Saturday, May 08, 2010

SRI MULYANI - SEBUAH "PREDICTABLE SURPRISES"



Barangkali penjelasan misteri pengunduran diri Sri Mulyani, hanya ada pada perkataan astronot beken Neil Armstrong yang berkata : “Mystery creates wonder and wonder is the basis of man's desire to understand." Seingat saya, usai diperiksa KPK kesekian kalinya, Sri Mulyani memberikan statement tentang kegusaran beliau, untuk mencari kepastian hukum. Sayangnya, sang Presiden, bapak SBY tidak memberikan tanggapan. Hanya berdiam diri. Selang sehari muncul di surat kabar dan media, tiba-tiba saja Sri Mulyani mengundurkan diri. Dengan alasan karena ada jabatan lebih prestise menunggu di World Bank. Spekulasi dan reaksi kemudian heboh di surat kabar dan media. Terutama tentang siapa yang bakal menggantikan-nya. Lalu dalam 24 jam menyusul, beredar kabar ada satu partai politik yang mengambil sikap melunak - ingin menutup kasus Bank Century tanpa memperpanjangnya. Surat kabar dan media makin heboh, jangan-jangan jabatan pengganti Sri Mulyani sudah dinegosiasikan untuk partai politik itu. Pokoknya ramai dan konon sampai mempengaruhi pasar, dari kurs hingga bursa saham.

Saya yang awam dan hanya bisa menguping kanan kiri, mulai mencerna sejumlah gosip, rumor dan berita-berita miring. Yang akhirnya memang seperti dikatakan Neil Armstrong misteri itu mewariskan sejumlah keheranan. Heran nomer satu, tentu saja jabatan sepenting itu di Bank Dunia, tidak mungkin diputuskan dalam waktu singkat, pasti memakan proses panjang dan waktu yang cukup lama. Ada pihak yang mengatakan kepada saya, mustahil tokoh sekaliber Sri Mulyani tega meninggalkan Indonesia dengan sejumlah tanggung jawab yang berat; hanya untuk sebuah jabatan diluar negeri, seberapa-pun prestise dan bernilainya. Bayangkan saja apa jadinya kalau Presiden SBY mengundurkan diri hanya gara-gara ditawari jabatan jadi Sekjen PBB misalnya. Jadi kesimpulan-nya pasti ada apa-apanya.

Heran nomer dua, koq waktu dan ketepatan momen-nya terkesan tiba-tiba dan bersinggungan dengan kasus Bank Century dan kasus Pajak yang sedang sangat panas dan heboh. Maka pengertian nomer satu, jangan-jangan pengunduran diri Sri Mulyani memang ada apa-apanya. Spekulasi sejumlah orang yang saya dengar – kemungkinan Presiden SBY dan Sri Mulayani memang kurang akur. Indikasinya adalah statement Sri Mulyani tentang kepastian hukum. Jangan-jangan Sri Mulyani tidak sudi dijadikan kambing hitam masalah Bank Century dan harus pasang badan. Apalagi kalau sampai masuk pengadilan dan dipenjara pula. Malunya bukan main. Semua prestasi dan reputasi yang sudah dicapai akan pupus begitu saja. Di republik ini, sekarang ada sebuah fenomena unik, bahwa semua bekas pejabat itu korup. Dan target empuk untuk dipenjarakan. Buktinya sudah berapa bekas gubernur dan bekas menteri yang masuk penjara. Kalau ini berlangsung terus menerus, siapa tahu kita bakalan kehabisan calon gubernur dan calon menteri.Karena semuanya di penjara.

Heran nomer tiga, jangan-jangan pengunduran diri Sri Mulyani sebenarnya sudah mengorbankan Sri Mulyani. Secara halus artinya Sri Mulyani memang berhasil dicungkil dari posisi-nya. Gosip dan rumornya, tekanan untuk mundur sudah datang sejak lama secara bertubi-tubi. Pertama, karena memang bangku empuk ini di-incar banyak orang. Maklum secara teori siapapun yang menguasai duit, maka dialah yang paling berkuasa. Itu sebabnya 3 jabatan strategis (Gubernur Bank Indonesia – Menteri Keuangan – dan Menteri Ekonomi) di republik ini selalumenjadi tulang yang paling gurih untuk diperbutkan semua pihak yang ingin berkuasa. Buktinya sehari setelah, Sri Mulyani mundur - sudah ada partai politik yang memberikan tanda melunak atas kasus Bank Century. Seolah memberi tanda bahwa partai ini siap kompromi apabila kursi menteri keuangan diserahkan kepada partai tersebut. Pengertian kita, mengapa sih Sri Mulyani harus mundur ? Apakah betul cuma gara-gara kasus Bank Century ? Seorang kuli tinta senior, kemarin memberikan sebuah pengertian yang berbeda. Tentu saja spekulatif, tapi bisa juga masuk akal. Sang kuli tinta bercerita bahwa kasus Bank Century cuma asapnya saja. Api sesungguhnya adalah kasus pajak. Kasus seperti Gayus dan pegawai pajak di Surabaya, itu cuma kulitnya saja. Apa jadinya bila kasus ini merembet dan meledak ? Bisa menjadi kebakaran yang sangat besar. Akibatnya sulit terbayangkan. Reformasi birokrasi ditubuh Departemen Keuangan, bisa membahayakan banyak orang. Dan dampaknya sangat jauh dibanding kasus Bank Century. Posisi Sri Mulyani bisa sangat dan serba sulit. Bila ia maju terus dan melakukan reformasi besar-besaran, jangan-jangan tembok keras sudah siap menghadang didepan. Tidak maju dan tidak berbuat apa-apa, juga mustahil buat tokoh seperti Sri Mulyani. Mendengar ulasan itu, saya cuma manggut-manggut saja mendengarnya. Pikir saya, kalut banget ini republik. Tulen benang kusut !

Heran yang terakhir barangkali, adalah siapa yang bakal menggantikan Sri Mulyani ? Spekulasi ini tentu saja sangat panas. Padahal sebenarnya Presiden SBY banyak dipuji orang secara diam-diam. Karena ibarat main sepak bola, Indonesia dikawal 2 wanita profesional, satu diperdagangan dan satu di keuangan. Mirip back kanan dan back kiri. Dan ada pak Boediono di poros dalam. Harapan banyak orang terhadap ekonomi Indonesia 2010 cukup tinggi. Dan memberikan kenyamanan pasar tersendiri. Dengan mundurnya Sri Mulyani, sebagian kenyamanan itu jelas pupus. Itu sebabnya spekulasi tentang pengganti Sri Mulyani, menjadi pasar taruhan yang tidak kalah menarik dibanding taruhan bola.

Yang paling kasihan tentu saja adalah pengganti Sri Mulyani. Siapapun orangnya ? Dan apapun bobotnya ? Karena ia selalu akan dibanding-bandingkan dengan Sri Mulyani. Melihat SBY memilih calon pengganti yang tepat juga akan sangat seru dan menegangkan. Karena ini akan menjadi tes ketegasan sikap SBY. Kalau solusi politik yang dipilih, dan jabatan Menteri Keuangan kelihatannya bakal diberikan sebagai upeti kesebuah partai politik. Akibatnya citra yang akan muncul jelas melemahkan SBY. Seolah-olah kompromi politik telah terjadi dan pemerintahan SBY disandera partai politik tertentu. Sebaliknya bilamana SBY memilih solusi manajemen dan mencari calon pengganti yang 100% profesional, siapa pula tokohnya ? Seorang teman mengatakan mencari tokoh yang setara dengan Sri Mulyani saja sudah sulit, apalagi mencari yang lebih hebat.

Saya sendiri jauh lebih optimis. Kalau kita teliti dan bijak mencari, tokoh profesional itu pasti ada. Max H. Bazerman dan Michael D. Watkins, penulis buku – “Predictable Surprises”, mengatakan bahwa salah satu penyebab malapetaka adalah kebiasa-an kita melakukan pembiar-an. Banyak pemimpin yang memiliki data dan informasi, karena segan atau hal-hal lain, cenderung membiarkan sesuatu, yang akhirnya menjadi malapetaka. Sikap membiarkan ini bisa menjadi budaya masa bodoh yang sangat berbahaya. Pengunduran diri Sri Mulyani adalah salah satu “Predictable Surprises” di tahun 2010. Yang mungkin saja akan merembet dan bertambah banyak. Sedemikian banyak masalah direpublik ini, yang jelas-jelas sudah tidak lagi bisa dibiarkan begitu saja. Biarpun tampaknya seperti benang kusut sekalipun. Adalah tugas kita untuk mengurainya satu demi satu dan mencari solusi yang pas. Bila kita tetap masa bodoh, maka kita akan menjadi bodoh beneran !

Buat Sri Mulyani kita ucapkan – “Congratulations” dan selamat berkarya. Dan buat presiden SBY kita doakan beliau akan diberikan jalan untuk menemukan calon pengganti yang pas !

1 comment:

Anonymous said...

Genial dispatch and this mail helped me alot in my college assignement. Gratefulness you on your information.