuma tinggal ditikungan jalan saja.

Hampir 4 bulan yang lalu, dalam pertemuan saya yang terakhir dengan om Lukas, beliau bercerita pada saya tentang sebuah pelajaran hidup. Beliau mengutip sebaris kalimat dari Confucius. Yang berbunyi bahwa kita harus selalu menyempatkan diri untuk membaca. Sebuah sindiran untuk tetap rendah hati, membuka diri dan selalu belajar. Sikap keterbukaan. Confucius menyarankan agar kita menyerah dan pasrah, mengakui dengan sepenuhnya atas semua ketidak tahuan kita. Sebuah kritik halus untuk menempatkan posisi kita tidak pada posisi sukses dan juga tidak pada posisi gagal. Semuanya adalah proses yang berjalan. Proses ini tidak mengalir begitu saja. Apabila ada orang yang mengatakan, bahwa ia membiarkan kehidupannya mengalir sesuai arus. Jangan ikuti orang itu. Sesungguhnya orang seperti itu adalah yang paling buruk. Karena ia tidak punya rencana hidup.

Presiden Soekarno dalam pidato Hari Kemerdekaan tahun 1961, mengatakan "Learning without thinking is useless, but thinking without learning is very dangerous!" Saya pikir ini harusnya menjadi slogan kita yang selanjutnya. Bahwa kini saatnya kita jadi bangsa yang bijak. Kita mesti belajar dari pengalaman yang ada dengan arif. Memikirkannya dengan seksama. Sehingga pengalaman itu punya makna. Dan pemikiran-pemikiran kita akan sangat berbahaya karena sesat bilamana tidak ditunjang dengan kearifan yang kita pelajari dari pengalaman. Bila ini di selaraskan dengan alam semesta dan Tuhan, saya setuju sukses dan gagal cuma situasi sesaat. Bukan vonis yang abadi.

No comments: