Monday, April 30, 2007

KELEMBUTAN

“I cannot teach you violence, as I do not myself believe in it. I can only teach you not to bow your heads before any one even at the cost of your life.” - Mahatma Gandhi


SEORANG teman saya terkenal punya sifat emosional. Ia memiliki julukan sumbu pendek, semasa kuliah dulu. Berkali-kali kami ikut berkelahi hanya gara-gara membela dirinya. Belum lama ini, ketika berjumpa kembali dengannya, saya melihat perkembangan luar biasa. Ia jauh dari kesan emosional. Suaranya perlahan, tertata, dengan kesabaran dalam. Saya dan teman-teman mendesak dirinya untuk bercerita.

Alkisah, usai kuliah ia jatuh cinta pada seorang gadis Jawa dari keluarga terpandang. Sistem pendidikan di keluarga ini keras sekali, sehingga si gadis Jawa itu halus dan sabar luar biasa. Teman saya menganggap gadis Jawa ini serba lelet. Entah kenapa, Tuhan punya rencana sendiri. Mereka menikah juga, di Eropa, ketika keduanya kuliah pascasarjana.

Selama 10 tahun menikah, mereka terombang-ambing prahara. Maklum, teman saya itu ketika kuliah terkenal sebagai playboy. Namun, perkawinan itu selamat hingga kini. Teman saya ahirnya berubah. Kini, ia dikenal sebagai pemimpin penyabar, juga arif dan bijaksana.

Ia menyebut ilmu istrinya sebagai manajemen kelembutan. Teman-teman yang mendengar cerita ini terharu, dan manggut-manggut. Ceritanya memang luar biasa: bagaimana kelembutan bisa mengubah perilaku.

Saya ingat ajaran klasik Cina dari I Ching. Intinya, bila alirannya tertahan, air akan berhenti sejenak, menambah volumenya, akhirnya meluber melewati rintangan. Barangkali inilah yang diperlukan Presiden Amerika, George Bush, agar mau sadar dan menyurutkan niatnya berperang melawan Irak.

Manajemen kelembutan memang unik. Saya ingat ajaran mentor saya, Mahatma Gandhi, tentang ahimsa, yaitu cinta dan damai. Gandhi percaya, ahimsa dapat merangkul siapa saja, kekuatannya dahsyat tanpa batas. Kita mungkin sukar percaya bahwa sesuatu yang lemah dan lentur mampu mengalahkan yang keras. Sebab, sejak kecil secara fisik kita diajari: hanya benda keras seperti palu dan martil yang bisa memecahkan batu dan tembok.

Kekuatan ahimsa secara filosofis adalah pada pandangan bahwa tak semua musuh harus ditumpas. Ahimsa menawarkan alternatif, daripada menghancurkan musuh, lebih baik merangkulnya dengan cinta dan damai.

Teman saya bercerita, ketika pertama kali istrinya tahu ia berselingkuh, sang istri memperlihatkan lebih banyak cinta dan damai.
Mulanya ia senang-senang saja, menganggapnya bodoh dan lemah. Lama-lama ia malu sendiri. Akhirnya ia sadar, yang sesungguhnya bodoh dan lemah adalah dirinya sendiri.

Ia lalu menerapkan manajemen kelembutan di kantor. Anak buahnya, dan para stafnya, awalnya kaget. Kalau biasanya ia memarahi staf yang berbuat salah, kini ia berbalik mengajarkan di mana letak kesalahan itu, dan menjelaskan hal yang benar. Ia tak menjadi palu atau martil yang menghancurkan.

Anak buah dan para stafnya pun senang karena mereka belajar banyak dari kesalahan yang mereka perbuat. Yang paling ajaib adalah terciptanya budaya malu. Perlahan tapi pasti, manajemen kelembutan itu menunjukkan hasil yang jitu.

Suasana kantor juga menjadi baik. Politik kantor menurun. Gosip makin hilang. Produktivitas pun ikut tumbuh dengan sehat. Kami bisa melihat hasilnya pada teman saya yang berubah 180 derajat. Hanya saja, perlu diingat, manajemen kelembutan bukan berarti kita menjadi plin-plan dan tidak tegas. Buktinya adalah Gandhi sendiri yang tetap tegas dan konsisten menjalankan ahimsa, walau harus membayar mahal dengan nyawanya.

Ketika Gandhi akhirnya tertembak mati pada 25 Januari 1948, Albert Einstein berkomentar: di masa-masa mendatang, generasi penerus kita akan sulit percaya bahwa pernah ada manusia seperti Gandhi.

Wednesday, April 25, 2007

Wednesday, April 18, 2007

STRATEGI NEMPEL

Dekat airport Surabaya, ada satu restoran seafood yang selalu menjadi favorit saya. Di depan restoran kebetulan ada satu toko kecil yang menjual buah tangan atau oleh-oleh, seperti kerupuk dan emping.Beberapa tahun lalu, ketika belanja di toko itu, pandangan saya tertuju pada sebungkus kerupuk. Pembungkusnya tidak lazim. Bukan dari dus biasa. Melainkan dikemas dengan kotak tripleks. Lalu diberi label kertas dengan dibubuhi tanda tangan. Memang terlihat eksklusif dan bikin orang penasaran.Iseng saya bertanya ke si penjual. Dengan muka sangat serius, sang penjual bercerita bahwa kerupuk ini sangat istimewa. Jumlahnya terbatas. Istilah zaman sekarang, eksklusif atau limited edition. Mendengar hal ini, saya makin penasaran dan ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Maka, berceritalah sang penjual.Alkisah, big boss dari perusahaan kerupuk ini punya kebiasaan sangat unik dan istimewa. Setiap kali beliau sedih atau kena stres, sebagai pelampiasan biasanya sang big boss akan ke pasar sendiri, mencari udang paling segar dan paling baik. Lalu dengan bahan-bahan terbaik itu dibuatlah kerupuk udang eksklusif ini. Secara berseloroh, sang penjual berkilah bahwa kerupuk udang ini hanya ada pas big boss-nya bersedih hati. Istilah dia, ini kerupuk sedih hati.Hampir dua bulan lalu, saya sempat makan siang di Surabaya dengan sang big boss pemilik perusahaan kerupuk itu. Saya bertanya tentang cerita kerupuk sedih itu. Beliau malah tertawa mendengar cerita itu. Katanya, kebanyakan isi cerita itu tidak benar. Tetapi soal bagian bahwa udang bahan baku dipilih dengan cermat memang benar. Pembuatannya masih menggunakan tangan 100% juga benar. Dan memang dikerjakan dengan sangat telaten dan hati-hati serta kontrol mutu yang serba terjaga.Sambil garuk-garuk kepala, akhirnya saya jadi sadar juga. Pantas setiap kali saya mampir di toko itu, kerupuk sedih selalu saja ada, walau jumlahnya tidak banyak. Anehnya, saya tidak memasalahkan kenapa misalnya kerupuk sedih selalu ada? Apakah memang betul sang big boss terus-menerus bersedih. Barangkali cerita itu sudah sedemikian nempel pada diri saya, sehingga hal-hal lain yang mestinya lebih pokok saya abaikan begitu saja.Fenomena nempel ini penting dan strategis. Kadang dalam berjualan, kita hanya punya satu kesempatan untuk "menempelkan" satu atribut ke dalam sanubari para pelanggan. Apa yang kita "tempelkan" menjadi isu kritis dan kunci keberhasilan sekaligus. Karena kalau saja apa yang nempel itu punya pesona dan karisma, maka ia akan menyebar dan menjadi cerita panas dari mulut ke mulut. Pertanyaannya, bagaimana strateginya untuk bisa berhasil "menempelkan tempelan yang pas"?Di Restoran Dapoer Babah Jakarta, dijual sejumlah kue kering dengan resep-resep "tempo doeloe". Kue kering ini kebetulan dibuat di Malang dengan gaya yang masih sangat tradisional. Pembuatnya kebetulan seorang ibu-ibu tua.Mungkin bagi Anda, kue kering ini tidak ada istimewanya. Karena produk sejenis ini masih dapat Anda jumpai di mana-mana. Untuk itulah saya merasa perlu ada "tempelan" yang super-istimewa.Kami menyediakan kue kering untuk dicoba gratis oleh pelanggan. Tetapi selalu kami tempelkan cerita bahwa sang pembuat sudah lanjut usia. Kami juga selalu tempelkan kalimat sakti bahwa ibu selalu membuatnya dengan penuh cinta kasih. Kue kering ini adalah bukti nyata kalau sesuatu dilakukan dengan penuh cinta kasih, maka hasilnya akan sangat luar biasa.Cerita seperti itu selalu saja membuat yang mendengar terharu. Mereka mengaku ingat kepada nenek atau ibu mereka. Hasilnya, mereka selalu tergerak untuk membeli. Kue keringnya laku keras berkat "tempelan" cerita di atas.Pemasar di mana pun selalu mencari tempelan terkini untuk memasarkan produk-produk mereka. Tempelan yang paling populer tentu saja yang paling menyentuh secara emosional. Di produk-produk makanan dan minuman, tempelan bahwa produk ini mampu membuat kita lebih sehat dan pintar selalu populer luar biasa.Chip Heath dan Dan Heath, dua periset dari Amerika, bertahun-tahun melakukan riset tentang "apa yang menempel" di kepala pelanggan. Lalu menjadikannya sebuah buku yang sangat kontroversial berjudul MADE TO STICK --Why some ideas take hold and others come unstuck.Menurut mereka berdua, biasanya yang nempel itu cerita bukan fakta. Cerita yang menyebar biasanya memiliki tiga elemen. Pertama, ceritanya sederhana. Ini penting. Kalau ceritanya jelimet dan kompleks, biasanya akan sulit menyebar. Kedua, cerita yang bagus pasti selalu dramatis, yang memiliki sisi emosional yang dalam.Semakin emosional cerita itu, biasanya akan semakin nempel di kepala pelanggan. Dan ketiga atau yang terakhir, cerita yang selalu nempel di kepala kita adalah yang memiliki elemen kejutan atau yang tidak biasa. Kombinasi ketiganya inilah yang membuat sebuah cerita nempel sedemikian rupa.Di atas ketiga fakta tersebut, agar produk Anda laris, maka "tempelan" yang Anda ciptakan bukan saja harus nempel, tetapi yang paling penting adalah bagaimana membuat yang mendengar tergugah untuk ikut menyebarkannya. Ini kunci sukses komunikasi getok tular.

Sunday, April 15, 2007

Friday, April 13, 2007

HARUS YAKIN

Hidup di Indonesia perlu keyakinan yang mahagede. Begitu kilah seorang sutradara film yang saya kenal. Sambil berseloroh ia mengatakan, semua penipu berhasil menipu korban-korbannya hanya gara-gara ia memiliki keyakinan luar biasa, sehingga ia bisa tampil sangat meyakinkan. Ini strategi penting.Seorang sopir bercerita bahwa ia sering mengecoh polisi ketika melewati daerah "3 in 1". Caranya sederhana, ia dengan meyakinkan memberi hormat ala militer kepada polisi yang menjaga. Biasanya polisi yang menjaga jadi gugup dan membalas hormat kembali. Pas hormat selesai, sang sopir sudah melewati sang polisi. Tentu saja tidak selalu ia berhasil mengecoh sang polisi.Menurut sang sopir, kalau polisinya kalah yakin dengan sang sopir, biasanya berhasil manjur. Ia hanya tertangkap kalau polisinya lebih yakin bahwa si sopir itu menipu dengan memberi hormat ala militer. Tapi, menurut sang sopir, biasanya 80% berhasil.Dalam pakem ilmu berjualan, tampil yakin juga kunci penting. Seorang salesman hanya akan berhasil kalau tampil meyakinkan, ngomong-nya juga meyakinkan, dan gayanya sangat meyakinkan. Tapi, kalau ia ngomong saja sudah plintat-plintut, maka 90% jualannya akan gagal total. Apalagi kalau ia tampil meragukan.Pernah seorang salesman mengeluh tentang performance-nya yang jauh dari target. Memang bicaranya cukup meyakinkan. Pengetahuan tentang produk fasih banget. Sayang, cara ia berpakaian rada-rada nyeleneh. Ia sangat menyukai dasi kartun atau karakter Walt-Disney, yang menurut dia lucu. Ia juga suka memakai warna kemeja seperti hijau pupus atau kuning tua. Menurut dia, itu warna favoritnya. Tapi kita yang memantau penampilannya sangat merasa tidak nyaman. Ia gagal tampil meyakinkan.Bertahun-tahun saya mendesain kemasan produk, selalu saja pengusaha pemilik produk minta nama berbau luar negeri. Menurut sang pengusaha, merek harus memberi kesan luar negeri, seperti layaknya produk impor. Biar meyakinkan, begitu alasannya.Desain kemasan juga sering diselaraskan bergaya atau mirip dengan produk sejenis yang lazim beredar di luar negeri. Juga dengan maksud meyakinkan calon pembeli.Jadi, jangan heran kalau merek-merek produk lokal banyak yang meniru merek luar negeri. Semata-mata agar tampil meyakinkan. Sebaliknya, produk-produk tradisional malah tampil terbalik. Misalnya saja jajanan tradisional di daerah. Biasanya kemasannya dibuat justru harus setradisional mungkin. Mulai merek, warna, hingga grafis kemasan. Kalau tampil modern dan terlampau keren, malah tidak akan laku. Bakal dijauhi konsumen. Alasannya, sudah terlampau modern, rasanya pasti tidak tradisional lagi.Jadi, tampil meyakinkan bukan masalah klimis, keren, dan modern. Kalau dukun tampil sangat perlente memakai jas dan dasi, pasiennya juga bakal curiga. Dukun mungkin harus tampil lebih tradisional. Tampil meyakinkan adalah masalah setting yang pas dengan produk yang akan kita jual.Empat periset, S. Segerstrom, S. Taylor, M. Kemeny, dan J. Fahey, pada 1998 pernah memublikasikan sebuah penelitian di Journal of Personality and Social Psychology, yang menyebutkan bahwa mereka yang memiliki sikap hidup optimistis biasanya hidup lebih sehat, tidak mudah terserang penyakit, dan berumur lebih panjang.Nah, menurut Mpu Peniti, bersikap optimistis dan meyakinkan bukan saja harus ditampilkan ke luar karena tuntutan profesi kita, melainkan juga ke dalam sebagai cermin sikap kita dalam menghadapi tantangan hidup. Istilah beliau, yakin luar-dalam.Price Pritchett, CEO Pritchett LP, baru saja meluncurkan buku saku yang sangat menarik. Judulnya, Hard Optimism. Dia menampilkan sejumlah fakta tentang bagaimana sikap optimistis bisa mengubah hidup kita. Misalnya saja, majalah American Psychologist, pada edisi ke-43 tahun 1988, memperlihatkan bahwa calon-calon Presiden Amerika yang lebih optimistis biasanya mudah menang dalam pemilu. Para pemimpin dan CEO bisnis yang berhasil memiliki kebiasaan menggunakan ungkapan bahasa yang optimistis empat kali lebih banyak dibandingkan dengan ungkapan bahasa yang negatif dan pesimistis.M. Seligman, penulis buku Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life, membeberkan bahwa salesman yang optimistis biasanya lebih tinggi prestasinya dibandingkan dengan salesman yang pesimistis dan mudah menyerah. Para petugas customer service yang lebih optimistis terbukti lebih kreatif, ramah, mudah menolong, dan sangat mengormati pelanggan dibandingkan dengan mereka yang pesimistis.Demikian juga dalam olahraga. Prestasi para atlet yang bersikap optimistis jauh lebih tinggi dibandingkan dengan atlet-altlet yang pesimistis. Melihat bukti-bukti dan fakta di atas, seorang pemimpin besar wajib memiliki sikap "optimistis sekeras baja" untuk bisa tampil yakin dan membuat pengikutnya yakin seyakin-yakinnya. Celakanya, kita belum menemukan pemimpin sekelas ini.

Thursday, April 05, 2007

EKONOMI KREATIF

Tempo Magazine
No. 45/VI
July 11 - 17, 2006

Stifling Creativity

Several countries are triggering the development of their respective creative
industries. The government however is still dilly-dallying.

IN a European-style "castle," hundreds of young people are thinking and
working hard in front of computer screens. With their skilled hands, several
animated films have been created and these have already penetrated the US and
European markets. Two of these hard-working young people have even been rewarded
with international prizes.

Carlos Adventure was named the best animated children's film serial at the
International Animation Festival in Tenerife, Spain, in 2002. Another film, Jim
Elliot Story, received a Golden Remy Award in the 2006 international film
festival film in Houston, Texas, USA.

Perhaps you will find it hard to believe that these two films were not
created by film kings in America or Europe, but rather by the hands of two creative
young people aged between 20 and 30. They only work in a five-floor ruko
(shop-house) in the Pasar Baru area of Jakarta, which is better known as a shopping
center for textiles and shoes.

This is where Castle Production, which was set up in 1998, has its
headquarters. According to Ardian Elkana-both owner and head of this animation studio,
the largest in all of Indonesia-in the period of a year, Castle produces 13
episodes of 2D animated films and 13 episodes of 3D animated films. For the past
six years, all of these films have been exported and financed by foreign
institutions.

Financing has come from several European countries, such as Spain, France,
England, Germany and Switzerland. The producers and scriptwriters come from
America. "There's no one domestically who is capable of covering the costs
involved," said Ardian, who has a Master of Business Administration degree from the
University of Chicago, USA. This is easy to understand, bearing in mind that
the tariff level per episode is US$40,000 (around Rp370 million).

This tariff is in fact quite small when compared to the level of tariffs of
US animation giant, Disney, which reach some US$300,000. But, due to the fact
that the tariff is low, Indonesia is attracting the attention of financiers who
have started to move their orders from Korea and Taiwan-which are already
considered to be too expensive-to India, China or the Philippines.

Unfortunately, Indonesia is not able of making the greatest use of this
unexpected opportunity. One of the obstacles is the limited amount of qualified
human resources in the animation sector. Compare this with the situation in
India. There, at least 400 animators work in the country's largest animation
company. Not surprisingly therefore, hundreds of animated films can be created and
supplied every year to MGM, Disney or even Universal.

There are also vast opportunities for Indonesia's creative industry in the
multimedia and graphic design sectors. PT Elasitas, which was set up by Calvin
Kizana, 32, certainly showed this by creating the website for Nokia, the
cellular telephone company from Finland.

The design of the Nokia bookmark created by this programmer, who has worked
in both Singapore and the US, has already been translated into 17 languages and
is now used in a total of 35 countries. Because of this success, the company
has continued to develop. Whereas at the start, it only had one computer and
one employee, there are now already 60 workers.

Another source of wealth is its product package-design capability. In this
sector, Indonesia's performance has actually been very encouraging. Proof of
this can be seen in the fact the packaging design for Wall's Ice Cream created by
PT AdMire has been exported to Thailand. As regards price, the owner of
AdMire, Andi S. Boediman, acknowledged that the cost of product and packaging
design in Indonesia is far cheaper than the cost of services offered by foreign
design companies. In Indonesia, one piece of design work is only worth between
Rp10 million and Rp25 million, while for the design of one Blue Band margarine
can in England, the tariff reached Rp800 million.

Andre, who is Chairman of the Digital Graphics Forum, has also pointed out
that Indonesia needs to clean house as soon as possible in order that it will be
able eventually be capable of competing within the global creative industry.
This is because, according to the creator of the first animated logo for the
Seputar Indonesia program on the RCTI television station 10 years ago,
"Compared with Thailand and Malaysia alone, we are already five to 10 years behind."

l l l

THE creative industry, which is based on creativity, expertise and individual
skill, has the potential to bring in prosperity and more new jobs. From the
results of mapping carried out in England, starting from 1998, it is known that
this industry can be regarded as the fastest growing.

In 2002, this sector, which is based on intellectual property rights,
contributed 7.9 percent of England's gross domestic product (GDP). During the
1997-2000 period, this sector grew at an average rate of 9 percent per year-far above
England's average economic growth rate of only 2.8 percent. Every year, this
sector provides new jobs for more than 1.9 million people.

According to Andi, this is the fourth stage in the economic development of a
nation, after going through economic periods based on agriculture, industry
and information. In England, there are 13 sectors in this industry category.
They include advertising, architecture, design, film, music, the performing arts,
television and radio, plus computer services and software.

In terms of development, the growth of the creative industry has been truly
astonishing. Just consider the market value of IBM, Intel and Microsoft.
Together, they are worth 2.3 times more than the automotive industry. Consider also
film giant Disney, whose corporate value has grown from US$2 billion to US$22
billion in a space of only 10 years.

It's even more amazing when one looks at the economic potential that can be
produced by the global games industry. The market value by 2004 alone had
already reached US$20 billion (approximately Rp186 trillion). Even more fantastic
is that this was achieved in a period of only 20 years-growth that was more
than three times faster than that achieved by the Hollywood film industry.

This rapid growth of the games industry was a true blessing for Europe. From
payments for downloads alone, it is estimated that this region will earn
approximately US$2 billion (around Rp18.6 trillion) in 2007, with an annual growth
rate of 25 percent.

Several countries in Asia are also active in the development of their
respective information and digital industries. These include India, Japan, Korea,
Hong Kong and Taiwan, and all have very bright futures. In India, for example,
last year the animation industry had already earned a total of US$1.5 billion
(approximately Rp14 trillion), and will experience annual growth in the region
of 30 percent. In addition, there are the proceeds from between 700 and 800
films that are produced every year.

Aware of this huge future potential, Singapore continues to organize. The
city-state has presented a program planned to develop a creative industrial
center, which is referred to as a creative cluster. The three creative industry
clusters to be developed include media (the Media 21 cluster), design (the Design
Singapore cluster) plus arts and culture (the Renaissance City cluster).

Through this program, the economic base of Singapore will move from an
information economy to a creative economy, by blending together technological
creativity, economic creativity and creativity encompassing arts and culture. The
target is for the contribution from the creative industry to Singapore's GDP to
rise from its current level of 3 percent to between 6 and 7 percent by the
year 2012. "The wish of Singapore is to become what it calls the Renaissance
City, which will eventually be the center of modern Asia," said Linda Hoemar
Abidin, Chairperson of the Administration Board of the Kelola Foundation.

So what does the future hold for Indonesia? Apparently the country's creative
industry has not yet received sufficient serious attention from the
government. "Until now, bureaucrats have only paid any attention to anything that has
an economic source base," said business observer Kafi Kurnia. In fact, the vast
creative potential that is possessed by Indonesia could produce added value
for the economy.

Just consider the potential of the batik, furniture, painting and sculpture
companies stretching across the islands of Java and Bali. Up to now, many
people's companies are in suspended animation but they keep going. As a result, the
added value created by many is now being enjoyed by foreign companies. As an
example, Kafi pointed out that in a boutique in Las Vegas, USA, a single
kebaya (traditional blouse) from Indonesia is for sale with a price tag of some
Rp200 million!

In economic terms, the contribution from the film industry can also be said
not to be that small. Many people have jobs in the production process of
domestic films, of which last year a total of 50 were produced. And remember, the
government has earned its share form these as well. How? Because approximately
20 percent of the proceeds of cinema ticket sales have to be paid in taxes.

This means that from one film alone, for example Ada Apa dengan Cinta, which
earned somewhere around Rp24 billion, approximately Rp5 billion found its way
into the state's coffers. "Half of this was absorbed by the regions," said
Mira Lesmana, producer. "Regional governments are not however aware of this."

Based on this state of affairs, the British Council has started to collect
data on Indonesia's creative industry. From this, according to Yudhi
Soerjoatmodjo, Art Manager of the British Council, "We will end up knowing just how
important its contribution is to the Indonesian economy." -- Metta Dharmasaputra

Wednesday, April 04, 2007

ANTI BISNIS

Setiap pengusaha selalu was-was, untuk mencari lahan baru untuk pertumbuhan bisnis dan laba, yang memungkinkan untuk selalu dipertahankan. Atau “sustainable growth and profit” begitu istilah keren-nya. Lalu dimana mencarinya ? Ini yang bikin mumet. Begitu keluh seorang pengusaha kepada saya. Terus terang kebanyakan pengusaha cenderung merambah ke bisnis lain. Istilahnya pengembangan horizontal atau diversifikasi usaha. Krtiknya cuma satu. Kadang mereka terjebak dibisnis yang bukan bidang keahlian mereka. Melenceng dari “core business”. Lama-lama bisnis mereka menjadi gurita yang merepotkan gerak dan langkah bisnis mereka. Nah, pengusaha tadi minta advis kepada saya. Beliau ingin perspektif baru ala “anti marketing”, yang berpikir terbalik. Apakah ada juga anti bisnis ?

Ini pertanyaan yang menggugah. Karena sesungguhnya memang ada juga “anti bisnis” dalam tanda kutip. Atau pengembangan usaha secara lateral. Kalau kita mau meminjam istilah Edward de Bono. Pionir pemikiran lateral. Beberapa jenis usaha sudah memperlihatkan fenomena dan gejala anti bisnis. Misalnya saja di bisnis “kesehatan” atau “healthcare”, konon bisnis utama yang dulunya adalah merawat dan menyembuhkan orang sakit, kini diancam oleh “anti bisnis”-nya yaitu “wellness”. Bisnis untuk mencegah orang sakit. Bisa anda bayangkan sendiri, berapa potensi dan peluangnya, orang-orang yang takut jatuh sakit. Pasti akan jauh lebih banyak dibanding dengan orang sakit. Seorang dokter berkelakar kepada saya, bahwa saat ini dokter tugasnya adalah merawat orang sakit. Tapi dengan kemajuan teknologi, dan perubahan persepsi, tugas dokter tidak lama lagi, akan terbalik. Yaitu merawat orang sehat agar jangan sampai sakit. Fenomena inilah yang disimpulkan sebagai “anti bisnis” yang baru.

Mpu Peniti pernah punya mengolok-olok saya. Suatu hari saya mengajak beliau bersantai ngopi di Starbucks. Saat kami sedang asyik menikmati kopi. Mpu Peniti juga asyik melihat suasana sekeliling. Disebuah pojok beberapa ibu-ibu sedang asyik bergosip ria, sambil merokok bersama-sama. Dibeberapa pojok yang berbeda, ada pula sekelompok anak muda yang sedang bercanda riang. Tak ketinggalan ada beberapa pasang muda-mudi yang nampak asyik berpacaran. “Ini, edan total”, begitu sanggah Mpu Peniti. Menurut beliau, dulu ngopi semata-mata adalah kegiatan untuk menghilangkan ngantuk. Bangun pagi, kalau ngantuk, dan masih lesu, maka kita minum kopi. Pas dengan fungsi kopi sebagai stimulan. Eh, sekarang terbalik. Kita justru ke café, untuk relax sembari minum kopi. Kalau dipikir-pikir betul juga analisa beliau. Konsep terbalik seperti ini justru malah sukses.

Jangan-jangan, kemunculan film-film horor yang sedang laris manis saat ini, juga fenomena “anti film” yang baru. Bayangkan saja, dulu kalau kita nonton film kita justru pengen mendapatkan hiburan. Film komedi membuat kita tertawa. Film action membuat kita tegang. Dan film drama membuat kita menangis. Tertawa, tegang dan menangis merupakan pakem lama film yang mendefinisikan hiburan yang melegakan. Kriteria kita menonton film juga cukup kompleks, mulai dari jalinan cerita, aktor dan aktris terkenal yang menjadi pemeran utama, hingga musik dan sutradaranya. Tapi kalau film horor, mungkin semuanya bertolak belakang dengan semua pakem itu. Seorang psikolog anak, mengatakan pada saya, bahwa serem dan kaget adalah jenis hiburan baru. Ironisnya seorang sutradara film menuturkan bahwa membuat film horor saat ini, jauh lebih mudah. Jumlah hari untuk shooting biasanya lebih pendek. Aktor dan aktris tidak perlu terlalu yang terkenal sekali. Karena tuntutan berakting seringkali juga lebih sederhana. Yang penting bisa berteriak dan memperlihatkan ekspresi muka ketakutan.

Dalam bisnis media, juga sudah muncul banyak “anti televisi”. Misalnya saja MTV. Yang menyuguhkan musik seratus persen. Atau CNN yang menyajikan berita terus menerus. Konon baik MTV dan CNN lebih mirip dengan akuarium. Hampir tiap kamar tidur anak-anak remaja di kelas menengah atas, selalu akan ada TV kecil. TV kecil ini mirip akuarium. Biasanya sepulang sekolah, ketika mereka masuk kamar dan mengerjakan PR, mereka menyalakan TV dan saluran yang mereka pilih adalah MTV. Kalau mereka menyetel saluran lain, mungkin perhatian mereka harus terpaku kepada TV tersebut. Lain dengan MTV, cukup kita dengarkan musik dan lagunya. Sang remaja masih bisa mengerjakan kegiataan lain. Kalau kebetulan musiknya enak, sang remaja baru menoleh dan menyimak MTV. Bila tidak ia lanjut mengerjakan kegiataan lain. Saya mengalami hal yang sama dengan CNN. Setiap kali bertugas keluar kota, masuk hotel, otomatis ketika saya menyetel televisi, CNN menjadi opsi pertama saya. Betul-betul mirip akuarium. Yang menemani saya agar tidak sepi. Sayapun hanya sesekali melihat dan menyimak CNN, itupun kalau saya mendengar berita yang menarik buat saya. Selebihnya biasanya CNN hanya menemani saya, saat saya bekerja di komputer jinjing saya. Televisi yang tadinya memaku perhatian kita dengan membuat kita menonton, kini kehadirannya diperkaya dengan “anti televisi” yang hanya membuat kita sesekali menonton. Selebihnya mereka hanya menjadi teman akrab yang mirip dengan akuarium. “Anti bisnis” baru menjadi fenomena yang tabirnya terbuka sedikit demi sedikit. Untuk bisa memanfaatkannya, memang anda harus berpikir lateral. Bukan horizontal atau vertikal biasa.

Thursday, March 29, 2007

Sunday, March 25, 2007

KAFI KURNIA - The Laughing Marketing Guru

Jakarta Post - Features - August 20, 2003

T. Sima Gunawan, Contributor, tabita@cbn.net.id

Kafi Kurnia was talking about corruption during a radio program last week when he suddenly burst into laughter. One of the listeners, became upset and immediately called the radio station to warn him to be more serious in addressing such problems.

Kafi apologized, explaining that he had no intention to laugh at anyone.

Indeed, Kafi laughs a lot. He attributes his ability to laugh, even during the hard times, to John Irving. "He talked about tragedy in his books, but still he could make us laugh at his dark humor."

But Kafi's own story is far from tragic. At 43, he is known as a successful consultant in the fields of communication and marketing. A managing director of Interbrand, and a consultant for a Singapore-based company, he is often invited to speak at universities around the country. Every Wednesday he talks on the radio and he writes regularly. A collection of his writing was published in 2001, and his second book will hit the shelves next month.

He used to work for the Hero Group and moved to another company -- which holds the license for Levi's, Nike and other international brands -- before he established his own consulting firm.

Among his clients are government offices, including the Ministry of Health and the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries. He was asked for his advice on humanitarian programs in Aceh. And the Ministry of Maritime Affairs asked him to devise promotional strategies for the launching of the year of the sea.

The government, he said, lacks the skills needed to promote their own program.

"It's not that we are a low profile nation. Actually that is just a myth. Many of us are actually very high profile," he said.

One of the reasons why government officials lack in promotional skills, according to Kafi, is because of the centralized bureaucracy. Civil servants are accustomed to asking for petunjuk, or direction, from their supervisor and will not act on their own initiative.

He said that some programs promoted by the central government were very successful -- such as the family planning program -- as Indonesia was able to sharply curb its population growth. The claim of some activists, who said that coercion was used in the implementation of the program, was just a reflection of the era.

"Well, if the officials got results at any cost, was that so unusual? At that time it happened."

Kafi has a great interest in politics and the economy. He could happily spend hours discussing potential next-presidents. And he enthusiastically argues that Indonesia needs the leadership of an entrepreneur, in order to establish the welfare of the people.

"We have so many excellent commodities we could sell internationally, unfortunately, we cannot sell them," he lamented.

His first lesson in politics was from William Booth, the founder of the Salvation Army -- which opened many schools across the country. Booth believed that it was impossible to teach the people about salvation if they were hungry.

"This dependency is also the case with politics and the economy. They are one. Politics can not work without money," Kafi said on Friday, while having his lunch - spaghetti bolognaise, mango juice and an espresso - at a five-star hotel cafe in the heart of Jakarta.

Wasn't he afraid of a bomb attack?

"I was thinking of boycotting such places, not because of the bomb threat, but because of the excessive yet inappropriate security measures. There were times when I was checked not by a bomb detector, but by a metal detector," he grumbled.

Kafi, who was born in Jakarta, was educated in a Protestant elementary school run by the Salvation Army here, and later went to a Catholic high school. He then studied for an MBA degree in marketing at the liberal campus of the New South Wales Institute of Technology in Australia, where he also shaped his spiritual life. The young Kafi was at that time questioning his faith.

"Religion is one of the biggest mysteries," he said. His professor approached the restless young man -- who was looking for all the answers in his spiritual quest -- and said, "Why don't you return to your roots?" And Kafi began to contemplate what it was to be an Indonesian Chinese and started to learn about Eastern philosophy, including the teaching of Tao, Confucius, Gandhi and Buddha.

"Finally, I decided to become a Buddhist," said Kafi.

His parents are Confucians. His late father was a journalist with Harian Indonesia, a Chinese newspaper, and his mother an entrepreneur. He has two younger brothers and is not married. Like other men who remain single, Kafi is experiencing social pressure, especially from his mother. He says he is single because he has not found the right woman.

"A woman should complement me. I believe that a man and a woman are created to complete each other," said Kafi, who loves reading - he always reads in the toilet and in his car.

But without a woman, Kafi does not find his life empty or flawed.

"Its just like a bicycle. A bicycle has two wheels. But there are also monocycles (one-wheeled cycles)," he said.

Wednesday, March 14, 2007

HUMOR DAN PARODI

Seorang pejabat tinggi mau menyomasi sebuah acara TV yang berbau parodi. Alasannya, acara itu mengolok-olok sebuah lembaga tertinggi negara. Olok-olok tadi dianggap tidak edukatif. Olok-olok itu juga dianggap melanggar pakem kritik. Dan olok-olok yang mestinya lucu sudah dianggap tidak lucu lagi. Semua orang jadi bingung. Termasuk Mpu Peniti.

Parodi sebenarnya memang bagian dari humor. Parodi sendiri, menurut kamus, memang humor yang berkarakter mengolok-olok. Persis karikatur. Jadi, kalau acara TV itu dilarang karena alasan mengolok-olok, maka semua karikatur di negeri ini juga harus dilarang. Kalau juga olok-olok dianggap tidak sopan dan tidak sesuai dengan budaya kita, barangkali olok-olok bakal dilarang di segala bidang.

Maka, Lembaga Sensor dan Komisi Penyiaran akan pontang-panting bekerja mengawasi semua humor. Karena mereka harus menginterpretasi mana yang olok-olok dan yang bukan. Tak lama kemudian, humor akan pelan-pelan punah. Dan kita akan jadi bangsa yang judes. Bayangkan saja kalau humor adalah tindakan kriminal. Runyam, bukan?

Padahal, sejumlah buku dan berbagai penelitian mengungkapkan, konon humor adalah bagian dari EQ atau kecerdasan emosi. Lucu dan menggelitik jelas bukanlah sesuatu yang mudah. Melucu itu susah bukan main. Steve Sultanoff, mirthologist danclinical psychologist mengatakan bahwa humor sangat manjur sebagai terapi. ,"Humor, it is a perspective or way of being in the world--a way of enjoying the ups and downs of life."

Humor bisa mengubah perasaan kita, sikap, dan juga biochemistry tubuh. Humor sering digunakan sebagai terapi penyembuhan. Tertawa jelas sangat sehat. Malah tertawa sering disebut "jogging of the internal organs". Tertawa melepas hormon endorphins dalam tubuh manusia. Konon, hormon inilah yang membuat kita rileks dan membuat tubuh kebal dari penyakit. Tertawa terbukti meningkatkan aktivitas otot dan pernapasan, menstimulasi sistem kardiovaskuler, dan mampu meningkatkan toleransi kita terhadap rasa sakit. Juga merendahkan denyut jantung dalam situasi tertawa terbahak-bahak.

Pada 1990, setelah ayah saya wafat, saya mengalami stres berat. Sebelumnya, dokter juga memperingatkan saya untuk mencari pekerjaan yang stress level-nya lebih rendah. Bila tidak, dokter menyatakan bahwa saya akan mengalami stroke dalam usia muda. Saat itulah saya bertemu dengan Mpu Peniti. Beliau pula yang mengajari saya untuk melihat apa pun dengan perspektif lebih luas. Dan beliau juga yang melatih saya agar lebih cerdas emosi dengan lebih peka melihat sesuatu dengan aspek humor. Bukan untuk mengolok-olok, melainkan agar lebih toleran, lebih pasrah, dan lebih menerima segala macam situasi. Kalau kita bisa melihat sisi humor dari setiap kejadian, toleransi kita biasanya lebih terbuka dan dalam.

Humor juga senjata utama dalam ilmu pemasaran. "Humor sells", begitu kredo para pemasar. Itu sebabnya, dalam ilmu periklanan, biasanya desainer iklan dan komunikasi memilih dua medium yang paling favorit: seks dan humor. Tidak semua produk bisa ditampilkan secara sensual dengan medium seks. Tetapi semua produk, tanpa terkecuali, laku dikemas dengan humor. Tidak percaya? Tonton saja iklan-iklan yang ditayangkan televisi kita, hampir lebih dua pertiganya barangkali dikemas dengan gaya humor.

Ada satu kasus pemasaran yang saya kagumi. Yaitu kasus permen mint Altoids. Produk Altoids sendiri sudah cukup lama, konon diciptakan pada 1780, sebagai permen mint untuk penyegar mulut, di Inggris. Asal mulanya, konon di tahun 1800 permen ini selalu mengusik rasa penasaran orang, karena permen mint ini dijual dalam sebuah kaleng kecil. Sehingga setiap kali orang mengambil permen mint dan mengunyahnya, orang-orang di sebelahnya selalu penasaran, "Orang itu mengunyah apa sih?"

Maklum, kaleng masih dianggap sesuatu yang luks pada periode itu. Lama-lama permen mint ini dikenal sebagai "The Original Celebrated Curiously Strong Peppermints". Hingga kini, kaleng kecil itu tetap populer di kalangan konsumennya. Sebab, setelah permennya habis, sang kaleng bisa digunakan untuk menyimpan aneka barang. Mulai baterai IPod hingga untuk menyimpan ganja dan tembakau.

Ketika produk ini akan dijual di Amerika, maka rasa penasaran itu dirasakan perlu untuk ditularkan. Hanya saja, zaman sekarang orang tidak akan merasa aneh dengan kemasan kaleng seperti itu. Solusinya, diciptakan iklan-iklan bergaya parodi, yang diselipi rasa penasaran. Iklan-iklan parodi Altoids laku keras. Malah sampai dikoleksi orang. Uniknya, lama-lama muncul juga "urban legends" di internet yang menceritakan bahwa permen mint Altoids digunakan konsumennya dalam oral seks dan konon bisa meningkatkan kepuasan para pelakunya.

Parodi dan humor memang terbukti ampuh dalam pemasaran. Menurut Mpu Peniti, seorang pemimpin hanya akan diparodikan dan ramai diparodikan karena memang ada tingkah lakunya yang nyeleneh sehingga mengundang humor. Tapi, kalau perilakunya apik, parodinya juga tidak akan ramai. Toh, kalaupun dipaksakan parodinya, penonton tidak akan terpengaruh, dan acara TV itu akan sepi ditonton orang. Jadi, menurut Mpu Peniti, mestinya para pemimpin cuek saja kalau diparodikan. Syukur-syukur malah bisa bertambah populer.

Monday, March 05, 2007

MUKTI

Karma is a Sanskrit word which literally means ‘action’. This is a key concept in Buddhism, as it is in Hinduism. At its most simple, the Buddha taught that our actions (including thought, word and deed) have consequences.”

SEPULANG dari Chicago, saya mendapat sebuah SMS dari Mpu Peniti. Isinya, beliau minta dibelikan sarung untuk Lebaran. Hati saya langsung merasa galau. Bertahun-tahun saya berguru dan mencari ilmu kepada beliau, belum pernah sekalipun beliau minta sesuatu kepada saya. Hadiah yang ingin saya berikan juga selalu ditolaknya dengan halus. Dengan perasaan bercampur aduk, saya pun pergi mencari sarung untuk Mpu Peniti. Mumpung beliau sedang berkenan, sekalian saya belikan sajadah dan peci baru.

Ketiga hadiah itu saya bungkus rapi, dan berangkatlah saya ke rumahnya. Ketika menyambut kedatangan saya, wajah Mpu Peniti terlihat sangat gembira dan berseri-seri. Ketiga hadiah itu dibawanya masuk ke kamar tidur.
Dan tak lama kemudian beliau keluar.

Tangannya menenteng bungkusan --
rupanya hadiah dari saya, oleh Mpu Peniti dibungkus kembali dengan kertas koran-- dan diserahkan kepada saya. Dengan suara berat dan serak, ia meminta agar saya memberikan ketiga hadiah itu kepada orang yang lebih membutuhkan. Tentu saja saya kaget. Apakah Mpu Peniti tidak berkenan dengan hadiah saya?

Mpu Peniti tertawa, katanya ia tahu betul bahwa saya telah menghabiskan waktu dan uang tidak sedikit untuk mencarikan hadiah sebagus itu. Tapi kini saatnya saya belajar memberi. Begitu nasihatnya.
Ia cukup mendapatkan kotak hadiah dan kertas pembungkus kado. Isinya beliau serahkan kembali kepada saya untuk diberikan kepada orang lain.

Pulang ke rumah, saya bingung. Kepada siapa saya harus memberikan hadiah ini? Kalau mau, mudah saja memberikannya kepada sembarang orang. Tapi mencari orang yang patut diberi dengan derajat setinggi Mpu Peniti --seorang guru, mentor, dan pribadi yang saya
kagumi-- rasanya sulit sekali. Akhirnya saya menyerah, dan kembali lagi ke rumah Mpu Peniti. Beliau tersenyum melihat muka kusut saya. "Negeri ini sedang sakit berat. Kita butuh pemimpin yang mau dan berani melakukan mukti," bisik beliau dengan suara bergetar, sambil memeluk saya erat-erat.

Mukti konon berasal dari kepercayaan Hindu. Mukti terdiri dari tiga elemen: ilmu, bhakti, dan karma. Mukti atau moksa merupakan sebuah ajaran yang secara konsisten dipraktekkan oleh Mahatma Gandhi, sebagai medium agar kita eling dan terbebas dari segala tekanan. Tetapi bisa tetap berprestasi dengan baik dan netral. Artinya sempitnya, seorang pemimpin harus berilmu - mau belajar terus hingga selalu memiliki pengetahuan yang cukup. Lalu mem-bhakti-kan ilmunya. Mengamalkan pengetahuan itu, dengan melakukan perubahan-perubahan penting, yang mampu mewujudkan karma orang banyak. Gandhi sendiri menyebut mukti atau moksa sebagai self-realization. Bagaimana seorang pemimpin menyadari status, posisi dan peran yang wajib ia perankan. Sehingga kepemimpinan-nya bermanfaat bagi orang banyak.

Dengan selalu belajar, seorang pemimpin akan
”ngelmu” – yaitu semakin eling tentang segala kekurangan dan kelemahannya. Ia akan semakin tahu diri, tidak arogan, dan mau merendah. Lewat bhakti dan pengamalan ilmunya, ia menjadi mercusuar yang memandu di tengah kegelapan. Sang pemimpin akan menjadi pemicu perubahan. ”The Agent of Changes” Perubahan yang kan menstimulasi kemajuan, terobosan dan inovasi. Perubahan yang akan mengubah nasib orang banyak.


Usai Ramadan yang sangat suci, Mpu Peniti memperingatkan saya agar
eling sekali lagi. Meminta dan memberi bisa menjadi proses mukti yang bijak. Betapa sering kita memberikan barang-barang mewah kepada klien, relasi, sanak saudara, dan keluarga. Tanpa benar-benar berusaha menyelidiki apa yang dibutuhkan orang yang akan kita beri. Atau lebih sering asal beri. Kita tidak membaktikan pengetahuan kita selama bertahun-tahun mengenal mereka. Apa yang mereka butuhkan mungkin sangatlah spesifik. Seorang direktur bank mengatakan, barangkali hanya 10% bingkisan Lebaran yang diterimanya benar-benar bermanfaat. Sisanya serba tidak keruan. Memberikan hadiah yang tepat mungkin akan membuat orang yang menerima menjadi sangat berbahagia.

Mpu Peniti menasihati, kita tidak bisa memberi dengan bijak karena tak pernah mau belajar meminta dengan benar. Kita seringkali asal minta apa saja. Kadang menjadi sangat serakah. Kalau kita sudah belajar banyak dengan memberi, maka permintaan dan tuntutan kita juga menjadi lebih sederhana. Pengalaman saya dengan Mpu Peniti menyadarkan saya.

Barangkali hal terbaik yang bisa saya berikan kepada beliau adalah doa yang tulus, agar beliau senantiasa diberi kesehatan yang baik dan umur panjang. Ketika hari Lebaran saya menyempatkan diri sujud kepada beliau, dan minta maaf. Kata-kata dan bisikan beliau menyambut dan menerima ucapan maaf saya secara tulus, merupakan pemberian yang paling berharga. Hingga hari ini, itulah hadiah terbesar yang pernah diberikan beliau kepada saya.

Thursday, March 01, 2007

Thursday, February 22, 2007

THE YEAR OF MISS PIGGY

Konon, tahun 2006, yang dibayang-bayangi zodiak anjing, terbukti sesuai dengan ramalan setahun yang lalu. Yaitu tahun "underdog" yang penuh kejutan tak terduga. Termasuk berbagai bencana alam yang bertubi-tubi. Maka, kita didera bencana demi bencana, seperti tsunami, gempa bumi, gunung berapi, banjir lumpur, dan banjir air bah. Konon, tahun 2007, setelah 18 Februari, akan memasuki zodiak baru yang, menurut penanggalan Imlek, akan masuk ke tahun Babi Api.

Tahun Baru Imlek 2007 akan tiba dengan energi yang masih sama, yaitu api. Maka, secara negatif diperkirakan bencana masih akan mengintai. Berdasarkan analisis I-Ching atau buku tentang perubahan, 2007 memiliki dua elemen yang (pria) yang menyelimuti satu yin (wanita) dan tiga yin (wanita) tambahan di dasar. Komposisi ini membuat elemen wanita atau feminin lebih dominan dan akan menguasai keseluruhan tahun 2007. Hal ini juga membuka jalan dan peluang akan munculnya lebih banyak pemimpin wanita, baik di arena bisnis maupun politik.

Ketika saya dan Mpu Peniti bergosip-ria tentang masalah ini, beliau menyebutkan bahwa 2007 yang memiliki zodiak babi api memang cocok dan pantas kalau disebut sebagai tahun Miss Piggy. Yaitu tokoh populer di acara "The Muppet Show", yang memang terkenal meledak-ledak dan sangat emosional.

Yang merisaukan adalah analisis I-Ching yang menyimpulkan, karena dominasi elemen api atas bumi, maka pada 2007 kita akan kena gonjang-ganjing kebakaran hutan yang melebar. Musim hujan 2007 diperkirakan sangat dahsyat, tapi periodenya pendek sekali, dan akan meninggalkan musim kemarau panjang dengan potensi kebakaran hutan lebih hebat.

Pengaruh elemen api tidak akan berhenti di sini, melainkan juga akan menciptakan potensi konflik baru, dengan bencana perang yang sporadis. Diperkirakan sejumlah bencana pada 2007 juga akan terjadi di atas tanah, sesuai dengan sifat api dan tiga elemen yin yang mendominasi dasar. Akibat ketidakseimbangan ini, tahun 2007 memperingatkan kita agar hati-hati terhadap bencana di atas tanah, seperti kecelakaan pesawat terbang, gunung berapi, gedung bertingkat yang roboh, dan kemungkinan fasilitas satelit yang gagal berfungsi.

Secara positif, Imlek 2007 membawa angin segar setidaknya bagi fundamental ekonomi dunia yang akan lebih stabil dan membaik. Tetapi bencana wabah penyakit yang mirip SARS dan flu burung, konon, diprediksi akan kembali dan membuat keder semua orang. Menurut Mpu Peniti, kita harus mempertajam naluri feminin diri kita, yang lebih bersifat konservasi dan melindungi. Uniknya, pada 2007 diperkirakan skandal perkawinan akan muncul lebih banyak. Dan bakal ada beberapa perkawinan heboh, di mana wanita yang usianya jauh lebih tua akan menikah dengan pria yang jauh lebih muda.

Bisnis yang dipengaruhi elemen api, tanah, atau logam konon akan membaik. Kabar baik untuk bisnis real estate, yang diperkirakan tumbuh signifikan. Industri makanan juga diperkirakan "rebound", tapi akan sangat dipengaruhi oleh berbagai terobosan inovasi dan pengembangan produk. Demikian juga industri permata, yang sangat dipengaruhi kreativitas. Turisme juga akan membawa angin segar. Industri otomotif, barang-barang elektronik, dan komunikasi akan bertambah gencar oleh kompetisi, tetapi diperkirakan tetap tumbuh baik. Perbankan dan pendidikan juga bakal merasakan pertumbuhan positif.

Lalu, strategi apa yang harus kita gunakan di tahun unik seperti Miss Piggy ini? Kebetulan saya adalah fans berat Miss Piggy. Celetukan Miss Piggy yang sangat terkenal antara lain: "Never purchase beauty products in a hardware store." Secara harafiah, Miss Piggy bilang, jangan mau membeli produk kecantikan di toko bahan bangunan. Pasti ngawur dan tidak terjamin. Artinya, hidup ini jangan mau asal gampang dan mudah saja. Jangan potong kompas. Jangan sembarang dan serampangan. Hidup memerlukan perjuangan. Pada 2007, hati-hati dengan orang-orang yang menjanjikan kemudahan dan keuntungan berlebihan. Berdayakan akal sehat Anda semaksimal mungkin.

Celetukan kedua Miss Piggy yang paling terkenal seantero jagat adalah: "Never eat anything you can't lift." Sederhana sekali. Miss Piggy mengingatkan kita agar selalu eling dan tidak serakah. Mpu Peniti juga memberikan wejangan yang mirip. Kata beliau, setelah pada 2006 kita dilanda sedemikian banyak bencana, sudah saatnya kita prihatin dan tirakat. Mengkaji ulang semua langkah yang telah kita jalani. Berusaha menyembuhkan semua luka. Barulah menyelaraskan strategi ulang. Mengukur dengan setepat-tepatnya batas-batas kemampuan kita. Lalu memanfaatkannya sebagai modal baru.

Kedua larangan Miss Piggy itu terdengar usang sekali. Tapi ada seorang pengusaha yang belum lama ini menuturkan cerita hidupnya yang sangat istimewa. Tahun 2002 ia mengalami musibah banjir sama seperti tahun 2007. Usahanya hampir hancur. Ia mengalami depresi berat dan dirawat di rumah sakit jiwa.

Tahun 2005 ia sembuh. Nol, tidak memiliki apa-apa. Dengan tirakat dan prihatin, ia melakukan persis apa yang dikatakan Miss Piggy. Maju selangkah demi selangkah. Dengan penuh tirakat dan keprihatinan tinggi, sang pengusaha akhirnya bisa "come-back". Selamat Tahun Baru Imlek.

Saturday, February 17, 2007

Thursday, February 08, 2007

KEBAHAGIAAN

“If you want happiness for an hour, take a nap. If you want happiness for a day, go fishing. If you want happiness for a year, inherit a fortune. If you want happiness for a lifetime, help somebody.” – A Chinese proverb



Pernah sekali Mpu Peniti membisiki saya, kata beliau, semua sumber ketidak bahagiaan adalah pengetahuan. Artinya semakin besar dan dalam pengetahuan kita, semakin kita tidak berbahagia. Saya tentu saja tidak setuju dengan nasehat seperti itu. Karena seolah-olah mengajak kita untuk cuek, masa bodoh, dan tidak mau belajar. Bagi saya ini nasehat yang ngawur. Sampai 2 minggu yang lalu, saya disadarkan petuah itu oleh sebuah peristiwa. Teman saya di Hong Kong, baru saja kehilangan ayahnya. Ketika diberitahu kabar itu, saya langsung mengirimkan email, dan memberikan ucapan bela sungkawa. Teman saya membalas email tersebut, isinya cukup mengejutkan. Ia bercerita bahwa ayahnya sudah sangat tua. Sudah 90 tahun lebih. Sering sakit. Jadi kepergian-nya sebenarnya cukup melegakan. Karena dalam 20 tahun terkahir ini, ayahnya banyak menghabiskan biaya pengobatan, dan sangat menyusahkan anak-anaknya. Jawaban ini tentu saja membuat saya merenung. Hati saya kacau sekali dibuatnya.

Seorang teman yang lain, juga mengalami hal yang sama. Ia baru baru saja kehilangan ayahnya. Prosesnya beda. Ketika pagi hari ia ingin membangunkan ayahnya, ia kaget setengah mati. Ayahnya meninggal dalam tidur. Dan wajahnya tersenyum. Konon menurut dokter, ayahnya meninggal karena serangan jantung. Ayahnya memang tidak pernah mau disuruh periksa kedokter. Lain dengan teman saya yang di Hong Kong, ayahnya sangat teliti, ketika memasuki usia 70 tahun, sebuah pemeriksaan yang teliti, menunjukan sejumlah komplikasi dan kelainan. Ia lalu menjalani hidup serba hati-hati. Ia memang berhasil hidup hingga 90 tahun lebih, tapi dengan membuat anak-anaknya cukup repot. Kedua cerita diatas mungkin sangat ekstrim. Dan bukan contoh yang bijaksana. Tapi kenyataan hidup yang sebenarnya memang begitu.

Mentor bisnis saya, almarhum bapak MS Kurnia, anehnya juga pernah menasehati saya hal yang mirip. Ia mengatakan kepada saya, bahwa dalam mengelola perusahaan kadang ada saatnya kita harus belajar untuk tidak tahu, tidak peduli, cuek, dan masa bodoh. Karena semakin anda ingin tahu, kadang semakin banyak masalah yang justru kita temukan. Anda akan menjadi semakin kuatir. Hidup kita akan semakin stress jadinya. Dan akhirnya kita hanya akan dihadang dengan sejumlah kekurangan, kelemahan dan kesalahan yang menumpuk. Kita menjadi tidak bahagia.
Sama pula dengan kekayaan. Semakin banyak harta kita, semakin besar rasa kuatir kita. Takut dirampok. Takut ditipu. Kita jadi repot pasang alarm. Bikin tembok yang semakin tinggi. Menambah jumlah kunci dan gembok. Kalau perlu punya sejumlah pengawal dan satpam. Atau memborong berbagai asuransi. Lain halnya kalau anda tidak banyak memiliki harta. Maka semua kebutuhan tadi menjadi lenyap. Terdengar ironis, tapi nyatanya begitu.

Oleh Mpu Peniti, saya dinasehati untuk belajar cuek, dan masa bodoh. Konon demi kebahagian diri saya. Kemarin, disebuah taksi, saya berjumpa seorang supir taxi yang berusia lanjut. Rambut dikepalanya hampir putih semua. Ia mengeluh ekonomi yang semakin susah. Jumlah taxi yang semakin banyak dan setoran yang sedikit. Anaknya yang kuliah di Universitas Indonesia, sudah tidak bisa kuliah, karena menunggak uang kuliah sekian lama. Ia mengaku sudah menghadap rektor, tapi juga tidak mendapat keringanan. Ketika ia menasehati anaknya untuk kerja saja, anaknya malah menangis pilu. Ia jadi susah hati. Ia juga mengisahkan bahwa kemarin dulu, pernah sekali uang setoran taxinya kurang Rp.19.000.-. Esok harinya ia disandera tidak boleh bekerja. Ia harus melunasi kekekurangan setorannya itu. Apa daya ia tidak punya uang sama sekali. Ketika ia mencari pinjaman kanan dan kiri, hanya ada satu teman yang bisa meminjamkan Rp. 5.000.-. Syukurlah dengan mencicil Rp.5.000.- ia diperkenankan menarik taxi kembali.

Saya ikut trenyuh mendengar ceritanya itu. Namun yang membuat saya lega adalah semangat hidupnya yang sangat luar biasa. Ia bertutur, katanya kalau ia membandingkan nasibnya dengan teman-teman-nya yang lain, mungkin ia sudah bunuh diri. Tidak sanggup katanya. Kalau ia putus asa melihat anaknya tidak bisa kuliah, mungkin ia sudah menipu dan merampok. Survival-nya selama ini, adalah berkat sikapnya untuk belajar cuek dan masa bodoh. Apapun situasinya, ia tetap fokus dan konsentrasi menarik taxi. Ia belajar tidak peduli dengan nasibnya. Lalu dimana letak kebahagiannya. Menurutnya, hanya ada 2. Ia bahagia, setiap hari apabila bisa pulang dengan selamat dan bisa meluangkan waktu dengan keluarganya. Syukur-syukur apabila ia pulang membawa uang hasil menarik taxi yang lumayan. Ia Ia juga bahagia setiap kali bangun tidur, diberikan kesehatan oleh Allah, yang mampu membuatnya sujud dan menjalan sholat dengan khusuk. Lalu berangkat kerja untuk menarik taxi.

Mendengar cerita sang bapak supir taxi, saya menjadi sangat bersyukur, karena limpahan rahmat dan kesejahteraan yang telah diberikan oleh Allah selama ini. Saya berjanji untuk tidak lagi membanding-bandingkan nasib saya dengan orang lain. Karena sesungguhnya kebahagiaan yang telah dilimpahkan kepada saya, jumlahnya sangat banyak dan tak terkira.

Monday, February 05, 2007

Tuesday, January 30, 2007

Monday, January 29, 2007

Wednesday, January 24, 2007

LANGKAH PEMBUKAAN

Pernah sekali, seorang pengusaha bertanya apakah saya bisa bermain catur. Karena kebetulan itu adalah salah satu hobi saya waktu SMA, maka saya iya-kan saja pertanyaan beliau itu. Mendengar jawaban saya, muka-nya langsung berseri-seri. Ia menyuruh pembantunya, untuk mengambil papan catur. Akhirnya, saya dipaksa bermain catur. Banyak negara yang mengklaim sebagai asal permainan catur. Termasuk, Arab, Persia, Yunani, Portugis dan Spanyol. Tetapi kalau ditelusuri asal muasal kata catur diberbagai bahasa asal negara-negara itu, nampaknya kata catur berasal dari bahasa sanskerta. Jadi kemungkinan besar asal muasal catur itu aslinya memang dari India. Bukti lain, dalam permainan catur dikenal 3 hewan yang secara tradisi digunakan dalam barisan kaveleri, yaitu kuda, unta, dan gajah. Dalam permainan catur sekarang, ketiga-tiga-nya masih dipertahankan walaupun namanya berubah menjadi “knight, bishop dan rook”. Teori lain mengatakan bahwa asal permainan catur kemungkinan juga berasal dari Cina, yang memiliki catatan bahwa sejak abad ke 4 sebelum Masehi, Tian Wen, penguasa di wilayah Mengchang, sudah populer memainkan Xiangqi atau catur Cina. Lalu pada abad ke 2 sebelum Masehi, kemungkinan permainan ini dibawa pedagang lewat jalur sutera, ke India dan Arab. Abad ke 7 catur konon sudah menyebrang ke Rusia dan daratan Mongolia.
Permainan catur memang melulu didasari strategi. Ada 64 bidak, dan tujuan dari permainan adalah mematikan raja milik musuh, sehingga situasinya menjadi “checkmate” yang konon berasal dari bahasa Persia yang berbunyi “shah mat” atau yang artinya “sang raja telah kalah”. Ketika kami bermain, sang pengusaha bercerita filosofi catur secara sederhana. Katanya, dalam catur yang paling penting, adalah langkah pembukaan. Ini memang benar. Beberapa Grand Master catur dunia terkenal karena menemukan langkah-langkah strategi pembukaan yang mematikan.
Dalam bisnis, langkah pembukaan juga penting dan strategis. Langkah ini menentukan emosi, ritme, dan “state-of-mind” sebagai motivasi kita berbisnis. Hal ini yang biasanya menentukan kita menang atau tidak. Misalnya, langkah pembukaan menentukan keseriusan kita berbisnis. Jangan asal iseng. Jangan asal untuk mengisi waktu. Jangan pula asal latah dan ikut-ikut-an. Langkah pembukaan menunjukan bahwa bisnis kita memiliki strategi dan perencanaan yang matang. Uniknya langkah pembukaan ini biasanya dilakukan oleh pion atau prajurit. Dan langkah pembukaan biasanya didesain sebagai benteng yang memperkuat posisi raja, agar kavaleri yang lain dapat maju dari kedua sayap dan melakukan serangan. Ini filosofi yang sangat penting. Yang seringkali disepelekan.
Saya jadi teringat warung mie, kesayangan saya di San Gabriel, Los Angeles. Namanya “Mien Nghia”. Setiap kali saya berkunjung ke Los Angeles, acara sarapan pagi saya yang paling favorite adalah semangkok mie ayam dan es kopi ala Vietnam, yang terkenal mantap. Warung mie “Mien Nghia” sangat sederhana. Tidak ada yang istimewa tempatnya. Tetapi mienya memang sangat gurih dan lezat. Selalu berhasil menjadi pengobat rindu, ketika kangen dengan Jakarta. Yang mengagumkan juga, adalah karena mereka seolah mengerti betul dengan apa yang disebut “langkah pembukaan” dalam catur. Kalau hari kebetulan sedang sangat panas, begitu anda tiba dan duduk dibangku, seorang pelayan akan dengan sigap mengantarkan 2 gelas es the, yang es-nya sangat banyak. Benar-benar sejuk, pas dan langsung mengguyur dahaga kita. Bagi anda, mungkin langkah ini agak sembrono. Karena konsumen cenderung akan terpuaskan dan tidak akan memesan minum lagi. Berarti mereka akan kehilangan penghasilan yang luamayan. Mungkin analisa itu benar. Disatu pihak mereka kehilangan sebagian penghasilan dari minuman. Tetapi dilain pihak, tindakan itu menciptakan simpati yang luar biasa. Dan buktinya menyentuh saya secara emosional.
Sang pengusaha teman saya main catur, berkomentar, kadang kita cukup memenangkan satu pertempuran tertentu, untuk memenangkan seluruh perang. Kadang kita perlu mengorbankan “pion” atau prajurit dalam permainan catur, untuk memenangkan bidak atau langkah yang strategis. Strategi ini, merupakan strategi klasik yang diterapkan oleh pengusaha-pengusaha kecil. Yang rela untuk mengorbankan sesuatu yang kecil untuk memenangkan sesuatu yang lebih besar.
Uniknya sesuatu yang kecil dan remeh itu, kadang efek psikologisnya sangatlah besar. Minggu kemarin, saya kebetulan harus ke Bandung karena sebuah keperluan. Diperjalanan, kami memutuskan untuk berhenti sejenak, istirahat sambil sekalian ke WC. Kami memilih sebuah café yang sangat terkenal, ditempat peristirahatan yang sekarang lagi sangat terkenal. Yang kebetulan merupakan juga franchise dari luar. Saat hari masih pagi. Ketika kami masuk dan memesan, pada saat membayar, kami diberikan kartu promosi, yang mirip dengan paspor. Sang kasir menjelaskan bahwa setiap kali kami ke café itu, dan belanja sampai jumlah tertentu, maka akan diberi satu bintang. Kalau bintang yang terkumpul sudah penuh satu paspor, kami akan memenangkan hadiah. Sembari bercanda, saya katakan bahwa café itu penjualan-nya pasti menurun. Sehingga mengadakan promosi seperti itu. Sang kasir cuma mesem-mesem saja mendengar komentar saya. Rekan kerja saya, juga setuju. Bahwa café itu konon sudah tidak seramai dulu lagi.
Saya sangat kaget, ketika masuk kedalam WC café yang bersangkutan. Ternyata sangat kotor dan tidak nyaman. Jadi pantas saja, kalau jumlah pengunjung mereka turun. Karena menurut saya, WC mereka adalah “langkah pembukaan” yang strategis dalam sebuah permainan catur. Kebanyakan konsumen termotivasi untuk berhenti, istirahat, dan belanja di café itu, tentulah dengan sebuah pengharapan besar, bahwa WC yang disediakan café yang terkenal itu, sangat bersih dan nyaman. Rupanya justru, kebalikan-nya. Dan langkah pembukaan itu gagal total. Padahal kalau saya pemilik café itu, saya akan pasang khusus seorang staff untuk selalu menjaga kebersihan WC itu. Kalau perlu akan saya hias dengan bunga, dan juga wewangian yang bisa membuat suasana sangat nyaman.
Langkah pembukaan terbukti sangat penting. Karena menciptakan impresi, dan merupakan awal cerita yang seringkali menentukan klimaks sukses kita. Setiap kali saya check in ke-sebuah hotel, sangatlah lazim kita disajikan minuman “welcome drink”. Celakanya, kebanyakan “welcome drink” itu dibuat asal saja. Seringkali rasanya terlampau manis, atau rasanya tidak keruan. Kadang juga es-nya sudah mencair, dan kelihatan seperti sebuah minuman yang dibuat 3-4 jam yang lalu, dan dibiarkan di ruang terbuka. Pengalaman terbaik saya, menikmati “welcome drink” justru ketika berkunjung ke Jepang. Dan kebetulan saya menginap disebuah ryokan atau losmen tradisional Jepang. Saat itu memang kebetulan sedang musim panas, ketika check in, serta merta saya diberikan sebuah handuk yang sangat dingin, dan sebotol air mineral yang telah didinginkan disebuah baskom berisi es, selama berjam-jam. Langsung segala kepenatan dan dahaga saya hilang. Pengalaman itu masih membekas hingga kini.
Kalau anda adalah seorang pengusaha, berpikirlah sederhana seperti anda bermain catur. Pikirkan masak-masak langkah pembukaan anda. Tidak usah terlalu glamor dan sensasi. Tetapi sesuatu yang sederhana, mudah, tetapi secara emosional menciptakan simpati yang luarbiasa bagi konsumen dan pelanggan anda. Maka anda akan tetap jaya tak terkalahkan.

Sunday, January 21, 2007

Wednesday, January 17, 2007

TIGA NASEHAT IBU

“THRIFTY - Means a lot more than putting pennies away, and it is the opposite of cheap. Common sense covers it just about as well as anything. “– John Wayne

TIGA NASIHAT IBU


PERAN ibu sebagai figur paternalistik dalam budaya kita cukup unik. Tak jarang, truk-truk angkutan luar kota mencantumkan tulisan ''Doa Ibu'' di badannya. Seolah ''Doa Ibu'' adalah mantra yang membuat mereka selamat di perjalanan. Warung dan restoran padang juga sering menggunakan ibu sebagai bagian dari mereknya. Di antara semua fenomena itu, yang paling unik mungkin adalah nasihat ibu.

Seorang pengusaha muda Indonesia belum lama ini mengobrol dengan saya. Ia tengah mengalami berbagai kesulitan setelah badai krisis ekonomi, tak beda jauh dengan pengusaha atau konglomerat lain. Sepuluh tahun lalu, ia pengusaha yang cukup sukses. Ia memiliki aneka aset berharga, baik di dalam maupun luar negeri. Kini, hampir semuanya ludes. Ia menyesal karena lalai mengamankan tiga nasihat ibunya.

Ketika ia baru mulai berusaha, ibunya memberi nasihat unik. Menurut ibunya, uang memiliki tiga wajah. Yang pertama, wajah uang yang berasal dari laba atau untung usaha. Kedua, uang yang berwajah deposito. Ketiga, wajah uang dalam bentuk tanah.

Mulanya ia mengiyakan saja nasihat itu. Namun, ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, dan ia jatuh, ia merenung. Barulah ia menemukan arti sesungguhnya tiga nasihat itu.

Yang pertama adalah wajah uang dalam bentuk laba usaha. Ini berarti, apa pun yang kita kerjakan, kita harus hati-hati menghitung. Jangan sampai sekali pun merugi. Perhatikan baik-baik para pedagang di pasar grosir, seperti Tanah Abang dan Mangga Dua, keduanya di Jakarta. Semua rata-rata sangat agresif. Mereka tak peduli laba kecil. Yang penting berlaba. Biar kecil, kalau jumlahnya banyak, lama-lama akan menggunung.

Nasihat kedua secara harfiah mengajarkan agar laba jangan dihabiskan begitu saja. Belajarlah berhemat, dan selalu menabung. Selalu siap menghadapi situasi buruk. Nasihat ini mengajarkan pada kita hidup sederhana, selalu sedia payung untuk hari hujan.

Nasihat ibu yang terakhir mengajarkan trik sederhana untuk kaya raya: investasikan uang Anda dengan bijaksana. Kalau deposito Anda sudah tinggi nilainya, konversikan deposito itu menjadi aset berharga. Sejak dulu, properti atau tanah selalu dianggap investasi paling aman dan bijaksana.

Teman saya, sang pengusaha, menyesal tak mengikuti dengan saksama nasihat ibunya. Saya yang ikut mendengar ceritanya tak kuasa menahan haru. Dalam perjalanan pulang, cerita tentang tiga nasihat itu terus menghantui pikiran saya. Kalau saya urut, tiga nasihat ibu itu adalah rahasia bagi siapa saja untuk kaya raya.

Bekas bos saya pernah menasihati saya dengan cerita mirip. Ia menyimpulkan, mencari uang itu mudah sekali. Namun, untuk bisa kaya, dibutuhkan gaya hidup telaten, seperti tiga nasihat ibu itu.

Ketika kecil, saya suka menyisakan makanan. Ibu sering marah. Ia suka mengingatkan saya bahwa di dunia ini banyak orang miskin yang masih hidup kelaparan. Salah satu cerita favorit ibu saya adalah kisah tentang kerak nasi.

Alkisah, ada keluarga kaya yang hidup boros. Mereka memiliki pembantu rumah tangga yang bijaksana. Setiap kali mencuci dandang, ia mengambil kerak nasi, lalu menjemurnya. Setelah nasi itu kering, ia simpan. Tak lama kemudian datang paceklik. Keluarga kaya itu jatuh miskin, tak memiliki makanan lagi.

Namun, sang pembantu dengan rajin tiap hari selalu berhasil menyajikan bubur. Majikan heran. Ia ingin tahu dari mana bubur itu datang. Dengan malu-malu, si pembantu mengatakan, bubur itu dari kerak nasi yang selalu ia simpan.

Untuk menjadi kaya rupanya hanya ada satu jalan: hidup disiplin secara hemat. Warren Buffet, milyarder ala Wall Street di Amerika, memberikan nasihat unik tentang cara menjadi kaya raya. Aturan pertama adalah jangan pernah merugi dan kehilangan uang. Aturan kedua, jangan sampai lupa aturan pertama.

Monday, January 08, 2007

Friday, December 29, 2006

STRATEGI ALA JAMES BOND - 007

Tahun 2007 konon adalah tahun James Bond. Setidaknya, itu yang diisyaratkan seorang paranormal kondang kepada saya. Terus saya sendiri bingung membuat interpretasinya. Pergilah saya berkonsultasi pada Mpu Peniti. Kebetulan, ketika saya datang, Mpu Peniti, mentor saya, sedang asyik menonton DVD James Bond. Mpu Peniti menonton episode ke-20 yang berjudul Die Another Day. Film James Bond dengan bujet tertinggi, hingga US$ 142 juta, dan merupakan film Pierce Brosnan yang terakhir sebagai James Bond. Film ini termasuk film James Bond yang sukses karena berhasil menjadi box-office dengan pendapatan di atas US$ 431 juta.

Usai menonton, iseng-iseng saya tanya Mpu Peniti soal hubungan 2007 dengan 007 milik James Bond. Dan beliau cuma terkekeh menanggapi kebingungan saya. Menurut Mpu Peniti, film James Bond sukses karena tiga hal. Pertama, filmnya akan seru luar biasa kalau James Bond punya musuh yang sangat tangguh. Semakin dahsyat musuhnya, semakin luar biasa filmnya.

Kedua, wanita cantik yang selalu disebut "Bond's Girl". Inilah elemen yang menjanjikan misteri dan penasaran. Pemilihan wanita cantik untuk mendampingi James Bond biasanya dilakukan sangat teliti dan saksama. Di dalam film, ada wanita yang memang berperan sebagai agen rahasia untuk mendampingi James Bond. Tapi ada juga yang awalnya di pihak musuh dan kemudian di akhir cerita menjadi kekasih James Bond.

Yang ketiga, dan terakhir, James Bond tidak pernah kehilangan akal. Apa pun situasinya, ia pasti bisa meloloskan diri.

Jadi, kalau mau sukses dan berhasil pada tahun 2007, resepnya sederhana. Persis seperti film James Bond. Dalam film James Bond, di awal cerita selalu ada bagian ketika James Bond bertemu dengan Q, tokoh yang jenius dan selalu menyediakan berbagai peralatan untuk meloloskan diri. Jadi, pertama-tama yang harus Anda siapkan adalah strategi untuk meloloskan diri, the exit strategy. Di dalam film James Bond tahun 1999 berjudul The World Is Not Enough, terjadi percakapan antara Q dan James Bond:

Q: "I've always tried to teach you two things. First, never let them see you bleed."
James Bond: "And the second?"
Q: "Always have an escape plan."


Artinya, apa pun yang terjadi, dan biar separah apa pun luka Anda, jangan pernah memperlihatkan kepada musuh bahwa Anda sedang berdarah-darah. Dan yang paling penting, selalu punya strategi untuk meloloskan diri.

Wanita cantik dalam film James Bond biasanya diberi peran bermacam-macam. Ada yang memang kolega dan sesama agen rahasia yang ditugasi membantu James Bond. Tapi ada juga yang berperan dari pihak musuh, yang kemudian di akhir cerita kadang membantu James Bond atau juga diselamatkan oleh James Bond dan akhirnya menjadi kekasih James Bond. Walaupun kadang wanita cantik ini perannya remeh, dan seringkali dijadikan pemanis saja, toh tetap saja mereka merupakan elemen yang bikin penasaran dan memberikan kejutan sesekali.

Menurut Mpu Peniti, kita harus cerdas memanfaatkan karisma yang ada di dalam diri kita. Tidak jarang, dalam kehidupan bisnis sehari-hari, Tuhan Yang Mahakuasa memberikan kita jalan dan petunjuk. Kadang bisa dari teman, bisa juga dari lawan. Kadang petunjuknya sangat jelas dan kadang-kadang sesekali mengejutkan datang dengan petunjuk samar-samar. Ibaratnya wanita cantik dalam film James Bond, menurut Mpu Peniti, keberuntungan itu ada di mana-mana. Tinggal kita sigap, tangkas, selalu siap sedia memanfaatkan setiap momentum dan peluang. Persis seperti James Bond. Selalu melakukan improvisasi.

Dan yang terakhir, James Bond hadir begitu populer di tengah-tengah kita sejak 1962, dengan episode pertamanya Dr. NO, semata-mata karena James Bond adalah jagoan kita yang tak terkalahkan untuk menghadapi segala macam krisis dan musuh. Salah satu dialog favorit saya adalah kalimat yang diucapkan tokoh Paris Carver (diperankan Teri Hatcher), dalam film James Bond berjudul Tomorrow Never Dies: "Tell me James, do you still sleep with a gun under your pillow?" Ini menunjukan, apa pun situasinya, James Bond selalu siap menghadapi segala tantangan. James Bond selalu punya persiapan.

Barangkali ramalan sang paranormal sangat berbeda dengan uraian Mpu Peniti di atas. Buat saya, wejangan Mpu Peniti terasa pas dengan segala tantangan yang mesti kita hadapi pada tahun 2007. Jadi, jangan takut dan waswas. Tahun baru 2007 pasti akan hadir dengan tantangan baru, masalah baru, dan krisis baru. Saya berniat menyongsong tantangan itu dan menikmatinya. Musuh James Bond dalam episode The World is not Enough, Elektra King yang diperankan aktris sensual Sophie Marceau, berkata dengan sangat bijak: "There's no point in living if you can't feel alive." Mari kita songsong 2007 dengan bersikap optimistis!

Monday, December 25, 2006

Sunday, December 24, 2006

Saturday, December 23, 2006

Friday, December 15, 2006

Thursday, December 14, 2006

TITIK KECUKUPAN

Lima belas tahun lalu, ketika nenek teman saya berulang tahun ke-90, ibunya mewanti-wanti agar jangan melewatkan kesempatan perayaan ulang tahun sang nenek. Ada rasa khawatir yang besar umur sang nenek tidak bisa berlanjut panjang. Nenek teman saya tinggal di sebuah kota kecil Taiping, di wilayah negara Perak, Malaysia. Taiping memang unik, berada di sebuah teluk yang dikelilingi perbukitan subur, sehingga udaranya selalu sejuk. Sepuluh menit dari Taiping ada tempat peristirahatan Bukit Larut yang terkenal. Dan merupakan salah satu wilayah dengan curah hujan terbanyak di Malaysia.

Lingkungan Taiping yang begitu asri sangat baik untuk kesehatan sang nenek. Beberapa minggu lalu, sang nenek berulang tahun ke-105. Luar biasa, bukan? Meski, setahun terakhir, penglihatannya menurun drastis. Sang nenek mengeluh kualitas hidupnya juga ikut menurun. Kurang lebih tiga bulan lalu, sang nenek ditemani sopir yang setia minta berkunjung ke sebuah danau kecil dekat Taiping.

Danau itu memang tempat favorit sang nenek. Beliau sempat mengagumi keindahan danau itu sesaat. Lalu, anehnya, beliau mengatakan pada sopirnya: "Cukup. Ini kesempatan aku yang terakhir untuk menikmati danau itu." Tentu saja sopirnya heran atas komentar itu. Dan sebelum pulang, sang nenek juga minta mampir di bekas sekolahnya dulu. Di sana sang nenek sejenak merenung dan mengenang. Lalu mereka pulang.

Tak lama kemudian, sang nenek mulai menolak makan. Beliau benar-benar berpuasa. Cuma minum saja. Hal ini berjalan enam minggu. Menurut dokter, entah kenapa sang nenek kehilangan semangat hidup. Secara tidak langsung, ia memang berpuasa untuk meninggal. Di usia 105 tahun, mungkin sang nenek sudah merasakan hidup yang sangat cukup. Kini saatnya ia pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Itulah sebabnya, ketika sang nenek berulang tahun ke-105, kurang lebih dua minggu lalu, hampir semua kerabatnya di seluruh penjuru dunia datang untuk merayakan.

Walaupun fisik sang nenek sangat lemah, perayaan tetap berjalan meriah. Yang menakjubkan adalah komentar sang dokter, yaitu biarpun keinginan untuk mati sang nenek begitu besar, fisiknya tetap tegar, seolah tidak mau menyerah begitu saja. Tak lama setelah semua kerabat ke airport untuk kembali ke masing-masing tempat tinggal mereka, dokter melaporkan sesuatu yang unik, tiba-tiba saja fisik sang nenek melemah. Dan dua hari setelah pesta ulang tahunnya, sang nenek wafat.

Saat teman saya mengabari ihwal wafatnya sang nenek, pikiran saya menerawang sangat jauh. Teman saya sendiri sangat antusias untuk kembali ke Taiping untuk acara penguburan sang nenek. Ia mengatakan jarang sekali menghadiri pemakaman dengan hati yang penuh kelegaan dan sukacita. Hanya kali ini ia mengalaminya. Pemakaman neneknya bukanlah sebuah kesedihan, melainkan perayaan tentang hidup yang sangat luar biasa. Tidak banyak orang bisa hidup hingga 100 tahun, dengan sebuah kebahagiaan seperti neneknya. Barangkali metode puasa untuk mengakhiri hidupnya agak radikal. Tetapi sang nenek mengilhami kita bagaimana dalam hidup ini punya keberanian untuk mengatakan cukup.

Mpu Peniti juga punya cerita menarik. Seorang pengusaha yang sudah memiliki dua istri datang ke Mpu Peniti. Dia minta diberi petunjuk agar dibukakan jalan untuk bisa menambah satu istri lagi. Ia ingin punya tiga istri. Mpu Peniti sempat sewot. Ia bertanya, apakah dua istri itu tidak cukup. Menurut Mpu Peniti, kalau nanti sudah punya tiga istri, pasti akan ingin punya empat istri. Dan kalau sudah ketagihan, pasti nanti akan ada istri yang dicerai untuk mendapatkan istri baru. Menurut Mpu Peniti, pengusaha itu tidak tahu batas di mana cukup yang sebenarnya.

Menurut Mpu Peniti, dalam hidup ini kita harus punya naluri yang mengerti titik kecukupan. Bila tidak, kita akan menjadi orang yang serakah dan loba. Karena sesungguhnya kenikmatan dan kebahagiaan hidup ini ada di titik kecukupan itu. Makan yang nikmat adalah kalau kita kenyang dengan cukup. Kekenyangan akan membuat sesak dan susah bernapas. Tidur yang paling nikmat adalah tidur yang berkecukupan. Terlalu banyak tidur akan membuat kita malas.

Dalam bisnis dan manajemen, kita juga harus tahu batas kecukupan yang sama. Kurang marah, kita akan dianggap lemah. Terlalu banyak marah, kita pasti dianggap sebagai pemimpin pemarah yang kasar dan kebakaran jenggot. Jadi, marahlah secukupnya. Sama pula halnya dengan pengembangan bisnis. Kurang agresif mengembangkan bisnis, kita akan mudah tersaingi. Terlalu agresif mengembangkan bisnis, maka anak-anak perusahaan yang dikembangkan cenderung lemah fondasi dan mudah bangkrut dalam waktu yang tidak lama.

Kita harus memiliki ambisi dalam hidup dan bisnis. Tetapi, berapa jauh ambisi itu akan terwujudkan, tergantung naluri kita untuk mengetahui di mana titik kecukupan yang kita miliki. Indahnya, kebahagiaan hidup seringkali juga berada di titik kecukupan yang sama.

Monday, December 11, 2006

Sunday, December 10, 2006

Friday, December 08, 2006

Thursday, December 07, 2006

NOMER 20

“36 strategi”, begitu judulnya, merupakan koleksi strategi Cina kuno yang sangat terkenal dan amat yahud untuk diterapkan dalam berbagai situasi, termasuk strategi berdagang. Konon tiada yang tahu siapa pengarang ke 36 strategi ini, namun yang jelas ke 36 strategi merupakan referensi penting dalam literatur kerakyatan bangsa Cina. Ke 36 strategi ini dibagi atas 6 bagian, dan diduga erat hubungan-nya dengan I-Ching yaitu ilmu perubahan. Begitu populernya 36 strategi ini, sehingga ahli perang kuno seperti Sun Tzu, Sun Bin, Han Xin dan Li Chin, semuanya mengandalkan implementasi dari 36 strategi ini.
Ke 36 strategi ini semuanya menarik dan punya daya tarik sendiri-sendiri. Saya sendiri menyukai strategi nomer 20, yaitu “Ilmu Mengail di Air Keruh”. Pertama saya amat terkesan dengan strategi ini, karena kita juga memiliki ungkapan yang sama. Kedua, strategi unik ini memberikan semangat optimisme kepada saya dalam berbagai situasi. Dan berkali-kali saya sudah diselamatkan dengan strategi ini. Itu sebabnya strategi ini memiliki nilai nostalgia yang mendalam buat saya. Berkat strategi ini, kita disuruh berpikir kreatif, waspada selalu, jangan pantang menyerah, dan biar bagaimanapun situasinya, bakalan ada peluang yang bisa kita manfaatkan.
Belum lama ini ketika membaca koran, saya di-ingatkan lagi dengan strategi unik ini. Yaitu ketika membaca fenomena Monica Lewinsky belum lama ini. Jelas-jelas skandal Monica memang bikin heboh luar biasa. Ketika masih dalam masa persidangan, tak urung Monica dicemohkan banyak orang. Pokoknya skandal Monica persis seperti air keruh yang bergolak. Namun kini keada-an-nya telah berubah 180 derajat. Monica menjadi sumber rejeki yang luar biasa. Di Philipina ada pengusaha cerutu yang memanfaatkan cerita porno Bill Clinton dan Monica, dan membuat cerutu yang diberi nama ….. apa lagi kalau bukan Monica ? Hasilnya ? Tebak saja sendiri. Laris manis tanjung kimpul ! Fenomena Monica tidak berhenti disitu saja, tapi konon masih berlanjut panjang.
Misalnya saja dalam interview Monica dengan Barbara Walters, konon ditonton sampai 70 juta penonton. Dalam interview ini, Monica yang tidak ramping, seksi dan terlampau cantik, ternyata justru mengundang simpati kebanyakan wanita yang menontonnya. Yang justru mirip dengan Monica, yaitu tidak memiliki kecantikan ideal seperti tubuh seksi dan kecantikan ala model. Dalam interview ini wanita ternyata diam-diam menyimak serius penampilan Monica. Dan yang menjadi perhatian utama mereka adalah make-up Monica. Yang memang cukup ajaib. Monica dalam interview itu memang di make-up dengan penampilan baru, agar lebih lembut dan stylish. Hasilnya memukau habis para pemirsa penonton wanita. Diakhir acara, disebutkan kalau Monica memakai lipstick dan kosmetik Club Monaco. Hanya dalam seminggu, kosmetik ala Monica ini, diborong ludes oleh para wanita di 30 toko Club Monaco di Kanada dan Amerika. Pemilik butik Club Monaco sampai kewalahan tuntas. Kosmetik ala Monica jelas merupakan hasil mengail diair keruh. Rejeki nomplok.
Dongeng lainnya yang tak kalah seru, adalah sukses di balik rokok Marlboro. Rokok Marlboro lahir tahun 1924, sebagai salah satu rokok berfilter yang ditujukan untuk wanita. Mulanya dipasarkan dengan konsep segmentasi khusus wanita. Pokoknya Marlboro dibuat sebagai rokok yang lebih pas dan lebih sopan untuk wanita. Itu sebabnya kotak Marlboro berwarna merah, karena dulunya diposisikan sebagai rokok feminin. Malah dalam desain awalnya, ujung filternyapun berwarna merah, agar lipstick wanita yang mengisapnya tidak meninggalkan bekas noda. Kesannya agar lebih rapi dan tidak vulgar. Namun ide ini tidak dibeli mentah-mentah oleh kaum wanita jaman itu. Mengisap rokok tanpa filter jelas lebih nikmat. Tak heran apabila penjualan Marlboro amatlah kecil.
Barulah pada tahun 1950, dipublikasikan untuk pertama kalinya bahwa merokok dapat membahayakan kesehatan karena dapat menimbulkan penyakit kanker paru-paru. Tahun 1953, mulai kelihatan tanda bahayanya. Penjualan rokok di Amerika tiba-tiba merosot. Produsen Marlboro melihat “ikan diair keruh”. Marlboro dari rokok feminin, kini diubah menjadi rokok yang lebih aman bagi konsumen. Berkat perlengkapan filter yang dimilikinya saat itu. Marlboro pun ikut program ganti kelamin. Ia jadi rokok macho sekarang. Rencana promosi dan iklanpun dibuat. Marlboro akan diiklankan dengan serangkaian tokoh macho yang perkasa dari pelaut hingga tentara. Namun biro iklannya, membujuk agar Marlboro diiklankan lewat koboi saja. Ternyata resep itu cespleng dan manjur. Koboi memang visi yang tepat. Hanya dalam setahun saja Marlboro melesat dari cuma menguasai pangsa pasar dibawah 1%, tiba-tiba menjadi salah satu dari 4 besar. Tak heran apabila promosi ala koboi itu tetap dipertahankan hingga kini.
Ditengah krisis dalam bentuk apapun, saya yakin ada celah untuk menyelipkan strategi nomer 20 ini. Saya optimis akan hal itu, karena telah saya alami sendiri. Kuncinya hanya satu. Jangan takut cebur ke air keruh ini. Pokoknya asal mau obok-obok, anda pasti kebagian ikan. Percayalah !