Thursday, May 24, 2018

CORPUS CHRISTI – A journey of faith

Saya mengenal Teguh sejak akhir dekade 80’an. Ia baru saja balik dari Jerman, dengan sejumlah kegelisahan. Dan itu terlihat jelas dalam karya lukisnya. Yang selalu padat. Seolah ia ingin menumpahkan semua enerji-nya dalam satu kanvas. Kadang terasa mengerikan. Seperti kita ingin memasukan seluruh amarah kita dalam satu bejana. Kepadatan yang diperlihatkan Teguh, menjadi sebuah estetika yang menghimpit dan menampar kita. Bila kita tidak kuat maka kita akan dilontarkan-nya. Saat itu saya mengatakan kepada Teguh, itulah kekuatan karya-nya. Sebuah interaksi yang liar. Teguh adalah meteor yang lepas dan berkelanan di jagad raya.

Sejak itu saya pernah berkolaborasi dengan Teguh dalam beberapa proyek kecil. Ternyata ia seniman serba bisa. Mulai dari melukis, patung, dan juga tari dan musik. Pernah sekali ia mengatakan bahwa baginya sebuah karya seni akan berhasil kalau lingkungan menyerap karya itu dan menjadikan-nya bagian dari sebuah lingkungan. Dan bukan sebaliknya. Kadang orang meletakan sebuah lukisan dalam sebuah ruangan dengan harapan bahwa lukisan itu menjadi titik api. Akibatnya lingkungan itu rusak porak poranda. Tidak keruan.

Tahun 2005, Teguh mengirimkan email kepada saya dengan sejumlah foto. Karya-karya patungnya terbaru. Kali ini saya kembali tertegun. Karena Teguh membuat beberapa patung Kristus dan Bunda Maria. Karya yang sangat religius. Konon karya Teguh ini kemudian di letak-kan di Gereja St. Mary of Angels di Singapura dan memancing reaksi cukup banyak. Seringkali ornamen and aterfak gereja memang sengaja dibuat sebagai titik api. Misalnya saja salib atau Kristus di kayu salib, seringkali dipasang diatas Mimbar menjadi titik api yang monumental. Seringkali karya itu dibuat dengan sentuhan realistis estetik untuk menggugah emosi. Karya Teguh tidak setransparan itu. Karena membutuhkan interpertasi dan interaksi, dan secara konsisten Teguh meletak-kan-nya jauh dari titik api. Sehingga kehadiran karya Teguh bagi banyak orang mungkin akan mengusik. Menggelitik. Menciptakan kesadaran baru. Bahwa ibadah kita yang komunal memiliki aspek privatisasi dengan emosi baru. Apapun juga percikan emosi yang kemudian timbul, kita perlu mengangkat topi pada keberanian Teguh berkarya dalam aspek ini.

Tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat. Teguh masih saja awet muda. Ia kembali menceritakan karya instalasinya. Di sebuah atrium pusat belanja Jakarta yang megah dan moderen, Teguh menggantung sejumlah kuali. Lalu kamipun ngopi bersama bergurau soal kuali itu. Teguh masih memiliki gurauan dan ejekan yang sama. Tentang lingkungan dan kita sebagai manusia yang sering tidak taat menghormati lingkungan. Kita yang tidak senonoh merusak lingkungan. Kita yang rakus merampok lingkungan. Terus terang saya tertawa ketika ia menjelaskan kembali filosofinya secara halus. Biar bagaimanapun Teguh manusia Indonesia yang lahir di Jakarta dari lingkungan Jawa dan mampu bernyanyi “sinden” ala Jawa ini, selalu menunjukan perhormatan yang khidmat terhadap lingkungan. Saat itu saya mengakui kemampuan diplomasinya, yang ulung saat membujuk pemilik pusat belanja agar mau menggantung ratusan kuali di atriumnya. Menjadikan kuali, sesuatu yang remeh menjadi pusat atraksi.

Argumen Teguh saat itu, kuali adalah obyek yang barangkali dimiliki oleh seluruh rumah di Indonesia. Letaknya selalu didapur. Tidak pernah mendapat penghormatan penting. Tetapi fungsinya sangat vital. Yaitu kesejahteraan, kenikmatan dan kebahagian perut diseluruh keluarga. Usai penjelasan itu. Saya berhenti tertawa. Ada satu keharuan baru yang saya rasakan. Bagaimana Teguh memiliki rasa khidmat yang khusus terhadap kuali. Sayapun mulai mengerti dan mendalami apa yang ia katakan pada saya dua puluh tahun yang lalu tentang lingkungan dan seni. Bahwa seni tidak harus arogan dan merampas keindahan sebuah lingkungan. Melainkan seni harus mengabdi kepada lingkungan. Setia kepada lingkungan.

Usai peristiwa itu, Teguh mengontak saya. Ia ingin saya mengulas karya terbarunya, yang merupakan karya-karya patung yang terbuat dari besi rongsok-kan. Ia menyebutnya “deFACEment”. Semuanya tentang interpertasi wajah. Medium yang dipilih Teguh dalam dunia seni bukanlah sesuatu yang baru.Tetapi pendekatan dan prosesnya yang baru. Secara bergurau, ia berkata kepada saya, bahwa pesan filosofis yang ia ingin sampaikan kali ini adalah soal “karat”. Sesuatu yang berkarat, biasanya kita anggap rusak dan sampah rongsokan. Tetapi kalau karat itu adalah karya Teguh Ostenrik, kemungkinan besar orang mau membelinya dengan harga sangat mahal dan memberikan tempat yang sangat terhormat untuk memajangnya. Sayapun tertawa mendengarnya. Teguh kali ini berbisik sangat pelan, bahwa apapun bilamana diberikan kesempatan akan mampu menyatu dengan alam dan lingkungan. Termasuk didalamnya sesuatu yang berkarat. Sekali lagi Teguh memperlihatkan bahwa alam dan lingkungan sebenarnya mememiliki kerendahan hati yang luar biasa. Bisikan Teguh kali ini lirih tapi sangat bijak. Barangkali ini adalah satu penyebab penting, yang membuat Teguh terpilih sebagai Seniman 2009 versi sebuah majalah beken di Indonesia.

Ketika istrinya hamil - Teguh menggelar karya-nya yang terbaru. Linea Nigra begitu judulnya. 11 lukisan besar dan 12 patung metal. Linea Nigra artinya garis hitam yang muncul ditengah perut perempuan pada saat kehamilan. Teguh secara implisit mendokumentasikan saat-saat paling intim ketika istrinya mengandung. Kali ini Teguh masuk keruang publik yang sangat pribadi sekali. Ide baru yang cukup menggelitik. Saya tertawa lagi dan sekaligus sempat terkejut. Teguh memperlihatkan kematangan berkarya yang unik. Lukisan dan patungnya jauh lebih manis dan rapi. Tidak sekasar 20 tahun yang lalu. Mungkin sebagian enerjinya telah terserap oleh lingkungan. Atau Teguh memang sedang berhemat enerji. Terlihat jelas kegusaran dan kegelisahan Teguh semakin menipis, kali ini. Ia bukan lagi bocah yang nakal dan jahil. Ia semakin bijak dan menyatu dengan lingkungan. Atau mungkin karena karya ini sangat pribadi, maka kita melihat Teguh dengan kempompong yang berbeda.

Hampir 3 tahun yang lalu – Teguh mendapat mandat untuk membuat sebuah patung Jesus Kristus di gereja Yohannes Maria Vianney di Cilangkap. Patung ini dibuatnya dari besi-besi bekas. Lalu terjadilah kecelakaan itu. Iseng saya minta ijin untuk membuat dokumenter tentang patung itu – dan seperti kata Lao Tze maka langkah pertama itu akhirnya terjadilah. Maka bertiga, saya, Teguh dan sinease Eko Nobel memulai sebuah perjalanan karavan yang panjang

Usai merampungkan film dokumenter itu, perjalanan kami berlanjut dengan shooting tambahan di Jawa Tengah, dan kami menyadari bahwa rasanya tidak adil kalau kami tidak memfilmkan karya Teguh yang pertama tentang tubuh Kristus yang dibuat Teguh Ostenrik pada tahun 2003 di gereja St Mary of the Angels di Bukit Batok Singapura. Dalam karya tahun 2003 ini Teguh menampilkan tubuh Kristus yang dibuatnya tanpa salib dan digantung melayang. Sebuah esensi kebangkitan Kristus yang kotemporer. Teguh meramunya dengan kerapuhan yang sangat magis dan sekaligus sakral.

Tubuh Kristus yang selama beratus-ratus tahun selalu divisualkan oleh banyak perupa dengan gaya estetika yang sangat humanis sempurna, oleh Teguh justru ditampilkan dengan kerapuhan yang menyatukan derita dan kebangkitan Kristus dalam sebuah kesatuan ungkapan yang baru. Teguh menyebutnya sebagai sebuah proses prosesi “dematerialisasi”.

Usai mengambil tayangan karya Teguh di Singapura, maka karavan kami lanjutkan dengan mengambil tayangan yang berikutnya yaitu karya Teguh ditahun 2005 – di Bukit Doa Mahawu di Tomohon – Menado, Teguh melangkah lebih lanjut dengan konsep “dematerialisasi” lanjutan - menampilkan Corpus Christi yang kedua. Di bukit ini Teguh melengkapinya dengan jalan salib sepanjang 1km, lengkap dengan 14 stasi yang melukiskan perjalanan Kristus ke Bukit Golgota.

Teguh menampilkan intensitas kerapuhan yang berlanjut. Sebuah prosesi.  Memberikan peluang kepada kita semua untuk ikut larut dalam misteri derita Kristus yang magis. Sebuah keintiman yang merangkul keimanan kita dalam sebuah meditasi baru.

Dan akhirnya pada tahun 2015, di gereja Yohannes Maria Vianney – lahir Corpus Christi yang ketiga. Kini dematerialisasi Teguh menembus batas baru, yang bukan lagi kerapuhan melainkan justru sebuah kekuatan baru. Sebuah kesakralan kebangkitan yang sangat masif. Uniknya materi tubuh Kristus dirangkai dalam besi-besi bekas yang menvisualisasikan bukan saja kebangkitan namun juga kelahiran yang baru.

Berlainan dengan sebuah novel yang mungkin berseri, ketiga karya Corpus Christi - Teguh Ostenrik yang lahir dalam priode 12 tahun lebih ini, tidak memiliki serial dari satu hingga ketiga. Melainkan lebih mirip sebuah lingkaran yang memungkinkan setiap orang memulainya dari titik manapun.

Kehadirannya tidak menunjukan sebuah ketibaan, melainkan sebuah karavan yang terus berlanjut, yang mengagas keimanan kita. Sekarang dan sepanjang waktu. Menjadikannya kesakralan yang abadi.

Ditengah maraknya benda seni dikoleksi sebagai investasi dan diperjual belikan secara komersial. Seringkali benda seni hanya menjadi piala yang dipertontonkan dengan prestise. Ia-pun menjadi titik api dan merampas kesucian sebuah lingkungan. Seniman seperti Teguh, pasti tidak pernah berpikir membuat piala. Karena sebuah karya seni seharusnya menjadi sangat mahal dan berharga, bukan sebagai kepemilikan individu tetapi sebagai kepemilikan publik.

Teguh seringkali mengatakan pada saya, bahwa membuat sebuah karya seni adalah merekam momen-momen tertentu dalam kehidupan ini, dan meniupkan sebuah nafas keabadian yang membuat momen-momen tertentu itu menjadi indah dan bisa dinikmati publik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itu adalah ibadah yang sangat indah ! Teguh telah melaksanakannya dengan sangat khusuk dan khidmat.

Film ini kami buat bersama dengan kesadaran penuh bahwa kami tidak bermaksud untuk membenturkan iman kita dan membuatnya menjadi penyok dan cacat atau sebaliknya membuat utuh sebuah kelunturan yang usang. Sama sekali tidak. Melainkan sebuah perayaan keimanan yang sangat sakral atas misteri terbesar di muka bumi yaitu Kebangkitan Kristus.


Saturday, May 19, 2018

INDONESIA 2020 - SEBUAH TAKDIR KEJAYAAN


-->


Setiap kali kita ingin makan di sebuah restoran Indonesia – bayangan kita pasti sangat beragam dan bermacam-macam. Juga ekspektasi kita sangat banyak serta saling berbeda. Seorang ahli kuliner mengatakan bahwa keragaman dalam sajian kuliner Indonesia memang sangatlah kaya dan luar biasa. Begitu kayanya sehingga orang mudah bingung dan “keblinger”. Beda dengan sajian kuliner negara tetangga kita yang cenderung lebih homogen dan sederhana. Sehingga keragaman ini seringkali menjadi pisau bermata dua. Di Indonesia Restoran Indonesia seringkali berawal dari etnik kedaerahan – seperti restoran Peranakan, Padang, Sunda, Jawa, Aceh dan seterusnya. Sisanya seringkali menampilkan hidangan khas, seperti sate, soto, atau seafood dan gabungan beberapa masakan khas.

Uniknya walaupun ditengah keragaman yang semakin ramai – dalam sepuluh tahun terakhir ini restoran Indonesia semakin naik daun, tumbuh berkembang dan populer. Aneka restoran Indonesia yang moderen dan kontemporer lahir di berbagai kota besar dengan kemewahan yang baru dan menjadi “trend-setter” yang diperbincangkan orang.

Sebagai pelancong dan penikmat kuliner Indonesia – kita semua percaya betul bahwa kuliner Indonesia memiliki takdir kejayaan yang akan segera terwujud kedunia internasional.  Istilah “Nasi Goreng” telah menjadi istilah generik yang populer dan tercantum di berbagai menu restoran dan café diseluruh dunia.

Dari segi cita rasa – Indonesia memiliki warisan budaya rempah-rempah, dan tekhnik memasak yang mampu menghadirkan hidangan eksotik yang mendunia. Tak heran apabila Nusantara dijaman dahulu kala sangat terkenal dengan Jalur Rempah-Rempah yang menandingi Jalur Sutera dari Eropa hingga Asia.  Seorang teman dari Singapura bercerita bahwa ia diam-diam sering ke Jakarta hanya untuk “Makan Enak” – dalam petualangannya bertahun-tahun ia mengatakan bahwa kuliner favorit dia adalah Mie yang bertebaran di seluruh Jakarta dengan aneka cita rasa dan keragaman. Tiap daerah punya “signature” khas, dari Mie Aceh, hingga Mie Pontianak, Mie Medan, Mie Jambi, dan Mie Bangka, serta banyak lagi. Ia menyebut Jakarta sebagai Republik Mie.

Saking beragamnya usaha Mie ini dan hampir tiap bulan muncul kreasi dan ciptaan baru, maka di Jakarta kini sering digelar festival mie diberbagai mall di seluruh Jakarta. Festival ini semakin populer dan bisa saja menjadi kalender pariwisata untuk kota Jakarta dan menjadi magnet turis dari mancanegara.

Kuliner yang kedua yang memiliki potensi mendunia adalah martabak. Sajian ini memiliki 2 cita rasa baik asin maupun manis. Dalam tahun-tahun belakangan ini martabak manis mengalami evolusi inovasi yang luar biasa dengan perkembangan rasa eksotik dengan fusi dari berbagai bahan baku merek terkenal seperti coklat dan rasa-rasa lain.

Diluar Mie dan Martabak – Indonesia punya segambreng warisan kuliner yang perlu sedikit sentilan agar mendunia. Kita semua percaya bahwa Indonesia memang memiliki takdir kejayaan dalam dunia kuliner. Sekarang sedang terjadi dan akan kita yakin akan ada restoran Indonesia disemua kota-kota besar dunia.

Yang menarik adalah pertanyaan orang banyak tentang bagaimana cara terbaik menikmati sajian kuliner Indonesia ?

Menikmati sajian kuliner Indonesia – barangkali bukan lagi sekedar ritual goyang lidah seperti sajian kuliner di negara lain, melainkan sebuah pengalaman yang lebih dalam yang lebih lekat dengan budaya dan tradisi, sehingga tradisi makan di Indonesia memiliki kedalaman dan keakraban budaya yang sangat berbeda.

Indonesia memiliki “Jejak Kejayaan” dalam tradisi makan. Sehingga seorang antropolog mengatakan kalau di luar negeri barangkali makan itu memiliki jenjang antara makan kecil hingga makan besar. Makan kecil artinya jamuan makan sederhana, sedangkan makan besar artinya jamuan makan yang sangat lengkap. Budaya makan besar inilah yang misalnya dalam jaman kolonial Belanda menjadi tradisi makan besar yang disebut – “rijsttafel “ (makan dengan lauk pauk lebih dari 40 macam hidangan). Konon “Jejak Kejayaan” ini bukan saja dalam tradisi “makan besar” tetapi juga dalam ungkapan yang khas yaitu “Makan Enak”. Sang Antropolog meng-klaim bahwa “Makan Enak” barangkali sangat sukar untuk diterjemahkan menjadi ungkapan yang sama dalam bahasa dan budaya lain.

“Jejak Kejayaan” seni kuliner Indonesia sangatlah banyak dan juga beragam. Mulai dari pemahaman rempah-rempah dan bumbu hingga tekhnik mengolah dan memasak. Contoh yang paling sederhana barangkali adalah Tempe, yang merupakan salah satu “Jejak Kejayaan” seni kuliner Indonesia yang termuat dalam buku Serat Centhini di abad ke 16-17 sebagai produk ciptaan asli Indonesia, dan sedang diperjuangkan menjadi Warisan Budaya Dunia Unesco tahun 2021.

Seni kuliner Indonesia yang memiliki “Jejak Kejayaan” yang sangat panjang, tidak hanya legendaris dalam menciptakan kuliner yang spektakuler tetapi juga menjadi kawah candra dimuka yang melahirkan sejumlah fusi inovasi dari negara-negara lain. Misalnya saja Tiongkok mungkin adalah pencipta kecap, sejak abad ke 2 Masehi, namun Indonesia-lah yang melakukan inovasi hingga muncul kecap manis yang sangat unik dan diperkaya dengan rempah-rempah Indonesia. Kecap manis barangkali akan mengikuti tempe sebagai salah satu “jejak kejayaan” seni kuliner Indonesia.
Kecap manis menjadi sangat dominan dalam seni kuliner Indonesia, dan mungkin peran-nya sebagai saus universal akan sangat sulit digantikan oleh bumbu lain. Sehingga ada ungkapan “apalah artinya hidup ini tanpa kerupuk dan kecap manis !”

Yang juga sangat menarik – catatan sejarah tentang kerupuk dan sambal di Indonesia muncul secara berbarengan sekitar abad ke 10 dalam berbagai literatur dan prasasti. Sejak itu hampir setiap hidangan dalam seni kuliner Indonesia memiliki sambal dan kerupuk yang berbeda, sebuah keunikan yang tidak kita jumpai dalam seni kuliner yang lain.

“Kisah Sepotong Ikan Asin”

Hampir 30 tahun yang lalu saya diberi oleh-oleh sebungkus ikan asin oleh seorang teman. Konon ikan asin itu adalah oleh-oleh khas dari kota Tegal. Karena tidak tahu nilainya, ikan asin itu saya berikan kepada pembantu saya. Pembantu saya berbinar-binar ketika melihat ikan asin itu, seperti layaknya melihat sebuah harta karun yang sangat langka. Malam harinya ketika makan malam saya disuguhi pembantu saya pepes ikan asin itu. Kelezatannya sangat maut sekali. Barangkali itulah makanan yang paling lezat yang pernah saya santap seumur hidup saya. Pembantu saya baru kemudian bercerita bahwa itulah ikan asin kuro yang legendaris dan masyhur. Satu minggu itu pembantu saya memasak sejumlah hidangan super lezat dengan ikan asin itu, mulai dari hanya digoreng biasa, dicampur dalam nasi goreng, hingga menjadi bumbu telur dadar. Barangkali saat itu adalah titik pencerahan tertinggi saya tentang kuliner Indonesia.

Tak lama berselang ketika saya berkunjung ke Hongkong – seorang kolega saya mengajak saya wisata kuliner disebuah restoran, diakhir jamuan kami dihidangkan sajian nasi goreng yang luar biasa lezatnya. Kolega saya mengatakan bahwa bumbu rahasia sesungguhnya adalah ikan asin. Waktu itu saya terperanjat bukan main dan saya langsung teringat pencerahan saya dengan ikan asin kuro oleh pembantu saya. Pengalaman kuliner tentang ikan asin ini kemudian berlanjut ke berbagai benua. Di Jepang suatu saat saya disuguhkan ikan teri asin yang dijadikan camilan. Gurih dan membuat saya ketagihan luar biasa. Dan di Italy suatu saat saya disajikan pizza dengan taburan ikan asin. Juga sangat lezat dan membuat saya ketagihan. Saat itu saya berpikir dalam ternyata ikan asin itu sesungguhnya sangat mendunia. Karena bisa kita temui dalam tiap kultur dan budaya.

Kisah tentang ikan asin ini kemudian berlanjut, ketika saya diajak berdiskusi dengan seorang ahli kuliner. Beliau bercerita bahwa ikan asin ada hampir disemua budaya dan kultur, karena ikan asin ini kaya dengan cita rasa umami.

Umami dalam dunia kuliner dikenal sebagai cita rasa ke 5, dan cita rasa inilah yang kemudian menjadi dasar cita rasa dalam MSG, yang membuat sebuah hidangan menjadi sangat gurih dan lezat. Menurut ahli kuliner ini, di Jepang secara tradisional serutan ikan tuna sering ditambahkan di hidangan berkuah karena kaya dengan rasa umami ini. Ini yang menjadi rahasia populeritas ikan asin dan kelezatannya dalam berbagai tradisi kuliner.

Uniknya dalam sebuah diskusi tentang kuliner Indonesia, saya pernah ditanya tentang masakan Indonesia yang perlu kita angkat dan kita populerkan sebagai daya tarik kuliner dunia. Ketika saya menyebut ikan asin, maka saya ditertawakan ramai-ramai di forum. Kisah ini kemudian saya ceritakan kepada mentor saya, Mpu Peniti. Beliau juga ikut tertawa terbahak-bahak. Hati saya menjadi galau luar biasa.

Minggu berikutnya saya diajak mentor saya ke sebuah pasar di Jakarta yang menjual berbagai jenis ikan asin. Saya terus terang kaget luar biasa. Karena setelah saya hitung, jenis ikan asin yang dijual itu, jenisnya lebih dari selusin. Kegalauan saya berubah menjadi kekaguman luar biasa !

Konon sejak abad ke 9 dan 10 diberbagai prasasti yang ditemukan diberbagai wilayah Nusantara sudah ditemukan bukti-bukti tentang adanya industri ikan asin. Bukti ini juga didukung dengan bukti-bukti lain tentang industri pembuatan garam. Dongeng ini kemudian menjadi bukti sejarah bagaimana nenek moyang kita berhasil secara naluri mengembangkan sebuah “kearifan lokal”. Karena mereka berhasil “memanfaatkan” nilai geografis kita yang berupa kepulauan dan yang “kaya” dengan hasil ikan-ikan – lalu memadukan-nya dengan “keahlian” mengawetkan ikan dengan pengembangan industri garam ! Sehingga menjadi sebuah kekayaan kuliner dan budaya yang sangat luar biasa.

Mpu Peniti, mentor saya kemudian bertutur, bahwa kita yang sangat kaya dengan budaya seringkali meremehkan sejarah dan budaya kita. Barangkali itu yang terjadi dengan ikan asin. Kita semua meremehkan ikan asin. Kita menganggap enteng ikan asin. Mengutuknya sebagai makanan murahan dan makanan orang miskin. Kita gagal melihat potensinya. Kita miskin visi untuk menjadikan ikan asin Indonesia sebagai sebuah potensi kuliner yang dahsyat.

Jonathan Swift (30 November 1667 – 19 October 1745) seorang pemikir pernah mengatakan bahwa visi adalah sebuah penglihatan yang nyata bagi seorang pemimpin -  yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Dan visi adalah salah satu kualitas pemimpin besar.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa Indonesia memiliki begitu banyak “ jejak kejayaan” mulai dari tradisi, budaya, sejarah dan kearifan lokal. Jejak kejayaan ini sambung menyambung menjadi sebuah mozaik kekayaan dan kemakmuran yang menunggu masa panen. Dan jejak kejayaan ini semakin dekat menjadi takdir kejayaan. Misalnya saja Indonesia tahun 2030 diramalkan akan menjadi ekonomi terbesar ke 5 di dunia dengan nilai ekonomi US$ 5.424 triliun. Bagi saya pribadi -saya yakin Indonesia akan mencapai takdir kejayaan-nya. Bukan-kah nenek moyang kita pernah juga memberi wangsit dan warisan – bahwa Indonesia akan “Gemah Ripah Loh Jinawi tata tentrem kerta raharja”

Barangkali masalahnya kita selalu bertanya – kapan takdir kejayaan itu akan terwujud ?. Berangkat dari tantangan ini - disaat Hari Kebangkitan Nasional yang keramat ditahun 2018 ini, mungkin kita bisa memberikan sentilan baru. Yaitu Kebangkitan Kuliner Indonesia memenuhi Takdir Kejayaan-nya di dunia Internasional. Siapa tahu di hari Kebangkitan Nasional 2018, ada pemimpin kita yang mau merenung bahwa kejayaan Indonesia sebenarnya jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan – bahwa tempe, sambal, kerupuk dan ikan asin bisa menjadi inspirasi nyata jalur kejayaan yang seharusnya kita tempuh. Yang terpenting adalah mengobarkan semangat takdir kejayaan itu – bahwa sebagai bangsa kita punya takdir kejayaan yang harus kita wujudkan bersama-sama dengan segenap rakyat Indonesia.

Saturday, October 28, 2017

SUMPAH PEMUDA 2017


Seorang Ibu dengan prihatin menulis sebuah email yang sangat panjang. Intinya ia menceritakan bagaimana kehidupan putra dan puterinya tergerus globalisasi. Sesuatu yang sangat wajar sebenarnya. Dan tidak akan mampu kita hindari. Namun dalam ceritanya itu, sang Ibu memiliki sebuah kesedihan panjang, bahwa kita menjadi miskin nilai. Kita menjadi anonim. Yang membuat kita gamang dan akhirnya menjadi mudah dipengaruhi. Sang Ibu mencontohkan kita ini ibarat sebuah baju putih yang kotor dan merindukan deterjen. Sebelum ia mengakhiri emailnya, sang Ibu bertanya – “Apakah kita butuh sebuah Sumpah Pemuda yang baru ?”

Saya jadi inget waktu sekolah dulu. Setiap Senin pagi diawal bulan, dilapangan olahraga selalu digelar upacara bendera. Disamping kita harus fasih bisa menyanyikan Indonesia Raya, kita juga harus bisa menghafal Sumpah Pemuda. Saat itu Sumpah Pemuda lebih bermakna sebagai hafalan wajib. Memang kita diajarkan juga sejarahnya mulai dari gerakan Kebangkitan Nasional di tahun 1908 hingga Sumpah Pemuda itu sendiri di tahun 1928. Yang tidak diajarkan kepada kami adalah hubungan strategis dari 3 elemen, yaitu tanah air, bangsa dan bahasa.

Waktu berjalan dengan cepat, ketika saya mulai bekerja seusai kuliah, barulah kemudian saya bertemu dengan teman-teman yang lebih cerdas menjabarkan nilai strategis Indonesia baik dari bentuknya yang berupa kepulauan hingga kekayaan alamnya, serta potensi ekonomi dan geopolitiknya. Dari semua penjelasan itu, hanya ada satu yang menjelaskannya kepada saya dengan gamblang dan sederhana. Saat itu saya masih bekerja di Pasar Swalayan Hero, dan saya bertemu dengan seorang pecinta makanan. Kalau istilah jaman sekarang seorang “Foodie”.

Lewat beliau inilah saya mendapat sejumlah dongeng, tentang kuliner Indonesia. Dongeng beliau selalu menawan dan menggugah imajinasi. Hingga suatu hari di bulan Oktober di tengah teriknya matahari kami menyantap sate kambing di Pancoran. Awalnya beliau bercerita sate hingga akhirnya entah bagaimana beliau akhirnya berkisah soal keragaman dalam kuliner Indonesia. Menurut beliau seni kuliner Indonesia intinya adalah keragaman. Ini yang sangat sulit dimengerti koki dari luar negeri. Sehingga vonis-nya selalu masakan Indonesia itu sangat sulit, nyelimet dan kompleks. Sebagai contoh beliau menjelaskan bahwa misalnya dalam kuliner di negara lain, sayur mayur dijadikan hidangan yang jauh sangat sederhana.  “Salad” secara harafiah sebenarnya  merupakan aneka sayur dan buah yang umumnya disajikan mentah lalu kemudian diberikan saus-saus  yang bisa berbeda dan umum dikenal sebagai “Salad Dressing”. Indonesia tidak mengenal jenis “Salad” secara persis. Namun kita punya sejumlah hidangan sayur mayur dan buah yang karena dipengaruhi berbagai budaya akhirnya  boleh saja dikatakan “Salad” ala Indonesia. Uniknya cara kita menyajikan sangat beragam, ada yang mentah, ada yang direbus, dan ada yang sudah diawetkan sebagai asinan. Ragamnya mungkin lebih dari selusin. Disinilah beliau menjabarkan bedanya antara gado-gado yang diulek dengan gado-gado siram. Beliau juga menceritakan bedanya karedok, pecel dan gado-gado. Juga bedanya asinan peranakan dan gado-gado peranakan. Waktu itu saya cuma mengangguk-angguk tanda kagum. Hari ini saya mengenang percakapan itu lebih dalam dan merasakan kebijakan ceritanya, tentang nilai keragaman yang dimiliki Indonesia. Disini saya baru merasakan keharuan yang luar biasa.

Tantangan seperti ini, tidak jarang membuat masakan Indonesia menjadi sangat sulit dipopulerkan. Padahal keragaman dan kemajemukan  itu tidak sepatutnya menjadi kompleksitas yang menyulitkan. Keragaman itu seharusnya menjadi sebuah persekutuan yang lezat dan indah. Sebuah eksotisme yang sangat langka.  Dalam analogi yang unik dan berbeda lagi, teman saya bercerita tentang keragaman lain di Indonesia. Menurut beliau hampir tiap hidangan di Indonesia, memiliki dua pasangan pedamping yang jarang diperhatikan orang. Yang pertama adalah sambal dan yang kedua adalah kerupuk. Tiap hidangan dalam khazanah kuliner Indonesia memiliki pasangan sambal dan kerupuk yang berbeda-beda. Sebut saja soto dari berbagai daerah di Indonesia, hampir semuanya memiliki jodoh dan pasangan sambal dan kerupuk yang berbeda-beda. Tanpa pasangan sambal yang tepat dan kerupuk yang pas, maka makan kita jadi kurang nikmat.

Sambal dan kerupuk adalah jodoh sejati seni kuliner Indonesia, begitu dongeng teman saya. Baginya dua hal inilah yang menjadi pengikat akhir sebuah cita rasa masakan Indonesia. Diakhir cerita teman saya dengan eloknya menjadikan Sumpah Pemuda yang dicetuskan tahun 1928 itu sebagai sebuah perumpamaan yang sederhana. Bahwa masakan Indonesia dengan kerupuk dan sambal merupakan satu ikatan yang tak terpisahkan. Antara tanah air, bangsa dan bahasa adalah kesatuan yang tak terpisahkan. Sebuah perumpamaan yang sederhana tapi menurut saya sangat pas dan bagus. Menurut beliau sebuah tanah air bisa saja elok dan permai. Tapi tanpa bangsa dan bahasa yang berbudaya maka tanah air itu menjadi hampa. Ibarat sebuah makanan yang hampa tanpa jiwa. Istilah populernya – “cemplang dan hambar”.

Barangkali disekolah kita cuma diajarkan Bhineka Tunggal Ika tanpa mengerti arti dan nilainya. Sebuah slogan saja. Padahal koneksitas Bhineka Tunggal Ika dengan Sumpah Pemuda sangat dalam dan bercerita tentang keragaman. Seorang anthropolog teman saya pernah berkomentar : “Bayangkan saja menurut data terakhir tahun 2017 – Indonesia memiliki 16.056 pulau.”  Padahal setahun sebelumnya Indonesia baru bisa mem-verikasi 14.572 pulau sehingga ada dugaan tahun 2018 jumlah pulau Indonesia akan terus bertambah. Itu baru jumlah pulau. Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia – kita memiliki 1211 bahasa (1158 bahasa daerah). Keragaman kita secara fisik dan budaya sangat luar biasa. Barangkali ini perlu diajarkan kepada anak-anak kita disekolah. Makna dan nilainya secara strategis baik secara politik dan ekonomi.

Ini saya kutip dari – blog perpustakaan NTU di Singapore : “Wilayah tanah Indonesia luasnya hanya 1,3% planet bumi. Namun Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dalam hal keanekaragaman hayati. Indonesia adalah kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau dengan ekosistem sangat unik yang mengandung sejumlah besar spesies sangat beragam.   Menurut Conservation International, Indonesia adalah satu dari 17 negara yang paling beragam, dengan 2 dari 25 titik api biodiversitas di dunia. Dengan 24 Burung Endemik yang hampir punah.  Indonesia memiliki kekayaan 10% spesies berbunga di dunia (25.000 tanaman berbunga) dan menempati peringkat sebagai salah satu pusat dunia untuk agro keanekaragaman hayati kultivar tanaman dan ternak rumahan. Untuk keragaman fauna, sekitar 12% mamalia dunia (515 spesies) ada di Indonesia, menjadikan Indonesia  di posisi kedua, setelah Brasil. Indonesia berada diurutan ke-empat untuk kekayaan reptil dan primata - sekitar 16% reptil dunia (781 spesies) dan 35 spesies primata ada di Indonesia. Selain itu, 17% dari total spesies burung (1.592 spesies) dan 270 spesies amfibi dimiliki Indonesia yang membuat Indonesia tampil masing-masing di urutan kelima dan keenam di tingkat global.”


Dalam perenungan saya, tersirat bahwa mungkin kita tidak memerlukan sebuah Sumpah Pemuda yang baru. Sumpah Pemuda tahun 1928 sudah bagus, baik, dan benar. Hanya saja kita perlu mendalami maknanya. Siapapun yang memimpin negeri dan bangsa ini kiranya bisa menjadikan Sumpah Pemuda sebagai sebuah strategi ekonomi yang baru. Barangkali ini visi yang terpendam, sejak jaman Sriwijaya, hingga Majapahit. Bahwa selayaknya Indonesia ini memiliki masa depan yang gemilang, hanya dengan menjaga keutuhan tanah air, bangsa dan bahasa kita. Indonesia !