Friday, May 25, 2007

ANCAMAN RESESI ?

Dalam beberapa hari belakangan ini, media cetak di Indonesia beredar cerita tak sedap, soal kemungkinan Asia bakal dilanda krisis moneter yang berikutnya. Isu ini dipicu dengan gejala-gejala yang mirip dengan situasi pada saat krisis moneter 1997. Bagi sejumlah praktisi ekonomi, 2007 tepat 10 tahun setelah 1997, memiliki sebuah gejolak psikologis, bahwa krisis pada umumnya memiliki sebuah siklus. Ini yang ditakuti. Walaupun sanggahan sejumlah ahli menyebutkan bahwa krisis moneter tidak akan mungkin terjadi lagi, karena Asia memiliki cadangan devisa yang jauh lebih besar dan sangat cukup untuk bertahan dari sebuah krisis moneter, kalaupun itu ada.

Pandita Ekonomi Alan Greenspan sendiri, sejak Februari 2007, telah memperingatkan bahwa ekonomi Amerika yang terus menggelembung sejak tahun 2001, kemungkinan besar akan masuk keakhir siklus pertumbuhan dan akan melambat. Konon eknomi Amerika sendiri tumbuh spektakuler sebesar 3.5% di kwartal terakhir 2006. Namun tanda-tanda melemahnya ekonomi Amerika mulai terlihat. Diantaranya keuntungan perusahaan yang mulai stabil dan tidak tumbuh. Alan Greenspan juga merisaukan defisit bujet ekonomi Amerika, sebesar 247 milyar dollar lebih. Angka defisit terbesar selama 4 tahun terakhir ini. Alan Greenspan secara konservatif meramalkan perlambatan ekonomi Amerika setelah 2007, dan mungkin akan terasa semakin nyata tahun 2008 berikutnya.

Bila Amerika mengalami resesi, maka daya beli konsumen Amerika menurun. Padahal secara global Amerika adalah salah satu konsumen global terbesar. Bayangkan kalau Amerika mengurangi impornya dari Asia. Cina kemungkinan besar akan mendorong produknya kepasar lain, seperti Asean. Eksportir Indonesia kemungkinan juga akan kehilangan sebagian pasarnya. Sedangkan Cina akan menyerbu pasar lokal kita dengan produk-produk yang sangat murah. Industri dalam negeri bisa terganggu. Dan anda bisa bayangkan sendiri akibatnya setelah itu.

Ketika artikel ini ditulis, rupiah secara perkasa bertengger di 8.800. Artinya dolar Amerika memang melemah dibanding rupiah. Seorang pialang bergurau kepada saya bahwa bukan rupiahnya yang perkasa, tetapi memang dolar Amerika yang sedang melemah. Beberapa eksportir ikut mengeluh, karena melemahnya dolar, membuat penerimaan rupiah mereka semakin sedikit. Keuntungan otomatis menjadi menipis. Untuk naik harga hampir tidak mungkin. Buat mereka ini situasi yang dilematis.

Lalu, secara mengejutkan BPS mengumumkan bahwa di Indonesia pada bulan April, telah terjadi deflasi sebesar 0,16 %. Setidaknya 30 kota di Indonesia tercatat, penurunan harga barang, dan jasa disektor bahan makanan, dan kelompok pendidikan, olahraga dan rekreasi. Saya berdoa, tanda-tanda deflasi ini bukan trend tetapi koreksi harga saja. Misalnya terhadap melemahnya mata uang dolar. Bila tebakan saya salah, dan deflasi menunjukan trend baru, maka secara awam bisa disimpulkan, permintaan pasar sangat lemah, sampai-sampai produsesn menurunkan harga. Ini sinyal sangat berbahaya, karena deflasi ini bisa menjadi tanda-tanda bahwa ekonomi Indonesia juga ikut melambat.

Secara makro, ekonomi Indonesia memang terlihat sangat perkasa. Tetapi secara mikro, ekonomi Indonesia dikritik tidak memercikan insentif-insentif pertumbuhan yang sehat. Konon gara-gara gencarnya gerakan pemberantasan korupsi akhir-akhir ini, juga tanda-tanda bahwa semakin banyak pejabat dan bekas pejabat yang diseret masuk penjara, maka proyek-proyek di daerah ikut cenderung menurun. Tak heran kalau seorang pejabat membisiki saya bahwa Bank Pembangunan Daerah juga sulit mengucurkan dananya untuk proyek. Malah demi aman-nya banyak Bank Pembangunan Daerah yang menyimpan dananya di SBI mengikuti jejak bank swasta. Jumlah simpanan Bank Pembangunan Daerah di SBI mencapai 34.5 trilyun rupiah. Bandingkan dengan bank umum yang menyimpan di SBI sebesar 364 trilyun lebih.

Bayangkan kalau separuh dari jumlah itu sekitar 200 trilyun dikembalikan ke sistim ekonomi kita dalam bentuk proyek-proyek yang bisa memotivasi pertumbuhan ekonomi. Pasti dahsyat bukan main. Yang membuat saya miris adalah pemberdayaan ekonomi yang juga masih lemah. Seorang distributor produk-produk konsumen di Jawa Barat mengaku pada saya belum lama ini, bahwa jumlah penjualannya terus menerus menurun dari November 2006 hingga April 2007. Tiap hari ada saja yang mengeluh soal ekonomi. Ada sarjana yang lulus dari perguruan tinggi terkemuka di Yogya, sudah hampir setahun masih luntang lantung di Jakarta. Kepada saya ia mengaku sudah bosan menulis surat lamaran setiap hari. Panggilan interview tak kunjung datang. Selama hampir setahun, ia kerja serabutan. Uniknya lowongan kerja yang tersedia baginya adalah justru menjadi guru. Tetapi sayang hatinya tidak terpanggil untuk menjadi guru.

Pada akhir pekan lalu, iseng-iseng saya dan Mpu Peniti jalan-jalan disebuah mall baru. Semuanya serba ramai, terutama di semua restoran yang ada. Penuh sesak dengan pengunjung. Tidak terasa sama sekali bahwa ekonomi bermasalah. Ketika kami berdua makan disebuah restoran, saya sempat berkelakar dengan sang pelayan bahwa bisnis luar biasa bagusnya. Sang pelayan malah tersenyum kecut, karena menurut dirinya restoran cuma ramai diakhir pekan saja. Hari-hari biasa, bisnis sama sekali tidak ramai. Barangkali ungkapan sang pelayan benar adanya. Ketika pulang, di depan lobby sambil menunggu mobil, kami memang melihat jarang sekali ada konsumen yang menjinjing tas belanja. Mungkinkah kebanyakan konsumen hanya cuci mata saja, dan rekreasi makan-makan.

Diperjalanan pulang menuju rumah, hampir disetiap perempatan jalan utama, kami menjumpai pengemis dan pengamen. Jumlah mereka cukup banyak. Bukan hanya orang tua yang mengemis dan mengamen tetapi juga anak-anak kecil. Mpu Peniti menarik nafas dalam-dalam. Beliau menuturkan bahwa kita telah kebal dengan situasi. Panca indera kita mati rasa. Sementara sayup-sayup diujung jalan lain kami berdua melihat pejabat dikawal polisi melintas cepat. Pasti pejabat tinggi pulang rumah. Menurut Mpu Peniti ada baiknya pejabat sekali-kali tidak dikawal. Biarkan mereka lewat di lampu merah seperti orang biasa. Mereka perlu melihat pengemis dan pengamen itu. Agar mereka merasakan bahwa realita ekonomi bukan hanya yang dilaporkan diatas kertas dan koran. Realita ekonomi kita masih memiliki kegureman yang perlu diperjuangkan. Diantara ketidak seimbangan itu, bulu kuduk saya berdiri semua. Tak terbayang oleh saya, kalau ramalan-ramalan itu terbukti, bahwa kita diambang krisis moneter berikutnya, dan resesi mengancam kita. Duh, apa kata dunia ?

No comments: