Friday, February 29, 2008

CERITA DARI HOLLYWOOD

Semua orang pasti pernah jatuh. Mulai jatuh cinta, jatuh dari sepeda, dan juga jatuh bangkrut. Jadi jatuh itu normal sekali. Tapi jatuh juga pasti sakit. Kadang malah meninggalkan luka, cedera, dan cacat. Itu konsekuensi jatuh. Itu sebabnya dalam ilmu bela diri, dan berbagai olah raga yang beresiko tinggi, kadang anda diajarkan juga seni jatuh yang benar dan aman. Kesimpulannya jatuh perlu ilmu dan seni tersendiri. Seorang pengusaha meledek saya, katanya “The Art of Falling”. Ia sendiri bercerita dengan sungguh-sungguh tentang jatuh bangun yang dialaminya. Ia sudah kawin cerai 3 kali. Bukan sesuatu yang dibanggakan-nya, melainkan pelajaran hidup yang paling pahit. Begitu kilahnya setiap kali bercerita. Dalam bisnis ia sudah jatuh bangun lebih dari 10 kali. Kawin cerainya juga akibat tidak langsung dari kejatuhan bisnisnya.

Ia bercerita bahwa ketika jatuh pertama kali, ia merasakan sakit yang bukan main. Berusaha mencari simpati. Bersedih-sedih pula. Ia merasa dunia tidak adil. Pokoknya macam-macam dah. Hampir setahun ia tidak mengerjakan apa-apa. Pada saat yang sama ia diceraikan isterinya. Mulanya ia berpikir nasibnya mirip peribahasa kuno, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Suatu hari ia melihat anaknya yang bungsu jatuh dari sepeda motor, ketika baru belajar naik sepeda motor. Lengan dan kakinya, penuh luka semua. Tapi hari kedua, anaknya sudah belajar naik sepeda motor lagi. Mulanya ia menganggap anaknya bandel bukan kepalang. Namun ketika seminggu kemudian anaknya sudah bisa naik motor, iapun menyadari satu hal penting. Setiap kali kita jatuh, yang terpenting adalah bukan jatuhnya tetapi justru kebangkitan dari kejatuhan itu sendiri.

Barry J Woltz, seorang entrepener yang sudah jatuh bangun berkali-kali, menulis sebuah buku yang sangat elok, yaitu “Bounce”. Ibarat bola bekel yang selalu mental, dan tidak pernah jatuh. Ini rahasia sesungguhnya. Jangan jatuh tetapi menggunakan kejatuhan untuk mental balik. Barry menulis, kegagalan, dan kejatuhan, memang sakit dan nyeri. Tetapi bahaya yang sesungguhnya justru merobek dan mencederai ego kita. Sehingga kita merasa tidak percaya diri. Mudah curiga ! Dan kehilangan keberanian. Ini tantangan terberat. Andaikata kita membalik situasi ini, dan memanfaatkan kegagalan dan kejatuhan justru untuk merancang ulang ego kita. Yaitu membuat kita menjadi lebih rendah diri. Waspada dan eling. Kejatuhan dan kegagalan justru sangat positif. Thomas Alva Edison, menemukan lampu pijar justru setelah mengalami ribuah experimen yang gagal. Beliau berkata, bahwa satu yang sempurna dan berhasil, ditemukan justru setelah ribuan yang gagal. Jadi kegagalan dan kejatuhan adalah benih sukses terbaik.

Mpu Peniti, menyebut kegagalan dan kejatuhan adalah „expensive training“. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk gagal dan jatuh. Kalau dipikir-pikir, Mpu Peniti bener juga sih! Jadi kegagalan dan kejatuhan mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Barry menulis didalam bukunya, bahwa minimal ada beberapa skills yang bisa dipelajari. Pertama, kegagalan dan kejatuhan bisa mendidik kita untuk lebih sabar dan teliti. Kedua, kegagalan dan kejatuhan melatih kita lebih handal dalam hal meraba dan menghitung resiko. Dan ketiga, yang paling penting kegagalan dan kejatuhan harus mampu justru membuat kita tahan uji, dengan keberanian yang berbeda.

Setelah saya renungkan, uraian Barry didalam bukunya persis sekali, sejalan dengan nasib seorang teman saya. Ketika kuliah dulu, ia dikenal pemalu dan selalu rendah diri. Kini ia menikah dengan bekas seorang model yang cantik luar biasa. Konon menurut cerita teman-teman, ia juga setelah kuliah dikenal sebagai seorang playboy ulung. Bila diurut secara seksama, seperti ada yang membalik nasibnya 180 derajat. Belum lama ini, saya bertemu lagi dengan dirinya di Los Angeles, setelah sekian lama kita tidak pernah ketemu. Iseng saya menanyakan rahasianya. Ia cuma mesem-mesem saja, lalu pelan-pelan mengisahkan kisah hidupnya. Dalam cerita beliau, memang terungkit bahwa ia mengalami puluhan kali atau bahkan jumlah yang tidak terhitung lagi, tolakan dari cewe ketika ia mengajak mereka kencan. Mulanya ia menganggap dirinya terkutuk dari sentuhan cinta. Ia mulai menyendiri, dan banyak menghabiskan waktu diperpustakaan. Iseng-iseng ia mulai membaca berbagai buku tentang tekhnik kencan. Pelan-pelan ia sadar, lalu memanfaatkan sejumlah kegagalan dan kejatuhan yang pernah dialaminya. Iapun menjadi percaya diri dan berani-berani saja mengajak wanita kencan. Dan kali ini ia melakukan-nya dengan cara yang berbeda. Dahulu ketika kuliah, ia berusaha mengajak kencan cewe yang tidak terlalu cantik, dengan alasan ia tahu betul kondisi dan situasi dirinya. Tapi kini ia berbalik 180 derajat, ia justru nekat hanya mengajak cewe kencan kalau mereka cantik luar biasa. Malah berhasil. Teorinya cewe-cewe yang biasa-biasa saja, mencari cowo yang jauh lebih ganteng. Karena mereka juga ingin naik ketingkat yang lebih atas. Jadi kalau dia yang mengajak kencan, rata-rata menolaknya mentah-mentah. Padahal cewe-cewe yang cantik luar biasa, punya pengalaman juga kencan dengan cowo-cowo ganteng. Dan banyak yang gagal dan kecewa. Makanya ketika ia yang mengajak kencan, banyak diantara cewe-cewe cantik itu yang penasaran dan ingin mencoba. Percaya atau tidak, ini rahasia yang sesungguhnya. Kata teman saya, kegagalan dan kejatuhan, kalau dipelajari dengan bijak, bukan saja membuat kita makin pintar, tapi juga membuat kita bijak dan arif. Meluaskan perspektif kita !

Wednesday, February 20, 2008

THE POWER OF SIMPLICITY


OCCAM'S RAZOR

Seorang klien bercerita, bahwa kantornya belum lama ini dibobol oleh karyawan-nya sendiri. Sejumlah uang raib. Jumlahnya cukup banyak. Ketika diselidiki, kemana uang itu lari, semua bingung. Sang karyawan yang membobol kas, kelihatan sederhana. Berbagai teori bermunculan. Mulai dari uangnya dipakai untuk narkoba, hingga kawin lagi. Semuanya diselidiki. Tidak ketemu juga penyebab kemana uang itu dipergunakan.

Saat cerita ini dipaparkan kepada saya, terbayang satu nasehat Mpu Peniti. Beliau selalu mengatakan kepada saya untuk mencari jejak motif yang paling ‘simple’ dalam setiap kasus dan masalah. Dan dalam kasus seperti ini, penjelasan ‘simple’ orang gelap mata untuk korupsi cuma satu yaitu nafsu dan keserakahan. Benar saja, tak lama kemudian terbukti uangnya dipake untuk ngobyek proyek lain. Apa mau proyeknya gagal dan sang karyawan ditipu. Kerugian yang besar menyebabkan karyawan tersebut gali lubang tutup lubang, untuk mengelabui perusahaan.

Pendeta William Ockham yang hidup pada periode 1285-1349, dikenal dengan perkata-annya “Entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem” atau entitas tidak semestinya dilipat gandakan bilamana tidak perlu. Atau sederhananya seringkali solusi atau penjelasan dari sebuah masalah, yang tepat seringkali adalah justru yang paling sederhana. Dari pernyataan ini maka muncul-lah sebuah aliran pemikiran yang dikenal dengan nama Occam’s Razor. Istilah pisau tajam atau ‘razor’ adalah terminologi yang populer karena aliran pemikiran ini sering memangkas asumsi yang berlebihan dan dianggap tidak perlu. Barangkali pemikiran ini bukanlah pemikiran baru. Karena beberapa filsuf dan pemikir seperti John Duns Scotus (1265–1308), Thomas Aquinas (c. 1225–1274), Alhacen (965-1039), dan Aristotle (384–322 BC), juga memiliki akar pemikiran yang serupa.

Occam’s Razor muncul pertama kali justru dalam karya, Sir William Rowan Hamilton (1805–1865), ditahun 1852. 6 abad setelah William Ockham wafat. Occam’s Razor kini sangat populer digunakan dalam perlbagai cabang keilmuan. Mulai dari kedokteran, biologi, fisika sampai kepada filsafat dan teologi. Occam’s Razor menjadi pilar pemikiran populer karena ‘simplicity’ sendiri menawarkan opsi yang lebih praktis. Kalau misalnya ada dua teori untuk menjelaskan satu fenomena. Dan yang satu lebih ‘simple’ daripada satunya, maka yang ‘simple’ cenderung yang diadopsi. Semata karena ia menawarkan penjelasan yang lebih mudah dan praktis. Walaupun Occam’s Razor diperdebatkan karena mitos ‘simplicity’ bukanlah kesempurnaan. Albert Einstein sendiri di tahun 1933 memperingatkan bahwa “"Theories should be as simple as possible, but no simpler." Namun uniknya Occam’s Razor bertahan hingga kini, menjadi sebuah disiplin untuk berpikir sederhana. Tak heran apabila muncul kemudian sebuah ungkapan populer KISS principle yaitu “Keep it Simple, Stupid”.

Terus terang Occam’s Razor adalah metode favorit saya dalam mengambil keputusan. Pertama, kita memangkas semua asumsi yang kompleks, nyelimet, dan menyesatkan. Kedua, kita menggelar beberapa solusi yang paling simple. Ketiga, kita mengkajinya dengan ‘common sense’ dan menggunakan pengalaman sebagai bandul penimbang. Maka setelah 3 langkah ini, biasanya muncul solusi manjur, mujarab, dan cespleng. Buat Mpu Peniti sendiri, Occam’s Razor adalah pedang bermata dua. Beliau selalu wanti-wanti agar saya tetap cermat, waspada, jangan menggampangkan segalanya. Mpu Peniti selalu gusar kalau Occam’s Razor digunakan semena-mena. Misalnya di Indonesia betapa sering kita mendengar penjelasan bahwa satu tempat bisnis, entah itu toko, kantor, rumah sakit, sekolah atau apa-pun yang bisnisnya menurun dan sepi, akhirnya selalu diberikan penjelasan ‘yang menggampangkan’ yaitu ada penunggunya atau ada hantunya !

Ini kritik Mpu Peniti. Yaitu ‘simplicity’ dijadikan ‘penggampangan segalanya’. Memang serba salah juga. Seorang pejabat bercerita bahwa, kadang ia berusaha memberikan penjelasan yang sesungguhnya dan sejujurnya. Tetapi justru yang benar itu susah dimengerti. Percaya atau tidak seringkali ‘setan’, ‘gaib’, dan semua yang berbau klenik lebih mudah dipercaya dan masuk akal. Seorang desainer beken bercerita, bahwa seringkali ia mendesain sesuatu dengan bentuk tertentu dan menggunakan warna tertentu semata karena alasan ‘ergonomics’ dan keseimbangan estetika. Namun menjelaskan keduanya kepada klien hal yang sejujurnya, resikonya besar sekali. Klien mungkin tidak mengerti, dan akibatnya desain bisa ditolak mentah-mentah. Jadi ia mengambil jalan alternatif, selalu menjelaskan konsep desain-nya lewat penjelasan ala feng-shui. Ternyata penjelasan seperti ini lebih mudah diserap, dan masuk akal dikepala klien-nya. Apa boleh buat, itulah kenyataan yang sesungguhnya. Leonardo da Vinci sendiri mengatakan “Simplicity is the ultimate sophistication.”

Wednesday, February 13, 2008

JANGAN PERNAH PUTUS ASA !


TAHUN MICKEY MOUSE

7 Pebruari 2008, penanggalan lunar Cina akan memasuki zodiak baru, yaitu tahun tikus. Konon menurut dongeng, ketika Budha memanggil 12 hewan untuk dijadikan simbol zodiak, hewan pertama yang datang adalah tikus. 2008 menandai tahun pertama dari siklus 12 tahun hingga tahun 2020. Sebagai tahun pertama dari satu siklus, tahun tikus selalu dipercaya punya kekuatan yang menandai berbagai perubahan besar. Krisis ekonomi yang lalu juga dimulai di tahun tikus 1996.

Tahun 2008 juga dimulai dengan tanda-tanda yang serupa. Dunia terguncang, ketika pada Jumat 25 Januari 2008, pasar saham dunia merosot tajam, menunjukan tanda-tanda ‘meltdown’. Index saham BSE di India turun 10%, DAX Jerman jatuh 14%, HSI Hong Kong merosot 9% dan SSE Shanghai terjun bebas 10%. Semua orang dan media mulai berteriak satu kata yang menakutkan global resesi. Beberapa bank besar di Amerika, juga menghapus hutang tak tertagih dalam jumlah yang fenomenal. Merrill Lynch 22.4 milyar dollar, Citigroup 19.9 milyar dollar, dan UBS 14,4 milyar dollar.

Seorang teman saya yang sangat spiritual, membacanya dengan pertanda yang berbeda. Dan juga menyebutkan gonjang ganjing yang berbeda. Menurut beliau, dunia sedang mengalami pusaran enerji baru. Pertanda itu adalah wafatnya mantan presiden Soeharto awal tahun ini, dan kemungkinan perubahan politik yang sangat drastis di Amerika. Kalau saja partai demokrat menang, maka di Amerika bakal terjadi peristiwa unik yaitu untuk pertama kalinya Amerika bakal memiliki presiden perempuan, itu kalau Hillary Clinton terpilih. Tetapi kalau Obama yang jadi presiden, maka Amerika akan dipimpin oleh presiden berkulit hitam yang pertama. Tahun 2008 juga akan menjadi tahun terakhir pemerintahan SBY-JK. Mungkinkah mereka bertahan dan kembali berduet di tahun 2009 ? Ataukah kita akan memiliki presiden baru ? 100 tahun yang lalu, 1908 kita mengikrarkan Kebangkitan Nasional. Apa potensinya, 2008 adalah Kebangkitan Nasional yang kedua ? Semua ini memang pertanyaan-pertanyaan yang sangat menantang.

Saya sendiri, lebih menguatirkan perubahan-perubahan yang nyata dari Global Warming. Dimana cuaca berubah sangat drastis dan mengacaukan segalanya. Mulai dari bencana alam yang bergolak tidak mau berhenti. Perubahan iklim yang juga mengacaukan panen pangan di seluruh dunia. Komoditi pangan seperti kentang dan gandum mengalami krisis mulai cukup serius dalam 2-3 tahun terakhir ini. Gandum misalnya, saat ini berada dititik suplai terendah selama 25 tahun. Harganya melambung dari hari-ke-hari tak terkendali. Mie instant yang dikenal sebagai makanan ajaib dibawah seribu perak, tak lama lagi bakal hilang. Seorang ekonom bergurau kepada saya, kata beliau ”Realitanya ketika ongkos parkir dan ongkos WC umum, sudah dua ribu perak, mie instan di republik ini masih saja bertahan seribu perak.” Ini adalah salah satu keajaiban ekonomi Indonesia. Tapi situasi ini tidak akan bertahan lama. Mungkin akhir tahun 2008, mie instan juga akan menjadi dua ribu perak, menyusul ongkos parkir.

Mpu Peniti sendiri menasehati saya, untuk lebih eling di tahun Mickey Mouse ini. Tahun 2008 kita mesti belajar dari tikus. Mahluk kecil yang memiliki kerajinan dan keuletan yang sangat luar biasa. Inilah semangat yang perlu kita usung tahun 2008 – rajin dan ulet. Tapi juga kita harus bersikap extra hati-hati. Maklum tikus punya perangai cepat berkelit dan suka mencuri. Hati-hatilah terhadap setiap pemborosan, dan kompetitor yang mengerat dan menggerogoti anda diam-diam.

Menghadapi 2008, kita barangkali harus memanfaatkan strategi Mickey Mouse. Roy. E Disney, keponakan Walt Disney menyebutkan, bahwa Mickey Mouse adalah lambang optimisme yang selalu menyuarakan harapan yang lebih cerah. Ia selalu bergembira. Tidak pernah sekalipun sinis dan bersikap mengejek. Ia selalu bersiul dan bergembira, dalam situasi sesulit apapun.

David Cooperfield menyebut Mickey Mouse sebuah keajaiban. Kepribadian Mickey Mouse yang selalu ke-kanak2-an, menyiratkan kejujuran yang asli. Jauh dari pikiran jahat dan kotor. Larry King, menyebut Mickey Mouse sebagai teman yang selalu mendatangkan kegembiraan dan optimisme. Layaknya sebuah siklus, barangkali tahun 2008 adalah ibaratnya sebuah fajar yang memulai sebuah hari yang baru. Saatnya kita bangun dan bekerja keras. Namun hari baru ini akan sia-sia, dan dipenuhi stress dan kekesalan, kalau kita tidak menyikapinya dengan optimisme dan kegembiraan. Mpu Peniti menasehati saya, “Jangan pernah takut dengan masalah. Karena setiap masalah ada jalan keluarnya. Kalau tidak ada jawaban dan jalan keluarnya, namanya bukan masalah”. Marilah kita bergembira dan tertawa menghadapi setiap masalah. Selamat tahun baru Imlek. Semoga 2008 membawa rejeki, sukses, dan kesehatan yang berlimpah.

Monday, February 11, 2008

SEMOGA SEMAKIN MURAH REJEKI !


DONGENG PINDANG BANDENG

Setiap Imlek, saya selalu ingat nenek saya. Terutama ketika menikmati pindang bandeng. Masakan yang menjadi tradisi kaum peranakan pada saat tahun baru. Ikan dalam tradisi Cina memang sangat penting. Konon kata ikan dalam bahasa Mandarin yang dilafalkan dengan ucapan “yu”, mirip dengan kata lain yang berarti berlimpah. Tak heran kalau dalam setiap jamuan makan besar ala tradisi Cina, hidangan ikan selalu ditampilkan di akhir jamuan, sebagai perlambang semoga rejeki dimasa-masa mendatang datang dengan berlimpah. Biasanya ikan disajikan utuh dengan kepala hingga ekor. Kepalanya seringkali diarahkan kepada tamu kehormatan yang hadir dalam jamuan itu. Bilamana anda hadir dalam sebuah jamuan makan besar, jangan anda tersinggung, apabila kepala ikan diberikan kepada anda. Karena sesungguhnya itulah penghormatan yang tertinggi, dimana anda dianggap sebagai tamu kehormatan.

Jadi tak heran apabila bandeng juga hadir sebagai masakan wajib pada tradisi Imlek kaum peranakan di Indonesia. Ketika masih kecil, saya sama sekali tidak menyukai pindang bandeng. Pertama bandeng banyak tulang, sehingga makan pindang bandeng selalu berabe dan menyusahkan. Apalagi saya pernah beberapa kali menelan tulang bandeng, yang kemudian nyangkut ditenggorokan saya. Sangat tidak nyaman sekali. Saat yang sama saya mulai kritis, dan mempertanyakan kenapa bandeng yang dipilih ? Apalagi bandeng adalah ikan rawa, kalau tidak teliti memasaknya, pasti akan bau tanah.

Memang banyak dongeng yang beredar tentang pindang bandeng. Salah satunya menyebutkan bahwa bandeng itu banyak durinya. Sehingga menjadi perlambang doa dan harapan agar tahun yang baru memberikan curahan rejeki yang berlimpah. Bagi saya, dongeng tentang pindang bandeng yang terbaik datang dari cerita nenek. Bahwa sesungguhnya pindang bandeng adalah masakan yang menyiratkan karakter seorang perempuan. Bandeng yang enak dipindang adalah bandeng yang gemuk dan berlemak. Beratnya harus minimal diatas 2 kilo. Menurut nenek saya, kalau seorang perempuan dijaman dahulu, malas ke pasar pagi-pagi, maka ia tidak akan mendapatkan bandeng segar terbaik yang paling gemuk. Ini adalah ujian pertama. Bahwa seorang perempuan harus rajin bangun pagi, dan telaten memilih dengan kepekaan yang seimbang.

Pindang bandeng bukan masakan mudah. Persiapannya cukup nyelimet. Bandeng harus benar-benar bersih sehingga tidak bau tanah rawa setelah dimasak nanti. Memasaknya juga harus super sabar, dengan api kecil, supaya dagingnya tidak hancur. Dimasak cukup lama sehingga durinya mudah lepas dari dagingnya. Nah, menurut nenek saya inilah ujian kedua. Seorang perempuan harus memiliki ketelitian dan kecermatan yang menyeluruh. Lalu kesabaran yang tak terhingga. Tanpa kombinasi ini, pindang bandeng tidak akan hadir dalam kelezatan yang prima. Jaman sekarang, banyak yang tidak sabar, sehingga bandeng di presto dahulu supaya tulangnya hancur.

Pindang bandeng yang sejati dan sesungguhnya, juga memiliki spektrum cita rasa yang lengkap. Yaitu keseimbangan yang pas antara asem, asin, dan manis. Pada saat mau makan biasanya baru diberikan irisan cabe rawit. Sehingga lengkap pula dengan pedasnya. Anda mungkin sudah bisa menebak, inilah ujian ketiga. Seorang perempuan harus mahir menciptakan keseimbangan. Karena dari keseimbangan ini, lahirlah keadilan dan kesempurnaan. Irisan cabe rawit yang dimasuk-kan terakhir sebelum makan, adalah pertanda bahwa seorang perempuan selalu memiliki trik terakhir atau ilmu simpanan. Perempuan menurut nenek saya, harus selalu panjang akal, tidak pernah putus asa. Selalu punya solusi.

Terpengaruh oleh romantisme cerita nenek saya, maka percaya atau tidak saya sejak saat itu selalu menantikan makan pindang bandeng. Kadang saking sayangnya saya sama pindang bandeng, bisa saya simpan berhari-hari. Saya makan sedikit demi sedikit untuk menikmatinya. Dan pindang bandeng yang lezat, justru semakin lama disimpan, dan semakin lama dipanasi, maka daging ikan bandeng akan semakin menyerap semua bumbu-bumbunya. Seorang perempuan sejati konon menurut nenek saya harus mirip dengan pindang bandeng. Semakin lama semakin sempurna. Duri bandeng kini tidaklah lagi menjadi masalah. Yang penting pada saat makan kita harus sabar memilah mana daging dan mana duri. Demikian pula nasehat terakhir nenek saya. Bahwa kehidupan ini mirip pindang bandeng. Dengan ditemani perempuan yang tepat seorang lelaki akan bisa dan mampu mengarungi hidup ini dengan sempurna, tidak peduli sebesar apapun badainya. Kalaupun ada hal-hal buruk yang terjadi, misalnya pindang terlalu manis atau terlalu asin, masih ada trik terakhir. Yaitu irisan cabe rawit yang pedas, yang akan membuat kita tetap makan dengan lahap.

Saya tidak tahu apakah cerita nenek tentang pindang bandeng, benar atau tidak. Tetapi percaya atau tidak memberikan saya sebuah perspektif unik untuk menghargai seorang perempuan. Sempurna seperti pindang bandeng.

Sunday, February 03, 2008

THE TRUTH ABOUT YOURSELF


MEMANFAATKAN MUSUH

Di Kuala Lumpur, minggu lalu – minggu lalu saya sempat ngopi bareng dengan beberapa desainer senior interior plus teman-teman mereka yang bergerak di bidang real estate. Mulanya pembicaraan kami seputar proyek-proyek di Jakarta. Entah, dari mana asalnya, ujung-ujungnya kami membicarakan kehidupan bertetangga di kota-kota besar seperti Jakarta, Hong Kong, Singapura, dan Kuala Lumpur. Realitanya banyak diantara kami yang sudah tidak mengenal tetangga. Banyak pula yang mengatakan bahwa tetangga kini seringkali juga menjadi “the best enemy”. Karena suka complaint ini dan itu, dan seterusnya.

Ketika pembicaraan memanas, seorang teman yang bergerak dibidang real-estate, malah menasehatkan bahwa tetangga itu biarpun “the best enemy” kadang bisa juga menjadi “the best friend”. Berdasarkan pengalaman beliau, kalau mau menjual rumah, calon pembeli terbaik justru adalah tetangga disebelah kanan dan kiri. Karena mereka-lah yang biasanya berani menawar paling mahal. Karena siapa tahu mereka ingin meluaskan rumahnya menjadi 2-3 kali. Hal itu langsung saya iyakan. Saya pernah mengalami hal serupa.

Didalam bisnis, juga terjadi hal yang sama. Musuh dan kompetitor kita adalah juga teman dan sahabat terbaik. Filsuf Yunani – Antisthenes yang hidup antara tahun 375 – 444 sebelum Masehi, dan dikenal sebagai bapak dari ”Cynic school of philosophy”, sekali pernah mengatakan bahwa hanya 2 orang didunia ini yang berani mengatakan dengan jujur tentang diri kita yang sesungguhnya. Pertama adalah teman yang benar-benar mencintai kita. Dan kedua adalah musuh yang marah besar. Kayanya dijaman susah begini, mencari teman yang benar-benar mencintai kita rada susah. Mungkin lebih mudah mencari seorang musuh yang sejati !

Satu pelajaran bisnis yang paling berkesan selama ini, saya dapatkan dari seorang salesman ulung di Bangkok, kira-kira 15 tahun yang lalu. Usianya saat itu sudah 50 tahun lebih. Ia sudah malang melintang menjadi sales selama 30 tahun lebih. Sampai akhirnya ia dijadikan penasehat disebuah group konglomerat. Berkat pengalamannya yang segudang itu. Bos besarnya menjuluki dia sebagai sebuah oasis yang tidak pernah kering. Ia mengajarkan saya, bahwa survival kita didalam bisnis sangat bergantung kepada musuh-musuh kita. Menurut beliau kita harus punya manajemen khusus untuk memelihara musuh.
Mulanya saya kaget bukan main. Buat apa baik hati memelihara musuh ? Konon ada pribahasa Cina kuno yang mengatakan lebih baik punya musuh didepan mata daripada musuh diseberang lautan. Musuh didepan mata, bisa kita awasi gerak-geriknya. Apa-pun move yang dilakukan musuh kita, dengan mudah bisa kita antisipasi. Berkat lokasinya didepan kita. Tetapi musuh yang tidak kelihatan, akan sangat berbahaya. Bisa menikam kita dari belakang, kapan saja. Makanya ada istilah musuh dalam selimut. Musuh yang tidak terlihat ! Jadi ”stay close with your enemy”.

Pelajaran ini dilanjutkan dengan jurus kedua – “be friend with your enemy”. Ini lebih gendeng abis ! Lalu saya diceritakan, bahwa sang salesman senior itu, punya hitungan tentang musuh-musuhnya. Mirip strategi perang Sun Tzu. Yang mengisyaratkan bahwa kalau kita tau persis siapa-siapa saja musuh kita maka, 50% dari pertempuran, sudah berhasil kita menangkan. Beliau misalnya selalu menyisakan waktu untuk bergaul dengan musuh dan kompetitornya. Entah itu makan bersama. Ngobrol di CafĂ© atau berkaraoke bersama. Menurut beliau, musuh adalah tempat belajar terbaik. Berteman dengan musuh memberi kesempatan untuk mempelajari mereka, dan kadang kalau beruntung, selalu saja ada informasi yang ‘keceplosan’ dan menjadi bonus intelijen penting.

Pernah sekali, mereka dihadang kompetitor baru yang sangat agresif dari luar negeri. Melawan musuh itu sama saja dengan bunuh diri. Untung saja sang salesman berteman baik dengan para kompetitor yang baru. Serta merta ia menciptakan aliansi dan bersekutu dengan para kompetitor lain untuk menghadang kompetitor baru tersebut. Upaya mereka berhasil sukses. Sang kompetitor agresif tadi berhasil mereka halau. Usai krisis, aliansi dan sekutu mereka bubar, dan mereka langsung baku hantam dipasar kembali. Akses ke musuh atau ke kompetitor dalam kasus ini terbukti pas dan manjur. Ironis memang, tapi itulah yang dikatakan bekas presiden Amerika Abraham Lincoln, ”cara terbaik untuk menghilangkan musuh, adalah justru dengan mengubahnya menjadi seorang teman”.

Setelah pelajaran itu saya jadi belajar respek terhadap musuh. Kata Bruce Lee, sebelum berkelahi, kita harus membungkuk dengan benar untuk menghormati musuh. Setelah itu baru berkelahi. Sesungguhnya memang demekian, kalau kita menghormati musuh dengan penuh respek, maka kita mau belajar dari mereka. Musuh atau kompetitor membuat kita lebih pandai dan lebih kuat. Mereka adalah ’sparing partner’ kita. Mereka adalah motivator kita untuk maju kedepan. Membuat terobosan baru. Berinovasi. Manajemen musuh adalah kunci keberhasilan bisnis yang seringkali dilupakan orang. Belajarlah memanfaatkan musuh anda !

Friday, February 01, 2008