Monday, February 11, 2013

TAHUN ULAR 2013 YANG MENCEKAM !



Ketika tahun 2012, penanggalan Lunar Tiongkok masuk kedalam pengaruh Shio Naga, yang dianggap keramat. Banyak orang menandai-nya dengan sebuah pergolakan dan pembaharuan yang maha besar. Ditambah lagi berakhirnya kalender bangsa Indian Maya pada tanggal 21 Desember 2012. Semuanya menandakan sebuah gonjang ganjing yang sangat besar. Benarkah semuanya akan berakhir ? Ataukah justru ada sebuah awal baru yang sangat menjanjikan ?

Mentor saya Mpu Peniti, melihatnya secara gaib dengan pandangan yang lebih optimis. Yaitu awal baru yang penuh dengan harapan. Perubahan besar memang sedang terjadi seperti gema dan ombak yang saling bersahut-sahutan. Di Timur Tengah secara politik terus menerus rusuh dan dimana-mana terjadi revolusi dan pergantian pemimpin. Demikian juga secara mengejutkan di Tiongkok dan Amerika sendiri. Kekuatan politik bergeser. Krisis ekonomi di Eropa seperti api didalam sekam. Tidak padam. Tapi terus membara. Asia juga mengalami perubahan yang tidak sedikit. Demikian pula Indonesia. Skandal demi skandal tumbuh bermunculan tanpa henti. Apakah ini akan memuncak di tahun Ular 2013 ?

Pada tanggal 10 Pebruari 2013, kalender lunar Tiongkok, akan memasuki tahun yang baru, dibawah bayang-bayang zodiak Ular. Konon tanggal itu punya makna yang dahsyat luar biasa pengaruhnya terhadap umat manusia. Di India, misalnya, akan dilaksanakan upacara suci yang unik yaitu Maha Kumbh Mela. Menurut legenda, di awal penciptaan alam, para dewa sakit kena kutukan kekuatan jahat. Dewa Brahma lalu memerintahkan dewi Dhanwantari untuk mencari air abadi untuk mengobati para dewa. Ditengah perjalanan pulang, dewi Dhanwantari diserang kekuatan jahat, sehingga sebagian air abadi itu tumpah di 4 tempat yaitu, Allahabad, Hariwidar, Nasik dan Ujjain. Ketika itu pula alam bereaksi dengan pergesaran planet. Jupiter memasuki garis edar Taurus dan Matahari memasuki garis edar Capricorn. Yang berulang terjadi setiap 144 tahun sekali. Sejak saat itu, di Allahabad, setiap 12 tahun sekali, ada upacara khusus mandi bersama di sungai Gangga. Karena dipercaya air abadi ketika jatuh ke bumi sempat menetes di sungai Gangga.

Tahun ini, pergeseran planet yang terjadi setiap 144 tahun itu kembali terulang. Konon kabarnya tak kurang 70 juta orang dari seluruh dunia akan datang mengunjungi Maha Kumbh Mela termasuk berbagai selebriti dunia. Ular sendiri dalam berbagai kultur seringkali dipuja sebagai dewa. Namun dalam hal kepribadian ular dianggap mewakili tokoh yang cerdik tapi licik. Ingat cerita Adam dan Hawa ? Sehingga orang yang diberi julukan “berhati ular”, menjadi pertanda negatif. Tahun Ular, konon akan diwarnai dengan aneka kelicikan yang sama. Berhati-hatilah dengan penghianatan yang akan dilakukan oleh orang dekat anda.

Tapi ular juga memiliki serangkaian tanda positif. Misalnya sebagai lambang penyembuhan. Hati ular konon dipercaya memiliki kekuatan misterius untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Daging ular juga dipercaya memiliki khasiat khusus. Malah dalam berbagai kultur, kalau anda mimpi dikejar ular, konon itu juga pertanda baik. Ular juga dianggap mahluk yang sensual. Malah di Cina, kalau anda mimpi bertemu ular, artinya anda akan menemukan jodoh ideal. Cleopatra, memiliki banyak atribut dengan hiasan ular.

Tahun ular dipercaya juga hadir dengan sejumlah kekuatan negatif. Jepang menyerang Pearl Harbour di tahun ular 1941 dan memicu perang dunia ke 2. Bursa saham ambruk di tahun ular 1929 dan menyebabkan depresi ekonomi dunia. Peristiwa Tian An Men di Tiongkok dan serangan teroris 9-11 juga terjadi ditahun ular. Para ahli Feng Shui meramalkan tahun 2013 adalah tahun ular air yang pengaruhnya dipercaya lebih jinak. Konon kabarnya semester pertama ekonomi dunia akan lumayan baik. Pada semester kedua ketika sang ular menyapukan sisa badannya, maka ekornya akan menciptakan kekacauan dan benturan disana sini.

Dari segi ilmu angka atau numerlogi - Mpu Peniti memberikan sejumlah wacana. Tahun 2013, memang terlihat seram karena angka 13-nya. Tapi bila dijumlah menjadi enam, alias angka yang merupakan simbul dari perubahan. Angka enam mengisyaratkan harmonisasi yang seimbang. Perubahan yang anda lakukan di tahun 2013, apakah itu untuk bisnis, pribadi atau keluarga, haruslah perubahan-perubahan yang mengarah pada keseimbangan. Bila anda serakah, bisa saja angka 6 menjadi senjata makan tuan. Karena dalam Injil angka setan di lambangkan dengan 666.

Penanggalan 10-2-2013, saat Imlek - bila dijumlah menjadi 9 alias angka kesempurnaan. Atau angka 6 yang kita balik. Ini adalah angka spiritual yang sangat penting. Kata Mpu Peniti, rumusnya sederhana, barangsiapa yang bisa memanfaatkan enerji perubahan ini secara spiritual, maka tahun 2013 akan memberikan akhir pada anda yang serba sempurna.

Menurut NASA, tahun 2013 akan terjadi badai di Matahari yang dikenal dengan 'solar flare' dan kemungkinan akan merusak sebagian jalur komunikasi, mempengaruhi cuaca dan menciptakan gangguan pasang surut air laut. Pengaruh cuaca ini akan sangat besar dampaknya terhadap prilaku manusia. Kita harus lebih hati-hati dan lebih sabar dalam menghadapi setiap komunikasi diantara sesama. Secara positif karena ular merupakan simbol dari pengobatan dan kesehatan, biasanya di tahun ular dunia medis akan menemukan sejumlah terobosan baru. Obat baru biasanya juga ditemukan. Tetapi tahun 2013 juga akan menjadi tahun penuh hasutan, dan para politisi akan saling menjatuhkan.

Mpu Peniti meramalkan 2013 akan menjadi tahun kegaduhan politik yang sangat negatif bagi Indonesia. Fitnah, skandal, dan jebakan akan terus menerus bermunculan, dan sejumlah tokoh politik akan ambruk total di tahun 2013. Rakyat Indonesia akan kebingungan menentukan pemimpinnya yang baru ditahun 2014 nanti. Tetapi menurut Mpu Peniti, bila rakyat jeli memilih, justru akan tampil tokoh baru yang akan membawa Indonesia sejahtera setelah tahun 2020. Tahun 2013 bisa jadi tahun babat alas.

Agar sukses berbisnis di tahun ular, konon anda perlu mengadakan sejumlah persiapan. Pertama-tama, anda perlu lebih waspada, jangan mudah tergoda, dan hati-hati dengan penghianatan. Kedua anda butuh strategi khusus dalam menghadapi kecerdikan ular. Bila kita menilik 36 strategi kuno Cina, maka dalam strategi ke 13, ada strategi unik yaitu “ Memporak porandakan rumput, untuk mengejutkan sang ular”. Strategi ini merupakan taktik pertama dalam situasi menyerang. Pada tahun 1956, dalam perang melawan Mesir, pasukan Inggris dan Perancis, menerjunkan boneka-boneka berparasut di kota pelabuhan Said. Dalam kegelapan malam, mereka tidak bisa membedakan boneka itu dengan prajurit sungguhan. Akibatnya pasukan Mesir mulai menembaki boneka tersebut dengan gencar. Saat itu, Inggris dan Perancis mulai melihat posisi artileri Mesir yang sesungguhnya, tiba-tiba melakukan serangan ke dua, ketitik-titik artileri itu dan langsung merebut kemenangan.

Strategi ini berfokus pada kecerdikan otak daripada otot. Langkah pertama adalah menghimpun kekuatan  informasi sebelum menyerang. Langkah kedua, bilamana perlu memberi umpan yang mengejutkan. Dan barulah penyerangan dilakukan secara maksimal ketitik terlemah lawan. Uniknya strategi yang dirumuskan ribuan tahun yang lalu, ternyata kembali jitu dan pas untuk diterapkan dijaman super informasi saat ini.

Didalam pemasaran jurus memporak porandakan rumput, sering dilakukan lewat uji coba produk dan riset pemasaran. Kejadian yang sering terjadi adalah kompetitor kita mendapat bocoran aktivitas kita, lalu kaget dan panik. Pada saat melakukan reaksi, seringkali reaksinya berlebihan sehingga justru memperlihatkan kelemahan mereka sendiri, sehingga membuka lubang untuk kita menyerang.

Harus diwaspadai untuk strategi ini, kita memang siap dengan rencana penyerangan yang masak. Bila tidak strategi ini akan menjadi bumerang. Anda tentu ingat dengan istilah “membangunkan macan tidur”. Jangan sampai anda mengacau dan memporak porandakan rumput, tapi yang muncul bukan ular tapi justru macan bangun tidur. Berbahaya sekali.

Di tahun ular ini, strategi pemasaran kita jelas bertumpu pada informasi dan adu cerdik. Kalau perlu malah adu licik. Sebaliknya, tahun ular juga akan diwarnai dengan aneka jebakan dari kompetitor. Berhati-hatilah ! Jangan sampai sembrono melakukan langkah. Sun Tzu mengatakan, “ Bila anda ingin menyerang, seranglah titik yang tidak dipertahankan musuh. Bila anda ingin bertahan, pertahankanlah titik yang tidak diserang musuh.” Cerdik dan lincah adalah kata kunci untuk tahun ular ini. Gong Xi Fa Cai !


Thursday, January 24, 2013

Pilih mana ? Mau jadi boss atau komendan ?




Anda pasti bosan mendengarnya ! Bahwa kita masih terbelengu dengan warisan feodal. Tapi teman saya yang kebetulan mengamati perilaku memberi salam, punya pengamatan yang sangat menarik. Katanya secara turun menurun kita mewarisi perasaan tidak percaya diri. Disatu sudut kita punya kebutuhan emosi untuk disanjung. Tetapi kita juga punya kebutuhan untuk merendahkan diri. Secara humor, teman saya ini bercerita, kalau kita terkadang "maksain diri", kadang "ngak tau diri". Tapi tidak pernah utuh percaya diri. Itu analisa dia.

Kalau "ngak tau diri" - fenomena ini rada umum, menurut teman saya. Tapi "maksain diri" menjadi tekanan masyarakat yang semakin keras, yang memaksa kita menguras kartu kredit dan berhutang, demi untuk punya status. Yang lebih parah lagi ada fenomena untuk "maksain diri" punya istri banyak. Teman saya membuktikan-nya dengan mengajak saya makan siang dengan seorang pegawai negeri. Sang pegawai negeri ini umurnya diawal 40'an. Ketika ia datang, ia membawa wanita muda. Cantik dan sintal. Mereka tampak mesra. Dan ketika makan, tak lupa saling suap-suapan. Usai makan dan pegawai negeri ini mohon diri, saya dan teman saya lanjut untuk mengobrol ditemani kopi.

Ceritanya sang pegawai negeri ini, sudah punya satu istri dengan 2 anak. Lalu punya lagi istri simpanan dengan satu anak. Dan dengan wanita muda tadi, ia sedang pacaran. Konon dalam taraf membelikan rumah dan mobil. Pertanyaan-nya mengapa ia memaksa-kan diri untuk punya 3 istri. Apakah memang ia punya nafsu gede, tapi takut dosa ? Ataukah karena alasan lain ? Teman saya yang sudah ngobrol panjang lebar dengan sang pegawai negeri, menyimpulkan bahwa sang pegawai negeri punya istri 3, semata untuk status. Pertama biar dia dikenal dilingkungan-nya sebagai pria perkasa. Pejantan bereputasi. Begitu istilah teman saya. Kedua percaya atau tidak sebagai faktor motivasi membuat ia lebih percaya diri menghadapi staff wanita di kantor. Pilar pemimpin yang kokoh. Kilah sang pegawai negeri. Dan yang ketiga sebagai status kemapanan. Terus terang ini juga warisan feodal jaman dulu. Bahwa raja hingga jagoan, selalu punya istri dan selir yang sangat banyak dijaman dulu.

Saya merasa semua alasan itu diluar logika. Tidak masuk akal. Tapi itulah fenomena "maksain diri". Yang super parah sang pegawai negeri menjadi mata duitan. Lapar bukan main untuk korupsi. Kemana-mana ngobyek dan cari mangsa. Hal ini terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan 3 keluarga itu. Saya jadi merinding mendengarnya. Fenomena "maksain diri" bisa jadi penyakit ganas di masyarakat kita.

Nah, teman saya melanjutkan dengan cerita menarik lain-nya. Menurut teman saya, sebagai bangsa kita sangat sopan. Kita selalu menyebut seseorang dengan "Bapak" dan "Ibu". Dan terkadang ditambahkan "yang terhormat" bapak anu dan ibu anu. Tidak pernah kita menyebut dengan nama langsung. Terasa tidak nyaman dan tidak sopan. Untuk orang yang lebih tua, tidak jarang kita meminjam istilah feodal warisan Belanda. Seperti Om dan Tante, atau juga Opa dan Oma.

Ketika kecil dulu, beberapa pembantu Ibu saya, yang masih bersikap feodal, memanggil saya dengan sebutan "babah" atau "sinyo". Saya selalu risih dengan sebutan Ibu. Teman saya menuturkan bahwa  dijaman Hindia Belanda dahulu, menyalami orang dengan tingkat status lebih tinggi juga sudah ada tradisinya. Untuk orang Belanda kita memanggilnya dengan Meneer. Dan khusus orang Tionghoa, tidak jarang mereka diberi sebutan "tauke". Setelah jaman kemerdekaan, dan terutama di tahun 70'an, yang lebih populer adalah panggilan "boss". Barangkali film-film gangster seperti "Godfather" dan film Bruce Lee "The Big Boss", ikut mengukuhkan posisi sebutan "boss" ini cukup lama. Dijaman ini, kita secara gamblang mempopulerkan sebutan "boss", baik secara negatif maupun secara positif. Menjadi "boss" barangkali juga menjadi idaman banyak orang. Pokoknya "boss" adalah status yang membanggakan.

Setelah reformasi tahun 1998, menurut teman saya terjadi perkembangan status yang lebih unik. Kita masih malu-malu untuk mempopulerkan kesederajatan dan persamaan. Maka muncul istilah "broer" dan "bro". Yang bertujuan untuk mengakrabkan antara kita dengan teman atau kolega yang lain. Kita mencoba menghilangkan semua jurang pemisah dan kecanggungan bergaul dengan menjadikan teman, sahabat dan kolega kita sebagai saudara, atau muculnya semangat persaudaraan.

Yang menarik, anak-anak muda, mengubah sebutan "boss" menjadi ucapan yang lebih ngetrend, ramah dan bersahabat. Maka muncul-lah sebutan "Juragan" yang kemudian disingkat menjadi "gan". Sebutan ini cukup populer diinternet dan dikalangan anak muda. Jadi menurut teman saya, sikap tidak percaya diri kita mengalami evolusi yang sangat unik. Bahwa kita tetap saja, ingin merendah, dan apakah kita haus idola pimpinan nasional yang bisa menjadi panutan. Perkembangan terakhir, adalah sebutan "komandan" terhadap pimpinan atau orang yang kita hormati.

Suatu hari di sebuah lounge di airport Surabaya, seorang pria yang sedang menelpon, berulang kali menjawab "Siap - komandan". Disaat itulah saya jadi tertawa dan ingat semua penuturan teman saya ini. Teman saya menyimpulkan, bahwa bahasa tubuh kita, sepertinya rindu dengan seorang pemimpin besar yang bisa mengayomi dan memberikan perintah yang pas. Bagi calon presiden 2014, fenomena ini bisa jadi kajian super unik. Bukan mustahil, istilah "komandan" adalah kerinduan publik terhadap pemimpin dengan latar belakan militer. Atau ketidak puasan kita terhadap pemimpin sipil yang dianggap tidak tegas, korup, dan tidak bisa membuat perubahan berati setelah reformasi berumur 15 tahun ?

Apapun juga kesimpulan-nya, sebagai bangsa, rasanya kita harus punya revolusi sikap. Ini penting banget ! Yaitu sebagai bangsa, kita perlu optimis dan percaya diri. Punya keinginan untuk tampil memimpin. Jangan terus menerus ingin menjadi bawahan dan dipimpin. Barangkali dalam kesempatan yang sama - revolusi sikap ini juga menjadi obor yang menyalakan semangat kita untuk berpelilaku baru. Menghapus semua stigma tentang sikap yang selalu "ngak tau diri". Dan sikap yang "maksain diri". Cukup menggantinya dengan sikap percaya diri. Membentuk kesatuan bahwa kita percaya diri dan bangga dengan diri kita dan Indonesia.

Sunday, December 23, 2012

AYAM PENYET DI SINGAPORE AIRLINES



Ayam goreng barangkali makanan yang paling sederhana. Namun sangat populer diseluruh penjuru dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Tiongkok hingga Indonesia. Seorang pengusaha resto ayam goreng, pernah membisik-kan cerita kepada saya, bahwa ia hampir tidak pernah mendengar ada orang yang tidak suka ayam goreng. Hanya saja, resep sukses ayam goreng tidak mudah-mudah amat. Rahasianya sederhana, garing diluar tetapi didalam tetap empuk dan gurih. Bahasa keren-nya : "Crispy on the outside .... But juicy on the inside". Ini yang tidak mudah. Dua hal yang terdengar bertolak belakang. Tetapi menjadi satu produk dengan pengalaman memakan yang sangat unik. Hampir semua resep ayam goreng, terdiri dari bumbu rendam untuk membuat rasa ayam gurih. Lalu biasanya ayam di masak tergantung resep masing-masing, entah itu 1/2 matang atau 2/3 matang, kemudian digoreng dengan minyak panas dalam waktu kilat. Sehingga garing diluar namun tetap empuk dan gurih didalam.

Ayam penyet, konon kabarnya adalah salah satu resep khas ayam goreng dari Jawa Timur. Menurut dongeng, disajikan sederhana dengan tempe goreng, tahun goreng dan lalapan. Sambalnya sangat khas. Pedas dan gurih. Dinamakan penyet, karena setelah digoreng konon digebuk dengan pisau besar sehingga gepeng atau penyet.

Belum lama ini, saat terbang dengan Singapore Airlines, saya sempat tersenyum, ketika ditawari makan siang dengan ayam penyet. Karena penasaran, akhirnya saya memilih ayam penyet. Saya tahu pasti tidak akan persis seperti ayam penyet ala Indonesia asli. Namun saya sangat kagum dengan Singapore Airlines. Nasinya kebetulan adalah nasi ayam ala Hainan. Wangi dan gurih dengan sentuhan bawang putih dan sentuhan jahe. Lalapan, dan tahu beserta sambelnya lengkap. Ayamnya tidak digoreng garing. Karena sangat tidak mungkin dipanaskan dengan sistim pemanas diatas dapur pesawat. Ayamnya cukup gurih. Pengalaman ini sangat luar biasa. Walapun rasanya sangat berbeda, saya memberi Singapore Airlines nilai 10 karena berani mengangkat ayam penyet kedalam menu makan siangnya.

Menurut teman saya, seorang "chef" profesional, ayam penyet memang sedang naik daun. Dan menjadi aikon kuliner Indonesia setidaknya di Singapura dan Malaysia. Ceritanya juga sangat romantis sekali. Ayam penyet jelas bukan makanan tingkat atas atau "fine dining" di Indonesia. Tapi menurut cerita, lebih dari 10 tahun yang lalu, seorang pengusaha membuka warung ayam penyet di Lucky Plaza. Karena ia melihat banyaknya TKI kita di Singapura yang selalu libur seminggu sekali dan saat mereka libur, mereka selalu kumpul dan saling bertukar cerita. Dan TKI ini juga selalu rindu makanan asli Indonesia. Maka ayam penyet menjadi salah satu hiburan dan saluran pelepas rindu terhadap rumah dan kampung halaman.

Konon kabarnya itulah cerita awalnya. Karena laris, akhirnya menyebar kemana-mana. Sekarang di Singapura, dapat kita temukan ayam penyet dimana-mana. Dari Singapura, trend kuliner ini menyebar ke Malaysia dan Hongkong. Sehingga akhirnya menjadi aikon, dan dipilih Singapore Airlines sebagai salah satu menu makan siangnya. Fenomena TKI sebagai medium 'viral marketing', sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Sebuah majalah di Surabaya menggunakan TKI sebagai alat 'viral marketing' dan berhasil menjual majalah dalam jumlah cukup besar, di Singapuram, Malaysia, Hongkong, dan Taiwan.

Sayangnya, ketika Menteri Pariwisata mengumumkan 30 makanan kuliner Indonesia yang dijadikan aikon, ayam penyet karena kesederhana-an-nya, tidak masuk daftar. Padahal saya sangat berharap ayam penyet masuk. Kata Mpu Peniti, mentor spiritual saya, "seseorang yang tahu, belum tentu mengerti, dan seseorang yang mengerti belum tentu sadar".

Untuk mempromosikan Indonesia, barangkali ada baiknya, pemerintah melakukan sensus dan survey terhadap TKI di seluruh Asia. Siapa tahu saja lewat prilaku dan budaya kuliner mereka, kita bisa mempromosikan 'viral marketing' tentang Indonesia secara efektif dan murah.

Monday, November 12, 2012

"TUHAN ITU ADA ..... Bung !"






Seattle - 26 Oktober 2012 - jam 2 pagi. Sebuah SMS masuk, ".... hahahahahaha ..... Emang bener .... Tuhan itu ada, bung !". Saya hanya melihat sekilas. Tersenyum lalu berusaha untuk kembali tidur. Jetlag yang menyertai saya, masih lekat disemua syaraf saya, dan belum juga reda sama sekali. Tidur saya selalu tersiksa dalam beberapa hari ini. Tidak pernah pulas. Bagaikan lampu hias yang terus berkedip.

Esok harinya, ketika menyeruput cappuccino ditemani roti bakar, saya teringat SMS tadi subuh. Sebelum berangkat ke Amerika, teman karib saya, minta ketemu. Kami bertemu, ngobrol basa basi, lalu tiba-tiba saja ia menangis tersedu. Bukan cuma sebentar. Tapi 20 menit lebih. Ia juga tidak mau bercerita apa susah dan deritanya. Ia hanya menangis. Saya juga tidak mau usil dan bertanya. Usai menangis kami sempat ngobrol ngalor ngidul sampai hampir 2 jam. Ketika mau berpisah, kata saya, " Hampir semua teman-teman kita, hanya mengenal kau sebagai sosok yang selalu berbuat kebaikan. Selalu menolong teman. Percaya-lah Tuhan itu ada !" Begitu saya menghibur dia. Teman saya hanya mengangguk pelan. Lalu kami berpisah. Hingga selang seminggu kemudian SMS itu masuk ketika saya di Seattle. Sayapun lega. Harapan saya, apapun masalahnya, ia menemukan solusi yang terbaik.

Dalai Lama sendiri pernah mengatakan dengan sangat sederhana : " My religion is very simple. My religion is kindness." Pernah sekali waktu, satu hari mentor saya, Mpu Peniti, bertanya kepada saya "Andaikata kamu disuruh memilih. Kamu mau jadi orang baik ? Atau orang jahat ?" - Saya tertawa, dan langsung berkata enteng: "Yah, jadi orang baik dong !" - Mpu Peniti mengernyitkan dahinya, "Serius ?".

Saya langsung terdiam. Seolah ada sesuatu yang mengganjal kerongkongan saya. Dada saya terasa sesak. Karena saya tidak berani mengaku "orang yang baik". Saya hanya berusaha menjadi orang baik. Dan saya alami betul, menjadi orang baik sangat susah. Hidup tanpa dendam, tanpa iri, tanpa kelicikan, tanpa kebohongan, dan terus menerus baik - sangatlah susah. Barangkali hampir tidak mungkin ! Lalu Mpu Peniti, bercerita tentang seorang murid, yang baru saja kalah berkelahi, karena dikeroyok orang banyak. Sang murid bertanya kepada sang guru, minta nasehat. Apa yang harus ia lakukan ? Sang guru memejamkan matanya, menarik nafas. Lalu berkata perlahan, "Kau harus punya keberanian untuk memaafkan mereka." Sang murid bingung. Lalu protes. Ia berkata, bahwa ia telah luka, cedera, dan juga dipermalukan. Sang guru berkata, "Luka bisa sembuh. Harga diri bisa pulih. Tapi dendam tidak akan pernah habis. Dendam akan terus tumbuh." Sang murid menangis tidak bisa menerima nasehat gurunya. Akhirnya, sang guru menuntun muridnya menaiki sebuah bukit. Dipuncak bukit, sang guru mengajak sang murid diam sejenak dan melakukan meditasi. Lalu berceritalah sang guru. "Wahai murid-ku lihatlah. Puncak bukit selalu lebih runcing dan terjal. Karena runcing dan terjal maka puncak bukit tidak pernah bisa menampung air hujan. Akibatnya di puncak bukit tidak banyak kita temui pepohonan. Karena semua kesuburan-nya selalu dikikis air hujan dan dibawah ke lembah. Dan lihatlah lembah dibawah kita, sangat subur, penuh dengan tanaman. Karena semua air hujan turun kelembah bersama semua kesuburan-nya."

Sang guru menarik nafas panjang. Lalu melanjutkan, "Semua kebaikan apabila disatukan maka akan menjadi sebuah kebaikan besar yang menciptakan sebuah kesejahteraan yang besar. Namun kalau saja kita mengumpulkan semua yang tidak baik menjadi satu, maka yang akan timbul adalah keserakahan, dendam, iri, cemburu, permusuhan, dan perperangan diantara sesama. Tidak ada kesatuan. Maka semuanya meruncing, menjadi terjal, tajam, dan kering sendiri" Saat itulah Mpu Peniti, menasehati saya agar berbuat kebajikan dan kebaikan sebanyak mungkin. Menurut beliau dalam hidup ini, lebih baik menjadi lembah yang subur. Dari pada puncak gunung yang gersang.


Setahun setelah kuliah kebajikan yang saya terima dari Mpu Peniti, saya bertemu seorang Romo di Hongkong. Saat itu saya sedang makan siang sendiri. Rupanya Romo penggemar tulisan saya dibeberapa kolom majalah. Lalu kami ngobrol di sebuah kedai kopi. Sang Romo menemani seorang pengusaha yang sedang melakukan cangkok hati di China. Sang pengusaha ketakutan sekali akan penyakitnya. Dan minta ditemani. Obrolan saya dan Romo berkembang serius setelah kami menghabiskan secangkir kopi, dan beringsut ke cangkir berikutnya. Romo juga bercerita soal kebaikan dan kebajikan. Saya ingat betul beliau mengutip sebuah ayat di Alkitab, Matius - 5:39 yang berbunyi, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu". Saya sempat tersenyum ketika mendengar ayat kontroversial itu. Karena ketika saya sekolah dulu, ayat itu sering diutarakan dalam berbagai misa dan kebaktian, namun seringkali ayat itu lebih diagungkan sebagai sikap dan kepribadian Kristus yang luar biasa. Yang sangat bijak dan welas asih.

Lain dengan cerita Romo sore itu kepada saya. Beliau menasehati saya, bahwa yang diajarkan Kristus sangat sederhana. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Rumusnya cuma satu. Apapun juga harus dibalas dengan kebaikan. Hanya kebaikan yang patut kita lakukan. Bayangkan saja kalau dunia ini lebih banyak orang berbuat baik. Maka kita tidak perlu polisi. Kita tidak perlu penjara. Kita tidak perlu senjata. Tidak akan ada korupsi. Tidak akan ada kejahatan. Anda mungkin tertawa ! Dan berkata - "mana mungkin sih". Karena terus terang kita semua selalu ragu pada kebaikan. Tidak pernah percaya pada kebaikan. Pemimpin dunia saja masih meragukan pada kebaikan setiap saat. Mereka lebih percaya kepada senjata dan tentara. Andaikata pemimpin dunia percaya kepada kebaikan, dan menghapus semua bujet militer. Dunia ini akan sejahtera. Aman dan makmur. Seperti lagu John Lennon, "berikanlah kesempatan pada perdamaian".

Lalu apakah sejak peristiwa itu saya otomatis jadi orang baik ? Tentu saja tidak. Tapi cerita Romo memotivasi saya untuk lebih banyak berbuat kebaikan. Perlahan-lahan saya rasakan akibatnya. Pertama saya lebih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Saya lebih mudah memilih kebaikan. Kedua, lingkungan saya terasa penuh dengan enerji kebaikan yang positif. Orang disekeliling saya perlahan-lahan lebih banyak berbuat kebaikan. Dan ketiga yang saya rasakan kebaikan selalu mendatangkan lebih banyak kebahagian.

Hal luar biasa yang kini saya rasakan, adalah kebaikan yang telah saya perbuat, seperti benih yang saya tanamkan. Entah sudah berapa kali saya alami, seolah benih yang saya tanamkan akhirnya berbuah. Entah berapa kali, saya mengalami kesulitan, selalu saja saya menemukan solusi dan jalan keluarnya. Hidup ini seperti ada yang menuntun. Apakah itu Tuhan atau bukan ? Yang terpenting, saya merasakan kehadiran itu. Hingga saya berani mengatakan kepada siapa saja, "Tuhan itu ada bung !"

Saya percaya bahwa dunia ini hanya akan bisa berubah dengan kita bersama-sama berbuat kebaikan. Bukan bersama-sama berbuat kejahatan. Rumus ini lebih masuk akal rasanya.

Sunday, July 08, 2012

JAKARTA BUTUH GUBERNUR DARI PLANET MARS



Beringsut malam merangkak perlahan menuju tengah malam. Kuhirup udara Jakarta. Terasa penuh jelaga. Beberapa perempuan dengan pakaian sangat seronok turun dari taxi. Dua diantaranya tersenyum dengan genitnya. Goda-an yang penuh dengan arti. Saya cuma tersenyum kecil. Menikmati godaan tersebut. Seorang penjaga pintu didepan loby hotel menegur saya :”Perlu taxi boss ?”. Saya mengangguk perlahan. Ketika mau masuk kedalam taxi, sang penjaga pintu hotel bertanya :”Kemana mobilnya boss ?”. Saya tidak menjawab hanya menyelipkan tip ditangannya. Ia tertawa kecil dan mengucapkan selamat malam.

Saya merebahkan tubuh yang penat ini didalam taxi. Terasa seperti sebagian beban melayang sirna. Supir taxi menggoda saya, berkata lirih : “Koq, sudah pulang boss. Ngak jadi ikut kedalam ?”. Pasti sang supir taxi ikut menjadi saksi dan melihat soal insiden perempuan berbaju seronok yang menggoda saya didepan loby hotel. Saya tertawa saja dan menjawab singkat :”Wah, sudah ngak ada tenaga mas”. Sang supir taxi ikut tertawa dan membalas : “Kan harus –‘Enjoy Jakarta’- kata bapak gubernur”. Saya membalas tertawa. Serba salah memang. Slogan “Enjoy Jakarta” seringkali diejek oleh teman-teman. Buat mereka apa sih yang mau dinikmati soal Jakarta. Masa sih yang dinikmati, polusinya, macetnya, dan banjirnya ? Dan kalau dibilang mau dinikmati soal kehidupan malamnya ? Jakarta juga masih kalah jauh dengan metropolis kayak Hongkong, Tokyo, Seoul dan ataupun dibanding Kuala Lumpur atau Singapura. Bilamana dipaksakan slogan itu, seolah kita menjual kemaksiatan kehidupan malam Jakarta. Benarkah itulah merek Jakarta yang sesungguhnya ? Sampai-sampai kalau kami bercanda diantara teman, dan ada beberapa yang pulang pagi sehabis berpesta ria, mereka selalu menjawab dengan klise , “kan harus ‘Enjoy Jakarta’ …..”

Dibundaran Hotel Indonesia, beberapa anak jalanan masih berusaha mengemis. Salah satu diantaranya mengendong bayi yang sedang tidur terlelap. Sang supir taxi berkata lirih : “…. Saya koq suka mikir, itu anak bayi selalu tidur enak digendong sembari diajak mengemis, ngak siang, ngak malam, pasti dikasih obat apa gitu ? Anak saya dirumah koq ngak bisa anteng kayak gitu ???” Lalu sang supir taxi melanjutkan pertanyaan-nya kenapa tidak ada petugas yang menangkapi mereka dan memeriksa sang bayi. Karena pasti kalau sang bayi dikasih obat tidur setiap hari, lama-lama kesehatannya akan terganggu. Tiba-tiba saja hati saya gusar dengan pertanyaan seperti itu. Karena rasa kuatir-nya memang masuk akal.

Iseng-iseng saya bertanya, nanti pas pemilihan ia mau coblos calon gubernur yang mana. Sang supir taxi tidak langsung menjawab. Ia menghela nafas panjang. Lalu bercerita kisah hidupnya, kakek dan neneknya orang Betawi asli. Asal Kemayoran. Ayah dan Ibunya juga orang Betawi asli. Ia dan istrinya juga orang Betawi asli, namun sekarang tinggal di Tanggerang. Semata-mata tidak lagi sanggup punya rumah di Betawi, karena sudah terlalu mahal. Dan ia tak sanggup bersaing dengan pendatang dari luar Betawi. Tiba-tiba saja saya merasakan kesedihan yang mendalam dalam nada bicara sang supir taxi. Ia merasa menjadi orang Betawi yang terpinggirkan. Lanjut sang supir taxi : “Saya binggung boss, ada bekas gubernur, ada bekas walikota, ada bekas bupati, ada bekas jendral, ada bekas ketua partai, dan ada juga ahli ekonomi, semuanya pengen jadi gubernur Jakarta. Apa ngak mabok nantinya ngurus Jakarta ? Emang enak jadi gubernur Jakarta ? Apa sih niat mereka ?”. Kini giliran saya yang tertawa. Karena ucapan sang supir taxi terasa meninju semua syaraf saya. Dan rasa penat yang saya rasakan tiba-tiba sirna. Rasa kantuk saya terusik.

Sepanjang sisa perjalanan pulang, kami melewati Sudirman. Dan kami ngobrol lepas tentang berbagai topik soal Jakarta. Mulai dari macet, banjir, sampah, hingga kemiskinan. Tiba-tiba saja saya melihat sang supir taxi penuh dengan “street wisdom”. Sepuluh tahun menjadi supir taxi dan setiap hari keliling Jakarta, pasti banyak yang dilihat. Pasti banyak pula yang dicerna. Barangkali sang supir taxi mirip filsuf jalanan soal Jakarta. Barangkali juga ia patut dianggkat menjadi staf ahli gubernur mendatang. Saat menjelang tiba dirumah saya, iseng-iseng saya tanya ia mau coblos calon gubernur yang mana ? Ia tertawa tergelak. Seolah mengejek saya. Katanya ia tidak bisa memilih sejak punya KTP Tanggerang. Ia kan warga Jakarta yang terpinggirkan. Saya jadi iba mendengarnya. Namun sembari tertawa ia mengatakan bahwa kalaupun ia boleh mencoblos, ia akan pilih gubernur dari planet. Dan sayangnya memang kali ini, tidak ada calon gubernur dari planet. Sayangnya sebelum saya sempat bertanya, ia sudah melanjutkan perjalanannya. Hilang ditelan kegelapan malam.

Orang kecil seperti sang supir taxi, punya suara yang jauh lebih jujur. Ia tidak punya agenda. Ia polos orang kecil yang menjalani hidup sehari-hari di Jakarta. Apapun situasinya. Tidak peduli panas, hujan dan ataupun banjir. Kejujurannya bukanlah keajaiban. Melainkan seringkali hanya itu yang mereka punya. Mereka juga bukan luar biasa berani, ketika jujur. Tetapi kejujuran tersebut hanya satu-satunya tempat pegangan mereka. Percuma bagi mereka punya sekian keinginan seperti janji dan slogan kampanye. Karena sekolah gratis dan pengobatan gratis toh tidak akan dinikmati keluarga supir taxi tersebut. Ia orang Betawi yang dipinggirkan, dan ia tidak bakal bisa menikmati semuanya apa yang dijanjikan calon gubernur. Karena realitanya ia adalah penduduk Tanggerang.

Jadi sah-sah saja, kalau sang supir taxi bertanya-tanya, koq ada orang repot-repot mau jadi gubernur Jakarta. Apa motifnya ? Apa alasan-nya ? Adakah calon gubernur Jakarta yang mau sejujur-jujurnya mengatakan apa alasan beliau ingin menjadi gubernur Jakarta ?  Yang kita dengar cuma janji, bahwa kalau mereka terpilih mereka akan ini dan itu. Tidak ada satupun yang berani jujur dan menatap mata kita dan berkata, mengapa mereka mau jadi gubernur Jakarta ? Seorang pensiunan polisi mengatakan pada saya, jaman dulu menjadi gubernur Jakarta, karena diberi mandat penugasan. Maka tugas itu harus diamankan dan diamalkan secara bertanggung jawab. Jaman sekarang beda, calon gubernur justru mengajukan diri dan minta dipilih. Jadi alas an kenapa mereka mau jadi gubernur Jakarta sangat penting.

Guru dan mentor saya, Mpu Peniti pernah berkata, bahwa banyak manusia tidak sama dengan kemanusian yang banyak. Banyak manusianya tapi nol kemanusian-nya, maka kita kehilangan nilai dan arti. Barangkali saatnya kita bertanya dimana kemanusian kita ?  Barangkali ada baiknya seorang calon gubernur menjelaskan dengan jujur, kepada kita alas an sesungguhnya dia mau jadi gubernur. Bilamana tidak ada yang berani, saya akan berpihak kepada supir taxi. Dan memilih calon gubernur dari Planet Mars.

Sang supir taxi berkisah, bahwa kalau ia ngotot mau tinggal di Jakarta, ia akan punya rumah petak ditengah kampung yang kumuh. Selalu kebanjiran. Dan disekelilingnya lebih banyak pengangguran dari pada yang kerja. Serta tetangga yang terlibat narkoba dan berbagai keributan. Ia merasa itu bukan tempat yang manusiawi buat keluarganya. Maka ia mengorbankan semua statusnya sebagai orang Betawi agar keluarganya punya tempat tinggal yang lebih manusiawi. Ia rela telanjang menanggalkan semua atributnya sebagai orang Betawi dan kehilangan haknya atas Jakarta yang ia cintai.

Barangkali kita perlu membersihkan kaca-mata kita. Melihat Jakarta lebih manusiawi. Dan membereskan masalah yang ada didepan kita. Yang terlihat begitu nyata. Soal anak jalanan. Jalan yang berlubang. Kesempatan berdagang. Dan kali yang penuh dengan sampah. Daripada kita janji yang muluk-muluk. Membuat Jakarta lebih manusiawi untuk kita tempati sebagai rumah.

Jadi, bapak calon gubernur ? Apa alasan anda ingin jadi Gubernur Jakarta ?