Wednesday, August 09, 2017

LUKISAN JELEK - Cerita dari San Francisco


Angin musim panas menyambut letih saya – lebih dari 18 jam perjalanan saya tempuh dari  Jakarta menuju San Francisco. Desirannya sejuk dan kering. Angin pulang dari teluk yang selalu ramah di senja hari. Saya menatap langit, dan senja masih terang benderang, biasanya musim panas di San Francisco langit baru gelap diatas jam 8 malam. Suara tawa yang khas tiba-tiba menghapus letih saya. Seorang teman lama saya di San Francisco menjemput saya di bandar udara. Raut wajahnya selalu gembira, walau hidupnya sangat keras di Amerika. Dia baru saja bercerai hampir 6 bulan yang lalu. Sebuah episode kehidupan dirinya yang selalu ia buat menjadi lawakan walaupun sangat pahit. Kami berpelukan melepas kangen. Terakhir kami bertemu hampir 2 tahun yang lalu.

Usai memasukan koper di bagasi, kami meluncur kekota mencari makan. Saya meledek mobil tuanya, dan dia tertawa terbahak-bahak. Dia adalah salah satu orang yang saya kenal selalu optimis. Tidak peduli biar bagaiman hidup mencoba merobeknya berkeping-keping. Dia selalu tertawa dan selalu mencoba membalas meledek hidup. Dia selalu mengatakan kepada saya bahwa hidupnya adalah selembar plastik yang tahan dirobek. Saya banyak belajar dari dirinya, terutama dalam berkelit melewati hari-hari yang susah dalam kehidupan ini.

Kami meluncur ke Little Italy, dan sambil tertawa, dia mengatakan bahwa kali ini dia menemukan sebuah café, yang pasti saya akan suka. Saya tersenyum, karena teman yang satu ini memang tahu betul hobby dan kesukaan saya. Tiba di café, pengunjung mulai sepi. Karena hari hampir jam 09.00 malam. Saya memesan sup dan pasta sederhana. Saya tidak ingin malam ini “jet-lag” saya bertempur dengan perut yang kekenyangan. Lalu kami-pun heboh bercerita tentang “kacrut”-nya ekonomi di Indonesia dan situasi politik yang “kalut” di tanah air. Di tengah santap malam dia mengatakan sebuah kalimat yang saya tunggu-tunggu, “Elu bakal suka deh – café ini punya sejumlah lukisan jelek kesukaan elu” Saya tertawa terbahak-bahak. Dan akhirnya permisi ke WC untuk membuktikan.

Saya punya hobby melihat lukisan jelek. Dan entah kenapa, berbagai restoran diseluruh penjuru dunia selalu punya kebiasaan memajang lukisan jelek di WC mereka atau di gang menuju WC mereka. Apakah lukisan jelek merupakan atribut terbaik untuk dipajang di sebuah WC restoran atau café untuk menunjukan sebuah nilai keaslian ? Atau menunjukan sebuah dekor interior yang unik ? Café ini mungkin telah berusia lebih dari 30 tahun, dan di gang menuju WC tergantung beberapa lukisan yang memang sangat jelek, demikian juga didalam WC pria.
Saya selalu menikmati lukisan jelek, yang mungkin tidak memiliki nilai komersil.

Pernah sekali ketika masih sekolah di SD ulangan saya jeblok. Saat itu ayah saya memberikan satu petuah. Pesan beliau, “….. belajarlah menghargai semuanya, baik yang jelek dan yang baik. Karena semuanya adalah anugerah.  Kalau kamu bisa menghargai yang jelek maka yang baik itu nilainya akan berlipat ganda. Tetapi kalau kau tidak bisa menghargai yang jelek maka yang baik tidak akan pernah bisa membuat kau puas !” Awalnya saya tidak mengerti sama sekali petuah itu. Saya merasakan ayah saya mencoba menghibur dan memotivasi diri saya.

Suatu hari seorang teman dari Korea, mengajarkan saya cara minum teh yang baik dan benar. Awalnya saya tidak memperhatikan sama sekali. Karena di Indonesia, setiap kali makan kita sudah terbiasa minum es teh tawar. Dan kita tidak punya apresiasi banyak. Namun setelah saya di ajarkan yang baik dan benar, saya mulai mengerti petuah ayah saya, bahwa setelah sekian lama minum teh yang biasa-biasa saja, termasuk yang buruk dan tidak enak, maka ketika saya diajarkan minum teh yang baik dan benar, maka terasa bahwa yang baik dan benar nilainya menjadi berlipat-lipat ganda. Sejak itu sayapun terobesesi untuk berburu teh yang berkualitas tinggi.

Salah satu efek samping dari petuah ayah saya, maka akhirnya saya juga terobsesi untuk berburu “barang yang jelek” termasuk lukisan dan patung. Medan tempat saya berburu salah satunya tentu saja adalah WC di restoran dan café diseluruh penjuru dunia. Karena disanalah sarang lukisan jelek bermukim. Dan didalam kenikmatan saya menonton lukisan jelek, seringkali hadir sejumlah rasa penasaran serta pertanyaan yang membabi buta. Pertama kebanyakan lukisan itu adalah “mereka yang tidak dikenal” alias anonim. Sesuatu yang sangat berbeda ketika kita menonton lukisan di gallery dimana kita mengenal pelukisnya. Mereka yang anonim bisa saja seorang anak, seorang dewasa atau seorang manula. Bisa saja mereka melukis karena iseng atau mereka yang benar-benar berusaha menjadi pelukis tetapi gagal. Setelah saya melihat sekian banyak lukisan jelek di WC akhirnya saya belajar mengenali hal-hal yang menarik. Misalnya ada lukisan yang dibuat seadanya saja, karena memang iseng. Namun ada sejumlah lukisan yang memperlihatkan usaha, dan perjuangan. Hal itu terlihat dalam tarikan kuas dan warna dengan kesungguhan yang murni dan sangat jujur apa adanya. Pelukis komersil kebanyakan telah kehilangan roh itu. Mereka melukis untuk menyenangkan penonton dan kolektornya. Komersialisasi seringkali memadati kanvas mereka, membuat saya susah bernafas lega. Lukisan jelek sangat terbalik selalu punya persepsi baru karena dilukis dengan mata yang lebih lugu.

Entah kapan awalnya, saya akhirnya mulai mengoleksi barang jelek dan barang yang rusak, dan mencoba menjalani amanat ayah saya. Saya punya sejumlah patung yang cacat, jelek dan rusak. Saya beli ketika berburu barang-barang antik diberbagai gallery. Kebanyakan harganya sangat murah dan tidak diminati orang. Saya juga mengoleksi sejumlah lukisan palsu dan jelek. Salah satu lukisan yang sangat jelek, adalah lukisan yang saya beli di Djogdjakarta, sebuah lukisan tertanggal tahun 1998 dan merupakan lukisan tinta Cina di selembar karton. Konon pelukisnya adalah seorang penderita Schizophrenia yang kemudian meninggal tak lama sesudah ia melukis lukisan itu. Lukisan itu sangat jelek dan tidak berbentuk, namun bagi saya lukisan itu memiliki ketajaman yang indah dan sulit dilukiskan karena memiliki kerumitan emosi yang tidak mungkin terjelaskan.

 

Pernah sekali saya mengobrol dengan seorang pelukis tua di Djogdjakarta – beliau tanpa saya sangka mengatakan :”Saya kangen melukis yang jelek !”. Tentu saja saya terbahak. Namun dia menerawang dan menjelaskan, bahwa semua pelukis awalnya melukis dengan jelek. Tidak ada pelukis yang secara ajaib langsung melukis dengan indah. Titik awal dimana semua pelukis belajar dan mencari jati dirinya adlah masa-masa yang paling berbahagia. Sebuah masa tanpa noda dan dosa. Satu kesucian proses berkarya. Kalaupun lukisan kita jelek, semua orang akan maklum, karena dia masih belajar. Tapi sekarang ketika dia melukis sedikit saja kurang apik, semua kritikus seni akan bersorak mengeritiknya habis-habisan. Dia telah kehilangan era itu. “Saya kangen berbuat salah,” begitu kilahnya diakhir percakapan kami.

 

Kini saya sadar bahwa ayah saya mencoba mengajarkan kepada saya sebuah kebijakan tentang sebuah proses pembelajaran. Bahwa apapun yang kita lakukan, jangan takut apabila awalnya salah dan jelek. Karena setelah itu – kita akan semakin  mahir untuk mampu melakukan yang baik dan benar. Yang penting adalah tidak tinggal diam. Tetapi berani melakukan. Ini yang membedakan kita dengan yang lain. Ada orang tidak pernah punya keberanian untuk melakukan. Selama hidupnya dia hanya akan menjadi penonton. Sisanya justru bangkit dan melakukan. Mungkin awalnya salah dan jelek, tetapi kalau ia tetap berusaha dan bergiat, suatu hari dia akan menjadi maestro.

 


Di Union Square, saya dan teman saya berpisah. Langit telah gelap. Dan angin malam itu cukup dingin membekukan semua keletihan saya. Sebelum tidur, saya jadi teringat perkataan - Lang Leav, seorang penulis di New Zealand – yang menulis novel SAD GIRLS. Dia menulis dengan indahnya – "The most beautiful things are damaged in some way." Kalimat itu membawa saya kealam mimpi malam itu. Banyak orang mengejar kesempurnaan yang ilusif. Tanpa mengerti proses dan pembelajaran. Yang dikejar adalah titik terakhir yang sempurna. Padahal kesempurnaan dan keindahan seringkali adalah akibat sebuah perjalanan panjang. Sayangnya perjalanan itu jarang dimengerti banyak orang.

WASHINGTON APPLE MANIA !


Sehelai kain batik – Cerita dari Djogdjakarta.




Cerita ini diceritakan kepada saya beberapa tahun yang lalu, dan menjadi salah satu cerita favorit saya. Konon suatu saat seorang guru mengajak murid-muridnya, pada suatu hari sebelum subuh untuk mendaki gunung bersama-sama. Tidak ada satupun murid yang berani bertanya mengapa dan kenapa. Tiba dipuncak gunung, sang guru diam seolah melakukan meditasi dan menghadap fajar yang merekah perlahan. Ia membiarkan panas matahari pelan-pelan merasuk kedalam tubuh tuanya. Seolah menyerap enerji dari matahari. Semua murid-muridnya hanya meniru ulah sang guru. Diam dan melakukan hal yang sama. Ketika fajar selesai dengan sempurna, sang guru turun gunung dengan diam. Diikuti para murid-muridnya.

Sore hari menjelang senja, sang guru mengajak murid-muridnya kepantai. Dipantai sang guru melakukan hal yang sama. Berdiam diri, dengan sabar menunggu senja dan matahari tenggelam. Beberapa murid-muridnya tergoda untuk bermain di pantai. Lagi-lagi sang guru berdiam diri, seolah melakukan meditasi dan membiarkan tubuhnya menyerap panas matahari yang semakin senyap, ketika senja turun. Tidak ada murid yang berani bertanya mengapa dan kenapa. Namun seorang diantara mereka merasa sangat penasaran, dan bertanya lirih : “Guru apa maksud pelajaran hari ini ?” Sang guru tersenyum dan menjawab dengan pertanyaan pula : “ Bagaimana mungkin kau mengerti tentang senja ? Kalau kau tidak memiliki jawaban tentang fajar ?” Ditanya seperti itu tentu saja muridnya menjadi sangat bingung. Sang murid hanya memperlihatkan wajah yang bingung.

Malam hari ketika saat makan malam bersama, sang guru baru bercerita bahwa dalam hidup ini ada dua ujian yang sangat penting. Yang pertama adalah ujian terhadap usaha atau ihtiar kita. Itu sebabnya saat mereka ingin menikmati fajar, sang guru mengajak murid-muridnya bangun pagi dan berangkat keatas gunung untuk menonton fajar yang sempurna. Ujian yang kedua adalah kesabaran – dan itu diperlihatkan sang guru ketika kepantai dengan sabarnya menunggu senja jatuh dan hari berakhir. Kata sang guru usaha dan sabar ibarat diri kita dan bayang-bayang yang kita miliki. Kita tidak mungkin bisa sabar kalau kita tidak berusaha. Dan sebaliknya kita tidak mungkin berhasil berusaha kalau kita tidak sabar. Itu sebabnya sang guru berkata : “ Bagaimana mungkin kau mengerti tentang senja ? Kalau kau tidak memiliki jawaban tentang fajar ?”

Cerita diatas di ceritakan oleh seorang pengusaha batik dikota Djogdjakarta kepada saya, ketika beliau prihatin tentang seni batik yang terancam punah karena apresiasi kita terhadap batik semakin pudar oleh jaman dan tekhnologi. Menurut pengusaha ini – batik adalah simbolisasi filosofi Jawa yang berbunyi : “Alon-alon Maton Kelakon”. Artinya dalam hidup ini, kita harus mencapai cita-cita kita, walaupun pelan sekalipun. Dan batik memiliki nafas filosofi yang sama.

Mewarnai sepotong kain bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya warna dan motif bisa dicetak langsung di sepotong kain dengan mesin dan tekhnologi mewarnai yang sangat canggih dan hasilnya adalah sepotong kain yang bisa saja kaya dengan warna dan motif. Mudah dan sangat cepat. Cara yang kedua adalah dengan cara membatik. Cara ini sangat ruwet dan memerlukan usaha dan kesabaran yang tidak sedikit. Karena bayangkan saja, kain diberi lilin dan kemudian dicelup ke salah satu warna, baru menghasilkan satu motif dengan satu warna yang khusus. Untuk motif yang kedua, dilakukan hal yang sama, yaitu kain diberi lilin untuk motif lainnya dan dicelup ke warna khusus lain-nya. Demikian seterusnya, hingga dihasilkan motif dan kekayaan warna yang dikehendaki sang pembatik. Sebuah proses yang sangat memakan waktu dengan usaha dan kesabaran luar biasa. Dua kombinasi inilah yang membuat sehelai kain batik memiliki nilai yang sangat luar biasa.

Saya diperlihatkan sebuah kain batik tua warisan buyut-nya, yang konon dibuat 2 tahun sebelum beliau wafat. Kain batik sederhana itu di buat selama setahun lebih, dengan kesabaran yang luar biasa, serta usaha yang sangat mengagumkan. Saat itu buyutnya sudah sangat sepuh dan menderita rematik. Sehingga hanya bisa membatik perlahan-lahan dan pada saat rematiknya tidak terasa terlalu sakit. Sambil meneteskan airmata selama sejam saya diceritakan sejarah dan tiap garis yang ada di kain batik itu. Sepotong kain batik itu menjadi simbol perjuangan sang buyut dalam menghadapi hidup ini. Tiap garis yang tidak sempurna menjadi cerita kemenangan tersendiri dan bukan cacat. Sesuatu yang membanggakan. Bagi keluarga mereka sepotong kain batik ini menjadi rekam jejak akhir hidup sang buyut. Bukan sebuah buku harian yang penuh dengan cerita dan kalimat-kalimat yang indah. Melainkan sebuah potret apa adanya. Sebuah meditasi tentang kehidupan. Bagi saya dan mereka yang tidak mengerti maka sehelai kain batik tersebut cuma sebuah kain biasa. Dengan motif dan warna yang mirip dengan kain batik yang lain. Tetapi bagi keluarga mereka itulah pusaka yang tidak ternilai harganya karena menjadi sebuah prasasti tentang usaha dan kesabaran.

Menutup cerita tentang buyutnya, sang pengusaha mengatakan kepada saya, bahwa kepada anak cucunya, ia selalu mewariskan 2 nilai tersebut. Bahwa hidup ini sangat ditentukan dengan usaha kita. Siapa yang lebih giat berusaha pasti akan menerima hasil yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Namun tidak selalu usaha kita itu menghasilkan sukses. Yang terpenting adalah jangan berhenti berusaha dan menyerah. Dan kesabaran adalah jiwa dan semangat yang harus kita miliki ketika berusaha. Apabila kita lelah biarlah kita berhenti dan beristirahat. Setelah itu berusaha kembali. Apabila kita gagal, jangan patah semangat. Bangkit dan berusaha kembali. Begitu seterusnya. Itulah inti dari filosofi – “Alon-alon Maton Kelakon”. Itu terekam dengan sangat indahnya dalam sehelai batik warisan sang buyutnya.  Sambil tersenyum sang pengusaha memberikan saya sebuah kalimat penutup, “Hidup ini sangat sederhana !”.


Teman saya seorang ahli nutrisi, bercerita bahwa bagi dirinya pribadi – berpuasa selama bulan suci Ramadhan adalah sebuah episode meditasi kehidupan yang lain. Banyak orang yang melakukan puasa tanpa kesadaran. Hanya mengikuti ritual. Sehingga ketika berbuka puasa, kita lupa dengan makna puasa, yang kita umbar hanya nafsu belaka dan memuaskan dahaga dan lapar secara berlebihan. Padahal sama seperti cerita sehelai kain batik diatas, berpuasa juga memadukan 2 elemen sederhana yaitu usaha dan kesabaran. Usaha kita untuk melatih diri menahan dan melawan nafsu, dan kesabaran dalam menghadapi semua godaan. Memaafkan semua orang yang berbuat salah dan jahat kepada kita. Sehingga diakhir puasa, kita bisa menjadi orang yang besar maafnya, sabar dan lebih tekun berusaha. Selamat menunaikan ibadah puasa. Marilah kita menyederhanakan hidup kita menjadi sehelai kain batik kehidupan. Tetap berusaha dan utuh bersabar ! – Alon-alon Maton Kelakon.

Monday, May 29, 2017

BELAJAR MAKAN GADO-GADO



Situasi suhu politik yang memanas di Jakarta, membuat saya iseng kepingin mencari camilan yang heboh. Mulanya saya ingin mengajak mentor saya Mpu Peniti makan soto betawi favorit kami berdua. Namun beliau malah mengajak saya makan gado-gado di rumahnya. Dengan setengah hati saya mengiyakan juga ajakan itu. Karena gado-gado dan soto betawi jarak kenikmatan-nya sangatlah lebar luar biasa.

Tiba di rumah Mpu Peniti – saya diperkenalkan kepada seorang wanita, setengah baya. Katakan saja nama beliau Mbak Sisca. Dan tiba-tiba saja gado-gado menjadi sajian yang luar biasa menariknya. Mbak Sisca – ibunya asli dari Solo. Ayahnya kebetulan seorang warga negara Belanda. Mbak Sisca lahir dan besar di Belanda. Sejak kecil Ibunya sudah memperkenalkan beliau dengan aneka masakan Indonesia. Salah satunya adalah gado-gado. Setelah menyelesaikan SMA di Belanda, Mbak Sisca saking cintanya dengan masakan Indonesia, akhirnya minta ijin kepada orang tuanya untuk merantau ke Solo; bertemu dengan keluarga besar Ibunya dan belajar lebih dalam soal kuliner Indonesia.

Sejak itu Mbak Sisca keliling Indonesia, dan pernah tinggal di Medan, Bandung, Blitar, Bali dan hingga Lombok. Beliau jantuh cinta “pol” sama masakan Indonesia.
Sore itu saya dan Mpu Peniti disajikan berbagai versi hidangan gado-gado. Kata Mbak Sisca kepada kami, “Awalnya saya mengira Gado-Gado itu cuma masakan yang sangat sederhana, namun setelah belajar 20 tahun lebih soal gado-gado baru kemudian saya sadar betapa rumitnya gado-gado itu. Terutama bila kita bedah dan kita gelar secara filosofis”. Saya dan Mpu Peniti awalnya cuma senyum-senyum saja sambil berpandangan mata. Gado-gado secara filosofis ? Nah, ini baru topik yang super heboh dan menarik.

Menurut Mbak Sisca, roh sebuah gado-gado ditentukan oleh saus kacangnya. Saus kacang tanah ini sesungguhnya cikal bakal roh kuliner Indonesia. Hampir semua kuliner Indonesia yang “beken” dan ternama pasti memiliki sentuhan saus kacang tanah ini. Mulai dari ketoprak, gado-gado, sate, batagor dan siomay, asinan, hingga sambal kacang untuk nasi uduk. Saya sempat garuk-garuk kepala, karena apabila direnungkan, pengamatan Mbak Sisca soal saus kacang tanah ini terasa benar juga.

Kacang tanah bukanlah tanaman asli Indonesia. Menurut sejarah, kacang tanah diperkirakan berasal dari Amerika Latin, lebih tepatnya dari negara Peru dan Brazil. Bukti tertua tentang kacang tanah konon ditemukan di kedua negara ini dan usianya sudah lebih dari 3.500 tahun yang lalu. Kemungkinan besar kacang tanah diperkenalkan ke Asia oleh para pedagang Eropa yang menyusuri jalur jalan sutera dan jalur jalan rempah-rempah lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kini kacang tanah memiliki keterikatan yang luar biasa akrabnya dengan hampir semua kuliner di Asia, termasuk di Indonesia.

Lanjut Mbak Sisca, saus kacang tanah ini memiliki resep dasar yang sangat sederhana, kacang tanah yang digoreng dan dihancurkan, ditambah bawang putih, garam dan gula merah (gula aren). Baru kemudian lewat persilangan budaya, saus kacang tanah ini bertambah kaya dengan asam, kecap manis, cabe, dan terasi serta rempah-rempah lain sehingga menjadi saus kuliner yang eksotis. Gado-gado sebenarnya cuma sekumpulan sayur mayur yang sederhana, namun karena diberi saus kacang tanah yang eksotis, maka jadilah ia kuliner yang ajaib.

Sore itu, Mbak Sisca menyajikan 3 bentuk gado-gado yang mengalami evolusi budaya yang berbeda. Yang pertama adalah gado-gado khas Betawi lengkap dengan sayur pare dan kencur. Yang kedua adalah karedok atau gado-gado dengan sayur mentah ala Sunda. Dan yang terakhir adalah pecel Blitar alias gado-gado Jawa Timur yang pedas. Kami mencicipi-nya dengan antusias, dan mulai merasakan jabaran dan tatanan budaya yang kini terasa membuat gado-gado menjadi sebuah filosofi yang ruwet.

Sembari melahap gado-gado, Mbak Sisca melanjutkan dongengnya, menurut beliau gado-gado ini adalah simbol sebuah perlawanan diam. Karena tidak ada bukti tertulis yang akurat soal gado-gado, Mbak Sisca membuat dugaan lewat sejumlah petualangan kulinernya. Konon menurut beliau, gado-gado kemungkinan besar adalah tiruan dari “salad” pada jaman Belanda yang kemudian diterjemahkan secara unik oleh para pembantu di dapur-dapur sinyo Belanda jaman dulu. Teori ini didukung oleh riset Mbak Sisca bahwa gado-gado ini ada dua tipe. Gado-gado yang bumbunya di ulek, kemudian sayuran ditambahkan kedalam ulekan atau campuran bumbu. Yang mana metode ini yang paling populer jaman sekarang. Dan gado-gado yang hampir punah adalah gado-gado siram, bedanya sayuran di racik jadi satu dan kemudian bumbu gado-gado baru disiram diatas racikan sayuran. Mirip cara membuat “salad” ala kuliner Barat. Mbak Sisca menuturkan bahwa beliau pernah makan gado-gado di Princen Park (Lokasari) di daerah Jakarta kota, dimana sayuran gado-gado mirip racikan “salad”, yaitu salada air, kentang, telur, dan irisan jagung manis. Lebih mirip sebuah “salad” ala kuliner barat dan saus kacangnya disiram diatas. Jadi perlawanan diam yang dimaksud Mbak Sisca adalah kemungkinan dijaman Belanda dulu ada pihak-pihak yang tidak mau kalah dan “salad” ciptaan barat kemudian di Indonesia-kan dengan saus kacang.

Kata gado-gado sendiri kemungkinan menyiratkan arti bahwa gado-gado memang merupakan makanan pembuka (appetizer)  yang bisa di gado tersendiri dan tanpa harus disantap bersama makanan lain. Ini salah satu bukti bahwa riset Mbak Sisca punya tinjauan sejarah yang cukup akurat.

Yang menarik lagi adalah evolusi pecel yang berkembang sangat banyak dan bervariasi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Misalnya pecel ala Blitar, Malang, Kediri, Tegal, dan Banyumas semuanya memiliki varian yang sedikit-sedikit berbeda, mulai dari tekstur kacang tanah, tingkat kepedasan, hingga tambahan rempah-rempah. Mbak Sisca juga memperlihatkan sejumlah foto tua, bagaimana jaman dahulu pecel ini dijajakan sebagai sarapan pagi hari yang sangat populer di sepanjangan jalur kereta di Jawa Timur.

Lucunya pula kini gado-gado berputar arah, di berbagai hotel bintang 5 dan restoran Indonesia kelas atas, gado-gado ini kembali di interpertasikan ulang oleh kebanyakan koki-koki luar negeri, dengan cara-cara penyajian yang spektakuler. Bumbu saus kacang misalnya, kini sudah diperkaya dengan saus kacang mede, yang konon lebih gurih dan agar kelihatan lebih mewah.

Pulang dari rumah Mpu Peniti, pengalaman belajar makan gado-gado terasa sangat istimewa buat saya secara pribadi. Sebuah pembelajaran yang inspiratif. Mungkin saja benar bahwa gado-gado merupakan sebuah perlawanan diam dari bangsa ini, untuk menunjukan kepada penjajah waktu itu, bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang lebih inovatif.

Tetapi diluar dari itu – buat saya yang paling menarik adalah sebuah ide yang sangat amat sederhana, yaitu sayuran rebus yang diracik dan diberi saus kacang tanah bisa menjadi legenda yang menjadi bagian sejarah kuliner bangsa ini. Terutama ide yang sederhana ini dicerna oleh saudara sebangsa dan setanah air, kemudian ditambah dan dikurangi variasinya menjadi sebuah fusi ide, yang tidak ditolak dan tidak menimbulkan keributan. Tetap menjadi sebuah ide yang harmonis dan serasi. Tidak ada protes, semua pihak menerima setiap perubahan dan inovasi dengan legowo. Barangkali generasi bangsa saat ini bisa belajar dari gado-gado secara apik. Bahwa keragaman itu sebenarnya sangat indah.

Mungkin Pemerintah kita bisa belajar dari gado-gado juga. Kata Mbak Sisca, sebenarnya gado-gado bisa menjadi budaya memasyarakatkan santapan yang berimbang dan yang sehat. Karena didalam gado-gado bisa lengkap berimbang, ada karbohidrat (kentang), sayuran, dan protein (tahu, tempe dan telur). Lewat gado-gado bisa saja kita bikin kampanye makan sehat yang baik.

Seorang Chef pernah bercerita kepada saya, tentang kekaguman-nya terhadap gado-gado. Sederhana, enak dan tetap bisa fleksibel. Mau dibikin merakyat sangat bisa. Mau dibikin mewah juga sangat bisa. Mbak Sisca menuturkan bahwa ia pernah meracik gado-gado super mewah, dengan asparagus, jamur enoki, tomat Jepang, strawbery California dan apel Washington. Rasanya tetap spektakuler !

Bagi saya pribadi, bangsa dan negara Indonesia, rumitnya mirip gado-gado, tetapi kerumitan bahan baku itulah yang membuat rasanya menjadi ajaib. Artinya  tanpa keberagaman itu gado-gado kehilangan nilainya. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin bangsa dan negara ini, harus eksotik bisa menjadi saus kacang tanah yang komplit. Asin, asem, manis, dan gurih yang sempurna. Keseimbangan yang pas. Barangkali itu roh-nya !


Sejarah tidak pernah berbohong, tetapi tradisi dan budaya kuliner suatu bangsa seringkali sarat dengan filosofi yang bijak, dan gado-gado adalah salah satu contoh yang nyata. Filosofi keberagaman yang sudah kita praktekan selama beratus-ratus tahun.

Si Biang Penasaran naek Gajah !


Wednesday, May 03, 2017

EKONOMI INDONESIA MELAMBAT ?



Saya jelas-jelas bukan seorang ahli ekonomi. Pemaham-an saya soal ekonomi 100% dari naluri dan panca indera sehari-hari melakukan bisnis. Istilah keren jaman sekarang – “crowd wisdom”. Jadi kalau anda membaca artikel ini jangan memakai kaca mata yang salah. Saya tidak membuat analisa yang bisa dipertanggung jawabkan secara akademis.

Beberapa minggu yang lalu – saya menerima email dari seorang kerabat bisnis. Ia bertanya singkat dan jelas. “Bagaimana ekonomi Indonesia ?” lalu ia juga menanyakan prediksi saya. Seolah-olah saya konsultan ekonomi buat dia. Awalnya saya tertawa terbahak-bahak. Karena ini jelas pertanyaan yang menjebak. Namun bertahun-tahun mengenalnya, saya sangat paham bahwa ia sangat cerdas, penuh pengetahuan, rajin bergaul dan pasti punya sumber yang banyak. Tetapi mengapa ia bertanya kepada saya ? Lalu iseng saya balas emailnya singkat – “Tanya dong sama Mbah Google”. Ia hanya memabalas dengan “hahahahahahahahahaha”.

Tak lama kemudian, saya terusik rasa penasaran saya. Pikir saya ini saatnya meditasi ekonomi, menajamkan naluri dan memotret ekonomi di jalan. Ketika berkunjung ke sebuah mall di Jakarta, saya sempat melihat sejumlah pegawai sedang rehat makan siang. Beberapa diantaranya makan nasi bungkus, mungkin dari warteg,tetapi ada beberapa makan dengan bawa bekal dari rumah. Salah seorang dari mereka bertanya : “Koq elu rajin banget sih. Tiap hari bawa bekal dari rumah ?”
Yang ditanya menjawab sambil tertawa : “ Bukan rajin tau ! Tapi ngak sanggup makan warteg. Buat gue warteg tuh mewah !” . Entah kenapa tiba-tiba dada saya terasa sesak. Rasanya ada ganjalan yang membuat saya ikut miris dan bersedih.

Pulang dari mall, seorang teman mengirim pesan. Ia memberanikan diri untuk meminjam uang. Alasan-nya hidup lagi super susah. Lalu kami “chat” lewat telpon. Ia menuturkan bahwa gaji suaminya itu hanya Rp.3,7 juta dan sudah 4 tahun tidak berubah. Tidak pernah naik ! Malam harinya saya tanya sama Mbah Google, dan di internet keluarlah sejumlah artikel ekonomi. Uniknya semua artikel itu bervariasi, tapi kebanyakan bagus dan baik. Artinya ekonomi Indonesia lumayan bagus-lah. Hanya ada 1-2 artikel yang menyuarakan lampu kuning. Perasaan saya campur aduk.
Mana yang benar ?

Besoknya saya mengajak seorang bankir untuk makan siang. Perlahan-lahan saya pancing dengan beberapa pertanyaan menjebak. Tetapi ia tidak mau menjawab lugas. Dari sindiran-nya saya mencerna bahwa kata koran keadaan makro ekonomi kita sebenarnya cukup bagus. Dan  apa kata koran dengan kenyataan di lapangan seringkali sangat berbeda. Ia mengeluh secara halus bahwa target tahunan sangat sukar dicapai. Bagi sebuah bank dengan status perusahaan publik mereka harus punya siasat bisnis yang berlapis-lapis. Disatu pihak bisnis mereka perlu tumbuh nyata dan dilain pihak mereka juga harus bisa memuaskan pemegang saham. Bila tidak harga saham mereka anjlok dan situasi bisa runyam. Pusingnya bisa tujuh turunan. Begitu ia mengakhiri sesi makan siang kami. Sebenarnya sebulan yang lalu sebuah majalah berita di Indonesia menampilkan laporan utama tentang NPL atau kredit macet yang tumbuh agak tinggi tahun 2017. Puncak kredit macet yang diumumkan pemerintah 3% (gross) pada Juni 2016 ternyata naik menjadi 3,1% pada Januari 2017. Ini yang ditakutkan semua orang. Trend kredit macet akan naik di 2017. Artinya yang punya hutang pada kesulitan membayar.

Pulang dari makan siang, saya menelpon seorang teman yang profesinya pengacara. Ia pernah mengatakan bahwa bilamana situasi ekonomi sedang baik, bisnisnya diwarnai dengan maraknya para pengusaha membuat usaha “joint-ventures” alias kongsi. Baik dengan partner didalam negeri dan atau partner diluar negeri. Tetapi bilamana ekonomi sedang jelek, bisnisnya lebih banyak dipenuhi dengan pengusaha yang pecah kongsi. Dan sudah dua tahun terakhir ini bisnisnya memang lebih banyak permintaan bercerai alias pecah kongsi.
Perasaan batin saya semakin tidak nyaman. Saya lalu teringat pidato Jokowi beberapa hari yang lalu – yang meminta BUMN untuk melakukan sekuritisasi asset, agar tersedia dana untuk membangun infrastruktur. Indonesia memang jelas tertinggal pembangunan infrastrukturnya. Itu sebabnya pemerintah gencar menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun pembangunan infrastruktur butuh uang dalam jumlah sangat banyak. Sehingga pemerintah berusaha punya uang sebanyak-banyaknya. Pendapatan pemerintah sangat terbatas sekali. Pertama dari pajak dan kedua lewat hutang. Itu motivasi pemerintah belum lama ini menggelar program Tax Amnesty. Tujuan-nya jelas yaitu berusaha untuk meningkatkan penerimaan pajak secara maksimal. Sedangkan hutang Indonesia jelas semakin membengkak. Tahun 1998 ketika Indonesia masuk era reformasi, warisan hutang kita saat itu sekitar Rp. 1.300 trilyun. Sedangkan tahun 2017 atau hampir 20 tahun setelah reformasi hutang kita sudah membengkak menjadi Rp. 4.274 trilyun, atau sudah meningkat lebih 300%.

Kalau saya disuruh mikir hutang sedemikian banyak, pasti ketombe dan uban tumbuh drastis dikepala saya. Akhirnya saya melakukan 2 pengecekan terakhir. Pertama saya melakukan interview dengan pelaku bisnis hiburan. Teorinya sederhana, kalau duit gampang diperoleh, biasanya orang mudah bersenang-senang. Teman saya yang bergerak didunia hiburan mengatakan bahwa sebenarnya setelah pergantian pemerintahan dari SBY ke Jokowi – bisnis hiburan cukup lesu selama 4 tahun terakhir ini. Tahun 2016 cukup jelek, tetapi kwartal pertama 2017, pendapatannya minus 30% dibanding tahun 2016. Menurutnya situasi ekonomi memang cukup seret. Buat kebanyakan pelaku ekonomi – Indonesia sangat terpengaruh dengan “uang panas”. Konon kabarnya banyak “uang panas” ini menguap dan atau disembunyikan di bawah bantal.

Menurut Gaikindo – puncak penjualan mobil di Indonesia terjadi tahun 2013 sebanyak 1,23 juta unit. Tahun 2014 turun menjadi 1,20 juta dan tahun 2015 merosot hingga 1,01 juta. Tahun 2016 penjualan naik ke 1,06 juta dan masih terpaut jauh angkanya dengan tahun 2013. Pertumbuhan ini kebanyakan juga ditunjang oleh kenaikan penjualan di Indonesia wilayah Timur. Misalnya Papua yang tumbuh 59,73% dan NTB yang penjualan-nya naik 94,45%. Pertumbuhan terbesar lainnya juga datang dari mobil jenis LCGC alias Low Cost Green Car yang tumbuh naik sebesar 38,3%. Artinya dugaan ekonomi melemah selama 4 tahun mulai terkuak perlahan tabirnya.

Saya kemudian melakukan konfirmasi terakhir dan merupakan konfirmasi yang terpenting, yaitu minta konfirmasi ke teman-teman di bisnis retail. Ternyata dengan malu-malu mereka mengakui bahwa setelah Imlek, memang penjualan agak seret. Menurut teman-teman, sejumlah kejadian menjelang pilkada Jakarta dengan sejumlah demo yang marak, percaya atau tidak telah melemahkan ekonomi. Program TAX Amnesty juga punya pengaruh psikologis yang membuat pelaku ekonomi berpikir ulang tentang masa depan dan strategi bisnis yang harus mereka terapkan.


Yang menarik adalah Survey Bank Indonesia yang mengatakan bahwa selama bulan Maret telah terjadi deflasi yang sangat kecil yaitu sekitar 0.02%. Konon penyebabnya karena panen raya yang menyebabkan harga komoditi menjadi turun. Namun bagi teman-teman dibisnis ritel, sebagian alasannya adalah permintaan konsumen yang melemah sehingga kelebihan pasokan dan harga turun. Teman-teman dibisnis makanan seperti – bakery, restoran dan café juga menyuarakan sentimen yang mirip. Ekonomi Indonesia sebenarnya agak sensitif terhadap pola konsumsi konsumen dalam negeri. Ibaratnya sterika kalau adem, maka baju yang kita gosok akan tetap lecek. Sebuah analogi ekonomi yang sangat sederhana namun menurut saya cukup bijak. Kebanyakan para pelaku ekonomi berharap 2 hal. Pertama Lebaran dalam 2 bulan mendatang bisa menjadi “sentakan” yang bisa membuat ekonomi laju kembali. Dan yang kedua mereka menunggu sentuhan ajaib pemerintah untuk membuat ekonomi panas kembali. Bagi saya pelaku ekonomi jalanan – yang terpenting adalah menyimak, bersiap, dan memutar otak untuk melakukan terobosan baru !