
Tuesday, November 27, 2007
Monday, November 26, 2007
Intuisi + Interpertasi + Inspirasi + Ideaspotting
Friday, November 23, 2007
Tuesday, November 20, 2007
SURAT DARI KUALA LUMPUR
Menurut Armando, minimal ada 3 permainan utama yang sangat bergantung kepada filosofi tek-tok ini. Tengoknya saja misalnya ping-pong, bilyar, dan permainan karambol. Semuanya berdasarkan filosofi tek-tok. Mulanya saya tertawa ngakak mendengar penjelasan Armando. Tetapi setelah dipikir-pikir, ternyata tek-tok memang penting. Pemasaran juga mirip dengan tek-tok, begitu kilah Armando. Fenomena tek-tok merupakan mekanisme yang menjelaskan metode marketing penasaran.
Pertama, marketing atau pemasaran memang butuh umpan penasaran yang pas. Ibaratnya bola ping-pong yang dipelintir secara khusus dan diumpankan kepihak lawan. Atau tembakan bola bilyar dengan efek atau tarikan khusus. Semuanya agar tek-tok sesuai dengan keinginan kita. Bila tidak - lawan tidak akan membalas dan memberikan reaksi yang pas. Semua upaya kita akan gagal.
Kedua, apabila konsumen atau lawan, membalas dan memberikan reaksi terhadap umpan bola kita, maka permainan menjadi asyik. Karena konsumen berpartisipasi aktif dan agresif. Ini titik kritis dalam pemasaran. Penasaran yang kita umpankan diawal, tidak mati muda. Tapi berkelanjutan menjadi sebuah titik api yang berpotensi meluas dan menyebar. Penasaran bisa berkobar besar menjadi kebakaran. Akibatnya akan tercipta trend. Selanjutnya, konsumen atau lawan akan mengikuti ritme dan irama permainan kita. Bila kita cerdas, konsumen atau lawan menjadi partner yang bisa kita manfaatkan. Misalnya konsumen yang ikut berpartisipasi bercerita atau mempromosikan produk kita. Mirip tugas seorang duta besar.
Dan ketiga tek-tok merupakan cara efektif untuk mempelajari kebiasaan konsumen atau lawan. Belajar dengan cara mendokumentasikan setiap aksi yang kita berikan dan reaksi yang dipantulkan konsumen atau lawan. Dengan cara ini, Armando mengaku kita bisa memetakan pola permainan konsumen atau lawan. Pengamatan Armando memang sederhana tapi pas.
Ketika berangkat ke Kuala Lumpur, di airport Jakarta saya melihat bukti teori tek-tok Armando. Aneh luar biasa banyak penumpang yang berangkat ke Singapura membawa oleh-oleh donat Krispy Kreme. Yaitu toko donat yang berasal dari Winston – Salem, North Carolina di Amerika yang sudah beken sejak tahun 1937. Krispy Kreme menjadi perusahaan publik sejak tahun 2000 dan agresif melakukan ekspansi. Dan cerita mereka mulai tek-tok kemana-mana. Termasuk ke Asia. Di Asia Pacific, sendiri kebetulan Krispy Kreme baru buka cabang di Australia, Hong Kong, Jepang dan di Indonesia. Tak heran apabila orang di Siangapura, yang ngiler akan cerita Krispy Kreme minta oleh-oleh donat ini dari Jakarta.
Tetapi anehnya, saya melihat banyak penumpang yang berangkat ke Kuala Lumpur, justru menenteng donat merek J.CO yang asli ciptaan Indonesia. Kok bisa begitu ? Selidik punya selidik, ternyata orang-orang di Kuala Lumpur sedang tek-tok dengan donat J.CO. Di Mall baru Pavillion di Kuala Lumpur, donat J.CO sudah buka cabang dan konsumen ngantri cukup banyak. Konsumen Kuala Lumpur belum tek-tok dengan Krispy Kreme. Dan juga sebaliknya konsumen Singapura belum tek-tok dengan donat J.CO. Ini memang fenomena unik.
Kalau kita baca diberbagai blog di internet. Donat J.CO dikritik meniru donat Krispy Kreme. Dan memang buka di Jakarta jauh-jauh hari sebelum Krispy Kreme masuk. Pertarungan keduanya di Jakarta sendiri cukup unik. Konsumen terbelah dua. Ada yang suka Krispy Kreme dan ada yang suka J.CO. Gosipnya J.CO akan segera buka di Singapura. Tetapi melihat konsumen yang terbelah dua saat ini, dimana konsumen Singapura minta oleh-oleh Krispy Kreme dan konsumen Kuala Lumpur minta oleh-oleh J.CO donat, merupakan bukti teori tek-tok Armando belum dimanfaatkan dalam persaingan mereka berdua. Adalah sangat menarik, apabila nanti Krispy Kreme dan J.CO telah buka cabang baik di Singapura dan Kuala Lumpur. Kita akan lihat siapa yang bakal jadi pemenang sesungguhnya ? Apakah mereka bisa tetap tek-tok dengan konsumen mereka masing-masing ? Kelanjutan cerita ini bakalan seru dan tegang ! Jadi tunggu saja.
Friday, November 16, 2007
KEDUA SISI
Menjelang akhir dekade 70’an, Lukman mewarisi bisnis orang tuanya. Sebuah toko lumayan rame-nya, yang berjualan barang-barang elektronik. Apa daya tak lama kemudian tokonya terbakar. Ludes semua barang dagangan-nya. Lukman dilanda tragedi. Ia lupa mengasuransikan tokonya. Sehingga usai kebakaran, bisnis Lukman bangkrut total. Tetapi ia tidak berduka sedikitpun. Tragedi itu dijadikan-nya pelajaran. Ia belajar melihat satu sisi dibalik tragedi itu. Konon menurut Lukman, hidup ini selalu memiliki 2 sisi. Kalau kita dihantam di-satu sisi, maka pertolongan dan perlindungan datang dari sisi sebelahnya.
Hal ini benar-benar dijalani Lukman. Seusai tragedi kebakaran itu, Lukman nekat memutuskan menjadi salesman asuransi. Saat itu ia berkelakar, bahwa ia pasti akan sukses. Karena pertama ia adalah contoh kasus yang sejati. Kedua pengalaman yang menyakitkan, bahwa ia lupa membeli asuransi, pasti akan menjadi daya tarik terbaik. Dan hal ini dibuktikan Lukman. Ia benar-benar sukses menjadi Salesman Asuransi. Hanya dalam 5 tahun, ia sudah bisa membeli rumah baru, mobil baru, dan macam-macam lain-nya yang baru. Juga tak lama kemudian, ia menemukan jodohnya. Seorang isteri yang cantik jelita. Pernikahan Lukman, luar biasa sekali. Mewah dan megah. Pokoknya heboh luar biasa. Tak lama kemudian mereka berdua juga dikarunia putera dan puteri. Hidup Lukman sempurna sudah.
Ketika belum lama ini Lukman bertemu dengan saya, ia baru melanjutkan ceritanya. Rupanya ia mengaku menikah dengan wanita yang salah. Isterinya kabur meninggalkan Lukman, demi lelaki lain. Isterinya juga rela meninggalkan putera dan puteri mereka. Mulanya Lukman, terpukul sekali. Hampir-hampir ia mau bunuh diri. Tapi ia ingat strateginya untuk mau melihat kedua sisi. Lukman akhirnya memutar balik hidupnya. Perceraian dengan isterinya, membuat Lukman banyak merenung. Maka uang yang selama ini didapatnya dari pekerjaan salesman asuransi, mulai ia investasikan dengan bijaksana. Secara finansial Lukman semakin berjaya. Akhirnya iapun menikah lagi, selang 2 tahun setelah perceraian-nya.
Ia menuturkan hidupnya yang kembali berbelok dan memutar menuju arah yang lebih baik. Menurut Lukman cara berpikirnya kini lebih panjang dan rinci. Uniknya, ia juga mendapatkan isteri yang jauh lebih muda. Dan Lukman sadar untuk melambatkan kehidupan dirinya. Meluangkan waktu lebih banyak untuk anak-anaknya. Kini Lukman lebih sering pelesir keluar negeri bersama isteri baru dan anak-anaknya. Ia mengaku kualitas hidupnya secara mental, spiritual kini jauh lebih baik.
Lukman memang piawai membalik arah kehidupan-nya. Kuncinya adalah kemampuan-nya untuk memanfaatkan sisi satunya. Ia selalu melihat kedua sisi dengan bijaksana. Dalam bisnis situasinya mirip. Tragedi, malapetaka, dan kegagalan selalu terjadi setiap detik dan setiap saat. Banyak diantara kita yang begitu kena hantaman kegagalan dan malapetaka, seringkali menyerah dan berhenti. Menurut Lukman hidup ini seperti sebuah keping mata uang logam. Selalu ada dua sisi. Kalau sisi yang satu gagal, artinya sisi lain-nya yang berlawanan justru menyimpan rahasia sukses. Jadi kita tinggal mengintip sisi disebelahnya.
Seorang pengusaha pernah bercerita kepada saya, bahwa ia percaya Tuhan menciptakan setiap manusia dengan maksud dan tujuan yang baik. Jadi semestinya tidak ada manusia yang cacat, kurang bermutu, dan tidak sempurna. Ia percaya betul setiap manusia diciptakan Tuhan dengan sempurna. Hanya saja seringkali kita menempatkan seorang pegawai ditempat yang salah. Contoh, ia pernah memiliki seorang pegawai wanita yang cantik sekali. Tetapi menurut para manajer HRD, pegawai wanita ini pengetahuan-nya rendah, kurang cerdas, dan banyak kekurangan-nya. Sang pengusaha cuma tertawa, menurut beliau, kalau kita tertarik dengan kecantikan-nya, maka manfaatkanlah kecantikannya saja. Tidak lebih tidak kurang. Jangan berharap terlampau tinggi. Pegawai seperti ini menurut sang pengusaha cocok untuk dijadikan respsionis. Itu saja. Justru segala kekurang-nya merupakan aset yang unik. Misalnya sikapnya yang rada “pelan dan terlambat” merupakan senjata ampuh, dalam menghadapi tukang tagih, atau orang yang minta sumbangan.
Sang pengusaha bercerita bahwa ayahnya dahulu, ketika masih muda mendapatkan kecelakaan dan kehilangan penglihatan-nya. Ayahnya menjadi buta. Serta merta ayahnya kehilangan pekerjaan-nya. Banyak orang menyarankan ayahnya agar mencari pekerjaan yang sesuai, seperti menjadi terapis pijat. Ayahnya tersinggung dan marah besar. Beliau bertekad membuktikan bahwa kebutaan-nya bukanlah sebuah halangan besar. Kebetulan ayahnya adalah seorang pecinta tanaman bonsai. Tak lama kemudian, ayahnya memanfaatkan kebutaannya untuk mendisplinkan dirinya agar lebih penyabar, dan lebih tekun merawat tanaman bonsai koleksinya. Hasilnya memang luar biasa. Biarpun buta, ayahnya semakin peka, dan bertahan berjam-jam merawat tanaman bonsai. Beberapa tahun kemudian, koleksi tanaman bonsai ayahnya kemudian menjadi sangat terkenal. Dan menjadi sumber penghasilan yang luar biasa. Pelajaran ini yang membuat sang pengusaha, tidak lagi berani menyepelekan siapa saja. Ia belajar menghargai setiap staffnya secara utuh.
Monday, November 12, 2007
CERITA TJE FUK
Minggu lalu dalam sebuah seminar pemasaran, saya kebetulan diberi tugas menjadi Moderator. Salah satu pembicara dalam sesi saya adalah Pranoto Widjojo, pemilik kosmetik Tje Fuk yang fenomenal. Iklan-nya jelek. Tapi produknya laku keras. Mereknya tidak neko-neko, tapi laris manis. Harga produknya tidak juga murah. “Night Cream”nya yang terkenal harganya satu buah 150 ribu. Seorang praktisi periklanan pernah mengkritik iklan Tje Fuk ketika iklan itu ramai ditayangkan MTV Indonesia Music Award dan MTV Indonesia Movie Award 2006. Ia menganggap iklan itu salah sasaran dan salah strategi. Iklannya ambruradul tapi yang dibidik adalah segmen konsumen yang sangat cerdas dan tanggap. Yaitu konsumen MTV.
Nyatanya kosmetik Tje Fuk yang dipasarkan sejak April 2004, hanya dalam tempo 3 tahun, menjadi buah bibir yang menyebar kemana-mana. Bak virus menular yang mewabah. Lalu apa formula keberhasilan-nya ? Ketika saya mewawancarai Pranoto dan diberi kartu nama miliknya. Akhirnya saya sadar bahwa sukses Tje Fuk, sangat sederhana. Pas pada ucapan nenek saya yang sama dengan kutipan Eva Longoria diatas. Menurut Pranoto, merek Tje Fuk diambil dari namanya Tje Fu Ku, yang disingkat. Naluri saya, ini bukan sembarang singkat. Boleh jadi Fuk diambil dari kepercayaan bangsa Chinese tentang 3 dewa – “Fuk Lu Shou”. Yaitu 3 dewa yang melambangkan, kebahagian, umur panjang, dan rejeki yang berlimpah. Kata Fuk dalam bahasa Chinese artinya rejeki, kurnia, dan kebahagian. Tje adalah nama keluarga Pranoto. Jadi Tje Fuk kemungkinan besar, artinya adalah rejeki.kurnia dan kebahagian Pranoto.
Kartu nama Pranoto yang sangat sederhana, menyebutkan bahwa Tje Fuk adalah Face Care Cosmetic. Bukan sesuatu yang lazim. Bukankah biasanya kebanyakan kosmetik menyebut dirinya SKIN CARE COSMETIC ? Secara nyeleneh Pranoto sebenarnya sudah keluar jalur, dan melakukan inovasi tersendiri. Karena menurut beliau, ide membuat kosmetik ini datang dari Ibunya yang senang bersolek. Menurut Pranoto, konsumen lebih mementingkan muka daripada kecantikan kulitnya. Itu sebabnya ia menganut komunikasi ‘tembak langsung’. Tidak belok-belok dan mutar-mutar. Di kartu nama Pranoto, jabatannya juga unik. Bukan CEO dan bukan pula direktur. Melainkan ‘Market Research & Development Manager’. Sebuah refleksi kesederhaan yang khas seorang entrepener sejati. Di balik itu tersembunyi sebuah filosofi yang sangat mendasar. Menurut Pranoto, yang paling penting adalah produknya. Itu intinya. Dan itu pula yang menjadi tekad dan ambisinya. Yaitu membuat kosmetik yang mujarab. Jadi jangan heran dengan jabatannya. Karena hal terpenting bagi Pranoto adalah kemampuan dirinya untuk membuat kosmetik bermutu yang benar-benar bermanfaat bagi konsumen. Pranoto benar-benar memberdayakan ucapan nenek dan Eva Longoria. Kompetensi Produk dan Pembuatnya sekaligus !
Ketika saya menyindir soal iklan-nya yang “tidak apik”, ia cuma ketawa. Ia mengaku bahwa semuanya itu adalah proses pembelajaran semata. Secara berseloroh, ia berkata bahwa untung saja kosmetiknya laku. Kalau tidak pasti ia akan bangkrut, karena sudah mengeluarkan biaya iklan sebanyak itu. Saya juga ikut tertawa menikmati selera humornya, dan gaya hidupnya yang serba gampang. Menurut Pranoto, keberhasilan produknya tidak semata dari iklan-nya saja. Tetapi menurutnya datang dari kejujuran. Contoh, ia menggunakan model iklan yang semuanya menggunakan kosmetiknya. Sehingga konsumen bisa langsung melihat hasilnya. Kejujuran yang sama membuat konsumen yang puas dengan hasilnya, justru ikut menyebarkannya dari mulut kemulut.
Pernah sekali, seorang ahli komunikasi memberikan saya sebuah wejangan yang unik. Katanya hanya ada dua iklan yang akan menarik perhatian. Iklan yang sangat bagus dan iklan yang sangat jelek. Membuat iklan yang sangat bagus susah sekali. Disamping biayanya mahal sekali, pesaingnya juga sudah terlampau banyak. Gagal membuat iklan bagus, akhirnya iklan anda akan menjadi iklan rata-rata. Orang dan konsumen akan kesusahan mengingat iklan anda. Sebaliknya karena tidak ada orang mau membuat iklan jelek, kalau ada iklan jelek muncul, ajaibnya justru iklan jelek itu yang akan di-ingat konsumen dan dibicarakan konsumen. Inilah efek penasaran yang menggelitik itu ! Ulah Pranoto, yang tidak sengaja membuat iklan “kurang apik”, justru menjadi berkah, bahwa iklannya dibicarakan dan diperdebatkan orang. Tetapi kejujuran dan kompetensinya membuat kosmetik yang sangat apik yang akhirnya mengubah persepsi orang terhadap “Tje Fuk”. Ketika konsumen sudah mencoba, dan melihat hasilnya, lalu menceritakannya kepada orang lain. Maka hal inilah yang akhirnya menjadi virus dan menular, secara persuasif mengubah pendirian konsumen.
Diakhir seminar, saya bertanya kepada Pranoto tentang apa gebrakan berikutnya. Lagi-lagi ia cuma tertawa. Karena menurut cerita Pranoto, ini baru langkah awal. Gebrakan selanjutnya sudah ada segudang. Jadi kita tunggu saja cerita berikutnya.
Thursday, November 08, 2007
Monday, November 05, 2007
SURAT DARI NEW YORK
Bertiga kami ngobrol dan bergosip ria, kekanan dan kekiri. Termasuk juga masalah perkembangan ekonomi di Indonesia. Ketika asyik berdiskusi, tiba-tiba ahli fengshui ikut nimbrung. Beliau memberikan sebuah perspektif unik. Konon menurut beliau sumber kekuatan Asia, datang dari 2 perlambang. Yaitu naga dan macan. Naga adalah Cina dan macan adalah India. Ini adalah 2 gerbang utama. Selama ini bertahun-tahun kedua pintu ini selalu tertutup. Pintu pertama, Cina atau sang Naga mulai terbuka secara perlahan-lahan. Dan hasilnya memang dahsyat luar biasa. Satu dekade terakhir ini, kita bersama-sama merasakan betapa Cina mulai mempengaruhi dominasi ekonomi dunia. India juga mulai membuka diri secara perlahan-lahan. Dalam waktu tidak lama lagi India dengan penduduknya 1 milyar lebih, juga akan menciptakan pengaruh dominasi yang tidak kalah dahsyatnya. Jadi bayangkan saja oleh anda apabila kedua gerbang Asia itu sudah terbuka lebar, dan kedua kekuataan itu bersaing dan atau menyatu.
Disamping 2 gerbang utama itu, Asia dipengaruhi oleh 2 mahluk mitologi yang lain. Disebelah kanan, Jepang, Korea dan Taiwan menurut ahli fengshui tadi disimbolkan dengan mahluk mitologi lain yaitu KIRIN. Konon menurut kepercayaan di ASIA, KIRIN melambangkan “kedamaian dan kemakmuran”. Dan kalau kita perhatikan secara seksama, ketiga negara ini, biarpun kecil luas negaranya, tetapi berhasil menjadi perlambang kekuatan manufaktur Asia, dari kapal, mobil, produk elektronik, komputer hingga robot. Ketiganya memang seringkali dianggap pasar yang lebih matang, dengan kekuataan ekonomi yang cukup raksasa. Di Jepang sendiri, KIRIN begitu populernya hingga menjadi merek bir yang terkenal.
Lalu bagaimana nasib ASEAN, yang terdiri dari 10 negara, dengan total penduduk diatas 500 juta, dan GDP diatas $ 700 milyar dan lintas perdagangan diatas $ 850 milyar. Percaya atau tidak menurut sang ahli fengshui, ASEAN memiliki perlambang mahluk mitologi “Phoenix” atau burung Hong. Konon menurut dongeng ini adalah burung yang abadi. Artinya mampu melakukan regenerasi sendiri. Di Asia, “Phoenix” dipercaya merupakan pertemuan antara yin dan yang – antara positif dan negatif. Juga “Phoenix” adalah perlambang rahmat kurnia dan kebaikan. Uniknya setiap kali terjadi peperangan, kemelut dan kekisruhan “Phoenix” akan menghilang, dan baru akan muncul ketika situasi kembali damai. Menurut sang ahli fengshui, ASEAN adalah faktor terpenting yang memberi energi dinamisme dan stabilisator terhadap seluruh kawasan ASIA.
Dengan pengertian 4 mahluk mitologi, naga, macan, kirin dan ‘phoenix’, saya merasa bertambah kaya dengan sebuah perspektif spiritual yang baru. Sang ahli fengshui juga melanjutkan, bahwa dalam bertempur di medan laga pemasaran, kita harus juga mahir menggunakan lima elemen atau ‘wu xing’, yaitu bumi, metal, kayu, air dan api. Bumi adalah pasar tempat dimana kita bertempur. Ada 2 asumsi pemasaran yang umum. Satu adalah pasar yang sangat jenuh dengan terlampau banyak pemain. Pasar dengan karakter ini biasanya sukar ditembus. Sebaliknya pasar yang perawan tanpa pemain sama sekali.
Pasar jenuh bisa di-ibaratkan dengan hutan lebat yang penuh pohon-pohon raksasa ( kayu + bumi ). Pasar yang perawan bisa diibaratkan lahan tandus, tetapi didalamnya kemungkinan dipenuhi dengan kekayaan tambang ( metal + bumi). Keduanya bisa kita masuki dan kita taklukan asalkan kita tau menggunakan energi yang pas. Pasar jenuh harus kita taklukan dengan elemen api. Ibaratnya membumi hanguskan para kompetitor. Ketika iPhone masuk pasar, mereka tidak merasa bahwa pasarnya jenuh, malah sebaliknya. Pasar sudah ranum dan siap dipanen. Tak heran apabila dalam waktu singkat iPhone terjual 1.4 juta unit. Kuncinya inovasi teknologi. Sebaliknya pasar perawan harus kita banjiri dengan air, sehingga menimbulkan erosi yang mencuci habis semua debu dan hanya meninggalkan metal yang berharga. Strateginya mirip Starbucks membanjiri dunia. Hanya dalam 20 tahun, Howard Schultz melakukan ekspansi budaya ngopi keseluruh dunia. Februari 2007, outlet Starbucks diseluruh dunia telah mencapai 13.000 lebih. Ketika kami dipanggil ‘boarding’ pesawat, kami melewati sepasang kakek nenek yang sedang asyik ‘nyeruput’ kopi panas. Dan sayapun merasakan kekuatan spiritual fengshui menyelimuti diri saya. Total dan komplit.
Monday, October 29, 2007
Sunday, October 28, 2007
SURAT DARI CHICAGO
Itu sebabnya setiap kali saya berkunjung ke Chicago, saya selalu siap mantel yang tebal. Hari Sabtu lalu, ketika melintas North Michigan Avenue, daerah “shopping” di Chicago, dibawah terpaan angin musim rontok yang cukup dingin, teman saya mengajak saya mampir ke Water Tower Place. Ditempat ini katanya ada makanan yang lagi ngetop di Chicago. Benar saja, ketika kami sampai di lobby, tampak sejumlah orang sedang ngantri. Cukup panjang antrian-nya. Dan semuanya terlihat antusias. Ketika saya tahu apa, mereka antri apa, saya hampir saja tertawa keras-keras. Rupanya mereka sedang antri membeli ”ba-pao”. Makanan yang biasa dan sudah dianggap kuno di Indonesia pada umumnya.
Tapi rupanya buat Chicago ini barang baru. Dan memang cerdik banget. Buat Chicago yang dingin, makanan apa yang paling sedap kalau tidak, ”ba-pao” panas yang sedang ngepul-ngepul. Sebagai praktisi pemasaran, saya tentunya tertarik dengan cara-cara mereka memperkenalkan dan memasarkan ”ba-pao” hingga bisa orang antri sepanjang itu. Konon menurut sejarah, ”ba-pao” ditemukan di Cina kira-kira 500-600 tahun yang lalu. Sebagai bagian dari perayaan tahun baru. Saat itu ”ba-pao” dibuat mirip buah persik, yang melambangkan keberuntungan, dan umur panjang. Sejak itu ”ba-pao” terus menjadi sangat populer, baik yang didalamnya ada isi, maupun yang kosong sebagai pengganti mie dan nasi.
Nah, ”ba-pao” ala Chicago ini merupakan kreasi 5 orang, Richard Melman, Kevin Brown, Art Mendoza yang memiliki sejumlah restoran di Chicago dengan 2 ahli kuliner Asia, Bruce Cost dan Marc Bernard. Untuk memperkenalkan ”ba-pao” mereka menggunakan teknik persuasif yang terencana baik. Persuasif dapat didefenisikan sebagai bujukan yang mampu mengubah prilaku konsumen. Teknik ini umum sekali diajarkan disebuah kursus Salesman.
Yang pertama adalah membuat konsumen penasaran, untuk membuat perhatian konsumen terfokus kepada kita. Itu sebabnya mereka memilih nama merek yang unik. Jaman sekarang, adalah jaman merek internet, seperti google, blogspot, dan yahoo. Maka outlet ”ba-pao” mereka dinamakan ’WOW BAO’. Trendy dan moderen. Dekor toko dibuat merah menyolok untuk membuat konsumen merasakan keaslian atau rasa otentik dari Asia. Sebagai atraksi utama diperlihatkan 4 dandang kukus yang bertumpuk tiga lapis, dengan uap yang mengepul-ngepul panas. Sehingga konsumen lewat yang kedinginan baru saja ditiup angin bisa merasakan impresi kehangatan. Kombinasi inilah yang membuat orang berhenti dan penasaran.
Setelah penasaran, kita secara persuasif harus bisa membuat mereka membeli. Di Jakarta ”ba-pao” cuma ada 2 rasa, yaitu ayam dan kacang hitam. Dari dulu cuma 2 rasa itu. Tidak ada satu-pun yang mencoba membuat inovasi. Lain dengan ‘WOW BAO’ mereka menyediakan 6 rasa yang berbeda. Inspirasinya datang dari makanan Asia yang paling populer dengan konsumen Amerika. Pertama adalah Kung Pao Chicken dan Spicy Mongolian Beef. Dua menu populer yang sering kita temukan di restoran Cina diseluruh Amerika. Lalu ada juga Chicken Teriyaki, menu populer di restoran Jepang. Dan karena masakan Thai juga sedang naik daun, maka mereka menyediakan menu Thai Curry Chicken. Sebagai pelengkap disediakan satu menu sayuran untuk yang vegetarian dan menu klasik BBQ Pork. Sehingga boleh dikata pasti ada satu rasa yang anda sukai.
Dan langkah terakhir dari teknik persuasif adalah membuat konsumen puas, ketagihan dan membeli lagi. Saya sendiri membeli 3 buah yang harganya cukup murah untuk ukuran Amerika, $1.34 /buah. Jadi 5 dolar dapat 3 ’WOW BAO’. Ukurannya tidak sebesar ”ba-pao” di Jakarta. Cukup sedang saja. Tetapi setelah makan 3 buah saya merasa kenyang dan tidak lapar hingga makan malam. Rasanya enak, hangat dan gurih. Saya betul-betul puas. Besok paginya saya kembali lagi, dan menjadikan ’WOW BAO’ sebagai sarapan pagi bersama kopi Starbucks. Nikmat luar biasa ! Itulah tekhnik persuasif yang terdiri 3 langkah sederhana. Filsuf Aesop bertutur, ”Persuasif seringkali lebih efektif dari kekerasan”.
Friday, October 26, 2007
Monday, October 22, 2007
SURAT DARI PARIS
Napoleon masuk akademi milter – Ecole Militaire, ketika ia masih berusia 15 tahun pada tahun 1784. Napoeleon muda ikut merasakan sengsara rakyat dibawah pemerintahan Louis ke XVI, dan jiwa mudanya berontak. Pada tahun 1799, disaat masih berumur muda sekali, 30 tahun – Napoleon sudah melancarkan kudeta. Kota Paris yang babak belur selama 10 tahun akibat anarki dan pemberontakan revolusi, akan dibangun kembali oleh Napoleon menjadi tempat terindah di muka bumi. Begitu sumpah Napoleon.
Usai kudeta itu, 5 tahun kemudian Napoleon menobatkan dirinya sebagai kaisar Napoleon I di tahun 1804. Maka dimulailah upaya mewujudkan cita-cita Napoleon. Sayangnya cita-cita itu mulai bergeser. Paris yang semrawut dirubah oleh Napoleon untuk menjadi kota perlambang kemenangan. Itu sebabnya Napoleon menciptakan sumbu simitris kota yang membelah kota menjadi dua, Utara dan Selatan. Sumbu ini membentang dari Barat ke Timur. Dari Tuileries hingga ke Champs Elysees. Idenya adalah setiap orang bisa masuk ke Paris di-iringi fajar atau matahari terbenam. Sehingga merasakan keangunan yang spektakuler. Saat itu untuk sumbu ditengah antara Utara dan Selatan, belum ada jalan yang memadai. Napoleon lalu menciptakan sumbu ditengah yaitu jalan raya yang diberinya nama The Rue de Rivoli, sesuai dengan daerah taklukan Napoleon tahun 1797 di Italia, yaitu Rivoli.
Sayangnya cita-cita Napoleon membangun kota Paris tidak sepenuhnya terwujud dengan semangat idealisme yang sama. Kebanyakan arsitektur Paris selanjutnya, lebih banyak didirikan sebagai tugu dan peringatan kemenangan Napoleon saja. Misalnya saja The Vendome Column, yang didirikan berdasarkan inspirasi the Column of Troy, dimana tugu setinggi 148 kaki atau hampir 50 meter, ditegakan dengan patung Napoleon dipuncaknya berpakaian ala kaisar Romawi. Tugu setinggi ini terdiri atas batu keras dan dibalut oleh tembaga yang berasal dari 250 meriam Rusia dan Austria.
Disamping The Vendome Column, Kaisar Napoleon I juga membangun sejumlah tugu dan monumen spektakuler lain-nya. Diantaranya The Carrousel Arch of Triumph, yang didirikan Napoleon I sebagai gerbang menuju Tuileries dan juga sebagai tugu kemenangan beliau atas Marengo. Walaupun demekian usaha dan upaya Napoleon I perlu juga kita hargai, karena keindahan dan keagungan kota Paris saat itu, sedikit banyak berkat visi dan inspirasi Napoleon I. Hanya saja, upaya propaganda Napoleon I untuk menciptakan kultus individu dirinya bukanlah contoh yang baik.
Ketika saya dan Mpu Peniti berdiskusi tentang arsitektur Paris dan Napoleon I, diskusi kami akhirnya menyerempet kepada fenomena baru yang sedang melanda Indonesia saat ini. Yaitu soal potret diri. Kalau anda perhatikan kemana saja anda pergi, selalu ada spanduk bertebaran di jalan dengan potret seseorang atau pejabat yang cukup besar atau menyolok. Contoh, saja ketika Lebaran kemaren, banyak spanduk yang mengucapkan Selamat Lebaran, tetapi disertai dengan gambar foto seseorang. Seperti kampanye terselubung. Cucu Mpu Peniti saja nyeletuk iseng , “Kakek, mereka itu mau ngucapin Selamat Lebaran atau kampanye ?” Terasa banget bahwa ucapan Selamat Lebaran-nya menjadi tidak tulus. Saya dan Mpu Peniti tertawa-tawa saja.
Fenomena ini celakanya sudah semakin parah. Karena bukan saja dikota-kota besar kita melihat fenomena ini, tetapi juga sudah masuk ke kampung dan kedesa. Pernah saya menyaksikan sebuah baliho besar di sebuah kampus, isinya tentang turnamen olah-raga dikampus itu. Tetapi lebih dari setengah baliho itu isinya adalah foto dari sang rektor. Lha, apa hubungan dan relevansi-nya ? Sebuah spanduk juga saya temui disebuah sekolah negeri. Isinya tentang penerimaan murid baru. Yang bikin saya kaget spanduk itu dilengkapi dengan foto sang kepala sekolah. Fenomena ini jelas telah merasuk semua tatanan kepemimpinan kita, bukan saja pejabat, dan ketua partai yang melakukan-nya. Celakanya sudah amblas, hingga ketitik bawah, dan di-ikuti bupati, camat, kepala desa, rektor hingga kepala sekolah.
Menurut Mpu Peniti, ini bukti jelas bahwa pemimpin kita juga mengalami krisis kepercayaan diri. Banyak diantara mereka yang kurang PD. Kalau mereka jualan ayam goreng, atau soto, rasanya memang perlu memasang potret mereka sebesar-besarnya di atribut promosi seperti spanduk dan baliho. Bukankah seorang pemimpin tidak semestinya populer lewat sebuah potret, melainkan populer lewat prilaku dan kepribadian-nya ? Yang meresap dan kemudian menjadi suri tauladan yang di hormati dan diikuti oleh para pengikutnya.
Wednesday, October 17, 2007
Thursday, October 11, 2007
JANGAN TAKUT !
Hampir tiap 2 tahun, saya selalu ikut pertemuan para ahli pemasaran komoditi pertanian. Biasanya kami membahas sejumlah permasalahan dan perkembangan konsumen secara global. Pertemuan ini di-ikuti oleh lebih dari perwakilan di 20 negara, mulai dari Eropa, Asia, hingga Timur Tengah. Selesai pertemuan di Portland selama 2 hari, kami dibawa keliling menyusuri wilayah pertanian sepanjang wilayah Northwest Pacific yang membentang dari Portland, Washington hingga California. Salah satu malam, kami berkesempatan makan malam disebuah café kecil, ditepi sungai Hood yang terkenal. Kebetulan bulan purnama sangat cemerlang. Dari café kami bisa melihat silhuet tepian sungai Hood yang membentang sangat indah, disiram oleh cahaya bulan.
Sehabis makan malam, diskusi dan percakapan semakin seru. Beberapa diantara kami mulai bertukar kisah hidup. Louis Moreno, teman kami dari Mexico akhirnya mendongeng. Alkisah seekor musang sedang mengejar seekor ayam. Tentu saja sang ayam lari terbirit-birit saking takutnya. Dalam kejar-kejaran yang serba seru itu, akhirnya ayam minta perlindungan kepada sapi. Maka ayampun berlindung dibawah sapi. Malang nasib sang ayam, saat bersembunyi seluruh badan-nya akhirnya kena ditutupi oleh kotoran sapi. Apa boleh buat, biarpun nasibnya jelek banget, ayam terpaksa bersembunyi dengan berselimut kotoran sapi. Yang penting aman. Tak lama kemudian, musang yang penciuman-nya sangat tajam, akhirnya bisa mengikuti jejak sang ayam dan mendekati sang sapi. Tapi sang ayam tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara itu sang ayam sudah mengigil ketakutan.
Karena sang musang tidak mau pergi, akhirnya sang ayam tidak sabar, dan melakukan kesalahan. Sang ayam membuat suara orang mengusir : ‘hussss……hussss….hussssss’ Suara itu mengusik sang musang, setelah diperhatikan betul, akhirnya sang musang tau bahwa sang ayam bersembunyi dibawah tumpukan kotoran sapi. Akhirnya musang menarik sang ayam dari tempat persembunyian-nya. Dan berakhirlah hidup sang ayam tadi. Mendengar cerita yang tragis itu, banyak diantara kami yang tertawa terkekeh-kekeh. Tapi Louis Moreno bercerita dengan seriusnya.
Louis bertutur, bahwa cerita ini, selalu menjadi modalnya dalam menghadapi setiap kesulitan hidup yang datang menerpa kehidupan-nya. Karena dalam dongeng itu tersembunyi 3 strategi hidup yang sering dimanfaatkan Louis. Strategi pertama, sangat sulit untuk mendapatkan pertolongan yang sesungguhnya. Louis mengalami, seringkali orang yang menolong anda, tidak sepenuh hati dan dengan tulusnya menolong anda. Seperti perlakuan sang sapi terhadap sang ayam. Biarpun begitu, menurut Louis, ada baiknya anda memanfaatkan setiap pertolongan, kesempatan, dan celah yang ada. Biarpun nasib anda harus seperti ayam yang bersembunyi dibalik kotoran sapi. Yang penting selamat ! Begitu tutur Louis.
Yang kedua, kalau anda sedang susah, menderita, bermandi lumpur dan kotoran, sebaiknya anda low profile saja. Jangan berisik dan ribut-ribut. Karena akan membuat anda menjadi fokus perhatian. Anda mudah menjadi target bagi musuh anda. Dan yang ketiga atau yang terakhir, siapapun yang memberikan uluran tangan, dan menawarkan pertolongan, seperti sang musang yang menarik sang ayam dari kubangan kotoran, seringkali bukanlah juru selamat yang sesungguhnya. Hidup mesti hati-hati, begitu pesan Louis.
Mendengar cerita dan penuturan Louis, perdebatan kami menjadi semakin seru. Karena para rekan-rekan mulai bercerita tentang kesulitan hidup mereka masing-masing. Yang uniknya, hampir semua cerita selalu bersinggungan dengan sebagian dari cerita Louis. Jadi memang situasi sesungguhnya dari hidup ini, tidak jauh dari cerita Louis. Saat cerita mulai reda, dan kami masing-masing menikmati espresso dan teh, akhirnya Louis menutup seluruh diskusi dan perdebatan kami. Louis menambahkan bahwa dalam hidup ini, barangkali jangan pernah kita mau menjadi ayam yang selalu dikejar musang. Kalau posisi ini yang kita ambil, maka setiap kali kita menghadapi kesulitan hidup kita harus kabur dan bersembunyi. Bagaimana kalau posisi-nya kita balik ? Kita yang menjadi musang, dan kita yang balik mengejar. Sambil tertawa berderai-derai, kami mengakhiri diskusi dan perdebatan malam itu, dengan satu konsensus, bahwa kami semuanya ingin jadi musang dalam hidup ini.
Dalam perjalanan pulang, saya merenung ulang cerita Louis. Menjadi musang memang tidaklah mudah. Hidup kita dikelilingi sejumlah rasa takut, dan rasa tidak aman. Terkadang rasa takut itu saking lamanya berteman dengan kita, akhirnya rasa takut itu terasa lebih nyaman. Seorang teman, percaya atau tidak, menamakan perusahaan miliknya, dengan nama DEG-DEG-AN. Ia tertawa saja, ketika saya konfrontir. Habis menurut beliau, sepanjang hidupnya selalu deg-deg-an. Dan itu juga yang menjadi motivator hidupnya selama ini. Menabung, karena takut. Membeli asuransi karena takut. Punya satpam juga karena takut. Pokoknya serba takut dan deg-deg-an. Tapi kalau anda ingin betul merubah nasib anda saat ini. Maka apapun perhitungan-nya. Anda harus berani berubah. Membalik situasi bila perlu. Berani menghadapi segala masalah dan tantangan . Berhenti untuk lari dan bersembunyi. Jangan lagi mau menjadi ayam. Jangan lagi mau menjadi korban !
Wednesday, October 10, 2007
Monday, October 08, 2007
THE POWER OF "THANK YOU"
Ketika kecil, saya sering rewel kalau makan. Selalu saja, merasa kalau lauknya kurang. Atau masakan Ibu terasa tidak enak. Kurang ini dan kurang itu. Pokoknya tidak pernah puas. Pengen jajan tambahan. Ibu saya sering marah dengan ulah saya ini. Beliau selalu mengingatkan saya betapa beruntungnya saya, karena masih bisa cukup makan. Padahal disaat yang sama, banyak orang yang justru kelaparan ditempat yang lain. Ibu mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan berterima kasih. Menurut Ibu, kalau kita bandingkan nasib kita dengan orang yang lebih kaya dan lebih beruntung, mungkin kita akan iri dan cemburu. Tetapi kalau kita terbalik membandingkan-nya dengan orang yang nasibnya jauh lebih miskin, maka akan terasa betapa beruntungnya kita ini. Nasehat hidup ini mulanya saya telan begitu saja. Tidak saya rasakan keampuhan-nya.
Pertama kali saya berkenalan dengan Mpu Peniti, disaat saya mengalami krisis hidup yang luar biasa. Saat itulah saya berterima kasih bisa bertemu dengan beliau. Mpu Peniti menyela :”Lha, kamu ndak pernah toh, merasa bersyukur dengan hidup kamu selama ini ?” Saya malu, dan hanya menggeleng. Lalu Mpu Peniti menuturkan sebuah lawakan Warkop jaman dulu. Tentang orang yang selalu merasa beruntung. Konon menurut lawakan Warkop, kalaupun sudah kecelakaan dan patah kakinya, orang masih juga merasa beruntung, “Untung, cuma patah kakinya !
Mpu Peniti lalu mengajarkan kepada saya, bahwa berkat dan karunia Allah, bagaikan udara disekeliling kita. Diberikan gratis kepada semua orang. Semua orang punya kesempatan yang sama. Tinggal tiap orang mau tidak berusaha menikmatinya.
Mike Robbins, bekas pitcher dari team softball Kansas City Royals, yang kini menjadi penulis buku dan motivator, menulis sebuah buku kecil yang unik. Judulnya “Focus on the good stuff – Appreciation” Menurut Mike, kita hidup dengan budaya yang terobsesi dengan hal-hal yang negatif. Tengok saja berita di media. Semuanya berfokus pada hal-hal yang negatif, seperti peperangan, bencana alam, kecelakaan, skandal dan banyak lagi. Infotainment kita juga isinya melulu tentang skandal, perselingkuhan dan perceraian. Ngobrol dengan teman-teman-pun, kita bicara gossip dan aib orang lain. Karena kita terbiasa memiliki obsesi dengan hal-hal yang negatif. Akibatnya sekeliling kita dipenuhi dengan aura dan enerji negatif. Tanpa kita sadari, kita justru menikmati dan menghargai yang negatif saja. Saya ajak anda bereksperimen ! Mulai hari ini, kita membalik fokus hidup kita. Titik fokus hidup kita arahkan hanya pada yang positif saja. Saya jamin hidup anda akan segera berubah !
Deborah Norville, bekas penyiar NBC yang sangat beken, juga meluncurkan buku yang mirip. Judulnya “The Power of Thank You”. Didalam buku ini dikatakan bahwa bersyukur, dan berterima kasih telah menjadi sebuah ilmu tersendiri untuk menyiasati hidup. Malah buku ini juga mengutip berbagai riset yang dilakukan oleh berbagai universitas terkenal seperti Universitas Cornell, Universitas Michigan dan Universitas California-Davis, yang telah melakukan berbagai riset tentang bersyukur dan berterima kasih.
Riset menyimpulkan bahwa orang-orang yang terbiasa bersyukur dan berterima kasih, umumnya lebih mudah bangkit dari segala macam kegagalan. Mereka juga terbukti mengatasi stress lebih baik. Dan memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Banyak orang terheran-heran, mendengar saya sering dan mudah tertawa di acara radio saya di Trijaya setiap Rabu sore. Sebagian menuduh saya cuma berpura-pura tertawa. Sisanya bertanya apa resepnya. Sejujur-jujurnya, sejak belajar dari Mpu Peniti tentang sikap bersyukur dan berterima kasih, percaya atau tidak, hidup saya terasa sangat “plong”. Saya merasa lebih rileks dan benar-benar bisa menikmati hidup. Tidur lebih nyenyak. Dan lebih mudah tertawa. Di saat Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi, saya bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, atas hidup yang luar biasa ini. Semoga anda semua juga diberkahi rahmat, karunia dan nikmat yang berlimpah. Mohon maaf lahir batin.









