Sunday, June 20, 2010

ORANG BEKEN BACA PUISI DI OASIS !



Sastra Reboan kian memasyarakat dan tak hanya menyentuh kalangan sastrawan semata. Benar seperti yang menjadi semboyannya, “banyak pintu menuju sastra”, para selebriti pun kini tersentuh sastra. Bukan lagi mereka diundang ke Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, bahkan pertunjukan sastra itu digelar di restoran mewah. Kali ini, mungkin akan berkelanjutan, bertempat di Restoran Oasis milik Kafi Kurnia di Jl. Raden Saleh, kawasan Cikini.

Setidaknya, walau absen, penyair besar Sapardi Djoko Damono mengacungi jempol pada Yo Sugianto sebagai pemimpin komunitas Sastra Reboan dengan kiprahnya ini. Acara “Orang Beken Baca Puisi” memang gagasan Yo dan Kafi dari pembicaraan demi pembicaraan. Ceritanya Kafi Kurnia ulang tahun dan hadir di Wapres Bulungan saat Sastra Reboan berlangsung bulan Mei lalu. Rupanya, malam itu Kafi Kurnia ulang tahun. Lalu muncullah ide untuk merayakan dengan pembacaan puisi di Restoran Oasis itu.

Mengambil waktu Sabtu, 19 Juni 2010, jam makan siang, acara itu digelar. Balairung restoran menjadi ruang audiens dengan panggung sederhana. Restoran itu sudah memiliki interior klasik yang tak perlu diolah lagi untuk membangun suasana elegan. Di sanalah kemudian, sejumlah penyair, sahabat Kafi Kurnia, dan para artis menyumbang pembacaan puisi. Beberapa di antara mereka adalah: Ninik L. Karim, Kirana Kejora, Eva Budiastuti, Fahri dan Nisa, Flitz Simanjuntak, Yudhis, Diah Hadaning, Wanda Hamidah, Deddy Mizwar, dan Cornelia Agatha yang berkolaborasi dengan vokalis Yuyun dalam performance yang cantik.

Dalam sambutannya, Kafi (50 tahun) mengatakan, bahwa sudah saatnya puisi seperti karaoke. Dibaca di mana-mana oleh siapa saja. Karena itulah, acara “Orang Beken Baca Puisi” perlu diselenggarakan secara berkala. Buku-buku puisi disediakan, siapa yang mau membaca tinggal pilih yang disuka. Tentu saja, para penyair boleh membawakan puisinya sendiri.

“Ulang tahun saya ini hanya tempelan saja,” kata Kafi yang juga owner Penerbit Akoer. “Karena hari ini diluncurkan dua buah buku. Sandikala karya Fifi Hadiyanto dan Kasmaran yang kami garap ramai-ramai bersama Dwitri, Yudhis, dan Qaris Tajuddin.”

Dalam waktu dekat, seperti yang dibisikan Yo Sugianto kepada saya, akan ada event menarik berkaitan dengan puisi di Restoran Oasis. Kita tunggu saja. Di luar itu semua, yang mendorong saya semangat untuk menghadiri ulang tahun Kafi, salah satunya adalah kangen ketemu Cornelia Agatha. Ah, di deretan belakang dia memanggil saya. Rasanya memang sudah lama tak bersua…

Thursday, June 17, 2010

LINEA NIGRA – TEGUH OSTENRIK



Saya mengenal Teguh sejak akhir dekade 80’an. Ia baru saja balik dari Jerman, dengan sejumlah kegelisahan. Dan itu terlihat jelas dalam karya lukisnya. Yang selalu padat. Seolah ia ingin menumpahkan semua enerji-nya dalam satu kanvas. Kadang terasa mengerikan. Seperti kita ingin memasukan seluruh amarah kita dalam satu bejana. Kepadatan yang diperlihatkan Teguh, menjadi sebuah estetika yang menghimpit dan menampar kita. Bila kita tidak kuat maka kita akan dilontarkan-nya. Saat itu saya mengatakan kepada Teguh, itulah kekuatan karya-nya. Sebuah interaksi yang liar. Sejak itu saya pernah berkolaborasi dengan Teguh dalam beberapa proyek kecil. Ternyata ia seniman serba bisa. Mulai dari melukis, patung, dan juga tari dan musik. Pernah sekali ia mengatakan bahwa baginya sebuah karya seni akan berhasil kalau lingkungan menyerap karya itu dan menjadikan-nya bagian dari sebuah lingkungan. Dan bukan sebaliknya. Kadang orang meletakan sebuah lukisan dalam sebuah ruangan dengan harapan bahwa lukisan itu menjadi titik api. Akibatnya lingkungan itu rusak porak poranda. Tidak keruan.

Tahun 2005, Teguh mengirimkan email kepada saya dengan sejumlah foto. Karya-karya patungnya terbaru. Kali ini saya kembali tertegun. Karena Teguh membuat beberapa patung Kristus dan Bunda Maria. Karya yang sangat religius. Konon karya Teguh ini kemudian di letak-kan di Gereja St. Mary of Angels di Singapura dan memancing reaksi cukup banyak. Seringkali ornamen and aterfak gereja memang sengaja dibuat sebagai titik api. Misalnya saja salib atau Kristus di kayu salib, seringkali dipasang diatas Mimbar menjadi titik api yang monumental. Seringkali karya itu dibuat dengan sentuhan realistis estetik untuk menggugah emosi. Karya Teguh tidak setransparan itu. Karena membutuhkan interpertasi dan interaksi, dan secara konsisten Teguh meletak-kan-nya jauh dari titik api. Sehingga kehadiran karya Teguh bagi banyak orang mungkin akan mengusik. Menggelitik. Menciptakan kesadaran baru. Bahwa ibadah kita yang komunal memiliki aspek privatisasi dengan emosi baru. Apapun juga percikan emosi yang kemudian timbul, kita perlu mengangkat topi pada keberanian Teguh berkarya dalam aspek ini.

Tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat. Teguh masih saja awet muda. Tahun lalu ia mengontak saya. Menceritakan karya instalasinya. Di sebuah atrium pusat belanja Jakarta yang megah dan moderen, Teguh menggantung sejumlah kuali. Lalu kamipun ngopi bersama bergurau soal kuali itu. Teguh masih memiliki gurauan dan ejekan yang sama. Tentang lingkungan dan kita sebagai manusia yang sering tidak taat menghormati lingkungan. Kita yang tidak senonoh merusak lingkungan. Kita yang rakus merampok lingkungan. Terus terang saya tertawa ketika ia menjelaskan kembali filosofinya secara halus. Biar bagaimanapun Teguh manusia Indonesia yang lahir di Jakarta dari lingkungan Jawa dan mampu bernyanyi “sinden” ala Jawa ini, selalu menunjukan perhormatan yang khidmat terhadap lingkungan. Saat itu saya mengakui kemampuan diplomasinya, yang ulung saat membujuk pemilik pusat belanja agar mau menggantung ratusan kuali di atriumnya. Menjadikan kuali, sesuatu yang remeh menjadi pusat atraksi.

Argumen Teguh saat itu, kuali adalah obyek yang barangkali dimiliki oleh seluruh rumah di Indonesia. Letaknya selalu didapur. Tidak pernah mendapat penghormatan penting. Tetapi fungsinya sangat vital. Yaitu kesejahteraan, kenikmatan dan kebahagian perut diseluruh keluarga. Usai penjelasan itu. Saya berhenti tertawa. Ada satu keharuan baru yang saya rasakan. Bagaimana Teguh memiliki rasa khidmat yang khusus terhadap kuali. Sayapun mulai mengerti dan mendalami apa yang ia katakan pada saya dua puluh tahun yang lalu tentang lingkungan dan seni. Bahwa seni tidak harus arogan dan merampas keindahan sebuah lingkungan. Melainkan seni harus mengabdi kepada lingkungan. Setia kepada lingkungan.

Usai peristiwa itu, Teguh mengontak saya. Ia ingin saya mengulas karya terbarunya, yang merupakan karya-karya patung yang terbuat dari besi rongsok-kan. Ia menyebutnya “deFACEment”. Semuanya tentang interpertasi wajah. Medium yang dipilih Teguh dalam dunia seni bukanlah sesuatu yang baru.Tetapi pendekatan dan prosesnya yang baru. Secara bergurau, ia berkata kepada saya, bahwa pesan filosofis yang ia ingin sampaikan kali ini adalah soal “karat”. Sesuatu yang berkarat, biasanya kita anggap rusak dan sampah rongsokan. Tetapi kalau karat itu adalah karya Teguh Ostenrik, kemungkinan besar orang mau membelinya dengan harga sangat mahal dan memberikan tempat yang sangat terhormat untuk memajangnya. Sayapun tertawa mendengarnya. Teguh kali ini berbisik sangat pelan, bahwa apapun bilamana diberikan kesempatan akan mampu menyatu dengan alam dan lingkungan. Termasuk didalamnya sesuatu yang berkarat. Sekali lagi Teguh memperlihatkan bahwa alam dan lingkungan sebenarnya mememiliki kerendahan hati yang luar biasa. Bisikan Teguh kali ini lirih tapi sangat bijak. Barangkali ini adalah satu penyebab penting, yang membuat Teguh terpilih sebagai Seniman 2009 versi sebuah majalah beken di Indonesia.

Minggu lalu, Teguh menggelar karya-nya yang terbaru. Linea Nigra begitu judulnya. 11 lukisan besar dan 12 patung metal. Linea Nigra artinya garis hitam yang muncul ditengah perut perempuan pada saat kehamilan. Teguh secara implisit mendokumentasikan saat-saat paling intim ketika istrinya mengandung. Kali ini Teguh masuk keruang publik yang sangat pribadi sekali. Ide baru yang cukup menggelitik. Saya tertawa lagi dan sekaligus sempat terkejut. Teguh memperlihatkan kematangan berkarya yang unik. Lukisan dan patungnya jauh lebih manis dan rapi. Tidak sekasar 20 tahun yang lalu. Mungkin sebagian enerjinya telah terserap oleh lingkungan. Atau Teguh memang sedang berhemat enerji. Terlihat jelas kegusaran dan kegelisahan Teguh semakin menipis, kali ini. Ia bukan lagi bocah yang nakal dan jahil. Ia semakin bijak dan menyatu dengan lingkungan. Atau mungkin karena karya ini sangat pribadi, maka kita melihat Teguh dengan kempompong yang berbeda.

Ditengah maraknya benda seni dikoleksi sebagai investasi dan diperjual belikan secara komersial. Seringkali benda seni hanya menjadi piala yang dipertontonkan dengan prestise. Ia-pun menjadi titik api dan merampas kesucian sebuah lingkungan. Seniman seperti Teguh, pasti tidak pernah berpikir membuat piala. Karena sebuah karya seni seharusnya menjadi sangat mahal dan berharga, bukan sebagai kepemilikan individu tetapi sebagai kepemilikan publik. Teguh seringkali mengatakan pada saya, bahwa membuat sebuah karya seni adalah merekam momen-momen tertentu dalam kehidupan ini, dan meniupkan sebuah nafas keabadian yang membuat momen-momen tertentu itu menjadi indah dan bisa dinikmati publik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Itu adalah ibadah yang sangat indah ! Teguh telah melaksanakannya dengan sangat khusuk dan khidmat.

Tuesday, June 15, 2010

KOPI LUWAK ASLI DI RESTO OASIS !



Ketika saya masih kecil, kakek saya pernah mendongeng tentang kopi yang paling enak didunia, yaitu kopi Luwak. Alkisah, ada sejenis musang yang populer disebut Luwak. Konon kabarnya, Luwak ini sering berkeliaran diperkebunan kopi ketika malam hari. Karena kebetulan salah satu kegemaran Luwak ini adalah makan biji kopi yang sudah masak. Secara alamiah Luwak memakan biji kopi yang masak dan terbaik. Sayangnya Luwak hanya makan kulit luarnya saja, biji kopi yang keras, biasanya tidak bisa dicernakan, akan keluar bersama kotoran Luwak tadi. Menurut dongeng ini, ketika didalam perut biji kopi tadi kena enzim khusus di perut Luwak dan mengalami proses fermentasi yang unik sekali. Lalu para petani kebun kopi akan memungut biji kopi dikotoran Luwak itu, dikumpulkan, digoreng dan jadilah kopi yang paling enak didunia. Itu legendanya !

Dongeng ini sangat melekat pada diri saya. Kebetulan hobi saya adalah minum kopi yang enak. Ketika SMA, setiap saya berkunjung kedaerah yang ada kopinya, saya selalu mencari kopi Luwak ini. Hasilnya selalu nihil belaka. Dongeng kakek saya itu, hanya mirip sebuah mitos. Anehnya, cerita ini hampir selalu saya dengar dimana-mana. Malah disebuah kota di Jawa Tengah, ada sebuah perusahaan kopi yang menggunakan merek kopi Luwak. Mulanya saya ikut gembira, karena saya pikir, mereka pasti punya akses kopi Luwak ini. Nyatanya mereka juga hanya memanfaatkan dongeng yang sama.

Pada tanggal 15 Oktober 2003, The Oprah Winfrey Show menampilkan Kopi Luwak sebagai salah satu topik bahasan-nya. Duniapun mulai penasaran. Sejak itu Kopi Luwak muncul dalam berbagai film dan artikel. Termasuk film serial CSI. Film yang benar-benar mengangkat Kopi Luwak, adalah film The Buckett List, yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman. Ceritanya mereka berdua adalah pasien kanker, yang melakukan sejumlah kegiatan dan petualangan gila sebelum mereka meninggal. Salah satunya adalah menikmati Kopi Luwak. Berkat dua peristiwa promosi inilah kemudian Kopi Luwak menjadi beken kembali.

Kisah saya memburu Kopi Luwak, berakhir dengan gembira. Di Hong Kong, beberapa tahun yang lalu disebuah supermarket yang ultra mewah, saya menemukan Kopi Luwak. Harganya tidak main-main, 113gr harganya sejuta rupiah. Namun karena penasaran akhirnya saya beli juga. Konon menurut produsen-nya kopi Luwak ini, jumlah panennya hanya 500 kg selama setahun. Produsen dari kopi Luwak ini adalah sebuah perusahaan Inggris, yang namanya Edible. Mereka punya situs unik di internet yaitu www.edible.com. Kopi Luwak, memiliki aroma yang kompleks dan sangat khas. Sebuah “signature” yang unik. Ketika di “brew”, kekentalan dan kepekatannya juga “full bodied”. Mirip kopi tubruk. Karena Kopi Luwak ini berasal dari Sumatera, didaerah Sindhikalang, maka varitasnya berasal dari Sumatera Mandheling yang ditanam di daerah dataran tinggi. Memiliki rasa yang sangat “smooth”, dengan “end-note” rasa coklat yang khas. Hebatnya rasa itu seperti nongkrong diatas lidah, dan membuai cita rasa kita. Namun tidak meninggalkan “after-taste”. Ini kehebatan Kopi Luwak !

Saat ini, Kopi Luwak bisa anda temui hampir disemua Pasar Swalayan. Dengan harga yang berbeda-beda. Kopi Luwak juga bisa anda minum diberbagai café dan tempat ngopi yang populer. Harganya juga bervariasi. Ini fenomena yang membuat saya kesal. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menonton sebuah film dokumenter di televisi. Tentang Luwak yang hampir punah. Dan sangat sukar di cari. 20 tahun yang lalu, Kopi Luwak cuma legenda dan cerita sebelum tidur. Pada awal tahun 2000’an, sejumlah orang asing menemukan Kopi Luwak dalam jumlah terbatas di daerah Sindhikalang di Sumatera. Itupun sangat terbatas dan sehingga harganya menjadi sangat mahal. Tetapi begitu Kopi Luwak terkenal karena acara Oprah dan film Jack Nicholson, tiba-tiba Kopi Luwak membanjir. Kesimpulan saya, sebagian besar Kopi Luwak ini patut kita curigai, apakah benar-benar asli ? Atau cuma karangan belaka ? Beberapa café yang menjual Kopi Luwak, memang mengaku bahwa Kopi Luwak mereka tidaklah 100% murni. Tapi campuran. Ada yang hanya 3% dan ada yang hanya 10%.

Di Vietnam sendiri, perusahaan kopi Trung Nguyen, sedang gencar dan agresif mempromosikan versi mereka tentang Kopi Luwak bikinan Vietnam. Ini kompetisi yang sangat berbahaya. Karena Trung Nguyen sudah membuka toko khusus di airport Changi Singapura, sedangkan kita dari Indonesia, belum ada yang maju dan mempromosikan Kopi Luwak ke laga Internasional.

Menurut Speciality Coffee Association of Indonesia, salah satu proses pasca panen kopi yang unik ala Indonesia, adalah metode yang disebut giling basah. Saya mengutip dari http://www.sca-indo.org/id/keragaman-kopi-indonesia/ cerita tentang proses yang khas ini : “ Sebagian besar petani di Sulawesi, Sumatra, Flores, dan Papua menggunakan proses unik yang disebut sebagai pengupasan basah atau wet-hulling (juga sering disebut sebagai semi washed). Menggunakan teknik ini, para petani mengupas kulit luar buah kopi dengan menggunakan mesin pengupas tradisional yang disebut “luwak”. Biji kopi, yang masih berselaput getah, kemudian disimpan hingga selama satu hari. Setelah masa penyimpanan, biji kopi dibersihkan dari getah dan kopi tersebut dikeringkan dan siap untuk dijual.

Beberapa pabrik penggilingan besar, perkebunan dan koperasi tani di Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Bali memproduksi kopi dengan menggunakan metode pencucian penuh. Pertama, buah kopi yang matang digiling untuk mengupas kulit luarnya. Kopi yang telah dikupas kemudian ditempatkan dalam tangki atau tong untuk difermentasi selama 24 hingga 36 jam. Setelah difermentasi, biji kopi dicuci dan ditebarkan untuk dikeringkan diatas lantai semen atau meja-meja pengeringan. Setelah kering, cangkang atau pergamino menjadi mudah lepas dan rapuh. Kemudian, biji kopi dikupas dalam keadaan kering dan siap untuk disortir menggunakan mesin dan tangan sebelum dikemas dan diekspor. “

Proses unik ini, yang konon meniru proses alami Kopi Luwak yang asli ini, membuat beberapa kopi dari Sumatera Mandheling terangkat kualitasnya. Salah satunya adalah kopi dari wilayah Lintong yang memiliki ketinggian diatas laut antara 1.200 meter hingga 1.500 meter, yang kini disebut sebagai Blue Batak. Sebutan Blue katanya merupakan pujian dan penghargaan bahwa kopi ini memiliki status keningratan. Alias berdarah biru.

Nah, kalau anda penasaran dan ingin merasakan Kopi Luwak yang asli, silahkan saja datang ke Restoran Oasis di Jalan Raden Saleh 47, Cikini – Jakarta Pusat. Disana kami telah menyeleksi satu diantara 30 suplier Kopi Luwak dan benar-benar menemukan yang asli. Supplynya tidak banyak dan sangat terbatas sekali. Harganya juga tidaklah murah. Tapi seperti kata pepatah, duit itu tidak pernah bohong. Dan kami merasa puas dan bangga bisa menyajikan Kopi Luwak yang asli. Bilamana anda ingin sesuatu yang exotic, maka Kopi Luwak di Restoran Oasis adalah satu kenikmatan yang tidak akan anda lewatkan ! Sudah tiba saatnya kita maju dan meng-klaim bahwa Kopi Luwak adalah warisan budaya khas Indonesia. Dan ada proses sertifikasi keaslian-nya ! Karena inilah aset budaya yang harus kita bela dan kita pertahankan. Kopi Luwak 100% milik Indonesia !

Friday, June 11, 2010

PESTA GLOBAL SEPAK BOLA !!



Barangkali ketika Tuhan menciptakan manusia, didalam DNA kita, telah diselipkan atribut khusus tentang Sepak Bola. Buktinya sejarah sepak bola, tidak hanya tercipta dari satu budaya dan satu sumber. Percaya atau tidak sepak bola tercipta bareng-bareng dalam berbagai kebudayaan. Artinya semua orang suka menendang sesuatu yang bundar. Bukti tertua, tentang sepak bola ditemukan di Cina. Konon sekitar tahun 2000 hingga 3000 sebelum Masehi, di jaman pemerintahan kaisar Han, sudah tercatat ada sebuah permainan mirip sepak bola, namanya “Tsu Chu”. Dimana bola disepak kesebuah jaring yang mirip dengan gawang jaman moderen. Permainan bola ini dianggap sangat serius, buktinya dijadikan bagian dari pembinaan kesehatan para prajurit. Malah setiap kali kaisar berulang tahun, permainan bola ini juga digelar. Jadi jangan heran, kalau gosipnya, permainan sepak bola juga digemari di biara Shao-Lin. Sampai-sampai ada film “Shao-Lin Soccer” yang terkenal itu.

Bukan saja bukti-bukti sejarah ditemukan di Cina, tapi juga di Kyoto, Jepang ditemukan bukti-bukti adanya lapangan yang mirip dengan lapangan sepak bola. Dan fenomena ini menyebar dan tersebar diseluruh dunia. Bahkan ditempat terpencil sekalipun. Bangsa Eskimo misalnya, memiliki permainan bola yang disebut Aqsaqtuk. Yang jelas mereka sudah saking lamanya bermain, hingga mereka tidak tahu pasti kapan permainan ini dimulai. Cerita dan legenda permainan ini, di ceritakan turun temurun. Jumlah pemain juga tidak jelas. Tapi pernah dalam sebuah periode, permainan ini dimainkan antara 2 kampung dengan jarak 2 gawang mencapai 10 mil. Bola yang mereka mainkan terbuat dari tulang ikan paus yang dibalut oleh kulit hewan, dan di-isi dengan rambut, lumut, serutan kayu dan bulu hewan.

Permainan bola yang sangat terkenal, tentu saja adalah Tiachtli, yang dimainkan bangsa Aztec. Menurut sejarah, permainan ini juga sudah berusia 3000 tahun lebih. Malah ada yang mengatakan lebih tua dari permainan “Tsu Chu” di Cina. Uniknya permainan bola ini lebih mirip dikatakan gabungan dari sepak bola, basket dan volley sekaligus. Hanya saja pemain tidak boleh menggunakan tangan. Tapi boleh menggunakan kepala, sikut, kaki, dan pinggul. Bola karet sudah digunakan dalam permainan ini. Obyek permainan adalah memasukan bola karet ke gelang batu di-dinding. Jadi bukan gawang yang terdiri dari jaring. Permainan ini diwarnai dengan mistik, politik hingga ekonomi. Penonton permainan ini umumnya kelas elite. Dan mereka bertaruh habis-habisan mulai dari uang, harta benda hingga budak. Pergerakan bola juga diamati oleh para pendeta, karena secara mistis merupakan pertanda astrologis.

Diwilayah-wilayah lain permainan bola juga berkembang secara tradisional. Suku bangsa Indian, memiliki permainan yang dikenal dengan “pasuckuakohowog”, yaitu permainan bola yang dimainkan di pantai dengan jumlah pemain yang sangat banyak hingga seribu orang. Di kepulaun Pasifik, dikenal pula permainan bola tradisional, dengan menggunakan bola dari kelapa dan jeruk besar. Permainan sepak bola, konon masuk Eropa tahun 217 Masehi. Menurut legenda, permainan ini lebih sering dijadikan permainan untuk merayakan kemenangan setelah perang. Juga sebagai intimidasi terhadap musuh. Maka ada kabar, yang mengatakan bahwa tengkorak manusia dijadikan bola pada saat itu. Yang jelas bangsa Romawi sejak dulu telah memiliki permainan bola yang bernama Harpastum. Sama dengan di Cina, permainan bola ini digunakan Julius Caesar, untuk melatih kesehatan para prajuritnya. Bola yang digunakan termasuk kecil, hanya berdiameter 8 inci. Harpastum dimainkan dengan sangat cepat dan keras sekali. Tak heran apabila Harpastum memilih lapangan rumput sebagai lapangan bermain, semata-mata untuk mengurangi cedera. Lewat Harpastum inilah akhirnya Eropa mengembangkan permainan sepak bola moderen. Misalnya di Itali, permainan sepak bola moderen berkembang sekitar abad ke 16, dan disebut dengan nama Calcio. Permainan ini biasanya dimainkan di alun-alun atau yang disebut Piazza. Calcio adalah permainan bola yang sangat populer, sampai-sampai Paus Clement VII, Leo IX dan Urban VIII dikenal sering bermain Calcio.

Sepak bola kemudian menjadi permainan yang sangat populer. Bukan saja dimainkan dilapangan, tapi juga dimainkan di jalan-jalan, gang atau dimana saja ada tanah lapang. Permainan ini dikenal berisik dan mengusik ketenangan sekitarnya. Tak heran apabila, King Edward II, pernah melarang sepak bola dimainkan di Inggris pada tanggal 13 April - tahun 1314. Celakanya sepak bola dianggap melanggar norma-norma agama dan sangat tidak beraturan. Raja-raja Inggris, seperti Edward III, Richard II, Henry IV, Henry VI dan James III, dikenal memiliki peraturan yang memusuhi sepak bola.

Saat ini, sepak bola sudah menjadi histeria global. Konon pada tahun 2002, di World Cup Korea & Jepang, penonton televisi tercatat 28 milyar orang, di 213 negara. Angka ini adalah jumlah penonton selama sebulan. Penonton yang langsung menyaksikan pertandingan langsung di Korea dan Jepang, tercatat, 2,7 juta orang. Dahsyat bukan ? Menurut organisasi Initiative Sports Futures, sebuah organisasi independen yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Fifa, pada saat World Cup Final 2006 di Jerman, 54 negara yang disurvey memberikan tabulasi 260 juta penonton pada saat final. Apabila angka tersebut dikalikan ke 200 negara lebih, maka angkanya bisa mendekati 1 milyar orang. Diperkirakan untuk World Cup 2010 di South Africa, jumlah penonton televisi selama sebulan sudah tumbuh pesat menjadi 36 milyar hingga 50 milyar.

Malah ada yang mengatakan bahwa sepak bola memiliki fans di dunia melebihi 4 milyar orang. Seandainya sepak bola itu agama, mungkin inilah agama terbesar umat manusia. Footballism begitu istilahnya, merupakan fenomena tsunami yang mendunia. Fans, begitu fanatiknya terhadap klub dan pemain yang digandrunginya sehingga mereka berteriak histeris, dan mengamuk bilamana klubnya kalah. Di Eropa, klub-klub sepak bola memiliki kekuatan ekonomi yang mengagumkan. Dari royalti hak siar TV saja, untuk English Premiership, rata-rata klub konon mendapatkan $ 50 juta setahun. Belum ditambah European Champions League yang memberikan royalti rata-rata diatas $20 juta setahun. Dari penjualan karcis, klub beken seperti Manchester United dan Liverpool, dalam setahun mereka juga mengantongi penghasilan diatas rata-rata $ 50 juta setahun. Belum lagi penjualan merchandise, sponsorship, dan penghasilan iklan. Sepakbola juga tidak pernah sepi dari incaran investor-investor dunia. Mulai dari entreprenur seperti Malcolm Glazer (yang memiliki Manchester United), Tom Hicks dan George Gillet (pemilik Liverpool) juga Randy Lerner (Aston Villa); hingga investor prestise seperti bilyuner Russia - Roman Abramovich, yang melakukan investasi lebih dari $ I miliar di klub Chelsea. Dan bekas PM Thailand Thaksin Shinawatra yang membeli Manchester City. Beberapa club terkenal sepakbola, penghasilan mereka setahun bisa melampaui $ 4 miliar. Atau diatas 4 trilyun rupiah. Jadi jangan heran apabila transfer pemain sepakbola yang beken bisa mencapai angka kisaran $ 40 juta hingga $ 150 juta. Pada tanggal 12 Juni mendatang, pesta dunia sepak bola bakal digelar di Afrika Selatan. Tabuh genderang ! Saatnya kita berpesta pora. !

Tuesday, June 08, 2010

KETIKA KITA MARAH DAN MEMAKI SI BIBI !



Pernahkah sekali, istri atau saudara perempuan anda, yang entah apa penyebabnya, suatu hari meledak amarahnya ? Semata karena pembantu rumah tangga atau yang kita sebut si bibi, berbuat sebuah kesalahan yang mungkin sangat sepele, namun korslet dengan sumbu emosi. Maka amarah meletup bagaikan bom atom. Dan si bibi kena caci maki. Sekilas tanpa sengaja, anda mungkin akan merasakan betapa gaya marah dan caci maki istri atau saudara perempuan anda, sedikit banyak punya kesamaan dengan gaya memaki Ibu anda. Terutama saat kita kecil dulu, dan ketika Ibu kita pada suatu saat, meledak amarahnya dan mencaci maki si bibi.

Yang membuat bulu kuduk saya berdiri, adalah kilatan ingatan itu. Seolah menyimpulkan bahwa didalam reflek tindakan kita, tersimpan sebuah referensi tentang cara marah dan mencaci maki si bibi. Dimana referensi itu diwariskan turun temurun. Dan kita belajar dari orang tua kita. Mengerikan bukan ? Barangkali betul, apa yang dinasehati para psikolog. Bahwa anak-anak kita belajar berbicara, dan berbuat dengan meniru orang tua-nya. Bahwa kita belajar mencintai sesuatu dan membenci sesuatu juga lewat orang tua. Sedikit banyak kita juga meniru gaya orang tua ketika marah dan mencaci-maki. Itu sebabnya kalau bisa jangan pernah marah dan memaki didepan anak-anak kita !

Sebenar-benarnya kesempatan kita marah dan mencaci maki secara sistimatis dalam hidup ini sangatlah terbatas. Yang pertama, target kita marah dan mencaci maki, adalah orang terdekat kita, misalnya anak, saudara kandung atau pasangan hidup kita. Itupun kalau hubungan kita babak belur tidak keruan. Dikeluarga yang hubungannya sangat baik, intim, dan harmonis, kesempatan yang pertama tidak banyak terjadi. Yang kedua, adalah bawahan di kantor. Itupun hanya akan terjadi kalau anda punya posisi bagus, dan punya bawahan. Kalau posisi anda biasa-biasa saja, jangan harap anda punya kesempatan ini. Sebaliknya malah mungkin anda lebih banyak menjadi target dimaki. Teman saya punya kedudukan tinggi disebuah perusahaan. Hobbynya marah dan mencaci-maki bawahan. Sungguh ini sebuah cerita betulan. Kasar pula. Segala umpatan bergaya kebon binatang selalu keluar. Anehnya kalau kita sebagai teman-teman biasa bertemu dengannya, ia jauh dari kesan itu. Sangat kalem. Semua staffnya di kantor, mengatakan pasti masa kecilnya tidak berbahagia. Selidik punya selidik, istrinya sangat galak. Ia sangat takut dengan istrinya. Maka sebagai pelampiasan, yang terkena damprat adalah para staffnya.

Kesempatan ketiga dan terakhir, sialnya jatuh kepada si bibi dirumah. Dialah yang secara diskriminatif berada diurutan terakhir, menjadi target termudah yang praktis untuk dimarahi dan dicaci maki. Jadi jangan heran apabila si bibi menjadi target pelampiasan dari banyak orang. Bangsa kita yang sudah beratus-ratus tahun menikmati budaya babu dan jongos sejak jaman feodal, ternyata jauh lebih maju dan beradab. Istilah babu dan jongos misalnya, telah mengalami evolusi penyebutan yang lebih keren. Di masyarakat menengah mereka sudah disebut bibi dan atau suster. Di masyarakat yang lebih trendi mereka disebut “pembokat”. Kalau dimasyarakat atas mereka disebut dengan sebutan bahasa Inggris “my maid” dan “nanny”. Kehidupan sehari-hari kita sedemikian lengketnya dengan topik ini, sehingga kisah-kisah si bibi juga ikut menjadi legenda yang tak terpisahkan secara antropologis dengan kehidupan moderen di republik ini. Misalnya, kita pernah mengangkat salah satu lakon si bibi, menjadi film terkenal seperti “Inem Pelayan Sexy”. Hampir dalam setiap tayangan komedi, entah itu srimulat, ketoprak, lenong, sandiwara TV hingga film, unsur si bibi selalu di “casting” dengan kesungguhan dan keseriusan tersendiri. Peran si bibi atau pembokat harus lucu. Ini formula yang tidak bisa ditawar. Secara tidak sadar sebenarnya si bibi punya peran “glamour” tersendiri.

Beda misalnya dengan negara-negara Malaysia dan Singapura, yang baru saja merasakan budaya ini dalam 30 tahun terakhir. Kecanggihan mereka secara emosional berhubungan dengan si bibi masih sangat terbatas. Itu sebabnya masih banyak kasus si bibi yang mengalami penyiksaan fisik, mulai dipukuli, tidak dikasih makan, hingga disiram air panas di luar negeri. Penyiksaan dan perlakuan yang biadad, tidak jarang memojok-kan posisi si bibi. Sehingga banyak kasus unik dimana si bibi membunuh majikan-nya sendiri di luar negeri.

Marah dan mencaci maki kelihatannya memang sangat buruk. Namun sedikit banyak barangkali sebagai katup pelampiasan, marah dan mencaci maki punya fungsi terapi juga dalam hidup ini. Nah, sialnya kesempatan ketiga atau terakhir untuk kita marah dan mencaci maki secara sistimatis, hanyalah kepada staff pembantu di rumah. Apakah itu supir, satpam, tukang kebun atau si bibi ! Ini adalah benteng terakhir dengan target paling empuk. Yang lucu, andaikata anda punya kesempatan merekam isi kemarahan dan caci maki tersebut dan memutar ulang untuk menganalisanya. Banyak sekali dari isi kemarahan itu yang sangat emosional, tidak rapi logikanya, dan kadang tidak berhubungan jelas antara satu segmen dengan segmen lainnya. Kemarahan itu bisa berlangsung sampai 30 menit, dengan ratusan caci maki. Pokoknya asal marah !

Ketika fenomena ini saya diskusikan dengan beberapa teman ketika ngopi bareng. Mereka tertawa juga. Karena baru menyadari peran marah dan memaki dalam kehidupan moderen mereka. Seorang teman secara sinis punya penjabaran yang beda. Menurutnya, saat ini posisi tawar si bibi sudah berbeda jauh. Dahulu, ketika ia kecil, setiap kali Ibunya marah dan memaki si bibi, maka biasanya si bibi menangis. Lalu reda dan selesai. Si bibi pasrah saja dimarahi oleh majikan-nya. Kesempatan melawan tidaklah banyak.

Jaman sekarang situasinya sangat berbeda. Si bibi kadang punya posisi tawar yang beda. Bukan-nya kita bisa marah dan memaki dengan seenaknya, sebaliknya hidup kita sangat tergantung dengan kehadiran si bibi. Itu sebabnya kalau Lebaran dan musim mudik, berapa banyak diantara kita yang sakit kepala dan rela tinggal di hotel. Karena tanpa si bibi, hidup kita kacau balau. Nah, teman saya itu mencontohkan, bahwa ia punya 2 bibi. Satu untuk mengurus keperluan anak-anak. Satu lagi untuk memasak dan mengurus rumah. Keduanya sudah dilatih dan di training lebih dari 2 tahun. Mereka tahu persis kebiasaan teman saya ini. Pokoknya setiap teman saya pulang dari kantor, rumah rapi bersih, teratur dan kinclong. Inilah kenyamanan dan kebahagian yang tak tertandingi nilainya dengan uang sebesar apapun. Pernah sekali salah satu bibi pulang kampung sebulan mengurus tantenya yang sakit. Maka kehidupan teman saya ini gonjang ganjing penuh dengan stress. Mencari bibi baru, dan melatihnya lagi, seringkali bukanlah solusi terbaik. Karena proses pencocokan kepribadian dan kebiasaan bisa menjadi proses yang menyakitkan. Akibatnya teman saya mengaku takut memarahi si bibi. Malah ia memikirkan bagaimana membuat si bibi semakin betah dan gembira. Kalau saja si bibi hengkang, akibatnya sangat tidak terbayangkan !

Diakhir diskusi kami. Seorang teman dengan polosnya bertanya, “Lha, kalau si bibi tidak bisa kita marahi dan kita maki ? Siapa dong yang bisa kita marahi dan maki ?” Saya tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan itu. Barangkali saatnya kita belajar marah dan memaki diri sendiri. Pasti aman ! Dijamin !

Saturday, June 05, 2010

SEX TAPE - LUNA + ARIEL



Ketika sebuah “sex-tape” (konon ini sebutan resminya), dari sepasang pria dan wanita beradegan mesum yang wajahnya mirip dengan artis Luna Maya dan Ariel Peterpan (konon ini sebutan sopan-nya), bocor di Internet, publik langsung heboh. Seperti biasa hal pertama yang dipertanyakan banyak orang, apakah itu asli. Ini perdebatan sangat seru. Maklum keduanya celebrity panas. Punya kisah kontroversi masing-masing. Uniknya 90% teman-teman yang menonton “sex-tape” itu mengatakan asli. Hanya 10% teman saya yang meragukan dan berkomentar – “ah, hanya sensasi saja !”.

24 jam setelah “sex-tape” itu bocor di Internet, maka ulah teman-teman saya berubah. Kebanyakan yang wanita menunjukan simpati dan rasa kasihan kepada Luna Maya. Mereka mulai menyimpulkan bahwa dalam kasus ini Luna Maya adalah korban. Mereka juga mulai bicara tentang reputasi, dan masa depan karir Luna Maya setelah ini. Teman saya yang pria. Terbagi-bagi dan terkotak-kotak opininya. Namun sebagian besar akhirnya berkomentar kepada tokoh wanita didalam “sex-tape” itu yang mirip dengan Luna Maya. Komentar beragam. Mulai dari bahasa tubuh. Hingga ukuran statistik. Dan badan sang wanita yang mereka sebut “gembyor” dan “kendor”. Vonnis akhirnya “Luna Maya is no longer sexy !” Duh, kasihan sekali !

Benarkah setelah “sex-tape” ini bocor di Internet, maka karir Luna dan Ariel akan punah berantakan ? Jawabannya akan sangat sulit sekali. Teman saya, seorang pemerhati budaya dan musik, mengatakan masyarakat Indonesia lebih pemurah dan mudah melupakan. Menurutnya, toh ini bukan kejadian yang pertama kalinya. Karena menurutnya masih banyak selebriti lain yang mengalami hal serupa di Indonesia, dan beberapa diantara mereka tetap bertahan dan melanjutkan hidup serta karir secara normal. Jadi tergantung tiap individu masing-masing dan gebrakan karir selanjutnya. Namun pertanyaan yang tetap bergema dan sulit terjawab, adalah kenapa “sex-tape” itu dibuat awalnya ? Sebagai ulah iseng ? Untuk souvenir ? Ikut ngetrend seperti artis Hollywood ? Apa motivasi sesungguhnya ? Dan pertanyaan pamungkas, kenapa bisa bocor ? Siapa yang bertanggung jawab membocorkan-nya ? Apakah semua ini merupakah sebuah upaya publisitas ?

Tahun 1985, ketika film St. Elmo Fire meledak di pasar. Semua perhatian tertuju pada aktor ganteng muda Rob Lowe. Spekulasi sangat tinggi. Rob Lowe punya kemungkinan terbaik menjadi aktor nomer satu Hollywood saat itu. Namun pada tahun 1988, sebuah “sex-tape” yang memperlihatkan Rob Lowe berhubungan intim dengan 2 gadis, dan salah satunya masih dibawah umur, mendadak saja menjadi palu godam yang menghancurkan karir Rob Lowe. Ia pun jatuh dan tidak pernah lagi bisa mencapai puncak karir yang ia inginkan. Tahun 1988, menjadi tonggak sejarah “sex-tape” dan awal sebuah fenomena. Bayangkan saat itu saja internet dan “broad-band” belum lagi populer. Belum ada “You Tube” dan “Facebook”.

Setahun kemudian, 1989, sebuah film indie – “ Sex, Lies, and Videotape”, karya Steven Soderbergh meraih penghargaan Palme d'Or di Cannes Film Festival, sebagai film terbaik. Dan aktor James Spader juga dinobatkan sebagai aktor terbaik pada saat yang bersamaan. Steven mengaku, bahwa film itu sendiri dikonsepnya dalam 8 hari dalam sebuat coretan diatas “note-pad” biasa. Film ini menjadi penting, terutama karena mengungkapkan sebuah prilaku baru, dimana kita memasuki sebuah era baru. Didalam film ini, James Spader, seorang psikolog menggunakan video kamera untuk memotivasi para klien-nya untuk membuat video pengakuan tentang kelemahan dan fantasi sex mereka masing-masing. Lalu rekaman ini menjadi sebuah cermin refleksi yang diharapkan memberikan efek terapi.

Sejak itu, budaya mengaku dan mempertontonkan pengakuan kita menjadi sebuah terapi massa yang sangat populer. Seperti sebuah “self-expression” yang mujarab. Dekade 90’an secara massif dipenuhi dengan revolusi kearah “self-expression” mutakhir ini, yang dilengkapi dengan alat-alat, piranti, dan infrastruktur pendukung. Tengok saja budaya “karaoke”. Yang membuka kotak Pandora, bahwa siapa saja bisa menjadi bintang dan berhasil menjadi bintang. Berawal hanya sebagai sarana hiburan para eksekutif. Hingga akhirnya dimanfaatkan menjadi sebuah industri ke “reality TV” seperti “American Idol” yang mencetak jutaan dollar. Blog di Internet menjadi ajang pentas dimana setiap orang bisa punya media 24 jam yang tersedia untuk mempublikasikan apa saja, tanpa harus disensor.

Internet dan adanya kamera disetiap telpon genggam, akhirnya membuat tiap manusia didunia ini, menjadi titik “broadcast” hidup yang berpotensi merekam apa saja. CNN memanfaatkan potensi ini dengan menciptakan program iReport, dimana setiap orang dimana saja, kapan saja bisa merekam satu berita, dan meng-“upload”-nya ke internet secara langsung. “You Tube” tercipta dengan peluang dan potensi yang sama pula. Di internet, pada hampir semua “social media”, seperti “Friendster”, “Tagged”, “Facebook”, dsbnya, anak-anak muda dengan iseng dan nakal memotret dirinya sendiri dengan kamera yang berada ditelpon genggam, lewat cermin. Mimik mereka jail, badung, nakal dan meledek. Kadang dengan ekspresi yang sangat sensual dan kostum yang minim. Lalu tanpa malu-malu meng-“upload”-nya ke internet, dengan nama samaran. Dialam khayal mereka, internet menjadi panggung pentas yang memungkinkan segalanya. Termasuk menjadi tokoh-tokoh khayalan seperti di video-games dan film serial.

“Self-Expression” yang menular dan menjalar ini, akhirnya masuk juga ke kamar tidur. Masuk ke area tabu dan terlarang, yaitu hubungan sex. Sejak itu “sex-tape” mulai menjadi komoditi pornografi. Yang menarik tentunya ketika selebriti ikut membuatnya dan sekaligus membocorkan-nya ke publik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Hollywood, seperti “sex-tape” terkenal Paris Hilton, Carmen Electra, Britney Spears, hingga Pamela Anderson. Tetapi juga ke Asia. Termasuk kasus-kasus Bollywood. Kasus heboh Edison Chen di Hong Kong misalnya, yang melibatkan sejumlah artis tenar seperti Cecilia Pak-Chi Cheung, Gillian Yan-Tung Chung, Bo Bo Man-Wun Chan dan Rachel Sze-Wing Ngan membuat semua orang tercengang. Indonesia ternyata juga ikut terjerat budaya yang sama.

Saya jadi ingat ucapan dan ramalan Andy Warhol, ketika didalam katalog pameran-nya di Moderna Museet – Stockholm, 1968 - beliau menulis, dimasa depan semua orang akan terkenal mendunia selama 15 menit. Ramalan itu ternyata benar ! Barangkali inilah saat 15 menit milik Luna Maya dan Ariel. Sedangkan untuk sebab dan motivasinya, tidak akan pernah ada yang tahu. Teman saya yang pemerhati budaya dan musik hanya berkomentar dengan bijak. Dunia artis kita tidaklah didominasi oleh keabadian dan keindahan yang diperlihatkan artis seperti Muchsin dan Titik Sandhora, atau Widyawati dan Sophan Sophian. Dimana mereka mampu melegenda dan menjadi aikon puluhan tahun. Umur ketenaran seorang artis semakin pendek karena kompetisi dan suasana saingan yang sangat kejam. Seorang artis yang gagal menciptakan satu sensasi dalam 3 bulan. Maka dalam 6 bulan berikutnya, dia akan dilupakan orang. Itu sebabnya ada istilah “Rindu Tayang” dikalangan para artis. Dan secara nilai serta makna, kadang sebuah “bad publicity” akan sama efek dan kedahsyatan-nya dengan publisitas positif lainnya. Dititik inilah sebaiknya kita berhenti mencari. Membiarkan Luna Maya dan Ariel memberikan jawaban versi mereka sendiri. Berikan pula kesempatan kepada waktu untuk bersaksi ! Saatnya kita menjadi penonton yang baik. Menyimak dan mencerna.

Tuesday, May 25, 2010

INI GOSIP ..... ALASAN MENGAPA ANDI MALLANGRANGENG KALAH !



Beberapa hari sebelum Kongres Partai Demokrat, saya kebetulan berada di kota Bandung. Dalam hati saya sangat mangkel, karena hampir seluruh jalan protokol yang strategis di penuhi dengan poster kampanye Andi Mallarangeng. Buat saya ini penistaan keindahan dan kebersihan kota Bandung yang saya cintai. Mestinya tokoh politik setiap kali kampanye punya kepekaan dan kecintaan terhadap lingkungan. Jangan main pasang poster dan baliho, dan berpikir cuma sebentar selama kampanye. Tindakan seperti itu mencerminkan gaya urakan berpolitik.

Tak lama kemudian Kongres Partai Demokrat berlangsung, dan Andi Mallarangeng yang kampanye-nya riuh rendah dan gegap gempita, kalah telak diputaran pertama. Lalu muncul sejumlah artikel diberbagai media yang menganalisa sebab musabab kekalahan Andi Mallarangeng. Mulai dari cacian terhadap iklan dan strategi komunikasi yang melenceng. Hingga bermacam-macam teori tentang etnik dan aneka situasi yang tidak menguntungkan. Seorang teman, mengirim pesan lewat BB dan meledek saya. Intinya saya disuruh menulis lewat sudut pandang yang berbeda. Memberikan analisa tak terduga, begitu kilah teman saya.

Sepulang dari Bandung tempo hari, seorang teman yang kebetulan anggota Partai Demokrat mengajak saya makan malam bersama dengan beberapa rekan wartawan. Mulanya makan malam ini Cuma reuni biasa. Tapi ditengah acara entah bagaimana topik Andi Mallarangeng mencuat. Awalnya kita semua heran, Andi Mallarangeng yang cuma jadi Jubir Presiden, koq bisa punya harta sedemikian banyaknya dan menghambur-hamburkan duit puluhan milyar untuk berkampanye sedemikian gencar. Duit darimana yah ? Dan kami-pun seru menebak-nebak siapa sponsornya. Awalnya kami yakin Andi Mallarangeng bakalan menang. Ia punya modal yang cukup. Sebagai jubir presiden, ia pasti punya akses ke SBY dan pastilah aksesnya cukup baik. Andi bekas aktivis dan cukup vokal dijaman reformasi. Masih muda dan ganteng pula. Sekarang aktif menjadi menteri. Pasti peluangnya cukup bagus. Namun teman kami di Partai Demokrat, memperlihatkan wajah dan jawaban yang berbeda. Ia sama sekali tidak yakin Andi Mallarangeng bakal menang. Menurutnya semua tergantung SBY. Ia menjabarkan bagaimana proses perekrutan menteri dikabinet ala SBY. Kalau menteri dipanggil ke Cikeas, maka pada malam sebelum pemilihan ketua partai, siapa yang dipanggil SBY kekamar hotelnya di Bandung, itulah yang bakal menjadi ketua. Titah SBY adalah titah raja di Partai Demokrat. Demikian ulasan teman saya. Kami cuma tertawa-tawa saja mendengar ulasan itu.

Beberapa hari kemudian, Kongres Partai Demokrat di gelar di Bandung. Dan benar saja Andi Mallarangeng kalah telak. Alasan resmi Andi, kekalahan-nya disebabkan karena Andi terlalu sibuk menjadi menteri dan kurang gesit menggarap DPC dan DPD. Sehingga ia kurang akrab, dan kalah. Gosip yang beredar malah terbalik. Sebelum kongres, Andi sudah yakin karena mengatakan sudah mengantongi sekian persen suara. Konon Andi juga rajin menjamu dan memanjakan DPC dan DPD. Pernah sekali sebelum kongres, saya bertemu dengan rombongan Andi yang mau berangkat ke Yogya. Rombongan Andi terlihat sangat banyak dan lengkap. Apabila Andi menghabiskan dana puluhan milyar untuk menggrapa “above the line” komunikasi kampanye-nya, maka mustahil biro iklan Andi tidak menggarap “below the line”. Apalagi biro iklan yang dipakai Andi sangat berpengalaman dalam menggarap komunikasi politik. Jadi pastilah alasan Andi itu cuma versi “PR”, sebagaimana layaknya Andi dulu pernah menjadi jubir presiden.
Karena penasaran, saya mencari sumber yang mau menceritakan alasan yang lebih pas dan lebih tepat. Maka salah satu sumber saya akhirnya mau membocorkan juga kekalahan Andi. Saya ngopi dengan “Deep Throat” (begitu istilahnya di dunia intelijen) disebuah café yang kecil dan sepi. Sumber saya, pada awalnya bertanya : “Mengapa SBY ? Bisa menang sebagai Presiden di pemilu 2004 ?” Ditanya begitu sayapun memberikan sejumlah alasan. Ia cuma menggeleng dan tersenyum. Sambil mengirup kopi dan dengan suara perlahan, ia mengatakan, “Semata-mata SBY paling ganteng”. Saya terperangah. Kaget. Mendengar jawaban yang jauh dari rasional.

“Deep Throat” saya ini, kemudian bercerita tentang teori kemenangan pemilu. Terutama soal ganteng dan cantik didalam pemilu. Ia bercerita mulai dari bintang film Joseph Estrada di Filipina, Arnold Arnold Schwarzenegger yang menjadi gurbernur California, hingga presiden Ronald Reagan di Amerika. Lech Kaczynski, Presiden Polandia yang belum lama ini meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang, juga bekas bintang film anak-anak yang ternama. Malah ia juga berteori bahwa Gordon Brown yang kalah telak dengan David Cameron dalam pemilu di Inggris belum lama ini, juga semata-mata karena kalah ganteng jauh. Menurutnya, matematika kemenangan sebuah pemilu sangat ditentukan oleh pemilih perempuan. Pemilih perempuan jauh lebih emosional. Calon pemimpin yang mendapat perlakuan tidak adil ( Ingat SBY ? dan Corazon Aquino ?) biasanya mendapatkan simpati terbesar dan punya peluang menang yang sangat tinggi. Dan calon pemimpin yang ganteng, berwajah santun berwibawa, biasanya juga dipilih secara favorit oleh pemilih wanita. Jadi menurutnya jangan heran kalau semakin banyak artis dan aktor yang masuk politik, untuk memanfaatkan kegantengan wajahnya. Ini fenomena lumrah !

Setelah berdebat setengah jam soal wajah dan penampilan para politikus, akhirnya saya lengser juga. Karena kenyataan-nya memang demikian dilapangan. Tapi bukankah dalam kasus Andi Mallarangeng, situasinya terbalik ? Justru dia muda dan ganteng. Malah ketika jaman reformasi, dan Andi sering mucul di televisi, Andi punya fans yang cukup banyak. Kebanyakan justru malah perempuan. Lha, kalau teori “Deep Throat” saya ini benar, kenapa dong justru Andi malah kalah telak. “Deep Throat” saya, yang kebetulan adalah perempuan yang sangat charming dan cantik ini, tersenyum sangat genitnya. Lalu memaparkan dengan sederhana. Menurutnya dalam kasus Bandung, justru wajah ganteng dan populeritas Andi adalah pisau bermata dua. Membuat Andi menjadi Ketua Partai Demokrat, ibaratnya menghadiahkan sebuah Ferrari terbaru kepada seorang “playboy”. Bayangkan saja, apa jadinya kalau Andi Mallarangeng dalam 2-3 tahun mendatang lebih populer dari SBY ? Sebuah mala petaka yang tak terbayangkan akibat dan dampaknya. Bisa kacau balau total. Andi Mallarangeng yang memiliki kemampuan berkomunikasi sangat baik, berkat pengalaman-nya menjadi Jubir Presiden, bisa tampil meroket makin populer. Mulanya saya terbahak dan menganggap beberan “Deep Throat” saya ini sangat tidak masuk akal. Namun beberapa fakta yang ia ungkapkan secara “confidential”, akhirnya membuat saya ragu juga. Jadi apabila benar, Andi Mallarangeng sengaja dilengserkan karena potensinya yang lebih ganteng dan lebih populer dari SBY nanti di tahun 2014, maka Andi Mallarangeng adalah korban pertama dalam sejarah politik Indonesia yang jatuh justru karena disebabkan oleh wajah gantengnya ! Untuk itu saya cuma garuk-garuk kepala. Artikel ini sengaja saya beri judul “Gosip”, karena walaupun “Deep Throat” saya datang dari sumber yang saya percaya. Kebenarannya saya serahkan kepada anda semua. Saran saya jangan percaya, karena cuma gosip saja !

Monday, May 24, 2010

"TUHAN ..... Dimanakah Engkau ?"



Saat ayah saya terkena serangan strooke yang terakhir, saya berbuat seperti kebanyakan orang. Bersujud di hadapan Tuhan, dan meminta kesembuhan buat beliau. Saya sadar penyakit ayah cukup berat. Dan saya ingat, saat-saat itulah saya berdoa dan mencoba berbicara dengan Tuhan sekeras-kerasnya. Berjam-jam saya berdoa. Namun, satu sore ketika saya menjenguk beliau, ayah menangis melihat saya, tiba-tiba saja semangat saya lepas. Di momen itulah saya tahu, bahwa beliau mengucapkan perpisahan dengan saya. Batin saya berbisik, inilah saat-saat terakhir beliau. Beberapa hari kemudian menjelang fajar, ayah saya wafat. Walaupun saya berusaha tabah saat itu. Tetap saja saya mengikuti sikap orang kebanyakan. Saya menyalahkan Tuhan. Karena Ia telah tuli tidak mau mendengar doa saya. Ia telah mengabaikan saya. Sayapun kecewa berat.

Sebulan setelah ayah wafat, saya merasakan sebuah kekosongan dalam jiwa saya. Begitu besar dan dalam. Saya mencoba mengisinya selama seminggu, mengunjungi tempat-tempat suci dan ibadah, sepanjang pulau Jawa hingga Bali. Tidak berhasil. Ditengah kegelisahan dan kegalauan itu, saya akhirnya bertanya, apakah Tuhan itu ada ? Kalaupun ada ….. dimanakah Tuhan berada ? Dalam titik terendah kehidupan saya itu, akhirnya saya bertemu dengan Mpu Peniti. Beliau beragama Islam dan saya beragama Buddha KTP. Saya ingat betul dalam pertemuan kami yang kedua, diteras kebun belakang rumah beliau, kami minum teh poci yang kental dan harum. Mpu Peniti sembari merokok kretek menatap langit jauh-jauh. Senja mulai beranjak. Dan langit berubah warnanya. Jingga bercampur kuning tipis di horizon. Sebuah sandikala yang indah. Saya ikut melihat kelangit dan tidak menemukan apa-apa. Saat itulah Mpu Peniti berkata lirih, “Tahukah kau dimana batas langit sesungguhnya ?” Saya tidak menjawab. Cuma tersenyum. Karena sebulan sebelumnya dipuncak Borobudur saya pernah bertanya hal yang serupa. Sayapun tidak menemukan jawaban-nya.

Pernahkah terbayang oleh kita bahwa bilamana semuanya tidak ada, maka apapun tidak ada maknanya. Namun karena kita ada dan alam semesta ini sedemikian besar, dan kita tidak tahu dimana batas akhirnya. Maka setiap jengkal kehidupan kita sangat bermakna. Jodie Foster yang memerankan Ellie Arroway dalam film Carl Sagan yang berjudul “Contact” - didalam film itu berucap :” I'll tell you one thing about the universe, though. The universe is a pretty big place. It's bigger than anything anyone has ever dreamed of before. So if it's just us... seems like an awful waste of space. Right?” Barangkali jawaban atas pertanyaan Mpu Peniti ada dikalimat itu. Kadang kalimat itu pula yang akhirnya memberikan saya rasa aman yang sangat nyaman. Bahwa sesungguhnya Tuhan menyentuh kita tiap saat. Hanya karena saja sangat sering dan sangat berlimpah, kita tidak menyadarinya.

Sejak peristiwa itu saya banyak belajar dari Mpu Peniti. Tentang apa saja. Tetapi terutama belajar memperhatikan yang paling kecil, dan bukan lagi yang paling besar. Hidup saya berubah. Saya belajar menikmati hidup. Tertawa lepas dan tertawa lebih banyak. Terutama sering-sering menertawai diri saya. Selalu melihat hidup dari 2 arah yang berlawanan. Itu sebabnya ketika saya menulis buku “Anti Marketing”, banyak orang menghujat saya dan menuduh saya mencari sensasi saja. Beberapa dosen marketing mengatakan buku saya murtad dan bejat. Kata Mpu Peniti, “Sesuatu dikatakan tidak benar seringkali karena tidak dimengerti orang. Dan sesuatu yang benar seringkali karena sesuatu yang kita sudah terbiasa. Maka benar dan tidak benar, seringkali sama, yang beda cuma sudut pandangnya”.

Kadang saya sendiri sering susah hati, ketika Tuhan dengan begitu mudahnya dijadikan guling oleh kebanyakan orang. Betapa sering orang meminta kepada Tuhan hal-hal yang sangat sepele. Seperti, jangan hujan, jangan macet, dan atau minta kenaikan gaji. Tuhan juga seringkali dijadikan kesimpulan terakhir. Terutama yang berhubungan dengan nasib kita. Orang terlalu gampang menyimpulkan, “Sudah kehendak Tuhan.” Titik dan mau apalagi ?

Hari ini saya berulang tahun ke 50. Setengah abad. Semalam saya bersujud dihadapan Tuhan. Minta ampun. Juga berterima kasih. Atas hidup yang serba nyaman, nikmat dan berkelimpahan. Entah kenapa, saya merasakan Tuhan sangat dekat dengan saya. Seolah ia tampil didepan saya. Memberikan saya enerji dan semangat. Saya sadar bahwa saya tidak akan mungkin bertahan setengah abad lagi. Artinya sisa hidup saya yang entah berapa lama lagi, harus memberi nilai dan manfaat bagi orang banyak 1.000 kali dari apa yang telah saya lakukan selama 50 tahun. Ibarat orang berdagang, saya telah diberikan modal terbaik oleh Tuhan di 50 tahun kehidupan pertama saya. Maka saya wajib menggunakan modal itu sebaik-baiknya dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Buat keluarga, teman, kerabat, orang banyak, bangsa dan negara. Itu yang saya ceritakan kepada Mpu Peniti, ketika dia bertanya saya punya rencana apa di 50 tahun kehidupan saya yang berikutnya ? Mpu Peniti tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan saya. Ketika saya ditanya mau kado apa, saya cuma minta doa. Beliau manggut-manggut tanda setuju.

Diusia 50 tahun, saya telah berhenti bertanya “Tuhan …. Dimanakah Engkau ?”. Bukan karena saya tahu jawabannya. Semata karena saya sadar, ia telah hadir dan menyentuh saya dalam setiap jengkal kehidupan saya. Sudah 20 tahun terakhir ini, saya mengubah isi doa saya. Tidak lagi saya meminta sesuatu kepada Tuhan. Karena saya sadar bukan itu prosesnya. Setiap kali saya berdoa kepada Tuhan, saya cuma minta ia hadir dalam kehidupan saya. Kehadiran Tuhan inilah yang saya rasakan, secara ajaib memberikan saya kekuatan, keberanian dan kebijakan untuk bertindak dan bersikap.

Pernah sesekali, beberapa orang bertanya kepada saya. Apa agama saya ? Saya cuma tersenyum. Karena saya merasakan pertanyaan ini sangat pribadi. Hubungan saya dengan Tuhan, tidak semestinya dipersoalkan. Biasanya orang-orang itu jadi antusias gara-gara senyuman saya dan kebisuan saya tidak menjawab. Umumnya mereka lalu mencoba merekrut saya untuk masuk ke agama yang mereka peluk. Secara iseng, selalu saja mereka saya goda dengan pertanyaan, “Tuhan …. Dimanakah Engkau ?”. Hampir semuanya selalu gelagapan. Tidak ada satupun yang menjawab dengan pengalaman sendiri. Sungguh aneh. Umumnya mereka menjawab dengan jawaban resmi versi pemimpin agama mereka masing-masing, yang selalu kita dengar dalam kuliah agama. Lewat mata mereka, saya selalu melihat kerinduan yang amat sangat untuk menikmati sentuhan Tuhan.

Buddha pernah berkata, satu tetes demi satu tetes, pada akhirnya akan mengisi penuh satu bejana. Barangkali kebahagian hidup ini semestinya datang dalam bentuk ketekunan dan kesabaran. Satu tetes demi satu tetes. Sebagian orang yang sangat beruntung, ketika lahir bejananya sudah penuh dan berlimpah. Syukurlah, saya perlu 50 tahun untuk mengisi bejana itu hingga penuh. Syukurlah Tuhan telah mengajarkan saya ketekunan dan kesabaran. Tuhan memberikan saya pelatihan hidup yang membuat saya bahagia. Untuk itu saya berterima kasih !

Sunday, May 23, 2010

SETENGAH ABAD KAFI KURNIA

PRESIDEN BASI 2014



Ketika Sri Mulyani bertemu secara resmi dengan para anggota Dewan, seorang diantara mereka nyeletuk, agar Sri Mulyani mau dan bersedia dicalonkan sebagai calon Presiden 2014. Saat membaca adegan itu disebuah surat kabar, saya sempat tertawa. Itu ide yang menarik ! Tak lama kemudian di internet beredar sejumlah ajakan dan gerakan, untuk mewujudkan celetukan itu agar menjadi kenyataan.

Dalam sebuah diskusi terbatas, belum lama ini, beberapa teman menggagas agar tahun 2014 kita punya pilihan calon presiden yang lebih baik. Alasan-nya sangat sederhana. Bila kita lihat peta pimpinan partai besar yang berkuasa saat ini, sebenarnya kita sudah bisa meraba siapa-siapa saja yang bakal menjadi Presiden di 2014 dan 2019. Dan teman saya menyebutnya “presiden basi”. Saya terusik mendengarnya, walaupun sedikit kontroversial, namun memiliki sejumlah kebenaran juga. Ekonomi dunia berubah porosnya. Lihat saja Eropa yang tak reda dirundung krisis. Dan Amerika yang memicu krisis dua tahun yang lalu. Asia dengan kekuatan super ekonomi bersama Cina, Jepang dan Korea menjadi benteng ekonomi yang sangat sukar disaingi dalam 10 tahun mendatang. Seorang teman mengirim humor lewat Black Berry, “Barangkali Tuhan itu orang Cina. Jadi jangan heran apabila semua produk didunia dibuat oleh Cina” Dalam lomba ekonomi 10 tahun mendatang, Asia akan bertambah sakti, karena India akan semakin terbuka dan menjadi kekuatan terbaru ekonomi Asia. Dan kalau saja kita menemukan pemimpin yang dahsyat, maka Indonesia punya peluang menjadi kekuatan ekonomi kelima di Asia setelah Cina, Jepang, Korea dan India.

Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia telah berhasil menjadi kekuatan demokrasi baru di Asia. Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan selama 12 tahun. Kita sudah mengalami 4 kali pergantian presiden yang berbeda. Secara politik mungkin Indonesia boleh terpujikan. Tetapi dalam ekonomi, kita masih berjalan ditempat. Itu yang dirasakan hampir semua orang kebanyakan. Teorinya dengan modal yang luar biasa. Seperti jumlah penduduk ke 4 terbesar didunia. Tanah dan laut yang sangat subur. Dan potensi sumber daya alam yang berlimpah. Mestinya Indonesia tidak akan sulit menjadi kekuatan ekonomi Asia berdampingan dengan Cina, Jepang, Korea dan India. Solusinya kita butuh “pemimpin yang tidak basi”, yang mengerti tentang potensi ekonomi ini, yang punya ambisi besar mewujudkan visi ekonomi ini, dan kemampuan manajemen untuk mewujudkan-nya dalam periode 5 -10 tahun.

Barangkali ini dasar pemikiran yang sangat “urgent”, kenapa teman saya kesal, ngebet pemimpin baru yang segar, dan “tidak basi” ditahun 2014 nanti. Mungkin sebuah pertanyaan yang basi pula, bilamana kita bertanya : “Masa sih dari 200 juta orang lebih, kita tidak bisa menemukan satu-pun orang yang cakap memimpin ?” Sama dengan pertanyaan, masa sih dari 200 juta orang lebih, kita tidak bisa menemukan beberapa atlit berbakat untuk sepakbola, bulu tangkis dsbnya ? Pertanyaan basi yang selalu berdengung ketika kita kesal tim sepak bola dan tim bulu tangkis kita kalah melulu ! Jawabnya pasti bisa dan pasti ada. Masalahnya kita serius tidak mencari dan mendidik calon atlit itu ? Andaikata saya boleh membuat sebuah perbandingan. Dalam piala dunia Juni 2010 mendatang di Afrika Selatan, negara-negara kecil seperti Cameroon, Ivory Coast, Ghana dan Honduras yang memiliki populasi penduduk hanya 7 juta hingga 21 juta, berhasil masuk piala dunia. Kita, Indonesia belum punya kesempatan seperti itu. Nah, bilamana dan jikalau boleh membuat perbandingan secara potensi ekonomi. Berdasarkan data nominal GDP 2008 versi World Bank, Indonesia menduduki nomer 19. Bandingkan dengan Cameroon (88), Ivory Coast (87), Ghana (100) dan Honduras (107). Mestinya Indonesia punya prestasi segudang, apabila kita lihat urutan dan potensi ekonominya. Tapi benar pula; apabila angka diatas disanggah dengan perdebatan bahwa tidak ada hubungannya langsung antara ekonomi dengan dengan prestasi olah-raga.

Pernah sekali, Mpu Peniti pernah mengatakan kepada saya, ketika seseorang sangat minim dalam harta dan benda, tetapi ia sadar bahwa harta terbesarnya adalah dirinya sendiri, maka tidak ada lagi batas yang memisahkan prestasi yang bisa dicapainya. Miskin bukanlah penghalang. Ia bisa mencapai prestasi apapun yang ia inginkan. Tetapi Mpu Peniti juga mengatakan bahwa sebaliknya seseorang yang kelimpahan dalam harta dan benda tetapi gagal berbuat apa-apa. Maka dosanya dobel. Ia bodoh tidak bisa memanfaatkan peluang. Dan durhaka karena gagal berbuat kebajikan bagi orang banyak.

Tantangan-nya barangkali adalah bagaimana kita bisa mencetak kader-kader pemimpin yang pas ? Karena selama 12 tahun ini, partai politik di Indonesia telah gagal semua. Bukan pemimpin bagus yang berhasil dicetak, melainkan partai politik cuma dijadikan kendaraan menuju kekuasaaan. Sehingga pemimpin yang dihidangkan kepada kita, hingga hari ini semuanya basi. Tak jauh dari area pengkultus-an seseorang. Celakanya dalam menentukan kepemimpinan baru saat ini, mulai muncul tradisi buruk. Yaitu pewarisan kekuasaan dan kepemimpinan. Di berbagai daerah sudah muncul pilkada yang menampilkan istri dari Bupati atau Gubernur yang selesai berkuasa. Demikian pula di partai politik, anak-anak pimpinan partai di wacanakan sebagai pewaris dan penerus kepemimpinan. Seolah sebuah kepemimpinan adalah kepemilikan mutlak tokoh tertentu. Mirip kepemilikan tanah saja. Kepemimpinan kan bukan hak satu keluarga saja. Hingga diwariskan dari kakek ke anak cucu. Sungguh tradisi yang sangat feodal. Kalau sistim mencetak kader pimpinan di Indonesia masih berkutet di wilayah sempit ini, kapan kita bakalan punya pemimpin yang bagus ?

Mencetak kader pimpinan bangsa, sebenarnya bisa dilakukan secara lebih sistimatis dan matematis. Katakanlah kita dalam sepuluh tahun mendatang kita ingin punya kolam bakat calon pemimpin yang cukup banyak dan luas. Pemimpin yang ideal, matang dan memiliki pengalaman yang cukup dengan rentang usia 40-50 tahun. Maka saat ini, pertama-tama yang harus kita pilih adalah kolam latihnya. Agar produktif dan menyerap kemajemukan profesi dan gender, kolam latihnya jangan dibatasi. Bisa saja kolam latih itu berada di satuan militer, pemerintahan daerah, perusahaan BUMN, dan swasta. Namun pembibitan itu sudah harus dimulai dengan melihat bakat-bakat para eksekutif yang berusia 30’an saat ini. Mereka harus diberikan tanggung jawab, wawasan dan tugas-tugas memimpin yang luas. Ibaratnya intan, mereka harus terasah benar dalam 5-10 tahun mendatang, kita punya banyak pemimpin yang benar-benar kemilau dan kinclong.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana partai politik bijaksana mengakses kolam bakat ini, atau sebaliknya bagaimana calon-calon pemimpin ini diberikan akses politik, sehingga mereka punya kesempatan mendarma baktikan kemampuan dan pengalaman memimpin-nya. Dalam 12 tahun terakhir ini, partai-partai politik di Indonesia mengalami konsolidasi, perpecahan dan selalu saja muncul partai sempalan baru. Semata-mata karena di negara demokrasi Indonesia ini sendiri, partai politiknya belum 100% arif berdemokrasi. Kekuasaan cenderung di patri dan dipasung hanya untuk kelompok esklusif. Kelompok yang kecewa akhirnya membuat partai baru dan seterusnya. Sehingga partai politik besar cenderung tidak mengalami penguatan melainkan sebaliknya pengeroposan bakat dan kekuatan. Potensi dan bakat yang baik tidak terkumpul dalam satu kekuatan, melainkan terpecah-pecah tidak keruan.

Tahun 2014 memang masih 4 tahun lagi. Namun menurut Mpu Peniti, bilamana kita mau membaca tanda-tanda alam, tahun 2014 yang memiliki perhitungan 2+0+1+4 = 7 akan menjadi tahun yang sangat penting. Menurut kepercayaan tradisonal Jawa, angka 7 merupakan angka yang sempurna. Lingkungan kita memiliki sejumlah angka 7. Dimulai dari seminggu ada 7 hari. Manusia yang memiliki 7 lubang. Sehingga 7 juga diaplikasikan dalam ilmu arsitektur secara tradisi. Konon Candi Borobudur saja mempunyai 7 tangga dan 7 gerbang. Dan yang membuat saya bulu saya berdiri, adalah perkataan Mpu Peniti bahwa tahun 2014 kita bakal punya presiden ke 7, setelah Soekarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY. Saya sendiri mulanya skeptis, namun melihat kesungguhan air muka Mpu Peniti ketika bercerita saya ikut manggut-manggut juga. Saya tentu saja berharap Presiden ke 7 Indonesia di tahun 2014, adalah presiden dengan kepemimpinan baru yang segar. Bukan presiden basi ! Barangkali cuma waktu yang akan membuktikan, bilamana Sri Mulyani akan kembali ke Indonesia dan menjadi Presiden ke 7 Indonesia ! Kita sebagai rakyat kecil akan terus berharap !

Saturday, May 08, 2010

SRI MULYANI - SEBUAH "PREDICTABLE SURPRISES"



Barangkali penjelasan misteri pengunduran diri Sri Mulyani, hanya ada pada perkataan astronot beken Neil Armstrong yang berkata : “Mystery creates wonder and wonder is the basis of man's desire to understand." Seingat saya, usai diperiksa KPK kesekian kalinya, Sri Mulyani memberikan statement tentang kegusaran beliau, untuk mencari kepastian hukum. Sayangnya, sang Presiden, bapak SBY tidak memberikan tanggapan. Hanya berdiam diri. Selang sehari muncul di surat kabar dan media, tiba-tiba saja Sri Mulyani mengundurkan diri. Dengan alasan karena ada jabatan lebih prestise menunggu di World Bank. Spekulasi dan reaksi kemudian heboh di surat kabar dan media. Terutama tentang siapa yang bakal menggantikan-nya. Lalu dalam 24 jam menyusul, beredar kabar ada satu partai politik yang mengambil sikap melunak - ingin menutup kasus Bank Century tanpa memperpanjangnya. Surat kabar dan media makin heboh, jangan-jangan jabatan pengganti Sri Mulyani sudah dinegosiasikan untuk partai politik itu. Pokoknya ramai dan konon sampai mempengaruhi pasar, dari kurs hingga bursa saham.

Saya yang awam dan hanya bisa menguping kanan kiri, mulai mencerna sejumlah gosip, rumor dan berita-berita miring. Yang akhirnya memang seperti dikatakan Neil Armstrong misteri itu mewariskan sejumlah keheranan. Heran nomer satu, tentu saja jabatan sepenting itu di Bank Dunia, tidak mungkin diputuskan dalam waktu singkat, pasti memakan proses panjang dan waktu yang cukup lama. Ada pihak yang mengatakan kepada saya, mustahil tokoh sekaliber Sri Mulyani tega meninggalkan Indonesia dengan sejumlah tanggung jawab yang berat; hanya untuk sebuah jabatan diluar negeri, seberapa-pun prestise dan bernilainya. Bayangkan saja apa jadinya kalau Presiden SBY mengundurkan diri hanya gara-gara ditawari jabatan jadi Sekjen PBB misalnya. Jadi kesimpulan-nya pasti ada apa-apanya.

Heran nomer dua, koq waktu dan ketepatan momen-nya terkesan tiba-tiba dan bersinggungan dengan kasus Bank Century dan kasus Pajak yang sedang sangat panas dan heboh. Maka pengertian nomer satu, jangan-jangan pengunduran diri Sri Mulyani memang ada apa-apanya. Spekulasi sejumlah orang yang saya dengar – kemungkinan Presiden SBY dan Sri Mulayani memang kurang akur. Indikasinya adalah statement Sri Mulyani tentang kepastian hukum. Jangan-jangan Sri Mulyani tidak sudi dijadikan kambing hitam masalah Bank Century dan harus pasang badan. Apalagi kalau sampai masuk pengadilan dan dipenjara pula. Malunya bukan main. Semua prestasi dan reputasi yang sudah dicapai akan pupus begitu saja. Di republik ini, sekarang ada sebuah fenomena unik, bahwa semua bekas pejabat itu korup. Dan target empuk untuk dipenjarakan. Buktinya sudah berapa bekas gubernur dan bekas menteri yang masuk penjara. Kalau ini berlangsung terus menerus, siapa tahu kita bakalan kehabisan calon gubernur dan calon menteri.Karena semuanya di penjara.

Heran nomer tiga, jangan-jangan pengunduran diri Sri Mulyani sebenarnya sudah mengorbankan Sri Mulyani. Secara halus artinya Sri Mulyani memang berhasil dicungkil dari posisi-nya. Gosip dan rumornya, tekanan untuk mundur sudah datang sejak lama secara bertubi-tubi. Pertama, karena memang bangku empuk ini di-incar banyak orang. Maklum secara teori siapapun yang menguasai duit, maka dialah yang paling berkuasa. Itu sebabnya 3 jabatan strategis (Gubernur Bank Indonesia – Menteri Keuangan – dan Menteri Ekonomi) di republik ini selalumenjadi tulang yang paling gurih untuk diperbutkan semua pihak yang ingin berkuasa. Buktinya sehari setelah, Sri Mulyani mundur - sudah ada partai politik yang memberikan tanda melunak atas kasus Bank Century. Seolah memberi tanda bahwa partai ini siap kompromi apabila kursi menteri keuangan diserahkan kepada partai tersebut. Pengertian kita, mengapa sih Sri Mulyani harus mundur ? Apakah betul cuma gara-gara kasus Bank Century ? Seorang kuli tinta senior, kemarin memberikan sebuah pengertian yang berbeda. Tentu saja spekulatif, tapi bisa juga masuk akal. Sang kuli tinta bercerita bahwa kasus Bank Century cuma asapnya saja. Api sesungguhnya adalah kasus pajak. Kasus seperti Gayus dan pegawai pajak di Surabaya, itu cuma kulitnya saja. Apa jadinya bila kasus ini merembet dan meledak ? Bisa menjadi kebakaran yang sangat besar. Akibatnya sulit terbayangkan. Reformasi birokrasi ditubuh Departemen Keuangan, bisa membahayakan banyak orang. Dan dampaknya sangat jauh dibanding kasus Bank Century. Posisi Sri Mulyani bisa sangat dan serba sulit. Bila ia maju terus dan melakukan reformasi besar-besaran, jangan-jangan tembok keras sudah siap menghadang didepan. Tidak maju dan tidak berbuat apa-apa, juga mustahil buat tokoh seperti Sri Mulyani. Mendengar ulasan itu, saya cuma manggut-manggut saja mendengarnya. Pikir saya, kalut banget ini republik. Tulen benang kusut !

Heran yang terakhir barangkali, adalah siapa yang bakal menggantikan Sri Mulyani ? Spekulasi ini tentu saja sangat panas. Padahal sebenarnya Presiden SBY banyak dipuji orang secara diam-diam. Karena ibarat main sepak bola, Indonesia dikawal 2 wanita profesional, satu diperdagangan dan satu di keuangan. Mirip back kanan dan back kiri. Dan ada pak Boediono di poros dalam. Harapan banyak orang terhadap ekonomi Indonesia 2010 cukup tinggi. Dan memberikan kenyamanan pasar tersendiri. Dengan mundurnya Sri Mulyani, sebagian kenyamanan itu jelas pupus. Itu sebabnya spekulasi tentang pengganti Sri Mulyani, menjadi pasar taruhan yang tidak kalah menarik dibanding taruhan bola.

Yang paling kasihan tentu saja adalah pengganti Sri Mulyani. Siapapun orangnya ? Dan apapun bobotnya ? Karena ia selalu akan dibanding-bandingkan dengan Sri Mulyani. Melihat SBY memilih calon pengganti yang tepat juga akan sangat seru dan menegangkan. Karena ini akan menjadi tes ketegasan sikap SBY. Kalau solusi politik yang dipilih, dan jabatan Menteri Keuangan kelihatannya bakal diberikan sebagai upeti kesebuah partai politik. Akibatnya citra yang akan muncul jelas melemahkan SBY. Seolah-olah kompromi politik telah terjadi dan pemerintahan SBY disandera partai politik tertentu. Sebaliknya bilamana SBY memilih solusi manajemen dan mencari calon pengganti yang 100% profesional, siapa pula tokohnya ? Seorang teman mengatakan mencari tokoh yang setara dengan Sri Mulyani saja sudah sulit, apalagi mencari yang lebih hebat.

Saya sendiri jauh lebih optimis. Kalau kita teliti dan bijak mencari, tokoh profesional itu pasti ada. Max H. Bazerman dan Michael D. Watkins, penulis buku – “Predictable Surprises”, mengatakan bahwa salah satu penyebab malapetaka adalah kebiasa-an kita melakukan pembiar-an. Banyak pemimpin yang memiliki data dan informasi, karena segan atau hal-hal lain, cenderung membiarkan sesuatu, yang akhirnya menjadi malapetaka. Sikap membiarkan ini bisa menjadi budaya masa bodoh yang sangat berbahaya. Pengunduran diri Sri Mulyani adalah salah satu “Predictable Surprises” di tahun 2010. Yang mungkin saja akan merembet dan bertambah banyak. Sedemikian banyak masalah direpublik ini, yang jelas-jelas sudah tidak lagi bisa dibiarkan begitu saja. Biarpun tampaknya seperti benang kusut sekalipun. Adalah tugas kita untuk mengurainya satu demi satu dan mencari solusi yang pas. Bila kita tetap masa bodoh, maka kita akan menjadi bodoh beneran !

Buat Sri Mulyani kita ucapkan – “Congratulations” dan selamat berkarya. Dan buat presiden SBY kita doakan beliau akan diberikan jalan untuk menemukan calon pengganti yang pas !

Thursday, May 06, 2010

JAIL BANGET SIH .... PEREMPUAN CANTIK BERBAHAYA BAGI KESEHATAN ANDA !



Perempuan Cantik Merusak Kesehatan Anda

VALENCIA, KOMPAS.com –

Bertemu perempuan cantik dapat berakibat buruk bagi kesehatan Anda, demikian hasil penelitian sejumlah ilmuwan.

Sebuah penelitian dari University of Valencia, sebuah universitas tertua dan terbesar di Spanyol, menyebutkan, berada lima menit hanya berdua dengan seorang perempuan cantik dapat meningkatkan level cortisol, hormon stres tubuh, pria. Efek ini meningkat pada pria yang percaya bahwa perempuan tersebut "di luar jangkauan mereka'.

Cortisol diproduksi tubuh yang mengalami stres fisik atau psikologis dan telah dikaitkan dengan penyakit jantung.

Koran Telegraph, Senin (3/5) melaporkan, para peneliti telah menguji 84 mahasiswa pria dengan meminta mereka duduk di sebuah ruangan dan memecahkan teka-teki Sudoku. Dua orang asing, satu laki-laki dan satu perempuan, juga ada di dalam ruangan tersebut.

Ketika perempuan asing itu meninggalkan ruangan dan dua orang pria itu tetap duduk di sana, tingkat stres kedua relawan pria itu tidak muncul. Namun, ketika seorang relawan pria tinggal sendirian dengan si perempuan asing yang cantik, tingkat cortisol-nya meningkat.

Para peneliti menyimpulkan, "Dalam penelitian ini, kami menilai bahwa bagi sebagian besar pria, kehadiran seorang perempuan cantik dapat menyebabkan persepsi bahwa ada kesempatan untuk pacaran. Sementara sejumlah pria mungkin menghindari perempuan yang atraktif karena berpikir, mereka 'tidak mungkin dapat memacari perempuan tersebut', mayoritas akan merespon dengankecemasan dan sebuah respons hormonal yang terjadi berbarengan."

"Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat cortisol pria meningkat setelah terjadi kontak sosial singkat selama lima menit dengan seorang wanita muda yang menarik."

Cortisol dapat memiliki efek positif dalam dosis kecil, yaitu meningkatkan kewaspadaan dan kesejahteraan. Namun, peningkatan kadar cortisol kronis dapat memperburuk kondisi kesehatan, seperti memicu penyakit jantung, diabetes, hipertensi dan impotensi.

Monday, May 03, 2010

SURAT CINTA - from the movie SILK



“My dear master, ….
Do not be afraid. Do not move. Do not speak.
No one will see us. Stay as you are. I want to look at you.
We have the night to ouselves and I want to look at you.
Your body over me… your skin, your lips. Close your eyes. No one can see us.
And I am here at your side.
Do you feel me? When I touch you for the first time… it will be with my lips.
You will feel the warmth but you will not know where.
Perhaps, it will be on your eyes. I will press my mouth to your eyes and you will feel the warmth.
Open your eyes now, my beloved.
Look at me. Your eyes on my breast, your arms lifting me, letting me slide on to you.
My faint cry, your body quivering. There is no end to it… don’t you see?
You will forever be throwing your head back.
I will forever be shaking off my tears. This moment had to be.
This moment is… and this moment will continue from now until forever.
We shall not see one another again.
What we were meant to do, we have done.
Believe me, my love, we have done it forever.
Preserve your life out of my reach and if it serves your happiness, do not hesitate for a moment, to forget this woman who now says, without a trace of regret. Farewell."

Sunday, May 02, 2010

Benedictus - Yang tidak pernah berhenti mencari !



Beberapa hari sebelum Paskah, saya di BB, Mpu Peniti. Kata beliau, ada oleh-oleh menunggu saya. Menjelang sore hari itu, saya tiba di rumah beliau. Kami ngobrol, dan kali ini obrolan digelar ditempat yang sangat istimewa. Di ruang perpustakaan beliau. Hampir 20 tahun saya mengenal beliau, dan entah sudah berapa ratus diskusi dan perdebatan yang kami lalui, semuanya hampir tidak pernah kami lakukan di ruang perpustakaan beliau. Saya selalu merasa ruangan itu magis, dan sakral. Saya cuma pernah masuk diruangan itu hanya sesekali. Dan itupun untuk waktu yang serba singkat.

Ruang perpustakaan Mpu Peniti cukup luas. Dahulunya bekas kamar utama. Dindingnya penuh dengan foto-foto beliau dengan berbagai tokoh. Ada yang sangat terkenal, adapula cuma orang biasa. Namun difoto diberbagai tempat. Menunjukan kalau Mpu Peniti sudah melang-lang buana. Disudut sebelah kiri ada gong yang sangat tua. Renta namun masih terlihat angun. Rak-rak buku tertata rapi dengan buku-buku tua koleksi Mpu Peniti. Disudut sebelah kanan ada lemari tempat menyimpan beberapa barang antik dan keris-keris tua. Tidak ada komputer. Tidak ada televisi. Juga tidak ada radio dan alat-alat memutar musik. Namun kamar ini dilengkapi dengan seperangkat sofa yang sudah tua. Kusam warna-nya, namun tetap memperlihatkan kenyamanan yang akrab. Konon beliau biasa membaca berjam-jam di sofa itu. Dekat sofa ada sebuah meja kecil. Diatasnya ada seperangkat alat permainan catur. Bukan yang mahal, dibuat dari kayu biasa. Dan bisa dibeli dimana-mana. Hanya saja, diatas papan catur, ada sejumlah buah catur yang mensiratkan ada satu permainan yang belum selesai. Saya selalu penasaran. Ingin tahu cerita dan misteri tentang permainan yang tidak pernah selesai itu.

Rupanya rasa penasaran saya akan terselesaikan hari ini. Sambil menikmati teh melati dari Yogyakarta, dan kacang rebus, mulai-lah Mpu Peniti mendongeng. Konon, saat Mpu Peniti masih muda dan bujangan, di Yogyakarta, beliau berkenalan dengan seorang pemuda, bernama Benedictus. Tidak ada yang tau darimana persisnya dia berasal. Benedictus juga seolah enggan bercerita. Kulitnya memang hitam legam dan rambutnya keriting. Mpu Peniti juga tidak pernah usil bertanya dari mana asalnya. Ben, begitu ia sering dipanggil, seringkali hanya mengatakan kampung halaman-nya jauh. Ben, seorang pemeluk agama Katolik yang saleh. Rajin beribadah, dan prilakunya sangat halus. Ia selalu bangga dengan namanya yang artinya “diberkati”.

Ben, berkenalan dengan Mpu Peniti, pada saat Ben bekerja menjadi penjaga pintu disebuah sekolah swasta. Saat itu Ben, masih buta huruf. Ia sering ditipu, ketika orang tahu kelemahan Ben. Mpu Peniti kemudian mengajarkan Ben, membaca dan menulis. Disanalah awal persahabatan mereka. Walaupun buta huruf, Ben pandai bermain gitar dan catur. Mpu Peniti belajar bermain catur justru dari Ben. Berdua mereka saling belajar dan mengajar. Tak lama kemudian, setelah pandai membaca dan menulis, Ben belajar menjual kayu. Terutama kayu gaharu dan kayu ulin untuk bahan membuat aneka cindera mata. Kehidupan Ben cepat menanjak. Punya sepeda motor dan rumah. Mpu Peniti sangat bangga dengan perkembangan Ben. Sampai suatu hari, Ben datang ke rumah Mpu Peniti. Raut mukanya sangat gelisah. Bicaranya terbata-bata, kurang jelas. Selidik punya selidik, Ben gugup setengah mati. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis Solo. Ben, minta Mpu Peniti untuk menjadi wali dan melamar gadis itu. Tentu saja terjadi kehebohan yang luar biasa. Keluarga sang gadis menolak mentah-mentah. Maklum saat itu perkawinan antar etnik yang berbeda sangat jauh, masih terbilang langka dan jarang. Ben, tidak patah semangat. Ia pindah ke Solo dan membesarkan usahanya disana. Singkat cerita dengan kesabaran yang luar biasa, akhirnya Ben bisa juga menikahi gadis Solo puja-annya. Syaratnya Ben harus pindah dari Solo. Itupun dipenuhi Ben dengan patuhnya. Mereka pindah ke Bali, dan mulai dari nol. Usaha dan keluarga, dijalani Ben dengan ketekunan luar biasa. Sampai pada sukses yang berikutnya dan mereka pindah ke Jakarta.

Persahabatan Ben dan Mpu Peniti semakin akrab. Ben sering sekali mampir ke Yogyakarta. Mereka selalu bertukar kisah dan pengalaman. Tahun 1992, istri Ben kena penyakit kanker. Ben tentu saja resah dan gelisah luar biasa. Saat itu semua usaha dan bisnisnya ia serahkan kepada putera-puteranya. Ia melepaskan semuanya. Tujuan hidupnya cuma ada satu. Ia fokus pada satu tujuan hidup, yaitu mengobati penyakit istrinya. Tahun 1996 istri Ben wafat. Ben sangat terpukul sekali. Tak lama kemudian ia menghilang. Tidak ada kabar cerita. Menurut gosip Ben menyepi disejumlah biara di Timur Tengah. Ben berkelana diberbagai kota seperti Yerusalem dan Bethlehem. Konon ia mencari sejumlah arti. Tahun 1998 sebelum kerusuhan Mei, Mpu Peniti menerima surat dari Ben. Ia berada di Roma dan Vatikan. Menjelang akhir tahun 1998, Ben kembali mengunjungi Mpu Peniti. Sembari bermain catur, ia bercerita panjang lebar tentang pengalaman-nya. Kadang saking serunya Ben bercerita, permainan catur mereka tidak pernah diselesaikan. Dan selalu dilanjutkan pada kunjungan berikutnya.

Beberapa hari menjelang Paskah tahun 2000, Ben wafat dengan tenang didalam tidurnya. Tidak ada keluhan penyakit sama sekali. Dokter hanya menjelaskan Ben terkena serangan jantung dalam tidurnya. Semua putera putri Ben menganggap kepergian Ben lebih gaib dan sakral dari penjelasan dokter. Saat itu, masih ada satu permainan catur yang tidak diselesaikan Ben. Itu sebabnya Mpu Peniti masih saja membiarkan papan catur itu berisi permainan yang tidak diselesaikan Ben, tetap utuh di perpustakaan beliau. Buat Mpu Peniti, permainan catur yang tidak selesai itu, ibarat sebuah memorial untuk seorang sahabat yang istimewa. Setahun setelah Ben wafat, seorang puteranya datang ke Yogyakarta, menemui Mpu Peniti. Ia membawa sebuah kotak dengan ukiran Jepara, dan menyerahkannya kepada Mpu Peniti. Pesan Ben, kalau ia wafat, maka kotak itu harus diwariskan ke Mpu Peniti. Didalam kotak, ada sejumlah catatan, beberapa foto, dan 2 buah rosario. Rupanya sebagian pengalaman Ben, selama menghilang hampir 2 tahun terekam di sejumlah catatan itu. Yang unik, semua catatan itu tidak direkam dalam satu buku. Melainkan tercecer dalam sejumlah bundel kertas-kertas lepas, yang tidak seragam.

Usai bercerita tentang perjalanan hidup Ben, dan misteri papan catur dengan permainan yang belum selesai, Mpu Peniti menitipkan kotak berukiran Jepara itu kepada saya. Beliau berpesan bahwa cerita tentang hidup Ben harus saya teruskan. Saya terharu sekali. Terus terang saya tidak berani membuka dan membacanya. Barulah setelah Paskah berakhir, saya mulai membacanya sedikit demi sedikit. Dan lebih mendalami apa perasaan Ben. Isinya sangat pribadi sekali. Kadang tak terasa saya meneteskan airmata terutama ketika Ben bercerita tentang perasaan cintanya yang sangat mendalam terhadap istrinya yang sangat dikasihinya itu. Ben, merasakan sebuah kehampaan yang luar biasa ketika istrinya wafat. Ben bertutur bahwa lapar dan haus seringkali hapus pupus oleh kesedihan-nya. Ia merasakan seluruh tubuhnya lumpuh dan mati rasa. Ben mengaku ia benar-benar tidak paham apa perasaan dirinya yang asli. Karena sama sekali bukan kesedihan. Tetapi satu perasaan yang benar-benar asing. Barangkali itu yang membuat ia pergi menyendiri selama hampir 2 tahun

Cerita tentang Ben bukanlah cerita “superhero” yang fantastis. Tetapi cerita tentang orang kebanyakan yang biasa-biasa saja. Namun, cerita ini punya kelengkapan arti yang mungkin jarang kita temui. Tentang berjuang dalam hidup, tidak mau menyerah, dan berusaha membuat setiap langkah yang diambil memiliki makna dan kepatutan. Kadang kita suka bertanya pada diri kita sendiri, terutama disaat-saat yang sangat sulit, dan dikala kita merasa dikucilkan oleh Tuhan dan diberlakukan dengan tidak adil – “Untuk apa sebenarnya kita hidup ini ?” Sebagian dari kita menyerah dan tidak mau pusing. Jalani saja hidup ini. Dan nikmati selama kita mampu. Ben, berbeda dengan kita. Ia termasuk yang langka. Yang terus mencari tahu. Karena pada akhirnya makna atau arti menjadi nilai yang paling berarti. Bahwa kehidupan ini menjadi sakral karena kita akhirnya mengerti. Biarpun dalam kemampuan yang sangat terbatas.

Dalam satu lembar catatan Ben, dikutipnya sebuah ayat di Kitab Suci, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan." – Matius 7: 7-8.

Saya tidak mengenal Ben. Saya juga tidak tahu apa perasaannya. Tetapi usai membaca catatan Ben, saya yakin bahwa pada akhirnya Ben bahagia. Tebakan saya, Ben berhasil menemukan apa-pun yang dicarinya. Mungkin tidak seluruhnya. Tetapi cukup memberi makna dan arti. Disebuah kartu pos bergambar sebuah gereja kecil, Ben menuliskan –“ Εὕρηκα” – atau “Eureka !”

Saturday, April 10, 2010

JAIL BANGET SIH ....... SEMUA PRIA DILAHIRKAN DENGAN KAMAMPUAN AUTO FOCUS



Hua....ha....ha.....ha.....ha......

Ternyata semua pria dilahirkan dengan kemampuan AUTO FOCUS

Apapun posisi dan sudutnya..... kalau ada kesempatan tetap melirik !!!!

Wednesday, April 07, 2010

NGIKIK ALA BETAWI ..... MPOK IPEH KETAUA-AN BO'ONG



Tempo ari, waktu Tohir ke Las Vegas, die liat pameran robot. Dan ade atu robot, nyang rade unik. Robot ini anti bo’ong. Pokoknye orang bo’ong, tuh robot pasti atu deh. Ngak bakal lolos. Jadi biarpun mahal, ama Tohir dibeli juge tuh robot.

Pas nyampe Jakarte, Tohir girang banget. Die udeh ngak sabar pengen nyoba kesaktian tuh robot. Pas magrib anak lelakinye pulang. Tohir belaga garang. Terus anak lelakinye die hardik : “Buset luh, Jon, gini hari baru pulang. Abis dari mane lu ?” Joni nyang tau kartu babeh-nye ngak mempan digertak, dan nyaut asal aje “ Abis belajer beh, dirumah Susi.”

Tiba-tiba “geeeleeepooook” pipi kanan Joni di tampar robot. Tohir senyum-senyum, “Bo’ong luh Jon. Ayo ngaku sebelum digampar lagi ame nih robot.” Joni mengkeret, terus gemeter dia jawab, “Joni ke Mall, beh…..” Lagi-lagi “geeeelllleeeepppoook” pipi kiri Joni ditampar Robot. Giliran Tohir nyang ketawe terbahak-bahak. “Akhhh…. Bo’ong lagi luh Jon. Ayo jangan bo’ong ! Jawab nyang jujur.” Joni gemeter dan sembari menunduk, die jawab suaranye pelan, “Nonton pilem porno beh. Dirumah bang Farid …..” Baru deh tuh robot diem. Artinye Joni ngak bohong lagi.

Mpok Ipeh, nyang denger suare “geeelllleeeeppppokkk” berkali-kali dari dapur, akhirnye keluar juge. Saking penasaran-nye. Mpok Ipeh kaget banget, liat muke Joni kiri kanan merah abis digampar orang. Tegangan tinggi Mpok Ipeh langsung deh nyamber, sembari die jewer kuping Tohir, “Wah, emang bener gile luh Tohir ! Anak semata wayang elu gampar kiri kanan”, Tohir meringis saking kesakitan. “Jelek-jelek begini, si Joni kan anak elu sendiri, masa sih elu gampar ?” Mpok Ipeh suaranya tinggi keawan.

Tiba-tiba aje tuh robot kage pake peringatan, nabok Mpok Ipeh “geeelllleeeepppppooook”. Mpok Ipeh ampe kejengkang jatuh. Tohir kaget setengah mati. Nah, lu …. Mpok Ipeh ketauan bo’ong. ( Lha, Joni kalu gitu anak siape ? …… he…he…he… )

Sunday, April 04, 2010

JAIL BANGET SIH ....... BECANDA AME BUAYA BENERAN




Di Darwin, AUSTRALIA baru diresmikan sebuah taman rekreasi.
Namenye CROCSAURUS COVE.

Disane disediaken kolam dengan buaya-buaya ganas.
Dan pengunjung bisa nyemplung kekolam itu untuk becanda dengan buaya beneran.
Gedhe-gedhe lagi .....

Tentu saja antara anda dan buaye di batasi kaca acryclic yang sangat tebal.
itupun anda cuma bisa bercanda selama 15 menit.

Lebih lama waktunya .... pasti berbahaya dan bisa runyam.

Sebuah rekreasi yang tentunya hanya diperuntuk-kan bagi mereka nyang punya nyali.

(he....he....he....he......)

FILM YANG KUDU KITE NONTON !!!

Friday, April 02, 2010

Thursday, April 01, 2010

KALAU TOHIR SALAH TULIS .....



Ceritenye …. Alkisah suatu ari, di kantor Farid ada cewe ngak sengaje ball-point-nye nyemplung di printer dan bikin printer macet. Neh, karena tuh cewe rada genit, die minte tolong si Tohir untuk ambil tuh ball-point. Tohir kena rayu dan akhirnye die nyoba nolongin. Dan berusaha ngambil tuh ball-point. Pas lagi asyik kutak kutik. Eh, Farid ngajak makan soto kambing. “Udeh, tinggal aje dulu – ‘Ntar abis makan baru elu betulin lagi tuh printer”, gitu kate Farid. Tohir akhirnye ngalah, karena perutnye udeh lumayan keroncongan juge. Supaye tuh printer ngak dipake orang, Tohir meninggalkan catetan. Cuma saking sok-nya di nulis pake bahasa Inggris. (tau sendiri deh akibatnye……)

Pas pulang makan makan Farid ame Tohir kaget, karena orang sekantor pada senyum-senyum dan ketawa-ketawa sendiri. Koq…. Heboh banget. Selidik punye selidik, rupanya Tohir nulis pake bahasa Inggris buru-buru. Akibatnya …… (liat aje deh sendiri)

Tohir - Tohir .... ancur abis … (buset dah)