Monday, September 24, 2007

SURAT DARI SAN FRANCISCO

Ketika saya kuliah di Sydney, dekat kampus kami di Broadway ada sebuah café kecil, milik seorang imigran Itali. Namanyapun saya sudah lupa. Tapi saya ingat teman saya yang berasal dari Itali, Luigi yang membawa saya pertama kali kesana. Saat itu memesan kopi sangat mudah, paling-paling cuma ditanya, mau “regular black”, “cappuccino”, atau “espresso”. Kopinya juga uma dua macam, decaf atau yang biasa. Seingat saya, itulah permulaan-nya saya keranjingan kopi. Lebih dari 10 tahun kemudian, di Seattle saya mengunjungi toko pertama Starbucks di Pike’s Market. Buat saya itulah pengalaman yang benar-benar memberikan pencerahan tersendiri. Saya terpengarah ketika diminta memesan kopi dari sebuah menu didinding yang cukup panjang. Barulah saya tersadar bahwa memesan kopi tidak lagi mudah. Anda harus tahu betul dan mahir memilih kopi yang anda ingin minum. Salah memilih, tanggung sendiri akibatnya. Ketika saya akhirnya memilih kopi yang saya inginkan, pelayan di Starbucks bertanya soal ukuran. “kecil, sedang atau besar ?” begitu tanya sang pelayan. Lagi-lagi saya kaget. Minum kopi rupanya tidak lagi satu ukuran cangkir. Tapi mirip minum soft drink di resto fast food. Anda bisa minta gelas besar. Dan minum kopi dengan porsi berganda. Selesai saya memilih ukuran gelas yang saya inginkan, sang pelayan kembali bertanya, : ”mau penuh betul ? atau disisakan sedikit ?” Saya bingung. Buat konsumen yang belum berpengalaman pasti akan minta penuh. Wong, sudah bayar kok, masa gelas kopinya ndak diisi penuh ? Teman saya yang kebetulan menemani, buru-buru menjelaskan. Bahwa kalau penuh artinya saya mau minum kopi apa adanya tanpa susu. Tapi kalau saya mau minum kopi dengan susu, gelas kopinya akan disisakan sedikit, supaya susunya bisa masuk. Saya mengangguk-angguk tanda mulai mengerti. Buset memesan kopi saja sedemekian repotnya.

Setelah 10 tahun berlalu, saya kini menjadi ahli kopi. Saya bisa memesan kopi dengan mata tertutup. Saya hafal betul semua istilah yang diciptakan Starbucks. Begitulah persepsi saya, awalnya. Namun minggu ini San Francisco, saya diajak teman ngopi disebuah kedai kopi yang cukup esklusif. Ketika saya selesai menentukan pilihan kopi saya, sang pelayan masih bertanya :”medium roast ? - dark roast ?” Ini adalah pertanyaan yang menentukan biji kopi pilihan saya. Mau yang dipanggang medium atau sedikit lebih hangus atau ”dark roast” ? Mau tidak mau, akhirnya saya tertawa juga. Memesan secangkir kopi saja repotnya setengah mati.

Inilah realitanya. Dunia kita terus berubah. Pemasar terus menerus terobsesi mencari perbedaan yang mampu menciptakan daya saing, yang membuat konsumen penasaran dan menoleh. Inilah jaman ”Hyper Differentiation”. Begitu istilah Eric K. Clemons, pemilik dari firma konsultan Novantas. Menurut Eric, perusahaan besar biasanya memiliki kemampuan untuk menciptakan sebuah program yang berorientasi ”push campaigns”. Perusahaan besar biasanya mampu mendorong dan memaksakan sebuah trend kepasar. Dengan iklan dan promosi berskala besar, akhirnya sebuah trend tercipta dan teradopsi oleh konsumen. Perusahaan kecil sebaliknya, karena tidak memiliki biaya iklan atau promosi besar, terpakasa harus menggunakan strategi yang terbalik. Yaitu ”pull campaigns”. Perusahaan kecil seringkali harus mengambil jalan terbalik, menciptakan ”counter trends”. Maka akhirnya terciptalah ”extreme differentiations” atau ”hyper differentiations”.

Dalam persaingan kedai kopi, perusahaan-perusahaan besar membeli kopi dari seluruh dunia. Mencari kualitas-kualitas kopi terbaik, dari wilayah-wilayah tertentu dan mencampurnya dengan satu atau dua jenis kopi lain, untuk menciptakan campuran terbaik. Seni mencampur ini disebut ”blending”. Perusahaan Starbucks, misalnya memiliki kopi yang disebut ”Anniversarry Blend”. Kopi campuran ini diciptakan Starbucks tahun 1996, ketika berulang tahun ke 25, yang merupakan campuran kopi dari Asia Pacific dicampur dengan kopi-kopi yang sangat langka dari Indonesia.

Perusahaan kopi kecil, bersaing dengan Starbucks dengan arah terbalik. Hyper differentiation ! Kedai kopi Gimme Coffee di New York misalnya, memiliki 22 jenis kopi esklusif. Harganya berkisar antara Rp. 105.000 – Rp.120.000/ 500 gr. Salah satu yang termahal adalah kopi dari Sumatera. Yang dibeli secara esklusif dari Aceh, dari perkebunan disekitar danau Tawar, yang tingginya 4.500 kaki – 5.900 kaki diatas permukaan air laut. Yang kedua dari Blawan, Jawa Timur. Diperkebunan disekitar kawah Ijen yang tingginya sekitar 3.000 kaki – 6.000 kaki diatas permukaan laut. Gimme Coffee menciptakan kopi dengan Hyper Differentiation, dengan lebih memfokuskan diri pada kopi-kopi esklusif dari perkebunan kecil diseluruh dunia, yang memiliki cita rasa unik dan berbeda. Murni tanpa harus dicampur lagi. Sehingga menciptakan esklusiftas yang dicari dan diminati oleh konsumen. Ngopi telah menjadi budaya yang berevolusi tanpa henti. Tidak lagi sekedar minum, tapi anda harus tahu apa yang anda ingin minum, dan bagaimana cara meminumnya. Bukan lagi sekedar minum kopi. Tidak semua kopi diciptakan sama. Memang ruwet !

Tuesday, September 18, 2007

MANAJEMEN CINTA

Satu hari Senin di Bangkok, saya dibuat heran dan takjub. Kemanapun saya pergi, saya melihat begitu banyak orang memakai baju kuning bersliweran. Di Mall, di jalan, di stasiun kereta, pokoknya dimana-mana. Saya pikir tadinya, barangkali, ini merupakan salah satu tradisi keagamaan. Tetapi teman saya Phornthip tertawa mendengar dugaan saya itu. Menurutnya, fenomena orang memakai baju kuning di hari Senin di Bangkok, adalah asuransi bahwa setiap kudeta yang terjadi di Thailand, pasti akan menjadi jaminan solusi akhir politik. Kenyataan sesungguhnya, kudeta tidak akan mengubah kehidupan orang banyak secara negatif. Tentu saja saya jadi terheran-heran.
Alkisah, pada tanggal 9 Juni 2006, adalah ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) bertahta selama 60 tahun. Sang Raja, kebetulan lahir hari Senin, dan warna hari Senin secara tradisi adalah warna kuning. Pada tanggal 9 Juni 2006, kota Bangkok penuh dengan warna kuning. Rakyat beramai-ramai memakai baju kuning untuk menunjukan support dan rasa cinta mereka terhadap raja. Uniknya setelah perayaan itu berakhir, rakyat Thailand tetap saja masih memakai baju kuning setiap hari Senin. Sebuah tanda cinta dan loyalitas terhadap raja yang luar biasa. Melihat dari jumlah orang yang memakai baju kuning di jalan pada hari Senin itu, harus saya akui, menimbulkan kekaguman tersendiri. Malah menurut teman saya Phornthip, secara psikologis kalau ia tidak memakai baju kuning setiap Senin, rasanya risih sekali. Setiap kali orang memandang dirinya, seolah mempertanyakan, mana baju kuning yang seharusnya di pakai ?
Raja Bhumibol Adulyadej konon menjadi faktor stabilator terpenting, ketika Thailand dilanda krisis politik pada tahun 1973 dan tahun 1992. Sehingga rakyat Thailand merasa sangat aman, dan nyaman, bahwa apapun yang terjadi, raja akan selalu tampil pada saatnya untuk memberikan solusi akhir. Jadi jangan heran kalau sang raja, begitu dicintai dan diagungkan oleh rakyatnya. Jangan pula heran, apabila tahta raja yang berlangsung lebih dari 60 tahun itu, berlangsung dengan khidmat, penuh respek dan kecintaan. Dan dalam hal “leadership”, pemimpin yang dicintai oleh pengikutnya pasti akan langeng dan abadi. Cinta adalah perekat yang fenomenal. Tidak mudah menjadi pemimpin yang bisa dicintai oleh para pengikutnya. Menurut Mpu Peniti, seorang pemimpin haruslah mampu menjadi satu orang yang mencintai banyak orang. Jelas ini akan sangat sulit. Barulah ia akan menjadi seseorang yang dicintai banyak orang.
Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu menerapkan manajemen cinta. Jurusnya sederhana. Saya mendapatkan-nya dari sebuah pribahasa Swedia, yang bunyinya : “Fear less, hope more; Eat less, chew more; Whine less, breathe more; Talk less, say more; Love more, and all good things will be yours”. Yang kalau dijabarkan secara sederhana, memberikan sejumlah nasehat jitu. Seorang pemimpin sebaiknya tidak penakut, tidak juga memperlihatkan rasa takutnya. Seorang pemimpin seharusnya memberikan dan menciptakan harapan yang lebih banyak. Seorang pemimpin jangan hanya asal menerima masukan, tapi harus mengunyah dan mencerna tiap masukan. Agar inti sari kebijakan-nya meresap menjadi manfaat dan faedah bagi orang banyak. Seorang pemimpin sebaiknya tidak melulu mengeluh, tetapi lebih banyak menahan diri dan bersabar. Seorang pemimpin pantang asal bicara. Setiap kata dan kalimatnya sebaiknya merupakan pemikiran dan pendalaman, sehingga menjadi panutan dan kutipan orang banyak.
Seorang pemimpin harus mampu mencintai lebih banyak. Maka kepemimpinanya akan abadi sepanjang masa. Mencintai banyak orang dengan sungguh-sungguh, sebelum ia bisa dicintai oleh banyak orang adalah kualitas seorang pemimpin yang sesungguhnya. Kualitas yang menuntut kepedulian yang luar biasa. Perhatian, kesungguhan, dan tanpa pamrih. Manajemen cinta, memperlihatkan kemampuan seorang pemimpin untuk selalu memberi. Pesan Mpu Peniti, seorang pemimpin harus belajar memberi yang banyak, sebelum ia bisa menikmati pemberian yang banyak. Seorang pemimpin tidak akan dicintai, kalau ia belum sanggup mencintai pengikutnya dengan sepenuh hati. Menerapkan manajemen cinta di bulan suci Ramadhan ini, barangkali bisa menjadi solusi kreatif, untuk mengakhiri segala konflik dan perseteruan didalam sebuah organisasi. Juga menjadi pencerahan untuk menyempurnakan kepemimpinan anda.

Sunday, September 16, 2007

BELIEVE IN YOUR SELF


YANG SPESIAL

Setiap kali kita makan direstoran atau café, selalu saja ada menu yang menggunakan kata ‘spesial’. Entah itu nasi goreng spesial atau mie goreng spesial. Tetapi betapa kecewanya kita, ketika diberi tahu oleh pelayan, bahwa beda spesial-nya cuma telor ceplok saja. Sekali, seorang teman saya secara iseng dan bercanda, mengatakan bahwa kok bertahun-tahun, ngak ada orang yang ‘penasaran’ dan bikin terobosan untuk menciptakan ‘spesial’ baru yang beda dengan telor ceplok ?

Fenomena ‘spesial’ hingga jaman apapun tetap ampuh. Konsumen selalu mau yang lebih. Lebih baik, lebih mahal, lebih istimewa. Konsumen mau yang ‘spesial’. Selalu. Jadi kalau anda memproduksi produk apapun dan menjual jasa apapun, ingat selalu ajian yang satu ini. Pokoknya harus selalu ada yang ‘spesial’.

Ada sebuah restoran seafood bakar-bakar-an yang sangat terkenal di Bali. Letaknya di Nusa Dua. Pemiliknya mengerti betul filosofi ajian ‘spesial’ ini. Dan menerapkan-nya dengan apik sekali. Ia tahu betul menciptakan suasana ‘spesial’ ini. Kalau anda masuk ke restoran miliknya, di lobi anda melihat sejumlah foto orang-orang terkenal, mulai dari artis, pengusaha hingga pejabat yang pernah makan di restoran miliknya. Ini strategi murah, manjur, tapi orang jarang yang mau melakukan-nya dengan tekun. Padahal modalnya cuma kamera doang. Antara Semarang dan Salatiga, juga ada warung sate terkenal. Kalau anda masuk ke warung sate itu, maka anda akan melihat sejumlah foto pemiliknya dengan artis dang-dut terkenal Rhoma Irama. Mungkin pemiliknya adalah teman dekat Rhoma Irama. Tapi anda datang ke Salatiga dan minta diajak makan sate, maka 80% kemungkinan anda akan diajak makan disana. Warung sate itu punya cap ‘spesial’. Yaitu warung sate selebriti. Buktinya Rhoma Irama aja makan disitu.

Ketika saya ingin makan laksa belum lama ini di Singapura. Teman saya juga mengajak saya makan di sebuah warung ‘spesial’. Saya bilang apa ‘spesial’-nya. Ia tertawa, katanya warung laksa ini sering masuk TV, karena banyak selebriti yang makan disana. Buatnya inilah warung laksa ‘spesial’. Ketika kami tiba disana dan mulai memesan laksa, barulah saya sadari, bahwa disekeliling warung dipasang aneka foto, yang memperlihatkan sang pemiliknya akrab dengan berbagai bintang film serta penyanyi Hong Kong dan Taiwan. Juga banyak foto-foto sang pemilik dengan pejabat serta koki selebriti. Jangan pernah menganggap ini strategi usang, kuno dan semua orang sudah menirunya. Percayalah masih tetap ampuh.

Balik lagi ke restoran seafood di Nusa Dua, Bali, yang mahir menerapkan ajian ‘spesial’ ini. Bukan saja di lobinya terpasang berbagai aneka foto selebriti, tetapi mereka juga punya sejumlah trik khusus. Kalau anda kesana iseng-iseng mintalah kartu namanya. Cukup unik. Depan-nya biasa-biasa saja. Tetapi dibelakangnya ada daftar menu, kemudian satu baris kalimat pernyataan. Bahwa di restoran itu, air yang digunakan bukanlah air sembarangan. Tetapi air khusus yaitu ‘purified water’. Yaitu air bersih yang sudah disaring. Ini ibaratnya cubitan yang pas. Karena turis paling takut sakit diare di Bali karena minum air atau es yang tidak bersih. Jurus ‘spesial’ berikutnya adalah semua menu yang ada di kartu nama memiliki embel-embel ‘spesial’.

Karena rada penasaran saya panggil seorang pelayan, lalu saya goda dengan pertanyaan untuk menjelaskan dimana letak ‘spesial’ dari menu-menu itu. Sang pelayan cuma tersenyum manis, melengos, dan balik menggoda “makanya Bapak harus mencoba, baru tahu dimana letak ‘spesial’-nya”. Duh, saya kena jawaban yang telak. Tapi disinilah letak kunci rahasianya. Usaha anda boleh saja sangat mikro dan kecil. Mungkin cuma warung didepan rumah, atau jasa menjahit dirumahan. Yang dilihat sepintas tidak bermakna. Padahal didalamnya ada tantangan besar. Yaitu anda harus membuatnya ‘spesial’. Kalau anda memperlakukan usaha anda ‘sangat spesial’, maka konsumen anda juga lama-lama akan merasa ‘spesial’. Saatnya anda berpikir dan bertindak untuk membuat usaha anda terasa ‘spesial’. Tidak usah sesuatu yang gegap gempita dan makan biaya besar. Tetapi bisa di mulai dari sikap dan tindakan kita. Bisa dimulai dari kartu nama kita. Sesuatu yang kecil dan tidak terpikirkan oleh pesaing anda.

Allah, menciptakan manusia tidak pernah biasa-biasa saja. Semua karya dan ciptaan-nya ‘spesial’. Allah menciptakan manusia memang berbeda-beda. Tetapi bukan berhenti disitu. Allah menciptakan manusia dengan sangat unik, istimewa, luar biasa, dahsyat, dan ‘spesial’. Adalah tugas dan kewajiban kita untuk mengembangkan – apa sih yang diberikan Allah ‘spesial’ didalam diri kita. Semoga saja di bulan suci Ramadhan ini, ketika kita menguji ketahanan mental, dan spritual kita terhadap begitu banyak godaan. Di saat yang sama pula kita akan menemukan kembali jati diri kita yang baru dengan sejumlah keunikan, keistimewaan, dan fitur-fitur ‘spesial’ lainnya. Marilah kita menjadikan Ramadhan bulan ‘spesial’ buat kita semua. Selamat menjalankan ibadah Puasa.

Thursday, September 13, 2007

Wednesday, September 12, 2007

MANAJEMEN SEDIKIT

Mas Bambang, seorang veteran bisnis yang telah bergelut dalam dunia bisnis lebih dari 40 tahun punya resep yang unik – beliau menyebutnya : “Manajemen Sedikit”. Secara prinsip Mas Bambang mengaku ia lebih senang berbuat sedikit mungkin, terutama dalam mencampuri urusan manajemen di kantor. Mas Bambang berdalih Manajemen Sedikit ibaratnya memasak dengan oven microwave. Tingal pencet satu tombol. Selesai. Berlainan dengan gaya manajemen yang biasa, menurut Mas Bambang lebih mirip dengan memasak cara tradisional. Yang memerlukan waktu dan usaha komplit yang lebih nyelimet.

Mulanya saya bingung mendengarnya. Barulah ketika ngobrol lebih dalam dengan para crew dan staff di kantor Mas Bambang, saya baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh Mas Bambang sebagai Manajemen Sedikit. Rupanya Mas Bambang orangnya sangat penyabar, jarang marah, dan senang memotivasi para pekerjanya untuk maju kedepan, secara agresif dan kreatif. Setiap kali mereka memulai sebuah proyek, Mas Bambang lebih senang menyemai bibit. Begitu istilah beliau. Setelah itu Mas Bambang lebih senang mundur kebelakang dan sepenuhnya memberikan kebebasan bagi karyawannya untuk menunjukan karya dan prestasi mereka. Hanya sekali-kali Mas Bambang memberikan dorongan-dorongan kecil. Pokoknya Mas Bambang berusaha untuk sedikit mungkin untuk mencampuri manajemen. Hasilnya memang ajaib.

Karyawan merasa mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Bambang, dan disiplin mereka untuk bertanggung jawab ternyata sangat tinggi. Mereka juga punya rasa optimis dan percaya diri yang optimal. Saya jadi ingat sebuah buku kecil yang ditulis oleh Chin Ning Chu yang berjudul “Do Less Achieve More”. Buku yang ditulis tahun 1998 itu, hingga kini masih menjadi salah satu buku favorit saya. Chin menulis bahwa, kata sibuk dalam bahasa Cina terdiri dari 2 simbol piktogram. Yang pertama merupakan simbol piktogram yang berarti jantung. Dan yang kedua adalah piktogram dengan simbol kematian. Artinya kalau kita terlampau sibuk tidak keruan, maka kematian adalah kutukan yang membayangi kita sehari-hari.

Mas Bambang bercerita bahwa dahulu ia pernah memiliki seorang general manajer yang sangat rajin, tetapi juga terlampau ketat ingin mengontrol semuanya. Akibatnya seluruh staffnya merasa stress. Produktifitas bukan meningkat tetapi justru semakin menurun. Mas Bambang akhirnya memecat sang general manajer. Ia memerdeka-kan para staff dan karyawan-nya dari perasaan stress dan tertekan. Mas Bambang berusaha menciptakan sebuah lingkungan kerja yang memiliki dimensi unik, dimana semuanya merasa mudah, sehingga staff dan karyawan-nya lebih kreatif menciptakan terobosan dan inovasi.

Beberapa hari sebelum puasa, saya diajak Mpu Peniti makan soto daging kesukaan beliau. Pulang makan soto, saya diberi oleh-oleh 2 lembar uang seribuan. Yang satu pecahan seribuan yang mungkin beredar di tahun 70’an dan sudah tidak lagi laku. Yang kedua pecahan seribuan yang masih beredar saat ini. Kedua lembar uang seribuan itu namapak sangat baru, seperti baru keluar dari mesin cetak. Saya bingung tidak keruan, karena tidak mengerti apa ulah Mpu Peniti. Akhirnya dengan senyum-senyum beliau bertanya kepada saya, mana diantaranya kedua lembar uang ribuan itu yang paling berharga. Saya beraksi secara refleks menunjuk lembaran uang ribuan yang masih berlaku saat itu. Tetapi Mpu Peniti malah menggeleng.

Beliau bertutur, bahwa lembaran uang ribuan yang sudah tidak berlaku lagi malah justru yang paling berharga. Karena 30 tahun yang lalu, selembar uang ribuan itu merupakan bagian dari kenaikan gaji Mpu Peniti saat itu. Saking girangnya, Mpu Peniti saat itu, sampai ia menyimpan seribu rupiah, yang saat itu sangat banyak jumlahnya sebagai kenang-kenangan. Secara historis uang ribuan itu punya nilai yang tak terhingga. Berlainan dengan lembaran ribuan satunya lagi, yang memang didapat Mpu Peniti dari Bank, dan nilainya memang cuma seribu perak. Dan seribu perak saat ini, terkadang tidak cukup untuk membeli nasi bungkus atau biaya parkir sekalipun.

Mpu Peniti berpesan kepada saya, bahwa kadang yang kelihatan-nya sangat sedikit sekali nilainya, tidak jarang justru yang paling berharga. Dalam bulan suci Ramadhan ini, dimana kita akan menjalankan ibadah puasa, dan sekaligus berlatih menahan nafsu. Disaat bersamaan kita juga diberikan kesempatan yang sama untuk menghargai semuanya yang serba sedikit dan semuanya yang serba kekurangan. Kita di-ingatkan untuk berani mengorbankan yang berlimpah. Dan memilih yang sedikit. Karena sesungguhnya yang sedikit ini, tidak jarang lebih sehat dan lebih membahagiakan kita.

Saturday, September 08, 2007

Tuesday, September 04, 2007

SAMA DAN SEBANGUN

Ingat waktu kita sekolah dulu ? Ada istilah “sama dan sebangun” ? Bentuk dan letaknya nya tidak harus persis sama ! Tapi kalau mereka memberikan indikasi dan pertanda yang sama, dua segitiga bisa saja dikatakan ”sama dan sebangun”. Sayangnya, terkadang usia yang menggerus ingatan kita, akhirnya ”sama dan sebangun” sering terlupakan. Padahal ini adalah kemampuan membuat analisa dan menyimpulkan analogi. Kalau istilah Mpu Peniti, mahir membaca tanda-tanda. Kalau sebuah gejala atau peristiwa memiliki tanda-tanda yang sama, bisa saja akibat yang ditimbulkan juga mirip. Mahir membaca analisa ”sama dan sebangun” membutuhkan imajinasi dan kemampuan analisa yang tajam. Hanya saja orang terkadang kalau tidak sama persis, mirip-pun tidak digubris.

Nah, penyakit ini seringkali saya temukan ketika mengajar dan memberikan kuliah. Kalau saya memberikan contoh studi kasus misalnya dalam bidang jasa, maka biasanya ada saja peserta yang bertanya :”Mas, ada contoh ’consumer product’ ngak ?” Pokoknya harus contohnya ’plek’ sama persis. Juga sebaliknya, kalau saya memberikan studi kasus dalam bidang ’consumer product’ pasti saja ada yang ngotot minta dicontohkan kasus bidang jasa. Dan seterusnya. Situasi ini kadang membuat saya frustasi, karena terasa ada kemalasan untuk menganalisa dan mencari tanda-tanda ’ sama dan sebangun ’. Padahal dalam hal ilmu secara filosofis, dalil-dalil pokoknya akan selalu sama dan berlaku untuk siapa saja, dan apa saja. Tak terkecuali.

Beberapa hari yang lalu, di Bali ketika saya sedang makan malam, saya bertemu dan berkenalan dengan seorang pengusaha beras. Kami ngobrol, dan rupanya beliau senang juga membaca artikel dan buku saya. Pernah juga ia mengikuti beberapa kuliah saya. Cerita beliau, ia sudah mempraktekan kurang lebih 70% dari materi yang saya paparkan. Hasilnya sangat mujarab. Dalam hati, saya bersyukur. Karena ada juga seseorang yang mau berimajinasi dan menciptakan strategi ’sama dan sebangun’ yang berhasil dia terapkan dalam bisnisnya sendiri. Luar biasa !

Lain lagi ceritanya, ketika saya memberikan kuliah penutup disebuah acara yang dihadiri oleh sejumlah bankers. Seperti biasa, diakhir acara, ada yang ’ngacung’ bertanya. Isinya, ia mengatakan bahwa ia minta saya mencontohkan aplikasi materi saya di perbankan. Kebetulan yang ditanyakan oleh-nya adalah masalah pelayanan. Ia tampak bingung bukan main, sepertinya ingin mencari ide-ide baru untuk pelayanan. Kadang ketika kita sudah melakukan hampir semua trik pelayanan yang dilakukan kompetitor, kita seringkali kehilangan ide. Bak sumur yang kering dimusim kemarau. Mestinya tidak demikian, imajinasi itu tidak ada batasnya.

Saya punya satu studi kasus yang unik. Tentang pelayanan di hotel. Kalau anda ’check-in’ di hotel, kegiataan yang menyebalkan adalah antri didepan counter reception untuk ’check-in’. Kadang kala biarpun ini kegiataan sepele, bisa makan waktu yang sangat lama. Di hotel Four Seasons di Singapura, mereka membuat terobosan unik, yaitu ’pra-check in’. Ini kan jaman pra bayar ! Jadi kalau anda sudah pernah menginap di Four Seasons Singapura, dan data anda sudah terekam, ketika anda kembali menginap, biasanya oleh mereka anda sudah di buat ’pra-check in’. Cepat dan praktis. Tetapi mereka membuat saya lebih kagum lagi. Yaitu kalau anda sudah menjadi ’regular’ dan sering menginap disana, mereka mampu membuat terobosan satu tingkat lebih maju. Biasanya bukan saja anda tidak usah ’check in’, tapi kunci kamar anda sudah disediakan didepan concierge. Jadi ketika anda tiba, dan turun dari taxi, sang porter menurunkan koper anda dan langsung memberikan kunci anda. Sehingga anda bisa langsung menuju kamar. Jelas sudah, selama anda mampu berimajinasi, tidak akan pernah ada batasnya.

Tapi di hotel Sheraton Grande Sukhumvit, Bangkok, mereka lebih imajinatif lagi. Saat anda tiba di-airport dan dijemput mobil limo dari hotel, maka anda bisa check in didalam mobil. Praktis dan sederhana. Tiba di hotel, anda dijemput staf hotel yang cantik dan ramah, dan langsung mengantar anda kekamar. Pelayanan ini, boleh terlihat sepele, tetapi imajinatif dan membuat anda seperti diperlakukan sangat VVIP.

Saya ingat sebuah pribahasa Jepang, bunyinya kira-kira demikian : ”Selama kita masih mau berpikir. Tidak ada yang tidak mungkin ditembus oleh imajinasi” Kadang kita berpikir ”aduh ! .... harus bikin apa lagi nih ?” Rasanya imajinasi telah terkuras habis. Tutur Mpu Peniti, asalkan kita mau melamun, imajinasi akan datang. Jadi rajin-rajinlah melamun. Dan jangan berkeras hati, bahwa jasa beda dengan consumer product. Atau sebaliknya. Filosofisnya akan tetap sama. Anda cuma perlu mencari sumbernya. Sisanya gunakan pengalaman kita disekolah dulu. Menggunakan teori ’sama dan sebangun’. Pasti akan ketemu terobosan baru yang anda cari.

Tuesday, August 28, 2007

ALL IS A MIRACLE

THROUGH A CHILD'S EYES

Saya suka tertawa bila mendengar makian :”Ah, elu….. kaya anak kecil aje !” Seolah dunia anak-anak itu ngak mutu. Jauh dibawah standar berpikir kita. Kita selalu meremehkan mereka. Perspektif dan atau pandangan anak-anak dianggap menyesatkan. Yang dijadikan panduan acap kali cuma cara berpikir orang dewasa. Kata orang, cara berpikir orang dewasa dianggap matang, penuh perhitungan, dan rasional.

Suatu pagi di Bandung, saya bergegas dari kamar hotel menuju “coffee shop” untuk sarapan pagi. Didalam lift saya terjebak dengan sekelompok anak-anak kecil. Kelihatan mereka sangat resah. Tidak sabar ingin segera sampai di ‘coffee shop’. Mereka saling dorong diantaranya. Salah satu anak meraba tombol lantai lift dan memencet semua lantai. Sekujur tubuh anak-anak ini seperti diselimuti adrenalin dan rasa penasaran yang begitu besar. Sedangkan para suster yang menemani anak-anak ini berdiam diri seperti ‘zombie’ yang acuh tidak acuh.

Ketika pintu lift terbuka, ‘brrrr……’ mereka semua lari berhamburan. Langsung mereka menyerbu meja makanan, dan mengambil hampir semua makanan yang tersedia. Tak lama kemudian, makanan cuma diutak-atik seperlunya. Dimakan sedikit saja. Dan sisanya dibiarkan bertumpuk. Sang suster tiba-tiba repot berusaha menyuapi mereka. Tidak seluruhnya berhasil. Maka para orang tua mulai bereaksi. Memerintahkan mereka untuk diam dan makan secara benar. Sebagian menurut, sebagian melawan. Orang tua mulai bertanya : “Kalau ngak mau dimakan ? Kenapa tadi diambil ?”. Para anak dengan sekenanya menjawab :”Ngak enak !” Selesai perkara.

Pemandangan yang biasa bukan ? Tetapi peristiwa itu membuat saya teringat pada salah satu kuliah pemasaran saya. Saat itu sang dosen bercerita tentang tekhnik imajinatif untuk melahirkan ide-ide besar. Menurut sang dosen, didalam pemasaran salah satu alat bantu yang kreatif justru adalah perspektif anak-anak. Cara berpikir para anak-anak sangat sederhana. Umumnya cuma lurus pada satu hal tertentu. Dan sangat singkat. Mereka mudah bosan. Perhatikan baik-baik permainan video, yang dirancang khusus untuk Playstation atau Xbox. Umumnya permainan ini didesain dengan perspektif anak-anak tadi. Tidak kompleks melainkan sederhana, fokus pada satu titik, tetapi memiliki magnet yang mampu membuat anak-anak lekat pada game itu berjam-jam. Karena game itu biasanya mampu mengusik rasa penasaran sang anak.

Perspektif anak bisa sangat kreatif. Misalnya anda memiliki masalah yang sangat kompleks, butuh pemecahan lugas. Maka metode ini seringkali bisa menjadi solusi yang jitu. Yang anda harus lakukan, cukup memejamkan mata, dan membayangkan kalau anda adalah anak kecil. Langkah berikutnya adalah membayangkan tindakan anak kecil ini. Dalam kuliah tadi sang dosen memperlihatkan beberapa film pendek. Yang pertama diperlihatkan seorang anak sedang minum susu. Tetapi susunya terlampau banyak. Sang anak hanya minum 5-6 menit, setelah puas dan kenyang, maka ia bermain dengan susu itu. Nasehat sang dosen, kalau kita mendesain sebuah produk atau sebuah promosi, konsumen hanya akan memberikan perhatian kepada kita sepersekian detik atau menit. Gagal membuat konsumen penasaran dalam waktu sesingkat itu, produk atau promosi kita akan gagal pula.

Dalam film kedua, diperlihatkan seorang anak bermain mobil-mobilan. Sang anak terlihat asyik sekali bermain, mulai dari bermain balapan, hingga mobil perang-perangan. Setelah asyik bermain dilantai, sang anak pindah bermain di ranjang, menggunakan bantal yang ditumpuk, seolah mobil melewati rute yang bergunung dan berbukit-bukit. Sang anak mampu bermain berjam-jam. Dosen kami lalu menceritakan bagaimana suksesnya kasus studi mainan merek Matchbox. Yaitu mainan mobil-mobilan yang kecil, seukuran kotak korek api. Awal mulanya Leslie Smith pada tahun 1948, menciptakan mainan mobil seukuran kotak korek api agar bisa dikantongi anak-anak kemana saja ia pergi. Ide sederhana ini ternyata jitu. Disamping kecil dan bisa dibawa kemana-mana. Harganya yang tidak terlampau mahal, membuat anak-anak asyik dan penasaran untuk mengoleksinya. Dengan ruang main yang terbatas dirumah, anak-anak bisa menciptakan dunianya sendiri dan bermain dengan 10-20 mobil Matchbox sekaligus. Konon model sukses Matchbox ini kini ditiru oleh merek-merek ternama pembuat tas, arloji, dan sepatu olahraga, untuk mensimulasi rasa penasaran yang sama. Buktinya ada eksekutif yang mengoleksi lebih dari 20 jam Rolex. Atau ada seorang selebriti yang mengoleksi lebih dari 3 lusin tas Hermes. Tingkah laku mereka mirip anak-anak yang mengoleksi mainan Matchbox. Tidak berbeda sama sekali ! Jadi jangan pernah meremehkan perspektif anak-anak. Mereka mungkin melihat dunia dengan pandangan yang berbeda. Sederhana dan ringkas. Tetapi pandangan kita saat dewasa - bukankah juga berawal dari perspektif yang sama ?

Monday, August 20, 2007

KEMBALI KETITIK AWAL


SOLUSI JALAN BUNTU

Sepasang suami isteri minta nasehat kepada Mpu Peniti. Perkawinan mereka selama 20 tahun diguncang prahara. Mereka berdua berada dititik kritis. Ingin bercerai. Kesedihan membayang di wajah Mpu Peniti, sehabis mendengar cerita mereka berdua. Lalu Mpu Peniti mendongeng, tutur beliau, bayangkan kita sedang berjalan di hutan. Setelah sekian lama kita berjalan, tiba-tiba didepan kita jalan-nya buntu. Kita menjumpai jurang yang dalam. Barangkali cuma ada dua opsi yang tersedia. Pertama maju terus, mendobrak kebuntu-an, dengan terjun kedalam jurang. Resikonya sangat tinggi. Kita bisa hancur berantakan didasar jurang. Atau mungkin juga selamat dengan sejumlah luka-luka serius. Tetapi ada jalan yang lain. Yaitu balik arah dan menelusuri jalan yang sudah kita tempuh. Balik kejalan semula. Dan mencari titik dimana kita telah salah berbelok, sehingga menemui kebuntuan itu.

Nasehat Mpu Peniti, mungkin perkawinan mereka mirip cerita diatas. Mereka menghadapi jalan buntu. Kalau mereka nekat maju terus, kemungkinan mereka akan bercerai. Dua-duanya akan hancur. Lain halnya kalau mereka mau balik arah. Balik kejalan semula. Mencoba menemukan cinta awal mereka. Cinta yang menyatukan mereka 20 tahun yang lalu. Cinta yang membuat mereka terjun kesebuah pernikahan. Barangkali dengan jalan ini, perkawinan mereka bisa diselamatkan.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, nasehat itu diberikan Mpu Peniti kepada saya, ketika saya mengalami jalan buntu dalam menghadapi masalah pemasaran yang super akut. Hasilnya memang terbukti mujarab. Banyak klien yang datang dengan segudang kebuntu-an permasalahan. Betapa sering kita mendengar, pemasar berkeluh kesah hal yang sama. ”Dahulu produk saya laris bukan main. Pernah mencapai sekian juta. Tetapi kok sekarang semakin turun ? Tidak sanggup menghadapi serangan kompetisi ?” Jawabnya sederhana, selama sekian tahun kita diserang kompetisi dari berbagai arah. Tidak jarang kita terpancing ! Dan masuk jalan yang menjerumuskan kita ke jurang kebuntu-an. Akibatnya produk kita menjadi tidak laris secara perlahan-lahan. Solusinya sederhana. Balik ke titik semula. Titik dengan formula sukses yang asli. “Seringkali rahasia sukses kita ada pada titik awal tadi” begitu tutur Mpu Peniti. Entah kenapa kita terkadang malas untuk balik ketitik itu. Ada perasaan malu, jengah, untuk mengakui masa lalu dan titik awal kita”

Seorang entrepener yang memiliki sebuah biro iklan, bercerita hal yang mirip. Dahulu ketika ia memulai bisnis ini, semuanya dikerjakan secara sederhana. Ia terjun kesemua bidang. Mulai dengan bertemu dengan klien. Mengerjakan kreatifitas. Sampai mengantar barang ke klien. Semua klien ia kenal dengan baik. Kadang kalau sedang menganggur, ia dengan mudah minta pekerjaan ke klien. Selalu saja ada yang mau memberi. Biar kecil sekalipun. Kini puteranya yang memimpim. Semuanya sangat berbeda. Puteranya lebih senang menjadi jendral yang tinggal menyuruh prajurit-prajurit melakukan ini dan itu. Ia merasa hubungan klien dengan puteranya tidak akrab. Akibatnya klien datang dan pergi di perusahaan itu. Mereka tidak lagi punya klien yang loyal.

Cerita yang menggugah dalam bisnis, konon adalah cerita lama tentang Levi’s. Di awal dekade 80’an. Levi’s mengalami gempuran dahsyat dari para kompetitornya. Maklum jeans makin trendy, dan berbagai merek baru bermunculan satu demi satu. Percaya atau tidak, situasi itulah yang membuat Levi’s menyadari bahwa salah satu sukses mereka justru ada pada titik awal. Yaitu jeans seri 501 yang pertama kali dipatenkan pada tahun 1873. Maka tahun 1981, akhirnya Levi’s meluncurkan jeans seri 501 untuk wanita. Dan sukses besar. Tahun 1984, Levi’s seri 501 mulai di propagandakan secara besar-besaran terutama pada acara Olympic Games di Los Angeles. Dan dilanjutkan di Eropa pada tahun 1986. Sejak itu, konsumen justru tergila-gila dengan Levi’s 501 yang mestinya dianggap sangat kuno. Tetapi bagi konsumen inilah jeans yang asli. Sang legendaris. Tak heran apabila kemudian Levi’s meluncurkan sayembara untuk menemukan jeans Levi’s yang paling kuno di tahun 1993. Pada tahun 1997, Levi’s membeli kembali sebuah celana jeans Levi’s tahun 1890 dengan harga $ 25.000.-. Sejak itu Levi’s berhasil membangkitkan kejayaan-nya dengan salah satunya menggunakan titik awal jeans seri 501 yang unik.

Rahasia sukses kita tidak melulu ada pada masa depan. Terkadang dan sesekali, justru ada di masa lalu kita. Di titik awal yang memulai segalanya. Kalau saja suatu hari jalan anda buntu, solusinya bukan maju terus dan menabrak kebuntuan. Karena hasilnya bisa fatal luar biasa.

Sunday, August 12, 2007

WHY MEN CHEAT ?


BERMAIN CURANG

Alkisah ada seorang raja yang merasakan bahwa ajalnya semakin dekat. Sayangnya selama ia memerintah dengan adil dan bijaksana ia belum memutuskan siapa yang akan menggantikan-nya – siapa yang akan menjadi putera mahkota. Harap maklum sang raja memiliki 8 orang isteri. Dengan 12 orang putera dan 16 orang puteri. Karena semua disayanginya dengan rata dan sepenuh jiwa, ia tidak pernah tega untuk memilih satu diantaranya untuk menjadi putera mahkota. Ia takut menciptakan konflik.

Dalam situasi serba salah, bingung, dan kehabisan akal, maka dipanggilah Mbah Sewu, orang yang memiliki seribu jawaban terhadap masalah apa saja. Mbah Sewu adalah tokoh yang dikenal bijak, selalu penasaran, tidak pernah berhenti bertanya, dan tidak pernah lelah mencari jawaban. Ketika dipanggil raja dan diberikan teka-teki untuk memilih satu diantara 12 putera raja yang paling tepat menjadi putera mahktota, Mbah Sewu terlihat bingung tanpa jawaban. Akhirnya raja memberikan waktu seminggu untuk Mbah Sewu berpikir dan mencari solusi. Hati Mbah Sewu gundah bukan main, selama berhari-hari Mbah Sewu terlihat sering mundar mandir keliling kampung sambil komat kamit tidak keruan.

3 hari sebelum tengat waktu, Mbah Sewu terlihat menebang 12 pohon di hutan. Seluruh negeri menjadi ikut bingung dan merasa ikut terangsang rasa penasaran mereka. Pada hari yang ditentukan raja, Mbah Sewu mengumumkan sebuah sayembara. Ke 12 putera raja diberi masing-masing sebatang pohon yang harus dipanggulnya dari ibu kota kerajaan ke sebuah desa kurang lebih 3 jam berjalan kaki jaraknya dari. Barang siapa yang berhasil tiba dulu didesa itu maka pemenangnya akan terpilih menjadi putera mahkota. Maka menjelang tengah hari sayembara itupun dimulai.

Ke 12 putera raja dengan gagahnya memanggul balok pohon dan mulai berjalan menuju desa yang dituju. Selang satu jam kemudian langkah mereka mulai tertatih-tatih. Nafas mereka mulai tersengal-sengal. Terbukti balok pohon itu cukup berat dipanggul. Seorang putera raja, berhenti dijalan. Ia mengeluarkan goloknya dan mulai memendek-kan balok kayu itu biar tidak terlalu berat. Permainan curang ini dilirik putera raja yang lain, dan semuanya juga ikut bermain curang. Semua memendek-kan balok pohon dengan golok mereka. Hanya tersisa satu putera raja, yang ngotot tidak mau bermain curang. Akibatnya dia tertinggal jauh dengan saudara-saudaranya. Ia tetap tertatih-tatih memanggul balok kayunya.

Setelah berjalan berjam-jam, akhirnya tibalah ia di pinggir desa itu. Rupanya antara desa itu dengan wilayah lain dipisahkan oleh sebuah jurang yang sangat dalam. Biasanya memang ada jembatan untuk menyebrang. Tapi konon jembatan itu diputuskan oleh Mbah Sewu semalam sebelum perlombaan. Terpaksa para putera raja tidak bisa menyebrang. Mereka berdiskusi mencari jalan. Setelah berpikir sekian lama, akhirnya sang putera raja yang tidak bermain curang, menggunakan balok kayunya sebagai jembatan darurat dan menyebrang dengan selamat keseberang. Melihat ulah ini, putera raja yang lain ikut meniru. Apa daya gara-gara bermain curang dan memendek-kan balok kayu mereka masing-masing, ternyata balok kayu mereka terlalu pendek semua, dan tidak bisa lagi digunakan untuk menyebrang. Hanya putera raja yang tidak bermain curang yang berhasil menyebrang. Dialah yang menjadi pemenang sayembara dan dinobatkan menjadi putera mahkota.

Hidup ini mirip sayembara Mbah Sewu. Ada seribu cara. Dan seribu jawaban. Yang mana yang kita pilih, sangat bergantung kepada nurani kita. Dalam bisnis tantangan-nya juga sama persis. Ketika semua pesaing dan kompetitor kita bermain curang, maka kita terjebak dalam godaan maha besar. “Kenapa tidak ikut bermain curang ? Toh, semua orang juga curang !” Seorang pengusaha mengeluh, “Ketika semua orang ikut bermain curang. Dan bermain curang menjadi standar praktek umum. Tidak bermain curang, menjadi perkecualian yang sangat menyulitkan” Akhirnya kita diasingkan orang dan dianggap sok suci, sok idealis, pokoknya kita dianggap aneh. Pengusaha itu menuturkan, bahwa karena ia tidak mau memberikan sogokan, komisi, dan pelicin, setiap kali tender ia kalah terus. Semua pegawainya protes, dan membujuk dia untuk ikut main curang. Termasuk isterinya. Tetapi pengusaha ini punya pengalaman mirip dengan sayembara Mbah Sewu. Ketika kuliah dulu, teman-teman-nya berhasil mencuri soal ujian akhir. Ia juga dibagi bocoran soal curian itu. Namun ia nekat, lebih baik belajar dan ikut ujian tanpa bermain curang. Begitu nurani membisiki dirinya. Nilai ujian-nya memang paling rendah. Hanya gara-gara ia tidak mau ikut main curang. Usai ujian, sang dosen curiga, karena teman-teman yang mencuri soal angkanya sama semua. Akhirnya skandal pencurian soal itu terbongkar. Hanya sang pengusaha yang selamat. Ujian-nya tidak dibatalkan. Sejak peristiwa itu ia nekat untuk tidak tergoda bermain curang.

Ditengah-tengah situasi ia selalu kalah terus melakukan tender, ia tetap punya keyakinan bahwa suatu saat sikapnya yang anti bermain curang, pasti akan mendapat ganjaran positif. Benar saja ! Setahun yang lalu, datang seorang pengusaha dari Eropa. Sang pengusaha mencari suplier yang punya reputasi bersih, anti sogok, anti pungli, anti komisi, dan anti curang. Apa daya, dipasar cuma ia sendiri yang memiliki reputasi itu. Akhirnya ia terpilih dan mulai mendapat order dari Eropa. Kini biarpun ia selalu kalah tender didalam negeri, ordernya mulai berdatangan justru dari luar negeri. Menurutnya, mau bermain curang atau tidak adalah semata pilihan hidup. Betapapun ia terlihat bodoh, ia tetap memilih tidak bermain curang. Ia percaya itulah pilihan terbaik hidup.

Saturday, August 11, 2007

BAD HABIT !

BREAK THE BAD HABIT !

Suatu hari, saya sedang asyik bersantap siang disebuah resto di salah satu mall terkenal di Jakarta bersama Mpu Peniti. Beliau baru saja mendapat obyekan yang lumayan gede. Sehingga jadilah saya ditraktir beliau. Ketika kami sedang asyik makan, meja disebelah kami pecah perang dunia ke III. 2 anak bertengkar diatas meja, berebut makanan, dan mulai tak terbendung ketika mereka saling melempar makanan. Tak lama kemudian pecah tangis mereka berdua dengan sangat kerasnya. 2 orang suster yang seharusnya menjaga mereka tak mampu dan kuasa juga melerai keduanya. Semua orang menoleh. Salah satu pelayan resto mulai kelihatan binggung dan cemas. Tak lama kemudian, kami mendengar salah seorang perempuan tua yang duduk semeja, berkomentar : “Tuh, kan maminya sudah biasa sih, memanjakan anak-anak seperti itu. Apapun kemauan mereka selalu dituruti”. Saya dan Mpu Peniti senyum-senyum saja mendengarnya.

Dalam perjalanan pulang, kami berdoa ngobrol panjang lebar. Saya bercerita kepada beliau, tentang pertemuan saya dengan bekas model Ratih Sang beberapa bulan berselang di airport Surabaya. Mbak Ratih sang, sangat kuatir dengan bicara dan percakapan anak-anaknya dirumah. Maklum jaman sekarang anak-anak menggunakan bahasa Indonesia dengan format yang sangat berbeda. Bahasa gaul itu istilah mereka. Kadang malah bercampur dengan bahasa Inggris. Yang parah adalah bahasa SMS yang sekarang meraja lela dengan aneka istilah dan singkatan. Menurut Mbak Ratih Sang, keindahan bahasa Indonesia yang santun, ramah dan berbudaya terancam oleh polusi budaya pergaulan saat ini. Itu sebabnya, Mbak Ratih Sang membujuk anak-anaknya untuk mau kembali menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Karena kalau kebiasaan dan “habit” ini dibiarkan begitu saja, dalam 10 tahun mendatang, kemungkinan besar bahasa Indonesia akan punah perlahan-lahan. Tanpa kita sadari sebenarnya hidup dan nasib kita banyak sekali dipengaruhi oleh kebiasaan atau “habit” yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Tak heran kalau kita perhatikan baik-baik nasehat orang tua kita ketika kecil, kebanyakan bertujuan untuk membentuk kebiasaan kita. Simak saja naeshat-nasehat klasik, seperti : “Nak, kalau makan itu harus dihabiskan. Jangan sampai bersisa. Nanti muka kamu akan berjerawat seperti sisa-sisa nasi yang kamu tinggalkan dipiring”. Ketika mendengar nasehat itu, saya sempat takut. Makanya kalau makan, tak pernah sedikitpun saya sisakan. Pokoknya ludes tandas. Takut muka saya berjerawat. Namun saat akil balik, dan muka saya berjerawat dimana-mana, saya sempat protes kepada kakek saya. Kok, nasehat ibu sudah saya turuti, masih saja saya kena jerawat. Kakek saya akhirnya menjelaskan dan bercerita, bahwa nasehat itu bertujuan membentuk kebiasaan saya. Agar setiap kali makan, selalu mengambil makanan secukupnya saja. Supaya saya bisa menghabiskan-nya. Agar tidak boros dan selalu membuang makanan. Kalau saya terbiasa dengan satu kebiasaan sederhana ini, maka kebiasaan lain akan ikut menempel. Seperti hidup secukupnya, hemat dan tidak boros. Saya ingat, ketika masih di SD, uang jajan yang diberikan oleh Ibu saya sedikit sekali. Beda dengan teman-teman yang lain. Setiap kesekolah Ibu membekali kami dengan makanan rantang. Akhirnya terpaksa uang jajan yang sedikit itu saya masuk-kan kedalam celengan. Tanpa saya sadari Ibu saya membiasakan saya agar hidup hemat dan selalu menabung.

Mpu Peniti, menuturkan bahwa kebiasaan itu mirip dengan cetakan kue. Sesuatu yang melatih kita dan membentuk kita berperilaku. Kebiasaan ini sering membantu sukses kita ketika kita dewasa. Sebaliknya bisa juga kebiasaan kita ini menjadi penghalang dari kemajuan karir dan prestasi kita. Bayangkan kalau sejak kecil seorang anak sudah dibiaskan terbuka, mudah berkomunikasi, maka kemungkinan besar ketika dewasa, ia akan memiliki informal skills yaitu kemampuan berkomunikasi yang baik. Ia kemungkinan besar juga akan memiliki kepribadian yang lebih terbuka, periang, dan tidak pemalu. Akibatnya ia bakalan lebih menonjol, dan mudah dibentuk menjadi seorang pemimpin yang baik.

Ayah saya bekerja di surat kabar selama lebih dari 25 tahun. Setiap pulang kerja ayah, selalu membawa 4-5 surat kabar yang berbeda dari kantor. Koran gratis begitu istilahnya. Efeknya memang positif. Sejak kecil saya sudah terbiasa membaca beberapa koran sekaligus setiap hari. Lama-lama saya punya rasa dahaga tersendiri, dan merasa ketagihan membaca. Jadilah saya akhirnya gemar membaca. Senang dan cinta membaca. Kebiasaan ini menjadi bola salju yang berlanjut. Yaitu gemar belajar. Perlahan-lahan muncul naluri saya untuk selalu menjadi penasaran, dan ingin tahu apa jawaban-nya.

20 tahun mengarungi dunia pertarungan bisnis, dan melihat sejumlah pengusaha jatuh bangun, menempuh aneka perjalanan antara kegagalan demi kegagalan, juga dari satu sukses ke sukses berikutnya, akhirnya terbentuk satu pelajaran. Bahwa sukses dan kegagalan juga terbentuk dari pola-pola yang seringkali terbentuk dari kebiasaan tertentu. Seorang entreprener bercerita bahwa kakaknya, memiliki kebiasaan jelek. Yaitu selalu merekrut tenaga kerja yang murah. Sehingga kualitasnya cenderung lebih rendah. Ketika perusahaan-nya masih kecil mungkin hal ini tidak berpengaruh. Karena leadership kakaknya bisa mampu mengatasi berbagai masalah dengan mudah. Tetapi ketika perusahaan-nya sudah membengkak besar. Situasinya berubah. Tenaga kerja yang bermutu rendah, membuat kekacauan dimana-mana. Kurang dari 5 tahun kakaknya mengalami kebangkrutan yang fatal.

Saya sering melihat orang yang kesusahan datang minta nasehat kepada Mpu Peniti. Biasanya Mpu Peniti secara arif mencoba merubah kebiasaan orang itu. Misalnya pertama-tama lewat kebiasaan spiritual. Seperti dari jarang beribadah ke lebih banyak beribadah. Dari tidak pernah beramal menjadi lebih sering beramal. Bila berhasil, baru kebiasaan lain oleh Mpu Peniti dimotivasi untuk dirubah. Pokoknya kalau anda ingin sukses “break the bad habit “ !

Monday, August 06, 2007

WARNA WARNI


MENGAPA BANTENG MENGAMUK DENGAN WARNA MERAH ?

Pernahkah terpikir oleh anda, mengapa banteng mengamuk bila melihat warna merah ? Apakah memang warna mampu merasuk syaraf-syaraf emosi kita ? Padahal menurut para ahli, banteng itu sebenarnya buta warna. Warna merah hanya nampak sebagai warna abu-abu bagi banteng. Tetapi yang membuat banteng mengamuk adalah gerakan dari jubah matador yang digerak-gerak-an meledek sang banteng. Secara intuisi, rupanya banteng tau kalau dirinya diledek. Itu yang membuat dia mengamuk. Kebetulan saja, secara tradisi jubah matador warnanya merah sejak awalnya. Jadi terciptalah anggapan bahwa banteng mengamuk bila melihat warna merah.

Lain dengan fungsi warna dalam pemasaran sesungguhnya. Warna memang sangat “berkuasa” sekali. Menurut “Color Marketing Group”, sebuah organisasi berkantor pusat di Alexandria, Virginia, yang memiliki anggota lebih dari 1000 ahli warna diseluruh dunia, setiap tahun membuat 2 prediksi tentang tren dari warna. Group ini, juga memiliki riset yang sangat beragam dan dalam soal warna. Misalnya saja dalam riset mereka menemukan bahwa :
- Warna membantu untuk meningkatkan ”brand recognition” sampai diatas 80%. Tak heran apabila ”brand leader” seperti Coca Cola, Marlboro, dan McDonald, logonya semua memiliki warna merah. Warna yang paling agresif.
- Dalam hal kemasan, warna juga membuat orang lebih mudah membaca dan mengenali tulisan, apabila warna-warna tertentu digunakan. Riset mengukur peranan warna itu hingga lebih dari 40%.
- Warna juga membantu kita belajar. Penggunaan warna yang efektif membantu dan meningkatkan daya serap murid dari 55% hingga 78%
- Warna membantu konsumen untuk mencerna informasi hingga lebih baik hingga 73%
- Iklan berwarna memiliki daya tarik 42% lebih tinggi dibanding dengan iklan hitam putih.
- Akhirnya warna seringkali menjadi 85% alasan mengapa konsumen membeli produk tertentu. Jadi warna memang memiliki peran strategis.

Untuk semester kedua tahun 2007, Color Marketing Group memprediksi 2 trend warna. Yang pertama adalah Pink atau merah muda yang trendy. Menurut Color Marketing Group, Pink tidak lagi memiliki persepsi feminin atau warna ABG yang ke-kanak-kanakan atau manja. Karena Pink gencar digunakan dalam kampanye anti kanker payudara dan AIDS, warna Pink telah menjelma menjadi warna baru yang menjadi sebuah simbol kesehatan, kebersamaan dan solideritas. Tentu saja bukan warna Pink yang terlampau muda, tetapi Pink yang lebih tua warnanya. Jadi jangan heran kalau produk-produk konsumen tahun ini banyak yang menjagokan Pink. Ini warna baru yang canggih.

Warna kedua yang sedang favorit sejak musim panas 2007, adalah warna putih yang gemerlapan. Fashion designer dan desainer industri mulai gencar mempromosikan warna putih. Mulai, dari mobil, tas, arloji, hingga baju. Pokoknya semua putih berkemilai. Putih dianggap warna organik baru, yang memperlihatkan status premium. Misalnya warna putih berkemilau dari mutiara.

Warna juga menjadi simbol, baik budaya dan religi. Tetapi yang paling penting warna adalah titik pusar keberuntungan pemasaran. Sejumlah kasus studi sudah pernah didokumentasikan menjadi bukti-bukti nyata keampuhan warna. Christine Mau, Associate Director Of Packaging Graphics, Kimberly-Clarck Corporation menjelaskan bahwa setiap tahun mereka minimal mencoba menerapkan tren warna dalam kemasan produk mereka. Menciptakan corak dan perpaduan warna yang mampu menjadi stimulus yang merangsang konsumen untuk membeli produk mereka.

Konon salah satu gosip yang beredar bahwa kenapa Pepsi tidak bisa mengalahkan Coca Cola, semata-mata karena logonya yang berwarna biru dianggap inferior dibanding warna merah logo Coca Cola. Merah memang warna favorite. Konon warna ini paling kuat impresi dan stimulusnya untuk merangsang rasa lapar kita. Hampir semua resto franchise kelas dunia, warnanya selalu merah, seperti Mcdonalds, KFC, Pizza Hut dan seterusnya.

Christopher Webb, Trend and Color Designer dari General Motors Corporation menuturkan sebuah pengalaman unik. Secara statistik, warna abu-abu hanya memiliki penetrasi pasar sekitar 4.9 % bila dipakai sebagai warna mobil. Pada tahun 2006 General Motors merenovasi warna abu-abu mereka, dengan menampilkan warna abu-abu baru yang mirip dengan warna titanium dan kulit ikan hiu. Ternyata penetrasi pasar warna abu-abu mereka meningkat menjadi 6.6%. Lagi-lagi kesimpulan yang menunjukan warna peranan warna memang strategis luar biasa.

Warna juga sangat berperan dalam arena politik dan olahraga. Warna menentukan identitas dan stimulus emosi yang berbeda. Warna team sepakbola Jakarta adalah oranje. Tak heran apabila warna ini diperebutkan oleh 2 kubu yang beraturng dalam pemilihan gubernur Jakarta 2007. Hampir keduanya memiliki atribut kampanye berwarna oranje. Sehingga Mpu Peniti sendiri menjadi bingung, karena tidak bisa membedakan satu dengan lain-nya. Malah ketika dalam piala Asia baru-baru ini, Indonesia dikalahkan Korea Selatan, yang disalahkan juga warna kostum Indonesia yang putih-putih. Konon warna ini kurang garang dan mempengaruhi tempo dan semangat pertandingan.

Warna juga menjadi referensi kita. Misalnya hijau adalah tanda buah masih mentah. Hijau adalah tanda aman, misalnya dalam rambu lampu lalu lintas. Sehingga warna hijau identik dengan sesuatu yang natural, dan alami. Hijau adalah warna keseimbangan lingkungan. Biru mengingatkan kita kepada langit dan laut. Warna yang menentramkan dan membuat kita merasa sejuk. Biru menjadi referensi segar dan sejuk. Sehingga ini menjadi warna populer untuk minuman, terutama air mineral. Perusahaan yang konservatif juga cenderung memilih warna biru sebagai logo, semata-mata karena referensi segar dan sejuk itu. Warna-warna metalik biasanya memberikan kita referensi sebagai warna premium dengan status tinggi. Misalnya, emas dan perak. Tak heran apabila kedua warna ini merupakan favorit warna untuk menunjukan positioning dan status yang sama.

Warna memang tidak bisa diremehkan. Warna kini dipelajari dengan serius, sebagai medium kreatif pemasaran yang memiliki nilai strategis. Apa jadinya kalau dunia kita tidak lagi berwarna ?

Friday, July 27, 2007