Monday, May 29, 2017

BELAJAR MAKAN GADO-GADO



Situasi suhu politik yang memanas di Jakarta, membuat saya iseng kepingin mencari camilan yang heboh. Mulanya saya ingin mengajak mentor saya Mpu Peniti makan soto betawi favorit kami berdua. Namun beliau malah mengajak saya makan gado-gado di rumahnya. Dengan setengah hati saya mengiyakan juga ajakan itu. Karena gado-gado dan soto betawi jarak kenikmatan-nya sangatlah lebar luar biasa.

Tiba di rumah Mpu Peniti – saya diperkenalkan kepada seorang wanita, setengah baya. Katakan saja nama beliau Mbak Sisca. Dan tiba-tiba saja gado-gado menjadi sajian yang luar biasa menariknya. Mbak Sisca – ibunya asli dari Solo. Ayahnya kebetulan seorang warga negara Belanda. Mbak Sisca lahir dan besar di Belanda. Sejak kecil Ibunya sudah memperkenalkan beliau dengan aneka masakan Indonesia. Salah satunya adalah gado-gado. Setelah menyelesaikan SMA di Belanda, Mbak Sisca saking cintanya dengan masakan Indonesia, akhirnya minta ijin kepada orang tuanya untuk merantau ke Solo; bertemu dengan keluarga besar Ibunya dan belajar lebih dalam soal kuliner Indonesia.

Sejak itu Mbak Sisca keliling Indonesia, dan pernah tinggal di Medan, Bandung, Blitar, Bali dan hingga Lombok. Beliau jantuh cinta “pol” sama masakan Indonesia.
Sore itu saya dan Mpu Peniti disajikan berbagai versi hidangan gado-gado. Kata Mbak Sisca kepada kami, “Awalnya saya mengira Gado-Gado itu cuma masakan yang sangat sederhana, namun setelah belajar 20 tahun lebih soal gado-gado baru kemudian saya sadar betapa rumitnya gado-gado itu. Terutama bila kita bedah dan kita gelar secara filosofis”. Saya dan Mpu Peniti awalnya cuma senyum-senyum saja sambil berpandangan mata. Gado-gado secara filosofis ? Nah, ini baru topik yang super heboh dan menarik.

Menurut Mbak Sisca, roh sebuah gado-gado ditentukan oleh saus kacangnya. Saus kacang tanah ini sesungguhnya cikal bakal roh kuliner Indonesia. Hampir semua kuliner Indonesia yang “beken” dan ternama pasti memiliki sentuhan saus kacang tanah ini. Mulai dari ketoprak, gado-gado, sate, batagor dan siomay, asinan, hingga sambal kacang untuk nasi uduk. Saya sempat garuk-garuk kepala, karena apabila direnungkan, pengamatan Mbak Sisca soal saus kacang tanah ini terasa benar juga.

Kacang tanah bukanlah tanaman asli Indonesia. Menurut sejarah, kacang tanah diperkirakan berasal dari Amerika Latin, lebih tepatnya dari negara Peru dan Brazil. Bukti tertua tentang kacang tanah konon ditemukan di kedua negara ini dan usianya sudah lebih dari 3.500 tahun yang lalu. Kemungkinan besar kacang tanah diperkenalkan ke Asia oleh para pedagang Eropa yang menyusuri jalur jalan sutera dan jalur jalan rempah-rempah lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kini kacang tanah memiliki keterikatan yang luar biasa akrabnya dengan hampir semua kuliner di Asia, termasuk di Indonesia.

Lanjut Mbak Sisca, saus kacang tanah ini memiliki resep dasar yang sangat sederhana, kacang tanah yang digoreng dan dihancurkan, ditambah bawang putih, garam dan gula merah (gula aren). Baru kemudian lewat persilangan budaya, saus kacang tanah ini bertambah kaya dengan asam, kecap manis, cabe, dan terasi serta rempah-rempah lain sehingga menjadi saus kuliner yang eksotis. Gado-gado sebenarnya cuma sekumpulan sayur mayur yang sederhana, namun karena diberi saus kacang tanah yang eksotis, maka jadilah ia kuliner yang ajaib.

Sore itu, Mbak Sisca menyajikan 3 bentuk gado-gado yang mengalami evolusi budaya yang berbeda. Yang pertama adalah gado-gado khas Betawi lengkap dengan sayur pare dan kencur. Yang kedua adalah karedok atau gado-gado dengan sayur mentah ala Sunda. Dan yang terakhir adalah pecel Blitar alias gado-gado Jawa Timur yang pedas. Kami mencicipi-nya dengan antusias, dan mulai merasakan jabaran dan tatanan budaya yang kini terasa membuat gado-gado menjadi sebuah filosofi yang ruwet.

Sembari melahap gado-gado, Mbak Sisca melanjutkan dongengnya, menurut beliau gado-gado ini adalah simbol sebuah perlawanan diam. Karena tidak ada bukti tertulis yang akurat soal gado-gado, Mbak Sisca membuat dugaan lewat sejumlah petualangan kulinernya. Konon menurut beliau, gado-gado kemungkinan besar adalah tiruan dari “salad” pada jaman Belanda yang kemudian diterjemahkan secara unik oleh para pembantu di dapur-dapur sinyo Belanda jaman dulu. Teori ini didukung oleh riset Mbak Sisca bahwa gado-gado ini ada dua tipe. Gado-gado yang bumbunya di ulek, kemudian sayuran ditambahkan kedalam ulekan atau campuran bumbu. Yang mana metode ini yang paling populer jaman sekarang. Dan gado-gado yang hampir punah adalah gado-gado siram, bedanya sayuran di racik jadi satu dan kemudian bumbu gado-gado baru disiram diatas racikan sayuran. Mirip cara membuat “salad” ala kuliner Barat. Mbak Sisca menuturkan bahwa beliau pernah makan gado-gado di Princen Park (Lokasari) di daerah Jakarta kota, dimana sayuran gado-gado mirip racikan “salad”, yaitu salada air, kentang, telur, dan irisan jagung manis. Lebih mirip sebuah “salad” ala kuliner barat dan saus kacangnya disiram diatas. Jadi perlawanan diam yang dimaksud Mbak Sisca adalah kemungkinan dijaman Belanda dulu ada pihak-pihak yang tidak mau kalah dan “salad” ciptaan barat kemudian di Indonesia-kan dengan saus kacang.

Kata gado-gado sendiri kemungkinan menyiratkan arti bahwa gado-gado memang merupakan makanan pembuka (appetizer)  yang bisa di gado tersendiri dan tanpa harus disantap bersama makanan lain. Ini salah satu bukti bahwa riset Mbak Sisca punya tinjauan sejarah yang cukup akurat.

Yang menarik lagi adalah evolusi pecel yang berkembang sangat banyak dan bervariasi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Misalnya pecel ala Blitar, Malang, Kediri, Tegal, dan Banyumas semuanya memiliki varian yang sedikit-sedikit berbeda, mulai dari tekstur kacang tanah, tingkat kepedasan, hingga tambahan rempah-rempah. Mbak Sisca juga memperlihatkan sejumlah foto tua, bagaimana jaman dahulu pecel ini dijajakan sebagai sarapan pagi hari yang sangat populer di sepanjangan jalur kereta di Jawa Timur.

Lucunya pula kini gado-gado berputar arah, di berbagai hotel bintang 5 dan restoran Indonesia kelas atas, gado-gado ini kembali di interpertasikan ulang oleh kebanyakan koki-koki luar negeri, dengan cara-cara penyajian yang spektakuler. Bumbu saus kacang misalnya, kini sudah diperkaya dengan saus kacang mede, yang konon lebih gurih dan agar kelihatan lebih mewah.

Pulang dari rumah Mpu Peniti, pengalaman belajar makan gado-gado terasa sangat istimewa buat saya secara pribadi. Sebuah pembelajaran yang inspiratif. Mungkin saja benar bahwa gado-gado merupakan sebuah perlawanan diam dari bangsa ini, untuk menunjukan kepada penjajah waktu itu, bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang lebih inovatif.

Tetapi diluar dari itu – buat saya yang paling menarik adalah sebuah ide yang sangat amat sederhana, yaitu sayuran rebus yang diracik dan diberi saus kacang tanah bisa menjadi legenda yang menjadi bagian sejarah kuliner bangsa ini. Terutama ide yang sederhana ini dicerna oleh saudara sebangsa dan setanah air, kemudian ditambah dan dikurangi variasinya menjadi sebuah fusi ide, yang tidak ditolak dan tidak menimbulkan keributan. Tetap menjadi sebuah ide yang harmonis dan serasi. Tidak ada protes, semua pihak menerima setiap perubahan dan inovasi dengan legowo. Barangkali generasi bangsa saat ini bisa belajar dari gado-gado secara apik. Bahwa keragaman itu sebenarnya sangat indah.

Mungkin Pemerintah kita bisa belajar dari gado-gado juga. Kata Mbak Sisca, sebenarnya gado-gado bisa menjadi budaya memasyarakatkan santapan yang berimbang dan yang sehat. Karena didalam gado-gado bisa lengkap berimbang, ada karbohidrat (kentang), sayuran, dan protein (tahu, tempe dan telur). Lewat gado-gado bisa saja kita bikin kampanye makan sehat yang baik.

Seorang Chef pernah bercerita kepada saya, tentang kekaguman-nya terhadap gado-gado. Sederhana, enak dan tetap bisa fleksibel. Mau dibikin merakyat sangat bisa. Mau dibikin mewah juga sangat bisa. Mbak Sisca menuturkan bahwa ia pernah meracik gado-gado super mewah, dengan asparagus, jamur enoki, tomat Jepang, strawbery California dan apel Washington. Rasanya tetap spektakuler !

Bagi saya pribadi, bangsa dan negara Indonesia, rumitnya mirip gado-gado, tetapi kerumitan bahan baku itulah yang membuat rasanya menjadi ajaib. Artinya  tanpa keberagaman itu gado-gado kehilangan nilainya. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin bangsa dan negara ini, harus eksotik bisa menjadi saus kacang tanah yang komplit. Asin, asem, manis, dan gurih yang sempurna. Keseimbangan yang pas. Barangkali itu roh-nya !


Sejarah tidak pernah berbohong, tetapi tradisi dan budaya kuliner suatu bangsa seringkali sarat dengan filosofi yang bijak, dan gado-gado adalah salah satu contoh yang nyata. Filosofi keberagaman yang sudah kita praktekan selama beratus-ratus tahun.

Si Biang Penasaran naek Gajah !


Wednesday, May 03, 2017

EKONOMI INDONESIA MELAMBAT ?



Saya jelas-jelas bukan seorang ahli ekonomi. Pemaham-an saya soal ekonomi 100% dari naluri dan panca indera sehari-hari melakukan bisnis. Istilah keren jaman sekarang – “crowd wisdom”. Jadi kalau anda membaca artikel ini jangan memakai kaca mata yang salah. Saya tidak membuat analisa yang bisa dipertanggung jawabkan secara akademis.

Beberapa minggu yang lalu – saya menerima email dari seorang kerabat bisnis. Ia bertanya singkat dan jelas. “Bagaimana ekonomi Indonesia ?” lalu ia juga menanyakan prediksi saya. Seolah-olah saya konsultan ekonomi buat dia. Awalnya saya tertawa terbahak-bahak. Karena ini jelas pertanyaan yang menjebak. Namun bertahun-tahun mengenalnya, saya sangat paham bahwa ia sangat cerdas, penuh pengetahuan, rajin bergaul dan pasti punya sumber yang banyak. Tetapi mengapa ia bertanya kepada saya ? Lalu iseng saya balas emailnya singkat – “Tanya dong sama Mbah Google”. Ia hanya memabalas dengan “hahahahahahahahahaha”.

Tak lama kemudian, saya terusik rasa penasaran saya. Pikir saya ini saatnya meditasi ekonomi, menajamkan naluri dan memotret ekonomi di jalan. Ketika berkunjung ke sebuah mall di Jakarta, saya sempat melihat sejumlah pegawai sedang rehat makan siang. Beberapa diantaranya makan nasi bungkus, mungkin dari warteg,tetapi ada beberapa makan dengan bawa bekal dari rumah. Salah seorang dari mereka bertanya : “Koq elu rajin banget sih. Tiap hari bawa bekal dari rumah ?”
Yang ditanya menjawab sambil tertawa : “ Bukan rajin tau ! Tapi ngak sanggup makan warteg. Buat gue warteg tuh mewah !” . Entah kenapa tiba-tiba dada saya terasa sesak. Rasanya ada ganjalan yang membuat saya ikut miris dan bersedih.

Pulang dari mall, seorang teman mengirim pesan. Ia memberanikan diri untuk meminjam uang. Alasan-nya hidup lagi super susah. Lalu kami “chat” lewat telpon. Ia menuturkan bahwa gaji suaminya itu hanya Rp.3,7 juta dan sudah 4 tahun tidak berubah. Tidak pernah naik ! Malam harinya saya tanya sama Mbah Google, dan di internet keluarlah sejumlah artikel ekonomi. Uniknya semua artikel itu bervariasi, tapi kebanyakan bagus dan baik. Artinya ekonomi Indonesia lumayan bagus-lah. Hanya ada 1-2 artikel yang menyuarakan lampu kuning. Perasaan saya campur aduk.
Mana yang benar ?

Besoknya saya mengajak seorang bankir untuk makan siang. Perlahan-lahan saya pancing dengan beberapa pertanyaan menjebak. Tetapi ia tidak mau menjawab lugas. Dari sindiran-nya saya mencerna bahwa kata koran keadaan makro ekonomi kita sebenarnya cukup bagus. Dan  apa kata koran dengan kenyataan di lapangan seringkali sangat berbeda. Ia mengeluh secara halus bahwa target tahunan sangat sukar dicapai. Bagi sebuah bank dengan status perusahaan publik mereka harus punya siasat bisnis yang berlapis-lapis. Disatu pihak bisnis mereka perlu tumbuh nyata dan dilain pihak mereka juga harus bisa memuaskan pemegang saham. Bila tidak harga saham mereka anjlok dan situasi bisa runyam. Pusingnya bisa tujuh turunan. Begitu ia mengakhiri sesi makan siang kami. Sebenarnya sebulan yang lalu sebuah majalah berita di Indonesia menampilkan laporan utama tentang NPL atau kredit macet yang tumbuh agak tinggi tahun 2017. Puncak kredit macet yang diumumkan pemerintah 3% (gross) pada Juni 2016 ternyata naik menjadi 3,1% pada Januari 2017. Ini yang ditakutkan semua orang. Trend kredit macet akan naik di 2017. Artinya yang punya hutang pada kesulitan membayar.

Pulang dari makan siang, saya menelpon seorang teman yang profesinya pengacara. Ia pernah mengatakan bahwa bilamana situasi ekonomi sedang baik, bisnisnya diwarnai dengan maraknya para pengusaha membuat usaha “joint-ventures” alias kongsi. Baik dengan partner didalam negeri dan atau partner diluar negeri. Tetapi bilamana ekonomi sedang jelek, bisnisnya lebih banyak dipenuhi dengan pengusaha yang pecah kongsi. Dan sudah dua tahun terakhir ini bisnisnya memang lebih banyak permintaan bercerai alias pecah kongsi.
Perasaan batin saya semakin tidak nyaman. Saya lalu teringat pidato Jokowi beberapa hari yang lalu – yang meminta BUMN untuk melakukan sekuritisasi asset, agar tersedia dana untuk membangun infrastruktur. Indonesia memang jelas tertinggal pembangunan infrastrukturnya. Itu sebabnya pemerintah gencar menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun pembangunan infrastruktur butuh uang dalam jumlah sangat banyak. Sehingga pemerintah berusaha punya uang sebanyak-banyaknya. Pendapatan pemerintah sangat terbatas sekali. Pertama dari pajak dan kedua lewat hutang. Itu motivasi pemerintah belum lama ini menggelar program Tax Amnesty. Tujuan-nya jelas yaitu berusaha untuk meningkatkan penerimaan pajak secara maksimal. Sedangkan hutang Indonesia jelas semakin membengkak. Tahun 1998 ketika Indonesia masuk era reformasi, warisan hutang kita saat itu sekitar Rp. 1.300 trilyun. Sedangkan tahun 2017 atau hampir 20 tahun setelah reformasi hutang kita sudah membengkak menjadi Rp. 4.274 trilyun, atau sudah meningkat lebih 300%.

Kalau saya disuruh mikir hutang sedemikian banyak, pasti ketombe dan uban tumbuh drastis dikepala saya. Akhirnya saya melakukan 2 pengecekan terakhir. Pertama saya melakukan interview dengan pelaku bisnis hiburan. Teorinya sederhana, kalau duit gampang diperoleh, biasanya orang mudah bersenang-senang. Teman saya yang bergerak didunia hiburan mengatakan bahwa sebenarnya setelah pergantian pemerintahan dari SBY ke Jokowi – bisnis hiburan cukup lesu selama 4 tahun terakhir ini. Tahun 2016 cukup jelek, tetapi kwartal pertama 2017, pendapatannya minus 30% dibanding tahun 2016. Menurutnya situasi ekonomi memang cukup seret. Buat kebanyakan pelaku ekonomi – Indonesia sangat terpengaruh dengan “uang panas”. Konon kabarnya banyak “uang panas” ini menguap dan atau disembunyikan di bawah bantal.

Menurut Gaikindo – puncak penjualan mobil di Indonesia terjadi tahun 2013 sebanyak 1,23 juta unit. Tahun 2014 turun menjadi 1,20 juta dan tahun 2015 merosot hingga 1,01 juta. Tahun 2016 penjualan naik ke 1,06 juta dan masih terpaut jauh angkanya dengan tahun 2013. Pertumbuhan ini kebanyakan juga ditunjang oleh kenaikan penjualan di Indonesia wilayah Timur. Misalnya Papua yang tumbuh 59,73% dan NTB yang penjualan-nya naik 94,45%. Pertumbuhan terbesar lainnya juga datang dari mobil jenis LCGC alias Low Cost Green Car yang tumbuh naik sebesar 38,3%. Artinya dugaan ekonomi melemah selama 4 tahun mulai terkuak perlahan tabirnya.

Saya kemudian melakukan konfirmasi terakhir dan merupakan konfirmasi yang terpenting, yaitu minta konfirmasi ke teman-teman di bisnis retail. Ternyata dengan malu-malu mereka mengakui bahwa setelah Imlek, memang penjualan agak seret. Menurut teman-teman, sejumlah kejadian menjelang pilkada Jakarta dengan sejumlah demo yang marak, percaya atau tidak telah melemahkan ekonomi. Program TAX Amnesty juga punya pengaruh psikologis yang membuat pelaku ekonomi berpikir ulang tentang masa depan dan strategi bisnis yang harus mereka terapkan.


Yang menarik adalah Survey Bank Indonesia yang mengatakan bahwa selama bulan Maret telah terjadi deflasi yang sangat kecil yaitu sekitar 0.02%. Konon penyebabnya karena panen raya yang menyebabkan harga komoditi menjadi turun. Namun bagi teman-teman dibisnis ritel, sebagian alasannya adalah permintaan konsumen yang melemah sehingga kelebihan pasokan dan harga turun. Teman-teman dibisnis makanan seperti – bakery, restoran dan café juga menyuarakan sentimen yang mirip. Ekonomi Indonesia sebenarnya agak sensitif terhadap pola konsumsi konsumen dalam negeri. Ibaratnya sterika kalau adem, maka baju yang kita gosok akan tetap lecek. Sebuah analogi ekonomi yang sangat sederhana namun menurut saya cukup bijak. Kebanyakan para pelaku ekonomi berharap 2 hal. Pertama Lebaran dalam 2 bulan mendatang bisa menjadi “sentakan” yang bisa membuat ekonomi laju kembali. Dan yang kedua mereka menunggu sentuhan ajaib pemerintah untuk membuat ekonomi panas kembali. Bagi saya pelaku ekonomi jalanan – yang terpenting adalah menyimak, bersiap, dan memutar otak untuk melakukan terobosan baru !

Tuesday, April 18, 2017

MATI RASA


Betapa sering kita menemukan kerabat atau sahabat yang hidupnya sangat sunyi menjelang usianya yang senja. Teman saya seorang pemerhati masalah sosial budaya menyebutnya sebagai “mereka yang tidak kita sayang”. Kebetulan belum lama ini saya melayat seorang kerabat yang kebetulan wafat. Usianya menjelang 60 tahun, pria, tidak menikah dan masih hidup menumpang dengan ibunya. Wajahnya tidak terlalu ganteng, kebetulan sekolahnya tidak selesai, tidak memiliki karir yang jelas, tidak pandai bergaul. Kerabat saya meninggal setelah terjatuh di kamar mandi. Barangkali sebuah cerita yang kita dengar terlalu sering. Bahwa hampir dalam tiap keluarga kita menemukan kasus yang serupa. Seseorang yang boleh dikatakan nasibnya kurang beruntung dan seringkali menjadi kasta yang hampir terbuang dan menjadi kelompok “mereka yang tidak kita sayang”. Terus terang ketika melayat tempo hari saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Karena saya bisa merasakan kesunyian hidup yang ia derita diakhir hidupnya. Ketika kuliah saya juga pernah merasakan kebimbangan yang sama, apakah kita akan punya karir yang sukses ? Menjadi orang yang populer ? Banyak teman dan disukai oleh orang banyak ? Memiliki hidup yang tidak sunyi ?

Teman saya yang pemerhati masalah sosial itu, pernah memperlihatkan kepada saya sebuah film dokumenter tentang orang-orang gelandangan di Amerika yang tidak memiliki rumah – tinggal dijalan dan menjalani hidup yang sangat sunyi. Teman saya menjelaskan bahwa sebagai masyarakat moderen dengan interaksi kemanusian yang semakin terjarangkan dan waktu kita semakin dijajah oleh tekhnologi, kemampuan kita berkomunikasi yang tulus dan intim antara sesama manusia menjadi berkurang intensitasnya. Dan cenderung menjadi basa basi. Percakapan yang cerdas antara sesama manusia menjadi langka. Puisi menjadi spesies yang terancam punah. Musik cenderung menjadi bunyi yang monoton. Kemampuan kita bicara hati ke hati dengan jiwa kita menjadi encer dan tidak lagi menggugah. Kita kehilangan suara jiwa. Lumpuh secara artifisial.

Lalu kekaguman kita menjadi sangat semu. Kita hanya menoleh pada mobil mewah, bau parfum yang menggoda dan gelak tawa sesaat. Maka kemampuan kita menyayangi kerabat, keluarga dan sahabat menjadi sangat terbatas. Pertalian jiwa kita menjadi semu. Itu sebabnya “mereka yang tidak kita sayang” menjadi kaum rata-rata yang semakin banyak. Tanpa kita sadari sebenarnya kita menjelma rupa kesebuah penampakan yang sangat berbeda di sosial media. Kita jadi rajin melatih diri agar kita tampil berbeda di sosial media, agar kita menarik perhatian orang lain, agar kita disukai. Percaya atau tidak kita sebenarnya adalah pelacur sosial media. Kita mendambakan kasih sayang artifisial – dari sebuah “like” – “follower” atau “comment”.

Mpu Peniti – mentor saya, menyebutkan sebagai sebuah fenomena “Mati Rasa” yang sangat serius. Panca indera kita secara fisik mungkin masih normal, tetapi panca indera jiwa kita menjadi gersang, tandus, tumpul dan mati. Saya sendiri sangat merasakan itu. Belum lama ini, ketika saya bertemu dengan seorang teman jaman kuliah, dia mengatakan bahwa ia sangat merindukan percakapan panjang dimasa kuliah. Pernah sekali sehabis sebuah pesta, kami bicara berjam-jam hingga subuh hanya tentang puisi dan novel George Orwell – 1984. Kita berdua bicara tentang ketakutan kita untuk masa depan yang belum jelas. Dan pembicaraan seperti itu rasanya sangat langka dijaman ini. Akibatnya emosi jaman sekarang tidak lagi kita nikmati dalam wujudnya yang jujur dan apa adanya, sehingga bisa kita nikamti dan kita rasakan menjadi penyembuh luka jiwa. Emosi jaman sekarang menjadi sebuah lambang di halaman sebuah sosial media. Semuanya serba semu belaka.

Karena erosi nilai yang semakin korosif ini, akhirnya jaman mendorong kita pada ketumpulan “mati rasa” yang dikatakan oleh Mpu Peniti itu. Teman saya lebih lanjut mengatakan bahwa salah satu akibatnya, kita sebagai masyarakat kehilangan arti pada sebuah nilai-nilai dasar. Misalnya ia menuduh masyarakat kita tidak tahu arti sesungguhnya tentang kebaikan. Saya tentu saja kaget dan terperangah. Bagaimana mungkin ???

Karena menurut Gallup Poll – orang Indonesia adalah bangsa yang paling dermawan nomer dua didunia tahun 2016. Bukankah artinya orang Indonesia semuanya mengerti kebaikan ? Teman saya menyanggah dengan mengatakan bahwa orang Indonesia terlatih berbuat baik seperti menyumbang. Artinya bila terjadi bencana alam, orang Indonesia tidak pernah segan menyumbang dan dengan mudahnya menyumbang. Menurut teman saya, orang Indonesia gagal mengerti mana yang baik dan benar. Teman saya menggugat bahwa dalam index persepsi korupsi dunia – posisi Indonesia tahun 2016 adalah 90 mundur dari posisi 88 pada tahun 2015. Artinya orang Indonesia tidak merasa berdosa – tidak merasa salah dengan melakukan korupsi. Secara kasar teman saya menuduh kita gagal membedakan mana yang baik dan benar. Walaupun kita sangat terlatih berbuat kebaikan. Kita boleh saja mudah berbuat baik misalnya berderma, namun kita sesungguhnya “mati rasa” dalam arti kebaikan yang sesungguhnya.

Barangkali sangat sulit bagi kita untuk menerima pendapat teman saya itu secara gamblang dan tuntas. Mungkin benang merahnya belum terlihat jelas dan masih tersamar. Tetapi fenomena “mati rasa” rasanya sulit terbantahkan. Saya merasakan bahwa ini merupakan sebuah tepukan di bahu yang memperingatkan kita tentang sebuah bahaya didepan. Kita perlu waspada dan hati-hati. Ditengah erosi yang membuat kita semakin tenggelam, sebagai manusia dan bangsa kita butuh tampil kepermukaan menjadi lebih baik. Mengasah panca indera kita tentang nilai-nilai kebaikan. Bukan hanya kepada sejumlah tindakan yang baik.

Dalam tradisi masyarakat moderen dimana kita terlatih mengurangi dosa dan rasa bersalah dengan beribadah dan mohon ampun. Berderma dan menyumbang kepada sesama. Mungkin yang lebih penting adalah bukan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Tetapi membiasakan diri menyemai kebaikan. Dan bukan melatih cara berhitung untuk berbuat baik agar dosa dan kesalahan kita dikurangi. Kebaikan perlu kita hayati dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Panca indera kita untuk mewujudkan kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari perlu kita tumbuhkan. Sebagai sebuah gaya hidup yang sehat.


#SEMAIKEBAIKAN

Monday, April 17, 2017