Tuesday, July 01, 2008

MATA HATI

Salah satu pelajaran yang paling berkesan saat saya menimba ilmu dari Mpu Peniti adalah soal Mata Hati. Hal yang paling umum dalam kehidupan kita setiap hari, adalah membuat dan mengambil keputusan. Jumlahnya sangat banyak. Ratusan hingga ribuan tiap harinya. Mulai dari kapan kita bangun tidur, mandi, minum kopi hingga pakaian apa kita pakai ke kantor dan sarapan apa yang akan kita nikmati. Sebagian dari proses membuat dan mengambil keputusan memang berdasarkan informasi yang kita miliki dan logika yang terlatih. Misalnya jenis sepatu yang akan anda pakai hari ini, kemungkinan sekali akan sangat bergantung kepada warna baju yang akan anda kenakan. Kita mencoba menciptakan keserasian antara warna baju dengan warna sepatu. Dalam kasus ini logika yang kita miliki kemungkinan besar adalah sesuatu yang terlatih dan telah menjadi kebiasaan bertahun-tahun.

Dikantor, lain lagi perkaranya. Kita seringkali dilatih dan menjadi terlatih, membuat dan mengambil keputusan berdasarkan informasi atau data yang kita miliki. Semakin banyak informasi dan data yang menopang keputusan yang akan kita buat, maka prosesnya cenderung semakin cepat dan semakin akurat. Sebaliknya bilamana semakin sedikit, maka semakin lama kita membuat dan mengambil keputusan. Kita cenderung menjadi ragu, gamang dan tidak mantap dalam membuat dan mengambil keputusan itu.

Gaji dan jabatan anda juga sangat bergantung kepada kemahiran yang satu ini. Bilamana anda terbukti cepat, tegas, akurat dan bijaksana dalam membuat dan mengambil keputusan, biasanya anda akan dilabel sebagai pimpinan yang yahud ! Otomatis posisi anda termasuk elite dan biasanya memiliki jabatan tinggi dengan gaji yang aduhai pula. Jadi membuat dan mengambil keputusan adalah kemahiran yang strategis. Yang menentukan nasib karir anda. Jangan heran apabila diluar sana, banyak sekali kursus eksekutif yang khusus memberikan pendidikan dan pelatihan dalam membuat dan mengambil keputusan.

Masalahnya baru akan timbul apabila data atau informasi yang kita butuhkan untuk membuat dan mengambil keputusan jumlahnya nihil alias tidak ada sama sekali. Lalu apa yang harus kita perbuat ? Bagaimana caranya membuat dan mengambil keputusan dalam situasi seperti ini ? Biasanya ada 3 opsi. Pertama, batal membuat dan mengambil keputusan. Kedua tebak saja. Antara benar dan salah, kemungkinannya hanya 50:50. Jadi kalau masalahnya tidak terlalu urgent dan masalahnya sepele, membuat dan mengambil keputusan dengan menebak merupakan metode yang bisa dipertanggung jawabkan. Misalnya anda masuk kesebuah restoran, dan tidak tahu harus memesan masakan apa, maka lihat saja kesekeliling anda. Pilih masakan yang banyak dipilih tamu-tamu lain. Biasanya tebakan seperti itu aman-aman saja.

Atau, anda bisa ikut saran Mpu Peniti. Yaitu menggunakan mata hati anda. Setidaknya itulah istilah dari Mpu Peniti. Orang lain ada yang menyebutnya dengan sebutan indra ke-enam atau intuisi. Dalam hidup ini, ada saat-saat yang sangat penting dan genting, dimana kita membuat dan mengambil keputusan justru dengan lebih mengandalkan mata hati. Misalnya saja menikah, atau pada saat menerima tawaran kerja. Konon inilah proses membuat dan mengambil keputusan yang paling misterius. Kaum entrepener yang lihai konon memiliki kemampuan misterius ini. Seolah-olah mereka memiliki mata hati yang tajam luar biasa.

Dr. Gred Gigerenzer, profesor psychology dari Universitas Chicago, dan juga penulis buku “GUT FEELINGS – The Intelligence of the Unconscious”, mengatakan bahwa kita harus berani memanfaatkan “the unknown”. Kalau data dan informasi adalah bekal membuat dan mengambil keputusan, maka ketidak hadir-an data dan informasi mestinya menjadi bekal yang sama dalam membuat dan mengambil keputusan. Hal ini yang populer disebut dengan “recognition heuristic”. Dr. Gred membuat sebuah eksperimen, dengan bertanya kepada mahasiswa Amerika, dengan pertanyaan kota mana yang memiliki populasi terbesar ? Detroit ? Atau Milwaukee ? Dan uniknya hanya 60% mahasiswa yang menjawab Detroit dan benar. Ketika eksperimen ini diulang ke mahasiswa Jerman, maka hampir 100% menyebut Detroit dengan benar. Sebabnya sepele sekali. Rata-rata mahasiswa Jerman tidak pernah mendengar Milwaukee. Anggapan mereka karena Detroit lebih populer dan lebih sering terdengar, pasti Detroit memiliki populasi yang lebih besar.

Kebanyakan kaum entrepener terbiasa mengambil keputusan seperti diatas. Sehingga mereka kelihatan lebih mahir dan cepat membuat dan mengambil keputusan. Mereka terbiasa menggunakan dan melatih mata hati mereka. Mereka bukan saja berani dan bisa mengambil keputusan berdasarkan apa yang mereka tahu dan mengerti, tetapi mereka juga keluar jalur dengan menggunakan “akal sehat” yang kadang prosesnya sederhana, ngaco, tidak beraturan, tetapi benar dan masuk akal.

No comments: