Sunday, December 14, 2008

GARPU TALA

Seorang pejabat tinggi negara, datang menemui Mpu Peniti. Mula-mula keluhannya nampak biasa. Stress. Ndak bisa tidur. Urusan, masalah dan tekanan datang dari mana-mana. Setelah ngobrol lebih dari 40 menit, baru terbongkar. Sang pejabat ternyata kuatir soal dosanya. Maklum ia telah menjadi birokrat lebih dari 20 tahun. Sejak jaman orde baru. Jadi tidak mungkin selama karirnya “lurus selalu”. Sama seperti teman dan koleganya ia juga “tikang-tikung” kiri kanan. Mungkin tidak 100% korupsi. Tetapi kalau menerima sogokan, upeti, dan melenturkan peraturan, ia sering melakukan-nya. Yang bikin ia sedih, sudah 5 teman dekatnya disidik gara-gara perbuatan lama. Satu malah sudah masuk penjara. Maka hatinya sedih, ia takut disidik pula. Usianya sudah senja. Kalau ia sampai masuk penyidikan, maka hancur nama besarnya. Dan ia pasti tidak tahan dipenjara. Ia mencari jalan agar dirinya selamat.

Usai peristiwa itu, saya sempat ngobrol dengan Mpu Peniti. Kali ini dengan keprihatinan yang sangat mendalam. Sebagai murid beliau, bertahun-tahun saya belajar untuk mempertajam nurani. Dan memperjuangkan nurani dengan keberanian. Tidak selalu berhasil. Sering gagal. Membuat saya malu. Akhirnya Mpu Peniti, memperlihatkan kepada saya sebuah kotak kayu jati yang berukir, dan terlihat sangat kuno sekali. Dari dalamnya beliau mengeluarkan sebuah garpu tala yang dibungkus kain batik lusuh. Cerita Mpu Peniti, garpu tala itu pemberian teman karibnya. Konon, ketika masih muda, Mpu Peniti punya seorang sahabat karib yang kebetulan juga adalah seorang pastor di Yogya. Suatu saat ketika sang pastor permisi mau kembali balik ke Itali, maka Mpu Peniti memberikan oleh-oleh salah satu koleksi keris tuanya yang sangat berharga. Mulanya sang pastor merasa enggan menerimanya. Karena ia tahu persis nilai keris itu bagi Mpu Peniti. Tapi Mpu Peniti meyakinkan sang pastor, bahwa apalah arti sebuah persahabatan, apabila seorang sahabat tidak berani dan tidak mau memberikan yang terbaik dan paling berharga kepada sahabatnya. Dengan terharu akhirnya sang pastor menerima keris itu dari Mpu Peniti. Sehari sebelum sang pastor berangkat pulang, beliau menemui Mpu Peniti lagi dan menyerahkan kotak jati berukir yang berisi garpu tala itu. Kata sang pastor, beberapa hari ia tidak bisa tidur, karena ia berusaha mencari satu milik pribadinya yang paling baik dan berharga untuk diberikan kepada Mpu Peniti. Mulanya ia bingung karena merasa tidak punya barang berharga yang bisa ia berikan. Namun akhirnya ia merasa garpu tala miliknya adalah barang yang tepat.

Sang pastor kebetulan adalah seorang guru musik yang fasih memainkan gitar dan piano. Dan ia seringkali menggunakan garpu tala untuk mencari nada yang sebenarnya atau “perfect pitch”. Konon seusai pertukaran momento itu, Mpu Peniti mendapat cerita yang filosofis juga dari sang pastor. Sebuah cerita yang kemudian beliau turunkan kepada saya. Garpu tala yang diciptakan pada tahun 1711 oleh seorang musisi Inggris, John Shore, memang merupakan sebuah resonator akustik. Bentuknya garpu yang memiliki 2 bilah logam lunak yang saling bergetar dan beresonansi untuk membentuk nada yang utuh dan sempurna. Kini garpu tala digunakan sebagai alat kalibrasi diberbagai bidang, temasuk musik, kesehatan, jam dan peralatan radar.

Garpu tala itu sendiri telah disimpan Mpu Peniti lebih dari 30 tahun lamanya. Konon sang pastor itu sendiri telah wafat beberapa tahun yang lalu. Cerita Mpu Peniti pada saya bahwa, hidup ini harus selalu kita kalibrasi agar menemukan ‘perfect pitch’. Jangan sampai meleset, dan menjadi ‘fals’. Dan sesuai dengan desain garpu tala, ‘perfect pitch’ itu hanya akan terjadi apabila ada dua bilah logam yang saling beresonansi. Ngak bisa cuma satu. Istilah Mpu Peniti ada aksi ada reaksi. Ada sebab dan ada akibat. Dan dalam kasus pejabat didepan cerita ini, Mpu Peniti bercerita bahwa mungkin sang pejabat sudah sekian lama tidak menggunakan garpu tala-nya untuk meng-kalibrasi hidupnya. Robert Louis Stevenson, seorang penulis pernah berkata, “Don't judge each day by the harvest you reap ... but by the seeds you plant!”. Barangkali ini yang sering kita lupakan. Kita hanya menilai semuanya berdasarkan hasil akhir dan rejeki hari ini. Tidak pernah sekalipun kita mempertanyakan bibit yang pernah kita tanam.

Mpu Peniti mengingatkan hal itu dengan sebuah dongeng populer. Alkisah, ada seorang anak lelaki yang buta kedua matanya. Ia hidup di sebuah rumah yatim piatu. Hidupnya selalu sunyi dan sepi. Ia selalu meratapi nasibnya yang malang. Yatim piatu dan buta pula. Hingga suatu saat ada donor yang rela mendonorkan kedua matanya untuk anak yatim piatu ini, sehingga ia bisa melihat lagi. Sang anak lalu bangkit dan menjadi sangat bersemangat dalam hidup. Bertahun-tahun ia belajar tekun, hingga berhasil menjadi gubernur di sebuah propinsi. Lalu suatu hari, ada seorang wanita tua yang buta datang menemuinya dan mengaku bahwa dia-lah ibu yang sesungguhnya dari anak lelaki yang sudah menjadi gubernur. Namun sang gubernur melihat seorang wanita tua yang buta dan lusuh, ia menjadi marah dan merasa sang wanita hanya mengarang cerita saja. Sang gubernur merasa sangat malu dan mengusir wanita itu pergi. Beberapa tahun kemudian, sang wanita tua yang buta itu meninggal. Dan ia mewariskan rumah tuanya yang renta dan kecil kepada sang gubernur. Dalam surat wasiat sang wanita tua buta itu, baru kemudian sang gubernur sadar dan mengetahui bahwa wanita tua buta itu memang ibunya yang sesungguhnya. Rupanya ibunyalah yang menjadi donor dari kedua matanya, sehingga ia bisa melihat lagi. Setelah ibunya wafat, yang dimiliki sang gubernur hanyalah kesedihan dan penyesalan yang bertumpuk.

Mendekati usainya tahun 2008, barangkali ada baiknya kita semua mengeluarkan garpu tala kita, dan mencoba meng-kalibrasi kehidupan kita. Mengembalikan hidup kita dalam satu kesatuan ‘perfect pitch’ yang harmonis.

2 comments:

jouw said...

numpang leawt cuma mo liat blog@
saya dapat dari surat kabar jadi benar2 penasaran nie

he2nk udah ya da

Pawonbareng said...

hmm.. filosofi yg sederhana tp dalem...

salam kenal pak, lagi blogwalking