Thursday, January 24, 2013

Pilih mana ? Mau jadi boss atau komendan ?




Anda pasti bosan mendengarnya ! Bahwa kita masih terbelengu dengan warisan feodal. Tapi teman saya yang kebetulan mengamati perilaku memberi salam, punya pengamatan yang sangat menarik. Katanya secara turun menurun kita mewarisi perasaan tidak percaya diri. Disatu sudut kita punya kebutuhan emosi untuk disanjung. Tetapi kita juga punya kebutuhan untuk merendahkan diri. Secara humor, teman saya ini bercerita, kalau kita terkadang "maksain diri", kadang "ngak tau diri". Tapi tidak pernah utuh percaya diri. Itu analisa dia.

Kalau "ngak tau diri" - fenomena ini rada umum, menurut teman saya. Tapi "maksain diri" menjadi tekanan masyarakat yang semakin keras, yang memaksa kita menguras kartu kredit dan berhutang, demi untuk punya status. Yang lebih parah lagi ada fenomena untuk "maksain diri" punya istri banyak. Teman saya membuktikan-nya dengan mengajak saya makan siang dengan seorang pegawai negeri. Sang pegawai negeri ini umurnya diawal 40'an. Ketika ia datang, ia membawa wanita muda. Cantik dan sintal. Mereka tampak mesra. Dan ketika makan, tak lupa saling suap-suapan. Usai makan dan pegawai negeri ini mohon diri, saya dan teman saya lanjut untuk mengobrol ditemani kopi.

Ceritanya sang pegawai negeri ini, sudah punya satu istri dengan 2 anak. Lalu punya lagi istri simpanan dengan satu anak. Dan dengan wanita muda tadi, ia sedang pacaran. Konon dalam taraf membelikan rumah dan mobil. Pertanyaan-nya mengapa ia memaksa-kan diri untuk punya 3 istri. Apakah memang ia punya nafsu gede, tapi takut dosa ? Ataukah karena alasan lain ? Teman saya yang sudah ngobrol panjang lebar dengan sang pegawai negeri, menyimpulkan bahwa sang pegawai negeri punya istri 3, semata untuk status. Pertama biar dia dikenal dilingkungan-nya sebagai pria perkasa. Pejantan bereputasi. Begitu istilah teman saya. Kedua percaya atau tidak sebagai faktor motivasi membuat ia lebih percaya diri menghadapi staff wanita di kantor. Pilar pemimpin yang kokoh. Kilah sang pegawai negeri. Dan yang ketiga sebagai status kemapanan. Terus terang ini juga warisan feodal jaman dulu. Bahwa raja hingga jagoan, selalu punya istri dan selir yang sangat banyak dijaman dulu.

Saya merasa semua alasan itu diluar logika. Tidak masuk akal. Tapi itulah fenomena "maksain diri". Yang super parah sang pegawai negeri menjadi mata duitan. Lapar bukan main untuk korupsi. Kemana-mana ngobyek dan cari mangsa. Hal ini terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan 3 keluarga itu. Saya jadi merinding mendengarnya. Fenomena "maksain diri" bisa jadi penyakit ganas di masyarakat kita.

Nah, teman saya melanjutkan dengan cerita menarik lain-nya. Menurut teman saya, sebagai bangsa kita sangat sopan. Kita selalu menyebut seseorang dengan "Bapak" dan "Ibu". Dan terkadang ditambahkan "yang terhormat" bapak anu dan ibu anu. Tidak pernah kita menyebut dengan nama langsung. Terasa tidak nyaman dan tidak sopan. Untuk orang yang lebih tua, tidak jarang kita meminjam istilah feodal warisan Belanda. Seperti Om dan Tante, atau juga Opa dan Oma.

Ketika kecil dulu, beberapa pembantu Ibu saya, yang masih bersikap feodal, memanggil saya dengan sebutan "babah" atau "sinyo". Saya selalu risih dengan sebutan Ibu. Teman saya menuturkan bahwa  dijaman Hindia Belanda dahulu, menyalami orang dengan tingkat status lebih tinggi juga sudah ada tradisinya. Untuk orang Belanda kita memanggilnya dengan Meneer. Dan khusus orang Tionghoa, tidak jarang mereka diberi sebutan "tauke". Setelah jaman kemerdekaan, dan terutama di tahun 70'an, yang lebih populer adalah panggilan "boss". Barangkali film-film gangster seperti "Godfather" dan film Bruce Lee "The Big Boss", ikut mengukuhkan posisi sebutan "boss" ini cukup lama. Dijaman ini, kita secara gamblang mempopulerkan sebutan "boss", baik secara negatif maupun secara positif. Menjadi "boss" barangkali juga menjadi idaman banyak orang. Pokoknya "boss" adalah status yang membanggakan.

Setelah reformasi tahun 1998, menurut teman saya terjadi perkembangan status yang lebih unik. Kita masih malu-malu untuk mempopulerkan kesederajatan dan persamaan. Maka muncul istilah "broer" dan "bro". Yang bertujuan untuk mengakrabkan antara kita dengan teman atau kolega yang lain. Kita mencoba menghilangkan semua jurang pemisah dan kecanggungan bergaul dengan menjadikan teman, sahabat dan kolega kita sebagai saudara, atau muculnya semangat persaudaraan.

Yang menarik, anak-anak muda, mengubah sebutan "boss" menjadi ucapan yang lebih ngetrend, ramah dan bersahabat. Maka muncul-lah sebutan "Juragan" yang kemudian disingkat menjadi "gan". Sebutan ini cukup populer diinternet dan dikalangan anak muda. Jadi menurut teman saya, sikap tidak percaya diri kita mengalami evolusi yang sangat unik. Bahwa kita tetap saja, ingin merendah, dan apakah kita haus idola pimpinan nasional yang bisa menjadi panutan. Perkembangan terakhir, adalah sebutan "komandan" terhadap pimpinan atau orang yang kita hormati.

Suatu hari di sebuah lounge di airport Surabaya, seorang pria yang sedang menelpon, berulang kali menjawab "Siap - komandan". Disaat itulah saya jadi tertawa dan ingat semua penuturan teman saya ini. Teman saya menyimpulkan, bahwa bahasa tubuh kita, sepertinya rindu dengan seorang pemimpin besar yang bisa mengayomi dan memberikan perintah yang pas. Bagi calon presiden 2014, fenomena ini bisa jadi kajian super unik. Bukan mustahil, istilah "komandan" adalah kerinduan publik terhadap pemimpin dengan latar belakan militer. Atau ketidak puasan kita terhadap pemimpin sipil yang dianggap tidak tegas, korup, dan tidak bisa membuat perubahan berati setelah reformasi berumur 15 tahun ?

Apapun juga kesimpulan-nya, sebagai bangsa, rasanya kita harus punya revolusi sikap. Ini penting banget ! Yaitu sebagai bangsa, kita perlu optimis dan percaya diri. Punya keinginan untuk tampil memimpin. Jangan terus menerus ingin menjadi bawahan dan dipimpin. Barangkali dalam kesempatan yang sama - revolusi sikap ini juga menjadi obor yang menyalakan semangat kita untuk berpelilaku baru. Menghapus semua stigma tentang sikap yang selalu "ngak tau diri". Dan sikap yang "maksain diri". Cukup menggantinya dengan sikap percaya diri. Membentuk kesatuan bahwa kita percaya diri dan bangga dengan diri kita dan Indonesia.

Sunday, December 23, 2012

AYAM PENYET DI SINGAPORE AIRLINES



Ayam goreng barangkali makanan yang paling sederhana. Namun sangat populer diseluruh penjuru dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Tiongkok hingga Indonesia. Seorang pengusaha resto ayam goreng, pernah membisik-kan cerita kepada saya, bahwa ia hampir tidak pernah mendengar ada orang yang tidak suka ayam goreng. Hanya saja, resep sukses ayam goreng tidak mudah-mudah amat. Rahasianya sederhana, garing diluar tetapi didalam tetap empuk dan gurih. Bahasa keren-nya : "Crispy on the outside .... But juicy on the inside". Ini yang tidak mudah. Dua hal yang terdengar bertolak belakang. Tetapi menjadi satu produk dengan pengalaman memakan yang sangat unik. Hampir semua resep ayam goreng, terdiri dari bumbu rendam untuk membuat rasa ayam gurih. Lalu biasanya ayam di masak tergantung resep masing-masing, entah itu 1/2 matang atau 2/3 matang, kemudian digoreng dengan minyak panas dalam waktu kilat. Sehingga garing diluar namun tetap empuk dan gurih didalam.

Ayam penyet, konon kabarnya adalah salah satu resep khas ayam goreng dari Jawa Timur. Menurut dongeng, disajikan sederhana dengan tempe goreng, tahun goreng dan lalapan. Sambalnya sangat khas. Pedas dan gurih. Dinamakan penyet, karena setelah digoreng konon digebuk dengan pisau besar sehingga gepeng atau penyet.

Belum lama ini, saat terbang dengan Singapore Airlines, saya sempat tersenyum, ketika ditawari makan siang dengan ayam penyet. Karena penasaran, akhirnya saya memilih ayam penyet. Saya tahu pasti tidak akan persis seperti ayam penyet ala Indonesia asli. Namun saya sangat kagum dengan Singapore Airlines. Nasinya kebetulan adalah nasi ayam ala Hainan. Wangi dan gurih dengan sentuhan bawang putih dan sentuhan jahe. Lalapan, dan tahu beserta sambelnya lengkap. Ayamnya tidak digoreng garing. Karena sangat tidak mungkin dipanaskan dengan sistim pemanas diatas dapur pesawat. Ayamnya cukup gurih. Pengalaman ini sangat luar biasa. Walapun rasanya sangat berbeda, saya memberi Singapore Airlines nilai 10 karena berani mengangkat ayam penyet kedalam menu makan siangnya.

Menurut teman saya, seorang "chef" profesional, ayam penyet memang sedang naik daun. Dan menjadi aikon kuliner Indonesia setidaknya di Singapura dan Malaysia. Ceritanya juga sangat romantis sekali. Ayam penyet jelas bukan makanan tingkat atas atau "fine dining" di Indonesia. Tapi menurut cerita, lebih dari 10 tahun yang lalu, seorang pengusaha membuka warung ayam penyet di Lucky Plaza. Karena ia melihat banyaknya TKI kita di Singapura yang selalu libur seminggu sekali dan saat mereka libur, mereka selalu kumpul dan saling bertukar cerita. Dan TKI ini juga selalu rindu makanan asli Indonesia. Maka ayam penyet menjadi salah satu hiburan dan saluran pelepas rindu terhadap rumah dan kampung halaman.

Konon kabarnya itulah cerita awalnya. Karena laris, akhirnya menyebar kemana-mana. Sekarang di Singapura, dapat kita temukan ayam penyet dimana-mana. Dari Singapura, trend kuliner ini menyebar ke Malaysia dan Hongkong. Sehingga akhirnya menjadi aikon, dan dipilih Singapore Airlines sebagai salah satu menu makan siangnya. Fenomena TKI sebagai medium 'viral marketing', sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Sebuah majalah di Surabaya menggunakan TKI sebagai alat 'viral marketing' dan berhasil menjual majalah dalam jumlah cukup besar, di Singapuram, Malaysia, Hongkong, dan Taiwan.

Sayangnya, ketika Menteri Pariwisata mengumumkan 30 makanan kuliner Indonesia yang dijadikan aikon, ayam penyet karena kesederhana-an-nya, tidak masuk daftar. Padahal saya sangat berharap ayam penyet masuk. Kata Mpu Peniti, mentor spiritual saya, "seseorang yang tahu, belum tentu mengerti, dan seseorang yang mengerti belum tentu sadar".

Untuk mempromosikan Indonesia, barangkali ada baiknya, pemerintah melakukan sensus dan survey terhadap TKI di seluruh Asia. Siapa tahu saja lewat prilaku dan budaya kuliner mereka, kita bisa mempromosikan 'viral marketing' tentang Indonesia secara efektif dan murah.

Monday, November 12, 2012

"TUHAN ITU ADA ..... Bung !"






Seattle - 26 Oktober 2012 - jam 2 pagi. Sebuah SMS masuk, ".... hahahahahaha ..... Emang bener .... Tuhan itu ada, bung !". Saya hanya melihat sekilas. Tersenyum lalu berusaha untuk kembali tidur. Jetlag yang menyertai saya, masih lekat disemua syaraf saya, dan belum juga reda sama sekali. Tidur saya selalu tersiksa dalam beberapa hari ini. Tidak pernah pulas. Bagaikan lampu hias yang terus berkedip.

Esok harinya, ketika menyeruput cappuccino ditemani roti bakar, saya teringat SMS tadi subuh. Sebelum berangkat ke Amerika, teman karib saya, minta ketemu. Kami bertemu, ngobrol basa basi, lalu tiba-tiba saja ia menangis tersedu. Bukan cuma sebentar. Tapi 20 menit lebih. Ia juga tidak mau bercerita apa susah dan deritanya. Ia hanya menangis. Saya juga tidak mau usil dan bertanya. Usai menangis kami sempat ngobrol ngalor ngidul sampai hampir 2 jam. Ketika mau berpisah, kata saya, " Hampir semua teman-teman kita, hanya mengenal kau sebagai sosok yang selalu berbuat kebaikan. Selalu menolong teman. Percaya-lah Tuhan itu ada !" Begitu saya menghibur dia. Teman saya hanya mengangguk pelan. Lalu kami berpisah. Hingga selang seminggu kemudian SMS itu masuk ketika saya di Seattle. Sayapun lega. Harapan saya, apapun masalahnya, ia menemukan solusi yang terbaik.

Dalai Lama sendiri pernah mengatakan dengan sangat sederhana : " My religion is very simple. My religion is kindness." Pernah sekali waktu, satu hari mentor saya, Mpu Peniti, bertanya kepada saya "Andaikata kamu disuruh memilih. Kamu mau jadi orang baik ? Atau orang jahat ?" - Saya tertawa, dan langsung berkata enteng: "Yah, jadi orang baik dong !" - Mpu Peniti mengernyitkan dahinya, "Serius ?".

Saya langsung terdiam. Seolah ada sesuatu yang mengganjal kerongkongan saya. Dada saya terasa sesak. Karena saya tidak berani mengaku "orang yang baik". Saya hanya berusaha menjadi orang baik. Dan saya alami betul, menjadi orang baik sangat susah. Hidup tanpa dendam, tanpa iri, tanpa kelicikan, tanpa kebohongan, dan terus menerus baik - sangatlah susah. Barangkali hampir tidak mungkin ! Lalu Mpu Peniti, bercerita tentang seorang murid, yang baru saja kalah berkelahi, karena dikeroyok orang banyak. Sang murid bertanya kepada sang guru, minta nasehat. Apa yang harus ia lakukan ? Sang guru memejamkan matanya, menarik nafas. Lalu berkata perlahan, "Kau harus punya keberanian untuk memaafkan mereka." Sang murid bingung. Lalu protes. Ia berkata, bahwa ia telah luka, cedera, dan juga dipermalukan. Sang guru berkata, "Luka bisa sembuh. Harga diri bisa pulih. Tapi dendam tidak akan pernah habis. Dendam akan terus tumbuh." Sang murid menangis tidak bisa menerima nasehat gurunya. Akhirnya, sang guru menuntun muridnya menaiki sebuah bukit. Dipuncak bukit, sang guru mengajak sang murid diam sejenak dan melakukan meditasi. Lalu berceritalah sang guru. "Wahai murid-ku lihatlah. Puncak bukit selalu lebih runcing dan terjal. Karena runcing dan terjal maka puncak bukit tidak pernah bisa menampung air hujan. Akibatnya di puncak bukit tidak banyak kita temui pepohonan. Karena semua kesuburan-nya selalu dikikis air hujan dan dibawah ke lembah. Dan lihatlah lembah dibawah kita, sangat subur, penuh dengan tanaman. Karena semua air hujan turun kelembah bersama semua kesuburan-nya."

Sang guru menarik nafas panjang. Lalu melanjutkan, "Semua kebaikan apabila disatukan maka akan menjadi sebuah kebaikan besar yang menciptakan sebuah kesejahteraan yang besar. Namun kalau saja kita mengumpulkan semua yang tidak baik menjadi satu, maka yang akan timbul adalah keserakahan, dendam, iri, cemburu, permusuhan, dan perperangan diantara sesama. Tidak ada kesatuan. Maka semuanya meruncing, menjadi terjal, tajam, dan kering sendiri" Saat itulah Mpu Peniti, menasehati saya agar berbuat kebajikan dan kebaikan sebanyak mungkin. Menurut beliau dalam hidup ini, lebih baik menjadi lembah yang subur. Dari pada puncak gunung yang gersang.


Setahun setelah kuliah kebajikan yang saya terima dari Mpu Peniti, saya bertemu seorang Romo di Hongkong. Saat itu saya sedang makan siang sendiri. Rupanya Romo penggemar tulisan saya dibeberapa kolom majalah. Lalu kami ngobrol di sebuah kedai kopi. Sang Romo menemani seorang pengusaha yang sedang melakukan cangkok hati di China. Sang pengusaha ketakutan sekali akan penyakitnya. Dan minta ditemani. Obrolan saya dan Romo berkembang serius setelah kami menghabiskan secangkir kopi, dan beringsut ke cangkir berikutnya. Romo juga bercerita soal kebaikan dan kebajikan. Saya ingat betul beliau mengutip sebuah ayat di Alkitab, Matius - 5:39 yang berbunyi, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu". Saya sempat tersenyum ketika mendengar ayat kontroversial itu. Karena ketika saya sekolah dulu, ayat itu sering diutarakan dalam berbagai misa dan kebaktian, namun seringkali ayat itu lebih diagungkan sebagai sikap dan kepribadian Kristus yang luar biasa. Yang sangat bijak dan welas asih.

Lain dengan cerita Romo sore itu kepada saya. Beliau menasehati saya, bahwa yang diajarkan Kristus sangat sederhana. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Rumusnya cuma satu. Apapun juga harus dibalas dengan kebaikan. Hanya kebaikan yang patut kita lakukan. Bayangkan saja kalau dunia ini lebih banyak orang berbuat baik. Maka kita tidak perlu polisi. Kita tidak perlu penjara. Kita tidak perlu senjata. Tidak akan ada korupsi. Tidak akan ada kejahatan. Anda mungkin tertawa ! Dan berkata - "mana mungkin sih". Karena terus terang kita semua selalu ragu pada kebaikan. Tidak pernah percaya pada kebaikan. Pemimpin dunia saja masih meragukan pada kebaikan setiap saat. Mereka lebih percaya kepada senjata dan tentara. Andaikata pemimpin dunia percaya kepada kebaikan, dan menghapus semua bujet militer. Dunia ini akan sejahtera. Aman dan makmur. Seperti lagu John Lennon, "berikanlah kesempatan pada perdamaian".

Lalu apakah sejak peristiwa itu saya otomatis jadi orang baik ? Tentu saja tidak. Tapi cerita Romo memotivasi saya untuk lebih banyak berbuat kebaikan. Perlahan-lahan saya rasakan akibatnya. Pertama saya lebih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Saya lebih mudah memilih kebaikan. Kedua, lingkungan saya terasa penuh dengan enerji kebaikan yang positif. Orang disekeliling saya perlahan-lahan lebih banyak berbuat kebaikan. Dan ketiga yang saya rasakan kebaikan selalu mendatangkan lebih banyak kebahagian.

Hal luar biasa yang kini saya rasakan, adalah kebaikan yang telah saya perbuat, seperti benih yang saya tanamkan. Entah sudah berapa kali saya alami, seolah benih yang saya tanamkan akhirnya berbuah. Entah berapa kali, saya mengalami kesulitan, selalu saja saya menemukan solusi dan jalan keluarnya. Hidup ini seperti ada yang menuntun. Apakah itu Tuhan atau bukan ? Yang terpenting, saya merasakan kehadiran itu. Hingga saya berani mengatakan kepada siapa saja, "Tuhan itu ada bung !"

Saya percaya bahwa dunia ini hanya akan bisa berubah dengan kita bersama-sama berbuat kebaikan. Bukan bersama-sama berbuat kejahatan. Rumus ini lebih masuk akal rasanya.

Sunday, July 08, 2012

JAKARTA BUTUH GUBERNUR DARI PLANET MARS



Beringsut malam merangkak perlahan menuju tengah malam. Kuhirup udara Jakarta. Terasa penuh jelaga. Beberapa perempuan dengan pakaian sangat seronok turun dari taxi. Dua diantaranya tersenyum dengan genitnya. Goda-an yang penuh dengan arti. Saya cuma tersenyum kecil. Menikmati godaan tersebut. Seorang penjaga pintu didepan loby hotel menegur saya :”Perlu taxi boss ?”. Saya mengangguk perlahan. Ketika mau masuk kedalam taxi, sang penjaga pintu hotel bertanya :”Kemana mobilnya boss ?”. Saya tidak menjawab hanya menyelipkan tip ditangannya. Ia tertawa kecil dan mengucapkan selamat malam.

Saya merebahkan tubuh yang penat ini didalam taxi. Terasa seperti sebagian beban melayang sirna. Supir taxi menggoda saya, berkata lirih : “Koq, sudah pulang boss. Ngak jadi ikut kedalam ?”. Pasti sang supir taxi ikut menjadi saksi dan melihat soal insiden perempuan berbaju seronok yang menggoda saya didepan loby hotel. Saya tertawa saja dan menjawab singkat :”Wah, sudah ngak ada tenaga mas”. Sang supir taxi ikut tertawa dan membalas : “Kan harus –‘Enjoy Jakarta’- kata bapak gubernur”. Saya membalas tertawa. Serba salah memang. Slogan “Enjoy Jakarta” seringkali diejek oleh teman-teman. Buat mereka apa sih yang mau dinikmati soal Jakarta. Masa sih yang dinikmati, polusinya, macetnya, dan banjirnya ? Dan kalau dibilang mau dinikmati soal kehidupan malamnya ? Jakarta juga masih kalah jauh dengan metropolis kayak Hongkong, Tokyo, Seoul dan ataupun dibanding Kuala Lumpur atau Singapura. Bilamana dipaksakan slogan itu, seolah kita menjual kemaksiatan kehidupan malam Jakarta. Benarkah itulah merek Jakarta yang sesungguhnya ? Sampai-sampai kalau kami bercanda diantara teman, dan ada beberapa yang pulang pagi sehabis berpesta ria, mereka selalu menjawab dengan klise , “kan harus ‘Enjoy Jakarta’ …..”

Dibundaran Hotel Indonesia, beberapa anak jalanan masih berusaha mengemis. Salah satu diantaranya mengendong bayi yang sedang tidur terlelap. Sang supir taxi berkata lirih : “…. Saya koq suka mikir, itu anak bayi selalu tidur enak digendong sembari diajak mengemis, ngak siang, ngak malam, pasti dikasih obat apa gitu ? Anak saya dirumah koq ngak bisa anteng kayak gitu ???” Lalu sang supir taxi melanjutkan pertanyaan-nya kenapa tidak ada petugas yang menangkapi mereka dan memeriksa sang bayi. Karena pasti kalau sang bayi dikasih obat tidur setiap hari, lama-lama kesehatannya akan terganggu. Tiba-tiba saja hati saya gusar dengan pertanyaan seperti itu. Karena rasa kuatir-nya memang masuk akal.

Iseng-iseng saya bertanya, nanti pas pemilihan ia mau coblos calon gubernur yang mana. Sang supir taxi tidak langsung menjawab. Ia menghela nafas panjang. Lalu bercerita kisah hidupnya, kakek dan neneknya orang Betawi asli. Asal Kemayoran. Ayah dan Ibunya juga orang Betawi asli. Ia dan istrinya juga orang Betawi asli, namun sekarang tinggal di Tanggerang. Semata-mata tidak lagi sanggup punya rumah di Betawi, karena sudah terlalu mahal. Dan ia tak sanggup bersaing dengan pendatang dari luar Betawi. Tiba-tiba saja saya merasakan kesedihan yang mendalam dalam nada bicara sang supir taxi. Ia merasa menjadi orang Betawi yang terpinggirkan. Lanjut sang supir taxi : “Saya binggung boss, ada bekas gubernur, ada bekas walikota, ada bekas bupati, ada bekas jendral, ada bekas ketua partai, dan ada juga ahli ekonomi, semuanya pengen jadi gubernur Jakarta. Apa ngak mabok nantinya ngurus Jakarta ? Emang enak jadi gubernur Jakarta ? Apa sih niat mereka ?”. Kini giliran saya yang tertawa. Karena ucapan sang supir taxi terasa meninju semua syaraf saya. Dan rasa penat yang saya rasakan tiba-tiba sirna. Rasa kantuk saya terusik.

Sepanjang sisa perjalanan pulang, kami melewati Sudirman. Dan kami ngobrol lepas tentang berbagai topik soal Jakarta. Mulai dari macet, banjir, sampah, hingga kemiskinan. Tiba-tiba saja saya melihat sang supir taxi penuh dengan “street wisdom”. Sepuluh tahun menjadi supir taxi dan setiap hari keliling Jakarta, pasti banyak yang dilihat. Pasti banyak pula yang dicerna. Barangkali sang supir taxi mirip filsuf jalanan soal Jakarta. Barangkali juga ia patut dianggkat menjadi staf ahli gubernur mendatang. Saat menjelang tiba dirumah saya, iseng-iseng saya tanya ia mau coblos calon gubernur yang mana ? Ia tertawa tergelak. Seolah mengejek saya. Katanya ia tidak bisa memilih sejak punya KTP Tanggerang. Ia kan warga Jakarta yang terpinggirkan. Saya jadi iba mendengarnya. Namun sembari tertawa ia mengatakan bahwa kalaupun ia boleh mencoblos, ia akan pilih gubernur dari planet. Dan sayangnya memang kali ini, tidak ada calon gubernur dari planet. Sayangnya sebelum saya sempat bertanya, ia sudah melanjutkan perjalanannya. Hilang ditelan kegelapan malam.

Orang kecil seperti sang supir taxi, punya suara yang jauh lebih jujur. Ia tidak punya agenda. Ia polos orang kecil yang menjalani hidup sehari-hari di Jakarta. Apapun situasinya. Tidak peduli panas, hujan dan ataupun banjir. Kejujurannya bukanlah keajaiban. Melainkan seringkali hanya itu yang mereka punya. Mereka juga bukan luar biasa berani, ketika jujur. Tetapi kejujuran tersebut hanya satu-satunya tempat pegangan mereka. Percuma bagi mereka punya sekian keinginan seperti janji dan slogan kampanye. Karena sekolah gratis dan pengobatan gratis toh tidak akan dinikmati keluarga supir taxi tersebut. Ia orang Betawi yang dipinggirkan, dan ia tidak bakal bisa menikmati semuanya apa yang dijanjikan calon gubernur. Karena realitanya ia adalah penduduk Tanggerang.

Jadi sah-sah saja, kalau sang supir taxi bertanya-tanya, koq ada orang repot-repot mau jadi gubernur Jakarta. Apa motifnya ? Apa alasan-nya ? Adakah calon gubernur Jakarta yang mau sejujur-jujurnya mengatakan apa alasan beliau ingin menjadi gubernur Jakarta ?  Yang kita dengar cuma janji, bahwa kalau mereka terpilih mereka akan ini dan itu. Tidak ada satupun yang berani jujur dan menatap mata kita dan berkata, mengapa mereka mau jadi gubernur Jakarta ? Seorang pensiunan polisi mengatakan pada saya, jaman dulu menjadi gubernur Jakarta, karena diberi mandat penugasan. Maka tugas itu harus diamankan dan diamalkan secara bertanggung jawab. Jaman sekarang beda, calon gubernur justru mengajukan diri dan minta dipilih. Jadi alas an kenapa mereka mau jadi gubernur Jakarta sangat penting.

Guru dan mentor saya, Mpu Peniti pernah berkata, bahwa banyak manusia tidak sama dengan kemanusian yang banyak. Banyak manusianya tapi nol kemanusian-nya, maka kita kehilangan nilai dan arti. Barangkali saatnya kita bertanya dimana kemanusian kita ?  Barangkali ada baiknya seorang calon gubernur menjelaskan dengan jujur, kepada kita alas an sesungguhnya dia mau jadi gubernur. Bilamana tidak ada yang berani, saya akan berpihak kepada supir taxi. Dan memilih calon gubernur dari Planet Mars.

Sang supir taxi berkisah, bahwa kalau ia ngotot mau tinggal di Jakarta, ia akan punya rumah petak ditengah kampung yang kumuh. Selalu kebanjiran. Dan disekelilingnya lebih banyak pengangguran dari pada yang kerja. Serta tetangga yang terlibat narkoba dan berbagai keributan. Ia merasa itu bukan tempat yang manusiawi buat keluarganya. Maka ia mengorbankan semua statusnya sebagai orang Betawi agar keluarganya punya tempat tinggal yang lebih manusiawi. Ia rela telanjang menanggalkan semua atributnya sebagai orang Betawi dan kehilangan haknya atas Jakarta yang ia cintai.

Barangkali kita perlu membersihkan kaca-mata kita. Melihat Jakarta lebih manusiawi. Dan membereskan masalah yang ada didepan kita. Yang terlihat begitu nyata. Soal anak jalanan. Jalan yang berlubang. Kesempatan berdagang. Dan kali yang penuh dengan sampah. Daripada kita janji yang muluk-muluk. Membuat Jakarta lebih manusiawi untuk kita tempati sebagai rumah.

Jadi, bapak calon gubernur ? Apa alasan anda ingin jadi Gubernur Jakarta ?

Sunday, May 27, 2012

SOTO AYAM MAKSIAT DI DJOGDJAKARTA


Alkisah, salah satu masakan Peranakan yang sangat popular di semenanjung Melayu – Malaysia, Sumatera Utara dan Kepulauan Riau adalah laksa. Kuah santan yang diberi mie, irisan ayam, daun kemangi dan sambal yang cukup pedas. Kata Laksa diperkirakan datang dari bahasa Hindi/Persian – lakhshah yang menjelaskan mie atau bihun yang dipakai dalam masakan ini. Teori lain mengatakan bahwa Laksa berasal dari dialek Cantonese yang artinya “bumbu kasar” yang kemungkinan berupa gilingan halus ebi/udang kering yang ditaburi dalam laksa. Apapun perdebatannya, laksa memang popular, dan merupakan bukti fusi budaya Tiongkok Peranakan yang melebur menjadi satu dengan budaya kuliner dari India. Konon kabarnya Laksa ini juga diadopsi oleh komunitas Tiongkok Peranakan di tanah Jawa, terutama di Jawa Barat, sehingga popular-lah Laksa Bogor.

Teman saya yang doyan dan hobi makan, punya teori bahwa Laksa ini akhirnya di adopsi oleh dapur keluarga Belanda atau Tiongkok Peranakan di tanah Jawa yang kental dengan pendidikan Belanda. Agar lebih sehat dan lebih “Western” maka santan dihilangkan. Irisan tomat dan keripik kentang ditambahkan. Sehingga akhirnya menjadi Soto Ayam ala Indonesia yang sangat beken.

Teman saya berteori bahwa masyarakat “bule” punya kepercayaan yang kuat terhadap kuah ayam atau “chicken soup”. Kuah ayam atau “Chicken Soup” dipercaya memiliki kemanjuran pengobatan. Terutama pada saat tubuh lemah dan menjelang terserang penyakit flu atau masuk angin. Menurut beberapa penyelidikan dr.Stephen Rennard, MD dari University of Nebraska, kuah ayam atau “Chicken Soup” memiliki protein yang disebut cysteine, yang berfungsi melegakan saluran pernafasan dari segala macam lender. Kuah ayam atau “chicken soup” memiliki reaksi yang membantu sel darah putih untuk memerangi aneka radang dan gangguan saluran pernafasan.

Jadi mungkin saja laksa berevolusi menjadi soto Ayam di dapur keluar Belanda di tanah Jawa lebih dari seratus tahun yang lalu. Dalam perkara soto ayam, fokusnya adalah menciptakan kuah ayam yang harum, gurih dan berkhasiat. Dan memang inilah rahasia kelezatan soto ayam. Perkembangan budaya kuliner, sangat dipengaruhi oleh budaya keraton dari raja yang berkuasa dimasa itu. Sekitar tahun 1624, ketika Sultan Agung mengembangkan pengaruh kerajaan Mataram hingga keluar Jawa seperti Madura dan sekitarnya. Putera beliau Amangkurat ke 1 konon memiliki gaya hidup yang sangat glamor. Termasuk budaya kuliner. Dan dimasa inilah Belanda yang iri terhadap Amangkurat, banyak menjiplak budaya kuliner Indonesia dan diadopsi oleh dapur dapur keluarga Belanda. Raden Trunojoyo yang merupakan bangsawan Madura yang memberontak terhadap Amangkurat I dan Amangkurat II, kemungkinan besar melakukan persaingan bukan hanya lewat politik tetapi juga lewat budaya dan kuliner. Barangkali disaat itu pula kuliner Madura mengalami masa kejayaan. Tak heran apabila hingga hari ini, sejumlah masakan Madura seperti sate ayam dan soto ayam, mengalami jejak legendaris yang mengagumkan. Kini kemanapun anda pergi, entah itu hotel bintang 5, restoran Indonesia dimana saja, maka salah hidangan yang selalu ada adalah soto ayam.

Soto Ayam Madura Cak Yatim di Godean – Djogdjakarta 

 Biasanya ritual saya kalau sedang di Djogdjakarta adalah makan pagi dengan Gudeg. Namun kali ini teman saya mengajak saya sarapan pagi dengan soto ayam ala Madura. Awalnya tentu saja saya tertawa. Karena soto ayam Madura dan Djogdjakarta bukanlah kombinasi yang serasi menurut saya. Namun saya sudah berpengalaman untuk tidak meremehkan hal-hal seperti ini. Karena makan enak seringkali kita temukan justru ditempat yang tidak pernah kita sangka bersama. Jadilah pagi itu, kami berlima menuju arah GODEAN.

Pas dipinggir jalan, ada tenda dengan tulisan mentereng SOTO AYAM MADURA CAK YATIM. Biarpun dipinggir jalan, tempatnya sangat resik. Hanya ada meja untuk makan kurang dari 12 orang. Jadi kalau ingin menikmati, saran saya datang sepagi mungkin. Menunya bisa dipilih, nasi soto alias nasi dicampur dengan soto ayam langsung. Atau nasi dipisah. Saya memilih yang kedua.

Isi soto bisa anda pilih. Kalau “original recipe”- soto ayam biasa dengan suwiran daging ayam plus irisan telur rebus. Atau anda bisa pilih menu maksiat. Untuk yang ini, tergantung keberanian anda. Bisa pake ati-ampla, plus jerohan seperti usus dan telur muda. Pokoknya maksiat sesuai imajinasi anda ! Saya usulkan anda mencoba menu maksiat. Ketika soto ayam pesanan saya datang, bentuknya sangat menggoda selera. Terhidang dengan tatanan bawang goreng, yang kuning keemasan. Bukan coklat kehitaman. Saya bisa merasakan bahwa Cak Yatim punya selera “perfection” tersendiri.

Sebelum soto saya racik, saya menghirup kuahnya dahulu. Harum dan sama sekali tidak ada bau amisnya. Kuahnya jernih dengan rasa yang memang agak “light”. Tetapi sentuhan rempah-rempah terpadu dengan harmonisnya. Gurih mendekati kesempurnaan. Lalu saya tambah irisan jeruk nipis dan sambal setengah sendok. Saya merasa tidak perlu ditambah dengan kecap manis. Karena saya ingin rasa soto ayam yang klasik. Mendekati pakem barat yang lebih “purist”. Maka ketika saya menyantapnya kemudian, bersama nasi dan kerupuk. Lidah saya menari kegirangan. Enak betul. Sayapun makan dengan sangat lahap.

Potongan sayur kol,toge, irisan seledri dan mie soun, menjadi orkestra yang membuat soto ayam saya terasa kompleks dan komplit. Harus saya akui soto ayam Madura Cak Yatim ini memang klasik apa adanya. Soto ayam di hotel bintang 5 seringkali, soto beberapa hari yang lalu, dan dipanasi dari kulkas. Kuahnya seringkali berkabut. Rasanya cuma asin, dan kehilangan nyawa rempah-rempah. Suwiran ayam seringkali kering dan keras. Beda dengan soto ayam Madura Cak Yatim.

Teman saya berkomentar, “inilah romantisme yang telah hilang”. Saya sendiri jadi ingat rumah. Dan ingat Ibu saya. Kalau kebetulan anda berada di Djogdjakarta, Ibu Kota Pelan di dunia, dan anda ingin sarapan pagi yang sederhana, murah namun berkesan. Saran saya, soto ayam Madura Cak Yatim di Godean. Hidangan klasik yang sudah sangat sulit dijumpai. Usai menikmati anda pasti akan merasa bahagia dan kaya raya. Setidaknya itulah kepuasan yang saya rasakan.

Sunday, May 20, 2012

Duitnya dari mana ..... pak Gubernur ?????

Rada lucu juga pas mendengar hampir semua calon gubernur Jakarta, menjanjikan hal yang sama. Menjamin Jakarta tidak akan macet, tidak ada sampah dan tidak akan banjir. Janji yang semuanya sama. Mirip baju lusinan di Mangga Dua. Sebagai anak Jakarta asli, yang lahir, besar dan mencari nafkah di Jakarta, saya merasa bahwa persoalan Jakarta jauh lebih kompleks dan beragam. Banjir, macet, dan samapah hanyalah masalah yang hanya muncul dipermukaan saja. Seperti kalau kita sakit kepala. Yang mungkin ditimbulkan karena berbagai penyakit. Jadi saya akan tidak memilih, kalau tidak ada satupun calon gubernur yang cerdas menjelaskan analisa akar permasalahan Jakarta. Dan bagaimana strategi dengan solusi yang manjur mengatasi semua permasalahan itu. Kalkulasi saya yang kedua, andaikata gubernur yang sekarang saja tidak mampu ? Apa jaminan gubernur baru bakalan mampu. Ini masalahnya ! Dan lucunya ada juga calon gubernur yang bicara soal kejujuran dan integritas. Buat saya pribadi, terus terang saya kepengin punya Gubernur yang cerdas, pandai, cekatan, dan punya strategi. Yang bukan saja bisa menyelesaikan masalah. Tapi memajukan Jakarta. Soal kepribadian gubernur itu sendiri, menurut saya adalah nomer dua. Sebagai kota metropolis di Asia, Jakarta saat ini tidak memiliki magnet yang magis seperti Hongkong, Tokyo dan Singapore. Semua teman dank lien saya yang datang dari luar negeri, hanya punya keluhan, omelan dan makian terhadap Jakarta. Kita butuh seorang gubernur yang bisa memajukan ekonomi Jakarta. Menurut saya ini akar masalahnya. Terus terang barangkali hanya satu Gubernur Jakarta, yang berpikir demikian. Mulai dari ekonomi. Yaitu Ali Sadikin. Hanya dia gubernur Jakarta saat itu yang berani membuka kasino di Jakarta saat itu. Langkah yang memang kontroversial, namun Ali Sadikin tau betul, tanpa uang, tanpa duit, Jakarta tidak akan bertahan. Kita butuh uang atau duit yang super banyak, untuk membuat sistim angkutan missal untuk membuat Jakarta tidak macet. Kita butuh uang yang sama untuk membangun super infrastruktur untuk membebaskan Jakarta dari banjir. Dan Jakarta butuh uang yang sangat banyak untuk membangun pabrik sampah minimal 4 buah ditiap wilayah Jakarta Utara-Barat-Timur-Selatan. Jadi pertanyaan saya sederhana, “…. wahai para calon gubernur Jakarta, dari mana anda mau mencari uang untuk membangun Jakarta ???” Tanpa uang semua janji anda semuanya menjadi percuma. Dari mana datangnya uang ? Menurut situs http://djkd.depdagri.go.id/?tabel=apbd_apbd&jenis=1&kodeprov=1, tentang APBD pemerintah Jakarta, disebutkan bahwa dalam tahun 2011, pemerintah Jakarta defisit dalam bujetnya yaitu sekitar Rp. 1.796.606.445.400,- atau hampir 2 trilyun rupiah. Artinya kita kurang pandai mengelola bujet sehingga bisa defisit. Besar pasak dari pada tiang. Ini masalah serius yang jarang diketahui publik. Tahun 2010 pemerintah Jakarta juga defisit Rp. -2.113.287.454.000,-. Kalau dagang ini artinya 2 tahun berturut-turut kita terus merugi. Kecurigaan saya, pemerintah DKI Jakarta punya utang yang cukup besar. Pemerintah Indonesia saja mengumumkan, per 31 Mei 2011, memiliki utang US$ 201,07 miliar. Asumsi saya, pemerintah DKI Jakarta dengan kinerja bujet yang defisit selama 2 tahun terakhir juga punya utang. Yang kita tidak pernah tahu – berapa hutang pemerintah DKI Jakarta ? Dan dimana pemerintah DKI Jakarta berhutan ? Realita lain adalah, di Indonesia rata-rata pemerintah daerah pada tahun 2010, menghabiskan 55 persen dari APBD-nya hanya untuk membayar gaji pegawai. Malah beberapa daerah menghabiskan lebih dari 70 persen APBD-nya hanya untuk membayar gaji. Artinya birokrasi pemerintah daerah sangat gemuk. Melihat angka statistik seperti ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pemerintah DKI Jakarta juga dalam situasi yang mirip-mirip. Jangan-jangan malah pemerintah DKI Jakarta terancam bangkrut. Itu ketakutan saya yang utama. Nah, sebagai pengusaha, saya butuh Gubernur yang dengan lugas bisa menjelaskan strateginya, bagaimana mencari uang yang banyak buat Jakarta. Saya butuh Gubernur yang berani merampingkan pemerintah daerah, sehingga APBD tidak habis dipakai hanya untuk membayar gaji pegawai. Karena untuk mengurus banjir, sampah dan kemacetan lalu lintas, serta setumpuk fasilitas social lain, seperti rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, pasar dsbnya, Jakarta butuh uang alias duit yang banyak sekali. Ekonomi Jakarta : Tidak ada satu-pun calon gubernur Jakarta yang bicara gambling dan tuntas soal perekonomian kota Jakarta. Apa visi mereka ? Dan bagaimana menjadikan Jakarta makmur sejahtera ? Kemarin dulu, sebuah surat kabar nasional mengumumkan bahwa penduduk Jakarta sudah lebih dari 10 juta orang. Dengan kota satelit sekelilingnya, yang kita sebut Jakarta-Bogor-Depok-Tanggerang-Bekasi alias Jabodetabek, Jakarta menjadi magnet dari lebih 20 juta orang. Wilayah Jakarta adalah hampir 750 km2. Bandingkan dengan Singapura yang hanya memiliki 710 km2 dan penduduk kurang dari 5½ juta orang. Dan Hongkong 1.104 km2 dengan penduduk 7,1 juta penduduk. Nah GDP Hongkong percapita sudah mencapai hampir $ 50.000. Singapore GDPnya sudah mencapai hampir $ 60.000 percapita. Sedangkan data 2009 mengatakan GDP Jakarta sudah diatas $ 8.400 percapita. Andaikata hingga tahun 2012 GDP Jakarta tumbuh 100%, baru mencapai $ 16.000 percapita. Melihat perbandingan ini, andaikata ada calon gubernur Jakarta yang pintar dan cerdas, maka dengan memberdayakan 10 juta penduduk Jakarta, maka Jakarta bisa saja menjadi primadona metropolis baru di ASIA. Menjadi hub ekonomi Indonesia. Yang menggerakan dan menjadi stimulus ekonomi Indonesia. GDP Jakarta punya potensi untuk tumbuh diatas $ 40.000 - $ 50.000 pada tahun 2020. Jakarta mestinya punya potensi yang jauh lebih bagus , bila dibanding dengan Singapura dan Hongkong. Keragaman potensi sumberdaya, dan peluang pertumbuhan ekonomi, jauh lebih besar di Jakarta. Seorang klien dari Eropa menyebut Jakarta sebagai “the new hot spot of ASIA”. Tinggal yang kita butuhkan adalah calon gubernur yang pintar dan cerdas memajukan ekonomi Jakarta, menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi Jakarta, sehingga ada surplus uang yang sangat banyak untuk membangun Jakarta. Esok lusa apabila anda bertemu dengan calon gubernur Jakarta, yang berjanji akan membuat Jakarta aman dari banjir, sampah dan kemacetan. Maka dengan serius tatap matanya dan bertanya dengan sungguh-sungguh : “Duitnya dari mana pak ??”

Sunday, May 06, 2012

MENGAPA GUE DILAHIRKAN SEBAGAI ORANG JELEK ????

Suatu hari, di Tsim Tsa Tsui – Hongkong, saya tertegun melihat sebuah buku karangan Alastair Dougall, judulnya “BOND VILLAINS”. Sebuah buku kecil yang menceritakan semua musuh, bandit dan penjahat yang melawan James Bond diserial filmnya. Ketika saya membeli buku tersebut, teman saya tertawa. Dia bilang, saya itu aneh. Selalu suka yang berlawanan. Saya cuma tertawa saja. Komentar saya saat itu, seringkali dalam kehidupan ini, sisi yang satunya jarang terungkap. Dan menjadi misteri tersendiri. Buat saya, seringkali cerita itu melewati kehebatan lawannya. Siang itu akhirnya kami berdamai dan menutupnya dengan makan burung goreng di Sha Tin. Seminggu kemudian, saat saya sudah kembali ke Jakarta, teman saya mengirim email. Tentang kisah hidup Danny Trejo. Seorang actor yang berwajah buruk. Badan penuh tattoo. Sehingga sering berperan menjadi bandit atau penjahat. Wajah dan bentuk badannya menjadi cirri persepsi kita tentang seorang bandit atau penjahat. Anda pasti melihatnya diberbagai film. Konon Danny Trejo, sejak kecil memang sudah keluar masuk penjara. Menjadi preman, brandalan, dan kriminal sesungguhnya. Dipenjara Danny Trejo sendiri seringkali memenangkan kejuaran tinju. Hidupnya sangat gelap. Penuh dengan petualangan didunia hitam. Danny sendiri, barangkali pada suatu titik hidupnya, telah menyadari sepenuhnya bahwa ia menerima takdir sebagai orang jelek dan memang hak dan kewajiban-nya untuk menjadi penjahat. Namun, pusaran nasib Danny Trejo berubah. Saat ia bertemu dengan seroang sutradara film yang mengajaknya main flm. Mulanya ia ragu. Namun sang sutradara film meyakinkan Danny bahwa sebuah film tidak hanya seru ditonton karena jagoannya ganteng dan keren. Sebuah film membutuhkan bandit dan penjahat yang sama serunya dan sebanding dengan jagoan-nya. Maka akhirnya Danny Trejo menerima fatwa perubahan nasibnya. Ia lalu menekuni jalan hidupnya yang baru. Sebagai seorang actor film dengan spesialisasi bandit atau penjahat. Uniknya Danny Trejo begitu terkenalnya, sampai-sampai pada akhirnya dalam film Machete, Danny Trejo berperan sebagai jagoan. Mentor spiritual saya, Mpu Peniti pernah memberikan wejangan. Kata beliau dunia ini penuh dengan ketidak sempurnaan. Apabila kita hanya mau menghargai semua yang sempurna. Maka kita akan kecewa berat dan menyalahkan banyak pihak. Kalau kita tidak hati-hati, kita juga akan menyalahkan sang Pencipta. Mpu Peniti menyuruh saya melihat semuanya. Dan semuanya adalah sempurna. Maka semuanya harus dimanfaatkan. Hanya kita yang berpikir kerdil dan mengejek semua yang kita anggap tidak sempurna, dan memasukan-nya dalam kategori buruk, jelek dan jahat. Padahal semuanya memiliki peluang yang sama. Bila kita mampu berpikir dalam totalitas yang satu. Semuanya sempurna. Kita akan menghargai kehidupan ini dalam nilai yang sangat jauh lebih tinggi. Kita akan puas. Kita akan bahagia. Sayangnya, realita yang kita hadapi tidaklah selalu demikian. Teman saya, seorang psikolog bercerita bahwa, secara budaya, kita sebenarnya telah dipenjarakan berabad-abad. Lihat saja dongeng-dongen disekeliling kita. Selalu saja ada cerita tentang satu orang yang jelek dan buruk rupa mendambakan cinta dari satu orang yang cantik dan sempurna. Dongeng seperti “Beauty and The Beast”, adalah salah satu yang populer. Orang tua selalu menginginkan anaknya lahir dengan kesempurnaan yang penuh. Entah itu cantik dan atau ganteng. Masyarakat kita dipenuhi dengan stigma seperti itu. Salah satu diantaranya adalah obsesi sejumlah wanita Indonesia yang ingin punya suami orang asing. Bilamana ditanya motifnya, salah satu jawaban yang popular adalah – “ingin memperbaiki garis keturunan”. Pernah disebuah restoran, saya menguping percakapan sejumlah suster, yang membandingkan kecantikan dan kegantengan anak asuhnya. Percaya atau tidak, mereka lebih semangat mengasuh anak yang ganteng atau cantik. Mengasuh anak yang “tidak ganteng atau tidak cantik” seringkali membuat derajat mereka turun. Mereka menjadi tidak semangat, terlebih apalagi bilamana sang anak juga bandel dan tingkah lakunya membuat sang suster lelah untuk mengaturnya. Yang menyedihkan adalah kalau satu keluarga memiliki beberapa anak. Dan percaya atau tidak, anak yang penampilannya paling kurang, seringkali menjadi korban. Kurang mendapatkan perhatian dan menjadi sumber konflik. Inilah kenyataan yang menyedihkan. Terjadi disekeliling kita setiap harinya. Terlebih dalam dunia khayal ala sinetron setiap harinya, dimana kita cuma disajikan tontonan tentang orang ganteng dan cantik, secara tidak sengaja, kita membuat vonnis terhadap dunia kita. Beberapa hari yang lalu dalam sebuah tayangan televise, tentang diskusi calon presiden Indonesia 2014, seorang komentator, terus terang membandingkan kondisi fisik para calon presiden. Vonnis sang komentator adalah semata-mata fisik mulai dari tinggi badan, penampilan wajah, hingga aspek lainnya. Malah sang komentator mengatakan salah satu calon, “terlihat serem”. Dan calon lain “dilihatnya saja sudah tidak enak”. Sangat sulit kita menilai seseorang tanpa atribut fisik. Sangat sulit pula kita tidak menilai negatif dan memiliki kecurigaan terhadap seseorang, semata-mata juga karena penampilan fisiknya. Beberapa minggu yang lalu, saya kehilangan salah satu teman sekolah saya ketika di SMA dulu. Ia meninggal karena stroke. Buat saya mungkin cerita ini adalah tragedi tersendiri. Teman saya, wajahnya tidak jelek. Lumayan. Tinggi badannya juga rata-rata. Hanya saja ia punya penyakit kulit yang akut. Wajahnya selalu berjerawatan. Tidak pernah sembuh. Sehingga banyak wanita yang terusik melihat wajahnya. Ia mengalami kesulitan berhubungan dengan wanita. Dengan rasa kecewa yang sangat tinggi, ia akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan sekolah. Kebetulan ia berasal dari keluarga yang cukup mampu. Maka mulailah ia melakukan perlawanan terhadap nasib dan takdirnya, dilahirkan dengan kondisi seperti itu. Ia sangat marah dengan dunia. Ia juga marah mengapa wajahnya seperti itu. Bertahun-tahun ia marah. Hingga akhirnya ia dikalahkan nasib. Ia gagal menikah. Lalu meninggal patah hati terhadap perlaku-an dunia ini. Tahun lalu ia mengalami stroke. Beberapa minggu lalu ia meninggal dengan setumpuk kekecewaan. Teman saya yang psikolog, pernah memperlihatkan “social media”, didepan saya lewat computer jinjingnya. Ia mencari wanita diatas umur 40 tahun dan masih lajang. Maka muncul-lah sejumlah wanita, yang tentu saja jauh dari standar pemain sinetron di televise. Tiba-tiba saya merasakan kesunyian yang sangat dalam dari mereka. Bahwa mereka gagal menikah, semata-mata karena fisiknya. Memang cerita orang “jelek” seperti aktor Danny Trejo, tidak terjadi tiap hari. Danny Trejo boleh dikatakan sebagai perkecualian yang mendekati mujizat. Namun satu perkecualian ini harus cukup menjadi satu pelita yang menerangi jalan gelap dihadapan kita. Buddha mengatakan :”bahwa dunia ini adalah hasil pemikiran kita bersama”. Apa yang kita pikirkan, maka jadilah dunia ini seperti sekarang. Barangkali di hari suci Waisak ini, kita memberanikan diri bersama, untuk mengubah pemikiran kita secara total. Kita harus berani memberikan harapan baru untuk dunia dengan serangkaian pemikiran baru. Amitābha

Sunday, April 15, 2012

KITA HARUS SERAKAH .... !!!!!!!!



Hari itu Minggu, dan pikir saya, mau bermalas-malasan, sembari cuci mata di Central. Karena ini hari terkahir saya dinas di Hong Kong. Tiba-tiba BB saya berderit menyampaikan pesan, “Gue jemput jam 10, kita ‘brunch’ bersama”. Begitu pesan kolega saya. Awalnya saya malas juga. Tapi ia berjanji mau mengenalkan saya dengan produser film documenter dari Milan. Saya pikir bakal menarik juga.

Siang itu kami akhirnya ‘brunch’ disebuah café kecil di Central. Saya diperkenalkan dengan Giovanni, yang baru saja membuat film iklan Lexus di Eropa. Dan berencana membuat film dokumenter di Indonesia. Obrolan kami sangat seru, dan berkisar di masalah-masalah per-film-an. Lalu tak lama kemudian, bergabung dengan kami seorang bankir muda wanita. Lalu obrolan menikung dengan topic berbeda.

Sambil menghirup latte pelan-pelan, dia bilang kepada kami, bahwa ia punya pengamatan tentang ekonomi dunia yang sedang malang melintang. Pada prinsipnya ia menghujat korporat raksasa dunia, yang semakin gendut, lamban dan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia. Secara sederhana ia bicara dua kubu ekonomi yang selalu berseteru. Antara ‘demand’ vs ‘supply’ dan ‘majikan’ vs buruh’. Dimana Utopia ekonomi adalah ilusi keseimbangan diantara keduanya. Yang selama sejarah manusia telah dibuktikan sangat absurd, dan tidak pernah ketemu. Selalu saja ada pihak yang serakah dan mencoba mengungkit demand. Akibatnya supply selalu saja berlimpah. Dan terjadi kekacauan ekonomi. Pemerintah mencoba melakukan pemandulan ‘demand’, tapi yang terjadi adalah bisnis kartel. Itu sebabnya terori lain mencoba memerdeka-kan dan membebaskan ekonomi dengan ‘free trade’. Yang akhirnya hanya melindungi yang kuat.

Dilema berikutnya adalah perseteruan yang tidak pernah berakhir antara majikan melawan buruh. Karena majikan akan terus bertambah makmur dan buruh menjerit, upah yang terus berkurang. Dan ketika buruh diberikan kekuatan serikat dan melawan buruh, maka diberbagai negara maju, dinamika industry dan ekonomi selalu diwarnai dengan pemogokan berserial. Akibatnya ekonomi kita selalu disandera ketimpangan. Dalam versi film Oliver Stone tahun 1987 – The Wall Street – pialang saham Gordon Gekko mengatakan “Greed, for lack of a better word, is good. Greed is right. Greed works. Greed clarifies, cuts through, and captures, the essence of the evolutionary spirit.”. Yang secara sinis mengatakan selama ada orang yang serakah, maka ekonomi akan mengalami akslerasi. Tetapi sebaliknya terlalu banyak orang yang serakah maka ekonomi juga akan rontok.

Kalau ‘serakah’ itu adalah bensin ekonomi. Maka proses apa yang harus kita lakukan agar ‘serakah’ hilang kebinalan-nya dan menjadi enerji 100% positif. Sang bankir wanita, sambil menyuap telur dadar dan roti panggang, melanjutkan. Bahwa ‘serakah’ harus didesain ulang. Dalam hal ‘demand’ vs ‘supply’, ‘serakah’ tidak lagi menjadi keinginan memproduksi sebanyak-banyaknya dengan harga murah, lalu menguasai ‘demand’ dunia, tetapi menjadi semangat dahaga untuk berinovasi.

Dan dalam konteks ‘majikan’ vs ‘buruh’, semangat ‘serakah’ harus diterjemahkan menjadi motivasi bahwa buruh akhirnya harus berani merdeka, bangkit dan menjadi majikan diri sendiri. Bila kedua hal diatas dilebur menjadi satu, maka muncul satu kata sakti “entrepener” alias wirausaha.

Walaupun entrepener dipercaya menjadi penyelamat ekonomi dunia. Kenyataan-nya banyak pemerintah didunia ini yang ogah berpihak kepada kaum entrepener. Kebanyakan cuma basa basi saja. Di Amerika misalnya, kaum kebanyakan dan marjinal menyebut diri mereka sebagai kaum 99%. Yang kebanyakan, rata-rata dengan kemampuan ekonomi yang serba pas dan terbatas. Semata-mata karena ekonomi Amerika dikuasai oleh kaum 1% yang kaya raya dan berkuasa menyandera ekonomi. Begitu tuduhan mereka. Inilah permasalahan yang dituduhkan menjadi kemelut benang kusut ekonomi dunia saat ini. Solusinya tentu saja secara praktis adalah pemerataan. Yang sangat tidak mungkin lagi di-era globalisasi saat ini.

Teman saya sang Bankir wanita, lalu menyebut Singapura dan Hong Kong, yang jumlah entrepenernya sangat banyak. Karena bila dilihat secara praktis keduanya tidak memiliki sumber daya apa-pun. Hampir semuanya, mulai dari makanan hingga lain-lain-nya praktis di impor. Namun ekonomi mereka tetap bertahan. Minimal di tahap pengusaha mikro. Sehingga setiap terjadi krisis ekonomi dunia, yang sakit kepala lebih banyak pengusaha gede, dan pengusaha korporat. Pengusaha kopi, mie, di pinggir jalan, tetap saja laris dan bertahan. Kalaun ada yang bangkrut, akan digantikan oleh yang baru dalam sekejap. Menurut Bank Dunia 2012, Singapore dan Hongkong berada diurutan 1 dan 2 dalam kemudahan berusaha. Bandingkan dengan Indonesia yang berada diurutan 129.

Aktivitas entrepener dunia saat ini berkisar dibawah 12% dari total GDP. Beberapa Negara kecil seperti Peru dan Bolivia sudah diatas 30%. Demekian juga beberapa Negara di ASIA seperti China, India dan Philipina yang sudah diatas 20%. Belajar dari pengalaman berbagai Negara didunia ini, Indonesia 2014 harus punya presiden entrepener. Yang berani ‘serakah’ untuk memotivasi masyarakat Indonesia bermimpi dan bercita-cita menjadi pengusaha.

Ide dan inovasi yang cemerlang seringkali datang dari entrepener. Karena semata-mata sifat persaingan mereka yang sangat ketat. Korporasi dan pengusaha besar, lebih tertarik pada efsiensi dan laba. Naluri dan persaingan korporasi lebih mengarah pada Price Earnings Ratio dan Return on Investment. Bukan kepada inovasi. Jadi Indonesia 2014, mestinya punya visi serius tentang mencetak entrepener dan pengusaha muda. Yang penuh ide dan inovasi. Pasar Indonesia sendiri akan tumbuh beragam dengan cluster yang memiliki keragamanan tema dan sumber daya. Bali misalnya akan menjadi ekonomi dengan pemicu turisme. Jakarta akan dipicu dengan industri pelayanan dan permodalan. Jawa Timur mungkin akan dipicu dengan industry hortikultura. Keragaman ini akan membuat Indonesia menjadi epicentrum ekonomi baru di ASIA. Bank Dunia meramalkan pada tahun 2014, Indonesia akan memiliki 150 juta konsumen kelas menengah. 30 juta dari 150 juta itu akan menjadi konsumen kelas menengah atas. Saat ini GDP kita sudah diatas $3.400.- dan mungkin setelah tahun 2014 akan menembus $ 5.000.-.

Jadi ‘serakah’ bukanlah semangat yang negatif. Tinggal kita memberi arti dan nilai yang positif. Masalahnya apakah kita bakal punya presiden yang mau mewujudkan kecermelangan ekonomi kita era 2020 ?? Kalau ada – siapakah orangnya ????