Monday, September 04, 2017
Saturday, September 02, 2017
Sriracha, Kimchi dan Pecel
Menjelang akhir pekan, teman
saya di Portland mengirim pesan – “Datanglah berkunjung ke Portland, ada obyek
ziarah kuliner yang menarik. Harus dan wajib kita kunjungi.” Karena teman saya
ini adalah “Foodie” kelas berat, maka saya langsung berkemas dan berangkat
menuju Portland dari San Francisco. Teman saya mengirim pesan lanjutan : “Jam
8.15 tepat besok di lobby hotel !” Melihat pesan itu saya langsung mengambil
kesimpulan, artinya kita akan makan pagi. Dan makan pagi ini pasti sangat
spektakuler, karena teman “Foodie” saya sangat dan super serius dengan
ajakan-nya. Malam itu saya akhirnya semi puasa, hanya makan salad dan secangkir
kopi, lalu tidur. Menyiapkan diri untuk makan pagi yang spektakuler.
Paginya jam 08.15 di lobby
hotel, teman saya sudah nyengir sumringah. Ternyata saya diajak kesebuah
restoran yang sedang naik daun di Portland. Tasty n Adler di tengah kota
Portland. Restoran ini memang buka jam 9 pagi untuk mereka yang ingin sarapan
pagi. Yang membuat saya terkejut adalah antrian yang panjang sebelum restoran
di buka. Rupanya memang restoran ini luar biasa “beken”-nya. Ketika masuk dan
duduk di meja, teman saya dengan sigap memesan sajian legendaris mereka. Dari
sejumlah makanan yang dipesan, 2 adalah makanan bergaya Korea, 1 makanan
bergaya Mexico dan 2 lagi makanan bergaya Amerika yang tradisional. Kedua
kuliner Korea yang kami pesan adalah,yang pertama ayam goreng ala Korea dengan
Kimchi. Dan yang kedua “Bim Bop Bacon and Eggs” . Saya cukup kaget dan
terperangah. Tak disangka masakan khas Korea sudah melanda dunia sedemikian
lengketnya. Luar biasa sekali.
Tasty n Adler, memang kreasi
koki terkenal - John
Gorham yang menurut ceritanya mengambil sejumlah inspirasi dari perjalanannya
keseluruh penjuru dunia, dan memungut sejumlah tradisi kuliner global yang
menggoyang lidah kita dan membentuk budaya kuliner global kita saat ini. John Gorham sendiri pada awalnya tahun 2007
mendirikan sebuah restoran Spanyol – Toro Bravo yang terkenal itu di Portland.
Kuliner Spanyol yang seringkali terdiri dari hidangan-hidangan kecil yang
sangat beragam dan disebut Tapas, membuka sebuah tradisi baru dalam budaya
kuliner Amerika - dimana makan bersama ramai-ramai alias “family style” seperti
tradisi kita di Asia; menjadi sebuah cara alternatif makan baru di Amerika.
Banyak restoran di Amerika kini memotivasi pelanggan-nya untuk mencoba berbagai
hidangan bersama-sama, sehingga kenikmatan makan menjadi pengalaman keberagaman
hidangan yang unik.
Saya
ingat betul, kira-kira 10 tahun yang lalu – pada sebuah malam yang cukup dingin
ditengah musim dingin di Los Angeles, seorang teman mengajak saya untuk menghangatkan
badan. Ternyata saya dibawa kesebuah warung kecil masakan Korea, dan disana
kami memesan sup tahu ala Kimchi yang pedas dan panas. Kami makan sampai
bekeringat. Dan terasa praktek menghangatkan badan teman saya itu sangat
efektif sekali. Warung Korea itu penuh sesak dengan pengunjung, baik konsumen
dari Asia, dan juga konsumen yang bukan Asia. Dengan rasa kagum saya mengatakan
kepada teman saya, bahwa kuliner Korea akan mendunia sebentar lagi. Apalagi
dengan gencarnya mereka mempromosikan musik dan budaya film Korea saat itu.
Ramalan saya kini terbukti. Di Jakarta sendiri, daerah sekitar Senopati hingga
Wolter Monginsidi di selatan Jakarta telah berubah menjadi kota Korea alias
Korean Town yang populer. Setiap bulan-nya minimal sekali atau dua, saya
bersama relasi juga makan Korean BBQ. Jelas sudah invasi kimchi kini sudah
mendunia.
Usai
makan pagi, diskusi kami lanjutkan di Stump Town, warung kopi favorite saya
yang asli berasal dari Portland. Stumptown berdiri tahun 1999, dan pendirinya
Duane Sorenson merupakan salah satu pionir – “The Third Wave of Coffee
Movement”. Sebuah gerakan yang sebutannya di prakarsai oleh Timothy Castle pada
tahun yang sama 1999, sebagai kelahiran gerakan “artisan” produsen kopi yang
mementingkan kualitas. Menjadikan kopi sebagai sebuah butik premium cita
rasa. Di Stump Town saya diberi
kesempatan mencoba salah satu kopi esklusif mereka yang sangat kompleks yaitu
Kenya Kirinyaga Karimikui. Sambil menyeruput secangkir kopi, kami berdiskusi
soal restoran dan café di Portland berserta tren-nya saat ini. Perbincangan menjadi semakin seru ketika kami
terbahak-bahak membahas fenomena saus Sriracha yang fenomenal. Secara singkat
Sriracha adalah sambal botol yang juga banyak kita dapati di Indonesia. Hanya
saja Sriracha ini menjadi saus yang merevolusikan cita rasa lidah orang
Amerika. Dapat dikatakan orang Amerika tergila-gila dengan saus ini. McD saja
belum lama ini meluncurkan saus versi Sriracha untuk disiramkan di burger
kreasi mereka. Bayangkan kedahsyatan-nya !
Nama
Sriracha konon berasal dari sebuah kota
kecil di pesisir timur Thailand – Si
Racha yang terletak di provinsi
Chonburi. Resep Sriracha sebenarnya sederhana, cabe, dengan cuka, garam, gula
dan bawang putih. Dan konon saus yang aseli digunakan pedagang warung makanan
laut disepanjang pantai di kota Si Racha itu. Pada tahun 1980, David Tran di
California lewat perusahaan-nya Huy Fong Food membuat Sriracha dengan cabe yang
banyak di Amerika yaitu jenis Jalapeno yang merah dan pedas. Karena David Tran
lahir dengan zodiak ayam jago, maka saus Sriracha buatan-nya diberi cap ayam
jago. Sejak itu saus Sriracha cap ayam jago langsung mendunia. Hampir semua
waralaba makanan saji cepat, seperti Wendy’s, Pizza Hut, Burger King, McD, Taco
Bell, Jack in The Box, Subway dan banyak lagi merangkul sambal ini didalam
sajian menu-nya. Perusahaan camilan membuat aneka camilan dengan rasa Sriracha.
Dan pedas menjadi fenomena cita rasa dunia !
Pulang
dari “ngupi”, pikiran saya melayang sangat jauh. Mungkin Indonesia juga bisa
bersaing dengan Kimchi dan Sriracha, dan modalnya hanya satu saus yang mungkin
bisa kita promosikan dan juga bisa membuat kuliner Indonesia mendunia secara
global. Bilamana saya rekat satu demi satu pengalaman saya menjelajah kuliner
Indonesia lebih dari 30 tahun, maka kesimpulan saya hanya ada satu, yaitu bumbu
atau saus pecel. Saus kacang barangkali adalah jiwa dan roh kuliner Indonesia,
karena bisa kita jumpai hampir bersentuhan dengan setiap kuliner Indonesia,
mulai dari sate, gado-gado, ketoprak, nasi uduk, dan lebih dari selusin makanan
khas Indonesia. Namun saus kacang juga umum kita jumpai dalam sajian kuliner di
Malaysia, Singapore, Vietnam, Thailand hingga Philipina. Hanya ada satu di
Indonesia yang sangat berbeda yaitu saus kacang yang terkenal dengan nama bumbu
atau saus pecel, yang memiliki rasa dengan rempah-rempah khas dan tingkat
kepedasan yang membuat kita ketagihan.
Saya
sering memanfaatkan saus pecel untuk berbagai eksperimen kuliner. Pernah saus
pecel saya blender hingga sangat halus dan saya berikan sedikit mayonaise agar
lebih kental dan gurih, lalu saya jadikan saus hotdog. Ternyata luar biasa !
Pecel hotdog ini menjadi favorit banyak orang. Bumbu pecel pernah juga saya
sajikan sebagai saus untuk kentang goreng alias “french fries” dan rasanya juga
membuat banyak orang ketagihan. Teman “foodie” saya berkomentar bahwa saus
pecel itu kaya rasa. Disamping rasa kacang (nutty) yang populer, dan
rempah-rempahnya yang membuat rasanya menjadi kompleks dan eksotis, bumbu atau
saus pecel lebih mudah diseimbangkan rasanya antara manis, asin, asam, dan
pedas. Sehingga memiliki kecanggihan yang bisa melampaui kimchi atau sriracha.
Teman
“foodie” saya pernah menggunakan saus atau bumbu pecel sebagai bumbu dasar
untuk membuat hidangan barat seperti salad, dan bumbu steak dalam sebuah jamuan
makan malam dengan hasil mengagumkan. Saya sendiri sangat yakin saus dan bumbu
pecel ini punya potensi bagus untuk menjadi landasan unik mempromosikan kuliner
Indonesia ke dunia global. Kuliner Indonesia yang sangat beragam sekali, memang
sangat sulit dipromosikan karena jumlahnya sangat banyak dan kompleks. Tidak
seperti masakan Thailand yang terkenal dengan satu kuliner seperti sup Thom Yam
atau masakan Vietnam yang terkenal dengan Pho. Berbagai negara di ASEAN juga
mulai meniru strategi yang mirip. Singapura gencar mempromosikan Laksa, dan
Malaysia giat mempromosikan Nasi Lemak. Sudah saatnya kuliner Indonesia kita
angkat dan kita promosikan sebagai atraksi kuliner dunia setelah kuliner China,
Jepang dan Thailand mendunia. Salah satu kemungkinan itu menurut perhitungan
pribadi saya adalah saus dan bumbu Pecel. Semoga saja ini menjadi inspirasi
yang bermanfaat. Berjayalah Pecel !
Wednesday, August 09, 2017
LUKISAN JELEK - Cerita dari San Francisco
Angin musim panas menyambut
letih saya – lebih dari 18 jam perjalanan saya tempuh dari Jakarta menuju San Francisco. Desirannya sejuk
dan kering. Angin pulang dari teluk yang selalu ramah di senja hari. Saya
menatap langit, dan senja masih terang benderang, biasanya musim panas di San
Francisco langit baru gelap diatas jam 8 malam. Suara tawa yang khas tiba-tiba
menghapus letih saya. Seorang teman lama saya di San Francisco menjemput saya di
bandar udara. Raut wajahnya selalu gembira, walau hidupnya sangat keras di
Amerika. Dia baru saja bercerai hampir 6 bulan yang lalu. Sebuah episode
kehidupan dirinya yang selalu ia buat menjadi lawakan walaupun sangat pahit.
Kami berpelukan melepas kangen. Terakhir kami bertemu hampir 2 tahun yang lalu.
Usai memasukan koper di bagasi,
kami meluncur kekota mencari makan. Saya meledek mobil tuanya, dan dia tertawa
terbahak-bahak. Dia adalah salah satu orang yang saya kenal selalu optimis.
Tidak peduli biar bagaiman hidup mencoba merobeknya berkeping-keping. Dia
selalu tertawa dan selalu mencoba membalas meledek hidup. Dia selalu mengatakan
kepada saya bahwa hidupnya adalah selembar plastik yang tahan dirobek. Saya
banyak belajar dari dirinya, terutama dalam berkelit melewati hari-hari yang
susah dalam kehidupan ini.
Kami meluncur ke Little Italy,
dan sambil tertawa, dia mengatakan bahwa kali ini dia menemukan sebuah café,
yang pasti saya akan suka. Saya tersenyum, karena teman yang satu ini memang
tahu betul hobby dan kesukaan saya. Tiba di café, pengunjung mulai sepi. Karena
hari hampir jam 09.00 malam. Saya memesan sup dan pasta sederhana. Saya tidak
ingin malam ini “jet-lag” saya bertempur dengan perut yang kekenyangan. Lalu
kami-pun heboh bercerita tentang “kacrut”-nya ekonomi di Indonesia dan situasi
politik yang “kalut” di tanah air. Di tengah santap malam dia mengatakan sebuah
kalimat yang saya tunggu-tunggu, “Elu bakal suka deh – café ini punya sejumlah
lukisan jelek kesukaan elu” Saya tertawa terbahak-bahak. Dan akhirnya permisi
ke WC untuk membuktikan.
Saya punya hobby melihat lukisan
jelek. Dan entah kenapa, berbagai restoran diseluruh penjuru dunia selalu punya
kebiasaan memajang lukisan jelek di WC mereka atau di gang menuju WC mereka.
Apakah lukisan jelek merupakan atribut terbaik untuk dipajang di sebuah WC
restoran atau café untuk menunjukan sebuah nilai keaslian ? Atau menunjukan
sebuah dekor interior yang unik ? Café ini mungkin telah berusia lebih dari 30
tahun, dan di gang menuju WC tergantung beberapa lukisan yang memang sangat
jelek, demikian juga didalam WC pria.
Saya selalu menikmati lukisan
jelek, yang mungkin tidak memiliki nilai komersil.
Pernah sekali ketika masih
sekolah di SD ulangan saya jeblok. Saat itu ayah saya memberikan satu petuah.
Pesan beliau, “….. belajarlah menghargai semuanya, baik yang jelek dan yang
baik. Karena semuanya adalah anugerah.
Kalau kamu bisa menghargai yang jelek maka yang baik itu nilainya akan
berlipat ganda. Tetapi kalau kau tidak bisa menghargai yang jelek maka yang
baik tidak akan pernah bisa membuat kau puas !” Awalnya saya tidak mengerti
sama sekali petuah itu. Saya merasakan ayah saya mencoba menghibur dan
memotivasi diri saya.
Suatu hari seorang teman dari
Korea, mengajarkan saya cara minum teh yang baik dan benar. Awalnya saya tidak
memperhatikan sama sekali. Karena di Indonesia, setiap kali makan kita sudah
terbiasa minum es teh tawar. Dan kita tidak punya apresiasi banyak. Namun
setelah saya di ajarkan yang baik dan benar, saya mulai mengerti petuah ayah
saya, bahwa setelah sekian lama minum teh yang biasa-biasa saja, termasuk yang
buruk dan tidak enak, maka ketika saya diajarkan minum teh yang baik dan benar,
maka terasa bahwa yang baik dan benar nilainya menjadi berlipat-lipat ganda.
Sejak itu sayapun terobesesi untuk berburu teh yang berkualitas tinggi.
Salah satu efek samping dari
petuah ayah saya, maka akhirnya saya juga terobsesi untuk berburu “barang yang
jelek” termasuk lukisan dan patung. Medan tempat saya berburu salah satunya
tentu saja adalah WC di restoran dan café diseluruh penjuru dunia. Karena
disanalah sarang lukisan jelek bermukim. Dan didalam kenikmatan saya menonton
lukisan jelek, seringkali hadir sejumlah rasa penasaran serta pertanyaan yang
membabi buta. Pertama kebanyakan lukisan itu adalah “mereka yang tidak dikenal”
alias anonim. Sesuatu yang sangat berbeda ketika kita menonton lukisan di
gallery dimana kita mengenal pelukisnya. Mereka yang anonim bisa saja seorang
anak, seorang dewasa atau seorang manula. Bisa saja mereka melukis karena iseng
atau mereka yang benar-benar berusaha menjadi pelukis tetapi gagal. Setelah
saya melihat sekian banyak lukisan jelek di WC akhirnya saya belajar mengenali
hal-hal yang menarik. Misalnya ada lukisan yang dibuat seadanya saja, karena
memang iseng. Namun ada sejumlah lukisan yang memperlihatkan usaha, dan
perjuangan. Hal itu terlihat dalam tarikan kuas dan warna dengan kesungguhan
yang murni dan sangat jujur apa adanya. Pelukis komersil kebanyakan telah
kehilangan roh itu. Mereka melukis untuk menyenangkan penonton dan kolektornya.
Komersialisasi seringkali memadati kanvas mereka, membuat saya susah bernafas
lega. Lukisan jelek sangat terbalik selalu punya persepsi baru karena dilukis
dengan mata yang lebih lugu.
Entah kapan awalnya,
saya akhirnya mulai mengoleksi barang jelek dan barang yang rusak, dan mencoba
menjalani amanat ayah saya. Saya punya sejumlah patung yang cacat, jelek dan
rusak. Saya beli ketika berburu barang-barang antik diberbagai gallery. Kebanyakan
harganya sangat murah dan tidak diminati orang. Saya juga mengoleksi sejumlah
lukisan palsu dan jelek. Salah satu lukisan yang sangat jelek, adalah lukisan
yang saya beli di Djogdjakarta, sebuah lukisan tertanggal tahun 1998 dan
merupakan lukisan tinta Cina di selembar karton. Konon pelukisnya adalah
seorang penderita Schizophrenia yang
kemudian meninggal tak lama sesudah ia melukis lukisan itu. Lukisan itu sangat
jelek dan tidak berbentuk, namun bagi saya lukisan itu memiliki ketajaman yang
indah dan sulit dilukiskan karena memiliki kerumitan emosi yang tidak mungkin
terjelaskan.
Pernah sekali saya mengobrol dengan seorang pelukis tua di
Djogdjakarta – beliau tanpa saya sangka mengatakan :”Saya kangen melukis yang
jelek !”. Tentu saja saya terbahak. Namun dia menerawang dan menjelaskan, bahwa
semua pelukis awalnya melukis dengan jelek. Tidak ada pelukis yang secara ajaib
langsung melukis dengan indah. Titik awal dimana semua pelukis belajar dan
mencari jati dirinya adlah masa-masa yang paling berbahagia. Sebuah masa tanpa
noda dan dosa. Satu kesucian proses berkarya. Kalaupun lukisan kita jelek,
semua orang akan maklum, karena dia masih belajar. Tapi sekarang ketika dia
melukis sedikit saja kurang apik, semua kritikus seni akan bersorak
mengeritiknya habis-habisan. Dia telah kehilangan era itu. “Saya kangen berbuat
salah,” begitu kilahnya diakhir percakapan kami.
Kini saya sadar bahwa ayah saya mencoba mengajarkan kepada
saya sebuah kebijakan tentang sebuah proses pembelajaran. Bahwa apapun yang
kita lakukan, jangan takut apabila awalnya salah dan jelek. Karena setelah itu
– kita akan semakin mahir untuk mampu
melakukan yang baik dan benar. Yang penting adalah tidak tinggal diam. Tetapi
berani melakukan. Ini yang membedakan kita dengan yang lain. Ada orang tidak
pernah punya keberanian untuk melakukan. Selama hidupnya dia hanya akan menjadi
penonton. Sisanya justru bangkit dan melakukan. Mungkin awalnya salah dan
jelek, tetapi kalau ia tetap berusaha dan bergiat, suatu hari dia akan menjadi
maestro.
Di Union Square, saya dan teman saya berpisah. Langit telah
gelap. Dan angin malam itu cukup dingin membekukan semua keletihan saya.
Sebelum tidur, saya jadi teringat perkataan - Lang Leav, seorang penulis di New
Zealand – yang menulis novel SAD GIRLS. Dia menulis dengan indahnya – "The
most beautiful things are damaged in some way." Kalimat itu membawa saya
kealam mimpi malam itu. Banyak orang mengejar kesempurnaan yang ilusif. Tanpa
mengerti proses dan pembelajaran. Yang dikejar adalah titik terakhir yang
sempurna. Padahal kesempurnaan dan keindahan seringkali adalah akibat sebuah
perjalanan panjang. Sayangnya perjalanan itu jarang dimengerti banyak orang.
Sehelai kain batik – Cerita dari Djogdjakarta.
Cerita ini diceritakan kepada saya
beberapa tahun yang lalu, dan menjadi salah satu cerita favorit saya. Konon
suatu saat seorang guru mengajak murid-muridnya, pada suatu hari sebelum subuh
untuk mendaki gunung bersama-sama. Tidak ada satupun murid yang berani bertanya
mengapa dan kenapa. Tiba dipuncak gunung, sang guru diam seolah melakukan
meditasi dan menghadap fajar yang merekah perlahan. Ia membiarkan panas
matahari pelan-pelan merasuk kedalam tubuh tuanya. Seolah menyerap enerji dari
matahari. Semua murid-muridnya hanya meniru ulah sang guru. Diam dan melakukan
hal yang sama. Ketika fajar selesai dengan sempurna, sang guru turun gunung
dengan diam. Diikuti para murid-muridnya.
Sore hari menjelang senja, sang guru
mengajak murid-muridnya kepantai. Dipantai sang guru melakukan hal yang sama.
Berdiam diri, dengan sabar menunggu senja dan matahari tenggelam. Beberapa
murid-muridnya tergoda untuk bermain di pantai. Lagi-lagi sang guru berdiam
diri, seolah melakukan meditasi dan membiarkan tubuhnya menyerap panas matahari
yang semakin senyap, ketika senja turun. Tidak ada murid yang berani bertanya
mengapa dan kenapa. Namun seorang diantara mereka merasa sangat penasaran, dan
bertanya lirih : “Guru apa maksud pelajaran hari ini ?” Sang guru tersenyum dan
menjawab dengan pertanyaan pula : “ Bagaimana mungkin kau mengerti tentang
senja ? Kalau kau tidak memiliki jawaban tentang fajar ?” Ditanya seperti itu
tentu saja muridnya menjadi sangat bingung. Sang murid hanya memperlihatkan
wajah yang bingung.
Malam hari ketika saat makan malam
bersama, sang guru baru bercerita bahwa dalam hidup ini ada dua ujian yang
sangat penting. Yang pertama adalah ujian terhadap usaha atau ihtiar kita. Itu
sebabnya saat mereka ingin menikmati fajar, sang guru mengajak murid-muridnya
bangun pagi dan berangkat keatas gunung untuk menonton fajar yang sempurna.
Ujian yang kedua adalah kesabaran – dan itu diperlihatkan sang guru ketika
kepantai dengan sabarnya menunggu senja jatuh dan hari berakhir. Kata sang guru
usaha dan sabar ibarat diri kita dan bayang-bayang yang kita miliki. Kita tidak
mungkin bisa sabar kalau kita tidak berusaha. Dan sebaliknya kita tidak mungkin
berhasil berusaha kalau kita tidak sabar. Itu sebabnya sang guru berkata : “
Bagaimana mungkin kau mengerti tentang senja ? Kalau kau tidak memiliki jawaban
tentang fajar ?”
Cerita diatas di ceritakan oleh seorang
pengusaha batik dikota Djogdjakarta kepada saya, ketika beliau prihatin tentang
seni batik yang terancam punah karena apresiasi kita terhadap batik semakin
pudar oleh jaman dan tekhnologi. Menurut pengusaha ini – batik adalah
simbolisasi filosofi Jawa yang berbunyi : “Alon-alon Maton Kelakon”. Artinya
dalam hidup ini, kita harus mencapai cita-cita kita, walaupun pelan sekalipun.
Dan batik memiliki nafas filosofi yang sama.
Mewarnai sepotong kain bisa dilakukan
dengan berbagai cara. Misalnya warna dan motif bisa dicetak langsung di
sepotong kain dengan mesin dan tekhnologi mewarnai yang sangat canggih dan
hasilnya adalah sepotong kain yang bisa saja kaya dengan warna dan motif. Mudah
dan sangat cepat. Cara yang kedua adalah dengan cara membatik. Cara ini sangat
ruwet dan memerlukan usaha dan kesabaran yang tidak sedikit. Karena bayangkan
saja, kain diberi lilin dan kemudian dicelup ke salah satu warna, baru
menghasilkan satu motif dengan satu warna yang khusus. Untuk motif yang kedua,
dilakukan hal yang sama, yaitu kain diberi lilin untuk motif lainnya dan
dicelup ke warna khusus lain-nya. Demikian seterusnya, hingga dihasilkan motif
dan kekayaan warna yang dikehendaki sang pembatik. Sebuah proses yang sangat
memakan waktu dengan usaha dan kesabaran luar biasa. Dua kombinasi inilah yang
membuat sehelai kain batik memiliki nilai yang sangat luar biasa.
Saya diperlihatkan sebuah kain batik tua
warisan buyut-nya, yang konon dibuat 2 tahun sebelum beliau wafat. Kain batik
sederhana itu di buat selama setahun lebih, dengan kesabaran yang luar biasa,
serta usaha yang sangat mengagumkan. Saat itu buyutnya sudah sangat sepuh dan
menderita rematik. Sehingga hanya bisa membatik perlahan-lahan dan pada saat
rematiknya tidak terasa terlalu sakit. Sambil meneteskan airmata selama sejam
saya diceritakan sejarah dan tiap garis yang ada di kain batik itu. Sepotong
kain batik itu menjadi simbol perjuangan sang buyut dalam menghadapi hidup ini.
Tiap garis yang tidak sempurna menjadi cerita kemenangan tersendiri dan bukan
cacat. Sesuatu yang membanggakan. Bagi keluarga mereka sepotong kain batik ini menjadi
rekam jejak akhir hidup sang buyut. Bukan sebuah buku harian yang penuh dengan
cerita dan kalimat-kalimat yang indah. Melainkan sebuah potret apa adanya.
Sebuah meditasi tentang kehidupan. Bagi saya dan mereka yang tidak mengerti
maka sehelai kain batik tersebut cuma sebuah kain biasa. Dengan motif dan warna
yang mirip dengan kain batik yang lain. Tetapi bagi keluarga mereka itulah
pusaka yang tidak ternilai harganya karena menjadi sebuah prasasti tentang
usaha dan kesabaran.
Menutup cerita tentang buyutnya, sang
pengusaha mengatakan kepada saya, bahwa kepada anak cucunya, ia selalu
mewariskan 2 nilai tersebut. Bahwa hidup ini sangat ditentukan dengan usaha
kita. Siapa yang lebih giat berusaha pasti akan menerima hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan orang lain. Namun tidak selalu usaha kita itu menghasilkan
sukses. Yang terpenting adalah jangan berhenti berusaha dan menyerah. Dan
kesabaran adalah jiwa dan semangat yang harus kita miliki ketika berusaha.
Apabila kita lelah biarlah kita berhenti dan beristirahat. Setelah itu berusaha
kembali. Apabila kita gagal, jangan patah semangat. Bangkit dan berusaha
kembali. Begitu seterusnya. Itulah inti dari filosofi – “Alon-alon Maton
Kelakon”. Itu terekam dengan sangat indahnya dalam sehelai batik warisan sang
buyutnya. Sambil tersenyum sang
pengusaha memberikan saya sebuah kalimat penutup, “Hidup ini sangat sederhana
!”.
Teman saya seorang ahli nutrisi,
bercerita bahwa bagi dirinya pribadi – berpuasa selama bulan suci Ramadhan
adalah sebuah episode meditasi kehidupan yang lain. Banyak orang yang melakukan
puasa tanpa kesadaran. Hanya mengikuti ritual. Sehingga ketika berbuka puasa,
kita lupa dengan makna puasa, yang kita umbar hanya nafsu belaka dan memuaskan
dahaga dan lapar secara berlebihan. Padahal sama seperti cerita sehelai kain
batik diatas, berpuasa juga memadukan 2 elemen sederhana yaitu usaha dan
kesabaran. Usaha kita untuk melatih diri menahan dan melawan nafsu, dan
kesabaran dalam menghadapi semua godaan. Memaafkan semua orang yang berbuat
salah dan jahat kepada kita. Sehingga diakhir puasa, kita bisa menjadi orang
yang besar maafnya, sabar dan lebih tekun berusaha. Selamat menunaikan ibadah
puasa. Marilah kita menyederhanakan hidup kita menjadi sehelai kain batik
kehidupan. Tetap berusaha dan utuh bersabar ! – Alon-alon Maton Kelakon.
Subscribe to:
Posts (Atom)





