Sunday, October 06, 2013

IDE GILA PILPRES IV (TAMAT)
























Seorang teman bercerita tentang pengalaman-nya kena tipu disebuah mall. Alkisah ia sedang cuci mata disebuah department store terkenal. Tiba-tiba seseorang menyapa dengan bahasa Inggris. Ia menoleh dan seorang yang mirip dengan warga keturunan India mengatakan bahwa ia terkesima karena melihat wajah teman saya yang menurutnya sangat beruntung alias "hoki" sekali. Awalnya teman saya cuma tersenyum. Siapa sih yang tidak mau dipuji dengan pujian bahwa dirinya punya peluang "hoki" yang sangat besar. Lalu sang warga negara asing melakukan sulap untuk meyakinkan teman saya. Yaitu dengan cara menebak nama istri dan anaknya. Tebakan tepat 100%. Teman saya dikatakan akan mendapat rejeki besar dalam 3 hari. Supaya rejeki tidak lari, teman saya dikasih doa dalam coretan yang tidak dimengertinya. Dan diminta uang. Teman saya akhirnya kena memberi uang 500 ribu. Jimat dari orang itu ditaruhnya didalam dompet, dan ia dengan setia menunggu rejeki nomplok dalam 3 hari. Apa yang terjadi duit hilang dan rejeki tidak pernah datang.

Ketika cerita itu digelar dalam sebuah acara makan siang bersama beberapa teman. Kami semuanya tertawa terbahak-bahak. Seorang teman menyebutnya sebagai sebuah nujum jalanan. Teman lain menyebutnya sebagai sulap tipu. Tawa kami mulai berhenti, ketika salah satu teman kami dengan serius mengatakan bahwa situasi Indonesia saat ini juga mirip nujum jalanan. Lalu kami semuanya dengan seksama menyimak. Teman ini berkata bahwa pemilu tahun 1999 - tingkat partisipasi pemilih sangat tinggi  92,74%. Rakyat benar-benar menikmati semangat reformasi. Dan penuh harapan bahwa bangsa dan negara akan berubah. Ada kepercayaan yang sangat tinggi. Mirip teman saya yang kena tipu. Ia dengan setia dan cemas menunggu selama 3 hari untuk rejeki nomplok. Setelah 3 hari lewat teman saya masih juga menunggu. Seminggu lewat. Sebulan lewat. Lalu iapun kecewa, marah dan menyobek jimat yang dibelinya 500 ribu itu.

Sama dengan rakyat Indonesia, mereka juga menunggu. Namun rasa kecewa mulai meresap, ketika apa yang ditunggu tidak datang. Maka partisipasi pemilu 5 tahun berikutnya merosot menjadi  84,07% ditahun 2004. Kekecewaan itu berlanjut terus, rakyat mulai bosan menunggu dan menjadi apatis. Tahun 2009, jumlah pemilih tinggal 71%. Tahun 2014 ada rasa kuatir yang dalam bahwa partisipasi pemilih dalam pemilu bisa turun dibawah 70% atau hanya mendekati 50%. Hal ini sudah terbukti dengan tingkat partisipasi yang rendah di berbagai daerah saat pilkada ditahun 2013. Tingkat partisipasi pemilu hanya tinggal 50% - 70%. Rakyat jelas menjadi malas, dan apatis. Prestasi reformasi selama 15 tahun lebih jelas sangat mengecewakan. Negara penuh dengan skandal dan kasus korupsi.

Maka dalam pemilu tahun depan kita harus punya harapan baru. Kita harus punya perhitungan yang baru. Kita tidak lagi bisa terjerumus menjadi korban nujum jalanan ala partai politik. Kita butuh terobosan baru. Kita butuh ide gila.

Salah satu teman kami yang bisnisnya dibidang IT, mengungkapkan sebuah model berpikir. Bayangkan komputer anda berjalan dengan sangat lambat dan terus menerus mogok dan macet. Apa yang kita perbuat ? Sederhana - Reboot - ! Komputer di matikan dan kita nyalakan ulang. Biasanya ketika mau start, ketika komputer mendapat koneksi internet, secara otomotis komputer akan meng-upgrade piranti lunak alias software terbaru untuk mencegah komputer macet dan mogok. Dan teman saya mengutip kalimat dari filsuf Swedia  Søren Aabye Kierkegaard yang hidup diabad ke 19, " Life can only be understood backwards, but it must be lived forward." Artinya apa yang telah terjadi setelah tahun 1999 sebaiknya hanya dijadikan sebuah pelajaran. Tapi tujuan kita setelah tahun 2019 alias 20 tahun setelah reformasi adalah tujuan hidup bangsa ini yang sesungguhnya. Teman kami menyarankan kita membuat sebuah sayembara nasional - Visi Indonesia 2020. Setiap kontestan pemilu harus menyampaikan kepada rakyat dokumen perencanaan Visi Indonesia 2020, lengkap dengan tujuan dan rencana kerja. Calon pemimpin nasional yang tidak memiliki visi itu jangan dicoblos. Titik. Habis perkara !
Memang gila sih ! Tapi saya setuju banget. Saya pikir kita tidak punya waktu lagi. Indonesia harus bergerak sangat cepat, kalau tidak kita akan ketinggalan momentum dan juga kesempatan. Setelah ASEAN menjadi satu kawasan terintegrasi tahun 2016, Indonesia cuma punya dua pilihan. Memimpin didepan. Atau hanya ikut-ikutan dibelakang.

Lalu bagaimana dengan korupsi ? Teman lain, punya ide gila juga. Dia menyarankan kita bikin gerakan "ZERO TOLERANCE CORUPTION", artinya nol korupsi. Partai politik harus bikin kontrak anti korupsi di media massa satu halaman. Kontraknya sederhana. Andaikata mereka menang pemilu dan lalu berkuasa. Terus dalam perjalanannya ada kader partai yang terbukti korupsi, maka partai tersebut harus sukarela mundur dan membubarkan pemerintahan lalu dalam waktu 90 hari melakukan pemilu baru. Gila bener ide ini. Tapi masuk akal. Partai politik yang tidak serius dan tidak berani membuat kontrak anti korupsi ini, jangan dicoblos ditahun 2014. Selesai. Habis perkara, dan tanpa kompromi.

Memang gila tapi kalau ada pemimpin yang serius mau memimpin dengan bersih, jujur, dan peduli, maka 2 syarat diatas bukanlah sebuah syarat yang tidak mungkin. Masuk akal dan pas menurut teman-teman kami.

Minggu lalu ketika saya menengok guru spiritual saya, Mpu Peniti, dan kami berdiskusi soal dan hal yang sama. Beliau punya teori yang cukup unik. Kata beliau, "Hanya maaf dan cinta yang bisa menyelamatkan bangsa dan negara ini". Tahun 1998 dan tahun 1999 kita melampiaskan sekian banyak amarah dan keputus-asa-an. Ketika ada kesempatan untuk berubah, kita tidak mengisinya dengan maaf dan cinta. Ibarat naik komedi putar, yang kita lakukan ada berebut naik diputaran berikutnya. Gantian giliran naik, itu istilah Mpu Peniti. Yang dulunya ngak kebagian naik komedi putar, berebut naik dan mencoba komedi putar. Lalu kita berputar dan mabuk. Maka kita pun gantian korupsi. Masa sih yang kaya hanya yang dulu berkuasa ? Kita juga ingin berkuasa, menikmati kekuasaan, dan menggunakan kekuasaan untuk kaya raya. Jadi jangan heran kalau tiap hari ada berita korupsi di koran.

Tapi 20 tahun rasanya cukup sudah. Satu generasi lewat. Saatnya kita menggunakan maaf. Bukan amarah. Bukan nafsu. Dan bukan serakah. Itu teori Mpu Peniti. Kita harus berani legowo. Menyerah dan kembali hidup benar. Maka menurut Mpu Peniti, tahun 2014, kita hanya butuh pemimpin yang peduli. Yang mau dengan rasa cintanya yang sepenuhnya utuh, memimpin bangsa dan negara ini. Pemimpin yang cinta Indonesia dan rakyatknya 100%.

Bila saya sambungkan teori teman-teman saya dan teori Mpu Peniti, rasanya sangat klop. Kita harus re-boot komputer kita dan negara kita dengan meng-up-gradenya dengan cita-cita yang baru dan visi yang baru. Maka pemimpin yang hanya bercita-cita ingin gantian naik komedi puter, dengan rendah hati kita minta mereka agar mundur dengan kesatria. Memberikan kesempatan kepada pemimpin lain, yang punya semangat, yang punya keberanian dan tahu apa yang harus dibuatnya untuk mensejahterakan bangsa. Pemimpin yang punya Visi Indonesia 2020 yang cemerlang.

Kedua pemimpin yang harus memimpin kita tahun 2014 adalah pemimpin yang cinta tanah air dan bangsa Indonesia. Yang berani menandatangi kontrak anti korupsi dihadapan seluruh bangsa. Pemimpin yang serius ingin mengubah nasib Indonesia. Nah, pemimpin yang setengah-setengah, sebaiknya menyerah dan legowo mundur. Bagi anda yang skeptis membaca artikel ini, dan mengatakan tidak mungkin. Saya setuju. Namanya ide gila. Dan ditengah kegilaan yang ada, apabila kita tidak ingin Indonesia merosot lebih jauh. Rasanya ide gila diatas, masuk akal juga. Karena kita memang butuh terobosan. Kita bertanggung jawab untuk menyelamatkan Indonesia.

No comments: