Wednesday, August 09, 2017
Sehelai kain batik – Cerita dari Djogdjakarta.
Cerita ini diceritakan kepada saya
beberapa tahun yang lalu, dan menjadi salah satu cerita favorit saya. Konon
suatu saat seorang guru mengajak murid-muridnya, pada suatu hari sebelum subuh
untuk mendaki gunung bersama-sama. Tidak ada satupun murid yang berani bertanya
mengapa dan kenapa. Tiba dipuncak gunung, sang guru diam seolah melakukan
meditasi dan menghadap fajar yang merekah perlahan. Ia membiarkan panas
matahari pelan-pelan merasuk kedalam tubuh tuanya. Seolah menyerap enerji dari
matahari. Semua murid-muridnya hanya meniru ulah sang guru. Diam dan melakukan
hal yang sama. Ketika fajar selesai dengan sempurna, sang guru turun gunung
dengan diam. Diikuti para murid-muridnya.
Sore hari menjelang senja, sang guru
mengajak murid-muridnya kepantai. Dipantai sang guru melakukan hal yang sama.
Berdiam diri, dengan sabar menunggu senja dan matahari tenggelam. Beberapa
murid-muridnya tergoda untuk bermain di pantai. Lagi-lagi sang guru berdiam
diri, seolah melakukan meditasi dan membiarkan tubuhnya menyerap panas matahari
yang semakin senyap, ketika senja turun. Tidak ada murid yang berani bertanya
mengapa dan kenapa. Namun seorang diantara mereka merasa sangat penasaran, dan
bertanya lirih : “Guru apa maksud pelajaran hari ini ?” Sang guru tersenyum dan
menjawab dengan pertanyaan pula : “ Bagaimana mungkin kau mengerti tentang
senja ? Kalau kau tidak memiliki jawaban tentang fajar ?” Ditanya seperti itu
tentu saja muridnya menjadi sangat bingung. Sang murid hanya memperlihatkan
wajah yang bingung.
Malam hari ketika saat makan malam
bersama, sang guru baru bercerita bahwa dalam hidup ini ada dua ujian yang
sangat penting. Yang pertama adalah ujian terhadap usaha atau ihtiar kita. Itu
sebabnya saat mereka ingin menikmati fajar, sang guru mengajak murid-muridnya
bangun pagi dan berangkat keatas gunung untuk menonton fajar yang sempurna.
Ujian yang kedua adalah kesabaran – dan itu diperlihatkan sang guru ketika
kepantai dengan sabarnya menunggu senja jatuh dan hari berakhir. Kata sang guru
usaha dan sabar ibarat diri kita dan bayang-bayang yang kita miliki. Kita tidak
mungkin bisa sabar kalau kita tidak berusaha. Dan sebaliknya kita tidak mungkin
berhasil berusaha kalau kita tidak sabar. Itu sebabnya sang guru berkata : “
Bagaimana mungkin kau mengerti tentang senja ? Kalau kau tidak memiliki jawaban
tentang fajar ?”
Cerita diatas di ceritakan oleh seorang
pengusaha batik dikota Djogdjakarta kepada saya, ketika beliau prihatin tentang
seni batik yang terancam punah karena apresiasi kita terhadap batik semakin
pudar oleh jaman dan tekhnologi. Menurut pengusaha ini – batik adalah
simbolisasi filosofi Jawa yang berbunyi : “Alon-alon Maton Kelakon”. Artinya
dalam hidup ini, kita harus mencapai cita-cita kita, walaupun pelan sekalipun.
Dan batik memiliki nafas filosofi yang sama.
Mewarnai sepotong kain bisa dilakukan
dengan berbagai cara. Misalnya warna dan motif bisa dicetak langsung di
sepotong kain dengan mesin dan tekhnologi mewarnai yang sangat canggih dan
hasilnya adalah sepotong kain yang bisa saja kaya dengan warna dan motif. Mudah
dan sangat cepat. Cara yang kedua adalah dengan cara membatik. Cara ini sangat
ruwet dan memerlukan usaha dan kesabaran yang tidak sedikit. Karena bayangkan
saja, kain diberi lilin dan kemudian dicelup ke salah satu warna, baru
menghasilkan satu motif dengan satu warna yang khusus. Untuk motif yang kedua,
dilakukan hal yang sama, yaitu kain diberi lilin untuk motif lainnya dan
dicelup ke warna khusus lain-nya. Demikian seterusnya, hingga dihasilkan motif
dan kekayaan warna yang dikehendaki sang pembatik. Sebuah proses yang sangat
memakan waktu dengan usaha dan kesabaran luar biasa. Dua kombinasi inilah yang
membuat sehelai kain batik memiliki nilai yang sangat luar biasa.
Saya diperlihatkan sebuah kain batik tua
warisan buyut-nya, yang konon dibuat 2 tahun sebelum beliau wafat. Kain batik
sederhana itu di buat selama setahun lebih, dengan kesabaran yang luar biasa,
serta usaha yang sangat mengagumkan. Saat itu buyutnya sudah sangat sepuh dan
menderita rematik. Sehingga hanya bisa membatik perlahan-lahan dan pada saat
rematiknya tidak terasa terlalu sakit. Sambil meneteskan airmata selama sejam
saya diceritakan sejarah dan tiap garis yang ada di kain batik itu. Sepotong
kain batik itu menjadi simbol perjuangan sang buyut dalam menghadapi hidup ini.
Tiap garis yang tidak sempurna menjadi cerita kemenangan tersendiri dan bukan
cacat. Sesuatu yang membanggakan. Bagi keluarga mereka sepotong kain batik ini menjadi
rekam jejak akhir hidup sang buyut. Bukan sebuah buku harian yang penuh dengan
cerita dan kalimat-kalimat yang indah. Melainkan sebuah potret apa adanya.
Sebuah meditasi tentang kehidupan. Bagi saya dan mereka yang tidak mengerti
maka sehelai kain batik tersebut cuma sebuah kain biasa. Dengan motif dan warna
yang mirip dengan kain batik yang lain. Tetapi bagi keluarga mereka itulah
pusaka yang tidak ternilai harganya karena menjadi sebuah prasasti tentang
usaha dan kesabaran.
Menutup cerita tentang buyutnya, sang
pengusaha mengatakan kepada saya, bahwa kepada anak cucunya, ia selalu
mewariskan 2 nilai tersebut. Bahwa hidup ini sangat ditentukan dengan usaha
kita. Siapa yang lebih giat berusaha pasti akan menerima hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan orang lain. Namun tidak selalu usaha kita itu menghasilkan
sukses. Yang terpenting adalah jangan berhenti berusaha dan menyerah. Dan
kesabaran adalah jiwa dan semangat yang harus kita miliki ketika berusaha.
Apabila kita lelah biarlah kita berhenti dan beristirahat. Setelah itu berusaha
kembali. Apabila kita gagal, jangan patah semangat. Bangkit dan berusaha
kembali. Begitu seterusnya. Itulah inti dari filosofi – “Alon-alon Maton
Kelakon”. Itu terekam dengan sangat indahnya dalam sehelai batik warisan sang
buyutnya. Sambil tersenyum sang
pengusaha memberikan saya sebuah kalimat penutup, “Hidup ini sangat sederhana
!”.
Teman saya seorang ahli nutrisi,
bercerita bahwa bagi dirinya pribadi – berpuasa selama bulan suci Ramadhan
adalah sebuah episode meditasi kehidupan yang lain. Banyak orang yang melakukan
puasa tanpa kesadaran. Hanya mengikuti ritual. Sehingga ketika berbuka puasa,
kita lupa dengan makna puasa, yang kita umbar hanya nafsu belaka dan memuaskan
dahaga dan lapar secara berlebihan. Padahal sama seperti cerita sehelai kain
batik diatas, berpuasa juga memadukan 2 elemen sederhana yaitu usaha dan
kesabaran. Usaha kita untuk melatih diri menahan dan melawan nafsu, dan
kesabaran dalam menghadapi semua godaan. Memaafkan semua orang yang berbuat
salah dan jahat kepada kita. Sehingga diakhir puasa, kita bisa menjadi orang
yang besar maafnya, sabar dan lebih tekun berusaha. Selamat menunaikan ibadah
puasa. Marilah kita menyederhanakan hidup kita menjadi sehelai kain batik
kehidupan. Tetap berusaha dan utuh bersabar ! – Alon-alon Maton Kelakon.
Monday, May 29, 2017
BELAJAR MAKAN GADO-GADO
Situasi suhu
politik yang memanas di Jakarta, membuat saya iseng kepingin mencari camilan
yang heboh. Mulanya saya ingin mengajak mentor saya Mpu Peniti makan soto
betawi favorit kami berdua. Namun beliau malah mengajak saya makan gado-gado di
rumahnya. Dengan setengah hati saya mengiyakan juga ajakan itu. Karena
gado-gado dan soto betawi jarak kenikmatan-nya sangatlah lebar luar biasa.
Tiba di rumah
Mpu Peniti – saya diperkenalkan kepada seorang wanita, setengah baya. Katakan
saja nama beliau Mbak Sisca. Dan tiba-tiba saja gado-gado menjadi sajian yang
luar biasa menariknya. Mbak Sisca – ibunya asli dari Solo. Ayahnya kebetulan
seorang warga negara Belanda. Mbak Sisca lahir dan besar di Belanda. Sejak
kecil Ibunya sudah memperkenalkan beliau dengan aneka masakan Indonesia. Salah
satunya adalah gado-gado. Setelah menyelesaikan SMA di Belanda, Mbak Sisca
saking cintanya dengan masakan Indonesia, akhirnya minta ijin kepada orang
tuanya untuk merantau ke Solo; bertemu dengan keluarga besar Ibunya dan belajar
lebih dalam soal kuliner Indonesia.
Sejak itu Mbak
Sisca keliling Indonesia, dan pernah tinggal di Medan, Bandung, Blitar, Bali
dan hingga Lombok. Beliau jantuh cinta “pol” sama masakan Indonesia.
Sore itu saya
dan Mpu Peniti disajikan berbagai versi hidangan gado-gado. Kata Mbak Sisca
kepada kami, “Awalnya saya mengira Gado-Gado itu cuma masakan yang sangat
sederhana, namun setelah belajar 20 tahun lebih soal gado-gado baru kemudian
saya sadar betapa rumitnya gado-gado itu. Terutama bila kita bedah dan kita
gelar secara filosofis”. Saya dan Mpu Peniti awalnya cuma senyum-senyum saja
sambil berpandangan mata. Gado-gado secara filosofis ? Nah, ini baru topik yang
super heboh dan menarik.
Menurut Mbak
Sisca, roh sebuah gado-gado ditentukan oleh saus kacangnya. Saus kacang tanah
ini sesungguhnya cikal bakal roh kuliner Indonesia. Hampir semua kuliner
Indonesia yang “beken” dan ternama pasti memiliki sentuhan saus kacang tanah
ini. Mulai dari ketoprak, gado-gado, sate, batagor dan siomay, asinan, hingga
sambal kacang untuk nasi uduk. Saya sempat garuk-garuk kepala, karena apabila
direnungkan, pengamatan Mbak Sisca soal saus kacang tanah ini terasa benar
juga.
Kacang tanah
bukanlah tanaman asli Indonesia. Menurut sejarah, kacang tanah diperkirakan
berasal dari Amerika Latin, lebih tepatnya dari negara Peru dan Brazil. Bukti
tertua tentang kacang tanah konon ditemukan di kedua negara ini dan usianya
sudah lebih dari 3.500 tahun yang lalu. Kemungkinan besar kacang tanah
diperkenalkan ke Asia oleh para pedagang Eropa yang menyusuri jalur jalan
sutera dan jalur jalan rempah-rempah lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Kini
kacang tanah memiliki keterikatan yang luar biasa akrabnya dengan hampir semua
kuliner di Asia, termasuk di Indonesia.
Lanjut Mbak
Sisca, saus kacang tanah ini memiliki resep dasar yang sangat sederhana, kacang
tanah yang digoreng dan dihancurkan, ditambah bawang putih, garam dan gula
merah (gula aren). Baru kemudian lewat persilangan budaya, saus kacang tanah
ini bertambah kaya dengan asam, kecap manis, cabe, dan terasi serta
rempah-rempah lain sehingga menjadi saus kuliner yang eksotis. Gado-gado
sebenarnya cuma sekumpulan sayur mayur yang sederhana, namun karena diberi saus
kacang tanah yang eksotis, maka jadilah ia kuliner yang ajaib.
Sore itu, Mbak
Sisca menyajikan 3 bentuk gado-gado yang mengalami evolusi budaya yang berbeda.
Yang pertama adalah gado-gado khas Betawi lengkap dengan sayur pare dan kencur.
Yang kedua adalah karedok atau gado-gado dengan sayur mentah ala Sunda. Dan
yang terakhir adalah pecel Blitar alias gado-gado Jawa Timur yang pedas. Kami
mencicipi-nya dengan antusias, dan mulai merasakan jabaran dan tatanan budaya
yang kini terasa membuat gado-gado menjadi sebuah filosofi yang ruwet.
Sembari melahap
gado-gado, Mbak Sisca melanjutkan dongengnya, menurut beliau gado-gado ini
adalah simbol sebuah perlawanan diam. Karena tidak ada bukti tertulis yang
akurat soal gado-gado, Mbak Sisca membuat dugaan lewat sejumlah petualangan
kulinernya. Konon menurut beliau, gado-gado kemungkinan besar adalah tiruan
dari “salad” pada jaman Belanda yang kemudian diterjemahkan secara unik oleh
para pembantu di dapur-dapur sinyo Belanda jaman dulu. Teori ini didukung oleh
riset Mbak Sisca bahwa gado-gado ini ada dua tipe. Gado-gado yang bumbunya di
ulek, kemudian sayuran ditambahkan kedalam ulekan atau campuran bumbu. Yang
mana metode ini yang paling populer jaman sekarang. Dan gado-gado yang hampir
punah adalah gado-gado siram, bedanya sayuran di racik jadi satu dan kemudian
bumbu gado-gado baru disiram diatas racikan sayuran. Mirip cara membuat “salad”
ala kuliner Barat. Mbak Sisca menuturkan bahwa beliau pernah makan gado-gado di
Princen Park (Lokasari) di daerah Jakarta kota, dimana sayuran gado-gado mirip
racikan “salad”, yaitu salada air, kentang, telur, dan irisan jagung manis.
Lebih mirip sebuah “salad” ala kuliner barat dan saus kacangnya disiram diatas.
Jadi perlawanan diam yang dimaksud Mbak Sisca adalah kemungkinan dijaman
Belanda dulu ada pihak-pihak yang tidak mau kalah dan “salad” ciptaan barat
kemudian di Indonesia-kan dengan saus kacang.
Kata gado-gado
sendiri kemungkinan menyiratkan arti bahwa gado-gado memang merupakan makanan
pembuka (appetizer) yang bisa di gado
tersendiri dan tanpa harus disantap bersama makanan lain. Ini salah satu bukti
bahwa riset Mbak Sisca punya tinjauan sejarah yang cukup akurat.
Yang menarik
lagi adalah evolusi pecel yang berkembang sangat banyak dan bervariasi di
wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Misalnya pecel ala Blitar, Malang, Kediri,
Tegal, dan Banyumas semuanya memiliki varian yang sedikit-sedikit berbeda,
mulai dari tekstur kacang tanah, tingkat kepedasan, hingga tambahan
rempah-rempah. Mbak Sisca juga memperlihatkan sejumlah foto tua, bagaimana
jaman dahulu pecel ini dijajakan sebagai sarapan pagi hari yang sangat populer
di sepanjangan jalur kereta di Jawa Timur.
Lucunya pula
kini gado-gado berputar arah, di berbagai hotel bintang 5 dan restoran
Indonesia kelas atas, gado-gado ini kembali di interpertasikan ulang oleh
kebanyakan koki-koki luar negeri, dengan cara-cara penyajian yang spektakuler.
Bumbu saus kacang misalnya, kini sudah diperkaya dengan saus kacang mede, yang
konon lebih gurih dan agar kelihatan lebih mewah.
Pulang dari
rumah Mpu Peniti, pengalaman belajar makan gado-gado terasa sangat istimewa
buat saya secara pribadi. Sebuah pembelajaran yang inspiratif. Mungkin saja
benar bahwa gado-gado merupakan sebuah perlawanan diam dari bangsa ini, untuk
menunjukan kepada penjajah waktu itu, bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang
lebih inovatif.
Tetapi diluar
dari itu – buat saya yang paling menarik adalah sebuah ide yang sangat amat
sederhana, yaitu sayuran rebus yang diracik dan diberi saus kacang tanah bisa
menjadi legenda yang menjadi bagian sejarah kuliner bangsa ini. Terutama ide
yang sederhana ini dicerna oleh saudara sebangsa dan setanah air, kemudian
ditambah dan dikurangi variasinya menjadi sebuah fusi ide, yang tidak ditolak
dan tidak menimbulkan keributan. Tetap menjadi sebuah ide yang harmonis dan
serasi. Tidak ada protes, semua pihak menerima setiap perubahan dan inovasi
dengan legowo. Barangkali generasi bangsa saat ini bisa belajar dari gado-gado
secara apik. Bahwa keragaman itu sebenarnya sangat indah.
Mungkin
Pemerintah kita bisa belajar dari gado-gado juga. Kata Mbak Sisca, sebenarnya
gado-gado bisa menjadi budaya memasyarakatkan santapan yang berimbang dan yang
sehat. Karena didalam gado-gado bisa lengkap berimbang, ada karbohidrat
(kentang), sayuran, dan protein (tahu, tempe dan telur). Lewat gado-gado bisa
saja kita bikin kampanye makan sehat yang baik.
Seorang Chef
pernah bercerita kepada saya, tentang kekaguman-nya terhadap gado-gado.
Sederhana, enak dan tetap bisa fleksibel. Mau dibikin merakyat sangat bisa. Mau
dibikin mewah juga sangat bisa. Mbak Sisca menuturkan bahwa ia pernah meracik
gado-gado super mewah, dengan asparagus, jamur enoki, tomat Jepang, strawbery
California dan apel Washington. Rasanya tetap spektakuler !
Bagi saya
pribadi, bangsa dan negara Indonesia, rumitnya mirip gado-gado, tetapi
kerumitan bahan baku itulah yang membuat rasanya menjadi ajaib. Artinya tanpa keberagaman itu gado-gado kehilangan
nilainya. Siapapun yang ingin menjadi pemimpin bangsa dan negara ini, harus
eksotik bisa menjadi saus kacang tanah yang komplit. Asin, asem, manis, dan
gurih yang sempurna. Keseimbangan yang pas. Barangkali itu roh-nya !
Sejarah tidak
pernah berbohong, tetapi tradisi dan budaya kuliner suatu bangsa seringkali
sarat dengan filosofi yang bijak, dan gado-gado adalah salah satu contoh yang
nyata. Filosofi keberagaman yang sudah kita praktekan selama beratus-ratus
tahun.
Monday, May 15, 2017
Sunday, May 07, 2017
Wednesday, May 03, 2017
EKONOMI INDONESIA MELAMBAT ?
Saya jelas-jelas bukan seorang ahli ekonomi. Pemaham-an saya soal ekonomi
100% dari naluri dan panca indera sehari-hari melakukan bisnis. Istilah keren
jaman sekarang – “crowd wisdom”. Jadi kalau anda membaca artikel ini jangan memakai
kaca mata yang salah. Saya tidak membuat analisa yang bisa dipertanggung
jawabkan secara akademis.
Beberapa minggu yang lalu – saya menerima email dari seorang kerabat
bisnis. Ia bertanya singkat dan jelas. “Bagaimana ekonomi Indonesia ?” lalu ia juga
menanyakan prediksi saya. Seolah-olah saya konsultan ekonomi buat dia. Awalnya
saya tertawa terbahak-bahak. Karena ini jelas pertanyaan yang menjebak. Namun
bertahun-tahun mengenalnya, saya sangat paham bahwa ia sangat cerdas, penuh
pengetahuan, rajin bergaul dan pasti punya sumber yang banyak. Tetapi mengapa
ia bertanya kepada saya ? Lalu iseng saya balas emailnya singkat – “Tanya dong
sama Mbah Google”. Ia hanya memabalas dengan “hahahahahahahahahaha”.
Tak lama kemudian, saya terusik rasa penasaran saya. Pikir saya ini
saatnya meditasi ekonomi, menajamkan naluri dan memotret ekonomi di jalan.
Ketika berkunjung ke sebuah mall di Jakarta, saya sempat melihat sejumlah
pegawai sedang rehat makan siang. Beberapa diantaranya makan nasi bungkus,
mungkin dari warteg,tetapi ada beberapa makan dengan bawa bekal dari rumah.
Salah seorang dari mereka bertanya : “Koq elu rajin banget sih. Tiap hari bawa
bekal dari rumah ?”
Yang ditanya menjawab sambil tertawa : “ Bukan rajin tau ! Tapi ngak
sanggup makan warteg. Buat gue warteg tuh mewah !” . Entah kenapa tiba-tiba
dada saya terasa sesak. Rasanya ada ganjalan yang membuat saya ikut miris dan
bersedih.
Pulang dari mall, seorang teman mengirim pesan. Ia memberanikan diri untuk
meminjam uang. Alasan-nya hidup lagi super susah. Lalu kami “chat” lewat
telpon. Ia menuturkan bahwa gaji suaminya itu hanya Rp.3,7 juta dan sudah 4
tahun tidak berubah. Tidak pernah naik ! Malam harinya saya tanya sama Mbah
Google, dan di internet keluarlah sejumlah artikel ekonomi. Uniknya semua
artikel itu bervariasi, tapi kebanyakan bagus dan baik. Artinya ekonomi
Indonesia lumayan bagus-lah. Hanya ada 1-2 artikel yang menyuarakan lampu
kuning. Perasaan saya campur aduk.
Mana yang benar ?
Besoknya saya mengajak seorang bankir untuk makan siang. Perlahan-lahan
saya pancing dengan beberapa pertanyaan menjebak. Tetapi ia tidak mau menjawab
lugas. Dari sindiran-nya saya mencerna bahwa kata koran keadaan makro ekonomi
kita sebenarnya cukup bagus. Dan apa
kata koran dengan kenyataan di lapangan seringkali sangat berbeda. Ia mengeluh
secara halus bahwa target tahunan sangat sukar dicapai. Bagi sebuah bank dengan
status perusahaan publik mereka harus punya siasat bisnis yang berlapis-lapis.
Disatu pihak bisnis mereka perlu tumbuh nyata dan dilain pihak mereka juga
harus bisa memuaskan pemegang saham. Bila tidak harga saham mereka anjlok dan
situasi bisa runyam. Pusingnya bisa tujuh turunan. Begitu ia mengakhiri sesi
makan siang kami. Sebenarnya sebulan yang lalu sebuah majalah berita di
Indonesia menampilkan laporan utama tentang NPL atau kredit macet yang tumbuh
agak tinggi tahun 2017. Puncak kredit macet yang diumumkan pemerintah 3%
(gross) pada Juni 2016 ternyata naik menjadi 3,1% pada Januari 2017. Ini yang
ditakutkan semua orang. Trend kredit macet akan naik di 2017. Artinya yang
punya hutang pada kesulitan membayar.
Pulang dari makan siang, saya menelpon seorang teman yang profesinya
pengacara. Ia pernah mengatakan bahwa bilamana situasi ekonomi sedang baik,
bisnisnya diwarnai dengan maraknya para pengusaha membuat usaha
“joint-ventures” alias kongsi. Baik dengan partner didalam negeri dan atau
partner diluar negeri. Tetapi bilamana ekonomi sedang jelek, bisnisnya lebih
banyak dipenuhi dengan pengusaha yang pecah kongsi. Dan sudah dua tahun
terakhir ini bisnisnya memang lebih banyak permintaan bercerai alias pecah
kongsi.
Perasaan batin saya semakin tidak nyaman. Saya lalu teringat pidato Jokowi
beberapa hari yang lalu – yang meminta BUMN untuk melakukan sekuritisasi asset,
agar tersedia dana untuk membangun infrastruktur. Indonesia memang jelas
tertinggal pembangunan infrastrukturnya. Itu sebabnya pemerintah gencar
menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun pembangunan infrastruktur butuh
uang dalam jumlah sangat banyak. Sehingga pemerintah berusaha punya uang
sebanyak-banyaknya. Pendapatan pemerintah sangat terbatas sekali. Pertama dari
pajak dan kedua lewat hutang. Itu motivasi pemerintah belum lama ini menggelar
program Tax Amnesty. Tujuan-nya jelas yaitu berusaha untuk meningkatkan
penerimaan pajak secara maksimal. Sedangkan hutang Indonesia jelas semakin
membengkak. Tahun 1998 ketika Indonesia masuk era reformasi, warisan hutang
kita saat itu sekitar Rp. 1.300 trilyun. Sedangkan tahun 2017 atau hampir 20
tahun setelah reformasi hutang kita sudah membengkak menjadi Rp. 4.274 trilyun,
atau sudah meningkat lebih 300%.
Kalau saya disuruh mikir hutang sedemikian banyak, pasti ketombe dan uban
tumbuh drastis dikepala saya. Akhirnya saya melakukan 2 pengecekan terakhir.
Pertama saya melakukan interview dengan pelaku bisnis hiburan. Teorinya
sederhana, kalau duit gampang diperoleh, biasanya orang mudah bersenang-senang.
Teman saya yang bergerak didunia hiburan mengatakan bahwa sebenarnya setelah
pergantian pemerintahan dari SBY ke Jokowi – bisnis hiburan cukup lesu selama 4
tahun terakhir ini. Tahun 2016 cukup jelek, tetapi kwartal pertama 2017,
pendapatannya minus 30% dibanding tahun 2016. Menurutnya situasi ekonomi memang
cukup seret. Buat kebanyakan pelaku ekonomi – Indonesia sangat terpengaruh
dengan “uang panas”. Konon kabarnya banyak “uang panas” ini menguap dan atau
disembunyikan di bawah bantal.
Menurut Gaikindo – puncak penjualan mobil di Indonesia terjadi tahun 2013
sebanyak 1,23 juta unit. Tahun 2014 turun menjadi 1,20 juta dan tahun 2015
merosot hingga 1,01 juta. Tahun 2016 penjualan naik ke 1,06 juta dan masih
terpaut jauh angkanya dengan tahun 2013. Pertumbuhan ini kebanyakan juga
ditunjang oleh kenaikan penjualan di Indonesia wilayah Timur. Misalnya Papua
yang tumbuh 59,73% dan NTB yang penjualan-nya naik 94,45%. Pertumbuhan terbesar
lainnya juga datang dari mobil jenis LCGC alias Low Cost Green Car yang tumbuh
naik sebesar 38,3%. Artinya dugaan ekonomi melemah selama 4 tahun mulai terkuak
perlahan tabirnya.
Saya kemudian melakukan konfirmasi terakhir dan merupakan konfirmasi yang
terpenting, yaitu minta konfirmasi ke teman-teman di bisnis retail. Ternyata
dengan malu-malu mereka mengakui bahwa setelah Imlek, memang penjualan agak
seret. Menurut teman-teman, sejumlah kejadian menjelang pilkada Jakarta dengan
sejumlah demo yang marak, percaya atau tidak telah melemahkan ekonomi. Program
TAX Amnesty juga punya pengaruh psikologis yang membuat pelaku ekonomi berpikir
ulang tentang masa depan dan strategi bisnis yang harus mereka terapkan.
Yang menarik adalah Survey Bank Indonesia yang mengatakan bahwa selama
bulan Maret telah terjadi deflasi yang sangat kecil yaitu sekitar 0.02%. Konon
penyebabnya karena panen raya yang menyebabkan harga komoditi menjadi turun. Namun
bagi teman-teman dibisnis ritel, sebagian alasannya adalah permintaan konsumen
yang melemah sehingga kelebihan pasokan dan harga turun. Teman-teman dibisnis
makanan seperti – bakery, restoran dan café juga menyuarakan sentimen yang
mirip. Ekonomi Indonesia sebenarnya agak sensitif terhadap pola konsumsi
konsumen dalam negeri. Ibaratnya sterika kalau adem, maka baju yang kita gosok
akan tetap lecek. Sebuah analogi ekonomi yang sangat sederhana namun menurut
saya cukup bijak. Kebanyakan para pelaku ekonomi berharap 2 hal. Pertama
Lebaran dalam 2 bulan mendatang bisa menjadi “sentakan” yang bisa membuat
ekonomi laju kembali. Dan yang kedua mereka menunggu sentuhan ajaib pemerintah
untuk membuat ekonomi panas kembali. Bagi saya pelaku ekonomi jalanan – yang
terpenting adalah menyimak, bersiap, dan memutar otak untuk melakukan terobosan
baru !
Monday, May 01, 2017
Tuesday, April 18, 2017
MATI RASA
Betapa sering
kita menemukan kerabat atau sahabat yang hidupnya sangat sunyi menjelang
usianya yang senja. Teman saya seorang pemerhati masalah sosial budaya
menyebutnya sebagai “mereka yang tidak kita sayang”. Kebetulan belum lama ini
saya melayat seorang kerabat yang kebetulan wafat. Usianya menjelang 60 tahun,
pria, tidak menikah dan masih hidup menumpang dengan ibunya. Wajahnya tidak
terlalu ganteng, kebetulan sekolahnya tidak selesai, tidak memiliki karir yang
jelas, tidak pandai bergaul. Kerabat saya meninggal setelah terjatuh di kamar
mandi. Barangkali sebuah cerita yang kita dengar terlalu sering. Bahwa hampir
dalam tiap keluarga kita menemukan kasus yang serupa. Seseorang yang boleh
dikatakan nasibnya kurang beruntung dan seringkali menjadi kasta yang hampir
terbuang dan menjadi kelompok “mereka yang tidak kita sayang”. Terus terang
ketika melayat tempo hari saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Karena saya
bisa merasakan kesunyian hidup yang ia derita diakhir hidupnya. Ketika kuliah
saya juga pernah merasakan kebimbangan yang sama, apakah kita akan punya karir
yang sukses ? Menjadi orang yang populer ? Banyak teman dan disukai oleh orang
banyak ? Memiliki hidup yang tidak sunyi ?
Teman saya yang
pemerhati masalah sosial itu, pernah memperlihatkan kepada saya sebuah film
dokumenter tentang orang-orang gelandangan di Amerika yang tidak memiliki rumah
– tinggal dijalan dan menjalani hidup yang sangat sunyi. Teman saya menjelaskan
bahwa sebagai masyarakat moderen dengan interaksi kemanusian yang semakin
terjarangkan dan waktu kita semakin dijajah oleh tekhnologi, kemampuan kita
berkomunikasi yang tulus dan intim antara sesama manusia menjadi berkurang
intensitasnya. Dan cenderung menjadi basa basi. Percakapan yang cerdas antara
sesama manusia menjadi langka. Puisi menjadi spesies yang terancam punah. Musik
cenderung menjadi bunyi yang monoton. Kemampuan kita bicara hati ke hati dengan
jiwa kita menjadi encer dan tidak lagi menggugah. Kita kehilangan suara jiwa.
Lumpuh secara artifisial.
Lalu kekaguman
kita menjadi sangat semu. Kita hanya menoleh pada mobil mewah, bau parfum yang
menggoda dan gelak tawa sesaat. Maka kemampuan kita menyayangi kerabat,
keluarga dan sahabat menjadi sangat terbatas. Pertalian jiwa kita menjadi semu.
Itu sebabnya “mereka yang tidak kita sayang” menjadi kaum rata-rata yang
semakin banyak. Tanpa kita sadari sebenarnya kita menjelma rupa kesebuah
penampakan yang sangat berbeda di sosial media. Kita jadi rajin melatih diri
agar kita tampil berbeda di sosial media, agar kita menarik perhatian orang
lain, agar kita disukai. Percaya atau tidak kita sebenarnya adalah pelacur
sosial media. Kita mendambakan kasih sayang artifisial – dari sebuah “like” –
“follower” atau “comment”.
Mpu Peniti –
mentor saya, menyebutkan sebagai sebuah fenomena “Mati Rasa” yang sangat
serius. Panca indera kita secara fisik mungkin masih normal, tetapi panca
indera jiwa kita menjadi gersang, tandus, tumpul dan mati. Saya sendiri sangat
merasakan itu. Belum lama ini, ketika saya bertemu dengan seorang teman jaman
kuliah, dia mengatakan bahwa ia sangat merindukan percakapan panjang dimasa
kuliah. Pernah sekali sehabis sebuah pesta, kami bicara berjam-jam hingga subuh
hanya tentang puisi dan novel George Orwell – 1984. Kita berdua bicara tentang
ketakutan kita untuk masa depan yang belum jelas. Dan pembicaraan seperti itu
rasanya sangat langka dijaman ini. Akibatnya emosi jaman sekarang tidak lagi
kita nikmati dalam wujudnya yang jujur dan apa adanya, sehingga bisa kita
nikamti dan kita rasakan menjadi penyembuh luka jiwa. Emosi jaman sekarang
menjadi sebuah lambang di halaman sebuah sosial media. Semuanya serba semu
belaka.
Karena erosi
nilai yang semakin korosif ini, akhirnya jaman mendorong kita pada ketumpulan
“mati rasa” yang dikatakan oleh Mpu Peniti itu. Teman saya lebih lanjut
mengatakan bahwa salah satu akibatnya, kita sebagai masyarakat kehilangan arti
pada sebuah nilai-nilai dasar. Misalnya ia menuduh masyarakat kita tidak tahu
arti sesungguhnya tentang kebaikan. Saya tentu saja kaget dan terperangah. Bagaimana
mungkin ???
Karena menurut
Gallup Poll – orang Indonesia adalah bangsa yang paling dermawan nomer dua
didunia tahun 2016. Bukankah artinya orang Indonesia semuanya mengerti kebaikan
? Teman saya menyanggah dengan mengatakan bahwa orang Indonesia terlatih
berbuat baik seperti menyumbang. Artinya bila terjadi bencana alam, orang
Indonesia tidak pernah segan menyumbang dan dengan mudahnya menyumbang. Menurut
teman saya, orang Indonesia gagal mengerti mana yang baik dan benar. Teman saya
menggugat bahwa dalam index persepsi korupsi dunia – posisi Indonesia tahun
2016 adalah 90 mundur dari posisi 88 pada tahun 2015. Artinya orang Indonesia
tidak merasa berdosa – tidak merasa salah dengan melakukan korupsi. Secara
kasar teman saya menuduh kita gagal membedakan mana yang baik dan benar.
Walaupun kita sangat terlatih berbuat kebaikan. Kita boleh saja mudah berbuat
baik misalnya berderma, namun kita sesungguhnya “mati rasa” dalam arti kebaikan
yang sesungguhnya.
Barangkali
sangat sulit bagi kita untuk menerima pendapat teman saya itu secara gamblang
dan tuntas. Mungkin benang merahnya belum terlihat jelas dan masih tersamar.
Tetapi fenomena “mati rasa” rasanya sulit terbantahkan. Saya merasakan bahwa
ini merupakan sebuah tepukan di bahu yang memperingatkan kita tentang sebuah
bahaya didepan. Kita perlu waspada dan hati-hati. Ditengah erosi yang membuat
kita semakin tenggelam, sebagai manusia dan bangsa kita butuh tampil
kepermukaan menjadi lebih baik. Mengasah panca indera kita tentang nilai-nilai
kebaikan. Bukan hanya kepada sejumlah tindakan yang baik.
Dalam tradisi
masyarakat moderen dimana kita terlatih mengurangi dosa dan rasa bersalah
dengan beribadah dan mohon ampun. Berderma dan menyumbang kepada sesama.
Mungkin yang lebih penting adalah bukan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Tetapi
membiasakan diri menyemai kebaikan. Dan bukan melatih cara berhitung untuk
berbuat baik agar dosa dan kesalahan kita dikurangi. Kebaikan perlu kita hayati
dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Panca indera kita untuk
mewujudkan kebaikan dalam kehidupan kita sehari-hari perlu kita tumbuhkan.
Sebagai sebuah gaya hidup yang sehat.
#SEMAIKEBAIKAN
Subscribe to:
Posts (Atom)










