Saya selalu dikritik banyak orang, karena sikap saya yang selalu positif dan optimis, biar dalam situasi sesulit apapun. Kebanyakan dari mereka menuduh saya, punya training khusus untuk berpura-pura tenang dan “cool”. Sesuatu yang tentu saja tidak benar. Karena yang benar, saya punya pengalaman luar biasa yang mengubah hidup saya. Saat saya masih kuliah, pernah sekali kami membuat marah dosen Hukum . Kami semuanya merasa pelajaran Hukum membosankan dan tidak perlu-perlu amat. Maka hari itu kami semuanya bercanda diluar batas pada saat jam kuliah hukum. Dan terjadilah peristiwa itu !
Sang dosen, akhirnya mendongeng. Suatu saat sebuah perusahaan sepatu di Inggris, mengirim 2 eksekutif terbaiknya ke Afrika untuk melakukan studi pengembangan usaha. Setelah hampir 3 bulan menjelajah Afrika, akhirnya keduanya kembali dan masing-masing membuat laporan sendiri-sendiri. Eksekutif pertama diberikan waktu 60 menit untuk melapor ke board management. Laporannya sangat pesimis. Menurutnya Afrika sangat tertinggal. Cuacanya panas dan kering. Semua serba minus. Daya beli rendah. Dan hampir semua orang tidak pakai sepatu. Sepatu masih menjadi produk asing yang tidak dikenal. Jadi kesimpulannya Afrika bukanlah pasar yang empuk untuk dimasuki.
Eksekutif kedua, memberikan laporan yang 180 derajat terbalik. Ia justru dengan semangat berapi-api dan menggebu-gebu, memaparkan rencana bisnis 10 tahun kedepan, dengan sangat agresif. Ia meminta perusahaan agar dengan segera mencanangkan membuka selusin pabrik baru diseluruh Afrika. Dalih dia, sepatu adalah produk yang belum dikenal luas di Afrika. Kebanyakan orang Afrika masih bertelanjang kaki. Dan hampir semuanya relatif belum memiliki sepatu. Sepatu adalah produk mewah saat itu. Bayangkan apa jadinya kalau sepatu tiba-tiba populer dan semua orang membeli sepatu. Peluangnya diluar impian, sungguh tak terbayangkan. Maka ia meminta boar of management segera meluaskan usahanya di Afrika.
Dosen Hukum saya menasehati, bahwa yang paling penting dalam hidup ini, adalah “having the right curiosity !” untuk mengubah segalanya. Dengan rasa penasaran yang pas dan benar, maka segalanya akan berubah, termasuk nasib dan situasi krisis yang kita hadapi. François-Anatole Thibault yang kemudian dikenal sebagai Anatole France, adalah seorang penyair, novelis, dan juga jurnalis, yang pernah meraih hadiah nobel untuk literatur tahun 1921, mengatakan bahwa barangkali kualitas terbaik manusia adalah rasa penasaran itu sendiri. Walt Disney, pionir Imagineering yang beken, membuat kiasan, bahwa rasa penasaran itu ibaratnya sebuah sinar yang berada didepan kita, dan yang membuat kita terus membuka pintu didepan. Mencari dan menciptakan yang baru. Rasa penasaran adalah bensin yang menggerakan inovasi. Setidaknya itu yang terjadi dalam banyak kisah hidup para ilmuwan beken !
Jadi jurus ketiga dan sekaligus jurus pamungkas dalam situasi menangkal krisis adalah – “Change your curiosity !” Mpu Peniti, mentor dan guru saya, pernah bercerita bahwa waktu ibarat gangsing selalu berputar pada porosnya, tetapi juga bergerak dari satu titik ketitik berikutnya. Kehidupan kita juga sama. Tiada detik, jam, dan hari yang serba sama. Sebaliknya tiap detik, jam, dan hari semuanya sangat luar biasa dan istimewa. Semuanya punya “luck” dan “opportunity” yang berbeda. Bagi yang tidak penasaran gangsing itu hanya berputar diporosnya. Sangat membosankan. Bagi yang penasaran gangsing itu berputas diporosnya dan juga jalan dari satu titik ketitik lainnya. Apapun bisa terjadi !
Pernah sekali, saya bertemu dengan seorang koki ternama di Hong Kong, dan saat kami makan bersama, ia bercerita tentang pentingnya peranan saus tiram dalam masakan Cina moderen. Hampir semua masakan Cina terutama versi Cantonese, pasti memiliki sentuhan saus tiram atau “oyster sauce”. Sayuran yang sederhana menjadi santapan mewah berkat sentuhan saus tiram. Jadi apalah jadi nasib kita tanpa saus tiram atau “oyster sauce”. Kita akan kehilangan sejumlah kenikmatan, begitu kesimpulan sang koki.
Percaya atau tidak, sejarah saus tiram atau “oyster sauce” terbilang sangat muda. Baru 120 tahun, tepatnya pada tahun 1888. Ditemukan secara tidak sengaja, dan 100% gara-gara penasaran saja. Alkisah, Lee Kum Sheung adalah seorang petani yang tinggal di wilayah Qibau Xinhui, di propinsi Guangdong. Karena diperas oleh komplotan mafia lokal, ia terpaksa mengungsi ke Nanshui, Zhuhai. Disana ia terpaksa tidak mampu lagi menjadi petani. Miskin dan tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam. Untuk menyambung hidupnya, ia terpaksa cari akal, dan akhirnya membuka warung kecil. Yang khusus berjualan masakan kerang tiram. Suatu hari tanpa disengaja, di tungku tempatnya memasak, tertinggal kuali dengan sejumlah kerang tiram. Rupanya sisa tiram itu tertinggal, dan terus dimasak tanpa sengaja dengan sisa bara api yang tertinggal sepanjang malam. Esok harinya Lee Kum Sheung, bersiap-siap membuka warungnya, dan menemukan di kuali, sisa tiram yang sudah berubah menjadi larutan coklat yang sangat kental. Bayangkan apa jadinya kalau Lee Kum Sheung, bablas rasa penasarannya, membuang sisa tiram itu kesampah begitu saja. Tapi untunglah rasa penasaran Lee Kum Sheung jauh lebih besar. Ia menjulurkan telunjuknya dan mencolek sisa tiram yang sudah menjadi saus kental berwarna kecoklatan. Lalu Lee Kum Sheung dengan rasa penasaran yang luar biasa berusaha mencium aromanya. Ternyata aromanya cukup keras, dan baunya enak sekali. Maka didorong dengan rasa penasaran yang mendalam, Lee Kum Sheung memberanikan diri mencicipi saus coklat itu. Ia kaget bukan main. Ternyata rasanya sangat gurih bukan kepalang. Itulah awal dan asalnya penemuan saus tiram atau “oyster sauce” yang kini dikenal dengan nama saus Lee Kum Kee. 100% kebetulan. 100% gara-gara penasaran. Kata Mpu Peniti, kalau kita memiliki rasa penasaran yang cukup besar, maka sesuatu yang kebetulan dan kecelakaan dapat menjadi “luck” kita yang paling besar. Itu sebabnya mutlak bagi kita untuk selalu – “CHANGE YOUR CURIOSITY !”
Sunday, October 26, 2008
Thursday, October 23, 2008
Sunday, October 19, 2008
3 Jurus Menangkal KRISIS (Part II – Change Your Luck !)
Jurus pertama menangkal krisis – “Change Your Attitude !”, ….. sudah terasa sulit buat sejumlah orang. Mengubah sikap ? Duh, susah banget. Tapi itu memang syarat mutlaknya. Tanpa perubahan sikap di jurus pertama, kita tidak akan mungkin masuk di jurus kedua. Jurus kedua bisa jadi jauh lebih sulit lagi ! Yang menurut Mpu Peniti – “Change Your Luck !”. Sebuah topik yang sangat kontroversial. Pertama anda pasti bingung. Apakah ada “Luck” itu ? Kalau memang ada ? Bentuknya seperti apa sih ? “Luck” sebenarnya bukan sesuatu yang ajaib banget, seperti jimat, mantra dan ajian lain-nya. Bukan pula kutukan, yang memang hanya dimiliki sejumlah orang dan sisanya bernasib sial tidak pernah mengenal “luck”.
Seorang penjudi profesional pernah bercerita bahwa buat dirinya, keberuntungan atau “luck” sama persis dengan sebuah harapan. Menurutnya keberuntungan seseorang atau sebaliknya kesialan seseorang tidak akan abadi. Selalu berubah. Misalnya apabila ia main poker disebuah kasino dan dalam satu jam ia kalah. Maka ia tidak pernah ngotot untuk tetap bermain dimeja yang sama. Ia akan berhenti, istirahat sejenak dan pindah ke meja baru. Begitu seterusnya. Dan biasanya memang keberuntungan atau “luck” itu pasti akan berubah. Hanya saja kita yang harus punya keberanian untuk merubahnya.
Larry King pernah berkata : “Those who have succeeded at anything and don't mention luck are kidding themselves”. Dapat dikatakan “luck” itu faktor-faktor plus yang menguntungkan kita. Dan semua orang memilikinya. Trik-nya kita perlu menemukan dan memanfaatkan-nya sekaligus. Itu saja. Dan itu strateginya. Bayangkan ada dua orang anak muda. Yang pertama sangat ganteng sekali. Dengan mudah ia dapat menjadi bintang sinetron. Anak muda yang kedua, terbalik. Wajahnya sangat jelek sekali. Tapi ia punya cita-cita yang sama. Ingin jadi bintang sinetron. Apakah dengan demekian – “luck”-nya jelek banget, dan ia bernasib sial. Tidak juga sebenarnya ! Kalau ia cerdas dan mau memanfaatkan muka jeleknya, ia masih bisa menjadi aktor. Yaitu memerankan bandit dan penjahat. Karena film bukan hanya penuh dengan aktor-aktor ganteng saja. Film juga butuh aktor untuk memerankan penjahat.
Simak saja kisah hidup aktor Danny Trejo. Kalau anda hobby nonton, maka wajahnya tak asing lagi. Ia main film serial TV dari Baywatch, Alias, X-files, LOST, hingga Desperate Housewives. Ia tampil difilm layar lebar seperti Desperado, Heat, Anaconda, Con Air, dan Planet of Terror. Uniknya bukan sebagai jagoan, tetapi sebagai penjahat. Karena ia memiliki wajah yang jelek menakutkan dan sebuah tattoo besar didadanya. Ia barangkali adalah salah satu aktor terlaris untuk memerankan penjahat. Sejak kecil Danny adalah kriminal dan pengguna narkoba. Ia dipenjara 11 tahun di San Quentin. Didalam penjara ia belajar bertinju. Setelah keluar dari penjara, suatu hari ia memberikan kesaksian di pertemuan Cocaine Anonymous tahun 1985. Disana ia bertemu seorang aktor yang meminta bantuan untuk memberikan support moril. Ketika Danny mengunjungi sang aktor di tempat pengambilan film RUNAWAY TRAIN, ia bertemu temannya dipenjara yang kebetulan adalah seorang penulis skenario. Akhirnya ia di casting dengan honor pertama hanya $ 350/hari. Sejak saat itulah, nasibnya berubah total. Ia berhasil – “Change the luck !”
Bagi anda yang skeptis, dan bersikap pesimis, pasti akan mencibir membaca cerita diatas. Karena anda akan mempertanyakan berapa orang yang nasibnya beruntung seperti Danny Trejo ? Barangkali jumlahnya kurang dari jumlah jari anda. Menurut Prof. Richard Wiseman penulis buku dan periset topik “The Luck Factor”, justru itulah tantangan-nya, bagaimana membuat Dewi Fortuna berpihak kepada anda.
Betapa sering, setelah kita menghadiri sebuah reuni sekolah, dan kita menemukan kalau teman-teman kita yang terkenal paling pandai dan nilai akademisnya yang paling baik, ternyata karir dan sukses kehidupan-nya biasa-biasa saja setelah 20-30 tahun kemudian. Teman kita yang sukses besar dan memiliki kehidupan spektakuler kadang justru berasal dari murid-murid yang dulunya kita kenal bandel, nakal dan dengan nilai akademis yang biasa-biasa saja. Kok bisa begitu ? Jawabannya sederhana. Teman kita yang pandai dan cerdas, kemungkinan setelah lulus sekolah akan melamar diperusahaan terkenal - yang sangat besar, sangat terkenal dan sudah mapan. Ibaratnya ia masuk kekolam besar seperti sebuah samudra tak bertepi. Otomatis disana ia punya pesaing sangat banyak dan kompetitif, dan kemungkinan-nya ia menang dan menonjol dalam kariernya menjadi sangat terbatas pula.
Sebaliknya teman kita yang nakal, bandel dan nilainya rata-rata, kemungkinan tidak akan diterima diperusahaan besar yang sangat terkenal dan mapan. Situasi akan memaksa ia harus melamar pekerjaan di perusahaan yang jauh lebih kecil. Nah, kebalikan dari teman kita diatas – maka teman kita yang bandel, nakal dan nilai akademisnya hanya rata-rata, ibaratnya masuk kekolam ikan yang relatif lebih kecil. Disinilah trik yang sebenarnya ! Teman kita telah mengambil tindakan yang jauh lebih revolusioner. Yang memiliki kemungkinan sangat bervariasi. Andaikata perusahaan-nya itu berkembang pesat dan meroket, maka teman kita akan otomatis meroket karirnya bersama perusahaan. Dalam tindakan dan aksi, kalau kita ukur probabilitasnya, teman kita yang pandai dan cerdas mengambil jalan yang aman, untuk itu kemungkinan-nya untuk - “Change your luck !” akan jauh lebih kecil. Teman kita yang bandel, nakal dan nilai akademisnya hanya rata-rata, yang melamar keperusahaan kecil dan terlihat mengambil jalan yang terpaksa karena tidak diterima diperusahaan besar, sebenarnya telah mengambil langkah dan tindakan yang – “Change your luck !” –nya jauh lebih dahsyat ! Jadi jangan heran kalau fenomena ini terjadi dan seringkali anda temukan disekeliling kita.
Prof. Richard Wiseman penulis buku “THE LUCK FACTOR”, mengatakan bahwa strategi terbaik untuk meningkatkan faktor “luck” dalam diri kita adalah dengan memaksimalkan peluang kita. Caranya mudah sekali. Yaitu jangan terbiasa melakukan hal yang lazim dan sama berulang-ulang. Ubah rutinitas anda. Bayangkan kalau dalam kehidupan anda sehari-hari anda melewati rute yang sama, pergi ketempat yang sama, selalu makan di restoran yang sama, dan beribadah ditempat yang sama. Kemungkinannya anda selalu ketemu orang yang sama. Otomatis nasib anda tidak akan berubah. Sebuah pribahasa Jerman berkata, "Luck sometimes visits a fool, but it never sits down with him." Artinya keberuntungan atau “luck” ada dimana-mana. Ia selalu mendatangi siapa saja. Tidak peduli pintar atau bodoh. Tetapi ia tidak pernah lekat dan mengikuti orang itu. Jadi kita yang harus aktif menangkapnya dan memanfaatkan-nya. Nasehat akhir Prof. Richard Wiseman untuk mengubah keberuntungan kita – “Change your luck !” - adalah “Be open to new experiences and breaking your normal routine !”
Seorang penjudi profesional pernah bercerita bahwa buat dirinya, keberuntungan atau “luck” sama persis dengan sebuah harapan. Menurutnya keberuntungan seseorang atau sebaliknya kesialan seseorang tidak akan abadi. Selalu berubah. Misalnya apabila ia main poker disebuah kasino dan dalam satu jam ia kalah. Maka ia tidak pernah ngotot untuk tetap bermain dimeja yang sama. Ia akan berhenti, istirahat sejenak dan pindah ke meja baru. Begitu seterusnya. Dan biasanya memang keberuntungan atau “luck” itu pasti akan berubah. Hanya saja kita yang harus punya keberanian untuk merubahnya.
Larry King pernah berkata : “Those who have succeeded at anything and don't mention luck are kidding themselves”. Dapat dikatakan “luck” itu faktor-faktor plus yang menguntungkan kita. Dan semua orang memilikinya. Trik-nya kita perlu menemukan dan memanfaatkan-nya sekaligus. Itu saja. Dan itu strateginya. Bayangkan ada dua orang anak muda. Yang pertama sangat ganteng sekali. Dengan mudah ia dapat menjadi bintang sinetron. Anak muda yang kedua, terbalik. Wajahnya sangat jelek sekali. Tapi ia punya cita-cita yang sama. Ingin jadi bintang sinetron. Apakah dengan demekian – “luck”-nya jelek banget, dan ia bernasib sial. Tidak juga sebenarnya ! Kalau ia cerdas dan mau memanfaatkan muka jeleknya, ia masih bisa menjadi aktor. Yaitu memerankan bandit dan penjahat. Karena film bukan hanya penuh dengan aktor-aktor ganteng saja. Film juga butuh aktor untuk memerankan penjahat.
Simak saja kisah hidup aktor Danny Trejo. Kalau anda hobby nonton, maka wajahnya tak asing lagi. Ia main film serial TV dari Baywatch, Alias, X-files, LOST, hingga Desperate Housewives. Ia tampil difilm layar lebar seperti Desperado, Heat, Anaconda, Con Air, dan Planet of Terror. Uniknya bukan sebagai jagoan, tetapi sebagai penjahat. Karena ia memiliki wajah yang jelek menakutkan dan sebuah tattoo besar didadanya. Ia barangkali adalah salah satu aktor terlaris untuk memerankan penjahat. Sejak kecil Danny adalah kriminal dan pengguna narkoba. Ia dipenjara 11 tahun di San Quentin. Didalam penjara ia belajar bertinju. Setelah keluar dari penjara, suatu hari ia memberikan kesaksian di pertemuan Cocaine Anonymous tahun 1985. Disana ia bertemu seorang aktor yang meminta bantuan untuk memberikan support moril. Ketika Danny mengunjungi sang aktor di tempat pengambilan film RUNAWAY TRAIN, ia bertemu temannya dipenjara yang kebetulan adalah seorang penulis skenario. Akhirnya ia di casting dengan honor pertama hanya $ 350/hari. Sejak saat itulah, nasibnya berubah total. Ia berhasil – “Change the luck !”
Bagi anda yang skeptis, dan bersikap pesimis, pasti akan mencibir membaca cerita diatas. Karena anda akan mempertanyakan berapa orang yang nasibnya beruntung seperti Danny Trejo ? Barangkali jumlahnya kurang dari jumlah jari anda. Menurut Prof. Richard Wiseman penulis buku dan periset topik “The Luck Factor”, justru itulah tantangan-nya, bagaimana membuat Dewi Fortuna berpihak kepada anda.
Betapa sering, setelah kita menghadiri sebuah reuni sekolah, dan kita menemukan kalau teman-teman kita yang terkenal paling pandai dan nilai akademisnya yang paling baik, ternyata karir dan sukses kehidupan-nya biasa-biasa saja setelah 20-30 tahun kemudian. Teman kita yang sukses besar dan memiliki kehidupan spektakuler kadang justru berasal dari murid-murid yang dulunya kita kenal bandel, nakal dan dengan nilai akademis yang biasa-biasa saja. Kok bisa begitu ? Jawabannya sederhana. Teman kita yang pandai dan cerdas, kemungkinan setelah lulus sekolah akan melamar diperusahaan terkenal - yang sangat besar, sangat terkenal dan sudah mapan. Ibaratnya ia masuk kekolam besar seperti sebuah samudra tak bertepi. Otomatis disana ia punya pesaing sangat banyak dan kompetitif, dan kemungkinan-nya ia menang dan menonjol dalam kariernya menjadi sangat terbatas pula.
Sebaliknya teman kita yang nakal, bandel dan nilainya rata-rata, kemungkinan tidak akan diterima diperusahaan besar yang sangat terkenal dan mapan. Situasi akan memaksa ia harus melamar pekerjaan di perusahaan yang jauh lebih kecil. Nah, kebalikan dari teman kita diatas – maka teman kita yang bandel, nakal dan nilai akademisnya hanya rata-rata, ibaratnya masuk kekolam ikan yang relatif lebih kecil. Disinilah trik yang sebenarnya ! Teman kita telah mengambil tindakan yang jauh lebih revolusioner. Yang memiliki kemungkinan sangat bervariasi. Andaikata perusahaan-nya itu berkembang pesat dan meroket, maka teman kita akan otomatis meroket karirnya bersama perusahaan. Dalam tindakan dan aksi, kalau kita ukur probabilitasnya, teman kita yang pandai dan cerdas mengambil jalan yang aman, untuk itu kemungkinan-nya untuk - “Change your luck !” akan jauh lebih kecil. Teman kita yang bandel, nakal dan nilai akademisnya hanya rata-rata, yang melamar keperusahaan kecil dan terlihat mengambil jalan yang terpaksa karena tidak diterima diperusahaan besar, sebenarnya telah mengambil langkah dan tindakan yang – “Change your luck !” –nya jauh lebih dahsyat ! Jadi jangan heran kalau fenomena ini terjadi dan seringkali anda temukan disekeliling kita.
Prof. Richard Wiseman penulis buku “THE LUCK FACTOR”, mengatakan bahwa strategi terbaik untuk meningkatkan faktor “luck” dalam diri kita adalah dengan memaksimalkan peluang kita. Caranya mudah sekali. Yaitu jangan terbiasa melakukan hal yang lazim dan sama berulang-ulang. Ubah rutinitas anda. Bayangkan kalau dalam kehidupan anda sehari-hari anda melewati rute yang sama, pergi ketempat yang sama, selalu makan di restoran yang sama, dan beribadah ditempat yang sama. Kemungkinannya anda selalu ketemu orang yang sama. Otomatis nasib anda tidak akan berubah. Sebuah pribahasa Jerman berkata, "Luck sometimes visits a fool, but it never sits down with him." Artinya keberuntungan atau “luck” ada dimana-mana. Ia selalu mendatangi siapa saja. Tidak peduli pintar atau bodoh. Tetapi ia tidak pernah lekat dan mengikuti orang itu. Jadi kita yang harus aktif menangkapnya dan memanfaatkan-nya. Nasehat akhir Prof. Richard Wiseman untuk mengubah keberuntungan kita – “Change your luck !” - adalah “Be open to new experiences and breaking your normal routine !”
Saturday, October 18, 2008
3 Jurus Menangkal KRISIS - (Part 1 - Jurus Pertama)
Setelah ayah saya wafat, saya mengalami salah satu krisis kehidupan yang paling parah dan menderita. Saya begitu terpukul dan kehilangan sekali. Dalam krisis itulah saya memepertanyakan segalanya. Tak terkecuali, mulai dari kehadiran Tuhan sang pencipta, hingga nasib dan takdir. Semakin jauh saya bertanya, semakin saya kehilangan jawaban. Jiwa saya limbung terombang-ambing. Untuk menenangkan jiwa, saya mencoba pergi berziarah ketempat-tempat yang dianggap orang suci. Disana saya berharap mampu menyatukan garis kehidupan saya dengan Tuhan. Namun usaha itu sia-sia. Nihil tanpa hasil.
Untunglah dititik terendah itu saya bertemu dengan Mpu Peniti. Yang kini menjadi sahabat, mentor dan juga guru kehidupan. Beliau-lah yang menarik saya dari krisis. Dan mengajarkan 3 jurus menangkal krisis yang hingga kini saya praktek-kan sehari-hari. Barangkali saja, bermanfaat pula bagi semua orang yang saat ini sedikit banyak bersinggungan dengan krisis yang tengah meremukan dunia disekeliling kita.
Menurut Mpu Peniti, langkah pertama menghadapi krisis adalah – “Change Your Attitude !” Bayangkan anda berada dalam satu adegan film koboi. Dimana anda baru saja tiba disebuah kota yang sangat asing. Sang kuda anda parkir. Dan anda masuk kedalam bar. Katakanlah didalam bar yang penuh sesak itu ada lebih 100 penjahat. Maka bagaimana sikap anda saat masuk kedalam bar menjadi sangat penting ! Apakah anda memancing keributan atau tidak ? Semata-mata akan ditentukan oleh sikap dan bahasa tubuh anda. Anda bisa saja menyelinap diam-diam dan berbaur. Atau masuk dengan sikap provokasi. Sikap adalah segalanya, begitu Mpu Peniti menasehati saya.
Ada satu dongeng, yang diceritakan beliau yang selalu saya ingat. Alkisah di Cina ada seorang petani yang memiliki se-ekor kuda yang sangat ia sayangi. Kuda itu memang sangat indah. Hitam legam. Kulitnya berkilat dan sangat gagah sekali. Hampir semua orang didesa mengagumi sang kuda. Apa daya suatu hari ketika kuda itu sedang merumput, tiba-tiba ia lari dan menghilang. Kabar kaburnya sang kuda seketika beredar kemana-mana. Semua orang didesa membicarakan-nya. Sang petani digosipkan sedang dilanda “nasib sial” atau “bad luck”. Tapi sang petani cuma tersenyum dan tertawa, setiap kali ia mendengar gosip itu. Cerita nasib sial sang petani menjadi topik pembicaraan yang panas selama berhari-hari.
Tepat sepuluh hari setelah peristiwa kaburnya sang kuda, tiba-tiba seluruh desa dikejutkan dengan suara gemuruh. Rupanya sang kuda yang hilang, kembali lagi dengan puluhan kuda liar, dan menggiringnya ke tanah sang petani. Maka situasinya berubah. Kini semua orang didesa bergosip ria, bahwa sang petani nasibnya ketiban durian runtuh. Mendadak kaya raya, gara-gara kudanya yang mabur berhasil membawa puluhan kuda liar. Sang petani menjadi orang terkaya didesa dengan harta puluhan kuda itu. Lagi-lagi gosip menjalar kemana-mana. Sang petani lagi-lagi cuma tersenyum dan tertawa.
Dari sekian puluhan kuda liar itu, ada satu kuda betina yang warna dan kegagahan-nya menyaingi kuda sang petani. Sehingga putra sulung sang petani, tergoda untuk menjinak-kan kuda betina ini. Saat mencoba, rupanya sang kuda liar jauh lebih beringas dari yang diperkirakan. Putera sang petani terpelanting dari sang kuda, jatuh dan kakinya patah. Seluruh desa lagi-lagi bergosip ria, dan kembali sang petani di-isukan bernasib sial. Bayangkan dari sial,mujur dan kembali sial. Sang petani tetap gigih. Ia hanya tersenyum dan tertawa menghadapi semua gunjingan itu.
Tak lama berselang, datang serombongan serdadu, dengan perintah kaisar. Untuk merekrut semua anak muda didesa itu untuk dijadikan serdadu. Maklum kaisar Cina sedang berperang dengan negeri seberang dan butuh serdadu dalam jumlah sangat banyak. Seluruh warga desa cemas. Toh, kebanyakan pemuda desa yang dijadikan serdadu tidak akan pernah kembali dan berakhir tewas di medan perang. Semua orang tua, yang anaknya diambil kaisar untuk dijadikan serdadu, menangis meraung-raung tidak rela. Untung bagi si petani, karena anaknya jalan terpincang-pincang gara-gara patah kaki, ia tidak direkrut menjadi serdadu. Nyawanya selamat dan ia-pun tetap tinggal didesa.
Moral dari cerita ini singkat dan sederhana, bahwa krisis cuma satu skenario peristiwa. Semuanya bergantung pada sikap kita untuk menghadapinya. Demekian juga dengan keberuntungan. Krisis bukanlah akhir dari segalanya. Krisis mampu berpaling seketika dan menjadi peluang terbaik hidup kita. Itu sebabnya, Mpu Peniti menuturkan satu pepatah Cina kuno yang berbunyi : “A crisis is an opportunity riding the dangerous wind.” Jadi krisis sebenarnya memiliki 2 wajah. Yang pertama tentu saja bahaya, dan situasi yang tidak menguntungkan. Tetapi wajah lain adalah peluang. Peluang yang selalu bisa dimanfaatkan. Peluang yang membuka pintu lebar-lebar.
Menuruti petuah Mpu Peniti, sejak itu saya mengubah sikap dan prilaku saya. Krisis tadi menjadi ‘titik terpenting’ dalam kehidupan saya. A ‘crucial point’ untuk balik arah dan ‘reinventing my life’. Krisis itu membuat saya berpikir dan melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Memberikan saya sebuah arti lain yang mendalam. Lambat laun perubahan itu menjalar kedalam cara berpikir saya dan cara-cara saya melakukan bisnis sehari-hari. Jadi apabila anda ingin benar-benar keluar dari krisis yang ada dan memanfaatkan peluang yang ada, hanya satu yang harus anda lakukan – “Change your attitude !” (bersambung)
Untunglah dititik terendah itu saya bertemu dengan Mpu Peniti. Yang kini menjadi sahabat, mentor dan juga guru kehidupan. Beliau-lah yang menarik saya dari krisis. Dan mengajarkan 3 jurus menangkal krisis yang hingga kini saya praktek-kan sehari-hari. Barangkali saja, bermanfaat pula bagi semua orang yang saat ini sedikit banyak bersinggungan dengan krisis yang tengah meremukan dunia disekeliling kita.
Menurut Mpu Peniti, langkah pertama menghadapi krisis adalah – “Change Your Attitude !” Bayangkan anda berada dalam satu adegan film koboi. Dimana anda baru saja tiba disebuah kota yang sangat asing. Sang kuda anda parkir. Dan anda masuk kedalam bar. Katakanlah didalam bar yang penuh sesak itu ada lebih 100 penjahat. Maka bagaimana sikap anda saat masuk kedalam bar menjadi sangat penting ! Apakah anda memancing keributan atau tidak ? Semata-mata akan ditentukan oleh sikap dan bahasa tubuh anda. Anda bisa saja menyelinap diam-diam dan berbaur. Atau masuk dengan sikap provokasi. Sikap adalah segalanya, begitu Mpu Peniti menasehati saya.
Ada satu dongeng, yang diceritakan beliau yang selalu saya ingat. Alkisah di Cina ada seorang petani yang memiliki se-ekor kuda yang sangat ia sayangi. Kuda itu memang sangat indah. Hitam legam. Kulitnya berkilat dan sangat gagah sekali. Hampir semua orang didesa mengagumi sang kuda. Apa daya suatu hari ketika kuda itu sedang merumput, tiba-tiba ia lari dan menghilang. Kabar kaburnya sang kuda seketika beredar kemana-mana. Semua orang didesa membicarakan-nya. Sang petani digosipkan sedang dilanda “nasib sial” atau “bad luck”. Tapi sang petani cuma tersenyum dan tertawa, setiap kali ia mendengar gosip itu. Cerita nasib sial sang petani menjadi topik pembicaraan yang panas selama berhari-hari.
Tepat sepuluh hari setelah peristiwa kaburnya sang kuda, tiba-tiba seluruh desa dikejutkan dengan suara gemuruh. Rupanya sang kuda yang hilang, kembali lagi dengan puluhan kuda liar, dan menggiringnya ke tanah sang petani. Maka situasinya berubah. Kini semua orang didesa bergosip ria, bahwa sang petani nasibnya ketiban durian runtuh. Mendadak kaya raya, gara-gara kudanya yang mabur berhasil membawa puluhan kuda liar. Sang petani menjadi orang terkaya didesa dengan harta puluhan kuda itu. Lagi-lagi gosip menjalar kemana-mana. Sang petani lagi-lagi cuma tersenyum dan tertawa.
Dari sekian puluhan kuda liar itu, ada satu kuda betina yang warna dan kegagahan-nya menyaingi kuda sang petani. Sehingga putra sulung sang petani, tergoda untuk menjinak-kan kuda betina ini. Saat mencoba, rupanya sang kuda liar jauh lebih beringas dari yang diperkirakan. Putera sang petani terpelanting dari sang kuda, jatuh dan kakinya patah. Seluruh desa lagi-lagi bergosip ria, dan kembali sang petani di-isukan bernasib sial. Bayangkan dari sial,mujur dan kembali sial. Sang petani tetap gigih. Ia hanya tersenyum dan tertawa menghadapi semua gunjingan itu.
Tak lama berselang, datang serombongan serdadu, dengan perintah kaisar. Untuk merekrut semua anak muda didesa itu untuk dijadikan serdadu. Maklum kaisar Cina sedang berperang dengan negeri seberang dan butuh serdadu dalam jumlah sangat banyak. Seluruh warga desa cemas. Toh, kebanyakan pemuda desa yang dijadikan serdadu tidak akan pernah kembali dan berakhir tewas di medan perang. Semua orang tua, yang anaknya diambil kaisar untuk dijadikan serdadu, menangis meraung-raung tidak rela. Untung bagi si petani, karena anaknya jalan terpincang-pincang gara-gara patah kaki, ia tidak direkrut menjadi serdadu. Nyawanya selamat dan ia-pun tetap tinggal didesa.
Moral dari cerita ini singkat dan sederhana, bahwa krisis cuma satu skenario peristiwa. Semuanya bergantung pada sikap kita untuk menghadapinya. Demekian juga dengan keberuntungan. Krisis bukanlah akhir dari segalanya. Krisis mampu berpaling seketika dan menjadi peluang terbaik hidup kita. Itu sebabnya, Mpu Peniti menuturkan satu pepatah Cina kuno yang berbunyi : “A crisis is an opportunity riding the dangerous wind.” Jadi krisis sebenarnya memiliki 2 wajah. Yang pertama tentu saja bahaya, dan situasi yang tidak menguntungkan. Tetapi wajah lain adalah peluang. Peluang yang selalu bisa dimanfaatkan. Peluang yang membuka pintu lebar-lebar.
Menuruti petuah Mpu Peniti, sejak itu saya mengubah sikap dan prilaku saya. Krisis tadi menjadi ‘titik terpenting’ dalam kehidupan saya. A ‘crucial point’ untuk balik arah dan ‘reinventing my life’. Krisis itu membuat saya berpikir dan melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Memberikan saya sebuah arti lain yang mendalam. Lambat laun perubahan itu menjalar kedalam cara berpikir saya dan cara-cara saya melakukan bisnis sehari-hari. Jadi apabila anda ingin benar-benar keluar dari krisis yang ada dan memanfaatkan peluang yang ada, hanya satu yang harus anda lakukan – “Change your attitude !” (bersambung)
Sunday, October 12, 2008
EKONOMI PISANG ( EKONOMI JALANAN PART 2)
Saya ingat betul, ketika masih SD, Ibu saya punya langganan tukang pisang dari Sukabumi. Seminggu dua kali, tukang pisang ini datang dengan mobil VW combi menjajakan buah pisang, pepaya dan juga aneka jajanan pasar. Ibu saya selalu membeli pisang dan pepaya dari mereka secara berlangganan. Pisang yang dijual, adalah selalu pisang ambon, dan kadang mereka membawa juga pisang mas yang kecil-kecil, sesekali bersama pisang tanduk yang besar-besar untuk digoreng. Pisang ambon dari Sukabumi itu saya ingat sangat harum, dan enak sekali. Ukurannya juga besar-besar. “That is the best of time !”
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya bertemu dengan eksekutif dari Chiquita, salah satu produsen pisang paling beken didunia. Sejarah mereka dari 100 tahun, bermula pada tahun 1870 ketika Captain Lorenzo Dow Baker membeli 160 tandan pisang dari Jamaica dan belayar ke kota Jersey selama 11 hari, dan menjual pisang-pisang itu dengan keuntungan yang sangat luar biasa. Dan tahun 1885, Captain Baker mendirikan Boston Fruit Company. Yang mengawali distribusi pisang segar keseluruh Amerika.
Perdagangan pisang dunia saat ini dikuasai oleh 5 perusahaan global. Walaupun pisang secara komersial sebenarnya ditanam dilebih dari 100 negara. Yang dikenal dengan merek-merek - Chiquita, Delmonte, Dole, Bonita dan Fyffes. Data tahun 2005 saja menyebutkan bahwa eskpor global sudah mencapai lebih dari 72 juta metrik ton, dengan nilai lebih diatas 36 milyar US dolar. Atau diatas 360 trilyun rupiah. Namun berdagang pisang tidak semudah yang diperkirakan orang. Karena inilah buah yang paling mudah rusak dan umurnya sangat pendek sekali. Chiquita sendiri hampir bangkrut ditahun 2001, dan pernah meminta perlindungan dibawah Chapter 11.
Saat ini pisang yang paling banyak ditanam secara komersial, dan adalah Cavendish, sebuah varitas pisang yang mirip dengan pisang ambon. Berasal dari Vietnam dan Cina, dikembangkan secara komersial sejak tahun 1950’an. Ini prestasi yang luar biasa karena selama 50 tahun lebih, varitas ini tidak pernah berubah. Memang secara kosmetik pisang ini dianggap yang paling sempurna, bentuknya yang panjang dan warnanya yang merata kuning ke-emasan bila matang. Dagingnya juga cukup keras untuk ditansportasi sehingga tidak murah rusak. Walaupun rasanya tidaklah sempurna. Aromanya terbatas, hanya manis saja pada saat masak.
Nah, percaya atau tidak salah satu produsen pisang terbesar dan terbaik dunia adalah Indonesia. Cuma saja potensi ini tidak pernah dilirik kita dan dikembangkan secara komersial. Sehingga kini kita berada dititik ambang tragedi.
Tragedinya buat kita yang hidup dikota besar, seperti Jakarta, pisang yang kita makan setiap hari dan kita beli dari supermarket adalah kebanyakan jenis cavendish bukan pisang ambon. Bilamana anda ingin menikmati pisang yang benar-benar lezat, and harus nyetir 2 jam kearah Puncak dan Cipanas untuk mendapatkan pisang ambon asli, yang rasanya dapat dipertanggung jawabkan. Sedih sekali bukan ?
Padahal menurut eksekutif Chiquita itu, dunia membutuhkan jenis pisang baru. Yang lebih exotic dan lebih gurih. Semata-mata untuk menaik-kan harga komoditi pisang dunia. Bila tidak harga pisang dunia yang hanya konsentrasi pada satu jenis saja, yaitu cavendish terancam menjadi komoditi dengan marjin yang sangat tipis. Harapan itu sebenarnya dimiliki oleh Indonesia. Secara teori Indonesia punya 200 lebih varitas pisang. Beberapa diantaranya sangat exotic seperti pisang barangan dan pisang raja. Hanya saja pisang ini rentan terhadap hama dan memerlukan infrastrukur perkebunan yang tidak murah. Plus, lahan yang cukup besar dan baik serta kondisi iklim yang sempurna. Salah satu penghasil pisang di ASIA yang terkenal adalah Philipina. Jumlah produksinya diperkirakan mencapai 6 juta metrik ton dan cukup banyak yang diekspor. Indonesia memproduksi 4.5 metrik ton, sedikit dibawah Philipina, tetapi yang diekspor jumlahnya sedikit sekali. Indonesia tidak dikenal sebagai eksportir pisang dunia.
Nah, pulau terbesar yang paling dekat dengan Philipina adalah Sulawesi - yang konon memang salah satu lahan terbaik untuk menanam pisang di Indonesia. Pernah sekali saya diperlihatkan pisang barangan yang terkenal dari Medan, ditanam dikebun percontohan di Sulawesi, mampu mencapai ukuran lebih sebesar pisang ambon. Konon pisang barangan bisa jadi tumpuan baru varitas komoditi pisang dunia. Setidaknya ada beberapa teman yang membisiki saya hal ini. Pisang barangan cenderung memiliki daging lebih keras dari cavendish, sehingga dari segi logistik dan transportasi cenderung lebih unggul. Jadi jangan heran kalau pisang barangan mampu ditransportasikan dari Medan ke Jakarta. Dalam keadaan masak, pisang barangan yang dagingnya lebih kuning warnanya dari pisang cavendish, dan aromanya yang lebih dahsyat pula, jelas memiliki “eating quality” lebih baik dari pisang cavendish. Andaikata varitas ini dikembangkan secara komersial, bisa jadi Indonesia menjadi negara terkemuka untuk mengekspor pisang keseluruh dunia. Potensi nilai devisanya bisa mencapai diatas semilyar dolar.
Pisang sendiri secara komoditi sangat populer diseluruh dunia. Jadi pemasaran-nya tidaklah akan sulit-sulit. Mudah saja. Semua orang suka pisang. Nilai nutrisinya juga bagus sekali. Pisang memiliki kombinasi nilai yang luar biasa, sebagai sumber enerji, protein, vitamin dan mineral. Konon setiap 100 gram pisang, ada 1.2% kandungan protein. Satu pisang besar diperkirakan mampu memberikan kontribusi 100 kalori. Itu sebabnya pisang seringkali dijadikan campuran makan bayi.
Pisang dikenal sangat bermanfaat bagi pencernaan. Seringkali juga dimakan secara teratur untuk menghindari konstipasi. Konon pisang menetralkan lambung yang terlalu asam dan mengurangi iritasi lambung. Pisang sangat baik dijadikan makanan awal bagi para penderita diare, karena lembut dilambung, bermanfaat menormalisasikan usus, dan kaya dengan pectin yang mampu menyerap air secara banyak. Pisang juga bermanfaat mengubah bakteri-bakteri berbahaya menjadi bakteri yang bermanfaat buat perut seperti acidophyllus bacilli.
Malah secara tradisional pisang digunakan sejak dulu dalam pengobatan asam urat dan atritis atau encok. Pisang yang juga tinggi kandungan mineral besinya, sangat baik dikonsumsi para wanita pada saat menstruasi, karena menghilangkan gejala anemik dan menyumbang enerji yang lumayan.
Tanaman pohon pisang juga penuh manfaat, daun-nya dipakai secara meluas dalam berbagai aneka kebutuhan dapur, mulai dari sebagai pembungkus dan juga alat memasak, misalnya dalam memepes. Dibeberapa daerah, jantung pisang muda dan pelepah pisang muda juga dimakan sebagai sayuran. Batang pohon pisang sendiri memiliki sejumlah nilai ekonomis yang unik. Seratnya secara tradisional turun temurun kita tenun untuk dijadikan tali.
Indonesia yang kaya dengan tanaman pisang ini, mulai dari Sabang dan Merauke, sudah saatnya secara serius menggarap budi daya pisang secara komersial. Siapa tahu, disaat-saat krisis ekonomi global yang menyerang seantero jagad, kita bangsa Indonesia, bisa lolos krisis, gara-gara diselamatkan pisang.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya bertemu dengan eksekutif dari Chiquita, salah satu produsen pisang paling beken didunia. Sejarah mereka dari 100 tahun, bermula pada tahun 1870 ketika Captain Lorenzo Dow Baker membeli 160 tandan pisang dari Jamaica dan belayar ke kota Jersey selama 11 hari, dan menjual pisang-pisang itu dengan keuntungan yang sangat luar biasa. Dan tahun 1885, Captain Baker mendirikan Boston Fruit Company. Yang mengawali distribusi pisang segar keseluruh Amerika.
Perdagangan pisang dunia saat ini dikuasai oleh 5 perusahaan global. Walaupun pisang secara komersial sebenarnya ditanam dilebih dari 100 negara. Yang dikenal dengan merek-merek - Chiquita, Delmonte, Dole, Bonita dan Fyffes. Data tahun 2005 saja menyebutkan bahwa eskpor global sudah mencapai lebih dari 72 juta metrik ton, dengan nilai lebih diatas 36 milyar US dolar. Atau diatas 360 trilyun rupiah. Namun berdagang pisang tidak semudah yang diperkirakan orang. Karena inilah buah yang paling mudah rusak dan umurnya sangat pendek sekali. Chiquita sendiri hampir bangkrut ditahun 2001, dan pernah meminta perlindungan dibawah Chapter 11.
Saat ini pisang yang paling banyak ditanam secara komersial, dan adalah Cavendish, sebuah varitas pisang yang mirip dengan pisang ambon. Berasal dari Vietnam dan Cina, dikembangkan secara komersial sejak tahun 1950’an. Ini prestasi yang luar biasa karena selama 50 tahun lebih, varitas ini tidak pernah berubah. Memang secara kosmetik pisang ini dianggap yang paling sempurna, bentuknya yang panjang dan warnanya yang merata kuning ke-emasan bila matang. Dagingnya juga cukup keras untuk ditansportasi sehingga tidak murah rusak. Walaupun rasanya tidaklah sempurna. Aromanya terbatas, hanya manis saja pada saat masak.
Nah, percaya atau tidak salah satu produsen pisang terbesar dan terbaik dunia adalah Indonesia. Cuma saja potensi ini tidak pernah dilirik kita dan dikembangkan secara komersial. Sehingga kini kita berada dititik ambang tragedi.
Tragedinya buat kita yang hidup dikota besar, seperti Jakarta, pisang yang kita makan setiap hari dan kita beli dari supermarket adalah kebanyakan jenis cavendish bukan pisang ambon. Bilamana anda ingin menikmati pisang yang benar-benar lezat, and harus nyetir 2 jam kearah Puncak dan Cipanas untuk mendapatkan pisang ambon asli, yang rasanya dapat dipertanggung jawabkan. Sedih sekali bukan ?
Padahal menurut eksekutif Chiquita itu, dunia membutuhkan jenis pisang baru. Yang lebih exotic dan lebih gurih. Semata-mata untuk menaik-kan harga komoditi pisang dunia. Bila tidak harga pisang dunia yang hanya konsentrasi pada satu jenis saja, yaitu cavendish terancam menjadi komoditi dengan marjin yang sangat tipis. Harapan itu sebenarnya dimiliki oleh Indonesia. Secara teori Indonesia punya 200 lebih varitas pisang. Beberapa diantaranya sangat exotic seperti pisang barangan dan pisang raja. Hanya saja pisang ini rentan terhadap hama dan memerlukan infrastrukur perkebunan yang tidak murah. Plus, lahan yang cukup besar dan baik serta kondisi iklim yang sempurna. Salah satu penghasil pisang di ASIA yang terkenal adalah Philipina. Jumlah produksinya diperkirakan mencapai 6 juta metrik ton dan cukup banyak yang diekspor. Indonesia memproduksi 4.5 metrik ton, sedikit dibawah Philipina, tetapi yang diekspor jumlahnya sedikit sekali. Indonesia tidak dikenal sebagai eksportir pisang dunia.
Nah, pulau terbesar yang paling dekat dengan Philipina adalah Sulawesi - yang konon memang salah satu lahan terbaik untuk menanam pisang di Indonesia. Pernah sekali saya diperlihatkan pisang barangan yang terkenal dari Medan, ditanam dikebun percontohan di Sulawesi, mampu mencapai ukuran lebih sebesar pisang ambon. Konon pisang barangan bisa jadi tumpuan baru varitas komoditi pisang dunia. Setidaknya ada beberapa teman yang membisiki saya hal ini. Pisang barangan cenderung memiliki daging lebih keras dari cavendish, sehingga dari segi logistik dan transportasi cenderung lebih unggul. Jadi jangan heran kalau pisang barangan mampu ditransportasikan dari Medan ke Jakarta. Dalam keadaan masak, pisang barangan yang dagingnya lebih kuning warnanya dari pisang cavendish, dan aromanya yang lebih dahsyat pula, jelas memiliki “eating quality” lebih baik dari pisang cavendish. Andaikata varitas ini dikembangkan secara komersial, bisa jadi Indonesia menjadi negara terkemuka untuk mengekspor pisang keseluruh dunia. Potensi nilai devisanya bisa mencapai diatas semilyar dolar.
Pisang sendiri secara komoditi sangat populer diseluruh dunia. Jadi pemasaran-nya tidaklah akan sulit-sulit. Mudah saja. Semua orang suka pisang. Nilai nutrisinya juga bagus sekali. Pisang memiliki kombinasi nilai yang luar biasa, sebagai sumber enerji, protein, vitamin dan mineral. Konon setiap 100 gram pisang, ada 1.2% kandungan protein. Satu pisang besar diperkirakan mampu memberikan kontribusi 100 kalori. Itu sebabnya pisang seringkali dijadikan campuran makan bayi.
Pisang dikenal sangat bermanfaat bagi pencernaan. Seringkali juga dimakan secara teratur untuk menghindari konstipasi. Konon pisang menetralkan lambung yang terlalu asam dan mengurangi iritasi lambung. Pisang sangat baik dijadikan makanan awal bagi para penderita diare, karena lembut dilambung, bermanfaat menormalisasikan usus, dan kaya dengan pectin yang mampu menyerap air secara banyak. Pisang juga bermanfaat mengubah bakteri-bakteri berbahaya menjadi bakteri yang bermanfaat buat perut seperti acidophyllus bacilli.
Malah secara tradisional pisang digunakan sejak dulu dalam pengobatan asam urat dan atritis atau encok. Pisang yang juga tinggi kandungan mineral besinya, sangat baik dikonsumsi para wanita pada saat menstruasi, karena menghilangkan gejala anemik dan menyumbang enerji yang lumayan.
Tanaman pohon pisang juga penuh manfaat, daun-nya dipakai secara meluas dalam berbagai aneka kebutuhan dapur, mulai dari sebagai pembungkus dan juga alat memasak, misalnya dalam memepes. Dibeberapa daerah, jantung pisang muda dan pelepah pisang muda juga dimakan sebagai sayuran. Batang pohon pisang sendiri memiliki sejumlah nilai ekonomis yang unik. Seratnya secara tradisional turun temurun kita tenun untuk dijadikan tali.
Indonesia yang kaya dengan tanaman pisang ini, mulai dari Sabang dan Merauke, sudah saatnya secara serius menggarap budi daya pisang secara komersial. Siapa tahu, disaat-saat krisis ekonomi global yang menyerang seantero jagad, kita bangsa Indonesia, bisa lolos krisis, gara-gara diselamatkan pisang.
Wednesday, October 08, 2008
EKONOMI JALANAN
Terus terang, saya bukan seorang ekonom. Pengetahuan saya tentang eknomi sangat terbatas. Tapi karena saya orangnya memang “penasaran”, saya jadi ingin tahu krisis ekonomi yang digembar-gemborkan media … itu sebenarnya apa ? Sayapun iseng, bertanya kesana kemari. Ternyata saya tidak mendapatkan cerita yang tuntas menjelaskan secara rinci dalam bahasa sederhana yang saya mengerti betul tentang kejadian yang sesungguhnya. Malah saya mendapat gosip dan sejumlah cerita aneh. Seorang pengusaha memaparkan bahwa krisis ekonomi yang kita hadapi ini memang merupakan siklus 10 tahunan. Ingat krisis ekonomi 1997-1998 ? Nah, 2008 ini persis sepuluh tahun. Jadi kita berada diakhir siklus dan harus memulai siklus baru. Kok begitu ? Menurut sang pengusaha ekonomi tak ubahnya seperti sebuah musim. Mirip roda, sekali diatas dan sekali dibawah. Ngak bisa dong diatas terus ! Saya hanya garuk kepala, tetapi memang masuk akal juga.
Gosip lain yang lebih seram saya terima berupa teori konspirasi. Ceritanya konyol. Persis novel thriller. Kata yang punya cerita – Ekonomi Amerika itu besarnya diatas 10 trilyun dolar. Gede banget ! Biaya perang di Irak dan Afghanistan sudah mencapai 870 milliar dolar. Bandingkan dengan rencana penyelamatan ekonomi Amerika yang diperdebatkan itu, yang nilainya cuma 700 milliar dollar. Sedangkan ekonomi dunia kurang lebih sekitar 55 trilyun dolar. Jadi ekonomi yang terbesar jelas adalah Amerika. Nah, alkisah sang cerita berlanjut bahwa harga minyak dunia yang melambung terus, jelas tidak menguntungkan Amerika dan bisa-bisa akan membuat Amerika bangkrut. Lihat saja pembangunan di Timur Tengah yang sedang berlangsung saat ini. Luar biasa fantastisnya, dan semua dibiayai oleh petro dollar. Juga mesin ekonomi Asia seperti Cina dan India yang tumbuh dengan pertumbuhan spektakuler. Membuat Amerika taget empuk banjirnya produk-produk murah dari Cina yang datang bak air bah. Seorang teman yang bercerita bahwa betapa dahsyatnya barang Cina itu, sampai-sampai ornamen Natal yang menghiasi pohon Natal juga dibuat di Cina. Hal ini jelas menguras devisa Amerika. Tahun 2000 import produk Cina ke Amerika baru berjumlah 100 milyar dollar. Tahun 2007 jumlah itu membengkak sudah mencapai 321 milyar dolar. Sedangkan ekspor Amerika ke Cina hanya berjumlah 65 milyar dolar. Angka ini katanya membuktikan bahwa Amerika telah kehilangan sebagian besar dari kemampuan daya saing-nya.
Lalu dimana cerita ini menjadi konyol ? Menurut yang punya cerita, apa jadinya bilamana Amerika ingin membalik situasi semuanya ini dan mengembalikan jarum kompas ekonomi dunia agar berpihak ke Amerika lagi. Jawaban-nya sederhana ! Bayangkan kalau komputer anda “hang”. Apa yang anda lakukan ? Anda pasti akan mematikan komputer dan melakukan ‘re-boot’. Mungkinkah situasi saat ini adalah upaya sekelompok orang yang berkonspirasi untuk melakukan ‘re-boot’ ekonomi ? Dan karena size ekonomi Amerika yang sedemekian besar, maka ketika ‘re-boot’ selesai yang akan start dimuka adalah Amerika. Artinya ekonomi dunia sengaja dibangkrutkan. Sebagai jalan untuk mengembalikan kejayaan ekonomi Amerika.
Cerita diatas tentulah konyol. Tetapi kalau anda taruh pemikiran anda dalam konteks teori konspirasi, cerita itu masuk akal seperti layaknya sebuah film thriller. Kemarin sore ketika saya membahasnya dengan beberapa tokoh, kami semua tertawa-tawa. Hiburan terbaik disaat gonjang ganjing.
Malam harinya, seorang rekan yang tidak ikut acara sore hari, menelpon saya. Ia menyesal tidak ikut bergosip ria tadi sore. Ia adalah seorang yang mengerti betul ekonomi dan tidak seperti saya yang awam. Tokoh ini bercerita beda. Menurutnya pangkal dari semuanya ini adalah nafsu serakah biasa. Ibaratnya sebuah balon yang kita tiup melewati kapasitasnya. Di tahun 1996-1998, ASIA jatuh kena krisis karena semata-mata balon yang pecah tadi. Salah satu penyebabnya adalah properti. Dimasa balon ditiup bergelembung, konsumen membeli properti seperti orang kesurupan. Pokoknya beli, mahal tidak apa. Ngak punya duit – pinjam ke Bank. Ketika duit tidak ada dan pinjaman tak terbayar, maka properti harus dilego. Pasar lesu harga properti jatuh, dan Bank mengalami kerugian. Lalu macet dan duitnya tidak muter. Istilahnya kesulitan likuiditas. Saat inilah mulai terjadi efek domino yang saling menjatuhkan. Tak lama kemudian pasar saham terkena tsunami. Perusahaan mulai flu berat. Mau minjam ke bank tidak ada kredit, karena banknya juga sakit. Terjadilah ‘corporate failure’, dan perusahaan mulai PHK. Pengangguran naik, daya beli turun, pasar sepi, pertumbuhan ekonomi minus. Terjadilah perlambatan ekonomi atau resesi. Krisis ekonomi di Amerika juga terjadi katanya mirip dengan skenario diatas. Dengan pertumbuhan real estate di California, Las Vegas dan Florida yang spektakuler beberapa tahun berselang, ternyata kebutuhan konsumen jauh lebih kecil dibanding suplai yang ada.
Rekan saya mengingatkan bahwa dampaknya terhadap Indonesia bisa saja lumayan runyam. Dimulai dari permintaan ekspor ke Amerika dan Eropa yang melemah dalam 6 bulan mendatang. Pasar ekspor kita ke Amerika tahun 2007 ada sekitar 14 miliar dolar. Berikutnya jumlah turis menurun drastis. Perusahaan di Indonesia yang orientasinya ekspor akan susah berkelit. Perlahan-lahan mereka harus melakukan PHK. Bank juga akan mengalami problem likuditas karena resiko kredit semakin besar. Dan kredit bakal banyak yang macet. Ekonomi sulit tumbuh, lalu kita-pun terjebak lagi masuk pusaran ekonomi resesi. Itu dampaknya untuk Indonesia !
Mendengar cerita itu saya manut-manut saja. Barangkali kita mesti punya skenario tandingan untuk melawan ancaman krisis itu. Minimal pemerintah harus bikin kebijakan untuk memastikan bahwa penyaluran kredit usaha untuk perusahaan tersedia lancar. Pasar domestik Indonesia dengan populasi 200 juta orang memiliki kekuatan tersendiri. Kekuatan ini yang harus kita manfaatkan !
Gosip lain yang lebih seram saya terima berupa teori konspirasi. Ceritanya konyol. Persis novel thriller. Kata yang punya cerita – Ekonomi Amerika itu besarnya diatas 10 trilyun dolar. Gede banget ! Biaya perang di Irak dan Afghanistan sudah mencapai 870 milliar dolar. Bandingkan dengan rencana penyelamatan ekonomi Amerika yang diperdebatkan itu, yang nilainya cuma 700 milliar dollar. Sedangkan ekonomi dunia kurang lebih sekitar 55 trilyun dolar. Jadi ekonomi yang terbesar jelas adalah Amerika. Nah, alkisah sang cerita berlanjut bahwa harga minyak dunia yang melambung terus, jelas tidak menguntungkan Amerika dan bisa-bisa akan membuat Amerika bangkrut. Lihat saja pembangunan di Timur Tengah yang sedang berlangsung saat ini. Luar biasa fantastisnya, dan semua dibiayai oleh petro dollar. Juga mesin ekonomi Asia seperti Cina dan India yang tumbuh dengan pertumbuhan spektakuler. Membuat Amerika taget empuk banjirnya produk-produk murah dari Cina yang datang bak air bah. Seorang teman yang bercerita bahwa betapa dahsyatnya barang Cina itu, sampai-sampai ornamen Natal yang menghiasi pohon Natal juga dibuat di Cina. Hal ini jelas menguras devisa Amerika. Tahun 2000 import produk Cina ke Amerika baru berjumlah 100 milyar dollar. Tahun 2007 jumlah itu membengkak sudah mencapai 321 milyar dolar. Sedangkan ekspor Amerika ke Cina hanya berjumlah 65 milyar dolar. Angka ini katanya membuktikan bahwa Amerika telah kehilangan sebagian besar dari kemampuan daya saing-nya.
Lalu dimana cerita ini menjadi konyol ? Menurut yang punya cerita, apa jadinya bilamana Amerika ingin membalik situasi semuanya ini dan mengembalikan jarum kompas ekonomi dunia agar berpihak ke Amerika lagi. Jawaban-nya sederhana ! Bayangkan kalau komputer anda “hang”. Apa yang anda lakukan ? Anda pasti akan mematikan komputer dan melakukan ‘re-boot’. Mungkinkah situasi saat ini adalah upaya sekelompok orang yang berkonspirasi untuk melakukan ‘re-boot’ ekonomi ? Dan karena size ekonomi Amerika yang sedemekian besar, maka ketika ‘re-boot’ selesai yang akan start dimuka adalah Amerika. Artinya ekonomi dunia sengaja dibangkrutkan. Sebagai jalan untuk mengembalikan kejayaan ekonomi Amerika.
Cerita diatas tentulah konyol. Tetapi kalau anda taruh pemikiran anda dalam konteks teori konspirasi, cerita itu masuk akal seperti layaknya sebuah film thriller. Kemarin sore ketika saya membahasnya dengan beberapa tokoh, kami semua tertawa-tawa. Hiburan terbaik disaat gonjang ganjing.
Malam harinya, seorang rekan yang tidak ikut acara sore hari, menelpon saya. Ia menyesal tidak ikut bergosip ria tadi sore. Ia adalah seorang yang mengerti betul ekonomi dan tidak seperti saya yang awam. Tokoh ini bercerita beda. Menurutnya pangkal dari semuanya ini adalah nafsu serakah biasa. Ibaratnya sebuah balon yang kita tiup melewati kapasitasnya. Di tahun 1996-1998, ASIA jatuh kena krisis karena semata-mata balon yang pecah tadi. Salah satu penyebabnya adalah properti. Dimasa balon ditiup bergelembung, konsumen membeli properti seperti orang kesurupan. Pokoknya beli, mahal tidak apa. Ngak punya duit – pinjam ke Bank. Ketika duit tidak ada dan pinjaman tak terbayar, maka properti harus dilego. Pasar lesu harga properti jatuh, dan Bank mengalami kerugian. Lalu macet dan duitnya tidak muter. Istilahnya kesulitan likuiditas. Saat inilah mulai terjadi efek domino yang saling menjatuhkan. Tak lama kemudian pasar saham terkena tsunami. Perusahaan mulai flu berat. Mau minjam ke bank tidak ada kredit, karena banknya juga sakit. Terjadilah ‘corporate failure’, dan perusahaan mulai PHK. Pengangguran naik, daya beli turun, pasar sepi, pertumbuhan ekonomi minus. Terjadilah perlambatan ekonomi atau resesi. Krisis ekonomi di Amerika juga terjadi katanya mirip dengan skenario diatas. Dengan pertumbuhan real estate di California, Las Vegas dan Florida yang spektakuler beberapa tahun berselang, ternyata kebutuhan konsumen jauh lebih kecil dibanding suplai yang ada.
Rekan saya mengingatkan bahwa dampaknya terhadap Indonesia bisa saja lumayan runyam. Dimulai dari permintaan ekspor ke Amerika dan Eropa yang melemah dalam 6 bulan mendatang. Pasar ekspor kita ke Amerika tahun 2007 ada sekitar 14 miliar dolar. Berikutnya jumlah turis menurun drastis. Perusahaan di Indonesia yang orientasinya ekspor akan susah berkelit. Perlahan-lahan mereka harus melakukan PHK. Bank juga akan mengalami problem likuditas karena resiko kredit semakin besar. Dan kredit bakal banyak yang macet. Ekonomi sulit tumbuh, lalu kita-pun terjebak lagi masuk pusaran ekonomi resesi. Itu dampaknya untuk Indonesia !
Mendengar cerita itu saya manut-manut saja. Barangkali kita mesti punya skenario tandingan untuk melawan ancaman krisis itu. Minimal pemerintah harus bikin kebijakan untuk memastikan bahwa penyaluran kredit usaha untuk perusahaan tersedia lancar. Pasar domestik Indonesia dengan populasi 200 juta orang memiliki kekuatan tersendiri. Kekuatan ini yang harus kita manfaatkan !
Friday, October 03, 2008
MAAF LAHIR DAN BATHIN
Setiap tahun ketika Puasa menjelang berakhir, dan Lebaran hampir tiba, orang selalu bertanya kemana saya ingin berlibur ? Percaya atau tidak, saya justru ingin tidak kemana-mana. Makan seadanya, tidur yang banyak, bermalas-malasan se-enaknya. Anehnya prilaku saya justru dianggap aneh. Biasanya prilaku kaum metropolis, yang ditinggal pembantu, supir dan satpamnya, karena mudik, juga ikut exodus plesir ketempat lain. Saya malah terbalik. Jakarta yang sunyi di saat libur Lebaran, adalah Jakarta yang terbaik. Jakarta tanpa kemacetan. Jakarta tanpa hiruk pikuk. Jakarta yang lenggang justru memiliki pesona keanggunan yang luar biasa. Inilah saat yang saya selalu tunggu-tunggu selama setahun. Jakarta yang “slowing-down”.
Mungkin, budaya dan lingkungan kita sudah terbiasa dengan gerakan cepat. Kita dilatih adu cepat. Hanya dengan cepat kita tidak ketinggalan. Menang juga harus cepat. Akibatnya pelan atau “slow” tidak memiliki nilai tinggi yang patut kita apresiasikan. Padahal pelan atau “slow” memiliki wibawa tersendiri. Banyak hal disekeliling kita, yang justru harus dilakukan dengan pelan atau “slow”. Olah tubuh seperti Tai Chi, pilates dan yoga, justru memiliki gerakan serba pelan atau “slow”. Tai Chi, yang sudah berumur 2000 tahun, dipraktekan dengan gerakan serba pelan atau “slow”. Gerakan yang pelan ini, justru mewujudkan sebuah situasi yang membuat tubuh dan jiwa kita menjadi sangat relax. Tanpa “impact” yang berbenturan. Gerakan yang pelan konon bertujuan untuk meningkatkan kesadaran untuk membaca ritme tubuh. Menyadari bahasa tubuh. Gerakan Tai Chi mengalir dengan pelan membuat tubuh seimbang, dan mencegah tubuh terluka. Melakukan Tai Chi dalam situasi tenang 100% juga bertujuan untuk menajamkan konsenstrasi dan fokus alam pikiran. Tak heran apabila di Cina sendiri, setiap paginya 10 juta orang berolah-tubuh Tai Chi setiap hari.
Tai Chi, Pilates, dan Yoga, ketiganya adalah gerakan olah-tubuh yang mengharmonisasikan fungsi tubuh lewat pengembangan postur tubuh, gerakan nafas dan meditasi sekaligus. Disini terbukti pelan atau “slow” memiliki kekuatan yang unik. Setiap kali anda menonton siaran olah raga, dan terjadi satu prestasi, biasanya adegan itu diputar ulang justru dengan gerakan “slow motion”. Karena hanya dengan gerakan selambat itu, semua gerakan akan rinci terlihat. Jadi pelan atau “slow” sangat diperlukan kalau anda kebetulan ingin memperhatikan “details” yang sangat rinci.
Bilamana terjadi krisis, dan masalah yang sangat luar biasa, kita justru dinasehati untuk berpikir pelan dan rinci. Chin-Ning Chu, konsultan manajemen yang beken dan penulis buku best seller “Do Less Achieve More”, menulis bahwa kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari 2 piktogram. Yang pertama memiliki arti jantung. Dan piktogram kedua memiliki arti mati. Jadi sejak ribuan tahun yang lalu, bangsa Cina sudah mengerti bahwa kesibukan yang luar biasa, akhirnya akan membinasakan kita. Itu sebabnya Chin-Ning Chu didalam bukunya yang konrovesial ini, mengajak kita berdamai dengan waktu. Jangan biarkan waktu memburu kita. Chin-Ning Chu menantang kita untuk mengalahkan waktu, bukan dengan adu cepat, melainkan adu pelan dan kalau perlu menyerah.
Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengunjungi Mpu Peniti menjelang buka puasa. Sambil menunggu azan Magrib, kami ngobrol ngalor ngidul. Dan ketika suara azan bergema, Mpu Peniti langsung berbisik rasa syukur, “Alhamdulilah”. Dengan gerakan serba pelan yang teratur, Mpu Peniti mengambil air wudhu. Lalu sembahyang dengan sangat khidmat. Sayapun takjub melihat gerakan beliau. Sangat teratur satu demi satu. Ketika kami berbuka puasa bersama, saat beliau minum pertama kali dengan perlahannya, saya-pun lirih mendengar beliau berdoa. Saat itu pula saya merasakan getaran bahwa Mpu Peniti sangat menikmati puasanya.
Lain dengan satu situasi dimana saya ikut acara berbuka puasa dengan satu lembaga, dimana ketika suara azan bergema, semua orang langsung menyerbu makanan dan minuman. Yang terdengar kemudian cuma suara seruput sana sini, sibuknya orang makan dan minum. Mpu Peniti usai berbuka, meraba pikiran saya, dan kata beliau : “Puasa itu penuh hikmah dan kajian. Puasa melambatkan hidup kita selama sebulan. Bukan hanya sebagai ujian menahan lapar dan haus. Tetapi juga kesempatan untuk menciptakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Sebulan penuh kita menata ulang gerakan, pikiran, emosi, nafsu, dan bahasa tubuh. Sehingga kita bisa mengalahkan waktu. Tidak lagi kita terjebak dalam hiruk pikuk yang setiap hari menjebak kita.”
Ditahun 80’an ketika saya masih bekerja di HERO GROUP, suatu malam saya sedang lembur. Almarhum Bapak MS.Kurnia yang melihat saya lembur, akhirnya menyuruh saya pulang. Sambil tersenyum beliau berkata kepada saya : “Apa kau pikir, dengan menyelesaikan semua masalah hari ini. Maka semua masalah selesai ? Percayalah, setiap pagi kita melangkahkan kaki kedalam kantor, maka sejuta masalah baru sudah datang menunggu.” Sambil garuk-garuk kepala akhirnya saya pulang juga.
Tak lama kemudian, saya mengundurkan diri dari HERO GROUP. Dan saya mulai “going solo” mencoba menjadi entrepener sendiri. Banyak orang mengira saya punya sekian ambisi dan ingin cepat-cepat meroket. Tanpa banyak orang yang tahu, saya justru mengambil jalan persis seperti apa yang dinasehati Chin-Ning Chu. “Make peace with time”, memperlambat hidup saya. Go Easy. Dan nasehat itu ternyata manjur sekali. Karena sejak itu setidaknya saya berhasil seperti apa kata beliau, “Do less, Achieve more !”
Setahun sekali, kita dianjurkan berpuasa. Setahun sekali, sebenarnya juga kita diberikan kesempatan untuk memperlambat hidup kita. Tentu saja secara positif. Untuk menjaga keseimbangan, lebih fokus, dan konsentrasi. Pelan atau “slow” punya kekuatan tersendiri. Yang terkadang kita remehkan. Diujung hari terakhir puasa, saya berharap semoga sebulan yang melambatkan hidup kita ini, memberikan kita sebuah kekuatan baru. Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan bathin !
Mungkin, budaya dan lingkungan kita sudah terbiasa dengan gerakan cepat. Kita dilatih adu cepat. Hanya dengan cepat kita tidak ketinggalan. Menang juga harus cepat. Akibatnya pelan atau “slow” tidak memiliki nilai tinggi yang patut kita apresiasikan. Padahal pelan atau “slow” memiliki wibawa tersendiri. Banyak hal disekeliling kita, yang justru harus dilakukan dengan pelan atau “slow”. Olah tubuh seperti Tai Chi, pilates dan yoga, justru memiliki gerakan serba pelan atau “slow”. Tai Chi, yang sudah berumur 2000 tahun, dipraktekan dengan gerakan serba pelan atau “slow”. Gerakan yang pelan ini, justru mewujudkan sebuah situasi yang membuat tubuh dan jiwa kita menjadi sangat relax. Tanpa “impact” yang berbenturan. Gerakan yang pelan konon bertujuan untuk meningkatkan kesadaran untuk membaca ritme tubuh. Menyadari bahasa tubuh. Gerakan Tai Chi mengalir dengan pelan membuat tubuh seimbang, dan mencegah tubuh terluka. Melakukan Tai Chi dalam situasi tenang 100% juga bertujuan untuk menajamkan konsenstrasi dan fokus alam pikiran. Tak heran apabila di Cina sendiri, setiap paginya 10 juta orang berolah-tubuh Tai Chi setiap hari.
Tai Chi, Pilates, dan Yoga, ketiganya adalah gerakan olah-tubuh yang mengharmonisasikan fungsi tubuh lewat pengembangan postur tubuh, gerakan nafas dan meditasi sekaligus. Disini terbukti pelan atau “slow” memiliki kekuatan yang unik. Setiap kali anda menonton siaran olah raga, dan terjadi satu prestasi, biasanya adegan itu diputar ulang justru dengan gerakan “slow motion”. Karena hanya dengan gerakan selambat itu, semua gerakan akan rinci terlihat. Jadi pelan atau “slow” sangat diperlukan kalau anda kebetulan ingin memperhatikan “details” yang sangat rinci.
Bilamana terjadi krisis, dan masalah yang sangat luar biasa, kita justru dinasehati untuk berpikir pelan dan rinci. Chin-Ning Chu, konsultan manajemen yang beken dan penulis buku best seller “Do Less Achieve More”, menulis bahwa kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari 2 piktogram. Yang pertama memiliki arti jantung. Dan piktogram kedua memiliki arti mati. Jadi sejak ribuan tahun yang lalu, bangsa Cina sudah mengerti bahwa kesibukan yang luar biasa, akhirnya akan membinasakan kita. Itu sebabnya Chin-Ning Chu didalam bukunya yang konrovesial ini, mengajak kita berdamai dengan waktu. Jangan biarkan waktu memburu kita. Chin-Ning Chu menantang kita untuk mengalahkan waktu, bukan dengan adu cepat, melainkan adu pelan dan kalau perlu menyerah.
Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengunjungi Mpu Peniti menjelang buka puasa. Sambil menunggu azan Magrib, kami ngobrol ngalor ngidul. Dan ketika suara azan bergema, Mpu Peniti langsung berbisik rasa syukur, “Alhamdulilah”. Dengan gerakan serba pelan yang teratur, Mpu Peniti mengambil air wudhu. Lalu sembahyang dengan sangat khidmat. Sayapun takjub melihat gerakan beliau. Sangat teratur satu demi satu. Ketika kami berbuka puasa bersama, saat beliau minum pertama kali dengan perlahannya, saya-pun lirih mendengar beliau berdoa. Saat itu pula saya merasakan getaran bahwa Mpu Peniti sangat menikmati puasanya.
Lain dengan satu situasi dimana saya ikut acara berbuka puasa dengan satu lembaga, dimana ketika suara azan bergema, semua orang langsung menyerbu makanan dan minuman. Yang terdengar kemudian cuma suara seruput sana sini, sibuknya orang makan dan minum. Mpu Peniti usai berbuka, meraba pikiran saya, dan kata beliau : “Puasa itu penuh hikmah dan kajian. Puasa melambatkan hidup kita selama sebulan. Bukan hanya sebagai ujian menahan lapar dan haus. Tetapi juga kesempatan untuk menciptakan keseimbangan antara jiwa dan raga. Sebulan penuh kita menata ulang gerakan, pikiran, emosi, nafsu, dan bahasa tubuh. Sehingga kita bisa mengalahkan waktu. Tidak lagi kita terjebak dalam hiruk pikuk yang setiap hari menjebak kita.”
Ditahun 80’an ketika saya masih bekerja di HERO GROUP, suatu malam saya sedang lembur. Almarhum Bapak MS.Kurnia yang melihat saya lembur, akhirnya menyuruh saya pulang. Sambil tersenyum beliau berkata kepada saya : “Apa kau pikir, dengan menyelesaikan semua masalah hari ini. Maka semua masalah selesai ? Percayalah, setiap pagi kita melangkahkan kaki kedalam kantor, maka sejuta masalah baru sudah datang menunggu.” Sambil garuk-garuk kepala akhirnya saya pulang juga.
Tak lama kemudian, saya mengundurkan diri dari HERO GROUP. Dan saya mulai “going solo” mencoba menjadi entrepener sendiri. Banyak orang mengira saya punya sekian ambisi dan ingin cepat-cepat meroket. Tanpa banyak orang yang tahu, saya justru mengambil jalan persis seperti apa yang dinasehati Chin-Ning Chu. “Make peace with time”, memperlambat hidup saya. Go Easy. Dan nasehat itu ternyata manjur sekali. Karena sejak itu setidaknya saya berhasil seperti apa kata beliau, “Do less, Achieve more !”
Setahun sekali, kita dianjurkan berpuasa. Setahun sekali, sebenarnya juga kita diberikan kesempatan untuk memperlambat hidup kita. Tentu saja secara positif. Untuk menjaga keseimbangan, lebih fokus, dan konsentrasi. Pelan atau “slow” punya kekuatan tersendiri. Yang terkadang kita remehkan. Diujung hari terakhir puasa, saya berharap semoga sebulan yang melambatkan hidup kita ini, memberikan kita sebuah kekuatan baru. Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan bathin !
Friday, September 26, 2008
MENYEDERHANAKAN HIDUP
Salah satu dongeng favorit saya ketika kuliah, adalah tentang bedanya astronot Amerika dan astronot Rusia. Alkisah menurut yang punya cerita, ketika Amerika dan Rusia bersaing mengirim manusia ke bulan, maka terjadilah peristiwa ini. Astronot Amerika ketika dikirim ke bulan, diperjalanan konon mengalami masalah. Yaitu ball-point yang sudah didesain sedemekian rupa, ternyata masih tidak bisa digunakan, dan tintanya luber kemana-mana. Sang astronot pun melapor. Dan oleh Houston dijanjikan ball-point yang canggih nantinya. Konon, setelah peristiwa itu, NASA melakukan riset dan penelitian, yang sangat mahal harganya. Dan akhirnya menemukan tekhnologi mutakhir yaitu ball-point dengan tinta berbentuk gel yang padat dan tidak luber kemana-mana. Uniknya ball-point dengan tinta gel yang semi padat ini, bisa anda temukan dimana-mana sekarang.
Lanjut cerita, astronot Rusia juga punya masalah yang sama. Dan melaporkan masalah itu ke bumi. Bedanya ketika ia melaporkan, bukan-nya mendapat simpati dan dijanjikan ball-point baru dengan tekhnologi canggih, malah ia ditertawakan. Saat itu pusat antariksa Rusia di Moskow menjawab : “Wah, gitu saja repot. Pake melapor segala. Kenapa bingung ? Kan ada potlot, pake saja potlot !” Masalah itupun jadi selesai. Dosen saya yang menceritakan dongeng ini, memberikan wisdom, bahwa dalam setiap masalah selalu ada 2 cara penyelesaian. Cara yang nyelimet dan berliku-liku, dan cara yang sederhana. Menurut beliau, tidak peduli betapa kusutnya sebuah masalah, selalu akan ada satu garis lurus yang sederhana. Temukan garis lurusnya, masalah anda cepat selesai.
Menemukan garis lurus ini adalah trik yang saya pelajari bertahun-tahun. Menemukan garis lurus adalah solusi menyederhanakan masalah. Dan bukan menyepelekan masalah. Ini dua hal yang berbeda. Terkadang kita terbiasa dengan pola pikir yang terstruktur dengan sejumlah keruwetan. Yang tercipta karena semata oleh latar belakang pendidikan, training, budaya, dan kebiasaan kita yang kadang memiliki sejumlah pagar yang menciptakan batas serta sejumlah larangan. Kita gagal melihat solusi cepat dan sederhana dari sebuah masalah.
Ingat slogan Nike yang klasik “Just Do It”. Ketika saya masih ngantor di Nike, saya-pun diceritakan tentang asal muasal slogan legendaris itu. Suatu hari seorang bocah sedang menonton idola-nya atlet bola basket Michael Jordan berlaga di TV. Sambil mengagumi aksi Michael Jordan, sang bocah yang kebetulan menonton bersama nenek-nya, bercerita dan berandai-andai bahwa ia juga punya cita-cita ingin suatu hari seperti idolanya. Ia ingin sehebat Michael Jordan. Sang nenek, cuma tersenyum, dan berkomentar “JUST DO IT”. Sang nenek memberi nasehat yang paling sederhana, “Ayo jangan hanya bermimpi. Lakukan saja !” Tentu saja sang bocah terperangah, karena ia tidak pernah menyangka jawaban-nya sesederhana itu. Bahwa solusi hidup ini seringkali memang sesederhana itu.
Cerita ini terus terang mengubah hidup saya. Banyak hal saya lakukan dalam 20 tahun terakhir ini semuanya berdasakan slogan itu. “Lakukan dan kerja-kan saja ! Jangan pernah malas !” Hasilnya memang ajaib. Hidup ini mirip sebuah pertandingan tinju. Anda cuma punya dua pilihan. Selamanya jadi penonton di luar ring, yang cuma bisa menyoraki hidup ini. Dan maksimal bahagia sebagai penonton. Atau anda berpartisipasi dan masuk ring. Kalau anda masuk ring dan bertinju, memang ada resikonya. Dipukuli dan kalah. Tapi kalau anda tidak masuk ring, anda tidak akan mungkin jadi juara ! Jadi singakatnya lakukanlah ! - “Just Do It”
Banyak orang yang punya cita-cita begini dan begitu, tetapi selalu saja gagal melakukannya. Karena semata diberati sejumlah pertimbangan, perhitungan resiko dan juga keruwetan rasa takut yang beragam jumlahnya. Jadi jangan salahkan mereka. Namun mungkin kita bisa mengambil hikmah Puasa. Seorang ulama, pernah bercerita kepada saya, bahwa Puasa memiliki hikmah menyederhanakan hidup kita. Seringkali dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, kita selalu makan dalam kemewahan yang sangat luar biasa. Makan itu harus ada ini dan itu. Puasa menghilangkan semua itu. Puasa mengajarkan dan mengingatkan kita pada lapar dan haus, serta kesabaran dalam menghadapinya. Ketika buka Puasa, seteguk air dan sepiring nasi hangat bisa jadi santapan yang terlezat. Kalau itu kita terapkan dalam kehidupan kita, cita-cita dan ambisi harusnya menjadi rasa lapar dan haus yang sama. Kita hanya perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengolahnya. Pas saatnya tiba, kita cuma butuh satu keberanian kecil untuk melakukannya. Bukan keberanian dengan sejumlah kemewahan ini dan itu. Cukup satu langkah kecil. “Just do it”. Lao Tze, filsuf Cina yang terkenal, mengatakan bahwa sebuah perjalan panjang ribuan kilometer, selalu dimulai dengan satu langkah kecil. Semoga Puasa ini menempa diri kita, agar mampu melihat hidup ini lebih sederhana. Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Lanjut cerita, astronot Rusia juga punya masalah yang sama. Dan melaporkan masalah itu ke bumi. Bedanya ketika ia melaporkan, bukan-nya mendapat simpati dan dijanjikan ball-point baru dengan tekhnologi canggih, malah ia ditertawakan. Saat itu pusat antariksa Rusia di Moskow menjawab : “Wah, gitu saja repot. Pake melapor segala. Kenapa bingung ? Kan ada potlot, pake saja potlot !” Masalah itupun jadi selesai. Dosen saya yang menceritakan dongeng ini, memberikan wisdom, bahwa dalam setiap masalah selalu ada 2 cara penyelesaian. Cara yang nyelimet dan berliku-liku, dan cara yang sederhana. Menurut beliau, tidak peduli betapa kusutnya sebuah masalah, selalu akan ada satu garis lurus yang sederhana. Temukan garis lurusnya, masalah anda cepat selesai.
Menemukan garis lurus ini adalah trik yang saya pelajari bertahun-tahun. Menemukan garis lurus adalah solusi menyederhanakan masalah. Dan bukan menyepelekan masalah. Ini dua hal yang berbeda. Terkadang kita terbiasa dengan pola pikir yang terstruktur dengan sejumlah keruwetan. Yang tercipta karena semata oleh latar belakang pendidikan, training, budaya, dan kebiasaan kita yang kadang memiliki sejumlah pagar yang menciptakan batas serta sejumlah larangan. Kita gagal melihat solusi cepat dan sederhana dari sebuah masalah.
Ingat slogan Nike yang klasik “Just Do It”. Ketika saya masih ngantor di Nike, saya-pun diceritakan tentang asal muasal slogan legendaris itu. Suatu hari seorang bocah sedang menonton idola-nya atlet bola basket Michael Jordan berlaga di TV. Sambil mengagumi aksi Michael Jordan, sang bocah yang kebetulan menonton bersama nenek-nya, bercerita dan berandai-andai bahwa ia juga punya cita-cita ingin suatu hari seperti idolanya. Ia ingin sehebat Michael Jordan. Sang nenek, cuma tersenyum, dan berkomentar “JUST DO IT”. Sang nenek memberi nasehat yang paling sederhana, “Ayo jangan hanya bermimpi. Lakukan saja !” Tentu saja sang bocah terperangah, karena ia tidak pernah menyangka jawaban-nya sesederhana itu. Bahwa solusi hidup ini seringkali memang sesederhana itu.
Cerita ini terus terang mengubah hidup saya. Banyak hal saya lakukan dalam 20 tahun terakhir ini semuanya berdasakan slogan itu. “Lakukan dan kerja-kan saja ! Jangan pernah malas !” Hasilnya memang ajaib. Hidup ini mirip sebuah pertandingan tinju. Anda cuma punya dua pilihan. Selamanya jadi penonton di luar ring, yang cuma bisa menyoraki hidup ini. Dan maksimal bahagia sebagai penonton. Atau anda berpartisipasi dan masuk ring. Kalau anda masuk ring dan bertinju, memang ada resikonya. Dipukuli dan kalah. Tapi kalau anda tidak masuk ring, anda tidak akan mungkin jadi juara ! Jadi singakatnya lakukanlah ! - “Just Do It”
Banyak orang yang punya cita-cita begini dan begitu, tetapi selalu saja gagal melakukannya. Karena semata diberati sejumlah pertimbangan, perhitungan resiko dan juga keruwetan rasa takut yang beragam jumlahnya. Jadi jangan salahkan mereka. Namun mungkin kita bisa mengambil hikmah Puasa. Seorang ulama, pernah bercerita kepada saya, bahwa Puasa memiliki hikmah menyederhanakan hidup kita. Seringkali dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, kita selalu makan dalam kemewahan yang sangat luar biasa. Makan itu harus ada ini dan itu. Puasa menghilangkan semua itu. Puasa mengajarkan dan mengingatkan kita pada lapar dan haus, serta kesabaran dalam menghadapinya. Ketika buka Puasa, seteguk air dan sepiring nasi hangat bisa jadi santapan yang terlezat. Kalau itu kita terapkan dalam kehidupan kita, cita-cita dan ambisi harusnya menjadi rasa lapar dan haus yang sama. Kita hanya perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengolahnya. Pas saatnya tiba, kita cuma butuh satu keberanian kecil untuk melakukannya. Bukan keberanian dengan sejumlah kemewahan ini dan itu. Cukup satu langkah kecil. “Just do it”. Lao Tze, filsuf Cina yang terkenal, mengatakan bahwa sebuah perjalan panjang ribuan kilometer, selalu dimulai dengan satu langkah kecil. Semoga Puasa ini menempa diri kita, agar mampu melihat hidup ini lebih sederhana. Selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.
Sunday, September 21, 2008
GOYANG LIDAH BULAN PUASA
Bulan Puasa, selalu jadi bulan yang istimewa. Juga dalam tantanan budaya kuliner Indonesia. Tengok saja aneka pasar kaget yang muncul diseantero penjuru kota, yang menjajakan aneka makanan khas bulan Puasa. Sangat beraneka rupa dan sangat unik. Maklum, dalam bulan Puasa, jangan sampai kita kehilangan stamina, gara-gara nafsu makan yang berkurang. Di banyak keluarga, nenek, ibu dan tante, biasanya sibuk mengerahkan semua ilmu mereka dan kalau perlu mengeluarkan resep-resep pusaka dan mulai memasak masakan-masakan istimewa yang kadang hanya hadir setahun sekali yaitu di saat bulan Puasa ini.
Restoran OASIS yang berdiri sejak tahun 1968 dan berulang tahun ke 40 tahun ini, juga tidak akan ketinggalan. Berbekal sejumlah resep otentik yang legendaris, Restoran OASIS selama bulan Puasa akan menampilkan menu khusus untuk bulan Ramdahan 2008. Selama 40 tahun, restoran OASIS sering mendapatkan warisan resep dari konsumen atau handai taulan yang dengan rela hati memberikan resep-resep rahasia dari keluarga mereka agar tetap dilestarikan. Sebagian resep itu memang diberikan oleh berbagai pengunjung yang setia, dan sebagian lagi dikumpulkan dari pengalaman tim kreatif OASIS berkunjung keberbagai tempat dipelosok Indonesia.
Kali ini, dibulan Puasa 2008, restoran OASIS memilih sejumlah masakan yang datang dari sejumlah resep warisan yang legendaris :
Soto buntut ala Betawi
Sejarah Soto di Indonesia tidak pernah jelas. Bukti-bukti antropologis menyebutkan bahwa Soto sebagai sajian berkuah yang dimakan dengan nasi, kemungkinan berawal dari Jawa Tengah sekitar abad pertengahan ke 18. Awalnya adalah dari sebuah masakan Cina yang melebur dengan tradisi kaum imigran, pedagang, dan pengelanan dari berbagai budaya. Sehingga muncul-lah kuliner soto mulai dari ujung Sumatera hingga Indonesia bagian timur. Beberapa diantaranya menjadi legenda kuliner tersendiri seperti SOTO AYAM, SOTO KUDUS, SOTO KONRO. Dari warisan kuliner yang pekat dan lekat aneka tradisi ini, restoran OASIS menampilkan hidangan klasik SOTO BUNTUT BETAWI yang kami olah secara kontemporer.
Ada dua kuah soto yang dikenal dalam budaya kuliner Betawi. Yang pertama adalah soto tangkar yang cenderung lebih pedas, berkuah santan dan biasanya isinya adalah jerohan sapi. Soto Betawi yang kedua juga bersantan, biasanya lebih gurih dan kental, dan isinya campuran daging sapi dan jerohan. Resep Soto Buntut yang kami tampilkan kali ini, datang dari sebuah keluarga Betawi tulen, yang memasak soto Betawi dengan isinya buntut sapi, bukan daging atau jerohan seperti biasanya. Oleh team kreatif OASIS hidangan ini disempurnakan dengan tambahan rempah-rempah khusus, dan buntut sapi direndam dalam saus khusus dan dimasak hingga sangat empuk. Hasilnya adalah soto buntut yang lezat menggoyang lidah.
Ayam Bakar Krawang
Secara tradisi, ayam bakar di seluruh Indonesia, memiliki ratusan versi. Rahasianya adalah saus rendam dan sambel cocolnya. Resep Asli Ayam Bakar Krawang, kami wariskan dari satu keluarga yang ketika jaman kemerdekaan memiliki penggilingan padi di Krawang. Konon menurut cerita keluarga ini juga mewarisinya dari seorang pembantu yang membakar ayam dan menyajikannya dengan saus cocol yang sangat istimewa, karena dibuat dengan kombinasi rempah-rempah khusus dan biji kenari. Rahasia lain dari resep ini adalah kombinasi yang khas antara jumlah cabe besar dan cabe rawit, yang memberikan aroma unik. Menurut dongeng, ketika jaman kemerdekaan dahulu, tempat penggilingan padi tersebut pernah hampir dijarah oleh pasukan Jepang, tapi gara-gara pimpinan serdadu Jepang itu ikut mencicipi Ayam Bakar Krawang dan takjub dengan kegurihan dan kelezatannya, maka akhirnya penggilingan padi itu tidak jadi di jarah. Sang pimpinan serdadu Jepang, konon sering mampir untuk minta dibuatkan Ayam Bakar Krawang.
Rawon Kikil dengan Cak-kwe
Barangkali tidak lagi ada yang istimewa tentang hidangan rawon. Karena makanan ini sudah sedemekian merakyatnya dan tersedia dimana-mana. Hidangan yang satu ini konon berasal dari kaum peranakan di Semenanjung Malaka. Menggunakan rempah buah keluak, yang juga dijuluki buah hitam. Aselinya buah ini sangat beracun, tidak jelas kapan dan bagaimana akhirnya menjadi rempah-rempah yang exotic. Sebagian orang menyebut buah keluak sebagai Ambrosia dari Indonesia. Ambrosia berdasarkan legenda Yunani, adalah makanan dewa, yang dipercaya bisa memberikan keabadian hidup.
Rawon kikil ini adalah sebuah versi klasik yang kami warisi dari sebuah warung kecil di salah satu Chinatown di Jawa Tengah. Kemungkinan besar Semarang. Konon sangat populer sebagai sarapan pagi di awal-awal tahun 1900’s. Berlainan dengan tradisi jaman sekarang yang disajikan dengan telur asin, rawon kikil ala Restoran OASIS, menggunakan resep kuno dengan daging semur dan kikil sapi pilihan. Dimakan bersama toge dan cak-wee goreng. Plus nasi hangat ditaburi bawang goreng.
Sate Remes ala Jawa
Resep ini kami warisi dari seorang pedagang sate di Yogya, yang selalu meremas daging satenya dengan garam dan merica, sebelum satenya di bakar. Tekhnik meremas ini disempurnakan oleh team kreatif OASIS hampir setahun lamanya, menambah rempah-rempah khusus, dan juga ukuran potongan daging, serta cara membakarnya. Kini hidangan ini sempurna sudah. Disajikan dengan sambal pedas, dan dua saus yang berbeda. Saus kacang klasik dan saus kecap dengan potongan bawang dan rawit. Barangkali inilah sate paling enak di seluruh jagad raya.
Selama bulan Puasa, restoran OASIS akan buka lebih awal sejak beduk magrib, menampilkan hidangan klasik mereka yang sudah sangat terkenal, seperti hidangan-hidangan kontinental klasik, dan hidangan risjtafel Indonesia yang legendaris. Menu tambahan bulan Puasa seperti 4 menu diatas dan sejumlah hidangan penutup, akan menjadi menu tambahan untuk memeriahkan bulan Ramadhan.
Restoran OASIS
Jalan Raden Saleh 47
Cikini
Jakarta Pusat
Tel : 3150646
Hubungi : KAFI KURNIA – Managing Partner
Monday, September 01, 2008
EMOTIONOMICS
Setiap manusia punya kebutuhan. Seperti makan, tidur, kerja dan sebagainya. Memenuhi kebutuhan adalah tindakan ekonomi. Seperti kapan kita makan dan berapa gaji yang kita ingin-kan. Tetapi saat kita menentukan apa yang akan kita makan, dan di perusahaan mana yang kita sukai untuk bekerja, hampir dapat dikatakan lebih dari 50% keputusan itu ditentukan oleh sesuatu yang sifatnya emosional. Tindakan kita memilih berdasarkan emosi kini disebut tindakan emotionomics. Zig Ziglar, ‘coach salesmanship’ yang beken banget di Amerika menulis “People don't buy for logical reasons. They buy for emotional reasons.”
Kita para pemasar, selalu berdebat bahwa emosi tidak bisa kita ukur. Karena semuanya relatif dan bergantung kepada selera para individu masing-masing. Misalnya rasa enak dan lezat untuk satu produk mie instant boleh dibilang sangat bervariasi. Apa yang enak dan lezat buat saya, belum tentu enak buat anda. Andaikata emosi bisa diukur setepat-tepatnya, para produsen dan pemasar bakal girang bukan main. Kesulitan seperti ini yang akhirnya menyebabkan, para produsen dan pemasar hanya fokus pada masalah desain produk yang menyangkut fitur, kualitas dan harga. Kebanyakan pada hal-hal tekhnis yang menyangkut tindakan ekonomi. Bukan emotionomics !
Seorang pemasar yang produknya adalah pakaian dan produk fashion berkisah unik. Katanya ungkapan emosional “baju baru buat Lebaran” tahun-tahun belakangan ini mengalami revolusi yang cukup serius. Dulu, yang namanya “baju baru buat Lebaran”, memang bener-bener harus kelihatan baru secara fisik. Licin seperti baru keluar dari pabrik. Jaman sekarang “baru” secara emosional tidak lagi berarti hal yang sama. Bayangkan jeans belel, yang robek-robek ngak keruan bisa saja baju baru. Atau kemeja dan blus batik yang lecek, belel, dan hampir pudar warnanya, juga ‘qualify’ untuk baju baru. Yang penting belinya baru dan belum pernah dipakai. Saya tertawa ngakak mendengarnya. Iya juga yah !
Dunia industri entertainment, seperti film dan musik, juga punya definisi ‘baru’ yang secara emosional juga beda. Jaman dahulu kala, kalau mau bikin film, ‘casting’ pemeran film betul-betul diperhatikan mencari pemain yang terkenal dan beken. Sebagai jaminan film-nya apik dan bakalan banyak penonton-nya. Seorang sineas muda, mencibir kepada saya tentang teori ini. Kata beliau di Hollywood memang betul harus begitu. Tapi ngak di Indonesia. Di Indonesia, konon menurut teori beliau, para bintang naik dengan cepat, tapi bisa juga jatuh dengan sangat cepat. Bagaimana tidak ? Tayangan infotainment yang begitu banyak semuanya mencari kelemahan, kebusukan, dosa dan skandal para kaum artis dan selebriti. Di satu pihak televisi yang menciptakan selebriti ini meroket, tetapi televisi pula yang menembaknya jatuh. Jadi menurut sineas muda itu, bikin film di Indonesia harus bisa mencari aktor dan aktris yang baru – istilah populernya ‘belum pernah masuk angin’. “They want fresh face”, kata sineas muda itu mantap dalam bahasa Inggris ketika menutup percakapan kita berdua. Baru dalam dunia film artinya ‘unknown’. Yang belum dikenal inilah yang membuat orang penasaran.
“Baru” sebagai pakem dalam dunia otomotif, real-estate atau ‘high-end’ fashion diterjemahkan secara berbeda lagi. Mobil baru tidak lagi aneh. Konsumen punya standar “baru” yang kadang cukup edan. “Baru” kini harus esklusif, otentik, dan mahal. Baru konsumen tertarik dan mungkin terjerat membeli. Kalau hanya sekedar baru, sudah tidak aneh lagi, dan tidak mempan buat konsumen. Produsen juga sudah pandai dan cerdas untuk memainkan emosi konsumen. Dalam hal peluncuran video games baru seperti Playstation, Xbox atau WII, biasanya produk disiapkan dulu digudang dalam jumlah cukup banyak dan diluncurkan menjelang Natal dan Tahun Baru. Artinya supaya produk ini menyebar dari mulut-ke-mulut, butuh jumlah tertentu untuk menciptakan populasi fans yang cukup besar untuk membuat produk ini meledak. Terlampau sedikit bisa membuat konsumen frustasi. Dan tidak tertarik membeli.
Untuk mobil lain lagi. Seorang dealer, mengatakan bahwa untuk bikin penasaran, biasanya pabrik sengaja menciptakan waktu indent, biar menciptakan kesan jumlah permintaan mobil baru lebih banyak dari suplai mobil. Cara ini membuat konsumen ‘excited’ dan merasa memang mobil yang ditunggunya ‘baru’ beneran. Buktinya laris banget sampai ngak ada stock. Cuma saja, kadang mobilnya meledak sangat laris diluar perkiraan, sehingga waktu indent menjadi terlampau lama. Konsumen jadi kesal dan mangkel.
Emotionomics kita menjadi buku populer yang ditulis oleh Dan Hill, dan menjadi peta baru praktisi pemasaran, untuk menjadi kompas yang menuntun kita menjelajah wilayah emosi konsumen. Emotionomics menjadi pencerahan baru untuk melariskan produk kita, dijaman gonjang ganjing seperti saat kini.
Kita para pemasar, selalu berdebat bahwa emosi tidak bisa kita ukur. Karena semuanya relatif dan bergantung kepada selera para individu masing-masing. Misalnya rasa enak dan lezat untuk satu produk mie instant boleh dibilang sangat bervariasi. Apa yang enak dan lezat buat saya, belum tentu enak buat anda. Andaikata emosi bisa diukur setepat-tepatnya, para produsen dan pemasar bakal girang bukan main. Kesulitan seperti ini yang akhirnya menyebabkan, para produsen dan pemasar hanya fokus pada masalah desain produk yang menyangkut fitur, kualitas dan harga. Kebanyakan pada hal-hal tekhnis yang menyangkut tindakan ekonomi. Bukan emotionomics !
Seorang pemasar yang produknya adalah pakaian dan produk fashion berkisah unik. Katanya ungkapan emosional “baju baru buat Lebaran” tahun-tahun belakangan ini mengalami revolusi yang cukup serius. Dulu, yang namanya “baju baru buat Lebaran”, memang bener-bener harus kelihatan baru secara fisik. Licin seperti baru keluar dari pabrik. Jaman sekarang “baru” secara emosional tidak lagi berarti hal yang sama. Bayangkan jeans belel, yang robek-robek ngak keruan bisa saja baju baru. Atau kemeja dan blus batik yang lecek, belel, dan hampir pudar warnanya, juga ‘qualify’ untuk baju baru. Yang penting belinya baru dan belum pernah dipakai. Saya tertawa ngakak mendengarnya. Iya juga yah !
Dunia industri entertainment, seperti film dan musik, juga punya definisi ‘baru’ yang secara emosional juga beda. Jaman dahulu kala, kalau mau bikin film, ‘casting’ pemeran film betul-betul diperhatikan mencari pemain yang terkenal dan beken. Sebagai jaminan film-nya apik dan bakalan banyak penonton-nya. Seorang sineas muda, mencibir kepada saya tentang teori ini. Kata beliau di Hollywood memang betul harus begitu. Tapi ngak di Indonesia. Di Indonesia, konon menurut teori beliau, para bintang naik dengan cepat, tapi bisa juga jatuh dengan sangat cepat. Bagaimana tidak ? Tayangan infotainment yang begitu banyak semuanya mencari kelemahan, kebusukan, dosa dan skandal para kaum artis dan selebriti. Di satu pihak televisi yang menciptakan selebriti ini meroket, tetapi televisi pula yang menembaknya jatuh. Jadi menurut sineas muda itu, bikin film di Indonesia harus bisa mencari aktor dan aktris yang baru – istilah populernya ‘belum pernah masuk angin’. “They want fresh face”, kata sineas muda itu mantap dalam bahasa Inggris ketika menutup percakapan kita berdua. Baru dalam dunia film artinya ‘unknown’. Yang belum dikenal inilah yang membuat orang penasaran.
“Baru” sebagai pakem dalam dunia otomotif, real-estate atau ‘high-end’ fashion diterjemahkan secara berbeda lagi. Mobil baru tidak lagi aneh. Konsumen punya standar “baru” yang kadang cukup edan. “Baru” kini harus esklusif, otentik, dan mahal. Baru konsumen tertarik dan mungkin terjerat membeli. Kalau hanya sekedar baru, sudah tidak aneh lagi, dan tidak mempan buat konsumen. Produsen juga sudah pandai dan cerdas untuk memainkan emosi konsumen. Dalam hal peluncuran video games baru seperti Playstation, Xbox atau WII, biasanya produk disiapkan dulu digudang dalam jumlah cukup banyak dan diluncurkan menjelang Natal dan Tahun Baru. Artinya supaya produk ini menyebar dari mulut-ke-mulut, butuh jumlah tertentu untuk menciptakan populasi fans yang cukup besar untuk membuat produk ini meledak. Terlampau sedikit bisa membuat konsumen frustasi. Dan tidak tertarik membeli.
Untuk mobil lain lagi. Seorang dealer, mengatakan bahwa untuk bikin penasaran, biasanya pabrik sengaja menciptakan waktu indent, biar menciptakan kesan jumlah permintaan mobil baru lebih banyak dari suplai mobil. Cara ini membuat konsumen ‘excited’ dan merasa memang mobil yang ditunggunya ‘baru’ beneran. Buktinya laris banget sampai ngak ada stock. Cuma saja, kadang mobilnya meledak sangat laris diluar perkiraan, sehingga waktu indent menjadi terlampau lama. Konsumen jadi kesal dan mangkel.
Emotionomics kita menjadi buku populer yang ditulis oleh Dan Hill, dan menjadi peta baru praktisi pemasaran, untuk menjadi kompas yang menuntun kita menjelajah wilayah emosi konsumen. Emotionomics menjadi pencerahan baru untuk melariskan produk kita, dijaman gonjang ganjing seperti saat kini.
Tuesday, August 26, 2008
Thursday, August 21, 2008
TIDAK LAKU
Masalah utama bisnis barangkali cuma ada satu : yaitu bagaimana membuat produk kita laris ? Sederhana sekali sebenarnya. Tetapi susahnya bukan main . Setiap tahun lebih dari 20.000 produk yang diluncurkan dan masuk ke pasar Amerika, gagal dan tidak laku. Istilahnya ‘layu sebelum berkembang’ Penyebabnya banyak sekali. Dan sangat kompleks. Lebih dari 50% dari produk itu gagal karena perencanaan yang sangat buruk sekali. Sisanya kebanyakan gagal karena strategi marketing yang salah kaprah, dan pemilihan jalur distribusi yang keliru. Kunci selanjutnya yang juga maha penting adalah support yang terlampau lemah. Artinya produknya tidak dipromosikan dengan baik. Atau kita terlampau pelit untuk merekrut tenaga sales yang berkualitas dan canggih.
Itu sebabnya, ‘membuat produk laris’ merupakan industri tersendiri. Sampai-sampai banyak sekali dukun dan konsultan spiritualnya. Teman saya misalnya, rajin sekali berkunjung dan berkonsultasi dengan dukun. Minta ‘penglaris’ begitu istilahnya. Usahanya sendiri memang tidak jelek. Cukup laris malah. Tapi apakah itu memang gara-gara upaya dan jimat dukun ? Atau sang dukun cuma membuat teman saya lebih PeDe dan fokus terus menerus ke bisnisnya. Sehingga ia tekun dan akhirnya laris.
Konsultan ‘bikin laris’ bukan hanya dukun saja, tapi masih banyak lagi. Banyak pengusaha yang juga menggunakan konsultan ‘feng-shui’ untuk menata lokasi usahanya agar ideal dan harmonis enerjinya - sehingga membuat konsumen betah dan bisnisnya laris. Disamping dua upaya lain, masih banyak pengusaha yang menempuh aneka jalan spiritual yang ceritanya lebih serem dan tidak enak kita ceritakan disini.
Membuat produk laris, juga meninggalkan sejumlah mitos dan kepercayaan. Sejumlah pengusaha mengaku mereka punya pantangan dan kepercayaan tersendiri. Mulai dari merekrut pegawai dengan tipe tertentu, hingga perbuatan-perbuatan tertentu yang semua tujuan-nya membuat usaha dan bisnisnya laris. Juga ada pengusaha yang rajin menyumbang amal dan sedekah, semata karena takut bisnisnya ngak laris. Ini mestinya adalah alasan yang salah kaprah. Tapi mereka percaya kalau mereka baik hati, rajin beramal, maka Tuhan juga akan menolong bisnis mereka, dan membuatnya laris.
Zig Ziglar, pelatih sales-man yang sangat kondang di Amerika, yang telah menulis sejumlah buku tentang ‘salesman-ship’ punya solusi yang lebih sederhana sebenarnya. Zig Ziglar menyimpulkan bahwa seringkali produk atau jasa yang kita jual tidak laris, seringkali alasan-nya semata karena kita tahu membuatnya tetapi tidak tahu menjualnya. Ini masalah umum di berbagai kegiatan UKM. Seorang tukang bakso, mengaku punya resep khusus dari Taiwan. Yang membuat bakso mereka sangat garing dan enak sekali. Saya sudah mencobanya. Dan memang lezat. Tapi ia kebinggungan untuk menjualnya. Kelihatannya sepele, tapi ini penyakit super serius. Jangan sekali-kali berpikir bahwa kalau produk anda bagus pasti jaminan laku. Sebaliknya jangan juga mudah beramsumsi bahwa kalu produk anda murah, juga akan pasti laku. Tidak semudah itu.
Menurut Zig Ziglar, setiap produk yang dijual memiliki 5 halangan utama, bagi konsumen untuk ngeles dan tidak membeli. Konsumen merasa tidak membutuhkan. Konsumen tidak punya uang. Konsumen tidak diburu waktu. Konsumen tidak memiliki keinginan. Dan konsumen tidak percaya ! Nasehat Zig Ziglar sering saya terapkan dalam banyak kasus dan memang manjur selalu. Pertama-tama anda harus bisa membuat produk anda memiliki keseimbangan antara ‘keinginan’ dan ‘kebutuhan’. Contoh, semua orang selalu lapar, dan perlu makan. Ini namanya kebutuhan. Tetapi ketika lapar tidak semua orang ingin makan hidangan yang sama. Ada yang ingin gado-gado, ada yang ingin pizza dan ada yang ingin nasi goreng. Nah, ini namanya ‘keinginan’. Nasehat Zig Ziglar sederhana, buatlah produk yang dibutuhkan banyak orang. Masalah orang itu akhirnya menginginkan produk anda atau tidak - adalah masalah bagaimana anda secara kreatif mempromosikan-nya !
Langkah kedua supaya orang menginginkan produk anda, siasatnya adalah membuat orang percaya (trust) dan harganya terjangkau. Ayah saya pernah bercerita, dua orang penjual gado-gado. Yang pertama ibu berkebaya, dan menguleknya dengan cobek batu yang besar. Yang kedua pria biasa. Maka ayah saya akan memilih gado-gado yang dijual ibu berkebaya. Karena menurut ayah saya kelihatan lebih meyakinkan. Harga yang terjangkau belum tentu murah selalu. Tetapi punya persepsi yang pas. Di Bali ada warung yang menjual menu unik yaitu Nasi ½ dan Gado-gado ½ . Karena memang semua prosi gado-gado selalu terlalu banyak untuk dimakan sendiri. Dengan kombinasi seperti ini, konsumen merasa harganya pantas dan pas. ‘Added value’nya tinggi yaitu menu komplit nasi dan gado-gado.
Itu sebabnya, ‘membuat produk laris’ merupakan industri tersendiri. Sampai-sampai banyak sekali dukun dan konsultan spiritualnya. Teman saya misalnya, rajin sekali berkunjung dan berkonsultasi dengan dukun. Minta ‘penglaris’ begitu istilahnya. Usahanya sendiri memang tidak jelek. Cukup laris malah. Tapi apakah itu memang gara-gara upaya dan jimat dukun ? Atau sang dukun cuma membuat teman saya lebih PeDe dan fokus terus menerus ke bisnisnya. Sehingga ia tekun dan akhirnya laris.
Konsultan ‘bikin laris’ bukan hanya dukun saja, tapi masih banyak lagi. Banyak pengusaha yang juga menggunakan konsultan ‘feng-shui’ untuk menata lokasi usahanya agar ideal dan harmonis enerjinya - sehingga membuat konsumen betah dan bisnisnya laris. Disamping dua upaya lain, masih banyak pengusaha yang menempuh aneka jalan spiritual yang ceritanya lebih serem dan tidak enak kita ceritakan disini.
Membuat produk laris, juga meninggalkan sejumlah mitos dan kepercayaan. Sejumlah pengusaha mengaku mereka punya pantangan dan kepercayaan tersendiri. Mulai dari merekrut pegawai dengan tipe tertentu, hingga perbuatan-perbuatan tertentu yang semua tujuan-nya membuat usaha dan bisnisnya laris. Juga ada pengusaha yang rajin menyumbang amal dan sedekah, semata karena takut bisnisnya ngak laris. Ini mestinya adalah alasan yang salah kaprah. Tapi mereka percaya kalau mereka baik hati, rajin beramal, maka Tuhan juga akan menolong bisnis mereka, dan membuatnya laris.
Zig Ziglar, pelatih sales-man yang sangat kondang di Amerika, yang telah menulis sejumlah buku tentang ‘salesman-ship’ punya solusi yang lebih sederhana sebenarnya. Zig Ziglar menyimpulkan bahwa seringkali produk atau jasa yang kita jual tidak laris, seringkali alasan-nya semata karena kita tahu membuatnya tetapi tidak tahu menjualnya. Ini masalah umum di berbagai kegiatan UKM. Seorang tukang bakso, mengaku punya resep khusus dari Taiwan. Yang membuat bakso mereka sangat garing dan enak sekali. Saya sudah mencobanya. Dan memang lezat. Tapi ia kebinggungan untuk menjualnya. Kelihatannya sepele, tapi ini penyakit super serius. Jangan sekali-kali berpikir bahwa kalau produk anda bagus pasti jaminan laku. Sebaliknya jangan juga mudah beramsumsi bahwa kalu produk anda murah, juga akan pasti laku. Tidak semudah itu.
Menurut Zig Ziglar, setiap produk yang dijual memiliki 5 halangan utama, bagi konsumen untuk ngeles dan tidak membeli. Konsumen merasa tidak membutuhkan. Konsumen tidak punya uang. Konsumen tidak diburu waktu. Konsumen tidak memiliki keinginan. Dan konsumen tidak percaya ! Nasehat Zig Ziglar sering saya terapkan dalam banyak kasus dan memang manjur selalu. Pertama-tama anda harus bisa membuat produk anda memiliki keseimbangan antara ‘keinginan’ dan ‘kebutuhan’. Contoh, semua orang selalu lapar, dan perlu makan. Ini namanya kebutuhan. Tetapi ketika lapar tidak semua orang ingin makan hidangan yang sama. Ada yang ingin gado-gado, ada yang ingin pizza dan ada yang ingin nasi goreng. Nah, ini namanya ‘keinginan’. Nasehat Zig Ziglar sederhana, buatlah produk yang dibutuhkan banyak orang. Masalah orang itu akhirnya menginginkan produk anda atau tidak - adalah masalah bagaimana anda secara kreatif mempromosikan-nya !
Langkah kedua supaya orang menginginkan produk anda, siasatnya adalah membuat orang percaya (trust) dan harganya terjangkau. Ayah saya pernah bercerita, dua orang penjual gado-gado. Yang pertama ibu berkebaya, dan menguleknya dengan cobek batu yang besar. Yang kedua pria biasa. Maka ayah saya akan memilih gado-gado yang dijual ibu berkebaya. Karena menurut ayah saya kelihatan lebih meyakinkan. Harga yang terjangkau belum tentu murah selalu. Tetapi punya persepsi yang pas. Di Bali ada warung yang menjual menu unik yaitu Nasi ½ dan Gado-gado ½ . Karena memang semua prosi gado-gado selalu terlalu banyak untuk dimakan sendiri. Dengan kombinasi seperti ini, konsumen merasa harganya pantas dan pas. ‘Added value’nya tinggi yaitu menu komplit nasi dan gado-gado.
Yang terakhir adalah momentum. Kadang konsumen kalau belum kepepet waktunya konsumen belum termotivasi untuk beli. Parsel Lebaran selalu laris 3 hari menjelang Lebaran. Hotel selalu penuh dipesan seminggu sebelum liburan panjang. Toko oleh-oleh di Airport, biarpun harganya agak mahal, selalu laris dibeli orang. Rahasianya anda perlu berada ‘at the right place and at the right time’. Mungkin anda bingung, kalau nasehat Zig Ziglar begitu mudah ? Mengapa juga orang mencari solusi yang sulit. Itulah ! Kata pribahasa kadang gajah didepan pelupuk mata sekalipun, tidak pernah juga terlihat
Saturday, August 16, 2008
CAK TO - ENTREPENER PENGEMIS
Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.
---
Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup.
Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.
***
Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.
Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan.
''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,'' ungkapnya.Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan'', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah. Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
***
Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.Cerita tentang ''keberhasilan'' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.
Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan...
***
Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,'' ucapnya.
Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... (ded/aza)
---
Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup.
Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.
***
Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.
Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan.
''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,'' ungkapnya.Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan'', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah. Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
***
Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.
Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.Cerita tentang ''keberhasilan'' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.
Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan...
***
Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,'' ucapnya.
Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... (ded/aza)
Monday, August 11, 2008
SEMANGAT PIONIR
Dari mana datangnya bisnis ? Sebagian pengusaha yang saya interview mengatakan dari ide. Sisanya mengatakan dari peluang. Barangkali keduanya benar. Dan sama-sama jawaban yang sehat. Mestinya begitu. Tapi seorang pejabat mengeluh, kalau kadang konsep ini diselewengkan. Ia memberikan contoh, tentang kolega, saudara atau famili pejabat yang mendirikan perusahaan untuk jadi supplier departemen, semata-mata untuk memanfaatkan koneksi pejabat tersebut. Jadi peluang yang salah, dan hanya berdasarkan “aji mumpung” semata. Saya jadi tertawa mendengarnya. Karena semestinya bisnis tercipta atas peluang yang datang dari ide-ide baru yang segar.
Juga tentang perlakuan sementara orang mengklasifikasikan bisnis UKM denga hanya bisnis-bisnis makanan dan cendera mata atau kerajinan. Yang protes justru seorang pejabat juga. Beliau bilang kita ini ngak kreatif ! Masa kalau pameran UKM yang dipamerkan selalu melulu makanan, cendera mata dan kerajinan. Kritik beliau, masa sih kita ngak punya semangat inovasi atau semangat pionir ? Berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar baru sama sekali ?
Mpu Peniti, mentor saya, punya penjelasan yang lebih sederhana. Kata beliau, kata-kata seperti inovasi dan pionir, dalam kosa kata bahasa Indonesia memang tidak ada terjemahan langsung yang pas. Makanya kita sehari-hari menggunakan kata yang di Indonesiakan dari bahasa Inggris. Innovation jadi inovasi. Dan pioneer jadi pionir. Nah, kalau kedua semangat ini sulit ditemukan dalam masyarakat kita, maklum saja. Mungkin secara budaya memang kedua kata ini tidak lengket dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tidak kita kenal konsepnya, kata-kata yang pas-pun akibatnya tidak kita miliki.
Pernah sekali saya berbincang dengan seorang periset industri pertanian. Menurut beliau, kita punya hasil riset yang banyak sekali dan bagus-bagus. Jadi kalau menurut beliau, semangat inovasi dan pionir itu cukup berkibar-kibar didalam dada mereka. Lalu kenapa hasil riset itu tidak pernah bisa dikomersil-kan ? Jawaban-nya sangat sederhana. Konon para periset kebanyakan bercokol di Lit-bang milik pemerintah atau Universitas, sistim upah dan ‘reward’-nya adalah gaji semata. Tidak ada misalnya konsep alokasi “grant” atau dana riset yang jumlahnya besar, sehingga memotivasi semangat pionir mereka untuk masuk dan meneliti sesuatu yang sangat inovatif dan provokatif. Kalau mau minta “grant” harus keluar negeri. Disana mereka harus berkompetisi dengan periset dunia, yang reputasinya jauh lebih dahsyat dari pada kita.
Celakanya pula, kalau ada hasil riset yang berhasil di jual ke swasta, sang peneliti tidak mendapatkan royalti yang bagus sehingga hidupnya sejahtera. Royalti biasanya dipungut oleh Litbang di Pemerintah atau di Universitas. Nah, euphoria “Eureka” persis yang dialami Archimedes, tidak pernah mereka rasakan. Jadi jangan salahkan kalau semangat inovasi dan pionir mereka kadang-kadang rada memble, karena memang insentif yang seharusnya menjadi motivasi mereka, jumlahnya sangat kecil sekali.
Salah satu peneliti senior yang sudah 30 tahun bekerja di lit-bang dan hampir pensiun, mengatakan kepada saya : “Seringkali saya gemas membayangkan potensi yang bisa kita capai dengan kekayaan sumber daya yang kita miliki. Tetapi kurangnya dana dan insentif seringkali mematikan rasa penasaran kita untuk menyelidik dan menjadi pionir. Yang bikin saya juga kesal, adalah hasil riset selama bertahun-tahun, cuma bertahan menjadi sukses laboratorium, yang tidak pernah menjelma menjadi sukses komersil. Kita butuh pihak swasta yang berjiwa entrepener untuk menjadi bapak angkat dan mewujudkan kerja pionir itu menjadi sukses besar. Kalau itu terjadi, mungkin akan menjadi terobosan yang mengangkat semangat kita dikemudian hari ”
Salah satu kasus yang menarik barangkali adalah Xanthones, yaitu zat aktif yang kini disebut sebagai “super anti-oxidant”. Xanthones banyak sekali ditemukan di buah manggis, yang konon ada 30 macam Xanthones yang berbeda. Sejak dahulu hampir semua lit-bang dan universitas di ASEAN tahun tentang Xanthones dan banyak riset tentang zat aktif ini. Jadi ini bukan barang baru. Di Indonesia juga banyak penelitian yang serupa.
Hebatnya Xanthones memiliki sejumlah keajaiban yaitu mampu memperbaiki sistim imunitas badan manusia, yang bermanfaat melawan alergi, infeksi, dan mengurangi level kolesterol. Secara tradisional konon manggis memang usdah digunakan untuk bahan ramuan obat terhadap berbagai penyakit kulit dan perut. Juga Xanthones ini tahan panas. Sehingga tidak mudah rusak ketika diproses.
Walaupun di Asean Xanthones dikenal hampir ditiap dapur lit-bang pertanian, selama bertahun-tahun, di Asean produk ini tidak pernah dijadikan produk yang secara komersial sukses. Garry Hollister, adalah CEO dari perusahaan Enrich International, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang nutrisi. Semangat pionir Garry lah, yang kemudian menciptakan Xango, yaitu minuman super juice dari manggis yang kaya dengan anti-oxidant. Garry berpartner dengan Wild Flower, sebuah perusahaan yang bermarkas besar di Heidelberg, Jerman. Perusahaan ini memiliki 200 orang ilmuwan dan kebun komersil di 13 negara, dan memang khusus bergerak dibidang minuman kesehatan.
Kini Xango didistribusikan di lebih dari 23 negara, dengan penjualan fenomenal diatas ratusan juta dolar. Kalau dipikir-pikir, Indonesia sebagai salah satu penghasil manggis terbesar di Asean, yang sudah mengekspor buah manggis ke Singapura dan negara-negara lain-nya, mestinya memiliki peluang yang sama dengan Xango. Tetapi masalahnya - barangkali kombinasinya tidak pernah bisa pas. Disatu pihak kita punya pusat lit-bang dimana-mana. Di pihak lain, kita tidak memiliki satu entrepener seperti Garry Hollister - yang selalu datang dengan ide gila, edan dan nyeleneh, yang punya semangat pionir menggebu-gebu. Mungkinkah ini rahasia sukses yang kita cari selama ini ? “The missing link” – Yang menjembatani antara para periset handal di lit-bang yang memiliki semangat inovasi dan entrepener yang bersemangat pionir. Kini saatnya kita menyatukan keduanya dan memakmurkan republik ini.
Juga tentang perlakuan sementara orang mengklasifikasikan bisnis UKM denga hanya bisnis-bisnis makanan dan cendera mata atau kerajinan. Yang protes justru seorang pejabat juga. Beliau bilang kita ini ngak kreatif ! Masa kalau pameran UKM yang dipamerkan selalu melulu makanan, cendera mata dan kerajinan. Kritik beliau, masa sih kita ngak punya semangat inovasi atau semangat pionir ? Berusaha menciptakan sesuatu yang benar-benar baru sama sekali ?
Mpu Peniti, mentor saya, punya penjelasan yang lebih sederhana. Kata beliau, kata-kata seperti inovasi dan pionir, dalam kosa kata bahasa Indonesia memang tidak ada terjemahan langsung yang pas. Makanya kita sehari-hari menggunakan kata yang di Indonesiakan dari bahasa Inggris. Innovation jadi inovasi. Dan pioneer jadi pionir. Nah, kalau kedua semangat ini sulit ditemukan dalam masyarakat kita, maklum saja. Mungkin secara budaya memang kedua kata ini tidak lengket dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena tidak kita kenal konsepnya, kata-kata yang pas-pun akibatnya tidak kita miliki.
Pernah sekali saya berbincang dengan seorang periset industri pertanian. Menurut beliau, kita punya hasil riset yang banyak sekali dan bagus-bagus. Jadi kalau menurut beliau, semangat inovasi dan pionir itu cukup berkibar-kibar didalam dada mereka. Lalu kenapa hasil riset itu tidak pernah bisa dikomersil-kan ? Jawaban-nya sangat sederhana. Konon para periset kebanyakan bercokol di Lit-bang milik pemerintah atau Universitas, sistim upah dan ‘reward’-nya adalah gaji semata. Tidak ada misalnya konsep alokasi “grant” atau dana riset yang jumlahnya besar, sehingga memotivasi semangat pionir mereka untuk masuk dan meneliti sesuatu yang sangat inovatif dan provokatif. Kalau mau minta “grant” harus keluar negeri. Disana mereka harus berkompetisi dengan periset dunia, yang reputasinya jauh lebih dahsyat dari pada kita.
Celakanya pula, kalau ada hasil riset yang berhasil di jual ke swasta, sang peneliti tidak mendapatkan royalti yang bagus sehingga hidupnya sejahtera. Royalti biasanya dipungut oleh Litbang di Pemerintah atau di Universitas. Nah, euphoria “Eureka” persis yang dialami Archimedes, tidak pernah mereka rasakan. Jadi jangan salahkan kalau semangat inovasi dan pionir mereka kadang-kadang rada memble, karena memang insentif yang seharusnya menjadi motivasi mereka, jumlahnya sangat kecil sekali.
Salah satu peneliti senior yang sudah 30 tahun bekerja di lit-bang dan hampir pensiun, mengatakan kepada saya : “Seringkali saya gemas membayangkan potensi yang bisa kita capai dengan kekayaan sumber daya yang kita miliki. Tetapi kurangnya dana dan insentif seringkali mematikan rasa penasaran kita untuk menyelidik dan menjadi pionir. Yang bikin saya juga kesal, adalah hasil riset selama bertahun-tahun, cuma bertahan menjadi sukses laboratorium, yang tidak pernah menjelma menjadi sukses komersil. Kita butuh pihak swasta yang berjiwa entrepener untuk menjadi bapak angkat dan mewujudkan kerja pionir itu menjadi sukses besar. Kalau itu terjadi, mungkin akan menjadi terobosan yang mengangkat semangat kita dikemudian hari ”
Salah satu kasus yang menarik barangkali adalah Xanthones, yaitu zat aktif yang kini disebut sebagai “super anti-oxidant”. Xanthones banyak sekali ditemukan di buah manggis, yang konon ada 30 macam Xanthones yang berbeda. Sejak dahulu hampir semua lit-bang dan universitas di ASEAN tahun tentang Xanthones dan banyak riset tentang zat aktif ini. Jadi ini bukan barang baru. Di Indonesia juga banyak penelitian yang serupa.
Hebatnya Xanthones memiliki sejumlah keajaiban yaitu mampu memperbaiki sistim imunitas badan manusia, yang bermanfaat melawan alergi, infeksi, dan mengurangi level kolesterol. Secara tradisional konon manggis memang usdah digunakan untuk bahan ramuan obat terhadap berbagai penyakit kulit dan perut. Juga Xanthones ini tahan panas. Sehingga tidak mudah rusak ketika diproses.
Walaupun di Asean Xanthones dikenal hampir ditiap dapur lit-bang pertanian, selama bertahun-tahun, di Asean produk ini tidak pernah dijadikan produk yang secara komersial sukses. Garry Hollister, adalah CEO dari perusahaan Enrich International, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang nutrisi. Semangat pionir Garry lah, yang kemudian menciptakan Xango, yaitu minuman super juice dari manggis yang kaya dengan anti-oxidant. Garry berpartner dengan Wild Flower, sebuah perusahaan yang bermarkas besar di Heidelberg, Jerman. Perusahaan ini memiliki 200 orang ilmuwan dan kebun komersil di 13 negara, dan memang khusus bergerak dibidang minuman kesehatan.
Kini Xango didistribusikan di lebih dari 23 negara, dengan penjualan fenomenal diatas ratusan juta dolar. Kalau dipikir-pikir, Indonesia sebagai salah satu penghasil manggis terbesar di Asean, yang sudah mengekspor buah manggis ke Singapura dan negara-negara lain-nya, mestinya memiliki peluang yang sama dengan Xango. Tetapi masalahnya - barangkali kombinasinya tidak pernah bisa pas. Disatu pihak kita punya pusat lit-bang dimana-mana. Di pihak lain, kita tidak memiliki satu entrepener seperti Garry Hollister - yang selalu datang dengan ide gila, edan dan nyeleneh, yang punya semangat pionir menggebu-gebu. Mungkinkah ini rahasia sukses yang kita cari selama ini ? “The missing link” – Yang menjembatani antara para periset handal di lit-bang yang memiliki semangat inovasi dan entrepener yang bersemangat pionir. Kini saatnya kita menyatukan keduanya dan memakmurkan republik ini.
Thursday, August 07, 2008
THE ART OF WINNING
Tahun 1936, Cina pertama kali-nya ikut Olympiade dengan 69 atlet dan tidak memenangkan satu medalipun. Demikian juga di Olympiade London tahun 1948. Cina gagal meraih medali. Cina baru berhasil pada Olmpiade tahun 1952. Setelah itu hasilnya luar biasa. Tahun 2004, di Olympiade Athens, Cina berhasil menjadi juara umum 2 mengalahkan Rusia dengan 32 medali emas, 17 medali perak dan 14 perunggu. Tahun 2008 di Beijing, Cina bertekad menjadi juara umum.
Perjalanan Cina menjadi tuan rumah Olympiade sebenarnya sangat panjang. Dan mereka sudah membidiknya sejak tahun 1991. Mereka juga memilih tahun 2008. Sengaja pula memilih tanggal pembukaan 08-08-08, atau 8 Agustus 2008. Sebuah tanggal yang dengan 3 angka 8, yang dianggap super-lucky buat kebanyakan orang Cina. Angka 8 dalam bahasa Cina memiliki pengucapan yang mirip sekali suaranya dengan huruf yang memberi arti kaya raya atau makmur.
Barangkali satu hal juga yang sangat mengagumkan dari Cina adalah kesungguhan-nya dan semangat untuk menang. Mengapa menang itu penting sekali ? Bayangkan kalau anda punya kesebelasan sepak bola dan kalah terus ? Apa perasaan-nya ? Pasti menyedihkan dan membuat kita frustasi. Malah Mpu Peniti, menyarankan lebih baik bubar. Nasehat yang ekstrim memang. Tetapi bila dipikir-pikir, sebuah kesebelasan sepak bola didirikan memang tujuan-nya adalah menang. Jadi kalau tidak bisa menang dan kalah terus memang sebaiknya bubar saja. Sebuah alasan yang masuk akal.
Menurut Mpu Peniti, kalau keseringan kalah, akhirnya kalah menjadi sesuatu yang biasa. Padahal mestinya kita punya kerakusan dan dahaga untuk menang. Terlalu sering kalah, akhirnya kita terbiasa menerima kekalahan. Sikap kita bisa berbahaya dan menjadi bangsa yang kalah dan dikalahkan. Barangkali Indonesia bakalan punya pemimpin yang mau memperhatikan hal ini. Dan harus mulai ngotot untuk menang.
Sesungguhnya menang itu sangat baik. Menang adalah reward terbaik dari sebuah perjuangan. Menang menciptakan sebuah enerji postif. Sebuah semangat. Menang memberikan kita sebuah rasa percaya diri. Menang memberikan kita kebanggaan. Itu sebabnya menang menjadi sebuah seni tersendiri, buat sebuah organisasi untuk tumbuh, berkembang dan menjadi makmur.
Jack Welch, jawara manajer abad ini menulis buku yang bagus luar biasa judulnya – WINNING. Didalam bukunya ia menulis peta yang komprehensif tentang jalan menuju kemenangan. Bagian yang menyentuh saya, adalah visi dan misi perusahaan. Seringkali perusahaan didirikan hanya dengan satu tujuan. Membuat keuntungan. Maka semua sumber daya termasuk manusia menjadi alat belaka untuk menciptakan keuntungan itu. Kalau ngak untung maka solusinya sederhana. Potong ongkos yang terlalu besar. PHK sumberdaya manusia yang tidak berguna. Pangkas segala-galanya yang menghalangi perusahaan untuk untung. Dan ini yang menyedihkan.
Sehingga tak jarang statement visi dan misi yang banyak beredar disebuah perusahaan, selalu berkisar dikalimat “menjadi yang terbaik”. Tidak ada disana terkandung visi dan misi untuk menang. Kita-pun jadi tidak tahu caranya untuk menang. Lalu bagaimana caranya untuk menang ? Sebenarnya sangat sederhana. Dimulai dari semangat dan cita-cita untuk menang. Cina memulai tekadnya di Olympiade sejak tahun 1922 ketika diplomatnya Wang Zhengting menjadi anggota IOC (Komite Olympiade internasional). Dan berlanjut tahun 1928, ketika Cina mengirim pengamat ke Olympiade Amsterdam. Artinya kalau tahun 2008 Cina berhasil menjadi juara umum, perjuangan Cina membutuhkan waktu 80 tahun lebih.
Cita-cita dan semangat untuk menang, dilanjutkan dengan menciptakan team yang berbakat untuk menang dan menjadi juara. Menang tidak bisa instant seperti Mie. Butuh manajemen untuk merangkai sejumlah manusia-manusia berbakat. Lalu ikatan team-work yang membuat mereka menyatu menjadi kekuataan super edan ! Ikatan ini hanya akan berhasil kalau dimotori oleh seroang pelatih atau kapten yang bisa memberikan motivasi dan mendorong mereka untuk menang. Sederhana bukan ? Anda juga pasti sudah mendengarnya ratusan kali.
Lalu kalau memang menang sesederhana itu ? Kenapa juga kita masih sering kalah ? Percaya atau tidak menurut Jack Welch, kuncinya satu – yaitu “candor” alias kejujuran dan keterus terangan. Yang dimaksud Jack Welch bukanlah berbohong atau sikap korup lain-nya, melainkan lebih mirip dengan hubungan internal yang mesra, dimana setiap anggota team mampu berterus terang tanpa basa-basi dengan sesama. Sebaliknya perusahaan dipenuhi dengan birokrasi, politik dan basa-basi. Ini penyakit yang melemahkan semangat untuk menang. Menjadi karat dari team work. Team yang dipenuhi dengan kejujuran dan keterus terangan, akan membuat organisasi makmur dengan ide brilyan, yang mudah dan cepat diaplikasikan dan menghemat ongkos dan rapat-rapat yang tidak perlu. Jadi menang itu sesungguhnya lebih mudah dari yang kita bayangkan !
Perjalanan Cina menjadi tuan rumah Olympiade sebenarnya sangat panjang. Dan mereka sudah membidiknya sejak tahun 1991. Mereka juga memilih tahun 2008. Sengaja pula memilih tanggal pembukaan 08-08-08, atau 8 Agustus 2008. Sebuah tanggal yang dengan 3 angka 8, yang dianggap super-lucky buat kebanyakan orang Cina. Angka 8 dalam bahasa Cina memiliki pengucapan yang mirip sekali suaranya dengan huruf yang memberi arti kaya raya atau makmur.
Barangkali satu hal juga yang sangat mengagumkan dari Cina adalah kesungguhan-nya dan semangat untuk menang. Mengapa menang itu penting sekali ? Bayangkan kalau anda punya kesebelasan sepak bola dan kalah terus ? Apa perasaan-nya ? Pasti menyedihkan dan membuat kita frustasi. Malah Mpu Peniti, menyarankan lebih baik bubar. Nasehat yang ekstrim memang. Tetapi bila dipikir-pikir, sebuah kesebelasan sepak bola didirikan memang tujuan-nya adalah menang. Jadi kalau tidak bisa menang dan kalah terus memang sebaiknya bubar saja. Sebuah alasan yang masuk akal.
Menurut Mpu Peniti, kalau keseringan kalah, akhirnya kalah menjadi sesuatu yang biasa. Padahal mestinya kita punya kerakusan dan dahaga untuk menang. Terlalu sering kalah, akhirnya kita terbiasa menerima kekalahan. Sikap kita bisa berbahaya dan menjadi bangsa yang kalah dan dikalahkan. Barangkali Indonesia bakalan punya pemimpin yang mau memperhatikan hal ini. Dan harus mulai ngotot untuk menang.
Sesungguhnya menang itu sangat baik. Menang adalah reward terbaik dari sebuah perjuangan. Menang menciptakan sebuah enerji postif. Sebuah semangat. Menang memberikan kita sebuah rasa percaya diri. Menang memberikan kita kebanggaan. Itu sebabnya menang menjadi sebuah seni tersendiri, buat sebuah organisasi untuk tumbuh, berkembang dan menjadi makmur.
Jack Welch, jawara manajer abad ini menulis buku yang bagus luar biasa judulnya – WINNING. Didalam bukunya ia menulis peta yang komprehensif tentang jalan menuju kemenangan. Bagian yang menyentuh saya, adalah visi dan misi perusahaan. Seringkali perusahaan didirikan hanya dengan satu tujuan. Membuat keuntungan. Maka semua sumber daya termasuk manusia menjadi alat belaka untuk menciptakan keuntungan itu. Kalau ngak untung maka solusinya sederhana. Potong ongkos yang terlalu besar. PHK sumberdaya manusia yang tidak berguna. Pangkas segala-galanya yang menghalangi perusahaan untuk untung. Dan ini yang menyedihkan.
Sehingga tak jarang statement visi dan misi yang banyak beredar disebuah perusahaan, selalu berkisar dikalimat “menjadi yang terbaik”. Tidak ada disana terkandung visi dan misi untuk menang. Kita-pun jadi tidak tahu caranya untuk menang. Lalu bagaimana caranya untuk menang ? Sebenarnya sangat sederhana. Dimulai dari semangat dan cita-cita untuk menang. Cina memulai tekadnya di Olympiade sejak tahun 1922 ketika diplomatnya Wang Zhengting menjadi anggota IOC (Komite Olympiade internasional). Dan berlanjut tahun 1928, ketika Cina mengirim pengamat ke Olympiade Amsterdam. Artinya kalau tahun 2008 Cina berhasil menjadi juara umum, perjuangan Cina membutuhkan waktu 80 tahun lebih.
Cita-cita dan semangat untuk menang, dilanjutkan dengan menciptakan team yang berbakat untuk menang dan menjadi juara. Menang tidak bisa instant seperti Mie. Butuh manajemen untuk merangkai sejumlah manusia-manusia berbakat. Lalu ikatan team-work yang membuat mereka menyatu menjadi kekuataan super edan ! Ikatan ini hanya akan berhasil kalau dimotori oleh seroang pelatih atau kapten yang bisa memberikan motivasi dan mendorong mereka untuk menang. Sederhana bukan ? Anda juga pasti sudah mendengarnya ratusan kali.
Lalu kalau memang menang sesederhana itu ? Kenapa juga kita masih sering kalah ? Percaya atau tidak menurut Jack Welch, kuncinya satu – yaitu “candor” alias kejujuran dan keterus terangan. Yang dimaksud Jack Welch bukanlah berbohong atau sikap korup lain-nya, melainkan lebih mirip dengan hubungan internal yang mesra, dimana setiap anggota team mampu berterus terang tanpa basa-basi dengan sesama. Sebaliknya perusahaan dipenuhi dengan birokrasi, politik dan basa-basi. Ini penyakit yang melemahkan semangat untuk menang. Menjadi karat dari team work. Team yang dipenuhi dengan kejujuran dan keterus terangan, akan membuat organisasi makmur dengan ide brilyan, yang mudah dan cepat diaplikasikan dan menghemat ongkos dan rapat-rapat yang tidak perlu. Jadi menang itu sesungguhnya lebih mudah dari yang kita bayangkan !
Friday, August 01, 2008
THE LAST LECTURE
Pernah sekali seorang dosen matematika memberikan saya sebuah rumus kehidupan, kata beliau cita-cita sama dengan harapan ditambah usaha. Artinya selama kita memiliki keinginan maka selama itupula kita wajib berusaha dan berjuang. Kadang kita menang dan mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang pula kita gagal meraih apa yang kita inginkan. Patutkah kita kecewa ? Patutkah kita marah dan menyalahkan nasib ? Atau justru menyerah dan cukup pasrah ?
Topik ini pernah saya diskusikan dengan Mpu Peniti, mentor saya. Sebagai bahan pemikiran, beliau lalu mengisahkan tentang 2 orang pendaki gunung. Yang pertama adalah pendaki gunung terkenal, ia sudah berhasil mendaki puncak gunung Everest 6 kali. Pendaki gunung kedua, kebetulan pendaki amatir yang baru pertama kali ingin mencoba mendaki gunung Everest. Suatu hari keduanya memutuskan untuk mendaki gunung Everest, yang satu dari Utara dan yang satu dari Selatan. Karena badai yang datang tiba-tiba, keduanya meninggal di pertengahan jalan.
Semua koran dan media lalu memberitakan tentang kematian pendaki yang pertama. Dan merasa kehilangan yang sangat besar. Maklum pendaki pertama memiliki reputasi segudang. Pemakamannya juga sangat meriah luar biasa. Mirip sebuah pementasan akbar. Tetapi pendaki kedua tidak ada yang memberitakan. Semata karena ia pendaki amatir yang tidak dikenal. Ia bukanlah siapa-siapa. Pemakamannya sangat sederhana. Tetapi dihadiri sejumlah kerabat dekat, dan mereka semua menangis sedih. Mereka tahu betul pendaki kedua mempersiapkan diri sungguh-sungguh selama lima tahun. Mendaki Everest adalah cita-cita terbesar miliknya.
Pendaki pertama yang telah berhasil mendaki Everest 6 kali dan sukses, melakukan pendakian ke 7 hanya karena ingin memecahkan rekor. Lalu Mpu Peniti, bertanya serius kepada saya. Manakah perjuangan dan usaha yang lebih bernilai dan berarti ? Pendaki pertama ? Atau malah pendaki yang kedua ? Saya sempat terhenyak tidak tahu jawaban yang pasti. Berhari-hari saya memikirkan jawaban dari teka-teki ini. Tidak ada satu jawaban-pun yang pas mengena dan menjawab tuntas.
Dalam perjalanan pulang dari Denver ke Jakarta, saya sempat mampir di San Francisco. Pagi itu saya membaca sebuah berita unik, yaitu sebuah orbituari tentang Prof. Randy Pausch. Kebetulan saya baru membeli buku beliau “The Last Lecture” – dan belum sempat membacanya. Prof. Randy Pausch adalah seorang profesor dibidang keilmuan komputer, yang malang terkena penyakit kanker pankreas. Universitas Carnegie Mellon tempatnya mengajar, lalu menawarkan kepada Prof. Randy untuk memberikan ‘kuliah tearkhir’. Kuliah itu dihadiri oleh 400 orang, pada September 2007. Dan di posting pula di internet, dan menjadi buah bibir yang fenomenal. Karena isinya begitu menyentuh banyak orang tentang bagaimana hidup dan mati yang sempurna.
Lalu atas desakan banyak orang, kuliah terakhirnya diminta untuk dibuku-kan. Prof. Randy lalu menyewa seorang penulis Jeffrey Zaslow dari Wall Street Journal untuk menulis bukunya. Selama 50 hari, setiap hari ketika bersepeda, Prof. Randy mendikte-kan pemikirannya lewat telpon seluler kepada Jeffrey. Dan jadilah buku dengan judul yang sama “The Last Lecture” yang terbit April 2008. Ada sebaris kalimat beliau yang sangat menyentuh hati saya : “Experience – is what you get when you didn’t get what you wanted”. Prof. Randy tidak sedikit-pun memiliki perasaan negatif tentang perjalanan hidupnya. Dan kalimat itu pula yang menjadi jawaban yang saya rasakan pas soal teka-teki Mpu Peniti. Bahwa setiap langkah yang kita ambil dalam perjalanan hidup ini, tidak ada satu-pun yang berarti gagal. Sebab sesungguhnya sukses dan gagal adalah sama-sama sebuah pengalaman. Hanya saja keduanya memang berbeda.
Malam harinya, saya ngopi bersama teman lama di Tart & Tart, sembari menikmati kue cheese-cake kesukaan saya. Ia bercerita bahwa ia hampir saja selesai membangun rumahnya. Secara getir ia menceritakan bahwa rumahnya dibangun selama hampir 4 tahun. Semata karena ia mempercayakan kontraktor pembangunan rumahnya, kepada saudara tirinya. Dan hasilnya memang amburadul. Mulanya ia kecewa luar biasa. Emosinya terkuras antara marah dan air-mata. Tetapi ia teruskan perlahan dengan selangkah demi selangkah. Di akhir ceritanya, ia betul-betul menyimpulkan bahwa yang tadinya ia anggap sebuah kegagalan total, ternyata menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Ia bergurau kepada saya, bahwa kini ia tahu caranya membangun sebuah rumah mulai dari mengurus ijin, membangun-nya, hingga memasang instalasi listrik. Persis seperti ungkapan Prof. Randy, bahwa dalam hidup ini tidak ada yang terbuang percuma dan menjadi kegagalan. Karena semuanya akan menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya. Apapun bentuknya. Sukses dan gagal. Keduanya sama-sama pengalaman !
Topik ini pernah saya diskusikan dengan Mpu Peniti, mentor saya. Sebagai bahan pemikiran, beliau lalu mengisahkan tentang 2 orang pendaki gunung. Yang pertama adalah pendaki gunung terkenal, ia sudah berhasil mendaki puncak gunung Everest 6 kali. Pendaki gunung kedua, kebetulan pendaki amatir yang baru pertama kali ingin mencoba mendaki gunung Everest. Suatu hari keduanya memutuskan untuk mendaki gunung Everest, yang satu dari Utara dan yang satu dari Selatan. Karena badai yang datang tiba-tiba, keduanya meninggal di pertengahan jalan.
Semua koran dan media lalu memberitakan tentang kematian pendaki yang pertama. Dan merasa kehilangan yang sangat besar. Maklum pendaki pertama memiliki reputasi segudang. Pemakamannya juga sangat meriah luar biasa. Mirip sebuah pementasan akbar. Tetapi pendaki kedua tidak ada yang memberitakan. Semata karena ia pendaki amatir yang tidak dikenal. Ia bukanlah siapa-siapa. Pemakamannya sangat sederhana. Tetapi dihadiri sejumlah kerabat dekat, dan mereka semua menangis sedih. Mereka tahu betul pendaki kedua mempersiapkan diri sungguh-sungguh selama lima tahun. Mendaki Everest adalah cita-cita terbesar miliknya.
Pendaki pertama yang telah berhasil mendaki Everest 6 kali dan sukses, melakukan pendakian ke 7 hanya karena ingin memecahkan rekor. Lalu Mpu Peniti, bertanya serius kepada saya. Manakah perjuangan dan usaha yang lebih bernilai dan berarti ? Pendaki pertama ? Atau malah pendaki yang kedua ? Saya sempat terhenyak tidak tahu jawaban yang pasti. Berhari-hari saya memikirkan jawaban dari teka-teki ini. Tidak ada satu jawaban-pun yang pas mengena dan menjawab tuntas.
Dalam perjalanan pulang dari Denver ke Jakarta, saya sempat mampir di San Francisco. Pagi itu saya membaca sebuah berita unik, yaitu sebuah orbituari tentang Prof. Randy Pausch. Kebetulan saya baru membeli buku beliau “The Last Lecture” – dan belum sempat membacanya. Prof. Randy Pausch adalah seorang profesor dibidang keilmuan komputer, yang malang terkena penyakit kanker pankreas. Universitas Carnegie Mellon tempatnya mengajar, lalu menawarkan kepada Prof. Randy untuk memberikan ‘kuliah tearkhir’. Kuliah itu dihadiri oleh 400 orang, pada September 2007. Dan di posting pula di internet, dan menjadi buah bibir yang fenomenal. Karena isinya begitu menyentuh banyak orang tentang bagaimana hidup dan mati yang sempurna.
Lalu atas desakan banyak orang, kuliah terakhirnya diminta untuk dibuku-kan. Prof. Randy lalu menyewa seorang penulis Jeffrey Zaslow dari Wall Street Journal untuk menulis bukunya. Selama 50 hari, setiap hari ketika bersepeda, Prof. Randy mendikte-kan pemikirannya lewat telpon seluler kepada Jeffrey. Dan jadilah buku dengan judul yang sama “The Last Lecture” yang terbit April 2008. Ada sebaris kalimat beliau yang sangat menyentuh hati saya : “Experience – is what you get when you didn’t get what you wanted”. Prof. Randy tidak sedikit-pun memiliki perasaan negatif tentang perjalanan hidupnya. Dan kalimat itu pula yang menjadi jawaban yang saya rasakan pas soal teka-teki Mpu Peniti. Bahwa setiap langkah yang kita ambil dalam perjalanan hidup ini, tidak ada satu-pun yang berarti gagal. Sebab sesungguhnya sukses dan gagal adalah sama-sama sebuah pengalaman. Hanya saja keduanya memang berbeda.
Malam harinya, saya ngopi bersama teman lama di Tart & Tart, sembari menikmati kue cheese-cake kesukaan saya. Ia bercerita bahwa ia hampir saja selesai membangun rumahnya. Secara getir ia menceritakan bahwa rumahnya dibangun selama hampir 4 tahun. Semata karena ia mempercayakan kontraktor pembangunan rumahnya, kepada saudara tirinya. Dan hasilnya memang amburadul. Mulanya ia kecewa luar biasa. Emosinya terkuras antara marah dan air-mata. Tetapi ia teruskan perlahan dengan selangkah demi selangkah. Di akhir ceritanya, ia betul-betul menyimpulkan bahwa yang tadinya ia anggap sebuah kegagalan total, ternyata menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa. Ia bergurau kepada saya, bahwa kini ia tahu caranya membangun sebuah rumah mulai dari mengurus ijin, membangun-nya, hingga memasang instalasi listrik. Persis seperti ungkapan Prof. Randy, bahwa dalam hidup ini tidak ada yang terbuang percuma dan menjadi kegagalan. Karena semuanya akan menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya. Apapun bentuknya. Sukses dan gagal. Keduanya sama-sama pengalaman !
Wednesday, July 09, 2008
BAKIAK
Suatu hari cucu Mpu Peniti, merengek minta dibelikan sandal CROC yang sedang beken dan populer dimana-mana. Sang cucu merengek hingga menangis. Kebetulan orang tua-nya lagi sibuk dan tidak begitu mengindahkan permintaan sang anak. Akhirnya Mpu Peniti turun tangan. Ia membujuk sang cucu, bahwa Mpu Peniti juga punya sandal CROC. Malah ini versi antiknya. Masuklah Mpu Peniti kedalam kamarnya, dan tidak lama kemudian, terdengar suara berisik, “pletak … pletok…..”. Dengan mimik lucu dan penuh kejutan Mpu Peniti, dengan sarung keluar kamar memakai bakiak ! Tentu saja sang cucu menangis meraung-raung makin menjadi. Saya dan Mpu Peniti tidak tahan menahan ketawa.
Bakiak barangkali adalah sandal yang paling unik. Dibuat dari kayu, konon sejak dulu sudah populer di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Belgium, Denmark dan Sweden. Yang asli memang didepannya tertutup. Hanya saja dipengaruhi oleh budaya Cina dan Jepang, kemungkinan besar bakiak Indonesia agar mudah dibuat bagian depan-nya tidak tertutup tetapi terbuka. Bakiak Indonesia sama dengan bakiak Eropa memang diperuntuk-kan untuk kelas bawah. Bakiak ala Indonesia, dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana dan murah sekali. Bakiak di Indonesia boleh dikata sudah punah. Karena siapa yang mau memakainya ?
Hanya saja ide bakiak cukup menarik. Dahulu kakek dan nenek saya sangat suka memakai bakiak, karena selain nyaman dipakai, bakiak mudah dipelihara. Tahan air, tidak bau, tidak licin, pemeliharaannya sangat mudah. Ide inilah yang menyengat 3 anak muda dari Colorado. Lyndon Hanson, Scott Seamans, dan George Boedecker pada tahun 2002, berlibur untuk menghilangkan stress dengan pergi memancing ke Caribbean. Ketika mancing mereka memakai bakiak yang menggunakan bahan bekas styrofoam dari Canada. Ketiga berpikir bagaimana membuat bakiak yang lebih sempurna dengan ide sama, tetapi dengan bahan lebih canggih dan tetap sangat nyaman dipakai. Maka akhirnya mereka menemukan CROC yaitu sandal bakiak yang dibuat dari campuran karet dan berwarna-warni sangat funky, mengikuti jaman saat ini. Merek CROC dipilih karena mereka kagum pada hewan buaya, yang kuat dan tangguh. Persis seperti bakiak mereka yang tangguh didarat dan diair, dan bisa bertahan cukup lama.
Tahun 2003, hanya setahun sandal bakiak CROC berhasil menciptakan penjualan edan hingga 1.2 juta dollars Amerika. Mulanya sandal bakiak CROC ini ditujukan hanya pada penggemar kapal yacht. Sandal bakiak CROC sendiri diluncurkan di sebuah pameran kapal yacht di Fort Lauderdale, Florida pada tahun 2003. Bentuknya memang aneh, dan sulit diterka apabila kemudian bisa menjadi trend fashion yang populer. Karena tidak sedikit yang membencinya juga.
Uniknya karena sandal bakiak CROC sangat nyaman dipakai, maka ia segera punya fans yang sangat luar biasa dari para profesional yang harus berdiri sangat lama setiap harinya. Maka para dokter, koki, tukang kebun, hingga tukang gunting rambut dan tailor, semuanya mencintai CROC. Tak lama kemudian selebriti seperti Brad Pitt dan Britney Spears ikut memakainya. Dan anak-anak ikut tergila-gila dengan CROC.
Tahun 2004, penjualan CROC sudah mencapai $13.5 juta dolar Amerika. Produk sandal bakiak CROC sendiri disempurnakan dengan menggunakan bahan resin rahasia yang sangat ringan tetapi sangat kuat, disebut croslite. Tahun 2005, penjualan mereka diseluruh dunia sudah melampaui $100 juta dolar dengan keuntungan $ 17 juta dolar Amerika. Edan dan maut. Tahun 2006 mereka Go Public, di Wall Street. Penjualan mereka sudah melampaui $ 350 juta dolar Amerika dengan profit diatas $60 juta dolar. Dana publik yang mereka raih lewat go-public melewati 1 milyar dolar.
Buat perusahaan seperti CROC yang tumbuh fenomenal hanya dalam 5 tahun memang edan sekali. Banyak para kritikus yang meragukan apakah CROC masih bisa tumbuh dalam 5 tahun mendatang dengan pertumbuhan yang sama akselerasinya. Atau mirip kembang api, malah padam seketika. “Sustainable growth” secara filosofis adalah kunci rahasia bisnis yang sesungguhnya. Kata bisnis dalam bahasa Cina, terdiri dari 2 aksara. Yang pertama memiliki arti lahir dan tumbuh. Dan aksara yang kedua memiliki makna yaitu arti. Kesimpulannya bisnis memiliki tantangan bukan sekedar melahirkan konsep dan ide-nya, tetapi menumbuhkan-nya hingga memiliki arti yang bernilai.
Banyak bisnis yang setelah diluncurkan dan berkembang pesat mencapai puncaknya, lalu kebingungan untuk bisa bertahan. Semata mereka tidak memiliki visi untuk tumbuh, berkembang, berubah dan mencapai evolusi yang berkesinambungan.
Bakiak barangkali adalah sandal yang paling unik. Dibuat dari kayu, konon sejak dulu sudah populer di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Belgium, Denmark dan Sweden. Yang asli memang didepannya tertutup. Hanya saja dipengaruhi oleh budaya Cina dan Jepang, kemungkinan besar bakiak Indonesia agar mudah dibuat bagian depan-nya tidak tertutup tetapi terbuka. Bakiak Indonesia sama dengan bakiak Eropa memang diperuntuk-kan untuk kelas bawah. Bakiak ala Indonesia, dibuat dari kayu ringan dan diberi tali dari bekas ban untuk tempat jari kaki. Sederhana dan murah sekali. Bakiak di Indonesia boleh dikata sudah punah. Karena siapa yang mau memakainya ?
Hanya saja ide bakiak cukup menarik. Dahulu kakek dan nenek saya sangat suka memakai bakiak, karena selain nyaman dipakai, bakiak mudah dipelihara. Tahan air, tidak bau, tidak licin, pemeliharaannya sangat mudah. Ide inilah yang menyengat 3 anak muda dari Colorado. Lyndon Hanson, Scott Seamans, dan George Boedecker pada tahun 2002, berlibur untuk menghilangkan stress dengan pergi memancing ke Caribbean. Ketika mancing mereka memakai bakiak yang menggunakan bahan bekas styrofoam dari Canada. Ketiga berpikir bagaimana membuat bakiak yang lebih sempurna dengan ide sama, tetapi dengan bahan lebih canggih dan tetap sangat nyaman dipakai. Maka akhirnya mereka menemukan CROC yaitu sandal bakiak yang dibuat dari campuran karet dan berwarna-warni sangat funky, mengikuti jaman saat ini. Merek CROC dipilih karena mereka kagum pada hewan buaya, yang kuat dan tangguh. Persis seperti bakiak mereka yang tangguh didarat dan diair, dan bisa bertahan cukup lama.
Tahun 2003, hanya setahun sandal bakiak CROC berhasil menciptakan penjualan edan hingga 1.2 juta dollars Amerika. Mulanya sandal bakiak CROC ini ditujukan hanya pada penggemar kapal yacht. Sandal bakiak CROC sendiri diluncurkan di sebuah pameran kapal yacht di Fort Lauderdale, Florida pada tahun 2003. Bentuknya memang aneh, dan sulit diterka apabila kemudian bisa menjadi trend fashion yang populer. Karena tidak sedikit yang membencinya juga.
Uniknya karena sandal bakiak CROC sangat nyaman dipakai, maka ia segera punya fans yang sangat luar biasa dari para profesional yang harus berdiri sangat lama setiap harinya. Maka para dokter, koki, tukang kebun, hingga tukang gunting rambut dan tailor, semuanya mencintai CROC. Tak lama kemudian selebriti seperti Brad Pitt dan Britney Spears ikut memakainya. Dan anak-anak ikut tergila-gila dengan CROC.
Tahun 2004, penjualan CROC sudah mencapai $13.5 juta dolar Amerika. Produk sandal bakiak CROC sendiri disempurnakan dengan menggunakan bahan resin rahasia yang sangat ringan tetapi sangat kuat, disebut croslite. Tahun 2005, penjualan mereka diseluruh dunia sudah melampaui $100 juta dolar dengan keuntungan $ 17 juta dolar Amerika. Edan dan maut. Tahun 2006 mereka Go Public, di Wall Street. Penjualan mereka sudah melampaui $ 350 juta dolar Amerika dengan profit diatas $60 juta dolar. Dana publik yang mereka raih lewat go-public melewati 1 milyar dolar.
Buat perusahaan seperti CROC yang tumbuh fenomenal hanya dalam 5 tahun memang edan sekali. Banyak para kritikus yang meragukan apakah CROC masih bisa tumbuh dalam 5 tahun mendatang dengan pertumbuhan yang sama akselerasinya. Atau mirip kembang api, malah padam seketika. “Sustainable growth” secara filosofis adalah kunci rahasia bisnis yang sesungguhnya. Kata bisnis dalam bahasa Cina, terdiri dari 2 aksara. Yang pertama memiliki arti lahir dan tumbuh. Dan aksara yang kedua memiliki makna yaitu arti. Kesimpulannya bisnis memiliki tantangan bukan sekedar melahirkan konsep dan ide-nya, tetapi menumbuhkan-nya hingga memiliki arti yang bernilai.
Banyak bisnis yang setelah diluncurkan dan berkembang pesat mencapai puncaknya, lalu kebingungan untuk bisa bertahan. Semata mereka tidak memiliki visi untuk tumbuh, berkembang, berubah dan mencapai evolusi yang berkesinambungan.
Tuesday, July 01, 2008
MATA HATI
Salah satu pelajaran yang paling berkesan saat saya menimba ilmu dari Mpu Peniti adalah soal Mata Hati. Hal yang paling umum dalam kehidupan kita setiap hari, adalah membuat dan mengambil keputusan. Jumlahnya sangat banyak. Ratusan hingga ribuan tiap harinya. Mulai dari kapan kita bangun tidur, mandi, minum kopi hingga pakaian apa kita pakai ke kantor dan sarapan apa yang akan kita nikmati. Sebagian dari proses membuat dan mengambil keputusan memang berdasarkan informasi yang kita miliki dan logika yang terlatih. Misalnya jenis sepatu yang akan anda pakai hari ini, kemungkinan sekali akan sangat bergantung kepada warna baju yang akan anda kenakan. Kita mencoba menciptakan keserasian antara warna baju dengan warna sepatu. Dalam kasus ini logika yang kita miliki kemungkinan besar adalah sesuatu yang terlatih dan telah menjadi kebiasaan bertahun-tahun.
Dikantor, lain lagi perkaranya. Kita seringkali dilatih dan menjadi terlatih, membuat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi atau data yang kita miliki. Semakin banyak informasi dan data yang menopang keputusan yang akan kita buat, maka prosesnya cenderung semakin cepat dan semakin akurat. Sebaliknya bilamana semakin sedikit, maka semakin lama kita membuat dan mengambil keputusan. Kita cenderung menjadi ragu, gamang dan tidak mantap dalam membuat dan mengambil keputusan itu.
Gaji dan jabatan anda juga sangat bergantung kepada kemahiran yang satu ini. Bilamana anda terbukti cepat, tegas, akurat dan bijaksana dalam membuat dan mengambil keputusan, biasanya anda akan dilabel sebagai pimpinan yang yahud ! Otomatis posisi anda termasuk elite dan biasanya memiliki jabatan tinggi dengan gaji yang aduhai pula. Jadi membuat dan mengambil keputusan adalah kemahiran yang strategis. Yang menentukan nasib karir anda. Jangan heran apabila diluar sana, banyak sekali kursus eksekutif yang khusus memberikan pendidikan dan pelatihan dalam membuat dan mengambil keputusan.
Masalahnya baru akan timbul apabila data atau informasi yang kita butuhkan untuk membuat dan mengambil keputusan jumlahnya nihil alias tidak ada sama sekali. Lalu apa yang harus kita perbuat ? Bagaimana caranya membuat dan mengambil keputusan dalam situasi seperti ini ? Biasanya ada 3 opsi. Pertama, batal membuat dan mengambil keputusan. Kedua tebak saja. Antara benar dan salah, kemungkinannya hanya 50:50. Jadi kalau masalahnya tidak terlalu urgent dan masalahnya sepele, membuat dan mengambil keputusan dengan menebak merupakan metode yang bisa dipertanggung jawabkan. Misalnya anda masuk kesebuah restoran, dan tidak tahu harus memesan masakan apa, maka lihat saja kesekeliling anda. Pilih masakan yang banyak dipilih tamu-tamu lain. Biasanya tebakan seperti itu aman-aman saja.
Atau, anda bisa ikut saran Mpu Peniti. Yaitu menggunakan mata hati anda. Setidaknya itulah istilah dari Mpu Peniti. Orang lain ada yang menyebutnya dengan sebutan indra ke-enam atau intuisi. Dalam hidup ini, ada saat-saat yang sangat penting dan genting, dimana kita membuat dan mengambil keputusan justru dengan lebih mengandalkan mata hati. Misalnya saja menikah, atau pada saat menerima tawaran kerja. Konon inilah proses membuat dan mengambil keputusan yang paling misterius. Kaum entrepener yang lihai konon memiliki kemampuan misterius ini. Seolah-olah mereka memiliki mata hati yang tajam luar biasa.
Dr. Gred Gigerenzer, profesor psychology dari Universitas Chicago, dan juga penulis buku “GUT FEELINGS – The Intelligence of the Unconscious”, mengatakan bahwa kita harus berani memanfaatkan “the unknown”. Kalau data dan informasi adalah bekal membuat dan mengambil keputusan, maka ketidak hadir-an data dan informasi mestinya menjadi bekal yang sama dalam membuat dan mengambil keputusan. Hal ini yang populer disebut dengan “recognition heuristic”. Dr. Gred membuat sebuah eksperimen, dengan bertanya kepada mahasiswa Amerika, dengan pertanyaan kota mana yang memiliki populasi terbesar ? Detroit ? Atau Milwaukee ? Dan uniknya hanya 60% mahasiswa yang menjawab Detroit dan benar. Ketika eksperimen ini diulang ke mahasiswa Jerman, maka hampir 100% menyebut Detroit dengan benar. Sebabnya sepele sekali. Rata-rata mahasiswa Jerman tidak pernah mendengar Milwaukee. Anggapan mereka karena Detroit lebih populer dan lebih sering terdengar, pasti Detroit memiliki populasi yang lebih besar.
Kebanyakan kaum entrepener terbiasa mengambil keputusan seperti diatas. Sehingga mereka kelihatan lebih mahir dan cepat membuat dan mengambil keputusan. Mereka terbiasa menggunakan dan melatih mata hati mereka. Mereka bukan saja berani dan bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka tahu dan mengerti, tetapi mereka juga keluar jalur dengan menggunakan “akal sehat” yang kadang prosesnya sederhana, ngaco, tidak beraturan, tetapi benar dan masuk akal.
Dikantor, lain lagi perkaranya. Kita seringkali dilatih dan menjadi terlatih, membuat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi atau data yang kita miliki. Semakin banyak informasi dan data yang menopang keputusan yang akan kita buat, maka prosesnya cenderung semakin cepat dan semakin akurat. Sebaliknya bilamana semakin sedikit, maka semakin lama kita membuat dan mengambil keputusan. Kita cenderung menjadi ragu, gamang dan tidak mantap dalam membuat dan mengambil keputusan itu.
Gaji dan jabatan anda juga sangat bergantung kepada kemahiran yang satu ini. Bilamana anda terbukti cepat, tegas, akurat dan bijaksana dalam membuat dan mengambil keputusan, biasanya anda akan dilabel sebagai pimpinan yang yahud ! Otomatis posisi anda termasuk elite dan biasanya memiliki jabatan tinggi dengan gaji yang aduhai pula. Jadi membuat dan mengambil keputusan adalah kemahiran yang strategis. Yang menentukan nasib karir anda. Jangan heran apabila diluar sana, banyak sekali kursus eksekutif yang khusus memberikan pendidikan dan pelatihan dalam membuat dan mengambil keputusan.
Masalahnya baru akan timbul apabila data atau informasi yang kita butuhkan untuk membuat dan mengambil keputusan jumlahnya nihil alias tidak ada sama sekali. Lalu apa yang harus kita perbuat ? Bagaimana caranya membuat dan mengambil keputusan dalam situasi seperti ini ? Biasanya ada 3 opsi. Pertama, batal membuat dan mengambil keputusan. Kedua tebak saja. Antara benar dan salah, kemungkinannya hanya 50:50. Jadi kalau masalahnya tidak terlalu urgent dan masalahnya sepele, membuat dan mengambil keputusan dengan menebak merupakan metode yang bisa dipertanggung jawabkan. Misalnya anda masuk kesebuah restoran, dan tidak tahu harus memesan masakan apa, maka lihat saja kesekeliling anda. Pilih masakan yang banyak dipilih tamu-tamu lain. Biasanya tebakan seperti itu aman-aman saja.
Atau, anda bisa ikut saran Mpu Peniti. Yaitu menggunakan mata hati anda. Setidaknya itulah istilah dari Mpu Peniti. Orang lain ada yang menyebutnya dengan sebutan indra ke-enam atau intuisi. Dalam hidup ini, ada saat-saat yang sangat penting dan genting, dimana kita membuat dan mengambil keputusan justru dengan lebih mengandalkan mata hati. Misalnya saja menikah, atau pada saat menerima tawaran kerja. Konon inilah proses membuat dan mengambil keputusan yang paling misterius. Kaum entrepener yang lihai konon memiliki kemampuan misterius ini. Seolah-olah mereka memiliki mata hati yang tajam luar biasa.
Dr. Gred Gigerenzer, profesor psychology dari Universitas Chicago, dan juga penulis buku “GUT FEELINGS – The Intelligence of the Unconscious”, mengatakan bahwa kita harus berani memanfaatkan “the unknown”. Kalau data dan informasi adalah bekal membuat dan mengambil keputusan, maka ketidak hadir-an data dan informasi mestinya menjadi bekal yang sama dalam membuat dan mengambil keputusan. Hal ini yang populer disebut dengan “recognition heuristic”. Dr. Gred membuat sebuah eksperimen, dengan bertanya kepada mahasiswa Amerika, dengan pertanyaan kota mana yang memiliki populasi terbesar ? Detroit ? Atau Milwaukee ? Dan uniknya hanya 60% mahasiswa yang menjawab Detroit dan benar. Ketika eksperimen ini diulang ke mahasiswa Jerman, maka hampir 100% menyebut Detroit dengan benar. Sebabnya sepele sekali. Rata-rata mahasiswa Jerman tidak pernah mendengar Milwaukee. Anggapan mereka karena Detroit lebih populer dan lebih sering terdengar, pasti Detroit memiliki populasi yang lebih besar.
Kebanyakan kaum entrepener terbiasa mengambil keputusan seperti diatas. Sehingga mereka kelihatan lebih mahir dan cepat membuat dan mengambil keputusan. Mereka terbiasa menggunakan dan melatih mata hati mereka. Mereka bukan saja berani dan bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka tahu dan mengerti, tetapi mereka juga keluar jalur dengan menggunakan “akal sehat” yang kadang prosesnya sederhana, ngaco, tidak beraturan, tetapi benar dan masuk akal.
Subscribe to:
Posts (Atom)

















