Thursday, August 19, 2010

KEMERDEKAAN, ALIA DAN KEMISKINAN



Sebuah media nasional menulis tentang fenomena maraknya bunuh diri dikalangan masyarakat bawah, semata karena tidak tahan menghadapi kemiskinan. Membacanya berita seperti itu dari hari ke hari, kepedihan kita meluap. Nyeri dan sakit hanyalah satu-satunya perasaan yang kita miliki. Dan setelah 65 tahun merdeka, kita masih menyimpan cerita seperti itu, terasa benar cacat dan ketidak berdayaan yang kita alami. Kita menjadi renta tanpa karya. Hanya itu yang saya rasakan ketika menonton perayaan kemerdekaan di televisi.

Kata Mpu Peniti, miskin adalah penyakit yang paling berbahaya di negeri ini. Bukan saja menular, tetapi seringkali fatal. Belum lama ini, seorang wanita cantik datang berkunjung kepada Mpu Peniti. Muda, cantik, dan bertubuh sexy. Sebut saja namanya Alia. Dan Alia minta tolong kepada Mpu Peniti, agar diberikan susuk khusus. Alia bekerja disebuah panti pijat di kota Bandung. Bukan panti pijat biasa. Melainkan panti pijat plus. Kulit Alia kebetulan memang agak hitam, dan ia merasakan itu kelemahan-nya yang utama untuk berkompetisi. Sehingga para tamu jarang memilih dia. Alia kepingin laris. Itu sebabnya ia mau pasang susuk.

Tentu saja Mpu Peniti menolak permintaan itu secara halus. Ia hanya mendoakan Alia. Itu terapi yang paling manjur yang diberikan Mpu Peniti. Cerita tentang Alia barangkali sangat using dan terlalu banyak masuk telinga kita. Tetapi itulah kenyataan tentang kemiskinan di negeri ini. Alia datang dari keluarga petani miskin di sebuah desa di Jawa Barat. Keluarganya termasuk besar, dengan 8 anak, dan Alia adalah anak bungsu. Ayahnya telah meninggal. Hanya ia saja yang belum menikah. Karena mereka adalah keluarga miskin, kakak-kakak Alia juga menikah dengan keluarga-keluarga yang setara. Rata-rata juga dengan derajat kemiskinan yang sama. 5 kakak prianya hanya bekerja serabutan. Itu istilah Alia. Artinya tidak ada yang punya karir tetap. Akibatnya penghasilan mereka juga tidak tetap. Dua kakak wanitanya menikah dan hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Ibu Alia sudah tua dan sering sakit. Itu sebabnya beban dan harapan keluarga semuanya ditumpahkan pada Alia.

Ketika Alia bercerita pada saya dan Mpu Peniti, diujung matanya terlihat genangan air mata. Saya ikut sedih. Alia yang bungsu dan semestinya memiliki sejumlah harapan dan masa depan, menjadi tidak berdaya karena terhimpit kemiskinan. Alia akhirnya memutuskan datang kekota Bandung dan mencari pekerjaan di kafe. Sebagai pramusaji. Berkat kecantikan wajahnya, ia mudah saja mendapat perkerjaan. Namun profesi sebagai pramusaji hanya memberikan nafkah yang pas-pas-an. Tanpa banyak insentif. Dipotong biaya kos dan transport sehari-hari, Alia hamper tidak bias menabung. Apa dikata suatu hari ia pulang kampung, dan mendapati Ibunya sakit. Dan beberapa kakaknya mengeluh tentang kehidupan didesa yang sering kekurangan. Alia menjadi sedih bukan main. Itu awalnya.

Ketika kembali ke Bandung, teman satu kos Alia mengajak Alia bekerja di karaoke. Ceritanya disana bekerja sangat mudah, hanya ikut bernyanyi dan mendapat tip banyak. Maka pindalah Alia dari seorang pramusaji menjadi seorang pramuria. Barangkali setelah itu banyak kejadian yang memalukan. Alia segan bercerita kepada kami lanjutan cerita itu secara rinci. Alia hanya bercerita bahwa suatu hari ia mulai bias mengirim uang ke desa. Tidak banyak.Hanya beberapa ratus ribu. Tetapi sambutan keluarganya menjadi sangat luar biasa. Alia kini menjadi pahlawan keluarga. Jeleknya keluarga sangat mendambakan dan seringkali tergantung kepada kiriman uang Alia. Tanpa mau tahu penderitaan dan kerja keras Alia di Bandung.

Alia mengumpamakan hidupnya mirip teh poci. Awalnya panas dengan gula batu. Rasanya pahit. Tetapi setelah teh dingin dan semua gula batu larut, teh menjadi kental dan manis. Semua larut , tanpa perlawanan. Begitu cerita Alia. Tanpa perlawanan, akhirnya Aulia bekerja di sebuah panti pijat. Tanpa perlawanan Alia akhirnya menjual tubuhnya. Cerita seperti Aulia memang membosankan. Karena cerita ini sudah kit abaca entah kesekian ratus kali. Juga kita tonton di sinetron dan film berkali-kali. Sehingga cerita tentang Aulia tidak lagi memiliki kekuatan untuk merongrong emosi kita. Tidak lagi ada air mata. Kecuali hela-an nafas kecil. Kesadaran kita semakin mati rasa. Seolah Alia adalah bagian dari sebuah kehidupan modern disebuah kota besar. Tidak ada yang aneh.

Alia sendiri bercerita bahwa kini rata-rata ia bisa mengantongi uang antara 400 ribu hingga 500 ribu setiap malam. Sebulan ia minimal bisa menghasilkan uang antara 6 juta hingga 8 juta. Mulanya ia gigih menabung. Tetapi keluarganya semakin pandai mengarang cerita tentang kebutuhan ini dan itu. Persis seperti cerita the poci. Alia larut begitu saja dan terus menerus mengirim uang ke kampong. Yang didapat Alia cuma pujian bahwa ia adalah pahlawan dan tiang bersandar keluarga. Cerita tentang Alia bertambah seru, karena Alia pernah ditipu sekian banyak lelaki yang bersumpah mencintai Alia. Serta Alia kehilangan lebih dari 10 juta karena percaya pada temannya yang mengajak berkongsi berdagang pakaian disebuah mall.

Yang membuat saya sangat terluka, adalah kenyataan bahwa Alia menjadi takut dan kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Alia takut pada masa depan. Alia menjadi pesimis. Itu sebabnya ia menempuh jalan pintas. Alia mencari susuk. Seperti kata Mpu Peniti, kemisikinan adalah penyakit yang menular. Menciptakan penderitaan dan masalah yang berlapis-lapis. Barangkali ketika kita kenyang usai menonton perayaan kemerdekaan Indonesia di televisi, dan mensyukuri hidangan saat berbuka puasa, tidak ada salahnya kita berdoa untuk mereka yang miskin. Agar mereka dibukakan jalan. Para pemimpin negeri mau merenung dan mencari jalan yang bijak agar kemiskinan di negeri ini di tumpas habis. Saya berdoa agar ada pemimpin negeri ini yang mau berjuang memerdeka-kan negeri ini dari kemiskinan. Secepat-cepatnya dan selama-lamanya.

No comments: