Sunday, May 13, 2007

KETIKA KITA BERDOA

Dalam sebuah acara pernikahan, sebelum acara, MC mengajak para hadirin berdoa bersama. Seperti biasa MC memperkenalkan tokoh yang akan bertindak sebagai pemimpin doa. Kebetulan yang akan memimpin doa adalah seorang petinggi agama. MC pun mengumumkan bahwa doa kali ini sangat istimewa karena dibawakan oleh sang petinggi agama. Seolah-olah nilai dan mujizatnya melebihi doa yang dibawakan orang-orang biasa. Para hadirin disekeliling saya, juga berbisik-bisik, karena sependapat dengan sang MC bahwa doa kali ini, memang super istimewa. Peristiwa ini sangat mengusik sanubari saya.

Seingat saya; bukankah ada pepatah lama yang justru mengatakan bahwa doa dari orang tua adalah doa yang paling mujizat dan bertuah. Sama juga dengan kutukan orang tua kepada anaknya yang durhaka, konon dikenal paling celaka. Mungkin inilah tradisi yang kita hayati selama ini, bahwa masyarakat kita masih lengket dengan ritual-ritual bergengsi. Nikah harus dinikahkan oleh petinggi agama yang beken. Doa harus dibawakan oleh petinggi agama yang ternama. Acara pembukaan harus dibuka oleh pejabat tinggi. Dan seterusnya. Sampai-sampai kegiataan kampus, juga tidak terbebas oleh ritual semacam ini. Sering saya menyambangi kampus untuk sebuah kegiataan sederhana. Tapi ketika acara mau dimulai minimal yang pidato ada 3 pihak, mulai dari ketua panitia, wakil mahasiswa, dan wakil universitas. Kadang kita jadi risih dan jengah dengan acara protokoler yang nyelimet seperti ini.

Walaupun demikian ritual kadang-kadang dibutuhkan juga dalam manajemen. Seorang manajer restoran punya kisah yang lucu. Di restorannya ada menu khusus, yaitu daging yang dibuat “steak” dan dihidangkan dalam pingan panas yang diisi batu-batu koral. Tujuannya agar daging “steak” tidak cepat dingin. Pada awalnya, teman saya mengeluh karena batu-batu koral ini hilang melulu, karena ketika pinggan dicuci, tukang cuci secara sembrono membuang batu koral. Mereka malas mencucinya. Teman saya kesal sekali. Akhirnya ia mencari akal. Suatu hari ia mendatangkan seorang tokoh agama. Lalu didatangkanlah batu-batu koral baru. Ketika datang batu koral ini, sudah dicuci sangat bersih dan dibungkus kain putih. Setelah itu dilakukan upacara dimana ada selamatan khusus, lengkap dengan nasi tumpeng, dan tokoh agama itu berdoa sambil memberikan berkat kepada batu-batu koral tadi. Cerita yang ditiupkan adalah, selamatan dilakukan agar restoran tetap laris manis sepanjang masa.

Uniknya setelah itu tak ada satupun batu coral yang hilang. Batu-batu koral benar-benar dianggap barang suci. Semua takut durhaka kepada sang batu tersebut. Sehingga batu-batu koral tersebut dihargai dengan penuh hormat dan respek. Mirip barang bertuah yang keramat.

Ada cerita lain. Sebuah proyek pembangunan gedung akan segera dimulai. Selamatan dan sesaji sudah disiapkan. Apa dikata sang petinggi agama yang diberi tugas untuk membaca doa, berhalangan hadir. Konon kabarnya sedang sakit perut dan terkena diare berat. Sang petinggi agama mengirim wakilnya. Masih sangat muda. Wajahnya imut-imut dan lebih mirip bintang film. Sangat tidak meyakinkan. Padahal ini proyek ratusan milyar. Bisa berbahaya, kalau para pekera kehilangan kepercayaan terhadap yang mendoa-kan dan doa yang nanti diberikan. Gawat, setiap kecelakaan dimasa mendatang bisa dihubungkan dengan doa yang tidak manjur tadi. Mencari pembaca doa yang kharismatik secepat itu juga tidak mungkin. Harus ada strategi pintas. Bos pemilik gedung, akhirnya nekat. Ia menyuruh supirnya untuk menjemput ayah dari sang supir, yang kebetulan usianya sudah sangat sepuh, rambutnya sudah putih semua. Tapi wajahnya memang meyakinkan. Sangat berkharisma seperti tokoh agama yang sangat sakti. Maka sang ayah dijemput segera. Ketika datang sang ayah sudah memakai baju serba putih-putih, dan berkopiah putih, juga berselempang kain putih. Pokoknya tampil sangat berwibawa. Sang ayah ketika datang, langsung disambut istimewa, dan dipapah jalan kepodium. Ketika menyampaikan doa, beliau sudah diberi tahu jangan bersuara, tapi berdoa bisik-bisik saja. Luar biasa sekali. Suasana pada saat doa sangat tenang dan khsusuk sekali. Semua orang bingung, bertanya-tanya siapakah tokoh misterius ini. Gosip disebar bahwa ia adalah seorang petinggi agama yang sakti dari sebuah pulau terpencil. Hasilnya memang sakti luar biasa. Proyek berjalan aman dan tepat waktu.

Ketika cerita ini saya ceritakan kepada seorang teman yang memiliki sebuah perusahaan, ia tertawa lebar. Karena ia juga korban sindrom “pembaca doa”. Saat perusahaan berkembang sangat cepat, ia selalu yang menjadi andalan untuk memecahkan segala macam problem. Lama kelamaan semua orang bergantung kepada dirinya. Apapun yang terjadi semua menunggu ia memperlihatkan kesaktiannya. Ia menjadi kultus yang mirip dengan “petinggi agama yang beken”. Semua orang menunggu doa-nya. Hanya doa darinya yang dianggap sakti dan mujarab. Bertahun-tahun ia mencoba mengelak. Dengan memotivasi para staffnya untuk kreatif dan berkembang independen. Ia juga sudah mengangkat “pembaca doa” yang baru. Bukan satu tapi beberapa orang sekaligus. Tapi usahanya belum juga berhasil. Ia masih dianggap pandita sakti, yang mampu menghasilkan doa-doa sakti.

Dalam manajemen, ritual memang penting dan berpengaruh. Kemanjuran sebuah usaha malah tak jarang dinilai dari ritualnya. Terkadang pula ritual ini mengaburkan nilai-nilai strategi manajemen yang sesungguhnya.

No comments: