
Thursday, September 13, 2007
Wednesday, September 12, 2007
MANAJEMEN SEDIKIT
Mulanya saya bingung mendengarnya. Barulah ketika ngobrol lebih dalam dengan para crew dan staff di kantor Mas Bambang, saya baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mas Bambang sebagai Manajemen Sedikit. Rupanya Mas Bambang orangnya sangat penyabar, jarang marah, dan senang memotivasi para pekerjanya untuk maju kedepan, secara agresif dan kreatif. Setiap kali mereka memulai sebuah proyek, Mas Bambang lebih senang menyemai bibit. Begitu istilah beliau. Setelah itu Mas Bambang lebih senang mundur kebelakang dan sepenuhnya memberikan kebebasan bagi karyawannya untuk menunjukan karya dan prestasi mereka. Hanya sekali-kali Mas Bambang memberikan dorongan-dorongan kecil. Pokoknya Mas Bambang berusaha untuk sedikit mungkin untuk mencampuri manajemen. Hasilnya memang ajaib.
Karyawan merasa mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Bambang, dan disiplin mereka untuk bertanggung jawab ternyata sangat tinggi. Mereka juga punya rasa optimis dan percaya diri yang optimal. Saya jadi ingat sebuah buku kecil yang ditulis oleh Chin Ning Chu yang berjudul “Do Less Achieve More”. Buku yang ditulis tahun 1998 itu, hingga kini masih menjadi salah satu buku favorit saya. Chin menulis bahwa, kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari 2 simbol piktogram. Yang pertama merupakan simbol piktogram yang berarti jantung. Dan yang kedua adalah piktogram dengan simbol kematian. Artinya kalau kita terlampau sibuk tidak keruan, maka kematian adalah kutukan yang membayangi kita sehari-hari.
Mas Bambang bercerita bahwa dahulu ia pernah memiliki seorang general manajer yang sangat rajin, tetapi juga terlampau ketat ingin mengontrol semuanya. Akibatnya seluruh staffnya merasa stress. Produktifitas bukan meningkat tetapi justru semakin menurun. Mas Bambang akhirnya memecat sang general manajer. Ia memerdeka-kan para staff dan karyawan-nya dari perasaan stress dan tertekan. Mas Bambang berusaha menciptakan sebuah lingkungan kerja yang memiliki dimensi unik, dimana semuanya merasa mudah, sehingga staff dan karyawan-nya lebih kreatif menciptakan terobosan dan inovasi.
Beberapa hari sebelum puasa, saya diajak Mpu Peniti makan soto daging kesukaan beliau. Pulang makan soto, saya diberi oleh-oleh 2 lembar uang seribuan. Yang satu pecahan seribuan yang mungkin beredar di tahun 70’an dan sudah tidak lagi laku. Yang kedua pecahan seribuan yang masih beredar saat ini. Kedua lembar uang seribuan itu namapak sangat baru, seperti baru keluar dari mesin cetak. Saya bingung tidak keruan, karena tidak mengerti apa ulah Mpu Peniti. Akhirnya dengan senyum-senyum beliau bertanya kepada saya, mana diantaranya kedua lembar uang ribuan itu yang paling berharga. Saya beraksi secara refleks menunjuk lembaran uang ribuan yang masih berlaku saat itu. Tetapi Mpu Peniti malah menggeleng.
Beliau bertutur, bahwa lembaran uang ribuan yang sudah tidak berlaku lagi malah justru yang paling berharga. Karena 30 tahun yang lalu, selembar uang ribuan itu merupakan bagian dari kenaikan gaji Mpu Peniti saat itu. Saking girangnya, Mpu Peniti saat itu, sampai ia menyimpan seribu rupiah, yang saat itu sangat banyak jumlahnya sebagai kenang-kenangan. Secara historis uang ribuan itu punya nilai yang tak terhingga. Berlainan dengan lembaran ribuan satunya lagi, yang memang didapat Mpu Peniti dari Bank, dan nilainya memang cuma seribu perak. Dan seribu perak saat ini, terkadang tidak cukup untuk membeli nasi bungkus atau biaya parkir sekalipun.
Mpu Peniti berpesan kepada saya, bahwa kadang yang kelihatan-nya sangat sedikit sekali nilainya, tidak jarang justru yang paling berharga. Dalam bulan suci Ramadhan ini, dimana kita akan menjalankan ibadah puasa, dan sekaligus berlatih menahan nafsu. Disaat bersamaan kita juga diberikan kesempatan yang sama untuk menghargai semuanya yang serba sedikit dan semuanya yang serba kekurangan. Kita di-ingatkan untuk berani mengorbankan yang berlimpah. Dan memilih yang sedikit. Karena sesungguhnya yang sedikit ini, tidak jarang lebih sehat dan lebih membahagiakan kita.
Saturday, September 08, 2007
Tuesday, September 04, 2007
SAMA DAN SEBANGUN
Nah, penyakit ini seringkali saya temukan ketika mengajar dan memberikan kuliah. Kalau saya memberikan contoh studi kasus misalnya dalam bidang jasa, maka biasanya ada saja peserta yang bertanya :”Mas, ada contoh ’consumer product’ ngak ?” Pokoknya harus contohnya ’plek’ sama persis. Juga sebaliknya, kalau saya memberikan studi kasus dalam bidang ’consumer product’ pasti saja ada yang ngotot minta dicontohkan kasus bidang jasa. Dan seterusnya. Situasi ini kadang membuat saya frustasi, karena terasa ada kemalasan untuk menganalisa dan mencari tanda-tanda ’ sama dan sebangun ’. Padahal dalam hal ilmu secara filosofis, dalil-dalil pokoknya akan selalu sama dan berlaku untuk siapa saja, dan apa saja. Tak terkecuali.
Beberapa hari yang lalu, di Bali ketika saya sedang makan malam, saya bertemu dan berkenalan dengan seorang pengusaha beras. Kami ngobrol, dan rupanya beliau senang juga membaca artikel dan buku saya. Pernah juga ia mengikuti beberapa kuliah saya. Cerita beliau, ia sudah mempraktekan kurang lebih 70% dari materi yang saya paparkan. Hasilnya sangat mujarab. Dalam hati, saya bersyukur. Karena ada juga seseorang yang mau berimajinasi dan menciptakan strategi ’sama dan sebangun’ yang berhasil dia terapkan dalam bisnisnya sendiri. Luar biasa !
Lain lagi ceritanya, ketika saya memberikan kuliah penutup disebuah acara yang dihadiri oleh sejumlah bankers. Seperti biasa, diakhir acara, ada yang ’ngacung’ bertanya. Isinya, ia mengatakan bahwa ia minta saya mencontohkan aplikasi materi saya di perbankan. Kebetulan yang ditanyakan oleh-nya adalah masalah pelayanan. Ia tampak bingung bukan main, sepertinya ingin mencari ide-ide baru untuk pelayanan. Kadang ketika kita sudah melakukan hampir semua trik pelayanan yang dilakukan kompetitor, kita seringkali kehilangan ide. Bak sumur yang kering dimusim kemarau. Mestinya tidak demikian, imajinasi itu tidak ada batasnya.
Saya punya satu studi kasus yang unik. Tentang pelayanan di hotel. Kalau anda ’check-in’ di hotel, kegiataan yang menyebalkan adalah antri didepan counter reception untuk ’check-in’. Kadang kala biarpun ini kegiataan sepele, bisa makan waktu yang sangat lama. Di hotel Four Seasons di Singapura, mereka membuat terobosan unik, yaitu ’pra-check in’. Ini kan jaman pra bayar ! Jadi kalau anda sudah pernah menginap di Four Seasons Singapura, dan data anda sudah terekam, ketika anda kembali menginap, biasanya oleh mereka anda sudah di buat ’pra-check in’. Cepat dan praktis. Tetapi mereka membuat saya lebih kagum lagi. Yaitu kalau anda sudah menjadi ’regular’ dan sering menginap disana, mereka mampu membuat terobosan satu tingkat lebih maju. Biasanya bukan saja anda tidak usah ’check in’, tapi kunci kamar anda sudah disediakan didepan concierge. Jadi ketika anda tiba, dan turun dari taxi, sang porter menurunkan koper anda dan langsung memberikan kunci anda. Sehingga anda bisa langsung menuju kamar. Jelas sudah, selama anda mampu berimajinasi, tidak akan pernah ada batasnya.
Tapi di hotel Sheraton Grande Sukhumvit, Bangkok, mereka lebih imajinatif lagi. Saat anda tiba di-airport dan dijemput mobil limo dari hotel, maka anda bisa check in didalam mobil. Praktis dan sederhana. Tiba di hotel, anda dijemput staf hotel yang cantik dan ramah, dan langsung mengantar anda kekamar. Pelayanan ini, boleh terlihat sepele, tetapi imajinatif dan membuat anda seperti diperlakukan sangat VVIP.
Saya ingat sebuah pribahasa Jepang, bunyinya kira-kira demikian : ”Selama kita masih mau berpikir. Tidak ada yang tidak mungkin ditembus oleh imajinasi” Kadang kita berpikir ”aduh ! .... harus bikin apa lagi nih ?” Rasanya imajinasi telah terkuras habis. Tutur Mpu Peniti, asalkan kita mau melamun, imajinasi akan datang. Jadi rajin-rajinlah melamun. Dan jangan berkeras hati, bahwa jasa beda dengan consumer product. Atau sebaliknya. Filosofisnya akan tetap sama. Anda cuma perlu mencari sumbernya. Sisanya gunakan pengalaman kita disekolah dulu. Menggunakan teori ’sama dan sebangun’. Pasti akan ketemu terobosan baru yang anda cari.
Tuesday, August 28, 2007
THROUGH A CHILD'S EYES
Suatu pagi di Bandung, saya bergegas dari kamar hotel menuju “coffee shop” untuk sarapan pagi. Didalam lift saya terjebak dengan sekelompok anak-anak kecil. Kelihatan mereka sangat resah. Tidak sabar ingin segera sampai di ‘coffee shop’. Mereka saling dorong diantaranya. Salah satu anak meraba tombol lantai lift dan memencet semua lantai. Sekujur tubuh anak-anak ini seperti diselimuti adrenalin dan rasa penasaran yang begitu besar. Sedangkan para suster yang menemani anak-anak ini berdiam diri seperti ‘zombie’ yang acuh tidak acuh.
Ketika pintu lift terbuka, ‘brrrr……’ mereka semua lari berhamburan. Langsung mereka menyerbu meja makanan, dan mengambil hampir semua makanan yang tersedia. Tak lama kemudian, makanan cuma diutak-atik seperlunya. Dimakan sedikit saja. Dan sisanya dibiarkan bertumpuk. Sang suster tiba-tiba repot berusaha menyuapi mereka. Tidak seluruhnya berhasil. Maka para orang tua mulai bereaksi. Memerintahkan mereka untuk diam dan makan secara benar. Sebagian menurut, sebagian melawan. Orang tua mulai bertanya : “Kalau ngak mau dimakan ? Kenapa tadi diambil ?”. Para anak dengan sekenanya menjawab :”Ngak enak !” Selesai perkara.
Pemandangan yang biasa bukan ? Tetapi peristiwa itu membuat saya teringat pada salah satu kuliah pemasaran saya. Saat itu sang dosen bercerita tentang tekhnik imajinatif untuk melahirkan ide-ide besar. Menurut sang dosen, didalam pemasaran salah satu alat bantu yang kreatif justru adalah perspektif anak-anak. Cara berpikir para anak-anak sangat sederhana. Umumnya cuma lurus pada satu hal tertentu. Dan sangat singkat. Mereka mudah bosan. Perhatikan baik-baik permainan video, yang dirancang khusus untuk Playstation atau Xbox. Umumnya permainan ini didesain dengan perspektif anak-anak tadi. Tidak kompleks melainkan sederhana, fokus pada satu titik, tetapi memiliki magnet yang mampu membuat anak-anak lekat pada game itu berjam-jam. Karena game itu biasanya mampu mengusik rasa penasaran sang anak.
Perspektif anak bisa sangat kreatif. Misalnya anda memiliki masalah yang sangat kompleks, butuh pemecahan lugas. Maka metode ini seringkali bisa menjadi solusi yang jitu. Yang anda harus lakukan, cukup memejamkan mata, dan membayangkan kalau anda adalah anak kecil. Langkah berikutnya adalah membayangkan tindakan anak kecil ini. Dalam kuliah tadi sang dosen memperlihatkan beberapa film pendek. Yang pertama diperlihatkan seorang anak sedang minum susu. Tetapi susunya terlampau banyak. Sang anak hanya minum 5-6 menit, setelah puas dan kenyang, maka ia bermain dengan susu itu. Nasehat sang dosen, kalau kita mendesain sebuah produk atau sebuah promosi, konsumen hanya akan memberikan perhatian kepada kita sepersekian detik atau menit. Gagal membuat konsumen penasaran dalam waktu sesingkat itu, produk atau promosi kita akan gagal pula.
Dalam film kedua, diperlihatkan seorang anak bermain mobil-mobilan. Sang anak terlihat asyik sekali bermain, mulai dari bermain balapan, hingga mobil perang-perangan. Setelah asyik bermain dilantai, sang anak pindah bermain di ranjang, menggunakan bantal yang ditumpuk, seolah mobil melewati rute yang bergunung dan berbukit-bukit. Sang anak mampu bermain berjam-jam. Dosen kami lalu menceritakan bagaimana suksesnya kasus studi mainan merek Matchbox. Yaitu mainan mobil-mobilan yang kecil, seukuran kotak korek api. Awal mulanya Leslie Smith pada tahun 1948, menciptakan mainan mobil seukuran kotak korek api agar bisa dikantongi anak-anak kemana saja ia pergi. Ide sederhana ini ternyata jitu. Disamping kecil dan bisa dibawa kemana-mana. Harganya yang tidak terlampau mahal, membuat anak-anak asyik dan penasaran untuk mengoleksinya. Dengan ruang main yang terbatas dirumah, anak-anak bisa menciptakan dunianya sendiri dan bermain dengan 10-20 mobil Matchbox sekaligus. Konon model sukses Matchbox ini kini ditiru oleh merek-merek ternama pembuat tas, arloji, dan sepatu olahraga, untuk mensimulasi rasa penasaran yang sama. Buktinya ada eksekutif yang mengoleksi lebih dari 20 jam Rolex. Atau ada seorang selebriti yang mengoleksi lebih dari 3 lusin tas Hermes. Tingkah laku mereka mirip anak-anak yang mengoleksi mainan Matchbox. Tidak berbeda sama sekali ! Jadi jangan pernah meremehkan perspektif anak-anak. Mereka mungkin melihat dunia dengan pandangan yang berbeda. Sederhana dan ringkas. Tetapi pandangan kita saat dewasa - bukankah juga berawal dari perspektif yang sama ?
Monday, August 20, 2007
SOLUSI JALAN BUNTU
Nasehat Mpu Peniti, mungkin perkawinan mereka mirip cerita diatas. Mereka menghadapi jalan buntu. Kalau mereka nekat maju terus, kemungkinan mereka akan bercerai. Dua-duanya akan hancur. Lain halnya kalau mereka mau balik arah. Balik kejalan semula. Mencoba menemukan cinta awal mereka. Cinta yang menyatukan mereka 20 tahun yang lalu. Cinta yang membuat mereka terjun kesebuah pernikahan. Barangkali dengan jalan ini, perkawinan mereka bisa diselamatkan.
Lebih dari 10 tahun yang lalu, nasehat itu diberikan Mpu Peniti kepada saya, ketika saya mengalami jalan buntu dalam menghadapi masalah pemasaran yang super akut. Hasilnya memang terbukti mujarab. Banyak klien yang datang dengan segudang kebuntu-an permasalahan. Betapa sering kita mendengar, pemasar berkeluh kesah hal yang sama. ”Dahulu produk saya laris bukan main. Pernah mencapai sekian juta. Tetapi kok sekarang semakin turun ? Tidak sanggup menghadapi serangan kompetisi ?” Jawabnya sederhana, selama sekian tahun kita diserang kompetisi dari berbagai arah. Tidak jarang kita terpancing ! Dan masuk jalan yang menjerumuskan kita ke jurang kebuntu-an. Akibatnya produk kita menjadi tidak laris secara perlahan-lahan. Solusinya sederhana. Balik ke titik semula. Titik dengan formula sukses yang asli. “Seringkali rahasia sukses kita ada pada titik awal tadi” begitu tutur Mpu Peniti. Entah kenapa kita terkadang malas untuk balik ketitik itu. Ada perasaan malu, jengah, untuk mengakui masa lalu dan titik awal kita”
Seorang entrepener yang memiliki sebuah biro iklan, bercerita hal yang mirip. Dahulu ketika ia memulai bisnis ini, semuanya dikerjakan secara sederhana. Ia terjun kesemua bidang. Mulai dengan bertemu dengan klien. Mengerjakan kreatifitas. Sampai mengantar barang ke klien. Semua klien ia kenal dengan baik. Kadang kalau sedang menganggur, ia dengan mudah minta pekerjaan ke klien. Selalu saja ada yang mau memberi. Biar kecil sekalipun. Kini puteranya yang memimpim. Semuanya sangat berbeda. Puteranya lebih senang menjadi jendral yang tinggal menyuruh prajurit-prajurit melakukan ini dan itu. Ia merasa hubungan klien dengan puteranya tidak akrab. Akibatnya klien datang dan pergi di perusahaan itu. Mereka tidak lagi punya klien yang loyal.
Cerita yang menggugah dalam bisnis, konon adalah cerita lama tentang Levi’s. Di awal dekade 80’an. Levi’s mengalami gempuran dahsyat dari para kompetitornya. Maklum jeans makin trendy, dan berbagai merek baru bermunculan satu demi satu. Percaya atau tidak, situasi itulah yang membuat Levi’s menyadari bahwa salah satu sukses mereka justru ada pada titik awal. Yaitu jeans seri 501 yang pertama kali dipatenkan pada tahun 1873. Maka tahun 1981, akhirnya Levi’s meluncurkan jeans seri 501 untuk wanita. Dan sukses besar. Tahun 1984, Levi’s seri 501 mulai di propagandakan secara besar-besaran terutama pada acara Olympic Games di Los Angeles. Dan dilanjutkan di Eropa pada tahun 1986. Sejak itu, konsumen justru tergila-gila dengan Levi’s 501 yang mestinya dianggap sangat kuno. Tetapi bagi konsumen inilah jeans yang asli. Sang legendaris. Tak heran apabila kemudian Levi’s meluncurkan sayembara untuk menemukan jeans Levi’s yang paling kuno di tahun 1993. Pada tahun 1997, Levi’s membeli kembali sebuah celana jeans Levi’s tahun 1890 dengan harga $ 25.000.-. Sejak itu Levi’s berhasil membangkitkan kejayaan-nya dengan salah satunya menggunakan titik awal jeans seri 501 yang unik.
Rahasia sukses kita tidak melulu ada pada masa depan. Terkadang dan sesekali, justru ada di masa lalu kita. Di titik awal yang memulai segalanya. Kalau saja suatu hari jalan anda buntu, solusinya bukan maju terus dan menabrak kebuntuan. Karena hasilnya bisa fatal luar biasa.
Sunday, August 12, 2007
BERMAIN CURANG
Alkisah ada seorang raja yang merasakan bahwa ajalnya semakin dekat. Sayangnya selama ia memerintah dengan adil dan bijaksana ia belum memutuskan siapa yang akan menggantikan-nya – siapa yang akan menjadi putera mahkota. Harap maklum sang raja memiliki 8 orang isteri. Dengan 12 orang putera dan 16 orang puteri. Karena semua disayanginya dengan rata dan sepenuh jiwa, ia tidak pernah tega untuk memilih satu diantaranya untuk menjadi putera mahkota. Ia takut menciptakan konflik.
Dalam situasi serba salah, bingung, dan kehabisan akal, maka dipanggilah Mbah Sewu, orang yang memiliki seribu jawaban terhadap masalah apa saja. Mbah Sewu adalah tokoh yang dikenal bijak, selalu penasaran, tidak pernah berhenti bertanya, dan tidak pernah lelah mencari jawaban. Ketika dipanggil raja dan diberikan teka-teki untuk memilih satu diantara 12 putera raja yang paling tepat menjadi putera mahktota, Mbah Sewu terlihat bingung tanpa jawaban. Akhirnya raja memberikan waktu seminggu untuk Mbah Sewu berpikir dan mencari solusi. Hati Mbah Sewu gundah bukan main, selama berhari-hari Mbah Sewu terlihat sering mundar mandir keliling kampung sambil komat kamit tidak keruan.
3 hari sebelum tengat waktu, Mbah Sewu terlihat menebang 12 pohon di hutan. Seluruh negeri menjadi ikut bingung dan merasa ikut terangsang rasa penasaran mereka. Pada hari yang ditentukan raja, Mbah Sewu mengumumkan sebuah sayembara. Ke 12 putera raja diberi masing-masing sebatang pohon yang harus dipanggulnya dari ibu
Ke 12 putera raja dengan gagahnya memanggul balok pohon dan mulai berjalan menuju desa yang dituju. Selang satu jam kemudian langkah mereka mulai tertatih-tatih. Nafas mereka mulai tersengal-sengal. Terbukti balok pohon itu cukup berat dipanggul. Seorang putera raja, berhenti dijalan. Ia mengeluarkan goloknya dan mulai memendek-kan balok kayu itu biar tidak terlalu berat. Permainan curang ini dilirik putera raja yang lain, dan semuanya juga ikut bermain curang. Semua memendek-kan balok pohon dengan golok mereka. Hanya tersisa satu putera raja, yang ngotot tidak mau bermain curang. Akibatnya dia tertinggal jauh dengan saudara-saudaranya. Ia tetap tertatih-tatih memanggul balok kayunya.
Setelah berjalan berjam-jam, akhirnya tibalah ia di pinggir desa itu. Rupanya antara desa itu dengan wilayah lain dipisahkan oleh sebuah jurang yang sangat dalam. Biasanya memang ada jembatan untuk menyebrang. Tapi konon jembatan itu diputuskan oleh Mbah Sewu semalam sebelum perlombaan. Terpaksa para putera raja tidak bisa menyebrang. Mereka berdiskusi mencari jalan. Setelah berpikir sekian lama, akhirnya sang putera raja yang tidak bermain curang, menggunakan balok kayunya sebagai jembatan darurat dan menyebrang dengan selamat keseberang. Melihat ulah ini, putera raja yang lain ikut meniru. Apa daya gara-gara bermain curang dan memendek-kan balok kayu mereka masing-masing, ternyata balok kayu mereka terlalu pendek semua, dan tidak bisa lagi digunakan untuk menyebrang. Hanya putera raja yang tidak bermain curang yang berhasil menyebrang. Dialah yang menjadi pemenang sayembara dan dinobatkan menjadi putera mahkota.
Hidup ini mirip sayembara Mbah Sewu.
Ditengah-tengah situasi ia selalu kalah terus melakukan tender, ia tetap punya keyakinan bahwa suatu saat sikapnya yang anti bermain curang, pasti akan mendapat ganjaran positif. Benar saja ! Setahun yang lalu, datang seorang pengusaha dari Eropa. Sang pengusaha mencari suplier yang punya reputasi bersih, anti sogok, anti pungli, anti komisi, dan anti curang. Apa daya, dipasar cuma ia sendiri yang memiliki reputasi itu. Akhirnya ia terpilih dan mulai mendapat order dari Eropa. Kini biarpun ia selalu kalah tender didalam negeri, ordernya mulai berdatangan justru dari luar negeri. Menurutnya, mau bermain curang atau tidak adalah semata pilihan hidup. Betapapun ia terlihat bodoh, ia tetap memilih tidak bermain curang. Ia percaya itulah pilihan terbaik hidup.
Saturday, August 11, 2007
BREAK THE BAD HABIT !
Suatu hari, saya sedang asyik bersantap siang disebuah resto di salah satu mall terkenal di
Dalam perjalanan pulang, kami berdoa ngobrol panjang lebar. Saya bercerita kepada beliau, tentang pertemuan saya dengan bekas model Ratih Sang beberapa bulan berselang di airport
Tak heran kalau kita perhatikan baik-baik nasehat orang tua kita ketika kecil, kebanyakan bertujuan untuk membentuk kebiasaan kita. Simak saja naeshat-nasehat klasik, seperti : “Nak, kalau makan itu harus dihabiskan. Jangan sampai bersisa. Nanti muka kamu akan berjerawat seperti sisa-sisa nasi yang kamu tinggalkan dipiring”. Ketika mendengar nasehat itu, saya sempat takut. Makanya kalau makan, tak pernah sedikitpun saya sisakan. Pokoknya ludes tandas. Takut muka saya berjerawat. Namun saat akil balik, dan muka saya berjerawat dimana-mana, saya sempat protes kepada kakek saya. Kok, nasehat ibu sudah saya turuti, masih saja saya kena jerawat. Kakek saya akhirnya menjelaskan dan bercerita, bahwa nasehat itu bertujuan membentuk kebiasaan saya. Agar setiap kali makan, selalu mengambil makanan secukupnya saja. Supaya saya bisa menghabiskan-nya. Agar tidak boros dan selalu membuang makanan. Kalau saya terbiasa dengan satu kebiasaan sederhana ini, maka kebiasaan lain akan ikut menempel. Seperti hidup secukupnya, hemat dan tidak boros. Saya ingat, ketika masih di SD, uang jajan yang diberikan oleh Ibu saya sedikit sekali. Beda dengan teman-teman yang lain. Setiap kesekolah Ibu membekali kami dengan makanan rantang. Akhirnya terpaksa uang jajan yang sedikit itu saya masuk-kan kedalam celengan. Tanpa saya sadari Ibu saya membiasakan saya agar hidup hemat dan selalu menabung.
Mpu Peniti, menuturkan bahwa kebiasaan itu mirip dengan cetakan kue. Sesuatu yang melatih kita dan membentuk kita berperilaku. Kebiasaan ini sering membantu sukses kita ketika kita dewasa. Sebaliknya bisa juga kebiasaan kita ini menjadi penghalang dari kemajuan karir dan prestasi kita. Bayangkan kalau sejak kecil seorang anak sudah dibiaskan terbuka, mudah berkomunikasi, maka kemungkinan besar ketika dewasa, ia akan memiliki informal skills yaitu kemampuan berkomunikasi yang baik. Ia kemungkinan besar juga akan memiliki kepribadian yang lebih terbuka, periang, dan tidak pemalu. Akibatnya ia bakalan lebih menonjol, dan mudah dibentuk menjadi seorang pemimpin yang baik.
Ayah saya bekerja di
20 tahun mengarungi dunia pertarungan bisnis, dan melihat sejumlah pengusaha jatuh bangun, menempuh aneka perjalanan antara kegagalan demi kegagalan, juga dari satu sukses ke sukses berikutnya, akhirnya terbentuk satu pelajaran. Bahwa sukses dan kegagalan juga terbentuk dari pola-pola yang seringkali terbentuk dari kebiasaan tertentu. Seorang entreprener bercerita bahwa kakaknya, memiliki kebiasaan jelek. Yaitu selalu merekrut tenaga kerja yang murah. Sehingga kualitasnya cenderung lebih rendah. Ketika perusahaan-nya masih kecil mungkin hal ini tidak berpengaruh. Karena leadership kakaknya bisa mampu mengatasi berbagai masalah dengan mudah. Tetapi ketika perusahaan-nya sudah membengkak besar. Situasinya berubah. Tenaga kerja yang bermutu rendah, membuat kekacauan dimana-mana. Kurang dari 5 tahun kakaknya mengalami kebangkrutan yang fatal.
Saya sering melihat orang yang kesusahan datang minta nasehat kepada Mpu Peniti. Biasanya Mpu Peniti secara arif mencoba merubah kebiasaan orang itu. Misalnya pertama-tama lewat kebiasaan spiritual. Seperti dari jarang beribadah ke lebih banyak beribadah. Dari tidak pernah beramal menjadi lebih sering beramal. Bila berhasil, baru kebiasaan lain oleh Mpu Peniti dimotivasi untuk dirubah. Pokoknya kalau anda ingin sukses “break the bad habit “ !
Monday, August 06, 2007
MENGAPA BANTENG MENGAMUK DENGAN WARNA MERAH ?
Lain dengan fungsi warna dalam pemasaran sesungguhnya. Warna memang sangat “berkuasa” sekali. Menurut “Color Marketing Group”, sebuah organisasi berkantor pusat di Alexandria, Virginia, yang memiliki anggota lebih dari 1000 ahli warna diseluruh dunia, setiap tahun membuat 2 prediksi tentang tren dari warna. Group ini, juga memiliki riset yang sangat beragam dan dalam soal warna. Misalnya saja dalam riset mereka menemukan bahwa :
- Warna membantu untuk meningkatkan ”brand recognition” sampai diatas 80%. Tak heran apabila ”brand leader” seperti Coca Cola, Marlboro, dan McDonald, logonya semua memiliki warna merah. Warna yang paling agresif.
- Dalam hal kemasan, warna juga membuat orang lebih mudah membaca dan mengenali tulisan, apabila warna-warna tertentu digunakan. Riset mengukur peranan warna itu hingga lebih dari 40%.
- Warna juga membantu kita belajar. Penggunaan warna yang efektif membantu dan meningkatkan daya serap murid dari 55% hingga 78%
- Warna membantu konsumen untuk mencerna informasi hingga lebih baik hingga 73%
- Iklan berwarna memiliki daya tarik 42% lebih tinggi dibanding dengan iklan hitam putih.
- Akhirnya warna seringkali menjadi 85% alasan mengapa konsumen membeli produk tertentu. Jadi warna memang memiliki peran strategis.
Untuk semester kedua tahun 2007, Color Marketing Group memprediksi 2 trend warna. Yang pertama adalah Pink atau merah muda yang trendy. Menurut Color Marketing Group, Pink tidak lagi memiliki persepsi feminin atau warna ABG yang ke-kanak-kanakan atau manja. Karena Pink gencar digunakan dalam kampanye anti kanker payudara dan AIDS, warna Pink telah menjelma menjadi warna baru yang menjadi sebuah simbol kesehatan, kebersamaan dan solideritas. Tentu saja bukan warna Pink yang terlampau muda, tetapi Pink yang lebih tua warnanya. Jadi jangan heran kalau produk-produk konsumen tahun ini banyak yang menjagokan Pink. Ini warna baru yang canggih.
Warna kedua yang sedang favorit sejak musim panas 2007, adalah warna putih yang gemerlapan. Fashion designer dan desainer industri mulai gencar mempromosikan warna putih. Mulai, dari mobil, tas, arloji, hingga baju. Pokoknya semua putih berkemilai. Putih dianggap warna organik baru, yang memperlihatkan status premium. Misalnya warna putih berkemilau dari mutiara.
Warna juga menjadi simbol, baik budaya dan religi. Tetapi yang paling penting warna adalah titik pusar keberuntungan pemasaran. Sejumlah kasus studi sudah pernah didokumentasikan menjadi bukti-bukti nyata keampuhan warna. Christine Mau, Associate Director Of Packaging Graphics, Kimberly-Clarck Corporation menjelaskan bahwa setiap tahun mereka minimal mencoba menerapkan tren warna dalam kemasan produk mereka. Menciptakan corak dan perpaduan warna yang mampu menjadi stimulus yang merangsang konsumen untuk membeli produk mereka.
Konon salah satu gosip yang beredar bahwa kenapa Pepsi tidak bisa mengalahkan Coca Cola, semata-mata karena logonya yang berwarna biru dianggap inferior dibanding warna merah logo Coca Cola. Merah memang warna favorite. Konon warna ini paling kuat impresi dan stimulusnya untuk merangsang rasa lapar kita. Hampir semua resto franchise kelas dunia, warnanya selalu merah, seperti Mcdonalds, KFC, Pizza Hut dan seterusnya.
Christopher Webb, Trend and Color Designer dari General Motors Corporation menuturkan sebuah pengalaman unik. Secara statistik, warna abu-abu hanya memiliki penetrasi pasar sekitar 4.9 % bila dipakai sebagai warna mobil. Pada tahun 2006 General Motors merenovasi warna abu-abu mereka, dengan menampilkan warna abu-abu baru yang mirip dengan warna titanium dan kulit ikan hiu. Ternyata penetrasi pasar warna abu-abu mereka meningkat menjadi 6.6%. Lagi-lagi kesimpulan yang menunjukan warna peranan warna memang strategis luar biasa.
Warna juga sangat berperan dalam arena politik dan olahraga. Warna menentukan identitas dan stimulus emosi yang berbeda. Warna team sepakbola Jakarta adalah oranje. Tak heran apabila warna ini diperebutkan oleh 2 kubu yang beraturng dalam pemilihan gubernur Jakarta 2007. Hampir keduanya memiliki atribut kampanye berwarna oranje. Sehingga Mpu Peniti sendiri menjadi bingung, karena tidak bisa membedakan satu dengan lain-nya. Malah ketika dalam piala Asia baru-baru ini, Indonesia dikalahkan Korea Selatan, yang disalahkan juga warna kostum Indonesia yang putih-putih. Konon warna ini kurang garang dan mempengaruhi tempo dan semangat pertandingan.
Warna juga menjadi referensi kita. Misalnya hijau adalah tanda buah masih mentah. Hijau adalah tanda aman, misalnya dalam rambu lampu lalu lintas. Sehingga warna hijau identik dengan sesuatu yang natural, dan alami. Hijau adalah warna keseimbangan lingkungan. Biru mengingatkan kita kepada langit dan laut. Warna yang menentramkan dan membuat kita merasa sejuk. Biru menjadi referensi segar dan sejuk. Sehingga ini menjadi warna populer untuk minuman, terutama air mineral. Perusahaan yang konservatif juga cenderung memilih warna biru sebagai logo, semata-mata karena referensi segar dan sejuk itu. Warna-warna metalik biasanya memberikan kita referensi sebagai warna premium dengan status tinggi. Misalnya, emas dan perak. Tak heran apabila kedua warna ini merupakan favorit warna untuk menunjukan positioning dan status yang sama.
Warna memang tidak bisa diremehkan. Warna kini dipelajari dengan serius, sebagai medium kreatif pemasaran yang memiliki nilai strategis. Apa jadinya kalau dunia kita tidak lagi berwarna ?
Friday, July 27, 2007
Thursday, July 26, 2007
MANJURNYA SEBUAH IMPRESI
Teman saya mengaku, bahwa langsung saja, kegairahan-nya terhadap wanita cantik ini, langsung sirna. Impresi atau kesan-nya langsung ”drop” dan ”minus”. Kesan atau impresi memang penting. Apalagi dalam komunikasi pemasaran. Seorang klien mengaku bahwa dahulu ia hanya mementingkan ”awareness”. Pokoknya asal konsumen tau bahwa produknya ”exist”, atau hadir dipasar. Berteriak sekencang-kencang-nya adalah strategi utamanya. Jaman sekarang beda, menurutnya. Jumlah media, dan acara-acara di media yang semua hampir mirip, menimbulkan suara gaduh yang super berisik. Mirip ribuan orang menabuh panci dan kuali bersama-sama. Akibatnya konsumen cuek, atau malah menutup telinganya. Lain kalau konsumen diberi suara berupa musik yang indah, dengan suara yang sangat sensual. Konsumen akan menengok, terpengaruh, dan mungkin ikut berdansa. Inilah yang dimaksudkan dengan impresi atau kesan. Bukan lagi sekedar ada menciptakan ”awareness”.
Pentingnya ”impresi” atau kesan, mengubah prilaku komunikasi pemasaran kita. Berubah dari kuantitas ke kualitas. Berbisik sekarang dipilih oleh banyak praktisi sebagai alternatif baru, karena memberikan impresi atau kesan yang lebih intim, personal dan memberikan pendalaman yang langsung sifatnya ”one on one”. Tidak ada gunanya sejagat konsumen tau produk anda, tapi tidak meninggalkan kesan apa-apa pada mereka. Demikian sanggah seorang brand manager yang saya kenal. Itu sebabnya ia bersiasat menciptakan strategi baru. Kini untuk menciptakan impresi atau kesan yang unik, ia menciptakan komunikasi yang sifatnya intense sekali, tetapi ditujukan hanya kepada ”opinion leader”. Tujuannya agar komunikasi selanjutnya diteruskan oleh para ”opinion leader” kebawah. Ini biasanya bisa lebih ampuh.
Contoh, kalau anda punya restoran yang baru dibuka. Ada punya 2 opsi. Opsi pertama misalnya anda bisa mengundang wartawan dari seluruh media untuk mencoba restoran anda. Idenya, biar semua media memberitakan restoran baru anda beramai-ramai sekaligus. Pada opsi pertama ini, strategi anda adalah gempur total. Opsi kedua bisa beda. Anda hanya mengundang misalnya 10 “food critic” atau wartawan khusus yang mereview restoran dari media-media beken papan atas. Lalu anda buat acara khusus yang intim, dengan menyediakan jamuan makan istimewa yang serba glamor. Pada acara makan itu, diadakan diskusi mendalam bersama koki restoran, dan beberapa masakan di demo khusus didepan mereka. Tujuan-nya adalah untuk meninggalkan impresi dan kesan yang mendalam kepada semua “food critic” yang hadir. Kalau mereka kagum dan terkesan, maka tulisan dan cerita mereka akan sangat luar biasa sekali. Dan secara ajaib kesan yang mereka tinggalkan akan meninggalkan kesan dan rasa penasaran dikalangan pembacanya. Bukankah cara ini akan jauh lebih efektif ?
Komunikasi dengan impresi yang kuat akan meninggalkan jejak. Jejak ini akan berbebkas dan menciptakan pengaruh. Komunikasi bergaya berisik, tanpa impresi, akan membuat orang menoleh dan melihat. Setelah itu ia akan lupa, apa yang telah dilihatnya. Impresi jelas lebih manjur.
Sunday, July 22, 2007
Monday, July 16, 2007
RAHASIA NETWORKING
Seorang teman memiliki sebuah poster wanita telanjang yang sangat sensual, dan dipajang di dinding kantornya. Diatas poster itu ada satu slogan, bunyinya : “Dunia ini bukan milik pemalu”. Setiap kali saya berkunjung kekantornya, saya selalu menatap poster itu dengan penuh keheranan. Tapi risih juga untuk bertanya. Sampai suatu hari saya makan siang bersamanya. Hampir 3 tahun saya mengenal dirinya, belum pernah sekalipun saya berkenalan dengan isteri dan keluarganya. Siang itu saya kebetulan juga diperkenalkan dengan isterinya. Hampir saja saya lompat dari bangku tempat saya duduk. Isterinya cantik luar biasa. Persis bintang film. Padahal teman saya ini, penampilannya jauh dari rata-rata. Kok bisa ?
Teman saya tertawa-tawa ketika saya tanya apa rahasia-nya. Ia balik mengingatkan saya pada poster dikantornya. Cerita beliau, bahwa dulunya ia seorang pemalu. Ia mengaku mengalami kesulitan untuk bergaul. Tidak punya rasa percaya diri. Mudah menyerah. Pergaulan-nya sangat terbatas. 5 tahun yang lalu ia diajak temannya untuk menonton salah satu seminar saya. Ternyata ia mendapat pencerahan luar biasa. Ia juga rajin membaca buku saya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berubah.
Satu rahasia yang ia pelajari cara seksama adalah ilmu Networking. Itu sebabnya poster itu ia pasang dikantornya sebagai peringatan bahwa sukses itu dibangun diatas konsep ”Networking”, dan ia akan dikalahkan kalau ia tetap ingin menjadi pemalu seumur hidup. Ilmu Networking bukan semata-mata harus pintar bergaul. Banyak orang punya pergaulan luas, tetapi tidak bisa memanfaatkannya. Networking menurut filosofi Cina, dikenal dengan sebutan Guan Xi. Terjemahan sederhananya adalah Relationship. Guan Xi memiliki 3 pilar utama. Yang pertama adalah ”inner feeling” yang mengukur perasaan respek kita terhadap seseorang dalam networking termaksud. Ada orang yang bisa saja statusnya merupakan lapisan dalam dari sebuah networking, tetapi ia sering tidak tahu apa-apa. Karena semata-mata para anggota network memiliki ”inner feeling” yang terbatas terhadap dirinya. Sebaliknya seorang tukang keramas disebuah salon terkenal di Jakarta yang memiliki langganan VIP, menjadi serba tahu dengan segala gosip dan perkembangan Socialite. Karena para ibu-ibu yang keramas di Salon itu bergaul ramah dengan dirinya, sering bercerita apa adanya. Jadi kedudukan anda dalam sebuah network tidak ditentukan oleh status atau pangkat. Tetapi semata-mata oleh interpersonal relationship.
Pilar kedua adalah, kontribusi anda didalam network. Semakin besar value yang anda bawa, maka semakin tinggi kedudukan anda didalam network. Respek para anggota network juga semakin tinggi. Misal, tukang keramas di salon itu punya interest yang mendalam soal kulit ibu-ibu VIP yang berkunjung ke salon. Ia punya gosip yang luar biasa tentang ibu anu berobat ke klinik mana, dan kosmetik kulit yang sedang ngetrend serta manjur. Maka ia punya posisi penting yang mirip konsultan kecantikan kulit tidak resmi. Selama ia semakin up-to-date dengan pengetahuan-nya itu, maka ia tetap populer didalam network. Jadi kalau anda ingin populer dan dikenal dalam sebuah network, anda juga harus memilih satu spesialisasi anda yang membuat kontribusi anda bernilai, sehingga anda dirindukan oleh anggota network. Dalam arti lain populeritas anda ditentukan oleh spesialisasi ini.
Pilar ketiga sangat penting, yaitu berbicara soal etika dan reputasi. Yaitu tingkah laku pergaulan anda didalam network. Ini adalah ”balancing act” yang terpenting. Umur anda dalam sebuah network ditentukan oleh pilar ketiga ini. Sekali saja anda reputasi anda tercemar, tak akan mungkin anda bertahan didalam network. Anda akan diasingkan dan menjadi kelompok terbuang. Dalam filosofi Cina, pilar ketiga inilah yang menunjukan wajah anda sesungguhnya.
Teman saya, seusai nonton seminar saya, mulai berpikir membangun networknya. Ia tergugah untuk menyambung beberapa network yang ia miliki. Mulai dari network di kantor, network teman sekolah, dan network tetangga. Kebetulan, ia punya hobby main bulutangkis. Dulunya ia bekas pemain di kampus. Lumayanlah prestasinya. Ia menyambung ketiga network itu dengan mendirikan klub bulutangkis. Hasilnya luar biasa. Dari cuma 6 orang, clubnya berkembang menjadi 30 orang lebih. Teman saya mulai mendapatkan bisnis baru. Ia juga dikenalkan dengan calon isterinya lewat club bulutangkis itu. Karena dalam club bulutangkis itu dia bisa memunculkan kepribadiannya yang cekatan dan sportif. Di club bulutangkis itu ia menjadi bintang yang dikagumi.
Akhirnya ia dipercaya membentuk club bulutangkis di real estate tempat bos-nya tinggal. Dari sanalah ia dikenalkan oleh bos-bos bisnis yang lain. Perlahan-lahan dengan memanfaatkan network kecilnya, karirnya merambah. Ia lalu punya beberapa bisnis kecil. 2 tahun yang lalu, ia keluar dari perusahaannya, dan mengelola bisnisnya sendiri. Menurut dia, networking itu mirip pohon duit. Kalau kita rajin merawat dan memupukinya, manfaatnya menjadi sangat luar biasa sekali. Networking akan terus membuahkan hasil yang berlimpah ruah. Secara filosofis, networking mengajarkan kita, bahwa bergaul itu selalu berguna. Jadi jangan pernah ragu untuk bergaul dengan siapa saja. Karena tanpa anda sadari suatu saat, anda mungkin akan ditolong oleh seseorang yang tanpa anda sengaja, anda kenal 10 tahun yang lalu. Mengenal 100 orang akan jauh lebih bernilai daripada membuat satu musuh.
Sunday, July 08, 2007
Friday, July 06, 2007
INTRIK : AKIBAT
Mpu Peniti asyik bermain catur dengan seorang teman-nya di beranda. Mereka main lebih dari dua jam. Sambil berbicara dengan suara yang sangat halus. Mirip orang berbisik. Luar biasa seriusnya. Seperti sedang membicarakan nasib republik. Sesekali, saya melihat teman Mpu Peniti mengusap air mata dari mata tuanya yang renta. Jelas kelihatan kesedihan yang sangat mendalam. Saking asyiknya, saya hanya berani menonton dari jarak jauh. Ketika permainan selesai, sang tamu pamit dan memeluk Mpu Peniti erat sekali dan cukup lama. Nampaknya ia enggan berpisah.
Lalu Mpu Peniti bercerita kepada saya. Konon menantunya yang sangat disayangi dan dicintai oleh teman Mpu Peniti, harus kabur ke luar negeri. Dan dengan sangat berat hati teman Mpu Peniti terpaksa mengihklaskan-nya. Ceritanya sangat panjang. Beberapa tahun yang lalu, sang menantu ditipu oleh salah seorang rekan usahanya. Meninggalkan hutang kesana sini, yang jumlahnya banyak sekali. Sang menantu terpaksa gali lobang tutup lobang. Sampai akhirnya ia tidak sanggup lagi, dan terpaksa harus kabur keluar negeri. Gara-gara ulah satu orang, meninggalkan derita dan kesusahan yang bernatai dan berentet jumlahnya. Satu akibat yang berbuntut panjang. Menurut Mpu Peniti; terkadang kita lupa memikirkan akibat perbuataan kita. Padahal satu perbuatan bisa menyebabkan akibat yang berantai yang luar biasa hebatnya.
Seorang teman saya diberhentikan dari tempatnya bekerja. Suatu hari ia dan seorang staff wanitanya, pergi keluar kota untuk mengunjungi klien. Pulang dari luar kota, ia diadukan staff wanitanya dengan delik aduan pelecehan seksual. Namun peristiwa ini sangat sulit dibuktikan. Karena tidak ada saksi. Cuma ada 2 pengakuan yang berbeda. Celakanya sang direktur HRD-nya adalah wanita yang bersimpati dengan staff wanita itu. Maka diadakan-lah penyelidikan diam-diam yang menyeluruh. Teman saya memiliki beberapa kesalahan administrasi yang mungkin biasanya termaafkan. Namun karena dijumlah bersama-sama kasus pelecehan seksual tadi, kesalahan teman saya menjadi fatal dan tak terampuni. Ia kena PHK. Berita yang keluar, ia diberhentikan karena korupsi. Tentu saja ini pukulan yang menghancurkan hidup teman saya. Ia tidak lagi bisa bekerja ditempat lain. Berita cepat menyebar, dan ia sudah dilekati dengan predikat koruptor. Yang parah adalah hubungannya dengan keluarga juga hancur berantakan. Anaknya berminggu-minggu hanya mau memakai pakaian seragam sekolah. Baik disekolah, dirumah, dan tidur sekalipun. Ia merasa jijik memakai pakaian lain. Karena ia merasa semua pakaiannya dibelikan dengan uang hasil korupsi.
Mpu Peniti bertutur, bahwa seringkali kita lupa menghitung akibat. Setiap kali kita ingin sukses, kita hanya menghitung hasil dan melupakan menghitung akibat. Padahal setiap sukses yang kita ciptakan, pasti akan berakibat kepada kegagalan orang lain. Lucunya, kalau kita gagal, kita hanya penasaran mencari sebab kegagalan, dan juga keliru mencari akibat. Ini bukan pelajaran mudah bagi saya. Melainkan sesuatu yang luar biasa sulitnya. Tetapi kalau kita percaya kepada lingkungan yang harmonis dengan keseimbangan, maka sebab dan akibat adalah ibaratnya kemudi mobil yang selalu kita coba luruskan agar jalan mobil juga mulus lurus.
Menghitung cermat sebuah akibat dalam manajemen, merupakan disiplin yang bisa membuat gaya kepemimpinan anda menjadi sangat arif. Seorang konsultan manajemen Jepang, menuturkan bahwa senioritas dalam tata krama manajemen Jepang selalu dihormati dan mendapatkan prioritas tinggi. Kadang dalam manajemen yang bukan bergaya Jepang, senioritas malah dianggap beban. Misalnya bapak anu, adalah orang lama, konservatif, cara berpikirnya kolot, dstnya. Maka bapak anu dianggap pagar penghalang. Apalagi kalau bapak anu tidak mewakili golongan yang berpikiran maju, kreatif dan progresif. Lalu bapak anu dianggap golongan bodoh. Padahal menurut teman saya, sang konsultan Jepang, seseorang yang bisa bertahan sangat lama dalam sebuah organisasi, menunjukan kualitas stamina, adaptasi, mungkin cerdas bergaul dan kemahiran politik yang sangat luar biasa. Seringkali sisi ini tidak pernah diperhitungkan. Sebuah akibat yang patut kita kagumi.
Dalam pemasaran ilmunya juga persis sama. Jarang kita menghitung akibat. Misalnya saja, supaya produk kita laku, maka kita pasang harga sangat murah. Tapi kita lupa melihat situasi sekeliling. Mulanya produk kita memang laris. Lalu surut perlahan-lahan. Tak lama kemudian produk kita dianggap murahan. Seorang manajer penjualan belum lama ini mengeluh kepada saya. Konon, beberapa bulan yang lalu, ia mengadakan promosi berhadiah langsung piring dan gelas. Penjualannya memang bagus dan melonjak luar biasa. Ketika hadiah dicopot; penjualan melorot lagi. Tanpa sengaja ia telah membuat para konsumennya terdidik untuk hanya tertarik membeli bilamana ada hadiahnya. Kini ia panik bukan main. Budget promosinya kering. Penjualan ambruk. Sebuah restoran baru dibuka. Pengunjung belum banyak. Promosi langsung diusung. Tapi promosinya heboh luar biasa -- memakai spanduk besar di depan restoran, dan bunyinya “Makan sepuasnya cuma Rp. 59.000/orang”. Anehnya konsumen tidak juga ramai seketika. Tanpa disadarinya, spanduk itu mengakibatkan konsumen punya impresi bahwa memang restoran ini tidak laku, sehingga di-obral. Lagi-lagi akibat yang seringkali kita anggap remeh dan tidak diperhitungkan.








