Wednesday, February 10, 2010
Monday, February 08, 2010
SABAR

Anita, sebut saja itu namanya. Wanita dengan paras cantik. Agak kurus, dengan rambut panjang tak terurus. Usianya belum lagi 30 tahun. Anita sedang hamil 5 bulan. Ia mengeluh pada Mpu Peniti, menderita diberlakukan kasar dan kadang dengan kekerasan oleh suaminya. Mpu Peniti tentu saja menjadi sangat kuatir. Beliau menasehati agar Anita meminta perlindungan kepada polisi, atau melibatkan anggota keluarga lain untuk menjaga keselamatan-nya. Namun Anita menolak rekomendasi Mpu Peniti. Ia cuma minta diajari sabar. Anita bercerita bahwa dulunya ia yang kepalang ‘ngotot’ minta menikah dengan suaminya yang sekarang. Dalam banyak hal Anita bercerita bahwa ia telah salah menilai karakter suaminya. Kalaupun ia ingin melakukan sesuatu, Anita baru akan melakukannya setelah anaknya lahir. Ia sangat ingin bersabar dalam bulan-bulan mendatang. Saya yang ikut menyaksikan peristiwa ini, ikut sedih dan terharu.
Secara perlahan-lahan, akhirnya Mpu Peniti tergerak untuk mengajarkan sabar kepada Anita. Itupun pendek dan tidak panjang lebar. Menurut Mpu Peniti, sabar tidak diberikan Tuhan kepada kita, karena Tuhan ingin menguji kita. Ini poin yang terpenting. Kadang kita salah kaprah dengan mengatakan bahwa kita harus koreksi diri dan bersabar, dalam menghadapi segala cobaan dari Tuhan. Ungkapan itu sering kita dengar dalam setiap krisis, tragedi dan bencana alam. Kata Mpu Peniti, hal ini cuma jalan pintas untuk secara tidak langsung menyalahkan Tuhan. Mana mungkin Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang tega membuat susah kita ??
Mpu Peniti menasehati Anita, bahwa sabar justru anugerah Tuhan, yang diberikan kepada manusia sebagai kelengkapan ‘survival’. Agar kita memiliki kemampuan berjuang, dan bertahan dari segala kesulitan. Sabar seringkali adalah pintu keluar atau solusi dari sebuah masalah. Sabar adalah ‘skills’ yang paling unik. Sabar adalah kombinasi dari ketekunan, kegigihan, sikap merendah dan mengalah, serta kecerdikan mencari ‘timing’ yang tepat untuk menciptakan momentum.
Adalah salah kalau kita menganggap seseorang yang punya kesabaran yang bijak, justru dianggap sebagai orang yang lemah tidak berdaya. Karena sesungguhnya itulah orang yang paling berbahaya. Ibaratnya ia membawa senjata yang tersembunyi dan tidak terlihat. Seorang pemancing yang berpengalaman, pasti memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia bukanlah seseorang yang pasrah dan pasif hanya menunggu. Tetapi ia tahu persis bahwa pada satu-satunya cara mengalahkan sang ikan adalah dengan sabar. Ia sadar sepenuhnya bahwa apabila ia sabar, pada akhirnya ialah yang akan menjadi pemenangnya.
Pernah sekali, seorang pengusaha bertanya kepada saya, kenapa saya bisa dengan lepas tertawa dengan enak, sampai terbahak-bahak. Malah sampai ada orang menuduh saya hanya berpura-pura saja. Dan tertawa cuma untuk aksi. Saya menjawab dengan rendah hati, bahwa banyak belajar sabar, membuat saya bisa tertawa seperti itu. Pengusaha itu bingung. Ia bilang apa hubungannya antara kesabaran dan tawa.
Ceritanya memang rada panjang. Suatu hari ketika saya sedang sangat susah hati, saya bertanya kepada Mpu Peniti, tentang solusi dan jawaban-nya. Mpu Peniti malah tertawa mendengar pertanyaan saya. Beliau bercerita bahwa banyak orang-orang bijak, punya kemampuan yang luar biasa untuk lupa. Hanya dengan lupa, kita bisa mengalahkan waktu dan melanjutkan hidup. Semua yang sudah terjadi harus kita lupakan. Dan mulai dengan yang baru. Bila tidak masa lalu yang menyakitkan bisa jadi penyakit. Mulai dari sakit hati hingga dendam yang berkepanjangan. Disaat itulah saya mulai menuruti nasehat beliau, dan belajar lupa. Hasilnya memang manjur. Saya merasa beban hidup menjadi sangat enteng. Hidup terasa lebih nyaman dan nikmat. Tidur saya terasa lebih nyenyak.
Sehabis lupa, jangan lupa tertawa, begitu pesan Mpu Peniti selanjutnya. Mulanya saya sama sekali tidak mengerti. Terasa janggal. Seperti pengecut yang melarikan diri dari permasalahan. Mpu Peniti mengajarkan saya untuk belajar menertawakan diri sendiri. Kata beliau, menertawakan orang lain memang sama dengan menghina dan sangat kurang ajar. Yang ini dilarang keras oleh beliau. Tetapi menertawakan diri sendiri merupakan ilmu bela diri yang unik. Memerlukan kecerdasan luar biasa untuk bisa melihat segala situasi dan kondisi dengan humor. Kalau sudah bisa, maka kita akan tabah dan sabar menghadapi segala situasi. Karena seburuk apapun situasinya, kita mampu untuk lewat dan menghadapinya. Hidup ini bisa saja berakhir semuanya dengan bencana, tragedi dan derita. Atau sebaliknya. Berakhir dengan canda dan tawa. Mana yang anda pilih ? Saya memilih yang kedua.
Setelah satu dan dua tahun saya menekuni kemahiran untuk menertawakan diri sendiri, akhirnya saya mulai mengerti ajaran dan manfaat menertawakan diri sendiri. Saya mulai mengerti bahwa hidup ini tidak punya satu sisi pandangan. Tetapi sangat majemuk. Tidak semuanya hitam dan putih. Abu-abu dan kelabu bisa jadi warna yang indah juga. Gagal tidak selalu tragis dan menyedihkan. Gagal bisa juga lucu. Jatuh tidak selamanya sakit. Tetapi terkadang membuat kita tertawa juga. Latihan hidup ini menjadi motivasi untuk melihat segalanya secara kreatif dan kadang terbalik. Melihat dengan kemungkinan yang berbeda-beda. Setiap kali saya mengalami hambatan dan kesulitan, saya tidak lagi stress dan mengurut dada. Tapi sabar dan tertawa saja. Saat itulah hidup terasa sangat gurih untuk dinikmati. Sabar adalah senjata ampuh melawan waktu. Dan tertawa adalah kebahagian yang menyertainya.
Monday, February 01, 2010
INGIN MENIKMATI KOPI LUWAK YANG ASLI ??

BREAKING NEWS :
Kopi Luwak mulanya hanyalah mitos lama yang hampir dilupakan orang.
Tahun 2007 ketika film The Bucket List yang diperankan Jack Nicholson dan Morgan Freeman beredar dan mempopulerkan Kopi Luwak, tiba-tiba saja dimana-mana beredar Kopi Luwak. Kalau tidak hati-hati kita mudah terjebak yang palsu. Atau c...ampuran dengan konsentrasi kurang dari 10%.
Kini anda bisa menikmati Kopi Luwak yang asli dengan mudah. Restoran Oasis yang berdiri sejak tahun 1968 dan merupakan satu-satunya Fine Dining ala Indonesian Gourmet kini menyajikan Kopi Luwak yang asli. Dijamin !!!!
Sunday, January 31, 2010
FILSAFAT PEMIMPIN ALA POHON MANGGA & 100 HARI SBY

Seorang mahasiswa saya, bertanya dengan lugu-nya, “Kenapa yaaah …. Harus seratus hari ?” Mendengar itu saya merasa seperti ditinju. Kalau dipikir-pikir, benar juga yah. Kenapa 100 hari pertama sebuah pemerintahan semacam SBY itu jadi sedemikian penting ? Apa sih, yang bisa diperbuat sebuah pemerintahan hanya dalam 100 hari ? Anehnya, mengapa harus 100 ? Apakah angka seratus itu keramat ? Atau menjiplak konsep bahwa 100 adalah nilai tertinggi. Adakah jumlah hari yang lebih baik dan logis ? Misalnya 120 hari ? 150 ? Atau 200 ?
Ketika Mpu Peniti saya ajak becanda soal angka ini, beliau cuma terkekeh. Dan berkomentar singkat, “Seperti orang meninggal saja !”. Tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri. Apa lagi dikoran ramai diberitakan bakal ada demo besar diseluruh Jakarta pas 100 hari pemerintahan SBY tanggal 28 Januari 2010. Bikin deg-deg-an semua orang saja.
Rupanya tradisi evaluasi sebuah pemerintahan 100 hari pertama bukan ciptaan dan inovasi SBY. Tetapi menjiplak tradisi Amerika. Konon menurut cerita, Presiden Amerika Roosevelt yang dilantik pada bulan Maret 1933, mencanangkan sebuah “crash program” dalam periode 100 hari itu. Saat itu beliau bersama kongres Amerika berhasil meloloskan 15 Undang-Undang dalam 100 hari itu, yang sangat kritis untuk perbaikan ekonomi Amerika. Sejak itu, masa 100 hari itu dijiplak berbagai kalangan, termasuk di industri dan manajemen organisasi, sebagai titik evaluasi terpenting. Artinya kalau dalam 100 hari seorang pemimpin itu ‘memble’ dan tidak berhasil membuat gebrakan yang berarti, maka dapat disimpulkan pemimpin itu bakal gagal alias ‘memble berkepanjangan’.
Masa 100 hari itu sendiri memang sering diperdebatkan. Ada yang bilang terlalu pendek. Ada yang bilang cukup. Dan ada pula yang menganggap itu sangat panjang dan lebih dari cukup. Saya sendiri beranggapan jangankan 100 hari, tetapi 10 hari-pun sebenarnya cukup, apabila memang kita punya ‘crash program’ yang rinci. Tetapi apabila kita tidak punya strategi dan rencana, maka kita akan kehilangan taktik dan kesempatan bertindak. Beberapa tahun yang lalu, disaat saya sedang lesu, Mpu Peniti mendongeng sebuah kisah pendek. Kata beliau, ibaratnya kita melihat sebuah pohon mangga yang sedang berbuah sangat lebat. Terus kita kepingin memetik buahnya. Maka minimal kita harus punya 3 modal. Yang pertama, tentu saja keberanian. Yaitu, berani tidak kita memanjat pohon. Bagaimana kalau pohon tinggi ? Kedua, adalah ikhtiar. Memanjat pohon perlu usaha, dan ketrampilan memanjat. Bukan hal yang sepele, kalau pohon-nya licin dan sukar dipanjat. Dan yang ketiga kita juga harus bijaksana. Kalau sudah diatas pohon, jangan dimakan semua buah yang ada. Tetapi pilih yang betul-betul masak dan matang pohon. Konsumsi secukupnya dan jangan serakah. Begitu petuah Mpu Peniti. Hingga kini, ajaran sederhana itu menjadi satu pelita yang pas untuk menunjukan arah saya bertindak. Mpu Peniti menyebutkan filosofi pemimpin ala pohon mangga.
Barangkali, andaikata dan jikalau serta seandainya, filosofi pohon mangga itu secara strategis mau diterapkan ke 100 hari SBY, mungkin skenarionya bakal jadi seperti ini. Pertama program 100 hari bukanlah soal prestasi tetapi soal gebrakan. Persis di langkah pertama ini sebenarnya yang diperlukan adalah nyali dan keberanian menciptakan gebrakan. Sama seperti Roosevelt menggebrak dengan meloloskan 15 Undang-Undang dalam 100 hari itu. Mestinya SBY yang sudah berpengalaman selama 5 tahun diperiode sebelumnya punya cukup modal menciptakan gebrakan yang dahsyat sehingga bisa menimbulkan momentum yang positif buat citra, prestasi dan juga kemajuan bangsa. Sayangnya langkah pertama ini gagal dimanfaatkan SBY.
Kedua, SBY juga mestinya punya pengalaman dan modal untuk jungkir balik dalam 100 hari mengerahkan mesin birokrasi agar ber-ikhtiar dan kerja keras membuat sejumlah kejutan dan gebrakan. Sayangnya yang kedua ini tidak juga terjadi. Seorang teman mengatakan bahwa sejak Reformasi bergulir, kebanyakan permasalahan bangsa dan negara diselesaikan dengan Solusi Politik. Ini lumrah, karena soal kekuasaan Partai yang sangat majemuk. Pemilihan Menteri hingga Direktur BUMN dan pejabat lain-nya masih berdasarkan Solusi Politik. SBY yang mampu setidaknya menciptakan sejumlah kestabilan di periode pertama, seharusnya melirik opsi Solusi Manajemen di periode kedua. Artinya urusan politik bisa dikalahkan dengan kepentingan manajemen, terlebih-lebih SBY punya mayoritas di periode kedua. Sudah saatnya segala ikhtiar dan perjuangan kita dalam 5 tahun mendatang harus berbasis Solusi Manajemen bukanlagi melulu Solusi Politik.
Akhirnya, satu yang tersisa dan barangkali masih bisa dimanfaatkan SBY, adalah apakah beliau bisa bijaksana memilih mangga yang masak dan matang pohon ? Apakah SBY tidak akan tergoda dengan mangga mengkel yang masam, keras dan membuat kita merem melek. Barangkali ada baiknya kita bangsa yang besar ini, tidak harus ikut latah menjiplak tradisi bangsa lain. Marilah kita mengembangkan keluhuran pribadi bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak ribuan tahun yang lalu. Menjadikan Indonesia sebagai panutan Internasional, dan biarlah bangsa lain yang menjiplak kita.
Saturday, January 30, 2010
Sunday, January 24, 2010
CARA SUKSES UNTUK GAGAL

Kalau anda jalan-jalan ke toko buku, sesekali perhatikan buku-buku bergaya motivasi yang dijual. Hampir semuanya mengajarkan taktik, cara, atau strategi menuju sukses. Ini memang normal, dan pakem yang berlaku. Semua orang ingin sukses. Jadi buku yang laku dijual, otomatis adalah buku yang mengajarkan cara sukses. Tapi andaikata anda iseng, coba saja anda nekat dan menanyakan ada tidak, buku yang mengajarkan cara sukses untuk gagal. Pasti penjaga toko buku akan mengernjitkan dahinya, melihat anda dengan pandangan aneh dan mungkin menganggap anda sedikit gila.
Secara matematik dan teori probabilitas, sukses dan gagal punya potensi 50% berbanding 50%. Artinya dalam hidup ini anda punya peluang 50% gagal atau 50% sukses. Yang dilakukan banyak orang adalah meningkatnya peluang sukses sebsar-besarnya. Taktik sederhana untuk menghindari kegagalan. Celakanya berapa-pun tinggi peluang anda untuk sukses, anda tidak akan terhindar dari peluang gagal. Tidak peduli berapa kecil-pun. Kalau begitu mengapa tetap saja tidak ada kursus atau pelatihan yang mengajarkan kita agar gagal dengan sukses. Aneh bukan ?
Didalam olah raga bela diri Judo ada tekhnik yang disebut dengan nama Ukemi. Secara sederhana Ukemi memang mengajarkan cara yang paling bijak untuk jatuh. Atau dijatuhkan lawan. Tetapi secara filosofis Ukemi jauh lebih dalam lagi artinya. Ukemi adalah tekhnik mawas diri, yang menyadarkan diri kita bahwa kita selalu dalam posisi yang rawan untuk selalu menerima serangan musuh dan lawan. Dan setiap kali kita diserang, ada kemungkinan kita dijatuhkan lawan. Ukemi menjadi pra-syarat untuk tetap eling, menerima serangan dengan bijak, agar jatuh dengan baik dan benar – tanpa cidera. Agar kita bisa bangkit kembali dan mempertahankan diri.
Pelajaran tentang Ukemi ini, saya dapati secara filosofis dari mentor saya Mpu Peniti, lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saat itu beliau menasehati saya, “Gagal bukanlah soal jatuh. Tetapi seberapa siap dan seberapa cepat kita bisa bangkit lagi. Itu hitungan dan rumusnya ” Mpu Peniti menjelaskan bahwa anggap saja hidup ini seperti sekolah. Kalau sukses dan kebahagian adalah jam mata pelajaran. Maka gagal adalah jam istirahatnya. Sambil tertawa, Mpu Peniti mengajarkan agar ‘jam istirahatnya’ jangan lama-lama. Menurut Mpu Peniti, beliau belum pernah menemukan orang yang selama hidupnya selalu sukses. Kalau-pun ada, pasti saat-saat gagalnya tidak pernah ia ceritakan.
Sehari-hari kita sebenarnya selalu siap dan sudah dipersiapkan untuk membuat kesalahan. Buktinya banyak sekali. Pensil yang kita beli diujung-nya sudah disiapkan bersama penghapus. Komputer dan kamera digital kita dilengkapi dengan tombol “delete”. Dan ‘tipp-ex’ adalah bagian dari kehidupan kantor kita sehari-hari. Jadi sebenar-benarnya kita juga punya budaya salah dan gagal. Malah dalam perkawinan saja juga sudah disiapkan opsi bercerai. Demekian juga kontrak bisnis yang memiliki klausul memutuskan ‘kongsi’ kalau gagal. Lha, kalau salah, gagal dan cerai sebenarnya bukanlah hal yang tabu, mengapa tetap saja tidak ada buku, kursus atau pendidikan yang mengajarkan agar kita bisa sukses untuk gagal ? Apakah gagal itu memang mudah ? Sehingga tidak perlu diajarkan atau tidak perlu ada buku petunjuknya ?
Bagi saya yang berulang kali mengalami kegagalan dan berbuat aneka kesalahan, gagal tidaklah mudah sama sekali. Andaikata ada kursus berijazah atau pendidikan berdiploma, sudah sejak dulu saya ikut. Sayangnya tidak ada. Dan entah kenapa gagal dianggap sangat memalukan. Akibatnya saya belajar gagal dan salah dengan susah payah. Mencoba bijak untuk menimba sejumlah pelajaran dari kegagalan dan kesalahan yang saya perbuat. Hal ini sangat tidak nyaman sekali. Seringkali menyakitkan, dengan sejumlah emosi yang negatif. Mulai dari rasa frustasi, depresi hingga kehilangan rasa percaya diri.
Tetapi nyeri dan sakit kadang sangat bermanfaat. Menjadi motivasi terbaik untuk sembuh. Dan alasan agar tidak menyerah dan putus asa. Kadang rasa sakit itu menjadi dendam dan alasan untuk membalas. Hingga titik tertentu perasaan-perasaan itu tetap positif dan bisa menjadi terapi untuk membulatkan tekad, memacu semangat dan mengeraskan hati. Suatu hari salah satu cucu perempuan Mpu Peniti pulang sekolah, menangis sekeras-kerasnya. Ia baru saja putus dengan pacarnya. Menurut versinya, pacarnya selingkuh dengan teman karibnya. Ia merasa dunia mau kiamat dan berhenti berputar. Sang cucu mengadu kepada Mpu Peniti. Entah nasehat apa yang dibisiki beliau. Yang jelas sang cucu menangis lebih keras selama setengah jam.
Yang saya tahu, Mpu Peniti mengajarkan secara tuntas tentang kegagalan pada sang cucu saat itu. 2 minggu kemudian ketika saya bertemu lagi dengan sang cucu, wajahnya gembira dan sangat sumringah. Ia bercerita punya pacar baru yang lebih ganteng dan baik hati. Pastinya, sejak saya belajar filosofis Ukemi dari Mpu Peniti, saya melihat kegagalan dan kesalahan dalam sebuah persepsi yang sangat berbeda. Bahwa jatuh ‘dengan baik’ adalah bagian dari bela diri. Ada tiga pokok pemikiran yang kini menjadi bagian dari filosofis bisnis saya. Ukemi membuat saya siap jatuh setiap saat, membuat saya lebih rendah diri, dan tidak pernah menganggap enteng setiap musuh dan kompetitor. Ukemi membantu saya eling dan waspada. Sehingga setiap kegagalan dan kesalahan yang saya perbuat, resiko kerugian-nya menjadi lebih minim. Yang terakhir Ukemi meningkatkan rasa percaya diri saya, dengan satu jurus. Bahwa saya akan lebih siap bangkit dan lebih cepat siaga, setiap kali saya berbuat kegagalan dan kesalahan.
Monday, January 11, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)



