Tuesday, April 18, 2017

MATI RASA


Betapa sering kita menemukan kerabat atau sahabat yang hidupnya sangat sunyi menjelang usianya yang senja. Teman saya seorang pemerhati masalah sosial budaya menyebutnya sebagai “mereka yang tidak kita sayang”. Kebetulan belum lama ini saya melayat seorang kerabat yang kebetulan wafat. Usianya menjelang 60 tahun, pria, tidak menikah dan masih hidup menumpang dengan ibunya. Wajahnya tidak terlalu ganteng, kebetulan sekolahnya tidak selesai, tidak memiliki karir yang jelas, tidak pandai bergaul. Kerabat saya meninggal setelah terjatuh di kamar mandi. Barangkali sebuah cerita yang kita dengar terlalu sering. Bahwa hampir dalam tiap keluarga kita menemukan kasus yang serupa. Seseorang yang boleh dikatakan nasibnya kurang beruntung dan seringkali menjadi kasta yang hampir terbuang dan menjadi kelompok “mereka yang tidak kita sayang”. Terus terang ketika melayat tempo hari saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Karena saya bisa merasakan kesunyian hidup yang ia derita diakhir hidupnya. Ketika kuliah saya juga pernah merasakan kebimbangan yang sama, apakah kita akan punya karir yang sukses ? Menjadi orang yang populer ? Banyak teman dan disukai oleh orang banyak ? Memiliki hidup yang tidak sunyi ?

Teman saya yang pemerhati masalah sosial itu, pernah memperlihatkan kepada saya sebuah film dokumenter tentang orang-orang gelandangan di Amerika yang tidak memiliki rumah – tinggal dijalan dan menjalani hidup yang sangat sunyi. Teman saya menjelaskan bahwa sebagai masyarakat moderen dengan interaksi kemanusian yang semakin terjarangkan dan waktu kita semakin dijajah oleh tekhnologi, kemampuan kita berkomunikasi yang tulus dan intim antara sesama manusia menjadi berkurang intensitasnya. Dan cenderung menjadi basa basi. Percakapan yang cerdas antara sesama manusia menjadi langka. Puisi menjadi spesies yang terancam punah. Musik cenderung menjadi bunyi yang monoton. Kemampuan kita bicara hati ke hati dengan jiwa kita menjadi encer dan tidak lagi menggugah. Kita kehilangan suara jiwa. Lumpuh secara artifisial.

Lalu kekaguman kita menjadi sangat semu. Kita hanya menoleh pada mobil mewah, bau parfum yang menggoda dan gelak tawa sesaat. Maka kemampuan kita menyayangi kerabat, keluarga dan sahabat menjadi sangat terbatas. Pertalian jiwa kita menjadi semu. Itu sebabnya “mereka yang tidak kita sayang” menjadi kaum rata-rata yang semakin banyak. Tanpa kita sadari sebenarnya kita menjelma rupa kesebuah penampakan yang sangat berbeda di sosial media. Kita jadi rajin melatih diri agar kita tampil berbeda di sosial media, agar kita menarik perhatian orang lain, agar kita disukai. Percaya atau tidak kita sebenarnya adalah pelacur sosial media. Kita mendambakan kasih sayang artifisial – dari sebuah “like” – “follower” atau “comment”.

Mpu Peniti – mentor saya, menyebutkan sebagai sebuah fenomena “Mati Rasa” yang sangat serius. Panca indera kita secara fisik mungkin masih normal, tetapi panca indera jiwa kita menjadi gersang, tandus, tumpul dan mati. Saya sendiri sangat merasakan itu. Belum lama ini, ketika saya bertemu dengan seorang teman jaman kuliah, dia mengatakan bahwa ia sangat merindukan percakapan panjang dimasa kuliah. Pernah sekali sehabis sebuah pesta, kami bicara berjam-jam hingga subuh hanya tentang puisi dan novel George Orwell – 1984. Kita berdua bicara tentang ketakutan kita untuk masa depan yang belum jelas. Dan pembicaraan seperti itu rasanya sangat langka dijaman ini. Akibatnya emosi jaman sekarang tidak lagi kita nikmati dalam wujudnya yang jujur dan apa adanya, sehingga bisa kita nikamti dan kita rasakan menjadi penyembuh luka jiwa. Emosi jaman sekarang menjadi sebuah lambang di halaman sebuah sosial media. Semuanya serba semu belaka.

Karena erosi nilai yang semakin korosif ini, akhirnya jaman mendorong kita pada ketumpulan “mati rasa” yang dikatakan oleh Mpu Peniti itu. Teman saya lebih lanjut mengatakan bahwa salah satu akibatnya, kita sebagai masyarakat kehilangan arti pada sebuah nilai-nilai dasar. Misalnya ia menuduh masyarakat kita tidak tahu arti sesungguhnya tentang kebaikan. Saya tentu saja kaget dan terperangah. Bagaimana mungkin ???

Karena menurut Gallup Poll – orang Indonesia adalah bangsa yang paling dermawan nomer dua didunia tahun 2016. Bukankah artinya orang Indonesia semuanya mengerti kebaikan ? Teman saya menyanggah dengan mengatakan bahwa orang Indonesia terlatih berbuat baik seperti menyumbang. Artinya bila terjadi bencana alam, orang Indonesia tidak pernah segan menyumbang dan dengan mudahnya menyumbang. Menurut teman saya, orang Indonesia gagal mengerti mana yang baik dan benar. Teman saya menggugat bahwa dalam index persepsi korupsi dunia – posisi Indonesia tahun 2016 adalah 90 mundur dari posisi 88 pada tahun 2015. Artinya orang Indonesia tidak merasa berdosa – tidak merasa salah dengan melakukan korupsi. Secara kasar teman saya menuduh kita gagal membedakan mana yang baik dan benar. Walaupun kita sangat terlatih berbuat kebaikan. Kita boleh saja mudah berbuat baik misalnya berderma, namun kita sesungguhnya “mati rasa” dalam arti kebaikan yang sesungguhnya.

Barangkali sangat sulit bagi kita untuk menerima pendapat teman saya itu secara gamblang dan tuntas. Mungkin benang merahnya belum terlihat jelas dan masih tersamar. Tetapi fenomena “mati rasa” rasanya sulit terbantahkan. Saya merasakan bahwa ini merupakan sebuah tepukan di bahu yang memperingatkan kita tentang sebuah bahaya didepan. Kita perlu waspada dan hati-hati. Ditengah erosi yang membuat kita semakin tenggelam, sebagai manusia dan bangsa kita butuh tampil kepermukaan menjadi lebih baik. Mengasah panca indera kita tentang nilai-nilai kebaikan. Bukan hanya kepada sejumlah tindakan yang baik.

Dalam tradisi masyarakat moderen dimana kita terlatih mengurangi dosa dan rasa bersalah dengan beribadah dan mohon ampun. Berderma dan menyumbang kepada sesama. Mungkin yang lebih penting adalah bukan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Tetapi membiasakan diri menyemai kebaikan. Dan bukan melatih cara berhitung untuk berbuat baik agar dosa dan kesalahan kita dikurangi. Kebaikan perlu kita hayati dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Panca indera kita untuk mewujudkan kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari perlu kita tumbuhkan. Sebagai sebuah gaya hidup yang sehat.


#SEMAIKEBAIKAN

Monday, April 17, 2017

Sunday, April 16, 2017

JATUH 7 KALI – BANGKIT 8 KALI





Minggu lalu di Bandung, ketika saya mau masuk lift di hotel, tiba-tiba ada yang menepuk bahu saya. Ketika saya reflek menengok kebelakang, ternyata seorang teman  yang saya tidak pernah bertemu lebih dari 10 tahun. Seorang sahabat lama. Kami pun berpelukan dan saling menyapa akrab. Teman saya ini dulunya seorang pimpinan Bank swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Kini tubuhnya lebih kurus. Wajahnya menua. Namun terlihat segar dan bugar.

“Ini teman saya yang paling optimis” kata dia menyapa saya. Tanpa disengaja saya tertawa mengelak. Entah kenapa dia membaca sebuah keraguan dalam tawa saya. Lalu kami makan malam bersama. Dan kami saling bertukar cerita. Ia penasaran kenapa di tawa saya tadi ada kegalauan yang rada pesimis. Saya menuturkan bahwa barangkali saya lebih realistis sekarang. Sambil bercerita kepada beliau sejumlah rasa kuatir saya tentang kerapuhan yang sedang bergolak dalam masyarakat majemuk kita, dan bahaya kalau kerapuhan itu akhirnya menjadi nilai-nilai keropos bangsa ini.

Usai saya bercerita - ia bercerita tentang sesuatu yang membuat saya terkejut. Ia bercerita bahwa ia adalah “survivor” penyakit kanker. Menurutnya sebuah kalimat dari saya telah menyelamatkan hidupnya.  Lebih dari 10 tahun yang lalu ketika ia masih menjadi pejabat tinggi disebuah Bank, saya sempat memberikan “work-shop” pemasaran di perusahaan-nya. Entah kenapa teman saya ini mencatat sebuah pribahasa Jepang yang saya kutip diakhir “work-shop” itu. Kutipan itu adalah – "Nana korobi ya oki" atau terjemahan-nya “Jatuh tujuh kali ! Bangkit delapan kali”. Sebuah pribahasa yang sering saya gunakan untuk membangkitkan motivasi orang agar lebih optimis dalam kehidupan ini.

Saya sendiri diperkenalkan pribahasa ini sekitar pertengahan tahun 80’an oleh seorang eksekutif Jepang. Saat itu dengan serunya kami sedang membahas dominasi globalisasi Jepang mulai dari TV Games – mobil hingga kecap asin. Didalam diskusi seru itu – sang eksekutif bercerita tentang pribahasa termaksud, dimana esensi dari pribahasa itu melekat sangat dalam hampir disetiap aspek kehidupan masyarakat Jepang mulai dari kehidupan sehari-hari hingga seni dan juga bela diri. Intinya jangan pernah mau takut gagal. Jangan pernah mau menyerah. Selalu siap siaga. Kalau jatuh – bangun lagi. Dan seterusnya.

Sebuah konsep yang menyertai pribahasa tersebut adalah - gambaru (頑張) yang secara sederhana dapat kita terjemahkan sebagai semangat pantang menyerah. Bahwa apapun kesulitan yang kita hadapi, sebuah amanah, dan sebuah tugas selayaknya harus diselesaikan dengan tuntas tanpa terkecuali. Pelajaran dari teman saya ini melekat dalam pada diri saya. Yang pada akhirnya secara perlahan dan revolusioner menempa diri saya menjadi lebih percaya diri. Lebih optimis dalam kehidupan ini. Membantu saya dalam begitu banyak di pekerjaan dan hidup saya. Termasuk karir saya sebagai seorang motivator. Persepsi hidup saya jauh lebih relax dan melihat hidup sebagai sebuah tantangan dan bukan lagi sebagai sebuah lomba yang menentukan menang atau kalah. Hidup menjadi jauh lebih menarik – bahwa kita tidak selalu harus menang. Karena keberhasilan itu tidak selalu berarti sebuah kemenangan. Hidup menjadi lebih bernilai karenanya. Titik akhir bukan lagi menjadi sebuah garis finish. Titik akhir kini menjadi sebuah tempat kita bersujud untuk berterima kasih kepada Tuhan, bahwa kita diberi kesempatan untuk berkarya dan menyelesaikan karya itu dengan sebaik-baiknya.

Hellen Keller dalam kuliah legendaris-nya pada tanggal 22 Januari 1916 di Mabel Tainter Memorial – Wisconsin, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa semangat optimisme adalah sebuah modal yang membawa kita semua pada harapan dan percaya diri yang membuat kita berhasil. Kuliah Hellen Keller ini menjadi pegangan hidup saya bertahun-tahun.

Teman saya rupanya terkesan dengan semangat yang sama. Ia menuturkan bahwa pada saat ia menonton “work-shop” saya secara iseng ia mencatat pribahasa Jepang itu di sebuah buku oret-oretan-nya. Kemudian lupa sama sekali dengan pribahasa itu. Beberapa tahun kemudian ia terserang penyakit kanker. Ia berhenti dari pekerjaannya dan mencoba fokus untuk berobat. Sejumlah ketakutkan menghantui hidup dia. Mulai dari tidak bisa tidur, stress dan perubahan sikap menjadi pemarah.

Alkisah suatu malam ketika tidurnya terusik, ia bangun dan mencoba membaca diruang kerja-nya dirumah. Ketika sedang mencari bahan baca-an, ia menemukan buku oret-oretan lama itu. Entah itu sebuah keajaiban atau apa, ia pun tidak pernah pasti. Tanpa sengaja ia membaca pribahasa Jepang itu. Seluruh perjalanan hidupnya mulai dari kuliah, menikah, punya anak hingga sakit tiba-tiba terlintas satu babak demi satu babak di ingatan-nya. Ia merasakan benar betapa pribahasa itu menjadi sebuah tiang kehidupan dalam perjalanan karir dan hidupnya. Pribahasa itu melukiskan hidupnya secara pas selama puluhan tahun. Bahwa ketika ia optimis dan berjuang pantang menyerah. Hidup ini selalu memberikan ia sebuah ganjaran kebaikan yang positif. Ia pun melahirkan sebuah tekad baru. Sama dengan tantangan lainnya ia akan melawan penyakitnya. Ini cuma tantangan dalam bentuk lain. Ia bertekad melewati garis finish yang berikutnya. Dengan optimis dan penuh semangat ia maju dan berobat. Ia berhasil melawan sang penyakit.

Beberapa tahun terakhir ia mencoba mencari saya. Ia merasakan satu kalimat dari saya berhasil menyelamatkan hidup-nya. Barulah malam itu kami sempat bertemu dan ia bercerita tentang pengalaman-nya. Kami berdua akhirnya mensyukuri kejadian itu. Saya mengalami kejadian serupa itu sangat banyak. Bentuknya selalu berbeda. Itu sebabnya saya mencintai pekerjaan saya sebagai seorang inspirator dan motivator. Bukan karena “reward-nya secara finansial”, tetapi kesempatan saya untuk menebar bibit-bibit kebaikan. Karena saya selalu yakin kebaikan yang kita sebarkan akan tumbuh dan seringkali membawa kebaikan dan kebahagian bagi banyak orang.

Bersikap optimis dalam kehidupan ini, adalah langkah pertama yang terpenting dalam kehidupan ini. Sikap yang paling kritis. Tanpa optimisme hidup kita tak ubahnya seperti sebuah buku, dimana tiap halaman memperlihatkan keraguan dan ketakutan yang berbeda-beda. Buku ini bisa saja sangat tebal, karena keraguan dan ketakutan dihalaman sebelumnya akan berlipat ganda menjadi sebuah cerita yang diujung-nya berakhir sangat tragis.


Monday, January 19, 2015

Customer Engagement



Didekat kantor saya barangkali ada lebih dari selusin penjual gado-gado. Tapi favorit saya selalu adalah punya-nya Mas Heru. Awalnya saya tidak peduli dengan pilihan gado-gado di kantor saya. Karena hampir semuanya terasa sangat mirip. Kalaupun berbeda -seringkali perbedaan-nya terlewatkan begitu saja tanpa kita sadari. Sampai suatu hari, staff saya dikantor mulai mendongeng soal Mas Heru. Cerita staff saya - gado-gado mas Heru paling laris. Seringkali harus ngantri, karena yang beli banyak. Penasaran, sayapun bertanya apa sebabnya. Staff saya lalu mulai promosi. Dengan lugas ia mengatakan Mas Heru orangnya resik. Gerobak gado-gadonya paling bersih. Dan lebih asli, karena ada campuran sayur pare. Juga jagungnya lebih manis. Dan kalau mau beli setengah porsi juga dibolehkan.

Dari cerita diatas - saya analisa ada lebih dari 5 hal yang pokok. Pertama - Mas Heru langganan-nya banyak. Kedua - Mas Heru paham akan nilai kualitas, seperti menjaga kebersihan. Ketiga - Mas Heru cukup inovatif dengan menyajikan sayur pare dan jagung paling manis. Sehingga gado-gadonya diklaim lebih asli alias otentik. Ke-empat Mas Heru pelayanan-nya lebih baik karena membolehkan langganan membeli 1/2 porsi. Tapi yang paling luar biasa, adalah yang ke lima - dimana Mas Heru bisa memotivasi staff saya untuk menjadi duta besar produk gado-gadonya, dan mempromosikan gado-gadonya ke siapa saja, termasuk saya. Dalam ilmu pemasaran jaman kini, kita boleh menyimpulkan bahwa Mas Heru telah berhasil menciptakan sebuah proses Customer Engagement yang sangat berhasil dan efektif.  

Usaha Mas Heru boleh saja sederhana. Hanya menjual gado-gado. Tapi prestasinya menjadi yang paling laris dan paling banyak langganan di antara selusin penjual gado-gado, merupakan sebuah prestasi tersendiri. Kelihatan mudah, tapi butuh ketekunan yang luar biasa. Disinilah rahasia Customer Engagement yang sesungguhnya. Sebuah strategi yang sangat sederhana namun ampuh untuk memenangkan persaingan.

Setiap kali saya ke Djogdjakarta, kalau ada waktu saya selalu sarapan soto daging di tempat Bu Cip, didekat Jalan S. Parman di dekat Taman Sari. Warung soto daging Bu Cip sangat kecil. Tidak seperti pesaingnya yang lebih terkenal yang menyediakan tempat makan lebih besar. Tetapi buat saya tetap warung soto daging Bu Cip yang paling favorit. Bu Cip punya tradisi unik. Ia hampir selalu ingat langganan-nya. Jadi setiap kali kita berkunjung ke warungnya, beliau selalu saja menyapa kita dengan intim dan selalu ingat dengan kita. Entah itu bakat yang luar biasa dengan Bu Cip atau karena beliau punya kedisplinan untuk mengingat para langganannya. Yang saya rasakan adalah tradisi Bu Cip menyapa saya dengan akrab dan intim membuat saya merasa penting. Seolah saya adalah langganan penting Bu Cip. Hal ini rasanya membanggakan sekali. Ini sebuah sentuhan tersendiri. Sebuah Customer Engagement yang berhasil dan manjur. Karena membuat saya setia menjadi langganan. Customer Engagement yang berhasil memang biasanya menciptakan loyalitas.

Hampir 20 tahun yang lalu para pemasar melihat bahwa pelayanan yang baik menjadi senjata persaingan. Kenyataannya memang demekian. Perusahaan yang mampu menciptakan pelayanan terbaik biasanya unggul menjadi pesaing. Hal ini bisa kita lihat hampir disemua usaha atau bisnis. Mulai dari rumah makan, hotel, toko hingga bengkel. Pelayanan atau service menjadi sedemikian penting hingga para pemasar mendefinisikan ulang konsep pelayanan yang baik. Dan konsep yang populer saat ini adalah Customer Engagement. Kalau 20 tahun yang lalu pelayanan adalah salah satu komponen terpenting, kini pendapat itu bergeser. Komponen terpenting adalah pelanggan. Dan bagaimana kita bisa menciptakan sebuah bisnis atau usaha dengan pelanggan sebagai fokusnya. Itu sebabnya tantangan kita tidak lagi hanya melayani, tetapi menciptakan sebuah sistim interaksi yang disebut "engagement". Mulai dari mengenali konsumen, membuat konsumen menjadi langganan, menciptakan sistim pelayanan terbaik, dan memotivasi langganan anda untuk ikut menjadi duta besar yang mempromosikan bisnis anda. Sistim terpadu ini kita sebut Customer Enggagement.
  
 Saya pernah punya bengkel favorit. Sebenarnya lebih tepat bengkel favorit supir saya. Kebetulan anak pemilik bengkel adalah teman saya juga. Harga dan ongkos bengkel itu tidak murah. Biasanya lebih mahal. Tapi tetap saja bengkel itu ramai dan laris. Suatu hari saya berkesempatan main ke bengkel ini. Didepan bengkel terpajang sebuah mobil Toyota Corolla tua. Namun terlihat kokoh dan mulus. Itu adalah mobil kebanggaan ayah teman saya. Hampir sejam saya mengamati bagaimana teman ayah saya menyapa para supir yang datang dengan sangat akrab. Mereka ngobrol seperti teman lama dengan sangat intim. Mulai dari soal mesin hingga pelumas dan 1001 topik yang berbeda. Terlihat betul ayah teman saya tidak canggung ngobrol dengan para supir. Malah terlihat sekali bagaimana para supir mengagumi ayah teman saya itu. Dan dimata para supir - ayah teman saya adalah seorang "suhu" yang paham semua masalah mobil.

Sore hari ketika bengkel mulai sepi, saya berkesempatan ngobrol dengan ayah teman saya. Ia punya filosofi yang sangat unik. Ia bercerita bahwa biarpun langganan sesungguhnya adalah pemilik mobil, tetapi 80% yang datang ke bengkelnya adalah para supir. Jadi dia harus bisa bergaul dengan para supir-supir ini. Tanpa dukungan para supir - bisnisnya amblas tidak memiliki arti. Mobil Toyota Corolla tua yang dipajangnya didepan bengkel, adalah simbol kesaktian ilmunya. Bahwa ia terbukti jago dalam merawat mobil. Simbol ini penting. Para supir mengakui kesaktiannya lewat simbol ini. Itu sebabnya para supir gemar dan suka ngobrol dengan ayah teman saya. Dan ayah teman saya tidak pernah pelit membagi ilmunya.

Ayah teman saya punya pandangan yang unik. Beliau mengatakan semakin banyak supir belajar dari dirinya semakin baik. Dan itu sama sekali tidak mengurangi bisnisnya. Orang lain mungkin takut. Semakin jago supirnya semakin pintar merawat mobil dan semakin jarang ke bengkel. Ayah teman saya berpendapat berbeda. Menurutnya supir yang pintar dan berpengetahuan luas soal mobil, rata-rata mampu mengenali masalah mobilnya jauh-jauh hari. Sehingga sebelum mobilnya bermasalah besar, biasanya supir sudah kebengkel terlebih dahulu. Akibatnya bisnis bengkel itu lebih laris dan ramai.

Tetapi yang paling penting, para supir lebih percaya diri dalam merawat mobilnya. Para supir juga semakin percaya dengan keampuhan dan kesaktian ayah teman saya. Pokoknya kalau ada masalah - datang ke bengkel ayah teman saya, pasti sembuh dan manjur.

Dahulu, saya berpikir ayah teman saya ini unik. Namun sekarang saya mengerti 100%. Bahwa yg dijalankan oleh ayah teman saya semata-mata adalah sebuah konsep Customer Engagement terpadu. Ia lebih awal menerapkan-nya dibanding orang-orang lain. Nyatanya memang menjadi kunci suksesnya.



kafi kurnia

+62 81 2919 888

Monday, April 14, 2014

MUNGKINKAH PARTAI ISLAM MEMBENTUK KAOLISI 2014 ?


Ini fenomena politik yang paling menarik. Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di-dunia. Namun dalam 4 pemilu sejak 1999, suara mereka yang disalurkan lewat partai berafiliasi Islam tidak pernah dominan diatas 50%. Tahun 1999, 4 partai berafiliasi Islam seperti PKB,PPP,PAN dan PBB meraih 32,38% suara. Tahun 2004, masuk PKS meramaikan panggung politik, dan perolehan suara tidak naik banyak hanya 35,12 %. Padahal jumlah partai politik peserta pemilu tahun 1999 ada 48 partai, dan tahun 2004 menciut menjadi separuhnya hanya 24 partai. Pada masa itu tidak terjadi efek luberan. Jumlah perolehan suara tidak bergeser banyak.

Tahun 2009, partai peserta pemilu kembali melonjak menjadi 44 partai, suara partai terafilliasi Islam memang turun drastis ke 25,94%. Tapi tahun 2014 dengan hanya 12 partai peserta pemilu, suara yang diperoleh hanya 31,78%. Lebih kecil dari pemilu tahun 1999 dan 2004. Matematikanya tidak menggairahkan. Hanya berkisar di 30% saja. Padahal hitungan sejumlah teman, harusnya tahun 2014, partai teraffiliasi Islam bisa menggelembung diatas 40% atau malah mendekati 50%. Mestinya begitu.

Lalu apa yang salah ? Politik di Indonesia memang masih didominasi oleh tokoh pimpinan partai. Ajaran, filosofi dan program partai datang nomer tiga dan nomer empat. Jadi rakyat dan pemilih masih melihat siapa tokohnya. Bukan organisasinya. Selama 15 tahun terakhir ini, memang partai teraffiliasi Islam, gagal menghadirkan tokoh kharismatik yang disukai dan di-idolakan oleh pemilih. Sejumlah perseteruan, didalam tubuh partai dan berbagai kasus korupsi yang ramai diberitakan media, juga merusak citra mereka sedikit banyak. Walaupun demikian kemerosotan suara tidaklah berarti. Mereka tetap berkisar di 30 persen selama 15 tahun. Artinya pemilih yang beragama Islam yang sangat konservatif akan tetap memilih partai teraffiliasi Islam, tanpa peduli apa-pun yang terjadi.

Melihat situasi yang unik ini, mestinya para partai teraffiliasi Islam, sadar dan merapatkan barisan bersama untuk membentuk koalisi Islam Indonesia. Koalisi ini belum pernah terjadi. Seorang teman bercerita bahwa koalisi ini hampir tak mungkin terjadi. Pertama karena terlalu banyak agenda dan tujuan-tujuan yang sangat berbeda. Sukar dijadikan satu dan membuat semua akur bersama. Disamping itu rasa percaya mereka diantara sesama juga belum terbukti. Dan ketiga mereka tidak punya tokoh yang bisa mempersatukan mereka bersama. Tokoh besar mirip raja Tiongkok yang bisa menjadi pemersatu.

Tetapi situasi politik berubah haluan dengan sangat cepat. Situasi tahun 2014, sudah sangat berbeda. Pertama apabila Jokowi menjadi Presiden, kemungkinan akan memutus sebuah generasi politik. Karena semua karir politikus pasca reformasi 1998 semuanya akan berakhir. Partai-partai politik di tahun 2019, harus menghadirkan tokoh muda baru, yang mampu melesat dalam 5 tahun dan menjadi meteor tokoh pimpinan nasional. Ini tantangan yang sangat sulit. Apabila tidak muncul tokoh nasional ini, maka kemungkinan Jokowi akan menjadi presiden 2 periode alias 10 tahun. Mampukah kita dalam 10 tahun mencari jagoan baru ?

Kedua apabila Jokowi kalah dengan Prabowo, dan Prabowo menjadi Presiden, maka situasinya juga akan mirip. Kemungkinan Prabowo akan jadi Presiden 2 kali alias 10 tahun. Tantangan kita akan tetap sama. Mampukah kita mencari tokoh pemimpin nasional baru dalam 10 tahun itu ?
Melihat kalkulasi yang menarik ini, maka saya berhitung bahwa koalisi Islam bakal menjadi kuda hitam 2014. Andaikata mereka mampu merapatkan barisan, rela mengesampingkan semua agenda dan tujuan golongan, dan mendapatkan seorang tokoh Nasional yang dapat dipercaya rakyat, bukan alasan tokoh tersebut menjadi Presiden 2014 Indonesia yang baru. Mereka punya peluang jadi kuda hitam 2014 dalam 3 bulan mendatang.

Memang kemungkinan-nya sangatlah kecil sekali. Membuang jauh-jauh semua ego masing-masing sangatlah sulit. Tetapi koalisi Islam saat ini, bukan didasari sebuah peluang semata. Menurut saya, lebih kepada alasan bertahan hidup. Bahwa partai terafiliasi Islam bisa saja suaranya jatuh dibawah 25% seperti ditahun 2009. Alasan klasik bahwa bersatu itu teguh dan menjadi sangat kuat, terasa menjadi kiat dan kebutuhan untuk tetap hidup dan bertahan. Juga menjadi sebuah peluang bahwa partai terafiliasi Islam bisa berjaya dan berprestasi terhadap kejayaan Indonesia.

Indonesia saat ini mencari tokoh Satrio Piningit, sesuai ramalan Joyoboyo. Sebagian orang sudah memutusakan siapa yang menjadi tokoh ini. Saya lebih memilih punya pemikiran terbuka. Berdoa bahwa dalam 3 bulan mendatang, tokoh ini memang akan muncul dan membawa Indonesia ke pentas kejayaan. Dan dalam semangat pemikiran yang terbuka, koalisi Islam barangkali merupakan sebuah hitungan peluang tersendiri. Kita patut meliriknya dan memikir-kan-nya.


Saturday, March 22, 2014

GUE MAU PRESIDEN YANG NGERTI PRIORITAS


Seorang pasien kanker paru-paru telah diberi vonis hidup hanya tinggal 3 bulan. Badan-nya sangat kurus. Selalu kelihatan letih dan lemas tidak bertenaga. Kebetulan sekali, keluarga memutuskan agar pasien berobat kepada dokter lain. Karena dokter yang lama tidak menunjukan kemajuan berarti. Dokter yang baru, tiba-tiba curiga karena melihat istrinya sang pasien juga kurus. Ia punya naluri dan memberikan tes kepada pasien dan istrinya. Ternyata kedua-nya mengidap penyakit TBC. Dokter lalu menyusun strategi prioritas. Dan ia mengambil keputusan untuk menangani penyakit TBC-nya baru kemudian kanker-nya. Awalnya keluarga sangat keberatan dengan usulan ini. Setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya seluruh keluarga setuju. Strategi dokter  yang menyusun prioritas pengibatan berhasil dengan baik. Pasien menjadi lebih gemuk. Bertenaga hingga mampu bertahan hidup hampir 2 tahun. Strategi prioritas boleh saja kelihatan sangat sederhana tetapi seringkali menjadi kunci sukses.

Teman saya, belum lama ini menggerutu. Marah dan mencaci maki. Menurutnya, kita - Indonesia ibaratnya diberikan kesempatan kedua pada tahun 1998. Sebuah era reformasi. Untuk memulai sesuatu yang baru dan kesempatan untuk menata masa depan bangsa dan negara Indonesia. Tetapi semua presiden sejak tahun 1999 hingga 2014, tidak ada satu-pun yang secara gamblang mengemuka-kan prioritas dan rencana mereka untuk Indonesia. Akibatnya kita tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Begitu kilah teman saya. Prestasi olah raga kita merosot. Korupsi meraja lela. Ekonomi berjalan dengan auto pilot. Kerusakan lingkungan semakin parah. Dan 15 tahun telah terbuang dengan percuma. Teman saya bertekad akan golput, apabila ia tidak menemukan satu calon presiden-pun yang punya rencana. Yang secara kritis bisa bercerita apa prioritas yang dimilikinya untuk memajukan Indonesia ke dimensi berikutnya.

Hidup, karir dan bisnis anda memang sangat memerlukan prioritas. Karena prioritas adalah strategi yang sangat kritikal. Teman yang lain bercerita bagaimana ia mengabaikan prioritas dan memiliki sejumlah penyesalan. Hampir 20 tahun yang lalu - karirnya sedang menanjak tajam. Ia saat itu sudah berkeluarga dan punya 3 anak yang masih kecil-kecil. Ia salah memilih prioritas. Ia memilih karirnya. Ia bekerja seperti orang gila. Hampir tiap minggu ia keluar kota. Tanpa ia sadar waktu berlalu dengan cepat. Anaknya semua sudah remaja. Ia kini punya banyak uang dan ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Namun terlambat, sang anak telah memiliki dunia yang berbeda. Punya teman dan pacar. Ia ditinggal. Dan 2 tahun yang lalu, istrinya meninggal. Ia seringkali merasa kesepian. Ini akibatnya, apabila  kita salah memilih prioritas seringkali kita kehilangan sejumlah kesempatan. Kita juga seringkali kehilangan dan ketinggalan waktu. Prioritas seringkali menjadi penentu.

Matematika Prioritas itu sederhana. Pertama sumber daya kita terbatas. Misalnya saja waktu. Kita hanya punya 24 jam sehari. Kebanyakan dari kita juga punya uang atau modal yang sangat terbatas. Kedua hidup ini semua bergantungan pada pilihan. Mau makan apa ? Mau pake baju apa ? Mau naik kendaraan apa ke kantor ? Semuanya pilihan. Tiap pilihan punya resiko masing-masing. Bilamana ingin sukses dalam hidup, kita harus memilih dengan akurat dan tepat. Prioritas adalah ilmunya !

Lalu bagaimana kita melatih diri agar mahir menggunakan Prioritas. Strateginya adalah keseimbangan antara sumber daya dengan pilihan peluang. Dalam bisnis misalnya anda harus menghitung cash-flow keuangan anda dengan sangat rinci. Dan memiliki proyeksi dalam waktu minimal 6 bulan mendatang. Sehingga anda tau apa yang mesti dihemat, dan kapan harus berhemat. Serta kalau ada kelebihan dana, anda akan tau kapan dan berapa banyak. Bilamana anda ingin melakukan pengembangan usaha dan melakukan investasi. Anda tau kapan dan bisa berapa banyak ? Saya menyebutnya sebagai peta sumber daya. Peta kedua yang anda harus buat adalah peta peluang. Anda menghitung antara resiko dan jumlah investasi. Serta hasilnya. Dengan kedua peta ini anda akan paham dan bijak untuk berhemat dan melakukan investasi. Situasi bila anda praktek-kan dengan seksama hasilnya akan luar bias, karena anda akan menikmati sebuah sukses yang berkesinambungan. Ini adalah skema sukses yang mengandalkan prioritas.

Prioritas yang tepat cenderung menciptakan efek domino yang saling menunjang. Hal ini sering terjadi didalam bisnis yang berhubungan dengan tekhnologi. Seringkali kita membeli sesuatu tekhnologi yang jauh lebih murah, tetapi dalam 5-6 tahun berikutnya, tekhnologi itu menjadi usang dan kita harus mengganti sistim dan memerlukan investasi yang lebih mahal. Padahal apabila kita memprioritaskan tekhnologi yang lebih mahal, seringkali dalam 5-6 tahun berikutnya, teknologi itu menjadi sangat populer dan biaya investasi kita menjadi lebih ekonomis dan murah.

Andaikata anda baru saja lulus kuliah, maka anda bertanya perusahaan apa ? Yang saya harus prioritaskan ? Kebanyakan orang memilih perusahaan besar yang sangat bonafide. Pilihan populer. Namun anda harus menganalisa sumber daya anda. Karena kalau diperusahaan besar, saingan dan kompetisi-nya juga sangat hebat. Kalau sumber daya anda bukan yang terbaik, maka anda cenderung ketinggalan dan sangat sulit untuk bersaing. Tetapi mem-prioritas-kan perusahaan yang ukuran-nya sedang, namun sangat agresif dan sedang berkembang pesat, seringkali menjadi prioritas terbaik. Kesempatan anda jauh lebih baik, dan kecepatan anda mendaki karir lebih terjamin.

Sejak kuliah hingga menjadi entrepener, prioritas adalah strategi utama saya dalam kehidupan. Saya menerapkannya dalam banyak hal. Tapi yang paling terutama adalah dalam manajemen waktu. Karena waktu adalah sumber daya kita yang paling utama. Sukses dengan prioritas waktu, akan membuat waktu berpihak kepada kita. Kita tidak akan lagi kehilangan waktu dengan percuma. Kita akan lebih efektif dan produktif menggunakan waktu. Dan indahnya adalah selalu akan ada waktu. Tidak mudah memang. Dan tidak selalu tepat dan sempurna, tetapi saya mempelajari prioritas terus menerus. Apa yang kita prioritaskan seringkali menjadi pengalaman terbaik dan sukses kehidupan. Itu pengalaman saya.

Kata mentor spiritual saya, Mpu Peniti, prioritas mengasah diri kita agar disiplin juga untuk memilih apa yang kita hendaki dalam hidup ini. Hal ini penting. Seringkali karena kita tidak tahu apa yang kita inginkan, maka kita seringkali memprioritaskan yang tidak perlu. Membuang waktu dengan sangat percuma, karena kita mengejar sesuatu yang tidak penting, akhirnya kita boros dengan waktu dan enerji. Hidup ini penuh dengan hasrat, keinginan dan cita-cita. Semuanya semakin buruk karena kita memiliki ambisi dan nafsu. Bila semuanya diaduk menjadi satu, seperti sebuah bola yang terdiri dari benang-benang yang kusut. Mengurai benang kusut itu dengan prioritas yang benar, akan seperti membuka jalan bagi kita. Kata Mpu Peniti, barangkali awalnya kita hanya membuat sukses yang kecil. Namun seperti sebuah sinetron sukses itu menjadi sebuah serial sukses. Prioritas menjadi kompas dan radar untuk menemukan sukses yang lebih besar. Demikian seterusnya . Satu sukses mendahului sukses berikutnya.

Saya percaya hal itu karena saya mengalaminya sendiri. Ketika saya selesai kuliah, saya bertekad untuk tidak ingin menjadi seorang "yang hanya rata-rata saja". Saat itu teman saya menertawakan saya. Tetapi saya tidak peduli. Saya menyusun rencana. Saya punya strategi prioritas. Dan ternyata bisa berjalan dengan sangat baik. Uniknya prioritas, mengasah naluri saya lebih tajam. Membuat saya lebih ulet dan tekun. Tidak mudah menyerah. Lebih sabar. Punya semangat juang yang tidak pernah habis. Prioritas tidak lagi menjadi mainan sederhana. Tetapi sebuah alat kreatif buat sukses kehidupan.


Jadi benar juga kata teman saya, buat apa pilih calon presiden yang tidak punya dan tidak tahu membuat prioritas. Nasib negeri dan bangsa ini perlu rencana dan prioritas. Kita tidak bisa lagi punya calon presiden yang untung-untungan. Yang semuanya, "lihat saja nanti". Dan prioritas kita adalah punya presiden yang bisa membuat prioritas bagi Indonesia. Kita tidak mau lagi kehilangan waktu dan kesempatan.

Monday, February 17, 2014

MACET ITU MAHAL SEKALI !




Prediksi Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA), kerugian ekonomi akibat kemacetan di DKI Jakarta ditahun 2020 akan mencapai Rp 65 triliun, bilamana tidak ada solusi tuntas. Angka kerugian itu didapat dari hasil penelitian dengan cara menghitung kerugian karena aktivitas ekonomi yang terhambat atau bahkan lumpuh akibat kemacetan di Jakarta. Hasil penelitian itu disampaikan Hajime Higuchi, perwakilan JICA Indonesia Office, dalam acara ”Workshop on Quick and Tangible Resolution to Mitigate Traffic Congestion in the Jabodetabek Area”, di Jakarta, Rabu - 15 Mei 2013. Khusus tahun 2012 saja kerugian diperkirakan mencapai Rp12,8 triliun.

Teman saya punya definisi khusus soal lalu lintas Jakarta. Jauh dekat = 30 menit. Lumayan Macet = 60 menit. Dan Sangat Macet > 90 menit. Tapi itu realita Jakarta saat ini. Kota yang berpenduduk 12-14 juta orang ini, konon berdasarkan data yang ada, di Jakarta saat ini terdapat 17,1 juta perjalanan setiap harinya dan dilayani oleh 5,7 juta unit kendaraan bermotor dengan pertumbuhan 9 persen per tahunnya.  Ironisnya, 56 persen perjalanan dilayani oleh angkutan umum yang berjumlah 86.435 unit atau 1,8 persen. Sedangkan 98,2 persen sisanya menggunakan kendaraan pribadi yang melayani 44 persen perjalanan. Ini baru satu faktor biang keladi kemacetan.

Itu sebabnya Jakarta membuat proyek angkutan umum berkecepatan tinggi yang bebas hambatan. Proyek ini disebut Mass Rapid Transport alias MRT. Tujuan proyek MRT ini, bertujuan untuk mengurangi perjalanan dengan kendaraan pribadi. Andaikata ada angkutan umum yang bagus dan nyaman, diharapkan konsumen akan tidak menggunakan kendaran pribadi dan pindah ke angkutan umum. Itu asumsinya. Proyek  MRT Jakarta ini baru memasuki tahap satu. Proyek ini menyerap biaya sekitar Rp 20 triliun yang merupakan pinjaman dari lembaga keuangan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang dicicil selama sekitar 40 tahun. Total panjang jalur MRT Jakarta tahap satu nantinya sekitar 16 kilometer dengan jalur layang sekitar 10 kilometer, dan jalur bawah tanah sekitar 6 kilometer . Baru akan kelar tahun 2018. Dengan MRT tahap pertama ini, jangan dikira Jakarta akan bebas macet.

Membuat sebuah sistim angkutan umum yang berkecepatan tinggi yang bebas hambatan, bukanlah sesuatu hal yang mudah. Hongkong dengan proyek MTR-nya itu dimulai tahun 1975. Sedangkan Singapore memulainya tahun 1983, dan masih berjalan hingga kini. Dan MRT di Bangkok beroperasi mulai tahun 2004 dan masih dibangun hingga saat ini. Proyek MTR Hongkong memiliki jalur sepanjang  218.2 km dengan 152 statsiun. Bandingkan dengan proyek MRT Singapore yang punya jalur 153,2km dengan dilengkapi 106 statsiun. Bangkok kini memiliki jalur sepanjang 27 km dengan 18 statsiun selama 10 tahun.
Berdasarkan perhitungan ini proyek MRT Jakarta rata-rata setahun akan membangun 3 km jalur kereta, dan mirip dengan Bangkok. Dan Bangkok kini melayani kurang lebih diatas 250.000 penumpang sehari. Bandingkan dengan Singapura yang melayani hampir 3 juta konsumen perhari. Padahal populasi Hongkong berkisar 7,2 juta orang, Bangkok 6,5 juta orang dan Singapura 5,5 juta orang.

Melihat perbandingan ketiga kota tersebut, perhitungannya dengan 16km proyek MRT Jakarta, maka konsumen yang bisa dilayani tiap hari paling akan berjumlah dibawa 300.000 konsumen atau malah kurang dibawahnya. Artinya dengan proyek MRT itu Jakarta belum tentu akan terbebas macet. Dibutuhkan kombinasi solusi yang lebih lengkap dan terpadu.

Biang keladi kedua jauh lebih kompleks lagi. Yaitu tempat tinggal yang layak dan murah. Jakarta tidak memiliki perumahan murah yang disubsidi Pemda DKI Jakarta yang letaknya strategis berdekatan dengan lokasi bekerja di tengah kota. Salah seorang supir mengatakan bahwa ia terpaksa ngontrak rumah dengan biaya Rp. 750.000/bulan. Disebuah rumah yang sangat kecil, dan letaknya 40 menit dari tempatnya bekerja. Terpaksa ia harus punya motor, dan naik motor dari rumah ketempat kerja dan sebaliknya. Bukti nyata biang keladi ini bisa anda rasakan dan anda lihat setiap hari dijalan. Karena tidak bisa ngontrak rumah murah, maka mereka dipaksa semakin tinggal di pinggiran kota. Mobilisasi para karyawan kecil ini yang membuat Jakarta macet setiap hari. Jutaan motor memenuhi jalan-jalan Jakarta.

Riset Indonesia Effort for Environment menyebutkan pada 2013 pertumbuhan kendaraan mencapai 1.600-2.400 unit per hari. Dari jumlah tersebut, 16,5 persen merupakan pertambahan mobil sementara sisanya adalah motor, bus, dan truk. Jumlah kendaraan di Jabodetabek yang beroperasi di Jakarta mencapai 38,7 juta unit, terdiri dari 26,1 juta unit sepeda motor, 5,3 juta unit mobil, 1,3 juta unit bus, dan 6,1 juta unit truk.

Tanpa tambahan jalan, maka solusi yang harus kita kejar, adalah membangun rumah susun murah di lokasi-lokasi strategis di sentra-sentra perkantoran dan bisnis diseluruh Jakarta. Sehingga mobilisasi karyawan kecil ini menjadi semakin pendek, akan mengurangi pemakaian BBM, mengurangi kemacetan Jakarta dan menghemat waktu produktif. Masalahnya harga tanah di Jakarta terus naik dan menjadi sangat mahal. Bayangkan saja, sebuah ruko di Jakarta Selatan harganya bisa mencapai satu juta dolar. Seorang warga asing dari Australia mengatakan dengan sejuta dolar ia bisa membeli sebuah rumah yang layak di negaranya. Tetapi bilamana kita mau mengurai kemacetan di Jakarta, maka para karyawan kecil harus kita pindahkan tempat tinggalnya dari pinggiran kota yang sangat jauh, ke pemukiman yang lebih dekat dengan tempat bekerja-nya.

Biang keladi yang berikutnya, butuh bantuan Pemda DKI. Jakarta yang berpenduduk 14 juta orang terbagi atas 5 wilayah. Perijinan IMB di Jakarta sangat kompleks dan luar biasa ruwetnya. Pemda DKI Jakarta rasanya perlu menata ulang zona perijinan antara rumah tinggal dan tempat berusaha. Koridor-koridor jalan utama di 5 wilayah itu perlu ditata ulang. Jakarta membutuhkan zona usaha di masing-masing wilayah yang lebih luas. Tujuannya agar wilayah bisnis dan usaha tidak menumpuk ditengah kota sehingga menimbulkan kemacetan yang parah dititik-titik tertentu tiap harinya. Perluasan zona berusaha di masing masing 5 wilayah Jakarta akan menciptakan penyebaran orang dan sumber daya. Kemacetan Jakarta bisa diurai dengan lebih baik.

Kota-kota seperti Surabaya, Bandung, Semarang dan Djogdjakarta masih memiliki populasi dibawah 6 juta orang. Namun beberapa diantara mereka sudah merasa sumpek, dan mulai dihantui dengan kemacetan-kemacetan lalu-lintas. Barangkali mereka masih punya waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri, sebelum menjadi benang kusut seperti Jakarta. Macet itu bukan saja bikin stress. Tetapi biayanya secara ekonomis sangatlah mahal.