Monday, March 31, 2008

TEKNIK SAMPLING

Tanya kepada semua praktisi pemasaran, “promosi apa yang manjur dan mujarab” ? Jawaban-nya 90% dapat dipastikan adalah ‘sampling’. Alias coba atau icip-icip gratis. Ini memang trik kuno yang sangat tua, namun tetap saja praktis dan kemujaraban-nya tetap tidak tertandingi. Sebagai korban, kita sering pula mendapat gratisan yang jumlahnya cukup banyak. Mulai dari parfum, majalah, kondom, koran, musik, vitamin, shampoo, hingga sabun cuci. Seorang teman malah berfilosofi, kalau kita bijaksana menyiasati sample-sample gratis ini, kita bisa kenyang gratis. Suatu hari ia mengajak saya ke sebuah pasar swalayan. Karena penasaran, saya ikut saja. Saya ingin tahu bagaimana ia bisa kenyang gratis.

Ketika sampai di pasar swalayan, ia langsung menuju baris rak yang menjual juice dan minuman ringan. Ia minum juice yang ditawarkan seorang Sales Promotion Girl, sembari ngobrol ringan seadanya. Ia bergaya seolah-olah ia tertarik dengan produknya. Bidikan berikutnya adalah baris rak yang menjual buah-buah-an segar. Dengan percaya diri ia mencoba beberapa buah yang dipajang, sembari berlagak untuk memastikan manisnya sang buah. Tak lama kemudian ia berlanjut ke baris rak yang menjual biskuit. Disana ia menjajal sejumlah biskuit dan snack. Terakhir petualangan icip-icip gratisnya, ia mencoba segelas kecil kopi ginseng. Sembari nyengar-nyengir ia dan saya keluar pasar swalayan setelah usai membayar ½ kilo apel yang akhirnya ia beli sebagai basa-basi. Ia mengaku puas dengan pengalaman hari itu. Saya cuma tertawa menimpali ulahnya.

Supaya tidak kecolongan seperti kasus diatas, pemasar mencoba untuk lebih kreatif bertaktik sampling. Teman saya, seorang promotor handal di Vladivostok, Katerina Akulenko, belum lama ini mempresentasikan sebuah kasus promosi yang ia rancang di Rusia. Untuk menarik perhatian konsumen di sebuah pasar swalayan, Katerina mendesain sebuah permainan populer. Yaitu lomba melempar ‘dart board’. Ini memang permainan yang sangat populer dimana-mana, karena menguji kemahiran dan keberuntungan sekaligus. Sepasang pria dan wanita berparas ganteng dan ayu dipasang sebagai ‘promoter’. Tak lupa diberikan kostum ala ‘Robin Hood’ berwarna hijau. Konsumen pengunjung pasar swalayan berkerumun dan bergerombol untuk menanti kesempatan untuk melempar ‘dart board’. Yang menang dan bisa melempar tepat disasaran akan mendapat hadiah produk. Yang kalah juga mendapatkan hadiah produk, cuma saja ukurannya lebih kecil. Ketika konsumen menanti giliran dan bergerombol, seorang sales promotion girl mencoba menjelaskan faedah dan promosi produk yang dijual itu. Menurut Katerina inti dan tujuan dari promosi ini adalah sampling juga, hanya saja dikemas menjadi permainan yang menarik. Sehingga memberi kesan yang jauh lebih dalam kepada konsumen.

Belum lama ini, di Los Angeles, ketika saya berkunjung ke mal Costa Mesa, saya tertarik dengan promosi yang dijalankan oleh perusahaan sepatu Johnston & Murphy. Nama promosinya WALK TEST. Caranya cukup nekat. Anda bisa memilih satu satu jenis sepatu mereka. Lalu anda beli, dan selama 10 hari anda bisa mencobanya untuk dipakai berjalan-jalan. Kalau saja selama 10 hari masa coba itu, sepatu tidak nyaman dan tidak memuaskan, maka anda bisa mengembalikan sepatu itu, dan uangnya 100% dikembalikan. Ini juga trik sampling yang kreatif. Memotivasi konsumen untuk mencoba, dan dengan kemungkinan pindah dari satu merek kompetitor ke merek Johnston & Murphy.

BMW produsen mobil apik, ketika meluncurkan mobil seri 7 terbaru mereka, pernah menawarkan kepada pemilik mobil BMW seri 7 yang ada di database mereka, uji coba satu hari penuh. Program sampling ini menjadi unik dan kreatif karena BMW menawarkan paket uji coba selama 24 jam, disertai dengan sopir dan bensin yang dibayar penuh oleh BMW. Di Indonesia, BMW sadar sepenuhnya bahwa uji coba beberapa menit mungkin tidak cukup. Kebanyakan pemilik mobil seri 7 mereka adalah kaum eksekutif yang memang sehari-harinya naik mobil tidak nyetir sendiri. Melainkan 100% memanfaatkan jasa supir. Maka uji coba 24 jam dirancang berdasarkan kebutuhan itu.

Masih di Los Angeles, saya bertemu dengan seorang produsen produk-produk diet. Lewat iklan di berbagai radio FM, ia menawarkan program uji coba selama seminggu. Mulanya saya kaget, dan bertanya apa ngak takut rugi. Ia tertawa mendengar pertanyaan saya. Menurutnya kalau produknya berkwalitas bagus dan memang manjur, kenapa juga harus takut dicoba konsumen. Menurut kalkulasinya, dalam seminggu orang yang kelebihan berat badan, akan hanya berhasil menurunkan berat badan maksimal 10%-20%. Lha, kalau sudah berhasil, masa konsumen tersebut tidak mau melanjutkan program diet selanjutnya ? Mereka pasti penasaran dan ketagihan untuk melanjutkan. Konon dengan cara sampling – uji coba seperti ini, pemasaran produknya berjalan sangat cepat, dan ia menikmati hasil yang luar biasa. Promosi yang paling manjur dan mujarab terbukti adalah sampling atau uji coba atau icip-icip gratis. Hanya saja ditengah kompetisi yang menggila, cara melakukan sampling juga menjadi sangat kompetitif. Kita mesti melakukannya dengan ide kreatif dan inovatif.

Saturday, March 22, 2008

SANG JUARA

THE PATH OF A CHAMPION

Apa yang persamaan yang luar biasa dari Muhammad Ali, Bjorn Borg, Michael Jordan, Niki Lauda dan Tiger Wood ? Mereka semua Champion atau Juara. Bukan sekedar atlit biasa, yang sesekali menang dan sisanya kalah. Mereka meninggalkan legenda bukan sekedar cerita. Sebagai pelaku bisnis anda juga pasti ingin menjadi juara beneran dan bukan asal pemenang biasa. Itu sebabnya dalam sport dibedakan betul antara “champion” yang sejati dengan “winner” yang sesekali menang.

Lalu apa bedanya antara seorang “champion” dengan “winner” ? Pak Harris, guru olahraga saya waktu di SMA, mengatakan bahwa seorang Juara memiliki mentalitas, prilaku, kebiasaan, sikap, dan kepribadian yang berbeda. Istilah beliau ‘bibit unggul seorang juara’. Konon seorang Juara memiliki 4 Faktor “C” yang unik. Formula yang mengingatkan kita kepada karakter sebuah berlian berkualitas tinggi.

Para Juara biasanya memiliki satu kekuatan yang luar biasa, yaitu kemampuan mereka berkonsentrasi. Tahun 1918 – Theron Q Dumont, menulis sebuah buku kecil berjudul – The Power of Concentration. Buku ini hingga kini populer dibaca banyak orang yang ingin menguasai kemampuan berkonsentrasi. Konsentrasi ibarat sepotong karet busa yang kering. Saat anda menguasai kemampuan berkonsentrasi, maka sepotong karet busa itu menjadi satu alat yang ampuh untuk menyerap semua data dan informasi disekeliling anda. Lalu memprosesnya lebih cepat dibandingkan orang lain. Sehingga cara anda memahami sebuah permasalahan menjadi lebih akurat. Intuisi anda bereaksi ultra cepat. Yang membuat reaksi bertindak anda lebih efektif dan efesien. Bila kemampuan ini terus menerus dilatih, maka kemampuan visualisasi juga bertambah berlipat-lipat ganda.

Situasi dan lingkungan bisnis juga mirip sebuah pertandingan olah raga. Pas bertanding, kita butuh konsentrasi penuh, menebak langkah lawan berikutnya, dan menciptakan langkah yang tak terduga. Bilamana kita lengah, hilang konsentrasi, musuh akan menggempur kita bertubi-tubi. Akhirnya bisa dipastikan tembus pertahanan kita, dan kekalahan pasti kita derita. Faktor “C” yang berikutnya adalah “Control”. Seorang Juara selalu menguasai kontrol permainan. Biasanya ia mendikte ritme, tempo dan suasana pertandingan. Sehingga lawan - bermain dengan situasi yang yang dikontrol sepenuhnya oleh sang Juara. Situasi yang jelas bakal menguntungkan sang Juara.

Hampir semua Market Leader di kancah pertempuran bisnis memiliki kontrol terhadap situasi dan kondisi pasar. Mereka mampu mendikte perubahan harga. Dan yang paling celaka mereka mampu mendikte jumlah suplai. Sehingga pasar mudah gonjang-ganjing. Biasanya kalau anda adalah lawan kecil yang “underdog” dan anda ingin menang, maka kontrol ini harus anda patahkan. Menurut Tomaz Mencinger, yang banyak menulis artikel soal Psikologi Juara Tennis, minimal seorang Juara mampu mengontrol sejumlah variable. Pertama seorang juara biasanya mampu mengkontrol emosinya sehingga bisa bermain dengan tenang dan kepala dingin. Kedua mengkontrol enerjinya, lewat ritme, tempo dan suasana pertandingan. Sehingga ia tidak akan terkecoh dan kehabisan nafas. Dan yang terakhir seorang juara selalu mampu mengontrol pemikirannya – dalam arti kata selalu berpikir positif – memiliki “will power” yang mampu membebaskan-nya dari situasi sesulit apa-pun.

Faktor “C” yang berikutnya adalah – “Confidence” ! atau percaya diri. Percaya diri adalah kualitas terpenting seorang juara. Percaya diri bukanlah perasaan dan pemikiran bahwa kita mampu menang, melainkan kesadaran dan pengetahuan bahwa kita memang bisa menang ! “It isn't about thinking you can do it, it's about knowing you can do it.”, begitu kilah Olivier Blanchard pemilik blog The Brand Builder. Percaya diri bukanlah emosi dan sikap positif semata, melainkan 100% kepastian bahwa kita mampu ! Bayangkan apa jadinya seorang pengacara atau dokter bedah, yang tidak memiliki kepercayaan diri, maju keruang sidang atau kamar bedah dan melakukan tugasnya ! Pasti celaka bukan. Percaya diri bertujuan untuk menaklukan rasa takut kita. Dan percaya diri ini pula yang memotivasi kita untuk melakukan yang terbaik.

Yang terakhir adalah “Consistent”. Ini adalah bejana ukur yang memberi nilai kualitas kepada prestasi seorang Juara. Semakin konsisten ia menang, semakin ia tak terkalahkan. Semakin tinggi pula nilainya. Konon, belum lama ini di televisi ada berita yang menarik tentang kemenangan Tiger Wood di lapangan golf. Saking konsistennya Tiger Wood menang, maka bandar-bandar taruhan di Eropa banyak yang menderita kerugian besar. Bayangkan saja, atlit sekelas Tiger Wood biasanya memiliki pasaran taruhan diatas 1:50. Apalagi golf termasuk sport yang lumayan sulitnya. Tapi pasaran taruhan Tiger Wood sudah turun jauh menjadi dibawah 1:8 dan terus menurun. Hanya saja karena Tiger Wood sangat konsisten menang. Inipula yang membedakan Tiger Wood dengan atlit lainnya. Ia memang “100% Champion”.

Selama setahun belakangan ini, saya banyak menggunakan “THE PATH OF A CHAMPION” sebagai materi training diberbagai perusahaan. Semata-mata karena perusahaan tidak lagi mau menjadi cuma “winner” yang tempo-tempo menang dan tempo-tempo tidak. Pertanyaan yang sering muncul memang, adalah apakah juara bisa dibentuk ? Pengalaman menunjukan bahwa juara 100% muncul berkat latihan dan disiplin. Sayangnya kombinasi latihan dan disiplin bukanlah kombinasi yang mudah. Tetapi siapa bilang pula menjadi juara itu mudah ?

Monday, March 17, 2008

STARBUCKS

CHANGE OR DIE

Sejak kecil, kita dibentuk dan terbentuk oleh sejumlah prilaku yang kemudian membentuk sebuah pola. Inilah yang seringkali disebut kebiasaan. Kalau orang tua melakukan sesuatu terhadap anaknya yang dianggap nyeleweng, seringkali kakek dan neneknya protes : “Tuh, kan …jangan dibiasakan begitu ! Nanti anaknya jadi manja” Teman saya selalu mengkritik ketiga anaknya yang tidak pernah mau bangun pagi. Ia meneceritakan bagaimana dulunya, ia sebagai pemuda yang miskin, selalu bangun jam 4 pagi untuk mulai bekerja. Dan baru tidur menjelang larut malam. Buatnya anak-anaknya yang terbiasa bangun siang, adalah tanda-tanda kemalasan dan keborosan. Anaknya tetap tidak berubah. Hingga kini setelah lulus kuliah, tetap saja bangun siang. Barulah akhirnya sang Ibu yang bercerita bahwa kenapa anak-anaknya selalu bangun siang, karena memang dibiasakan sejak kecil. Dulunya sang Ibu merasa kasihan kalau harus membangunkan anak-anaknya terlalu pagi. Alasannya, ia ingin anaknya menikmati hidup yang lebih baik ketimbang nasib bapaknya yang selalu harus bekerja keras. Tindakan itu berlanjut menjadi kebiasaan, yang kini menurut sang ayah adalah sikap pemalas.

Percaya atau tidak nasib kita memang ditentukan sedikit banyak oleh kebiasaan kita. Entengnya, kalau anda mau sukses, maka yang anda harus ubah adalah pola kebiasaan kita. Alan Deutschman, direktur eksekutif perusaan konsultan “Unboundary”, menulis sebuah buku berjudul ‘CHANGE OR DIE’. Menarik banget. Menurut Alan, kita memiliki 3 kunci penting untuk berubah. Yaitu berubah untuk mengubah harapan, dengan harapan baru. Misalnya dari miskin menjadi kaya raya. Lalu berubah dengan belajar menguasai kemahiran baru. Dan yang terakhir adalah mengubah pola pikir kita. Dengan ‘new thinking’ untuk mengatasi segala kemacetan dan kebuntuan.

Menjelang berakhirnya semester kedua 2007, harga saham Starbucks jatuh 40%. Padahal revenue Starbucks di kuartal terakhir naik dari 2 milyar dolar menjadi 2.44 milyar dolar. Lalu apa yang menyebabkan saham Starbucks turun drastis. Pertama para investor merasa, pengembangan Starbucks didalam Amerika mendekati titik jenuh. Tanda-tanda itu terlihat dari jumlah konsumen yang mengunjungi Starbucks di Amerika mulai menurun. Juga para investor mulai mewaspadai ekonomi Amerika yang mulai gonjang ganjing. Dan melemah.

Untuk mengatasi krisis ini, Starbucks harus berubah. Bukan perubahan yang sederhana. Tetapi revolusi total. Pada tanggal 7 Januari 2008, Howard Schultz Chairman Starbucks yang sudah pensiun 8 tahun, didaulat untuk kembali menjadi CEO dan memecat CEO lama Jim Donald. Langkah ini merupakah kunci pertama yang dikatakan Alan didalam bukunya “Change or Die” yaitu menciptakan ‘new hope’ atau harapan baru.

Menyusul langkah kedua, yaitu ‘new skills’, Starbucks melakukan revolusi yang gila. Pada tanggal 26 Pebruari 2008, dari jam 5 sore hingga jam 9 malam, Starbucks menutup lebih dari 10.000 kedai kopinya di Amerika semata-mata untuk training, bagaimana menjadi ‘barista’ handal untuk membuat kopi yang sempurna. Langkah edan ini, konon merupakan agenda nomer 8 dari Howard Schultz untuk "teach, educate and share our love for coffee." Dalam kamus Howard Schultz langkah ini dipandang perlu sebagai terapi jitu untuk mengembalikan romantisme dan roh sejati dari Starbucks. Para kritik rata-rata skeptis, karena training 3.5 jam dianggap mengada-ada. Dan menjadi barista handal rada tidak mungkin dilakukan dalam 3.5 jam. Barista adalah kemahiran yang umumnya dipelajari, ditekuni, dan diperoleh bertahun-tahun, dengan kecintaan terhadap kopi yang mutlak harus luarbiasa. Tanpa pamrih dan tanpa kompromi. Apapun juga dalihnya, tindakan Howard Schultz mengundang perhatian media yang sangat luarbiasa. Tindakan ini menjadi aksi PR yang sangat luarbiasa. Semua media besar Amerika meliputnya dengan sangat antusias. Minimal Howard Schultz berhasil membuat konsumen Amerika menoleh dan menyimak dengan seksama langkah dari Starbucks.

Bisnis Starbucks dalam beberapa tahun terkahir ini, memang digerogoti kompetisi agresif dari kedai kopi sejenis dan juga dari waralaba pesaing seperti McDonald’s dan Dunkin’ Donuts yang bersaing dengan meluncurkan kopi berkualitas tinggi. Usai melakukan tindakan revolusi yang heboh itu, beberapa hari kemudian, Starbucks memasang iklan satu halaman di berbagai media cetak di Amerika. Tujuan-nya untuk menggebrak pemikiran konsumen. Inilah kunci ketiga yang disebut ‘new thinking’. Didalam iklan itu disebutkan bahwa Starbucks berjanji untuk menyajikan kopi yang maha sempurna. Kopi Starbucks memiliki 87.000 kombinasi dari rasa, cara membuat kopi, jenis dan jumlah kreamer yang digunakan, plus jenis dan jumlah pemanis. Janji kesempurnaan inilah yang diumbar Howard Schultz. Apakah Starbucks berhasil atau tidak ? Memang membutuhkan waktu untuk membuktikannya. Yang jelas Howard Schultz tau betul rahasia survival Starbucks, yaitu berubah atau mati. Cuma itu pilihan-nya. Tidak lebih dan tidak kurang !

Tuesday, March 04, 2008

THE ART OF PERFECTION

SURAT DARI SEATTLE - SAN FRANCISCO

Alkisah, didalam pertempuran dan peperangan dunia kelam pemasaran, ada satu kata baru yang sangat ajaib. Kata itu adalah “artisan”. Inilah mantra baru, yang sedang digandrungi dimana-mana. Konon kata „artisan“ dikenal ratusan tahun sebelum Masehi, dimana seorang artis dikenal memiliki semangat/ passion yang luar biasa, sehingga selalu berpikir kreatif untuk melakukan sesuatu kalau perlu dengan manual tidak dengan mesin, lewat proses terlama untuk menciptakan karya yang tersempurna. Sehingga para „artisan“ dikenal lewat gaya mereka yang khas. Yang tidak dimiliki orang lain.

Ditengah jaman teknologi nano yang super cepat, dan semuanya berbeda dalam siasat pemasaran yang serba plastik dan membingungkan, “artisan” dianggap sebagai alternatif sejati yang luhur dan sejati. Merekalah yang dianggap jurukunci yang memegang tradisi dan resep-resep sejati. Minggu lalu, ketika saya mampir ke Seattle dan San Francisco, saya melihat “artisan” sebagai virus Marketing yang mewabah kemana-mana. Ketika saya menjejakan kaki di Seattle, teman saya langsung mengajak saya ngopi di café favorite saya, yaitu Stumptown, di 616 East Pine Street. Saya mengenal Stumptown, tahun lalu ketika ke Portland. Mereka adalah kaum “artisan” baru yang dikenal selalu “roasting” kopi mereka dalam jumlah kecil untuk mempertahankan kesempurnaan rasa dan aroma. Tidak pernah terburu-buru. Begitu kilah mereka. Karena kopi harus dinikmati perlahan dan lambat-lambat. Kali ini kopi yang saya nikmati adalah dari Indonesia yaitu Blue Batak. Ini kopi Indonesia yang sedang naik daun. Ditanam hanya di dataran tinggi Sumatera Utara. Kopi Blue Batak hanya bisa anda peroleh di kedai-kedai kopi ternama. Di Seattle saya hanya menemukannya di satu Gourmet Supermarket, yaitu Whole Foods. Kopi ini dikenal sangat “smooth”, aromatik dengan rasa rempah-rempah yang khas Indonesia. Luar biasa sekali. Konon sebutan Blue Batak adalah pembanding sebutan yang hanya boleh dipakai untuk kelompok ningrat kopi seperti kopi Blue Mountain yang terkenal itu. Dan kopi Blue Batak memang rasanya selangit.

Setelah itu saya diajak ke supermarket QFC milik kelompok Kroger, yang merupakan supermarket high-end mereka dengan gaya gourmet yang sangat khas. QFC adalah singkatan Quality Food Centre. Dibagian bakery, lagi-lagi saya terkejut, karena melihat rak khusus yang diberi label “Artisan Bakery”. Roti-roti yang dijual disini semua datang dari bakery kecil-kecil, dan kebanyakan hanya memiliki staff kurang dari 5 tetapi tiap hari pemiliknya sendiri yang membuat roti dengan proses tangan, layaknya seorang artis. Semua dilakukan dengan semangat dan kecintaan yang tinggi untuk mendapatkan roti yang paling sempurna. Hari itu saya keliling kota menikmati “artisan pizza” dan juga “artisan chocolate” dibeberapa toko yang sangat unik.

Esok harinya kami berangkat ke San Francisco, dan menginap di Hotel Argonaut, dekat dengan Fisherman’s Wharf yang terkenal. Dari sini anda bisa melihat dengan jelas bekas penjara Alcatraz dan jembatan Golden Bridge yang beken itu. Gedung hotel Argonaut dibangun tahun 1907 dan dulunya dipakai sebagai pabrik pengalengan dari produk Del Monte yang terkenal. Hotel Argonaut adalah dimiliki oleh group Kimpton yang memiliki sejumlah hotel butik di Amerika. Awalnya hotel ini berasal dari visi luar biasa Bill Kimpton yang wafat tahun 2001. Dialah ‘artisan hotelier’ yang menjadi pionir sesungguhnya. Kini Kimpton memiliki 43 hotel diseluruh Amerika, dan motto atau slogan mereka adalah „every hotel tells a story“. Motto atau slogan ini benar-benar dijadikan mantera keramat. Lokasi hotel mereka selalu berasal dari gedung yang memiliki sejarah dan legenda yang unik. Dan mereka selalu menciptakan thema-thema yang unik. Hampir disemua hotel, misalnya „bath-robe“ dikamar selalu didesain berwarna putih, tetapi tidak di Kimpton. „Bath-robe“ di hotel Kimpton justru didesain mirip kulit macan Leopard. Sebuah sentuhan yang jenaka.

Malamnya kami makan di resto Seafood terkenal McCromick & Kuleto’s. Dan ketika selesai makan lalu tiba giliran makanan pencuci mulut, saya tidak lagi bisa mengelak untuk memesan “artisan cheese platter”. Sejumlah keju dari kaum “artisan” di California disajikan dalam potongan kecil-kecil. Benar-benar selangit rasanya. Usai makan kami ngobrol tentang fenomena “artisan” ini. Semua setuju, ditengah kericuhan dan hiruk pikuk apapun yang serba massal, dan perbedaan-perbedaan yang marginal, „artisan“ adalah rayuan baru yang memukau.

Friday, February 29, 2008

CERITA DARI HOLLYWOOD

Semua orang pasti pernah jatuh. Mulai jatuh cinta, jatuh dari sepeda, dan juga jatuh bangkrut. Jadi jatuh itu normal sekali. Tapi jatuh juga pasti sakit. Kadang malah meninggalkan luka, cedera, dan cacat. Itu konsekuensi jatuh. Itu sebabnya dalam ilmu bela diri, dan berbagai olah raga yang beresiko tinggi, kadang anda diajarkan juga seni jatuh yang benar dan aman. Kesimpulannya jatuh perlu ilmu dan seni tersendiri. Seorang pengusaha meledek saya, katanya “The Art of Falling”. Ia sendiri bercerita dengan sungguh-sungguh tentang jatuh bangun yang dialaminya. Ia sudah kawin cerai 3 kali. Bukan sesuatu yang dibanggakan-nya, melainkan pelajaran hidup yang paling pahit. Begitu kilahnya setiap kali bercerita. Dalam bisnis ia sudah jatuh bangun lebih dari 10 kali. Kawin cerainya juga akibat tidak langsung dari kejatuhan bisnisnya.

Ia bercerita bahwa ketika jatuh pertama kali, ia merasakan sakit yang bukan main. Berusaha mencari simpati. Bersedih-sedih pula. Ia merasa dunia tidak adil. Pokoknya macam-macam dah. Hampir setahun ia tidak mengerjakan apa-apa. Pada saat yang sama ia diceraikan isterinya. Mulanya ia berpikir nasibnya mirip peribahasa kuno, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Suatu hari ia melihat anaknya yang bungsu jatuh dari sepeda motor, ketika baru belajar naik sepeda motor. Lengan dan kakinya, penuh luka semua. Tapi hari kedua, anaknya sudah belajar naik sepeda motor lagi. Mulanya ia menganggap anaknya bandel bukan kepalang. Namun ketika seminggu kemudian anaknya sudah bisa naik motor, iapun menyadari satu hal penting. Setiap kali kita jatuh, yang terpenting adalah bukan jatuhnya tetapi justru kebangkitan dari kejatuhan itu sendiri.

Barry J Woltz, seorang entrepener yang sudah jatuh bangun berkali-kali, menulis sebuah buku yang sangat elok, yaitu “Bounce”. Ibarat bola bekel yang selalu mental, dan tidak pernah jatuh. Ini rahasia sesungguhnya. Jangan jatuh tetapi menggunakan kejatuhan untuk mental balik. Barry menulis, kegagalan, dan kejatuhan, memang sakit dan nyeri. Tetapi bahaya yang sesungguhnya justru merobek dan mencederai ego kita. Sehingga kita merasa tidak percaya diri. Mudah curiga ! Dan kehilangan keberanian. Ini tantangan terberat. Andaikata kita membalik situasi ini, dan memanfaatkan kegagalan dan kejatuhan justru untuk merancang ulang ego kita. Yaitu membuat kita menjadi lebih rendah diri. Waspada dan eling. Kejatuhan dan kegagalan justru sangat positif. Thomas Alva Edison, menemukan lampu pijar justru setelah mengalami ribuah experimen yang gagal. Beliau berkata, bahwa satu yang sempurna dan berhasil, ditemukan justru setelah ribuan yang gagal. Jadi kegagalan dan kejatuhan adalah benih sukses terbaik.

Mpu Peniti, menyebut kegagalan dan kejatuhan adalah „expensive training“. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk gagal dan jatuh. Kalau dipikir-pikir, Mpu Peniti bener juga sih! Jadi kegagalan dan kejatuhan mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Barry menulis didalam bukunya, bahwa minimal ada beberapa skills yang bisa dipelajari. Pertama, kegagalan dan kejatuhan bisa mendidik kita untuk lebih sabar dan teliti. Kedua, kegagalan dan kejatuhan melatih kita lebih handal dalam hal meraba dan menghitung resiko. Dan ketiga, yang paling penting kegagalan dan kejatuhan harus mampu justru membuat kita tahan uji, dengan keberanian yang berbeda.

Setelah saya renungkan, uraian Barry didalam bukunya persis sekali, sejalan dengan nasib seorang teman saya. Ketika kuliah dulu, ia dikenal pemalu dan selalu rendah diri. Kini ia menikah dengan bekas seorang model yang cantik luar biasa. Konon menurut cerita teman-teman, ia juga setelah kuliah dikenal sebagai seorang playboy ulung. Bila diurut secara seksama, seperti ada yang membalik nasibnya 180 derajat. Belum lama ini, saya bertemu lagi dengan dirinya di Los Angeles, setelah sekian lama kita tidak pernah ketemu. Iseng saya menanyakan rahasianya. Ia cuma mesem-mesem saja, lalu pelan-pelan mengisahkan kisah hidupnya. Dalam cerita beliau, memang terungkit bahwa ia mengalami puluhan kali atau bahkan jumlah yang tidak terhitung lagi, tolakan dari cewe ketika ia mengajak mereka kencan. Mulanya ia menganggap dirinya terkutuk dari sentuhan cinta. Ia mulai menyendiri, dan banyak menghabiskan waktu diperpustakaan. Iseng-iseng ia mulai membaca berbagai buku tentang tekhnik kencan. Pelan-pelan ia sadar, lalu memanfaatkan sejumlah kegagalan dan kejatuhan yang pernah dialaminya. Iapun menjadi percaya diri dan berani-berani saja mengajak wanita kencan. Dan kali ini ia melakukan-nya dengan cara yang berbeda. Dahulu ketika kuliah, ia berusaha mengajak kencan cewe yang tidak terlalu cantik, dengan alasan ia tahu betul kondisi dan situasi dirinya. Tapi kini ia berbalik 180 derajat, ia justru nekat hanya mengajak cewe kencan kalau mereka cantik luar biasa. Malah berhasil. Teorinya cewe-cewe yang biasa-biasa saja, mencari cowo yang jauh lebih ganteng. Karena mereka juga ingin naik ketingkat yang lebih atas. Jadi kalau dia yang mengajak kencan, rata-rata menolaknya mentah-mentah. Padahal cewe-cewe yang cantik luar biasa, punya pengalaman juga kencan dengan cowo-cowo ganteng. Dan banyak yang gagal dan kecewa. Makanya ketika ia yang mengajak kencan, banyak diantara cewe-cewe cantik itu yang penasaran dan ingin mencoba. Percaya atau tidak, ini rahasia yang sesungguhnya. Kata teman saya, kegagalan dan kejatuhan, kalau dipelajari dengan bijak, bukan saja membuat kita makin pintar, tapi juga membuat kita bijak dan arif. Meluaskan perspektif kita !

Wednesday, February 20, 2008

THE POWER OF SIMPLICITY


OCCAM'S RAZOR

Seorang klien bercerita, bahwa kantornya belum lama ini dibobol oleh karyawan-nya sendiri. Sejumlah uang raib. Jumlahnya cukup banyak. Ketika diselidiki, kemana uang itu lari, semua bingung. Sang karyawan yang membobol kas, kelihatan sederhana. Berbagai teori bermunculan. Mulai dari uangnya dipakai untuk narkoba, hingga kawin lagi. Semuanya diselidiki. Tidak ketemu juga penyebab kemana uang itu dipergunakan.

Saat cerita ini dipaparkan kepada saya, terbayang satu nasehat Mpu Peniti. Beliau selalu mengatakan kepada saya untuk mencari jejak motif yang paling ‘simple’ dalam setiap kasus dan masalah. Dan dalam kasus seperti ini, penjelasan ‘simple’ orang gelap mata untuk korupsi cuma satu yaitu nafsu dan keserakahan. Benar saja, tak lama kemudian terbukti uangnya dipake untuk ngobyek proyek lain. Apa mau proyeknya gagal dan sang karyawan ditipu. Kerugian yang besar menyebabkan karyawan tersebut gali lubang tutup lubang, untuk mengelabui perusahaan.

Pendeta William Ockham yang hidup pada periode 1285-1349, dikenal dengan perkata-annya “Entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem” atau entitas tidak semestinya dilipat gandakan bilamana tidak perlu. Atau sederhananya seringkali solusi atau penjelasan dari sebuah masalah, yang tepat seringkali adalah justru yang paling sederhana. Dari pernyataan ini maka muncul-lah sebuah aliran pemikiran yang dikenal dengan nama Occam’s Razor. Istilah pisau tajam atau ‘razor’ adalah terminologi yang populer karena aliran pemikiran ini sering memangkas asumsi yang berlebihan dan dianggap tidak perlu. Barangkali pemikiran ini bukanlah pemikiran baru. Karena beberapa filsuf dan pemikir seperti John Duns Scotus (1265–1308), Thomas Aquinas (c. 1225–1274), Alhacen (965-1039), dan Aristotle (384–322 BC), juga memiliki akar pemikiran yang serupa.

Occam’s Razor muncul pertama kali justru dalam karya, Sir William Rowan Hamilton (1805–1865), ditahun 1852. 6 abad setelah William Ockham wafat. Occam’s Razor kini sangat populer digunakan dalam perlbagai cabang keilmuan. Mulai dari kedokteran, biologi, fisika sampai kepada filsafat dan teologi. Occam’s Razor menjadi pilar pemikiran populer karena ‘simplicity’ sendiri menawarkan opsi yang lebih praktis. Kalau misalnya ada dua teori untuk menjelaskan satu fenomena. Dan yang satu lebih ‘simple’ daripada satunya, maka yang ‘simple’ cenderung yang diadopsi. Semata karena ia menawarkan penjelasan yang lebih mudah dan praktis. Walaupun Occam’s Razor diperdebatkan karena mitos ‘simplicity’ bukanlah kesempurnaan. Albert Einstein sendiri di tahun 1933 memperingatkan bahwa “"Theories should be as simple as possible, but no simpler." Namun uniknya Occam’s Razor bertahan hingga kini, menjadi sebuah disiplin untuk berpikir sederhana. Tak heran apabila muncul kemudian sebuah ungkapan populer KISS principle yaitu “Keep it Simple, Stupid”.

Terus terang Occam’s Razor adalah metode favorit saya dalam mengambil keputusan. Pertama, kita memangkas semua asumsi yang kompleks, nyelimet, dan menyesatkan. Kedua, kita menggelar beberapa solusi yang paling simple. Ketiga, kita mengkajinya dengan ‘common sense’ dan menggunakan pengalaman sebagai bandul penimbang. Maka setelah 3 langkah ini, biasanya muncul solusi manjur, mujarab, dan cespleng. Buat Mpu Peniti sendiri, Occam’s Razor adalah pedang bermata dua. Beliau selalu wanti-wanti agar saya tetap cermat, waspada, jangan menggampangkan segalanya. Mpu Peniti selalu gusar kalau Occam’s Razor digunakan semena-mena. Misalnya di Indonesia betapa sering kita mendengar penjelasan bahwa satu tempat bisnis, entah itu toko, kantor, rumah sakit, sekolah atau apa-pun yang bisnisnya menurun dan sepi, akhirnya selalu diberikan penjelasan ‘yang menggampangkan’ yaitu ada penunggunya atau ada hantunya !

Ini kritik Mpu Peniti. Yaitu ‘simplicity’ dijadikan ‘penggampangan segalanya’. Memang serba salah juga. Seorang pejabat bercerita bahwa, kadang ia berusaha memberikan penjelasan yang sesungguhnya dan sejujurnya. Tetapi justru yang benar itu susah dimengerti. Percaya atau tidak seringkali ‘setan’, ‘gaib’, dan semua yang berbau klenik lebih mudah dipercaya dan masuk akal. Seorang desainer beken bercerita, bahwa seringkali ia mendesain sesuatu dengan bentuk tertentu dan menggunakan warna tertentu semata karena alasan ‘ergonomics’ dan keseimbangan estetika. Namun menjelaskan keduanya kepada klien hal yang sejujurnya, resikonya besar sekali. Klien mungkin tidak mengerti, dan akibatnya desain bisa ditolak mentah-mentah. Jadi ia mengambil jalan alternatif, selalu menjelaskan konsep desain-nya lewat penjelasan ala feng-shui. Ternyata penjelasan seperti ini lebih mudah diserap, dan masuk akal dikepala klien-nya. Apa boleh buat, itulah kenyataan yang sesungguhnya. Leonardo da Vinci sendiri mengatakan “Simplicity is the ultimate sophistication.”

Wednesday, February 13, 2008

JANGAN PERNAH PUTUS ASA !


TAHUN MICKEY MOUSE

7 Pebruari 2008, penanggalan lunar Cina akan memasuki zodiak baru, yaitu tahun tikus. Konon menurut dongeng, ketika Budha memanggil 12 hewan untuk dijadikan simbol zodiak, hewan pertama yang datang adalah tikus. 2008 menandai tahun pertama dari siklus 12 tahun hingga tahun 2020. Sebagai tahun pertama dari satu siklus, tahun tikus selalu dipercaya punya kekuatan yang menandai berbagai perubahan besar. Krisis ekonomi yang lalu juga dimulai di tahun tikus 1996.

Tahun 2008 juga dimulai dengan tanda-tanda yang serupa. Dunia terguncang, ketika pada Jumat 25 Januari 2008, pasar saham dunia merosot tajam, menunjukan tanda-tanda ‘meltdown’. Index saham BSE di India turun 10%, DAX Jerman jatuh 14%, HSI Hong Kong merosot 9% dan SSE Shanghai terjun bebas 10%. Semua orang dan media mulai berteriak satu kata yang menakutkan global resesi. Beberapa bank besar di Amerika, juga menghapus hutang tak tertagih dalam jumlah yang fenomenal. Merrill Lynch 22.4 milyar dollar, Citigroup 19.9 milyar dollar, dan UBS 14,4 milyar dollar.

Seorang teman saya yang sangat spiritual, membacanya dengan pertanda yang berbeda. Dan juga menyebutkan gonjang ganjing yang berbeda. Menurut beliau, dunia sedang mengalami pusaran enerji baru. Pertanda itu adalah wafatnya mantan presiden Soeharto awal tahun ini, dan kemungkinan perubahan politik yang sangat drastis di Amerika. Kalau saja partai demokrat menang, maka di Amerika bakal terjadi peristiwa unik yaitu untuk pertama kalinya Amerika bakal memiliki presiden perempuan, itu kalau Hillary Clinton terpilih. Tetapi kalau Obama yang jadi presiden, maka Amerika akan dipimpin oleh presiden berkulit hitam yang pertama. Tahun 2008 juga akan menjadi tahun terakhir pemerintahan SBY-JK. Mungkinkah mereka bertahan dan kembali berduet di tahun 2009 ? Ataukah kita akan memiliki presiden baru ? 100 tahun yang lalu, 1908 kita mengikrarkan Kebangkitan Nasional. Apa potensinya, 2008 adalah Kebangkitan Nasional yang kedua ? Semua ini memang pertanyaan-pertanyaan yang sangat menantang.

Saya sendiri, lebih menguatirkan perubahan-perubahan yang nyata dari Global Warming. Dimana cuaca berubah sangat drastis dan mengacaukan segalanya. Mulai dari bencana alam yang bergolak tidak mau berhenti. Perubahan iklim yang juga mengacaukan panen pangan di seluruh dunia. Komoditi pangan seperti kentang dan gandum mengalami krisis mulai cukup serius dalam 2-3 tahun terakhir ini. Gandum misalnya, saat ini berada dititik suplai terendah selama 25 tahun. Harganya melambung dari hari-ke-hari tak terkendali. Mie instant yang dikenal sebagai makanan ajaib dibawah seribu perak, tak lama lagi bakal hilang. Seorang ekonom bergurau kepada saya, kata beliau ”Realitanya ketika ongkos parkir dan ongkos WC umum, sudah dua ribu perak, mie instan di republik ini masih saja bertahan seribu perak.” Ini adalah salah satu keajaiban ekonomi Indonesia. Tapi situasi ini tidak akan bertahan lama. Mungkin akhir tahun 2008, mie instan juga akan menjadi dua ribu perak, menyusul ongkos parkir.

Mpu Peniti sendiri menasehati saya, untuk lebih eling di tahun Mickey Mouse ini. Tahun 2008 kita mesti belajar dari tikus. Mahluk kecil yang memiliki kerajinan dan keuletan yang sangat luar biasa. Inilah semangat yang perlu kita usung tahun 2008 – rajin dan ulet. Tapi juga kita harus bersikap extra hati-hati. Maklum tikus punya perangai cepat berkelit dan suka mencuri. Hati-hatilah terhadap setiap pemborosan, dan kompetitor yang mengerat dan menggerogoti anda diam-diam.

Menghadapi 2008, kita barangkali harus memanfaatkan strategi Mickey Mouse. Roy. E Disney, keponakan Walt Disney menyebutkan, bahwa Mickey Mouse adalah lambang optimisme yang selalu menyuarakan harapan yang lebih cerah. Ia selalu bergembira. Tidak pernah sekalipun sinis dan bersikap mengejek. Ia selalu bersiul dan bergembira, dalam situasi sesulit apapun.

David Cooperfield menyebut Mickey Mouse sebuah keajaiban. Kepribadian Mickey Mouse yang selalu ke-kanak2-an, menyiratkan kejujuran yang asli. Jauh dari pikiran jahat dan kotor. Larry King, menyebut Mickey Mouse sebagai teman yang selalu mendatangkan kegembiraan dan optimisme. Layaknya sebuah siklus, barangkali tahun 2008 adalah ibaratnya sebuah fajar yang memulai sebuah hari yang baru. Saatnya kita bangun dan bekerja keras. Namun hari baru ini akan sia-sia, dan dipenuhi stress dan kekesalan, kalau kita tidak menyikapinya dengan optimisme dan kegembiraan. Mpu Peniti menasehati saya, “Jangan pernah takut dengan masalah. Karena setiap masalah ada jalan keluarnya. Kalau tidak ada jawaban dan jalan keluarnya, namanya bukan masalah”. Marilah kita bergembira dan tertawa menghadapi setiap masalah. Selamat tahun baru Imlek. Semoga 2008 membawa rejeki, sukses, dan kesehatan yang berlimpah.

Monday, February 11, 2008

SEMOGA SEMAKIN MURAH REJEKI !


DONGENG PINDANG BANDENG

Setiap Imlek, saya selalu ingat nenek saya. Terutama ketika menikmati pindang bandeng. Masakan yang menjadi tradisi kaum peranakan pada saat tahun baru. Ikan dalam tradisi Cina memang sangat penting. Konon kata ikan dalam bahasa Mandarin yang dilafalkan dengan ucapan “yu”, mirip dengan kata lain yang berarti berlimpah. Tak heran kalau dalam setiap jamuan makan besar ala tradisi Cina, hidangan ikan selalu ditampilkan di akhir jamuan, sebagai perlambang semoga rejeki dimasa-masa mendatang datang dengan berlimpah. Biasanya ikan disajikan utuh dengan kepala hingga ekor. Kepalanya seringkali diarahkan kepada tamu kehormatan yang hadir dalam jamuan itu. Bilamana anda hadir dalam sebuah jamuan makan besar, jangan anda tersinggung, apabila kepala ikan diberikan kepada anda. Karena sesungguhnya itulah penghormatan yang tertinggi, dimana anda dianggap sebagai tamu kehormatan.

Jadi tak heran apabila bandeng juga hadir sebagai masakan wajib pada tradisi Imlek kaum peranakan di Indonesia. Ketika masih kecil, saya sama sekali tidak menyukai pindang bandeng. Pertama bandeng banyak tulang, sehingga makan pindang bandeng selalu berabe dan menyusahkan. Apalagi saya pernah beberapa kali menelan tulang bandeng, yang kemudian nyangkut ditenggorokan saya. Sangat tidak nyaman sekali. Saat yang sama saya mulai kritis, dan mempertanyakan kenapa bandeng yang dipilih ? Apalagi bandeng adalah ikan rawa, kalau tidak teliti memasaknya, pasti akan bau tanah.

Memang banyak dongeng yang beredar tentang pindang bandeng. Salah satunya menyebutkan bahwa bandeng itu banyak durinya. Sehingga menjadi perlambang doa dan harapan agar tahun yang baru memberikan curahan rejeki yang berlimpah. Bagi saya, dongeng tentang pindang bandeng yang terbaik datang dari cerita nenek. Bahwa sesungguhnya pindang bandeng adalah masakan yang menyiratkan karakter seorang perempuan. Bandeng yang enak dipindang adalah bandeng yang gemuk dan berlemak. Beratnya harus minimal diatas 2 kilo. Menurut nenek saya, kalau seorang perempuan dijaman dahulu, malas ke pasar pagi-pagi, maka ia tidak akan mendapatkan bandeng segar terbaik yang paling gemuk. Ini adalah ujian pertama. Bahwa seorang perempuan harus rajin bangun pagi, dan telaten memilih dengan kepekaan yang seimbang.

Pindang bandeng bukan masakan mudah. Persiapannya cukup nyelimet. Bandeng harus benar-benar bersih sehingga tidak bau tanah rawa setelah dimasak nanti. Memasaknya juga harus super sabar, dengan api kecil, supaya dagingnya tidak hancur. Dimasak cukup lama sehingga durinya mudah lepas dari dagingnya. Nah, menurut nenek saya inilah ujian kedua. Seorang perempuan harus memiliki ketelitian dan kecermatan yang menyeluruh. Lalu kesabaran yang tak terhingga. Tanpa kombinasi ini, pindang bandeng tidak akan hadir dalam kelezatan yang prima. Jaman sekarang, banyak yang tidak sabar, sehingga bandeng di presto dahulu supaya tulangnya hancur.

Pindang bandeng yang sejati dan sesungguhnya, juga memiliki spektrum cita rasa yang lengkap. Yaitu keseimbangan yang pas antara asem, asin, dan manis. Pada saat mau makan biasanya baru diberikan irisan cabe rawit. Sehingga lengkap pula dengan pedasnya. Anda mungkin sudah bisa menebak, inilah ujian ketiga. Seorang perempuan harus mahir menciptakan keseimbangan. Karena dari keseimbangan ini, lahirlah keadilan dan kesempurnaan. Irisan cabe rawit yang dimasuk-kan terakhir sebelum makan, adalah pertanda bahwa seorang perempuan selalu memiliki trik terakhir atau ilmu simpanan. Perempuan menurut nenek saya, harus selalu panjang akal, tidak pernah putus asa. Selalu punya solusi.

Terpengaruh oleh romantisme cerita nenek saya, maka percaya atau tidak saya sejak saat itu selalu menantikan makan pindang bandeng. Kadang saking sayangnya saya sama pindang bandeng, bisa saya simpan berhari-hari. Saya makan sedikit demi sedikit untuk menikmatinya. Dan pindang bandeng yang lezat, justru semakin lama disimpan, dan semakin lama dipanasi, maka daging ikan bandeng akan semakin menyerap semua bumbu-bumbunya. Seorang perempuan sejati konon menurut nenek saya harus mirip dengan pindang bandeng. Semakin lama semakin sempurna. Duri bandeng kini tidaklah lagi menjadi masalah. Yang penting pada saat makan kita harus sabar memilah mana daging dan mana duri. Demikian pula nasehat terakhir nenek saya. Bahwa kehidupan ini mirip pindang bandeng. Dengan ditemani perempuan yang tepat seorang lelaki akan bisa dan mampu mengarungi hidup ini dengan sempurna, tidak peduli sebesar apapun badainya. Kalaupun ada hal-hal buruk yang terjadi, misalnya pindang terlalu manis atau terlalu asin, masih ada trik terakhir. Yaitu irisan cabe rawit yang pedas, yang akan membuat kita tetap makan dengan lahap.

Saya tidak tahu apakah cerita nenek tentang pindang bandeng, benar atau tidak. Tetapi percaya atau tidak memberikan saya sebuah perspektif unik untuk menghargai seorang perempuan. Sempurna seperti pindang bandeng.

Sunday, February 03, 2008

THE TRUTH ABOUT YOURSELF


MEMANFAATKAN MUSUH

Di Kuala Lumpur, minggu lalu – minggu lalu saya sempat ngopi bareng dengan beberapa desainer senior interior plus teman-teman mereka yang bergerak di bidang real estate. Mulanya pembicaraan kami seputar proyek-proyek di Jakarta. Entah, dari mana asalnya, ujung-ujungnya kami membicarakan kehidupan bertetangga di kota-kota besar seperti Jakarta, Hong Kong, Singapura, dan Kuala Lumpur. Realitanya banyak diantara kami yang sudah tidak mengenal tetangga. Banyak pula yang mengatakan bahwa tetangga kini seringkali juga menjadi “the best enemy”. Karena suka complaint ini dan itu, dan seterusnya.

Ketika pembicaraan memanas, seorang teman yang bergerak dibidang real-estate, malah menasehatkan bahwa tetangga itu biarpun “the best enemy” kadang bisa juga menjadi “the best friend”. Berdasarkan pengalaman beliau, kalau mau menjual rumah, calon pembeli terbaik justru adalah tetangga disebelah kanan dan kiri. Karena mereka-lah yang biasanya berani menawar paling mahal. Karena siapa tahu mereka ingin meluaskan rumahnya menjadi 2-3 kali. Hal itu langsung saya iyakan. Saya pernah mengalami hal serupa.

Didalam bisnis, juga terjadi hal yang sama. Musuh dan kompetitor kita adalah juga teman dan sahabat terbaik. Filsuf Yunani – Antisthenes yang hidup antara tahun 375 – 444 sebelum Masehi, dan dikenal sebagai bapak dari ”Cynic school of philosophy”, sekali pernah mengatakan bahwa hanya 2 orang didunia ini yang berani mengatakan dengan jujur tentang diri kita yang sesungguhnya. Pertama adalah teman yang benar-benar mencintai kita. Dan kedua adalah musuh yang marah besar. Kayanya dijaman susah begini, mencari teman yang benar-benar mencintai kita rada susah. Mungkin lebih mudah mencari seorang musuh yang sejati !

Satu pelajaran bisnis yang paling berkesan selama ini, saya dapatkan dari seorang salesman ulung di Bangkok, kira-kira 15 tahun yang lalu. Usianya saat itu sudah 50 tahun lebih. Ia sudah malang melintang menjadi sales selama 30 tahun lebih. Sampai akhirnya ia dijadikan penasehat disebuah group konglomerat. Berkat pengalamannya yang segudang itu. Bos besarnya menjuluki dia sebagai sebuah oasis yang tidak pernah kering. Ia mengajarkan saya, bahwa survival kita didalam bisnis sangat bergantung kepada musuh-musuh kita. Menurut beliau kita harus punya manajemen khusus untuk memelihara musuh.
Mulanya saya kaget bukan main. Buat apa baik hati memelihara musuh ? Konon ada pribahasa Cina kuno yang mengatakan lebih baik punya musuh didepan mata daripada musuh diseberang lautan. Musuh didepan mata, bisa kita awasi gerak-geriknya. Apa-pun move yang dilakukan musuh kita, dengan mudah bisa kita antisipasi. Berkat lokasinya didepan kita. Tetapi musuh yang tidak kelihatan, akan sangat berbahaya. Bisa menikam kita dari belakang, kapan saja. Makanya ada istilah musuh dalam selimut. Musuh yang tidak terlihat ! Jadi ”stay close with your enemy”.

Pelajaran ini dilanjutkan dengan jurus kedua – “be friend with your enemy”. Ini lebih gendeng abis ! Lalu saya diceritakan, bahwa sang salesman senior itu, punya hitungan tentang musuh-musuhnya. Mirip strategi perang Sun Tzu. Yang mengisyaratkan bahwa kalau kita tau persis siapa-siapa saja musuh kita maka, 50% dari pertempuran, sudah berhasil kita menangkan. Beliau misalnya selalu menyisakan waktu untuk bergaul dengan musuh dan kompetitornya. Entah itu makan bersama. Ngobrol di Café atau berkaraoke bersama. Menurut beliau, musuh adalah tempat belajar terbaik. Berteman dengan musuh memberi kesempatan untuk mempelajari mereka, dan kadang kalau beruntung, selalu saja ada informasi yang ‘keceplosan’ dan menjadi bonus intelijen penting.

Pernah sekali, mereka dihadang kompetitor baru yang sangat agresif dari luar negeri. Melawan musuh itu sama saja dengan bunuh diri. Untung saja sang salesman berteman baik dengan para kompetitor yang baru. Serta merta ia menciptakan aliansi dan bersekutu dengan para kompetitor lain untuk menghadang kompetitor baru tersebut. Upaya mereka berhasil sukses. Sang kompetitor agresif tadi berhasil mereka halau. Usai krisis, aliansi dan sekutu mereka bubar, dan mereka langsung baku hantam dipasar kembali. Akses ke musuh atau ke kompetitor dalam kasus ini terbukti pas dan manjur. Ironis memang, tapi itulah yang dikatakan bekas presiden Amerika Abraham Lincoln, ”cara terbaik untuk menghilangkan musuh, adalah justru dengan mengubahnya menjadi seorang teman”.

Setelah pelajaran itu saya jadi belajar respek terhadap musuh. Kata Bruce Lee, sebelum berkelahi, kita harus membungkuk dengan benar untuk menghormati musuh. Setelah itu baru berkelahi. Sesungguhnya memang demekian, kalau kita menghormati musuh dengan penuh respek, maka kita mau belajar dari mereka. Musuh atau kompetitor membuat kita lebih pandai dan lebih kuat. Mereka adalah ’sparing partner’ kita. Mereka adalah motivator kita untuk maju kedepan. Membuat terobosan baru. Berinovasi. Manajemen musuh adalah kunci keberhasilan bisnis yang seringkali dilupakan orang. Belajarlah memanfaatkan musuh anda !

Friday, February 01, 2008

Wednesday, January 30, 2008

CERITA LAMA TENTANG PAK HARTO

Ketika pak Harto wafat, dan pertama kalinya Mpu Peniti menontonnya lewat televisi, dengan suara yang menyembunyikan kesedihan luar biasa, beliau berkata lirih :”Tidak akan ada lagi pemimpin Indonesia yang bisa menyamai pak Harto”. Awalnya saya tidak mengerti pas benar ucapan Mpu Peniti. Lalu beliau menjelaskan bahwa diperlukan 32 tahun untuk seorang pemimpin sekaliber pak Harto untuk menciptakan prestasi seperti ini. Dan juga sebaliknya 32 tahun lamanya untuk membuat kesalahan sebanyak ini. Jadi jangan heran kalau pak Harto punya sejumlah kawan dan lawan.

Setelah saya renungkan pelan-pelan, akhirnya saya sadar juga makna ucapan Mpu Peniti. Pertama kesalahan pemimpin dunia dimana-mana, adalah memimpin terlalu lama. Layaknya seorang atlit, mestinya mereka mundur ketika prestasinya dititik tertinggi. Karena setelah itu prestasi berikutnya adalah menurun, dan bukan naik lagi. Tetapi atlit mana yang pernah sadar untuk melakukan hal itu ? Dengan aturan dan undang-undang yang baru, tidak akan ada lagi pemimpin Indonesia yang punya kesempatan menjadi presiden di Indonesia sampai 30 tahun. Artinya kalau ingin menyamai prestasi pak Harto minimal kita butuh pemimpin yang 4-5 kali lebih hebat dari pak Harto. Itu hitungan matematisnya. Sebuah tantangan yang pasti super sulit sekali. Dan juga kita butuh kabinet yang kinerjanya 4-5 kali lebih produktif dari kabinet dimasa-masa kepemimpinan pak Harto. Artinya siapapun yang ingin menjadi pemimpin Indonesia dimasa depan harus memiliki ”Super Team” dengan ”Super Power”. Untuk menciptakan kemungkinan itu dimasa depan, diperlukan revolusi manajemen didalam struktur kabinet mendatang.

Dalam tahun-tahun mendatang para sejarahwan dan analis akan terus berdebat tentang prestasi dan juga kesalahan-kesalahan pak Harto. Dan perdebatan itu tidak akan berakhir sebentar saja. Barangkali adalah klise, kalau yang paling penting adalah justru belajar dari pengalaman 32 tahun itu. Tetapi sayangnya agar pintar, kita cuma punya satu solusi, yaitu belajar. Tidak ada jalan lain. Sayangnya pintar tidak bisa dicangkok. Pintar juga tidak bisa dibeli lewat vitamin. Sudah saya cari kemana-mana, dan tak saya temukan pil atau vitamin pintar.

Salah satu gosip yang sering beredar dan yang selalu saya dengar dari banyak orang, konon pak Harto punya kebiasaan belajar yang unik. Yaitu lewat kebiasaan punya ’private session’ dengan Mafia Berkeley. Dimana pak Harto setiap hari mendengar kuliah pribadi dari para ekonom-ekonom yang beken disebut Mafia Berkeley. Tak heran katanya, setelah itu pak Harto punya kemahiran dan kefasihan dengan angka-angka yang cukup mengagumkan. Simak saja dimasa-masa pak Harto sering mengadakan audiensi dengan para petani dan nelayan di Tapos dan acara-cara dengan Kelompencapir jaman itu. Walaupun sering diejek dengan sinis bahwa itu cuma acara propaganda. Efeknya luar biasa. Minimal hingga hari ini belum ada presiden Indonesia yang memperlihatkan kemahiran dan kefasihan yang sama soal angka.

Dari segi marketing, pak Harto barangkali juga pemimpin paling mahir melakukan propaganda dan promosi. Minimal sejumlah program sosial seperti Keluarga Berencana, Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) menjadi media efektif selama pemerintahan beliau. Tetapi beberapa hal yang mengagumkan diceritakan oleh seorang bekas diplomat kepada saya. Bahwa pak Harto berpikir cukup taktis. Buktinya biar apapun kritiknya, pak Harto minimal berpikir dalam kerangka manajemen dengan selalu menciptakan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). ”He seems always have a plan”, begitu tutur sang ex diplomat.

Dongeng unik yang saya dengar, adalah kebijakan pak Harto untuk mewajibkan petani menggunakan pupuk urea. Walaupun kebijakan ini diselewengkan dan dianggap tidak arif. Konon dibelakang kebijakan ini tersembunyi satu maksud. Dengan menghitung jumlah urea yang dikeluarkan satu musim tanam. Lalu dibagi dengan rasio pemakaian. Maka bisa dihitung jumlah dan luas sawah musim itu. Dikurangi kerugian hama dan bencana alam, minimal bisa diraba berapa banyak produksi gabah pada saat panen. Kalau kurang, jauh-jauh hari pemerintah menyiapkan import. Sehingga tidak pernah kekurangan dan menjadi keributan seperti sekarang ini. Apakah dongeng ini benar atau tidak, yang unik adalah pola pikirnya untuk menciptakan sebuah sistim informasi yang sederhana. Hal-hal ini yang barangkali bakal ramai menjadi ajang perdebatan pro dan kontra dimasa mendatang. Asal maksudnya untuk belajar, maka apapun perdebatannya akan menjadi usaha yang positif dan arif. Selamat jalan pak Harto !

Thursday, January 24, 2008

SARAH BRIGHTMAN


ANATOMY OF A TREND

Ingat film “Star Wars” ? Pendekar Jedi, Obi-Wan membisiki murid belia-nya Luke Skywalker – “Luke, …. feel the force…” Instruksinya sederhana sekali. Rasakan medan enerji disekeliling kita. Rasakan getaran dan vibrasinya. Maka enerji itu akan menyatu dengan diri kita. Ini adalah perumpamaan populer yang sering saya manfaatkan juga untuk menjelaskan proses membaca trend dalam pemasaran. Bagi pemasar sendiri trend ibarat mercu suar atau senter yang memberikan kita petunjuk tentang arah didepan. Begitu pentingnya trend, hingga kadang perusahaan merasa perlu membayar konsultan untuk memprediksi trend musiman dan tahunan. Beberapa media juga rajin menginterview saya diakhir tahun, dengan satu pertanyaan klasik : “Bisnis apa yang bakal nge-trend tahun depan ?”

Trend juga menunjukan posisi kepemimpinan di pasar. Seorang pengusaha plastik, yang membuat aneka produk rumah tangga dari plastik bercerita bahwa ia umumnya emoh untuk mengikuti trend. Karena hal itu akan memposisikan dirinya cuma sebagai pengekor atau ‘follower’. Ia cenderung membalik situasi dengan menjadi pencipta trend atau ‘trendsetter’. Untuk itu selama setahun ia rajin berkeliling dunia. Ke China, Jepang, Taiwan, dan Korea untuk melihat trend-trend yang sedang marak. Lalu membandingkan-nya dengan trend-trend yang berbeda di pasar Australia, Amerika dan Eropa. Dengan mengurut sejumlah trend yang sedang digandrungi pasar, ia mencoba menciptakan trend baru. Sang pengusaha bercerita, ibaratnya nonton sebuah sinetron berseri. Ia mencoba menebak cerita episode mendatang. Baginya mekanisme dan proses ini mirip dengan latihan melatih intuisinya. Kadang ada tebakan yang manjur dan sukses. Tapi seringkali tebakan itu juga berakhir ngaco dan ngawur. Setelah menajamkan intuisinya untuk menebak trend berikutnya selama bertahun-tahun, dan membandingkan trend-trend sebelumnya, kini intuisi itu telah berubah menjadi ilmu yang mirip matematika. Ia mulai bisa menghitung trend !

Dalam praktek, walaupun kita berusaha terus menerus memantau trend dan mengikuti trend, banyak pemasar yang merasakan kalah cepat atau kalah sigap. Seolah mengejar trend adalah lomba maraton yang melelahkan. Trend pada intinya adalah konsumen yang berubah terus menerus. Berubah gaya hidupnya. Dan sekaligus berubah juga seleranya. Mirip evolusi yang bergerak. Tidak pernah berhenti. Itu sebabnya belajar dari pengusaha di plastik dan cerita Star Wars, ‘trend’ adalah perubahan yang perlu diantisipasi. Market Leader tidak akan pernah berada dibelakang ‘trend’. Tetapi selalu selangkah lebih awal didepan ‘trend’.

Henrik Vejlgaard, seorang pengamat ‘trend’ yang menjadi pionir dalam ‘trend sociology’ yaitu sebuah studi tentang proses terciptanya ‘trend’, menulis didalam bukunya “ANATOMY OF A TREND”, beberapa nasehat untuk mengantisipasi ‘trend’. Terciptanya sebuah ‘trend’ menurut Henrik, tidak akan pernah tiba-tiba. Tetapi lebih mirip dengan menggodok jamu, yaitu mendidih pelan-pelan. Pelakunya selalu manusia dan dipicu oleh media atau gossip di kalangan tertentu. Kadang ‘trend’ juga adalah reaksi balik dari sebuah kejenuhan di ‘mainstream’. Jadi menurut Henrik, ‘trend’ bisa dicermati, disimak, dan diobservasi sejak awal. Triknya adalah merasakan getaran dan vibrasinya.

Henrik membagi sejumlah sub-kultur yang berpengaruh menjadi kelompok-kelompok yang harus di observasi, misalnya kelompok anak muda, socialite, selebriti, desainer, artis, dan juga kaum gay. Kelompok inilah yang lewat interaksi dan persaingan group, berusaha beda dan menciptakan indentitas dan kepribadian yang baru dan beda. Mereka memiliki nafsu dan gairah untuk menjadi ‘trendsetter’. Kelompok ini pula yang selalu diliput media. Dan menjadi pusat perhatian.

Henrik juga menyebutkan bahwa kota-kota di dunia menjadi sumber ‘trend’, seperti Paris, Milan, London, Tokyo, Shanghai dan New York untuk fashion dunia. Kota inilah yang dijadikan tolok ukur. Untuk elektronik lain lagi, kota-kota seperti Hong Kong, Seoul, Tokyo dan Taipeh justru menjadi pusat enerji ‘trend’. Itu sebabnya kita sering mendengar ucapan-ucapan : “Eh, di Bali lagi ngetrend apa sih ? Resto yang lagi ‘in’ apa aje ?”

‘Trend’ juga memiliki siklus. Dengan mengamati kisaran waktu sebuah ‘trend’ anda bisa memprediksi terjadi sebuah trend berikutnya. Henrik menciptakan sebuah model yang menyebutkan bahwa kisaran cepatnya sebuah ‘trend’ beredar dari ‘trendsetter’ ke ‘mainstream’ berbeda-beda. Kosmetik 1-2 tahun, fashion 2-3 tahun, asesoris 2-3 tahun, alat olahraga 6-8 tahun. Akhir kata Henrik menutup, bahwa ‘trend’ bukanlah ilmu nujum tentang masa depan. Karena memang prosesnya berbeda. Tetapi dengan mengerti dan memahami proses terjadinya sebuah ‘trend’ sedikit banyak kita bisa mengintip ke masa depan. Hal ini merupakan sebuah kemewahan yang langka !

Sunday, January 20, 2008

EVERY DAY IS A GIFT


MARKETING ALA FENG SHUI

Tahun 2007, bukan tahun buruk bagi Starbucks. Total revenuenya mencapai $ 9.4 milyar dolar. Tak kurang dari 2500 kedai kopi baru dibuka diseluruh dunia. Kedai kopi Starbucks kini jumlahnya tak kurang dari 10.000 di Amerika saja dan lebih dari 5.000 tersebar di 42 negara. Uniknya harga saham Starbucks di tahun 2007 turun hampir 50%. Para investor dijangkiti rasa takut, bahwa pertama program ekspansi Starbucks akan melambat, karena jumlah outlet saat ini yang sudah sedemekian banyak. Kedua ada gejala baru bahwa jumlah pengunjung Starbucks di bulan November 2007, menunjukan gejala-gejala menurun. Pertanda sinyal ekonomi memburuk di Amerika juga sudah menyentuh Starbucks.

Howard Schultz, Chairman Starbucks selama 13 tahun, yang sudah mundur dari kegiatan manajemen sehari-hari, terpaksa harus turun gunung kembali dan menjadi CEO baru. Schultz beragumen bahwa hal-hal yang mendasar dari Starbucks harus kembali di renovasi dan dikembalikan ke fokus semula. Hal ini sebenarnya sudah bergolak dan mendidih menjadi isu panas di berbagai situs internet yang nge-gosip soal Starbucks. Diantaranya adalah kedai kopi Starbucks yang memiliki akses Drive Through dianggap merusak romantisme ngopi yang sesungguhnya. Yaitu duduk di kursi empuk sambil menikmati kopi ngepul dan mengirupnya perlahan-lahan. Juga aneka jajanan lain yang dianggap terlalu mahal.

Dua masalah tadi cuma contoh dari sejumlah permasalahan yang ada dan menghangat selama beberapa tahun terakhir ini. Dari sekian masalah yang ada ada satu masalah yang dianggap Schultz sangat penting. Yaitu soal mesin espresso Verismo 801s yang kini banyak digunakan di kedai kopi Starbucks, mulanya dianggap sebagai mesin yang mempromosikan efesiensi. Karena sekali tekan tombol keluar espresso secara otomatis. Tetapi mesin ini juga menggunakan konsep Flavorlock yang bagus dari sudut efesiensi tetapi akibatnya keharuman bau kopi sedang ’di-brewing’ juga menghilang. Mesin 801S juga dianggap terlalu besar, sehingga menghalangi pandangan konsumen. Interaksi pembuat kopi (barista) pada saat membuat kopi dengan konsumen tidak tercipta. Schultz mengatakan bahwa romantisme teater Starbucks yang terdiri dari kombinasi keharuman kopi, dan aksi kegesitan para pembuat kopi (barista) hilang begitu saja.
Ketika cerita diatas saya ceritakan kepada Mpu Peniti, beliau terkekeh, dan memberi komentar : ”Wah, Feng-Shui nya jadi terganggu yah !” Saya tersenyum mendengarnya. Masih banyak yang menganggap bahwa Feng Shui adalah mirip ilmu nujum yang tidak rasional. Sebaliknya, Feng Shui adalah ilmu yang benar-benar mempraktekan perhitungan-perhitungan rasional, dengan memperhatikan lingkungan, lokasi, arah mata angin, dan keseimbangan sirkulasi, warna, dan peletakan benda, untuk mencapai sebuah keseimbangan yang harmonis. Kata Feng Shui sendiri, artinya adalah ’angin’ dan ’air’. Kedua elemen ini menjelaskan pergerakan enerji atau ’chi’ yang positif.

Filosofi keseimbangan dan harmonisasi, dari Feng Shui, seringkali saya temukan aplikasinya juga di pemasaran. Lingkungan kita dan diri kita, masing-masing memancarkan energi. Adalah sangat penting kedua enerji ini menyatu dan menciptakan keharmonisan. Tetapi bilamana enerji ini bertolak belakang dan menciptakan benturan negatif. Maka kita akan merasakan ketidak nyamanan dan mood kita mudah berubah menjadi sangat negatif. Lingkungan kerja yang aliran ’chi’ terganggu, mudah menciptakan konflik dan produktifitas kerja yang rendah pula.

Bagaimana Feng Shui bisa membantu pemasaran anda ? Pertama-tama adalah dengan mempelajari filosofi Feng Shui dan menerapkannya kedalam strategi pemasaran kita. Contohnya adalah tentang ’wu-xing’ yaitu lima elemen alam – Air, Api, Bumi, Kayu dan Metal dan interaksinya satu dengan yang lain. (Wu-Xing telah kita bahas minggu lalu) Kedua adalah untuk menajamkan panca indera - membaca getaran-getaran enerji yang negatif dan mengembalikan-nya ketitik keseimbangan.

Memahami titik keseimbangan ini merupakan skills pemasar yang sangat kritis sekali. Mpu Peniti mencontohkan keseimbangan antara kekuatan dan kelenturan. Air memiliki kekuataan yang keras ketika bentuknya sebagai es, dan juga kelenturan yang sama dahsyatnya dalam bentuk cair. Tinggal kita yang harus kreatif memanfaatkannya dalam bentuk yang berbeda-beda dan waktu yang berbeda-beda pula. Pemasaran juga memiliki aplikasi yang serupa. Seorang entrepner bercerita bahwa dalam bahasa Mandarin ada istilah ” chiao te – chiao ta te” artinya ’less is more’ yaitu sebuah konsep kebun Feng Shui yang mengandalkan proporsi. Ia bercerita bahw sebuah kebun akan terasa indah dan natural, kalau pohon, semak, bunga dan bebatuan tidak dalam posisi simetris. Justru terbalik dalam posisi asimetris.

Tuesday, January 08, 2008

Monday, January 07, 2008

BALANCE AND HARMONY


WU XING - APLIKASI MARKETING ALA FENGSHUI

Ahli strategi, Chin Ning Chu, yang menulis buku-buku beken seperti “Thick Face Black Heart” dan “The Asian Mind Game” pernah mengutip sebaris kalimat dari pribahasa kuno Cina yang berbunyi bahwa : “Pasar adalah sebuah Medan Pertempuran”. Pribahasa ini menyiratkan bahwa seorang praktisi pemasaran hendaknya menguasai betul strategi dan taktik perang. Terbukti apabila istilah-istilah pemasaran banyak yang menggunakan istilah “perang harga”, “perang promosi” dstnya.

Terpengaruh oleh kenyataan ini, sejak kuliah, saya senang membaca buku-buku strategi perang, mulai dari Sun Tzu, Miyamoto Musahshi, Napoleon, Genghis Khan, hingga Bruce Lee. Secara filosofis ada 2 kesimpulan yang akhirnya menjadi pencerahan buat saya. Pertama, medan pertempuran selalu berubah. Dipengaruhi oleh begitu banyak dinamika dan pengaruh. Menang adalah prestasi sesaat. Itu sebabnya kita tidak boleh lengah. Sekali kita berkedip, kompetitor kita sudah melenggang kedepan. Kompetisi adalah pertempuran yang abadi. Itu sebabnya belajar menjadi tantangan yang sama abadinya.

Kedua, perubahan seringkali dianggap terbuka dan cuma menuju satu arah. Di barat perubahan yang tajam dan mengarah kepada satu poros arah tertentu seringkali dibaca sebagai trend, mode, dan gaya baru. Di timur, perubahan disiasati sebagai sebuah perubahan yang tertutup atau siklus. Gagal menyelesaikan siklus dengan sempurna, maka semuanya akan berantakan. Mpu Peniti mencontohkan, musim hujan yang terlalu pendek akan menyebabkan musim kemarau yang panjang. Dan akibatnya mungkin akan terjadi gagal panen. Begitu pula sebaliknya.

Konsep ini bagi saya pada awalnya sangat sulit dimengerti. Barulah ketika saya mempelajari “Wu Xing” atau The Five Cardinal Point, konsep perubahan tertutup atau siklus menjadi pencerahan yang terang benderang. “Wu Xing” atau lima elemen ini, dalam budaya Cina menjadi basis berpikir dalam banyak hal, mulai dari Feng-Shui, strategi militer, astrologi, pengobatan, ilmu bela diri hingga musik.

Sederhana-nya “Wu Xing” menjelaskan 5 elemen yaitu metal, kayu, air, api, dan bumi. Kelimanya saling berinteraksi dalam satu kesatuan siklus. Dimana lima elemen ini saling mendukung dan juga saling mengalahkan. Tanpa satu-pun yang menunjukan keunggulan mutlak. Contoh, api menyala membutuhkan kayu api. Hasil pembakaran api menyisakan abu yang kembali menjadi bumi. Lalu metal ditambang dari dalam bumi. Dan metal dibentuk menjadi wadah untuk menampung air. Akhirnya air inilah yang akan menyuburkan pohon menjadi kayu.

Sebaliknya, kayu membelah bumi, menjadi belantara yang menguasai bumi. Selanjutnya bumi memangsa air dan menelannya habis. Air memadamkan api. Hanya api yang sanggup melelehkan metal. Akhirnya metal pula yang mampu mematahkan kayu. Siklus ini berkesinambungan terus menerus menjadi sebuah perubahan yang sifatnya tertutup. Rahasia dari perubahan bergaya tertutup adalah keseimbangan satu dengan lainnya. Menurut Mpu Peniti, dalam hidup ini, tidak selalu melulu kita harus berubah secara radikal untuk menemukan terobosan baru atau inovasi. Melainkan belajar merubah keseimbangan untuk menemukan sebuah situasi yang harmonis.

Perlahan-lahan akhirnya saya mulai menerapkan “Wu-Xing” dalam manajemen dan juga pemasaran. Mencari keseimbangan sebagai titik fokus perubahan. Seringkali dalam sebuah kompetisi pasar, kita dikejar dan dikuntit oleh satu kompetitor yang penasaran dengan kita. Maka anda punya 2 opsi. Melawan langsung. Atau sebaliknya, tidak melawan tapi menciptakan keseimbangan baru. Kata Mpu Peniti, ibaratnya dalam satu ring tinju ada anda dan kompetitor anda. Anda bisa bertempur habis-habisan melawan kompetitor anda. Opsi lain, anda bisa masukan ke dalam ring kompetior lain agar kompetitor anda berbalik arah – bertempur dengan kompetitor baru yang masuk ring, dan anda tinggal menjadi penonton. Enak bukan ? Anda terhindar dari resiko babak belur !

Pasar babak belur karena kompetisi edan. Harga hancur ! Hampir tidak ada keuntungan sama sekali ! Apa yang harus kita lakukan ? Melawan adu murah ? Atau menciptakan keseimbangan baru ? Adu mahal ? Atau di bikin gratis sekalian ? Lihat saja fenomena di media dengan majalah gratis yang kini sangat marak. Juga di industri arloji dengan munculnya produk-produk super mahal. Demikian juga dalam industri air mineral. Dimana setiap produsen berusaha menciptakan air plus yang mahal. Kasus yang menarik misalnya kompetisi pariwisata antara Bali dan Yogyakarta. Konon seorang praktisi pariwisata berkomentar bahwa di Bali telah tersedia hotel murah hingga hotel super mewah. Tetapi di Yogyakarta belum banyak tersedia hotel mewah dan supermewah. Jadi akan sangat sulit membuat turis-turis jet-set dan selebriti ke Yogyakarta. Menurut beliau Yogyakarta memerlukan keseimbangan baru.

Saturday, January 05, 2008

Thursday, January 03, 2008

TAO TE CHING


NO ACTION

Saat saya bersiap-siap menulis artikel kelima dan terakhir, dari serial artikel refleksi akhir tahun 2007, Mpu Peniti bertanya, apa yang akan menjadi topik terakhir saya. Lalu saya jawab dengan sejumlah thema dan topik yang sudah saya siapkan. Mendengar itu, beliau cuma senyum tipis. Senyum yang selalu misterius dan mengandung makna berlapis-lapis. Iseng dan penasaran saya bertanya tentang apa usulan topik paling tepat menurut beliau ? Beliau malah melengos, duduk santai lalu mengisi teka-teki silang. Seolah meledek saya.

Tiba-tiba tersentak, saya jadi ingat ajaran beliau hampir sepuluh tahun yang lalu. Yaitu ajaran dari Tao Te Ching yang berjudul “No Action”. Pernah sekali saya bertanya mengapa Mpu Peniti seneng banget mengisi teka-teki silang. Beliau bercerita bahwa didalam hidup ini, tidak melulu kita harus maju terus. Berjuang dan ‘fight’. Ada masanya kita mungkin harus berhenti, diam dan ‘stop’. Beliau seringkali mengisi saat-saat diam dan ‘stop’ itu dengan meditasi unik. Yaitu mengisi teka-teki silang. Persis seperti kata guru matematika saya, dalam hidup ini ada juga jawaban yang tidak perlu kita cari dalam rumus dan formula. Tapi justru dengan mengisi kotak-kotak yang kosong, dan menyambung satu dengan lainnya. Maka jawaban akan muncul dalam rangkaian demi rangkaian.

Berlainan dengan konsep barat yang seringkali hanya berporos pada satu kutub, yang positif. Kutub negatif seringkali dilupakan. Di timur, harmonisasi kehidupan seringkali justru lebih banyak bergantung pada keseimbangan keduanya. Misalnya saja, kosong dianggap tak bernilai bagi banyak orang. Tetapi justru hanya gelas kosong yang bermanfaat, karena bisa di-isi. Demikian juga dalam sebuah konflik, kalau kedua belah pihak selalu agresif dan berseteru, maka konflik tidak akan selesai. Justru, bilamana situasi sedang memanas, satu pihak mengambil sikap diam dan ’no action’. Konflik akan mereda sangat cepat.

Ilmu bela diri Cina yang terkenal ”Wu-Shu”, yang dianggap sebagai cikal bakal Kung Fu, juga memiliki arti ’no action’ yang unik. ”Wu” adalah pictogram yang berarti menghentikan pertempuran dan peperangan. Sedangkan ”Shu” merupakan pictogram yang memiliki arti, disiplin, ketangkasan dan metode. Jadi ”Wu-Shu” adalah disiplin yang justru dipelajari untuk mengehentikan perang atau pertempuran. Didalam Sun-Tzu, seni berperang juga tertera ungkapan bahwa kemenangan yang paling luar biasa adalah kemenangan yang didapat bukan lewat sebuah pertempuran.

Didalam manajemen dan pemasaran, ’no action’ adalah rumusan yang juga seringkali dilupakan orang. Misalnya pasar seringkali diam dan stabil, tiba-tiba berguncang karena diprovokasi satu produsen yang menaik-kan harga. Lalu semuanya ikut dan menaik-kan harga beramai-ramai. Maka pasar lalu goyang. Tetapi apabila satu provokasi, di-ikuti dengan ’no action’ bersama-sama, maka provokasi itu akan lebur dengan sendirinya. Didalam budaya kita sendiri, sebenarnya ada istilah ’campur tangan’. Yaitu kebiasaan kita atau pemimpin kita yang selalu ingin ikut terlibat. Yang biasanya menimbulkan kekalutan dan kericuhan karena terlalu banyak pihak yang terlibat. Dan kalau sudah kacau balau maka semuanya akan ramai-ramai ’cuci tangan’.

Sehabis Mpu Peniti mengisi teka-teki silang, saya ngobrol tentang ’no action’ lebih lanjut. Alam memberikan banyak contoh, seperti bambu, ilalang, dan air, yang kelihatan lemah dan selalu kalah dengan sesuatu yang lebih kokoh dan keras. Kenyataannya justru sebaliknya, bambu dan ilalang justru seringkali survive dari angin topan, justru karena flexibilitasnya, dan kemampuan-nya tidak melawan. Air tidak akan pernah patah dan bentuk aslinya. Air justru patah dan pecah berkeping-keping kalau dibeku-kan menjadi es. Benda-benda alam ini, justru memiliki kekuatan yang luar biasa dari karakter mereka yang lemah gemulai.

Diakhir refleksi tahun 2007 ini, dan menjelang saat-saat Natal yang kudus, barangkali ada baiknya kita mengingat sikap ’no action’ yang diperlihatkan Kristus untuk pasrah dan rela mati di salibkan. Derita Kristus sendiri menjadi misteri dan sekaligus inspirasi berjuta-juta pemeluk agama Nasrani tentang cinta kasih kepada sesama. Dengan cara kita masing-masing, tahun 2008 baiknya kita awali dengan berbagai perwujudan ’no action’. Kekosongan akan mengajarkan kita merendah dan mau belajar dari siapa saja. Diam membuat kita mengalah dan bersikap lebih toleran kepada rekan dan musuh-musuh kita. ’No Action’ menciptakan sebuah harmonisasi, kemampuan beradaptasi yang lebih baik terhadap lingkungan. Tanpa ’campur tangan’ kita tidak harus ’cuci tangan’, begitu pesan Mpu Peniti.

Thursday, December 27, 2007

Monday, December 24, 2007

Wednesday, December 19, 2007

Tuesday, December 18, 2007

SURAT DARI SINGAPURA

Salah satu trik favorit saya, selama 20 tahun terakhir ini, adalah selalu dan tidak pernah lupa belajar dari orang-orang biasa dijalan. Mpu Peniti menyebut mereka ‘orang kecil’. Dan mereka bisa siapa saja. Tukang rokok, petugas penyapu jalan, penjaga warung, atau supir taxi. Pokoknya siapa saja. Bagi saya, seringkali pikiran mereka begitu sederhana. Selalu bersumbu pendek. 100% intuisi. Tidak ada ruangan untuk teori secuilpun. Semuanya dipelajari lewat praktek kehidupan sehari-hari. Hanya belajar lewat mereka-lah, menurut Mpu Peniti, kita akan sadar bahwa hati manusia tidak ada batas kedalam-nya.

Salah satu percakapan yang selalu saya nikmati, adalah percakapan dengan supir taxi. Selalu menarik, tidak pernah membosankan. Ibarat lukisan, merekalah lukisan surealis yang paling imajiner. Belum lama ini, ketika di Singapura, saya naik taxi dari hotel menuju Bandara Changi. Sebut saja, sang supir taxi paman Phoa. Badanya kurus, berkaca mata, dan umurnya mungkin sudah mendekati 60 tahun. Paman Phoa, bercerita bahwa ia sudah menarik taxi lebih dari 20 tahun. Kata beliau, semua kejadian aneh sudah pernah ia alami. Mulai dari orang melahirkan didalam taxi, sampai suami isteri bercerai didalam taxinya. Konon, suatu hari menurut ceritanya, ia mendapatkan penumpang dari Bangladesh. Sang penumpang bertanya dimana letak kantor lotere Singapore Pools. Rupanya penumpangnya itu baru saja kena lotere. Lumayan besar, tidak tanggung-tanggung, lebih dari 1.5 juta dolar Singapura. Atau hampir 10 milyar rupiah. Paman Phoa, dengan bangga mengatakan bahwa untung saja, sang penumpang bertemu dengan orang jujur seperti dia. Paman Phoa lalu, tanpa pamrih sedikitpun membantu penumpangnya mengurus uang kemenangan loterenya. Ketika selesai, ia mendapatkan tip seribu dollar Singapura. Lumayan.

Paman Phoa, juga selalu pasang lotere tiap minggu. Ia menghabiskan sedolar biasanya. Baginya lotere ini adalah satu-satunya alat yang paling ampuh untuk tetap memilihara mimpinya untuk kaya raya. Sebagai orang kecil dan supir taxi di lanjut usia, ia tidak punya kesempatan lain untuk kaya raya, daripada kena lotere. Begitu kilahnya. Yang penting adalah hidup jujur. Paman Phoa tahun 2006, kena lotere sebesar 30.000 dollar Singapura. 3.000 dollar atau 10% ia sumbangkan untuk amal. Karena menurutnya filosofi hidupnya, amal itu seperti bola ping-pong yang selalu tek-tok. Kalau ia rajin beramal, maka hidupnya juga penuh dengan rejeki. Dan rejeki itu datang dari segala penjuru. Contohnya adalah tips seribu dollar yang ia terima dari sang pemenang lotere. Mungkin anda tidak akan setuju dengan metodenya memelihara mimpi lewat lotere. Tetapi bagi saya yang terpenting adalah kesungguhan paman Phoa, untuk memelihara mimpinya. Hidup ini memang berpangkal dari mimpi itu. Bagaimana anda mau memiliharanya, terserah anda semua.

Ketika cerita paman Phoa, saya ceritakan ke teman saya. Teman saya cuma tertawa ngakak. Maka pada hari Minggu berikutnya, saya diajak kesebuah food-court untuk mencari makanan lezat sembari melihat trik-trik unik dari pedagang-pedagang makanan di food court. Karena hari minggu, maka food-court penuh dengan pengunjung. Saya melihat ada satu stand makanan yang sangat ramai, karena dipenuhi dengan orang yang ngantri. Naluri saya mengatakan bahwa pasti makanannya enak. Buktinya semua orang ngantri. Mulanya saya mengajak teman saya membeli makanan disitu. Tapi teman saya mengelak. Sambil menunjukkan tanda yang berjudul ’self-service’. Biasanya di food-court kalau kita membeli makanan, tinggal pesan saja, lalu nanti diantar kemeja kita. Nah, kalau self-service, anda harus ngantri, pesan makanan, menunggu pesanan matang, bayar, dan membawa sendiri kemeja anda. Konon beberapa stand makanan belajar trik sederhana ini, dengan sengaja menerapkan konsep self-service, semata-mata untuk menciptakan antrian. Antrian yang panjang akan membuat kesan bahwa stand makanan itu memang populer. Jadi jangan terjebak, antrian panjang belum tentu makanannya enak ! ’......ha....ha... ada-ada saja, trik mereka’, begitu komentar saya.

Di beberapa meja, saya mulau melihat pemandangan yang cukup umum. Dimana beberapa keluarga makan bersama satu meja dengan pembantu mereka dari Indonesia. Terutama keluarga yang punya anak-anak kecil. Perubahan matriks pengunjung ini, menyebabkan beberapa stand makanan, juga secara naluri memasang tanda ”NO PORK” dibeberapa stand mereka. Semata-mata untuk menciptakan loyalitas dikalangan pembantu asal Indonesia yang kebanyakan beragama Islam. Kebanyakan mereka-mereka yang kita sebut ’orang kecil’ ini memiliki semangat dan kemampuan belajar yang sangat tinggi. Kadang bukan karena kebutuhan untuk menjadi lebih pandai atau cerdas. Tetapi karena kebutuhan survival yang mendesak. 3 jurus pendek yang populer – Belajar – Berubah – Dan berimprovisasi. Belajar dari orang kecil, seringkali melatih panca indera bisnis kita menjadi lebih praktis, sederhana, dan penuh imajinasi. Itu sebabnya saya punya koneksi emosional yang istimewa dengan orang-orang kecil ini.

Tuesday, December 11, 2007

Monday, December 10, 2007

THE PASSION

Ini adalah serial ketiga dari 5 artikel yang saya persiapkan sebagai ritual menghadapi tutup dan awal tahun sekaligus. Setelah saya mengangkat topik manajemen dan pemasaran dalam 2 artikel terdahulu, maka untuk topik ketiga, saya sempat mengalami kebuntuan ide. Untuk menyegarkan pemikiran akhirnya saya berangkat kerumah Mpu Peniti. Siapa tau diberi inspirasi baru.

Sore itu Mpu Peniti sedang dikebun rumah belakang, asyik menyirami rumpun pohon-pohon melati. Beliau tampak rileks sekali. Ditemani tempe dan tahu goreng kesukaan beliau, kami ngobrol sambil nyeruput kopi tubruk. Duh, nikmatnya selangit banget. Perlahan-lahan saya bertanya kepada beliau, andaikata beliau boleh memilih hanya satu kata. Maka kata apa sih yang paling penting untuk Indonesia saat ini ? Mpu Peniti memejamkan matanya. Nafasnya terdengar sangat berat. Beberapa menit kemudian, tanpa berkata apapun beliau berdiri dan masuk kedalam rumah. Meninggalkan saya sendiri kebingungan di teras rumah belakang. Tak lama kemudian beliau muncul lagi membawa selembar kertas. Isinya sebuah surat dari seorang koleganya.

Salah seorang teman Mpu Peniti, baru saja kehilangan isterinya, karena direngut penyakit kanker rahim yang sangat ganas. Isi surat itu ternyata bukan berisi kesedihan, tetapi sebaliknya surat yang penuh kegembiraan. Konon menurut surat itu, 6 bulan terakhir sebelum isterinya wafat, itulah saat-saat yang paling menggembirakan dalam kehidupan 30 tahun lebih perkawinan mereka. Sang suami merasakan bahwa isterinya justru paling bersemangat didalam 6 bulan terkahir itu. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan mereka berdua. Diakhir surat, teman Mpu Peniti, mengutip sebuah ungkapan dari The Beatles ”And in the end the love you take is equal to the love you make ” – sebuah potongan lirik dari lagu The Beatles yang berjudul The End, dari labum Abbey Road yang direkam antara 23 Juli -18 Agustus 1969.

Membaca surat itu, hati saya ikut luluh. Barulah saya menyadari dari kunci dari kehidupan ini memang cuma satu kata, yaitu ”Semangat”. Tidak lebih dan tidak kurang. Dalam sejarah bangsa ini, barangkali cuma 3 kali kita mengalami luapan semangat yang luar biasa. Pertama ketika Gajah Mada menggelegarkan sumpah Palapa dan menggerakan bangsa ini, menyatukannya menjadi satu negeri Nusantara. Kedua ketika Bung Karno lewat pidato-pidatonya membakar semangat kita dan menggelorakan revolusi kemerdekaan. Dan ketiga barangkali adalah Rudy Hartono. Juara 8 kali All England.

Saya ingat betul bagaimana Rudy Hartono kalah dari Svend Pri di final All England 1975. Dan ia bangkit kembali di tahun 1976 dengan semangat yang luar biasa. Itu tercermin dalam pertandingan semi final dengan Fleming Delfs. Di set pertama Rudy Hartono mengalahkan Fleming Delfs dengan 15-10. Tetapi sepatu baru Rudy Hartono rupanya membuat masalah di set kedua. Sehingga berbalik Rudy kalah 7-15 di set itu. Tetap bersemangat luar biasa di set ketiga, Rudy sudah sempat ketinggalan 2-9. Namun dalam sebuah demonstrasi mental baja dan semanggat membara, Rudy memperlihatkan sebuah keteguhan perjuangan yang sangat luar biasa. Point demi point di raih Rudy. Hingga akhirnya tiba di detik mendebarkan 9-13. Rudy di jurang kekalahan. Tapi Rudy tetap mengusung semangat didepan. Rudy berhasil akhirnya menyamakan skore 13-13. Dalam perpanjangan 5 angka, dengan semangat yang tidak bisa diungkapan, Rudy akhirnya memenangkan pertandingan itu 18-13. Di final, Rudy mengalahkan Lim Swie King dan akhirnya menjadi juara 8 kali All England. Saat itu seluruh negeri lompat, bersorak, dan joged bersama.

Menengok lintasan sejarah itu, barangkali memang benar, apa yang dikatakan Mpu Peniti. Bangsa dan negeri ini butuh satu ajian mujizat : SEMANGAT ! Masalahnya siapa yang bisa menggelorakan-nya ? Barangkali kita butuh Gajah Mada, Bung Karno atau Rudy Hartono yang baru. Semangat ibarat sayap ajaib yang bisa membawa kita kemana saja. Berkat semangat satu kompi serdadu bisa mengalahkan satu batalion musuh yang jumlahnya sangat besar. Semangat adalah faktor penentu yang dicari setiap pemimpin. Saya jadi ingat pertempuran raja Sparta yang terkenal Leonidas ( tahun 480 sebelum Masehi ). Berbekal semangat yang sangat luar biasa, Leonidas ditemani hanya 300 orang serdadu berhasil menahan raja Xerxes 1 dari Persia yang membawa hampir 250.000 serdadu. Pertempuran yang tidak seimbang itu pada akhirnya memang tidak dimenangkan Leonidas. Tetapi korban dipihak Persia konon mencapai 20.000 orang lebih. Semangat adalah bulldozer yang bisa mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Thursday, December 06, 2007

Tuesday, December 04, 2007

BRAND IS THE NEW WEALTH CREATOR !

Interbrand dan AAAA (Association of Accredited Advertising Agents Malaysia) baru saja menyusun peringkat 30 merek paling berharga di Malaysia. Peringkat teratas di duduki oleh Maybank dengan nilai merek mencapai 2,76 milyar dolar Amerika. Sejumlah merek yang muncul juga tidak asing bagi kita di Indonesia. Karena memang merek-merek Malaysia beberapa diantaranya telah berhasil menjadi pemain regional di ASEAN. Contoh, televisi satelit ASTRO mereknya bernilai 946 juta dolar Amerika. Yang unik adalah merek hypermarket GIANT yang tokonya banyak di Indonesia, ternyata nilai mereknya 592 juta dolar Amerika, dan mengalahkan Malaysia Airlines yang nilai mereknya setara dengan 493 juta dolar Amerika.

Pendatang baru Air Asia ternyata sudah mengantongi nilai merek yang lumayan, sebesar 95 juta dolar Amerika. Bandingkan dengan merek mobil Proton yang bernilai hanya 68 juta dolar Amerika. Merek fashion Padini dan Bonia ternyata cukup berjaya, karena dinilai 61 juta dolar Amerika dan 22 juta dolar Amerika. Melihat dan menyimak peringkat ini, anda pasti juga bertanya-tanya, kalau begitu berapa nilai merek-merek besar di Indonesia, seperti BCA, Aqua, Teh Botol, Telkomsel, Indomie, Gudang Garam, dsbnya.

Apa sih, yang bisa membuat merek produk dan jasa anda melambung nilainya seperti itu ? Jawabnya sederhana, Brand Management yang tertata baik. Secara keseluruhan Brand Management memang proses holistik, yang tidak mungkin dilakukan sepotong-sepotong. Sebuah proses yang harus dilakukan menyatu dalam satu kelengkapan tindakan. Praktis Brand Management bisa dilakukan lewat 3 langkah sederhana, yaitu pertama membentuk Brand Awareness, yang kemudian memotivasi konsumen untuk menjajal produk atau jasa tersebut, sehingga konsumen merasakan sebuah Brand Experience yang sangat berbeda. Lalu konsumen menjadi senang, puas, bahagia dengan produk atau jasa tersebut, yang membuat konsumen tadi berubah menjadi konsumen loyal. Titik terakhir ini disebut Brand Loyalty. (brand awarenessàbrand experienceàbrand loyalty)

Tapi jaman telah berubah sangat cepat. 3 proses sederhana itu kini dianggap tumpul dan tidak mujarab. Misal saja Brand Awareness yang seringkali menuai kritik. Pimpinan perusahaan banyak yang mengeluh dengan sindrom ‘beken tapi ngak laku’. Contoh, klien saya baru saja meluncurkan sebuah produk yang menghabiskan dana puluhan milyar. Mereka juga menggunakan brand consultant ternama. Nama mereknya bagus. Kemasan produk juga mendukung. Iklan agresif jor-jor-an. Ketika melakukan evaluasi dengan Focus Group Discussion, produknya mendapat skor awareness yang tinggi. Tetapi tetap ngak laku.

Ketika tidak laku, barulah saya dipanggil. Selidik punya selidik produk ini ngak laku, karena gagal menciptakan impresi atau kesan yang pas. Istilah populernya ‘pergi tanpa kesan’. Impresi penting sekali. Karena impresi yang pas bisa membuat orang penasaran. Bagi banyak orang Brownies Kukus Amanda, mungkin sama dengan bolu kukus rasa brownies. Tetapi siapa-lah orangnya yang bakal penasaran dengan bolu kukus rasa brownies ? Pemilihan merek Brownies Kukus adalah kecerdasan yang brilyan untuk menciptakan impresi yang membuat orang penasaran. Jadi kalau Brand Awareness tidak lagi mujarab, maka anda butuh Brand Impressions.

Brand Experience juga sudah dianggap lapuk dan ketinggalan jaman. Karena Brand Experience secara fisik mudah ditiru. Kita butuh ajian yang lebih greget. Yaitu Brand Enlightenment. Produk Coca Cola seutuhnya dibangun oleh Brand Experience. Sederhana-nya tiada lagi pengalaman yang lebih nikmat dari pada minum sebotol Coca Cola dingin pada saat haus-hausnya. Bayangkan apa enaknya minum Coca Cola hangat ? Coca Cola menyadari kekuatan ini. Maka dalam 3 dekade terakhir Coca Cola mencoba menggandakan experince ini, dengan menciptakan aneka produk dari yang diet, rasa vanilla, hingga yang diberi vitamin dan tambahan kafein. Hasilnya biasa-biasa saja. Barulah ketika mereka meluncurkan Coca Cola Zero, mereka menemukan produk unggulan, yang konon produk paling sukses mereka selama 22 tahun terkahir. Inilah dimensi baru yang disebut Brand Englightenment. Konsumen selalu merasa bahwa produk Coca Cola sudah sempurna. Tidak perlu ditambah apa-apa lagi. Yang tidak sempurna adalah kalorinya. Dengan Coca Cola Zero, kesempurnaan itu terjawab. Sebuah pencerahan baru.

Titik terakhir, yang dituju banyak praktisi juga bukan lagi Brand Loyalty tetapi Brand Activist. Yaitu anda tidak ingin konsumen sekedar loyal. Anda ingin konsumen menjadi aktivis merek anda yang merekomendasikan dan ikut mempopulerkan merek anda kelingkungan disekitarnya. 3 proses – Brand Impressions àBrand Enlightenment à Brand Activist – adalah formula Brand Management ‘yang gres dan greng’ untuk melambung Brand Value produk dan jasa anda !